Ringkasan Inovasi
Desa Sikasur di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, membangun inovasi tata kelola desa wisata terpadu yang memadukan kekayaan alam, Curug Bengkawah, Telaga Silating, dan rafting, dengan kekuatan budaya lokal seperti kuda lumping, sintren, calung, dan karawitan, serta kewirausahaan warga melalui homestay, UMKM, dan Pasar Krempyeng [1], [5]. Inovasi ini menempatkan BUMDes Mahardhika sebagai simpul pengelola tunggal yang menghubungkan seluruh komponen ekosistem wisata agar manfaat ekonomi berputar dan menguat di tangan warga sebagai pelaku utama [8]. Tujuan utama inovasi ini adalah mengubah potensi alam yang tersebar menjadi sumber ekonomi desa yang tertata, inklusif, dan berkelanjutan. Dampak utamanya nyata: Sikasur meraih predikat terbaik kategori Desa Wisata Maju pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang, 29 Maret 2022, mengalahkan 15 desa wisata peserta se-Kabupaten Pemalang, dan tumbuh sebagai ruang usaha bersama bagi 80 pedagang lokal, pengelola wisata, pelaku homestay, dan kelompok seni desa [1], [4].
Latar Belakang
Sikasur berada di wilayah selatan Pemalang yang kaya lanskap alam pegunungan, namun selama bertahun-tahun desa ini berada di pinggir arus utama pertumbuhan pariwisata Jawa Tengah tanpa mampu mengkonversi potensi alamnya menjadi kesejahteraan nyata bagi warga [5], [3]. Potensi Curug Bengkawah, Telaga Silating, dan aliran sungai yang cocok untuk rafting sesungguhnya besar, namun tanpa tata kelola yang terstruktur, kunjungan wisatawan berlalu tanpa meninggalkan nilai ekonomi yang berarti bagi masyarakat lokal [6].
Kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi sebelum inovasi ini menguat adalah model pengelolaan yang mampu menyatukan objek wisata, pelaku usaha, dan budaya lokal dalam satu arus manfaat yang terukur [7]. Riset tentang pembangunan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat mengonfirmasi bahwa tanpa kelembagaan pengelola yang jelas, keuntungan wisata cenderung terkonsentrasi pada segelintir pelaku dan tidak menyentuh rumah tangga paling miskin [6].
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang memperjelas betapa rapuhnya ekonomi desa yang tidak ditopang inovasi adaptif dan sumber penghasilan yang terdiversifikasi [8]. Ketika situasi mulai pulih pascapandemi, Desa Sikasur menangkap momentum pemulihan untuk menata ulang ekosistem wisatanya secara lebih sistematis, mengintegrasikan objek alam, tradisi budaya, dan usaha warga dalam satu model pengelolaan berbasis BUMDes [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan Desa Sikasur adalah model tata kelola desa wisata terpadu berbasis BUMDes Mahardhika dan partisipasi penuh masyarakat, yang menggabungkan Curug Bengkawah, Telaga Silating, rafting, homestay, Pasar Krempyeng, UMKM kuliner, dan pertunjukan budaya lokal menjadi satu paket pengalaman wisata yang utuh [1], [3], [9]. Inovasi ini lahir dari kesadaran Kepala Desa Kusni bahwa wisata akan bertahan kuat hanya jika desa menjual cerita, suasana, dan keterlibatan warga, bukan sekadar pemandangan. BUMDes Mahardhika diposisikan sebagai simpul pengelola yang mengoordinasikan seluruh pelaku, dari pemandu wisata, penyedia homestay, pedagang Pasar Krempyeng, seniman kuda lumping dan sintren, hingga pelaku UMKM yang menjual kuliner khas seperti Nasi Tenong [11].
Secara teknis, inovasi ini bekerja melalui mekanisme ekosistem yang saling mengunci: wisatawan yang datang menikmati alam diarahkan pula ke atraksi budaya, kemudian ke pasar warga untuk berbelanja produk lokal, lalu menginap di homestay yang dikelola warga desa [5], [8]. Setiap titik dalam rantai pengalaman wisata ini dikelola warga Sikasur sendiri, sehingga setiap transaksi langsung menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga lokal tanpa perantara dari luar desa.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan inovasi dimulai dari pemetaan menyeluruh terhadap aset wisata, budaya, dan pelaku ekonomi yang ada di Desa Sikasur [1]. Setelah peta potensi terbentuk, Pemerintah Desa merancang struktur kelembagaan yang menempatkan BUMDes Mahardhika sebagai pengelola tunggal yang bertanggung jawab atas keputusan bisnis, pengembangan atraksi, pembinaan UMKM, dan pengelolaan homestay [8].
Tahap eksperimen dan pengujian model layanan dilakukan dengan menggabungkan atraksi alam dan budaya secara terencana dalam satu kalender wisata desa yang rutin diperbarui [5]. Pengujian pasar yang paling krusial dilakukan melalui pembentukan Pasar Krempyeng yang melibatkan 80 pedagang lokal, langkah yang membuktikan distribusi manfaat wisata ke pelaku kecil bisa dilakukan secara cepat tanpa menunggu akumulasi keuntungan BUMDes terlebih dahulu [1].
Kegagalan awal dalam standarisasi kualitas homestay dan konsistensi jadwal atraksi budaya menjadi pelajaran yang mendorong BUMDes Mahardhika menyusun panduan layanan dan kalender atraksi yang lebih terstruktur dan dapat diprediksi wisatawan yang merencanakan kunjungan dari jauh [7]. Proses iterasi berbasis evaluasi nyata inilah yang akhirnya membawa Sikasur ke titik kematangan pengelolaan yang diakui secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama yang dihadapi Desa Wisata Sikasur adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan wisatawan dan kelestarian sumber daya alam yang menjadi daya tarik utama desa [1], [5]. Curug Bengkawah dan Telaga Silating memerlukan perlindungan ekosistem secara aktif, sehingga pengembangan fasilitas wisata harus dilakukan hati-hati agar tidak rusak oleh tekanan kunjungan berlebih. Kendala ini dimitigasi melalui alokasi sebagian pendapatan wisata untuk dana konservasi lingkungan yang menjaga kelestarian kedua aset alam tersebut [7].
Kendala berikutnya adalah kebutuhan mendesak meningkatkan kapasitas SDM pengelola wisata dan memperkuat kehadiran digital Sikasur di platform promosi wisata yang semakin kompetitif [8], [7]. Kesinambungan kualitas layanan dari seluruh 80-an pelaku usaha yang terlibat membutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur. Kendala ini dimitigasi melalui penyusunan standar operasional layanan yang mengikat seluruh pelaku usaha serta pelatihan berkelanjutan yang dikoordinasikan BUMDes Mahardhika [6].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan Sikasur adalah kepemimpinan Kepala Desa Kusni yang mampu menerjemahkan visi pariwisata berbasis komunitas menjadi kerja kolektif nyata yang melibatkan seluruh elemen desa, perangkat desa, BUMDes, pelaku seni, pedagang, dan warga biasa, dalam peran yang saling melengkapi [1], [8]. Komitmen Pemerintah Desa mengalokasikan anggaran secara konsisten untuk pengembangan fasilitas, pelatihan warga, dan promosi digital menjadi bukti bahwa visi wisata Sikasur adalah prioritas pembangunan jangka panjang.
Faktor kedua adalah kemampuan desa mengemas wisata sebagai ekosistem pengalaman yang utuh, bukan sekadar kumpulan destinasi tunggal [3], [5]. Ketika Curug Bengkawah, Telaga Silating, rafting, homestay, Pasar Krempyeng, Nasi Tenong, dan pertunjukan seni tradisional saling terhubung dalam satu narasi pengalaman, pengunjung mendapat alasan kuat untuk tinggal lebih lama. Penelitian tentang strategi pembangunan desa wisata menegaskan bahwa keunggulan kompetitif yang paling tahan lama lahir dari keunikan budaya dan keterlibatan komunitas, bukan kecanggihan fasilitas fisik semata [7].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil yang paling terukur adalah keberhasilan Desa Sikasur meraih predikat terbaik kategori Desa Wisata Maju pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang, 29 Maret 2022, mengungguli Desa Nyalembeng dan Desa Penggarit di kategori yang sama, dari total 15 desa wisata peserta yang dinilai dari enam aspek: dukungan kebijakan desa, partisipasi aktif warga, kualitas sarana prasarana, keterlibatan UMKM, pelestarian budaya lokal, dan inovasi pengelolaan [1], [4]. Kabupaten Pemalang sendiri tengah mengembangkan 27 desa wisata secara paralel, dan pengakuan terhadap Sikasur memperkuat posisinya sebagai lokomotif pengembangan wisata perdesaan di wilayah selatan Pemalang [10].
Dampak ekonomi terlihat konkret dari tumbuhnya berbagai unit usaha warga yang beroperasi dalam ekosistem wisata Sikasur [1]. Kehadiran 80 pedagang dalam Pasar Krempyeng membuktikan inovasi ini membuka ruang usaha riil yang langsung menyentuh pendapatan rumah tangga, terutama bagi warga tanpa modal besar untuk memulai usaha mandiri. Kajian tentang dampak desa wisata terhadap ekonomi masyarakat secara umum mencatat bahwa pengembangan desa wisata nasional turut menjadi bagian dari target pemerintah menciptakan 4,4 juta lapangan kerja pada 2024 melalui sektor pariwisata desa, konteks yang menempatkan capaian Sikasur sebagai satu kontribusi lokal dari agenda yang lebih besar tersebut [13].
Dampak kualitatif yang bermakna adalah transformasi identitas kolektif warga Sikasur dari komunitas yang sekadar menikmati alam desanya menjadi komunitas pelaku wisata yang aktif membangun reputasi desanya [5], [6]. Keterlibatan kelompok seni budaya lokal dalam paket wisata menghasilkan pendapatan tambahan bagi para seniman sekaligus menghidupkan kembali praktik budaya yang sebelumnya kurang mendapat apresiasi [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pengembangan fasilitas wisata Sikasur secara spesifik, meskipun Pemerintah Desa tercatat mengalokasikan anggaran secara konsisten untuk pengembangan fasilitas, pelatihan warga, dan promosi digital [1]. Bantuan pengembangan desa wisata dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut menjadi salah satu sumber dukungan eksternal bagi ekosistem wisata ini [12].
Model pendapatan bertumpu pada tiket masuk, paket wisata, sewa homestay, dan retribusi Pasar Krempyeng, dengan pendapatan dikelola BUMDes Mahardhika secara transparan dan dialokasikan untuk tiga prioritas: perawatan fasilitas wisata, pelatihan berkelanjutan bagi pengelola dan pelaku UMKM, serta dana konservasi lingkungan Curug Bengkawah dan Telaga Silating [2].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menggabungkan objek wisata alam dengan atraksi budaya dan usaha warga dalam satu paket pengalaman, alih-alih menjual setiap daya tarik secara terpisah, terbukti memperpanjang waktu tinggal wisatawan dan memperluas manfaat ekonomi ke lebih banyak pelaku usaha [3], [5]. Kegagalan awal dalam standarisasi homestay dan jadwal atraksi budaya juga menjadi pelajaran bahwa integrasi ekosistem wisata tidak bisa dipaksakan sekaligus, melainkan harus tumbuh bertahap melalui pendampingan dan evaluasi jujur setiap siklus kunjungan.
Jika memulai dari awal, standar operasional layanan dan kalender atraksi yang terstruktur idealnya disiapkan sejak tahap awal peluncuran, bukan disusun setelah keluhan ketidakkonsistenan layanan muncul dari wisatawan. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan aset alam, budaya, dan pelaku ekonomi secara jujur sejak awal, menunjuk BUMDes sebagai pengelola tunggal yang jelas, dan menghubungkan objek wisata dengan usaha warga secara sistematis agar belanja wisatawan tidak bocor keluar desa.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi Desa Wisata Sikasur dijaga melalui penguatan kelembagaan BUMDes Mahardhika sebagai fondasi manajerial yang profesional dan akuntabel, dengan penyusunan standar operasional layanan yang mengikat seluruh pelaku usaha dalam ekosistem wisata [8], [6]. Siklus reinvestasi yang terencana memastikan Sikasur terus berkembang dari kekuatannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan program pemerintah yang sifatnya periodik [2].
Strategi jangka panjang lainnya adalah memperkuat kehadiran digital resmi Sikasur melalui kanal media sosial yang dikelola profesional, memperluas jejaring pemasaran ke segmen wisatawan minat khusus [2], [3]. Visi jangka panjang yang paling ambisius adalah menjadikan Sikasur sebagai pusat jaringan wisata pedesaan di selatan Pemalang, dengan kalender atraksi budaya tahunan yang menjadi agenda tetap pariwisata Jawa Tengah [10].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi tata kelola desa wisata terpadu Sikasur berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ekosistem wisata Sikasur membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi warga desa melalui homestay, UMKM, Pasar Krempyeng, jasa pemandu wisata, dan pertunjukan seni budaya yang dikelola langsung warga lokal. | 80 pedagang tercatat berjualan aktif di Pasar Krempyeng. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan wisata berbasis BUMDes Mahardhika menciptakan pekerjaan layak bagi warga desa di berbagai segmen, dari pengelola wisata alam dan budaya hingga pelaku UMKM kerajinan. | Sikasur meraih predikat Desa Wisata Maju mengungguli 15 desa wisata se-Kabupaten Pemalang. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Model desa wisata Sikasur membangun komunitas desa yang inklusif dan berkelanjutan dengan menjadikan warisan budaya dan kekayaan alam sebagai aset pembangunan yang dikelola partisipatif. | Kuda lumping, sintren, calung, dan karawitan terintegrasi rutin dalam kalender wisata desa. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Pengelolaan wisata alam Curug Bengkawah dan Telaga Silating mendorong Desa Sikasur aktif melindungi ekosistem darat dan sumber daya air yang menjadi tulang punggung daya tarik wisatanya. | Sebagian pendapatan wisata dialokasikan untuk dana konservasi Curug Bengkawah dan Telaga Silating. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Sikasur membangun kemitraan antara Pemerintah Desa, BUMDes Mahardhika, kelompok seni budaya, pelaku UMKM, Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang, dan rencana kerja sama kawasan Dewi Nadulang. | Rencana kawasan wisata terpadu Dewi Nadulang melibatkan desa-desa wisata selatan Pemalang. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Sikasur potensial direplikasi oleh desa-desa lain karena bertumpu pada prinsip yang universal dan tidak membutuhkan modal awal yang luar biasa besar: pemetaan jujur terhadap aset lokal yang ada, penunjukan pengelola kelembagaan yang jelas melalui BUMDes, dan penghubungan objek wisata dengan usaha warga secara sistematis agar belanja wisatawan tidak bocor keluar desa [7], [6].
Strategi scale up yang realistis adalah pengembangan kerja sama kawasan wisata terpadu “Dewi Nadulang” (Desa Wisata Naik Daun Pemalang Selatan), dengan Sikasur berperan sebagai lokomotif yang menarik desa-desa wisata sekitarnya untuk bergabung dalam satu sistem promosi, rute kunjungan, dan paket pengalaman yang dijual bersama [10]. Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah mengalokasikan bantuan pengembangan desa wisata menjadi ekosistem kelembagaan dan finansial yang kondusif bagi percepatan scale up ini [12].
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Sikasur Dinobatkan sebagai Desa Wisata Maju,” pemalangkab.go.id, Mar. 2022. [Daring]. Tersedia: https://pemalangkab.go.id/2022/03/sikasur-dinobatkan-sebagai-desa-wisata-maju.
[2] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Sikasur — Jadesta,” jadesta.kemenpar.go.id. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/21296.
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Sikasur,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/sikasur_2.
[4] Redaksi Kabar Pemalang, “Sikasur Menjadi Desa Wisata Terbaik 2022,” kabarpemalang.id, 29 Mar. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kabarpemalang.id/arsip/sikasur-menjadi-desa-wisata-terbaik-2022/.
[5] Redaksi Langit7, “Desa Wisata Sikasur, Padukan Budaya dan Potensi Alam yang Memukau,” langit7.id, 13 Jul. 2022. [Daring]. Tersedia: https://langit7.id/read/19045/1/desa-wisata-sikasur-padukan-budaya-dan-potensi-alam-yang-memukau-1657746449.
[6] Journal of Administration, Governance, and Political Issues, “Peran BUMDes dalam Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat,” journal.pubmedia.id. [Daring]. Tersedia: https://journal.pubmedia.id/index.php/jagpi/article/download/2516/2822/5250.
[7] Journal Center, “Strategi Pembangunan Desa Wisata untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat,” journalcenter.org. [Daring]. Tersedia: https://journalcenter.org/index.php/jempper/article/download/5614/4318.
[8] JSPM Unimal, “Peran BUMDes dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat,” ojs.unimal.ac.id. [Daring]. Tersedia: https://ojs.unimal.ac.id/jspm/article/download/22124/9464/60116.
[9] Jadesta Jawa Tengah, “Atraksi Telaga Silating,” jateng.jadesta.com. [Daring]. Tersedia: https://jateng.jadesta.com/atraksi/telaga_silating.
[10] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Bangkitkan Pariwisata di Pemalang, Disparpora Kembangkan Potensi 27 Desa Wisata,” pemalangkab.go.id, 11 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://pemalangkab.go.id/2022/04/bangkitkan-pariwisata-di-pemalang-disparpora-kembangkan-potensi-27-desa-wisata.
[11] Jadesta Jawa Tengah, “Produk Wisata Nasi Tenong,” jateng.jadesta.com. [Daring]. Tersedia: https://jateng.jadesta.com/paket/nasi_tenong.
[12] Redaksi Suara.com, “Kembangkan Ekonomi Daerah, Ganjar Gelontorkan Bantuan untuk Bangun Desa Wisata,” suara.com, 2 Agu. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.suara.com/bisnis/2022/08/02/081444/kembangkan-ekonomi-daerah-ganjar-gelontorkan-bantuan-untuk-bangun-desa-wisata.
[13] Redaksi ANTARA, “Desa Wisata Berdampak pada Peningkatan Ekonomi dan Lapangan Kerja,” antaranews.com, 27 Apr. 2023. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/3509787/desa-wisata-berdampak-pada-peningkatan-ekonomi-dan-lapangan-kerja.