Ringkasan Inovasi
Desa Sebanti di Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, menerapkan inovasi pembangunan Sarana Olahraga Desa (Raga Desa) berupa lapangan voli yang dilengkapi papan skor digital dan fasilitas penerangan pada tahun 2018. Inovasi ini diinisiasi oleh Pambakal (Kepala Desa) Ahmad Harun bersama seluruh elemen masyarakat desa untuk mengatasi ketiadaan fasilitas olahraga yang layak bagi 509 jiwa penduduk [1]. Dengan anggaran Dana Desa sebesar Rp74.573.000, pembangunan Raga Desa menjawab program prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sekaligus menghadirkan ruang publik yang menggerakkan ekonomi mikro, mempererat solidaritas antarkampung, dan menyalurkan energi positif generasi muda di kawasan pesisir yang jauh dari pusat perkotaan [2][3].
Latar Belakang
Desa Sebanti merupakan salah satu kampung tua di Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten Kotabaru sendiri adalah kabupaten terluas di Kalimantan Selatan dengan luas wilayah sekitar 9.442 km² yang terdiri dari daratan Pulau Kalimantan dan gugusan 137 pulau besar maupun kecil [4]. Kecamatan Pulau Laut Barat terletak di ujung selatan Pulau Laut dengan luas 398,8 km² dan terdiri dari 11 desa, dengan ibu kota kecamatan di Lontar Utara [5]. Mayoritas penduduk kecamatan ini bekerja sebagai nelayan dan petani, terdiri dari berbagai suku bangsa seperti Mandar, Bugis, Banjar, dan Jawa. Desa Sebanti yang berpenduduk 509 jiwa pada tahun 2019 ini menyimpan catatan sejarah panjang — menurut para tetua, desa ini dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan kecamatan sebelum akhirnya dipindahkan ke Lontar [1].
Meskipun dikelilingi potensi kelautan dan perikanan yang melimpah, masyarakat Desa Sebanti menghadapi kenyataan pahit berupa ketiadaan fasilitas olahraga yang layak. Semangat berolahraga warga, khususnya generasi muda, sangat besar, namun tidak tersalurkan karena tidak ada lapangan yang memadai. Pada tahun 2017, belum ada satu pun sarana olahraga permanen yang bisa digunakan masyarakat untuk berolahraga secara teratur maupun menyelenggarakan pertandingan antarkampung. Kondisi ini diperparah oleh letak geografis desa yang cukup jauh dari kawasan perkotaan Kotabaru, sehingga akses terhadap fasilitas olahraga publik maupun hiburan sangat terbatas [1].
Momentum perubahan hadir ketika Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi meluncurkan empat program prioritas pada tahun 2018, yaitu Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), Embung Air Desa, Pengembangan BUMDes, dan Sarana Olahraga Desa (Raga Desa) [2]. Program Raga Desa bertujuan menyediakan ruang publik bagi masyarakat desa, menyalurkan kegiatan positif generasi muda agar terhindar dari pengaruh negatif, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Kesempatan ini ditangkap oleh Pambakal Ahmad Harun sebagai jawaban atas keluhan masyarakat yang sudah terakumulasi bertahun-tahun. Beliau kemudian menggerakkan seluruh elemen desa untuk mewujudkan pembangunan Raga Desa yang tidak sekadar lapangan biasa, melainkan dilengkapi teknologi papan skor digital dan penerangan yang memungkinkan aktivitas olahraga dan pertandingan berlangsung hingga malam hari [1][3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan Desa Sebanti berupa pembangunan lapangan voli permanen yang dilengkapi dua fitur teknologi utama: papan skor digital dan sistem penerangan lapangan. Gagasan ini lahir dari keinginan Pambakal Ahmad Harun untuk menghadirkan fasilitas olahraga yang tidak kalah kualitasnya dengan fasilitas di perkotaan, meskipun desa ini berada di kawasan pesisir yang jauh dari pusat kabupaten. Papan skor digital menggunakan teknologi berbasis mikrokontroler yang terintegrasi dengan panel LED, menggantikan papan skor manual konvensional yang selama ini digunakan dalam pertandingan antardesa [6]. Teknologi ini memungkinkan pembaruan skor secara real-time, terlihat jelas dari jarak jauh, dan mengurangi potensi protes atau perselisihan antarsuporter.
Fasilitas penerangan yang dipasang di sekeliling lapangan menjadi elemen pembeda yang paling signifikan dari inovasi ini. Dengan adanya penerangan yang memadai, pertandingan dan kegiatan olahraga tidak lagi terbatas pada siang hari saja. Masyarakat yang pada siang hari sibuk bekerja sebagai nelayan, petani, maupun pekerja kebun kini memiliki kesempatan berolahraga dan menyaksikan pertandingan pada malam hari [1]. Pendekatan ini berbeda dari pembangunan lapangan konvensional di desa-desa lain yang umumnya hanya berupa betonisasi atau pengerasan tanah tanpa fasilitas pendukung, sehingga pemanfaatannya terbatas hanya pada jam-jam tertentu di siang hari.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan inovasi dimulai dari tahap penggalian gagasan melalui forum musyawarah desa (Musdes) yang melibatkan seluruh lembaga dan elemen masyarakat Desa Sebanti. Dalam musyawarah tersebut, aspirasi masyarakat tentang kebutuhan fasilitas olahraga ditampung dan dibahas secara partisipatif untuk menentukan jenis sarana, lokasi pembangunan, dan mekanisme pelaksanaan [1]. Setelah tercapai kesepakatan, pemerintah desa menetapkan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) yang bertanggung jawab atas seluruh proses pembangunan mulai dari pengadaan material, pelaksanaan konstruksi, hingga pemasangan perangkat teknologi. Tahap konstruksi mencakup betonisasi lapangan voli, pemasangan tiang dan net standar, instalasi sistem penerangan, serta perakitan dan pemasangan papan skor digital.
Selama proses pelaksanaan, TPK menghadapi tantangan teknis dalam pemasangan papan skor digital yang merupakan teknologi baru bagi masyarakat desa. Percobaan pertama pemasangan panel LED mengalami kendala karena spesifikasi kabel listrik yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan daya perangkat, sehingga papan skor tidak berfungsi optimal dan harus dilakukan penyesuaian ulang instalasi kelistrikan [6]. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bahwa penerapan teknologi digital di lingkungan perdesaan memerlukan asistensi teknis yang memadai dan perencanaan spesifikasi yang matang sejak awal. Bersamaan dengan pembangunan Raga Desa, pemerintah desa juga melakukan pemasangan paving untuk peningkatan jalan desa, termasuk ruas jalan menuju lokasi lapangan agar aksesibilitas masyarakat semakin mudah [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia yang menguasai teknologi papan skor digital dan sistem kelistrikan penerangan lapangan. Masyarakat Desa Sebanti yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani belum memiliki pengalaman mengelola perangkat elektronik modern. Mitigasi yang ditempuh adalah melibatkan teknisi dari luar desa untuk melakukan instalasi awal dan sekaligus memberikan pelatihan pengoperasian dasar kepada beberapa pemuda desa yang ditunjuk sebagai operator teknis Raga Desa [1][6].
Tantangan eksternal berupa keterbatasan pasokan listrik yang belum sepenuhnya stabil di kawasan pesisir Pulau Laut juga mempengaruhi keandalan operasional fasilitas penerangan dan papan skor digital. Gangguan listrik yang sewaktu-waktu terjadi berpotensi mengganggu kelancaran pertandingan malam hari. Pemerintah desa mengatasi kendala ini dengan menyediakan genset cadangan yang dapat dioperasikan ketika terjadi pemadaman listrik [1]. Selain itu, lokasi desa yang cukup jauh dari pusat kabupaten membuat pengadaan suku cadang perangkat elektronik memerlukan waktu lebih lama dibanding daerah perkotaan. Mitigasi untuk kendala ini dilakukan melalui pengadaan stok komponen cadangan sejak awal pembangunan dan membangun jejaring komunikasi dengan penyedia perangkat elektronik di Kota Kotabaru.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Pambakal Ahmad Harun menjadi faktor penentu utama keberhasilan pembangunan Raga Desa di Sebanti. Beliau tidak hanya memiliki visi untuk membangun fasilitas olahraga yang berkualitas, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi seluruh elemen masyarakat melalui pendekatan musyawarah yang inklusif [1]. Keberanian mengalokasikan Dana Desa untuk inovasi yang belum lazim di tingkat perdesaan — yaitu integrasi teknologi digital pada fasilitas olahraga — menunjukkan kejelian dalam menangkap momentum program prioritas Kemendes PDTT. Dukungan aktif dari seluruh lembaga desa dan partisipasi langsung warga dalam proses musyawarah hingga pelaksanaan konstruksi menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang kuat terhadap fasilitas yang dibangun.
Sinergi antara program nasional Raga Desa dari Kemendes PDTT dengan kebutuhan riil masyarakat Desa Sebanti menjadi pilar kedua keberhasilan inovasi ini. Keselarasan antara kebijakan pemerintah pusat dan aspirasi masyarakat akar rumput memastikan bahwa pembangunan Raga Desa bukan sekadar proyek fisik yang dipaksakan dari atas, melainkan jawaban organik atas permasalahan yang dirasakan langsung oleh warga [2]. Modal sosial berupa tradisi gotong royong dan semangat kebersamaan yang masih kuat di kalangan masyarakat pesisir Desa Sebanti turut menjadi pengikat partisipasi selama proses pembangunan dan pengelolaan fasilitas pascakonstruksi.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum pembangunan Raga Desa pada tahun 2018, Desa Sebanti tidak memiliki satu pun fasilitas olahraga permanen, dan kegiatan pertandingan antarkampung praktis tidak pernah terselenggara di desa ini. Setelah Raga Desa beroperasi, masyarakat dapat berolahraga setiap hari tanpa terkendala waktu — penerangan lapangan memungkinkan aktivitas berlangsung hingga malam hari, sehingga tidak mengganggu jam kerja produktif warga pada siang hari [1]. Pada awal 2019, Desa Sebanti berhasil menyelenggarakan turnamen voli antarkampung pertama yang diiringi hiburan musik dan menarik ratusan pengunjung dari desa-desa sekitar. Keberhasilan penyelenggaraan turnamen ini membuktikan bahwa investasi pada fasilitas olahraga yang berkualitas mampu mengubah desa yang sebelumnya “sepi” menjadi pusat kegiatan sosial dan hiburan di Kecamatan Pulau Laut Barat.
Dampak ekonomi yang paling terasa adalah tumbuhnya aktivitas usaha mikro dan kecil di sekitar lokasi Raga Desa. Setiap kali turnamen atau pertandingan digelar, pedagang makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya berdatangan dan memperoleh penghasilan tambahan yang signifikan [1]. Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah menguatnya solidaritas dan kerja sama antardesa yang mengikuti turnamen. Kegiatan pertandingan menjadi ajang silaturahmi antarwarga dari berbagai kampung di Kecamatan Pulau Laut Barat yang sebelumnya jarang berinteraksi secara intensif. Secara kualitatif, masyarakat merasakan perubahan suasana desa yang lebih hidup dan dinamis, sekaligus memberikan alternatif hiburan yang sehat bagi generasi muda yang selama ini “haus” akan kegiatan rekreatif di tengah keterbatasan geografis.
Dampak multiplier yang tidak direncanakan sebelumnya adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur desa secara keseluruhan. Keberhasilan Raga Desa memicu antusiasme warga untuk mendukung program pembangunan lainnya, seperti peningkatan jalan desa melalui pemasangan paving, perbaikan sarana wisata pantai melalui urug siring pantai, serta pengembangan posyandu gratis untuk balita dan lansia [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan utama pembangunan Raga Desa Sebanti berasal dari Dana Desa tahun anggaran 2018 dengan alokasi sebesar Rp74.573.000 [1]. Anggaran ini mencakup biaya betonisasi lapangan voli, pengadaan dan pemasangan tiang penerangan, pembelian dan instalasi papan skor digital berbasis LED, serta pengadaan perlengkapan pertandingan standar. Pemanfaatan Dana Desa untuk program Raga Desa sejalan dengan arahan Kemendes PDTT yang menjadikan sarana olahraga desa sebagai salah satu dari empat program prioritas nasional pada tahun 2018, sehingga alokasi anggaran memiliki landasan kebijakan yang kuat [2].
Untuk keberlanjutan operasional, Desa Sebanti merancang model pendapatan melalui mekanisme penarikan iuran atau retribusi dari penyelenggaraan turnamen dan penyewaan fasilitas Raga Desa. Rencana ini akan diformalisasikan melalui Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tarif retribusi, mekanisme pengelolaan, dan alokasi pendapatan [1]. Pendapatan dari retribusi diproyeksikan menjadi sumber pendapatan asli desa yang dapat digunakan untuk biaya pemeliharaan fasilitas, penggantian komponen yang rusak, serta pengembangan sarana olahraga ke cabang-cabang lainnya.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan yang paling tepat dalam inovasi ini adalah mengintegrasikan teknologi papan skor digital dan penerangan lapangan ke dalam pembangunan Raga Desa, bukan sekadar membangun lapangan betonisasi biasa. Keputusan ini mengubah fasilitas olahraga dari sekadar sarana fisik menjadi ruang publik multifungsi yang beroperasi siang dan malam, menjadi magnet kegiatan sosial dan ekonomi bagi seluruh masyarakat Kecamatan Pulau Laut Barat [1]. Pendekatan musyawarah desa yang melibatkan seluruh elemen masyarakat sejak tahap penggalian gagasan juga terbukti efektif dalam membangun dukungan dan rasa kepemilikan kolektif.
Jika memulai dari awal, hal yang akan dilakukan secara berbeda adalah melakukan asesmen teknis kelistrikan secara lebih mendalam sebelum memasang perangkat papan skor digital. Kendala yang dialami saat pemasangan awal — di mana spesifikasi kabel tidak sesuai kebutuhan daya — sebenarnya dapat dihindari melalui konsultasi teknis dengan ahli kelistrikan sejak tahap perencanaan [6]. Selain itu, pelatihan pengoperasian perangkat digital sebaiknya dilakukan sebelum fasilitas diresmikan, bukan setelahnya, agar operator teknis sudah siap mengoperasikan peralatan sejak hari pertama.
Saran praktis bagi desa lain yang ingin membangun Raga Desa dengan fasilitas serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, libatkan teknisi atau ahli kelistrikan sejak tahap perencanaan untuk memastikan spesifikasi teknis perangkat sesuai dengan kondisi infrastruktur listrik desa. Kedua, manfaatkan momentum program prioritas nasional Kemendes PDTT sebagai payung kebijakan sekaligus sumber pendanaan melalui Dana Desa. Ketiga, bentuk kepanitiaan pengelolaan dan penyelenggaraan turnamen sejak awal agar fasilitas yang sudah dibangun langsung termanfaatkan secara optimal dan menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat [1][2].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan jangka panjang Raga Desa Sebanti dirancang melalui formalisasi pengelolaan lewat Peraturan Desa yang mengatur mekanisme penarikan retribusi, pembagian tugas pemeliharaan, dan pengembangan fasilitas secara bertahap [1]. Pembentukan kepanitiaan tetap penyelenggaraan turnamen yang melibatkan unsur pemuda, tokoh masyarakat, dan perangkat desa memastikan bahwa kegiatan kompetisi olahraga dapat terselenggara secara reguler tanpa bergantung pada inisiatif personal kepala desa semata. Pendapatan dari retribusi dan penyewaan fasilitas diproyeksikan mampu menutup biaya operasional dan pemeliharaan rutin, sehingga Raga Desa tidak sepenuhnya bergantung pada alokasi Dana Desa di tahun-tahun berikutnya.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan dijamin melalui pelibatan pemuda desa dalam struktur kepanitiaan pengelolaan Raga Desa. Pemuda yang telah dilatih sebagai operator teknis papan skor digital dan sistem penerangan dipersiapkan untuk mengambil alih tanggung jawab pengelolaan operasional secara bertahap. Dengan demikian, meskipun Pambakal Ahmad Harun kelak berganti, pengelolaan Raga Desa tetap berlanjut karena kapasitas teknis dan manajerial sudah terdistribusi kepada generasi penerus [1]. Rencana pengembangan ke depan mencakup penambahan cabang olahraga lain, pembangunan sumur bor pada tiga titik dengan anggaran Rp121 juta, serta pemasangan penerangan jalan sepanjang 700 meter dengan 30 unit lampu untuk meningkatkan konektivitas menuju Raga Desa.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Raga Desa Sebanti berkontribusi langsung pada pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Kontribusi tersebut mencakup dimensi kesehatan, ekonomi, infrastruktur, kesetaraan, dan kemitraan yang saling memperkuat sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Penyelenggaraan turnamen di Raga Desa mendorong tumbuhnya usaha mikro dan kecil berupa pedagang makanan, minuman, dan kebutuhan lain yang memperoleh penghasilan tambahan. Aktivitas ekonomi yang tercipta membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat desa [1]. | Tumbuhnya usaha mikro dan kecil di sekitar Raga Desa; peningkatan pendapatan pedagang pada setiap penyelenggaraan turnamen |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Ketersediaan fasilitas olahraga yang beroperasi siang dan malam mendorong masyarakat untuk rutin berolahraga. Budaya hidup sehat melalui aktivitas fisik teratur berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat desa [1]. | Raga Desa beroperasi setiap hari; peningkatan frekuensi olahraga masyarakat; penyelenggaraan turnamen voli putra dan putri secara reguler |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Investasi Dana Desa sebesar Rp74.573.000 menghasilkan aset produktif berupa fasilitas olahraga yang menggerakkan ekonomi lokal. Penyelenggaraan turnamen menciptakan peluang kerja sementara bagi panitia, operator teknis, dan penyedia jasa hiburan musik [1][2]. | Investasi Dana Desa Rp74.573.000 menjadi aset produktif; terbentuknya kepanitiaan turnamen sebagai lapangan kerja; pertumbuhan usaha pedagang lokal |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Penerapan teknologi papan skor digital berbasis LED dan sistem penerangan modern pada fasilitas olahraga desa merupakan inovasi infrastruktur yang meningkatkan kualitas layanan publik di tingkat perdesaan [6]. | Papan skor digital berbasis LED terpasang dan beroperasi; sistem penerangan lapangan memungkinkan operasi 24 jam; peningkatan jalan menuju Raga Desa melalui paving |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Raga Desa berfungsi sebagai ruang publik inklusif yang menjadi pusat kegiatan sosial, olahraga, dan hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat. Fasilitas ini menjadikan permukiman desa lebih layak huni dan dinamis [1][2]. | Tersedianya ruang publik inklusif bagi 509 jiwa penduduk; penyelenggaraan turnamen dan hiburan reguler; peningkatan kualitas hidup masyarakat desa |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan inovasi ini merupakan hasil sinergi antara kebijakan program prioritas Kemendes PDTT, pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, dan partisipasi langsung warga melalui mekanisme musyawarah desa [2]. | Sinergi Kemendes PDTT dan pemerintah desa; partisipasi seluruh lembaga desa dalam musyawarah; kerja sama antardesa dalam penyelenggaraan turnamen |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Raga Desa Sebanti dengan integrasi papan skor digital dan penerangan dapat direplikasi oleh desa-desa lain di seluruh Indonesia, khususnya yang memiliki semangat olahraga tinggi namun terkendala fasilitas. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup ketersediaan lahan yang memadai untuk lapangan voli standar, akses terhadap jaringan listrik (PLN atau sumber alternatif), serta komitmen pemerintah desa untuk mengalokasikan Dana Desa sesuai program prioritas Kemendes PDTT [2]. Estimasi biaya replikasi berkisar antara Rp70 juta hingga Rp100 juta tergantung kondisi lahan, harga material di masing-masing daerah, dan spesifikasi papan skor digital yang dipilih — dengan opsi papan skor ekonomis mulai dari Rp2 juta hingga Rp5 juta [6].
Model adaptasi untuk konteks yang berbeda dapat dilakukan dengan menyesuaikan cabang olahraga sesuai minat masyarakat setempat — misalnya sepak bola, bulu tangkis, atau futsal — tanpa mengubah prinsip dasar integrasi teknologi digital dan penerangan yang menjadi elemen pembeda inovasi ini. Desa-desa di kawasan yang belum terjangkau jaringan PLN dapat mengadaptasi model ini dengan menggunakan panel surya sebagai sumber energi alternatif untuk penerangan dan papan skor digital. Strategi scale up jangka panjang dapat diwujudkan melalui pembentukan jaringan Liga Desa Nusantara (LDN) yang menghubungkan Raga Desa di berbagai kecamatan dan kabupaten, menciptakan ekosistem kompetisi olahraga antardesa yang terstruktur dan berkelanjutan [2][3].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa dan Teknologi, “Desa Sebanti: Pembangunan Sarana Olahraga Desa dengan Papan Skor Digital,” idt.web.id, 2019. [Online]. Tersedia: https://idt.web.id
[2] Katadata, “Mengenal Raga Desa, Program Prioritas Kementerian Desa 2018,” katadata.co.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://katadata.co.id
[3] Sekretariat Negara RI, “Empat Program Prioritas Kemendes PDTT 2018: Prukades, Embung, BUMDes, dan Raga Desa,” setneg.go.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://setneg.go.id
[4] Wikipedia, “Kabupaten Kotabaru,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kotabaru
[5] Wikipedia, “Pulau Laut Barat, Kotabaru,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Laut_Barat,_Kotabaru
[6] Desalinks, “Papan Skor Digital untuk Turnamen Voli Desa: Panduan Lengkap dan Tips Implementasi,” desalinks.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://desalinks.id
[7] Indonesia Baik, “Membangun Indonesia dari Pinggiran: Sarana Olahraga Desa dan Dana Desa,” indonesiabaik.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://indonesiabaik.id