Ringkasan Inovasi
Pada 2018, Pemerintah Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, mengagendakan pembangunan dan pelebaran jalan Kampung Babakan melalui pendekatan Padat Karya Tunai Desa (PKTD), program nasional yang dicanangkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sejak 2018 untuk mengatasi kemiskinan dan memperkuat ekonomi desa [1]. Jalan setapak yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah ini menghubungkan Desa Sasagaran dengan Desa Jambenenggang, sekaligus menjadi akses utama menuju 7 hektare lahan sawah warga. Kegiatan pelebaran jalan tahap pertama berlangsung selama 15 hari kerja, melibatkan 50 tenaga kerja swadaya dan gotong royong, dengan anggaran Rp70 juta dari Pemerintah Desa Sasagaran, di bawah koordinasi Sekretaris Desa Ihsan Fauzi. Delapan warga bahkan menghibahkan tanahnya seluas total 450 meter persegi demi kelancaran proyek, menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi. Sekitar 5.000 orang tercatat sebagai penerima manfaat dari pelebaran jalan ini, yang diharapkan menekan biaya transportasi hasil pertanian karena kendaraan roda empat kini dapat masuk ke areal sawah. Kedua desa yang terhubung jalan ini turut sepakat menggelar Musyawarah Antar Desa untuk membahas kerja sama pembangunan tahap kedua.
Latar Belakang
Desa Sasagaran berada di Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, dan menjadi lokasi pusat pemerintahan kecamatan di Kampung Cikawung [2], [3]. Kecamatan Kebonpedes sendiri terdiri atas lima desa — Sasagaran, Kebonpedes, Cikaret, Jambenenggang, dan Bojongsawah — dengan total luas 1.034,83 hektare dan penduduk sekitar 33.265 jiwa, di mana sebagian warga menggantungkan hidup pada pertanian sawah dan perikanan air tawar seperti budi daya lele, nila, dan bawal [2].
Sebelum 2018, akses menuju Kampung Babakan, tempat 7 hektare lahan sawah warga berada, hanya berupa jalan setapak tanah yang menghubungkan Desa Sasagaran dengan Desa Jambenenggang. Kondisi jalan yang belum diperkeras ini menyulitkan warga mengangkut hasil pertanian, karena kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melintas menuju areal persawahan.
Momentum perbaikan jalan ini muncul ketika Pemerintah Desa Sasagaran menangkap peluang dari Padat Karya Tunai Desa (PKTD), program yang dicanangkan Presiden sejak 2018 dan dijalankan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan pembangunan, dan memperkuat desa sebagai subjek pembangunan [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan dan pelebaran jalan Kampung Babakan menggunakan skema Padat Karya Tunai Desa, yang mengutamakan penyerapan tenaga kerja lokal dengan upah harian tunai, alih-alih menyerahkan seluruh pekerjaan kepada kontraktor luar desa [1]. Pendekatan ini sejalan dengan ketentuan PKTD yang mencakup pembangunan dan/atau perbaikan jalan skala desa sebagai salah satu kegiatan yang layak dibiayai [4].
Mekanismenya melibatkan 50 tenaga kerja warga secara swadaya dan gotong royong yang bekerja selama 15 hari, dibiayai anggaran desa sebesar Rp70 juta. Yang membedakan pendekatan PKTD ini dari proyek infrastruktur konvensional adalah tujuan gandanya: selain menghasilkan infrastruktur jalan yang lebih baik, proyek ini sekaligus menciptakan pendapatan tunai langsung bagi warga yang terlibat sebagai tenaga kerja, sesuai prinsip PKTD nasional.
Proses Penerapan Inovasi
Pada 2018, Pemerintah Desa Sasagaran mengagendakan pembangunan dan pelebaran jalan Kampung Babakan sebagai tahap pertama, dengan sasaran memperbaiki akses menuju 7 hektare lahan sawah warga yang sebelumnya hanya bisa dijangkau lewat jalan setapak. Kegiatan tahap pertama ini dirancang berlangsung 15 hari kerja dengan melibatkan 50 tenaga kerja lokal.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini sempat menghadapi tantangan terkait ketersediaan lahan untuk pelebaran jalan, mengingat jalan setapak lama tidak cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat. Alih-alih memaksakan pelebaran di lahan yang terbatas atau menunda proyek menunggu pembebasan lahan formal, Pemerintah Desa mengajak dialog langsung dengan warga pemilik lahan di sepanjang jalur jalan, yang berujung pada delapan warga bersedia menghibahkan tanahnya seluas total 450 meter persegi secara sukarela demi kelancaran proyek — pembelajaran penting bahwa pendekatan musyawarah warga bisa menyelesaikan kendala lahan tanpa proses pembebasan lahan yang panjang dan mahal.
Karena jalan Kampung Babakan menghubungkan Desa Sasagaran dengan Desa Jambenenggang, kedua desa sepakat menggelar Musyawarah Antar Desa (MAD) untuk membahas kerja sama antardesa, termasuk perencanaan pembangunan tahap kedua jalan tersebut.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan lahan jalan setapak lama yang tidak cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat, sementara pembebasan lahan formal berpotensi memakan waktu dan biaya besar. Pemerintah Desa mengatasinya melalui pendekatan musyawarah langsung dengan warga pemilik lahan, yang berujung pada hibah sukarela tanah dari delapan warga seluas 450 meter persegi.
Tantangan eksternal berupa keterbatasan anggaran desa untuk membiayai proyek infrastruktur berskala besar sekaligus turut menjadi pertimbangan, sehingga proyek dibagi menjadi tahap pertama senilai Rp70 juta dengan rencana kelanjutan pada tahap kedua yang akan dibahas melalui Musyawarah Antar Desa bersama Desa Jambenenggang. Pendekatan bertahap ini memungkinkan desa membangun infrastruktur sesuai kemampuan anggaran tanpa menunda manfaat bagi warga.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah antusiasme dan keterlibatan langsung warga, tecermin dari kesediaan delapan warga menghibahkan tanahnya secara sukarela demi kelancaran proyek, serta partisipasi 50 tenaga kerja swadaya dan gotong royong dalam pengerjaan jalan.
Faktor kedua adalah kejelian Pemerintah Desa Sasagaran memanfaatkan skema Padat Karya Tunai Desa yang digulirkan pemerintah pusat, sehingga proyek infrastruktur desa sekaligus menjadi sumber pendapatan tunai langsung bagi warga yang dilibatkan sebagai tenaga kerja [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum proyek berjalan, akses menuju Kampung Babakan dan 7 hektare lahan sawah di sekitarnya hanya berupa jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Setelah pelebaran tahap pertama rampung dalam 15 hari kerja, sekitar 5.000 orang tercatat sebagai penerima manfaat langsung dari perbaikan akses jalan ini.
Pelebaran jalan menekan biaya transportasi komoditas hasil pertanian karena kendaraan roda empat kini dapat masuk langsung ke areal pertanian, sekaligus memudahkan warga menjalankan aktivitas sehari-hari. Delapan warga yang menghibahkan tanahnya menjadi simbol keharuan dan kekompakan warga dalam mendukung pembangunan kampung mereka sendiri.
Dampak spillover dari semangat kolaborasi antardesa ini terlihat dari kesepakatan Musyawarah Antar Desa antara Sasagaran dan Jambenenggang untuk melanjutkan pembangunan tahap kedua, serta capaian Desa Sasagaran yang pada Agustus 2025 menjadi desa pertama di Kabupaten Sukabumi yang meluncurkan Koperasi Desa Merah Putih, direncanakan mengelola usaha gas LPG, air minum, pupuk, hingga hasil pertanian jagung dan ikan warga [6]. Pencapaian ini menunjukkan keberlanjutan semangat gotong royong dan inovasi tata kelola desa yang dirintis sejak proyek jalan Kampung Babakan.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal pembangunan jalan Kampung Babakan tahap pertama sepenuhnya berasal dari anggaran Pemerintah Desa Sasagaran sebesar Rp70 juta, dialokasikan melalui skema Padat Karya Tunai Desa (PKTD) yang secara khusus mendukung pembangunan dan perbaikan jalan skala desa dengan pola padat karya berupah tunai harian [4].
Model PKTD ini secara langsung menyalurkan manfaat ekonomi ganda: infrastruktur jalan yang lebih baik bagi 5.000 penerima manfaat, sekaligus pendapatan tunai langsung bagi 50 tenaga kerja yang terlibat selama 15 hari kerja. Pembangunan tahap kedua direncanakan dibiayai serupa, dibahas lebih lanjut melalui Musyawarah Antar Desa dengan Jambenenggang.
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Desa Sasagaran menunjukkan bahwa keputusan mengajak musyawarah langsung dengan warga pemilik lahan, alih-alih menempuh proses pembebasan lahan formal yang panjang, adalah keputusan kunci yang tepat karena berhasil memperoleh hibah tanah sukarela dari delapan warga tanpa biaya ganti rugi.
Jika memulai dari awal, kerja sama formal dengan desa tetangga seperti Jambenenggang idealnya sudah dirintis sejak tahap perencanaan awal, bukan menunggu jalan tahap pertama selesai, mengingat jalan ini pada akhirnya menghubungkan dan memberi manfaat bagi warga kedua desa.
Bagi desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah memanfaatkan skema Padat Karya Tunai Desa untuk proyek infrastruktur yang jelas manfaatnya bagi warga, mengutamakan musyawarah dengan warga terdampak sejak awal, serta membuka ruang kerja sama dengan desa tetangga jika infrastruktur yang dibangun menghubungkan lebih dari satu wilayah administratif.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan pembangunan jalan Kampung Babakan direncanakan melalui pembangunan tahap kedua yang akan dibahas dalam Musyawarah Antar Desa antara Sasagaran dan Jambenenggang, memastikan proyek infrastruktur ini tidak berhenti pada tahap pertama saja.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan telah teruji sejak proyek ini dirintis pada 2018 di bawah koordinasi Sekretaris Desa Ihsan Fauzi, hingga kepemimpinan desa beralih ke Kepala Desa Deni Suwandi yang terpilih pada Pilkades Mei 2022 untuk periode 2022-2028 [5]. Di bawah kepemimpinan baru ini, Desa Sasagaran tetap menunjukkan inovasi tata kelola, dibuktikan dengan status sebagai pelopor Koperasi Desa Merah Putih pertama di Kabupaten Sukabumi pada 2025 [6].
Rencana keberlanjutan ekonomi desa ke depan turut ditopang Koperasi Desa Merah Putih yang direncanakan mengelola usaha gas LPG, air minum, distribusi pupuk, serta hasil pertanian jagung dan ikan warga, sehingga infrastruktur jalan yang sudah dibangun dapat semakin dimanfaatkan untuk mendistribusikan hasil produksi desa ke pasar yang lebih luas [6]. Ke depan, desa juga perlu memperhatikan tantangan infrastruktur irigasi, mengingat pada 2026 sekitar 3.000 kepala keluarga dan 40 hektare sawah di Desa Sasagaran sempat mengalami krisis air bersih akibat kerusakan irigasi yang belum diperbaiki, menunjukkan bahwa akses jalan saja belum cukup tanpa dukungan infrastruktur pertanian lain yang memadai [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pembangunan jalan Kampung Babakan di Desa Sasagaran berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Skema Padat Karya Tunai Desa memberi pendapatan tunai langsung bagi warga yang terlibat sebagai tenaga kerja proyek jalan. | 50 tenaga kerja menerima upah tunai selama 15 hari kerja |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Akses jalan yang lebih baik menuju lahan sawah mendukung produktivitas dan distribusi hasil pertanian warga. | Akses jalan menjangkau 7 hektare lahan sawah warga |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pelebaran jalan menekan biaya transportasi hasil pertanian dan membuka akses kendaraan roda empat ke areal sawah. | 5.000 orang menerima manfaat langsung dari perbaikan akses |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pembangunan dan pelebaran jalan skala desa menjadi infrastruktur dasar yang mendukung konektivitas antarwilayah. | Jalan Kampung Babakan sepanjang jalur menghubungkan 2 desa |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Musyawarah Antar Desa antara Sasagaran dan Jambenenggang menjadi model kemitraan antardesa dalam perencanaan infrastruktur bersama. | 2 desa bersepakat melanjutkan pembangunan tahap kedua |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pembangunan jalan desa melalui skema Padat Karya Tunai Desa ini sangat mudah direplikasi oleh desa lain di Indonesia, mengingat PKTD merupakan program nasional yang terbuka bagi seluruh desa sejak 2018 [1]. Prasyarat minimum meliputi identifikasi kebutuhan infrastruktur yang jelas manfaatnya bagi warga, kesediaan tenaga kerja lokal terlibat secara swadaya, dan komunikasi terbuka dengan warga pemilik lahan yang terdampak pembangunan.
Estimasi biaya replikasi bergantung pada skala infrastruktur yang dibutuhkan, mengacu pada pengalaman Desa Sasagaran yang menghabiskan Rp70 juta untuk pelebaran jalan sepanjang Kampung Babakan dalam 15 hari kerja. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menyesuaikan skala proyek terhadap kebutuhan riil, serta mempertimbangkan kerja sama antardesa jika infrastruktur yang dibangun menghubungkan lebih dari satu wilayah, sebagaimana dilakukan Sasagaran dan Jambenenggang.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, “Padat Karya Tunai di Desa,” arsip.kemenkopmk.go.id. [Online]. Tersedia: https://arsip.kemenkopmk.go.id/artikel/padat-karya-tunai-di-desa
[2] Sukabumi Update, “Menilik Potensi Kecamatan Kebonpedes Sukabumi: Dari Pertanian, Wisata hingga UMKM,” sukabumiupdate.com. [Online]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/sukabumi/124966/menilik-potensi-kecamatan-kebonpedes-sukabumi-dari-pertanian-wisata-hingga-umkm
[3] Kontributor Wikipedia, “Sasagaran, Kebonpedes, Sukabumi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sasagaran,_Kebonpedes,_Sukabumi
[4] Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan RI, “Kegiatan Apa Saja yang Dapat Dilaksanakan dengan Padat Karya Tunai?,” djpk.kemenkeu.go.id. [Online]. Tersedia: https://djpk.kemenkeu.go.id/?ufaq=kegiatan-apa-saja-yang-dapat-dilaksanakan-dengan-padat-karya-tunai-2
[5] Radar Sukabumi, “Pilkades Kabupaten Sukabumi, Deni Suwandi Raih Suara Terbanyak di Desa Sasagaran,” radarsukabumi.com, Mei 2022. [Online]. Tersedia: https://radarsukabumi.com/kabupaten-sukabumi/pilkades-kabupaten-sukabumi-deni-suwandi-raih-suara-terbanyak-di-desa-sasagaran/
[6] Radar Sukabumi, “Desa Sasagaran Jadi Pelopor Koperasi Merah Putih di Sukabumi,” radarsukabumi.com, 5 Agu. 2025. [Online]. Tersedia: https://radarsukabumi.com/berita-utama/desa-sasagaran-jadi-pelopor-koperasi-merah-putih-di-sukabumi/
[7] Radar Sukabumi, “Kemarau di Sukabumi, 3.000 KK di Desa Sasagaran Krisis Air Bersih dan 40 Hektare Sawah Kering,” radarsukabumi.com, 19 Jul. 2026. [Online]. Tersedia: https://radarsukabumi.com/berita-utama/kemarau-di-sukabumi-3-000-kk-di-desa-sasagaran-krisis-air-bersih-dan-40-hektare-sawah-kering/