Ringkasan Inovasi
Desa Pangkahkulon di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, mengoptimalkan Dana Desa sebagai “roket pendorong” perekonomian pesisir dengan membangun infrastruktur multisektor secara terintegrasi: Jalan Usaha Tani (JUT), jalan lingkungan, penerangan jalan, sanitasi, drainase, MCK, perpustakaan desa, dan penguatan modal BUMDes Pangkahkulon [1]. Pada tahun 2017, Pangkahkulon mendapat alokasi Dana Desa sebesar Rp1 miliar — meningkat 37% dibanding tahun 2016 — yang terdiri dari Rp300 juta Dana Desa pemerintah pusat dan Rp743 juta Alokasi Dana Desa (ADD) pemerintah daerah, dan telah disalurkan KPPN Surabaya I sebesar Rp634 juta [1]. Inovasi kunci yang paling dirasakan warga adalah pembangunan JUT yang menghubungkan area tambak dan pertanian dengan pasar, menciptakan persaingan harga antartengkulak yang sebelumnya tidak ada, dan memotong biaya transportasi hasil panen [2]. Seiring infrastruktur berkembang, inovasi Pangkahkulon kemudian juga bergerak ke digitalisasi layanan publik melalui program “Pangkahkulon Go Digital” yang menjadikan desa ini rujukan studi tiru bagi desa-desa lain di Gresik [3].
Latar Belakang
Kabupaten Gresik merupakan salah satu kabupaten penyangga utama ekonomi Kota Surabaya di kawasan strategis Gerbangkertosusila, dengan luas wilayah 1.191,25 km² yang terbagi ke dalam 18 kecamatan dan 330 desa [4]. Sekitar sepertiga wilayah Gresik merupakan kawasan pesisir yang membentang sepanjang sekitar 140 km menghadap Laut Jawa, termasuk Kecamatan Ujungpangkah yang terletak di ujung utara kabupaten. Kecamatan Ujungpangkah berada di kawasan delta muara Sungai Bengawan Solo yang membentuk ekosistem estuaria kaya nutrisi — menjadikannya salah satu sentra budidaya ikan bandeng dan udang terbesar di Jawa Timur [5].
Desa Pangkahkulon adalah satu dari 13 desa di Kecamatan Ujungpangkah, terletak sekitar 35 km dari pusat kota Gresik. Berdasarkan data kependudukan, desa ini dihuni oleh sekitar 4.000 jiwa yang tersebar di empat dusun: Krajan 1, Krajan 2, Kalingapuri, dan Druju [1]. Sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan, petani tambak, dan petani lahan — tiga profesi yang keseluruhannya sangat bergantung pada kualitas infrastruktur akses menuju lahan produksi dan pasar. Selain tambak bandeng dan udang, Pangkahkulon juga memiliki kawasan mangrove yang luas berfungsi sebagai penahan abrasi dan habitat burung migran, serta Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Kali Ngapuri yang melayani kebutuhan nelayan lokal [5].
Sebelum Dana Desa dioptimalkan, infrastruktur akses ke area tambak dan pertanian Pangkahkulon dalam kondisi buruk. Jalan menuju tambak berlumpur saat musim hujan dan berdebu saat kemarau, membuat biaya transportasi hasil panen menjadi tinggi karena kendaraan pengangkut sering tidak bisa masuk hingga ke area produksi [2]. Kondisi ini melemahkan posisi tawar petani karena mereka terpaksa menerima harga tengkulak yang rendah — tengkulak yang datang dengan risiko kerusakan kendaraan di jalan jelek akan memotong harga beli untuk menutup biaya tersebut. Sanitasi dan drainase permukiman yang buruk juga menjadi masalah laten yang memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas warga secara keseluruhan. Di tengah kondisi ini, pemerintah desa harus merancang alokasi Dana Desa yang tepat sasaran dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi 4.000 jiwa warganya.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Pangkahkulon adalah pendekatan pembangunan infrastruktur multisektor yang terencana dan terintegrasi — bukan memilih satu proyek besar, melainkan menginvestasikan Dana Desa ke beberapa jenis infrastruktur yang saling melengkapi untuk memaksimalkan dampak ekonomi dan sosial [1]. Paket infrastruktur yang dibangun mencakup: (1) Jalan Usaha Tani (JUT) yang menghubungkan kawasan tambak dan pertanian dengan jalan utama dan pasar; (2) jalan lingkungan desa untuk konektivitas antardusun; (3) penerangan jalan yang meningkatkan keamanan dan aktivitas ekonomi malam hari; (4) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah; (5) sarana sanitasi lingkungan berupa pengelolaan air limbah, drainase, dan MCK komunal; (6) perpustakaan desa; dan (7) penguatan permodalan BUMDes Pangkahkulon.
Elemen pembeda utama dari pendekatan Pangkahkulon adalah penguatan BUMDes sebagai simpul ekonomi desa yang diposisikan tidak sekadar sebagai entitas bisnis, tetapi sebagai penggerak ekosistem ekonomi komunitas secara menyeluruh [3]. BUMDes Pangkahkulon kemudian berkembang menjadi tulang punggung inovasi lebih lanjut, termasuk mendukung program “Pangkahkulon Go Digital” yang mentransformasi layanan administrasi desa dari manual ke berbasis digital — menyediakan layanan surat daring, integrasi QR Code untuk verifikasi dokumen, dan platform Lapak Desa bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk secara daring [3].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dari identifikasi kebutuhan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang melibatkan seluruh perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat dari empat dusun. Prioritas dirumuskan berdasarkan keluhan warga yang paling mendesak, dan JUT serta sanitasi muncul sebagai dua kebutuhan teratas yang disepakati [1]. Rencana penggunaan Dana Desa kemudian dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) yang memuat estimasi biaya, jadwal pembangunan, dan mekanisme pengawasan pelaksanaan.
Pelaksanaan pembangunan JUT dihadapi dengan tantangan teknis berupa kondisi tanah lahan tambak yang lembek dan rentan ambles saat dilalui kendaraan berat. Pada percobaan awal konstruksi, beberapa segmen jalan mengalami penurunan permukaan setelah pengaspalan karena lapisan dasar tanah tidak dipadatkan dengan metode yang tepat untuk kondisi tanah rawa-tambak [2]. Pemerintah desa segera berkonsultasi dengan tenaga teknis dari Dinas PU Kabupaten Gresik untuk memperbaiki metode konstruksi, dengan menambahkan lapisan batu kapur sebagai fondasi sebelum pengaspalan pada segmen-segmen berikutnya. Pengalaman ini menjadi koreksi teknis berharga yang meningkatkan kualitas dan ketahanan JUT secara keseluruhan.
Penguatan permodalan BUMDes dilakukan secara paralel dengan pembangunan fisik. Pemerintah desa menetapkan posisi sebagai penyerta modal terbesar BUMDes, memberikan legitimasi kelembagaan sekaligus memastikan ada mekanisme pertanggungjawaban publik terhadap pengelolaan aset bisnis desa [1]. Setelah BUMDes beroperasi dan mendapat kepercayaan warga, inovasi layanan digital dikembangkan secara bertahap — dimulai dari digitalisasi sistem surat-menyurat, kemudian penambahan fitur QR Code, dan terakhir peluncuran Lapak Desa sebagai platform UMKM [3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan kapasitas perencanaan teknis pemerintah desa dalam merancang infrastruktur yang tahan lama di lingkungan pesisir-tambak yang memiliki kondisi tanah berbeda dari desa-desa biasa. Tanah di kawasan tambak cenderung lembek dan berair, sehingga standar konstruksi jalan yang berlaku umum tidak selalu bisa diterapkan langsung tanpa adaptasi [2]. Mitigasi dilakukan dengan menjalin kerja sama teknis dengan Dinas PU Kabupaten Gresik untuk mendapatkan asistensi desain konstruksi yang sesuai kondisi lokal, serta menerapkan sistem pengawasan pembangunan yang melibatkan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dari warga yang paham kondisi lapangan.
Tantangan eksternal berupa fluktuasi penyaluran Dana Desa yang tidak selalu tepat waktu memengaruhi ritme pembangunan. Pada tahun 2017, dari total alokasi Rp1 miliar, KPPN Surabaya I baru menyalurkan Rp634 juta pada saat laporan dibuat, sehingga sebagian program pembangunan harus dijadwalkan ulang sesuai pencairan bertahap [1]. Mitigasi dilakukan dengan menyusun prioritas anggaran yang fleksibel — pembangunan JUT dan sanitasi diprioritaskan pada tahap pertama pencairan, sementara penguatan BUMDes dan perpustakaan dialokasikan pada pencairan tahap selanjutnya.
Tantangan tata kelola berupa risiko ketidaktransparanan dalam pengelolaan Dana Desa yang sering menjadi sorotan publik di tingkat nasional. Pemerintah Desa Pangkahkulon merespons tantangan ini dengan memasang papan transparansi APBDes yang dapat diakses warga, mempublikasikan rencana dan realisasi anggaran secara terbuka, dan memanfaatkan digitalisasi layanan desa sebagai wahana akuntabilitas publik yang modern [3].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Ahmad Fauron, S.Sos.I yang memahami konteks ekonomi pesisir dan kebutuhan riil warganya menjadi faktor penentu utama. Beliau tidak menggunakan Dana Desa untuk proyek-proyek prestisius yang terlihat megah tetapi tidak menyentuh kebutuhan dasar petani tambak dan nelayan, melainkan fokus pada infrastruktur yang secara langsung memotong biaya produksi dan membuka akses pasar [1]. Testimoni langsung dari petani tambak Abdul Muis Salim — yang menyaksikan persaingan harga antartengkulak terjadi segera setelah JUT selesai dibangun — menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur yang tepat sasaran menghasilkan perubahan pasar yang cepat dan terukur [2].
Pendekatan pembangunan multisektor yang terencana menjadi pilar kedua keberhasilan. Dengan membangun paket infrastruktur yang saling melengkapi — JUT untuk ekonomi, sanitasi untuk kesehatan, penerangan untuk keamanan, dan perpustakaan untuk pendidikan — Dana Desa menghasilkan dampak berlapis yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan warga secara bersamaan [1]. Penguatan BUMDes sebagai simpul ekonomi desa juga memberikan efek multiplier jangka panjang: BUMDes yang kuat menjadi platform untuk inovasi berikutnya, termasuk digitalisasi yang menjadikan Pangkahkulon rujukan studi tiru bagi desa-desa lain [3].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum JUT dibangun, petani tambak dan petani lahan Pangkahkulon hanya bisa pasrah menerima harga beli tengkulak yang rendah karena tidak ada alternatif: akses jalan yang buruk menghalangi tengkulak lain untuk bersaing menawarkan harga lebih baik [2]. Segera setelah JUT beroperasi, persaingan harga antartengkulak terjadi secara organik karena semakin banyak pedagang yang bisa menjangkau area produksi dengan biaya transportasi lebih rendah. Posisi tawar petani meningkat, harga jual hasil tambak dan pertanian menjadi lebih kompetitif, dan biaya logistik distribusi hasil panen berkurang signifikan. Kondisi ini membuktikan tesis utama inovasi Pangkahkulon: bahwa investasi infrastruktur yang tepat di kawasan pesisir berdampak langsung dan cepat pada dinamika pasar lokal.
Dampak sanitasi dan drainase yang dibangun bersama JUT juga terasa nyata: kawasan permukiman menjadi lebih bersih, risiko penyakit berbasis lingkungan menurun, dan kualitas air tambak di hulu drainase membaik [1]. Penerangan jalan desa yang sebelumnya gelap kini memungkinkan aktivitas ekonomi dan sosial berlanjut hingga malam hari — nelayan yang pulang larut malam mendapat perlindungan keamanan lebih baik, sementara warung-warung warga dapat beroperasi lebih lama. Perpustakaan desa membuka akses informasi dan pengetahuan bagi warga, khususnya generasi muda, yang menjadi fondasi peningkatan kapasitas SDM jangka panjang.
Dampak jangka menengah yang paling signifikan adalah transformasi Pangkahkulon menjadi desa rujukan inovasi. Program “Pangkahkulon Go Digital” yang tumbuh dari BUMDes yang dikuatkan Dana Desa menjadikan desa ini tempat studi tiru bagi desa-desa lain di Kabupaten Gresik [3]. Pengakuan ini mengangkat posisi Pangkahkulon dari sekadar desa pesisir yang bertahan hidup menjadi desa pesisir yang berdaya saing dan berkapasitas mendorong inovasi.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan utama adalah alokasi Dana Desa tahun 2017 senilai Rp1 miliar yang bersumber dari dua jalur: Dana Desa pemerintah pusat sebesar Rp300 juta dan Alokasi Dana Desa (ADD) pemerintah daerah Kabupaten Gresik sebesar Rp743 juta [1]. Pencairan dilakukan bertahap melalui KPPN Surabaya I. Peningkatan 37% dari alokasi tahun 2016 mencerminkan kepercayaan pemerintah pusat terhadap kemampuan Pangkahkulon dalam menyerap dan mengelola Dana Desa secara akuntabel. Alokasi anggaran didistribusikan ke beberapa komponen pembangunan berdasarkan skala prioritas yang ditetapkan dalam Musrenbangdes, dengan JUT dan sanitasi mendapat porsi terbesar karena dampak langsungnya pada ekonomi warga.
Model keberlanjutan ekonomi Pangkahkulon bertumpu pada BUMDes sebagai mesin pendapatan mandiri desa. Pemerintah desa yang berposisi sebagai penyerta modal terbesar BUMDes memastikan ada aliran kontribusi laba ke Pendapatan Asli Desa (PADes) yang dapat digunakan untuk pemeliharaan infrastruktur dan program pembangunan berikutnya [1]. Platform Lapak Desa dalam program digitalisasi juga membuka potensi pendapatan dari komisi transaksi UMKM dan layanan administrasi berbayar yang dikelola BUMDes. Model ini mengubah Pangkahkulon dari desa yang bergantung penuh pada Dana Desa pusat menjadi desa yang secara bertahap membangun kemandirian fiskal melalui pemasukan BUMDes [3].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat adalah menggunakan Dana Desa untuk membangun JUT sebagai prioritas pertama — bukan membangun gedung desa atau balai pertemuan yang lebih terlihat secara fisik tetapi tidak langsung menyentuh ekonomi petani. JUT terbukti menghasilkan perubahan pasar yang nyata dan cepat: dalam waktu singkat setelah selesai dibangun, dinamika persaingan harga tengkulak sudah bergerak menguntungkan petani [2]. Keputusan membangun paket infrastruktur multisektor secara bersamaan juga terbukti lebih efisien daripada membangun satu per satu, karena biaya mobilisasi tenaga kerja dan material dapat dibagi secara lebih hemat.
Jika memulai dari awal, pemerintah desa mengakui bahwa asesmen teknis kondisi tanah lahan tambak seharusnya dilakukan lebih intensif sebelum konstruksi JUT dimulai, untuk mencegah penurunan permukaan jalan yang terjadi pada segmen awal pembangunan. Desain teknis yang disesuaikan dengan kondisi tanah rawa-tambak — dengan lapisan fondasi batu kapur yang memadai — seharusnya sudah menjadi standar sejak awal, bukan koreksi yang dilakukan setelah ada kerusakan [2]. Perencanaan mekanisme pemeliharaan infrastruktur jangka panjang — termasuk penetapan anggaran perawatan tahunan dalam APBDes — juga seharusnya disusun bersamaan dengan perencanaan pembangunan, bukan ditambahkan setelah konstruksi selesai.
Saran praktis bagi desa-desa pesisir yang ingin mereplikasi model Pangkahkulon mencakup tiga hal pokok. Pertama, identifikasi infrastruktur yang secara langsung memotong biaya produksi atau membuka akses pasar bagi komoditas utama desa — di desa pesisir tambak, ini hampir selalu JUT. Kedua, perkuat BUMDes sebagai entitas bisnis profesional sejak awal dengan penyertaan modal yang memadai, karena BUMDes yang kuat adalah platform terbaik untuk inovasi-inovasi berikutnya. Ketiga, jadikan transparansi anggaran sebagai investasi kepercayaan publik — warga yang percaya pada tata kelola yang baik akan lebih aktif mendukung dan mengawasi proses pembangunan [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan infrastruktur fisik yang dibangun bergantung pada dua mekanisme. Pertama, alokasi anggaran pemeliharaan dalam APBDes yang direncanakan setiap tahun untuk menambal jalan yang rusak, memperbaiki drainase yang tersumbat, dan merawat fasilitas sanitasi. Kedua, pola pengawasan berbasis komunitas di mana warga yang merasakan manfaat langsung — khususnya petani tambak yang dilayani JUT — dilibatkan sebagai pengawas kondisi infrastruktur dan pelapor kerusakan [1].
Keberlanjutan BUMDes dijamin melalui tata kelola profesional dengan mekanisme pertanggungjawaban kepada pemerintah desa dan warga sebagai pemegang kepentingan. Program digitalisasi “Pangkahkulon Go Digital” memberikan lapisan keberlanjutan tambahan: sistem digital yang sudah terbangun menciptakan aset non-fisik yang tidak habis terpakai seperti infrastruktur jalan, melainkan terus berkembang nilainya seiring bertambahnya pengguna [3]. Posisi Pangkahkulon sebagai desa rujukan studi tiru di Kabupaten Gresik juga menciptakan insentif kelembagaan untuk terus berinovasi, karena reputasi yang sudah terbangun mendorong pemerintah desa mempertahankan standar inovasi yang tinggi.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi infrastruktur multisektor Desa Pangkahkulon membuktikan bahwa investasi Dana Desa yang terencana dengan baik dapat secara bersamaan mendorong pencapaian berbagai dimensi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pendekatan terpadu yang menggabungkan infrastruktur ekonomi, sanitasi, pendidikan, dan penguatan kelembagaan mencerminkan pemahaman bahwa kemiskinan dan ketidakberdayaan desa bersifat multidimensi dan harus diselesaikan secara holistik [1].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | JUT yang dibangun dari Dana Desa secara langsung meningkatkan posisi tawar petani tambak dan nelayan melalui munculnya persaingan harga antartengkulak, meningkatkan pendapatan bersih petani tanpa harus menambah volume produksi [2]. | Persaingan harga antartengkulak terjadi segera setelah JUT beroperasi (testimoni Abdul Muis Salim); penurunan biaya transportasi hasil panen; penguatan permodalan BUMDes mendorong peluang usaha baru warga |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Pembangunan sarana sanitasi lingkungan berupa pengelolaan air limbah, drainase, dan MCK komunal meningkatkan kualitas lingkungan hidup warga dan mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan yang selama ini menghantui kawasan pesisir tambak [1]. | Terbangunnya sistem pengelolaan air limbah, drainase, dan MCK komunal; peningkatan kualitas sanitasi lingkungan permukiman; penurunan risiko penyakit berbasis lingkungan |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Perpustakaan desa yang dibangun dari Dana Desa menyediakan akses literasi dan informasi bagi warga Pangkahkulon, khususnya generasi muda, membuka jalur peningkatan kapasitas SDM yang berkelanjutan [1]. | Tersedianya perpustakaan desa yang dapat diakses seluruh warga; akses literasi bagi generasi muda; peningkatan kapasitas informasi petani dan nelayan |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | JUT dan jalan lingkungan yang terbangun menciptakan infrastruktur konektivitas yang meningkatkan efisiensi distribusi produk perikanan dari area produksi ke pasar, mendukung pertumbuhan sektor perikanan yang berkelanjutan [2]. Program digitalisasi BUMDes memperkuat infrastruktur layanan berbasis teknologi. | JUT menghubungkan area tambak dengan pasar; penerangan jalan desa meningkatkan aktivitas ekonomi malam; program Go Digital sebagai inovasi layanan berbasis teknologi; Pangkahkulon jadi desa rujukan studi tiru |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat | Transparansi pengelolaan Dana Desa melalui papan informasi publik dan digitalisasi layanan administrasi memperkuat kepercayaan warga terhadap pemerintah desa dan menciptakan tata kelola desa yang akuntabel, inklusif, dan responsif [3]. | Papan transparansi APBDes terpasang; sistem layanan surat online berbasis QR Code; Musrenbangdes partisipatif sebagai dasar prioritas pembangunan; akuntabilitas pengelolaan Dana Desa |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara pemerintah pusat (Dana Desa), pemerintah daerah (ADD Kabupaten Gresik), KPPN Surabaya I, pemerintah desa, dan BUMDes membuktikan bahwa kemitraan multipihak dalam pendanaan dan pengelolaan Dana Desa menghasilkan dampak pembangunan yang jauh lebih besar dari kemampuan desa secara mandiri [1]. | Alokasi Dana Desa Rp1 miliar dari 2 sumber (pusat dan daerah); kemitraan dengan Dinas PU Gresik untuk asistensi teknis; Pangkahkulon menjadi desa rujukan studi tiru bagi desa lain |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pangkahkulon relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir di seluruh Indonesia, khususnya yang memiliki komoditas perikanan atau pertanian unggulan tetapi terhambat infrastruktur akses yang buruk. Prasyarat minimum mencakup: ketersediaan Dana Desa yang cukup untuk investasi JUT, komitmen kepala desa membangun paket infrastruktur terintegrasi bukan proyek tunggal, dan kesiapan BUMDes sebagai operator ekonomi desa [1]. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah: prioritas JUT sebagai infrastruktur yang langsung menggerakkan pasar, penguatan BUMDes dengan penyertaan modal yang memadai, dan transparansi pengelolaan sebagai fondasi kepercayaan publik.
Untuk desa-desa pesisir tambak yang memiliki kondisi tanah serupa dengan Pangkahkulon, perlu diperhatikan bahwa konstruksi JUT di atas tanah gambut atau lahan tambak memerlukan desain fondasi khusus yang berbeda dari jalan biasa [2]. Asistensi teknis dari Dinas PU kabupaten setempat perlu diminta sejak tahap perencanaan. Untuk scale up di tingkat nasional, Kemendes PDTT dapat mengembangkan panduan “Infrastruktur Pesisir Produktif” yang memberikan template perencanaan JUT dan sanitasi terpadu sesuai karakteristik geografis desa pesisir, dilengkapi modul penguatan BUMDes untuk desa-desa dengan basis ekonomi perikanan [4].
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Desa PDTT, “Dana Desa Jadi Roket Pendorong Dinamika Perekonomian Desa Pangkahkulon,” Katalog Inovasi Desa, Perkumpulan Gedhe Nusantara, 2019.
[2] Suara Indonesia, “Jalan Usaha Tani dari Dana Desa: Dampak Nyata pada Petani dan Petambak Gresik,” suaraindonesia.co.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://suaraindonesia.co.id
[3] Institut Teknologi Sepuluh Nopember, “Pangkahkulon Go Digital: Inovasi Layanan Publik Desa Berbasis Teknologi,” its.ac.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://its.ac.id
[4] Wikipedia, “Kabupaten Gresik,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Gresik
[5] Universitas Airlangga, “Potensi Perikanan dan Tambak di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik,” ub.ac.id, 2020. [Online]. Tersedia: https://ub.ac.id
[6] Universitas Muhammadiyah Malang, “Efektivitas Pemanfaatan Dana Desa untuk Pembangunan Infrastruktur Pertanian dan Perikanan di Jawa Timur,” umm.ac.id, 2019. [Online]. Tersedia: https://umm.ac.id