Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Pagak, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, mengembangkan Kampung Kitiran sebagai kawasan wisata edukasi energi terbarukan sejak 2017 [1]. Nama Kitiran, yang berarti kincir dalam bahasa Jawa, awalnya merupakan alat tradisional petani untuk mengusir hama tikus, sebelum diubah menjadi ikon wisata sekaligus media edukasi energi angin [2]. Program ini digagas Pemerintah Desa Pagak di bawah Kepala Desa Sudarwo, yang menjabat sejak 2014, berawal dari pemanfaatan sebagian tanah bengkok kepala desa sebagai rintisan kawasan wisata [5]. Pada 2019, Pemerintah Desa Pagak menggandeng Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memasang panel surya sebagai wahana edukasi energi terbarukan, menerangi kawasan wisata Rawa Lutung Kitiran [3]. Pengunjung dapat mempelajari cara panel surya menangkap dan menyimpan energi matahari sebelum dimanfaatkan untuk penerangan. Mereka juga dapat menikmati taman bunga, kincir logam dan bambu, dangau, hingga produk UMKM desa seperti kerajinan bambu dan minyak atsiri [6]. Inovasi ini mengantarkan Desa Pagak meraih gelar Juara 1 Desa Wisata Jawa Tengah 2024 [5].

 

Latar Belakang

Desa Pagak terletak di Kecamatan Purwareja Klampok, sisi barat Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, sekitar 30 menit dari pusat kabupaten, dengan luas wilayah 1,69 kilometer persegi dan penduduk 3.609 jiwa pada Juni 2024 [4]. Desa ini terbagi dalam 17 Rukun Tetangga, 4 Rukun Warga, dan empat dusun, yaitu Banjar Anyar, Banjardawa, Depok, dan Jatimaya [4]. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Banjarnegara pada November 2017, Desa Pagak ditetapkan sebagai desa wisata yang kemudian dikenal luas dengan nama Kampung Kitiran [1].

Sebelum menjadi kawasan wisata, kitiran atau kincir hanya digunakan petani setempat sebagai alat tradisional pengusir hama tikus di area persawahan [2]. Pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan pada masa itu juga masih kalah populer dibandingkan bahan bakar fosil, meski Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi pancaran sinar matahari hingga 12 jam per hari. Persediaan energi tak terbarukan yang terus menyusut membuat kebutuhan edukasi publik tentang swasembada energi terbarukan menjadi semakin mendesak bagi pemerintah desa.

Momentum lahirnya Kampung Kitiran bermula ketika Kepala Desa Sudarwo memanfaatkan sebagian tanah bengkok kepala desa sebagai rintisan kawasan wisata, alih-alih membiarkannya menjadi lahan produktif pribadi semata [5]. Keputusan ini menjadi modal awal yang kemudian dikembangkan Pemerintah Desa Pagak menjadi kawasan wisata edukasi energi terbarukan berbasis kearifan lokal kincir angin tradisional.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah transformasi kitiran, alat tradisional pengusir hama tikus, menjadi ikon wisata edukasi energi terbarukan yang memadukan unsur budaya dan sains. Gagasan ini lahir dari kebutuhan mempromosikan isu pemanfaatan energi ramah lingkungan yang masih kalah populer dibandingkan energi fosil, sekaligus melestarikan kearifan lokal petani setempat. Pendekatan mengangkat kitiran sebagai tema utama dipilih karena sudah menjadi identitas budaya desa sebelum dikembangkan menjadi wahana edukasi.

Pemerintah Desa Pagak menggandeng Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Purwokerto memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya di kawasan wisata pada 2019, memanfaatkan energi matahari untuk penerangan lampu dan kebutuhan listrik lainnya [3]. Kawasan wisata dilengkapi papan informasi yang menjelaskan cara panel surya menangkap dan menyimpan energi matahari sebelum dimanfaatkan, sehingga pengunjung dapat mempelajari teknologi ini secara langsung. Pemanfaatan energi surya ini menjadi tahap awal sebelum Desa Pagak merambah pemanfaatan energi angin yang menjadi tema utama Kampung Kitiran.

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penggabungan tiga unsur sekaligus, yaitu pelestarian budaya kincir tradisional, edukasi energi terbarukan berbasis kemitraan akademik, dan pengembangan ekonomi kreatif desa melalui produk UMKM. Pendekatan multidimensi ini membedakan Kampung Kitiran dari objek wisata edukasi energi lain yang umumnya hanya fokus pada aspek teknologi semata.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dari pemanfaatan sebagian tanah bengkok Kepala Desa Sudarwo sebagai rintisan kawasan wisata, yang kemudian ditetapkan resmi sebagai desa wisata melalui Surat Keputusan Bupati Banjarnegara pada November 2017 [5], [1]. Tahap awal pengembangan berfokus pada penataan kincir logam dan bambu, taman bunga, serta dangau sebagai fasilitas dasar kawasan wisata [2].

Pada tahap perintisan awal 2018, kawasan wisata ini belum diluncurkan secara komersial dan masih menggratiskan seluruh akses pengunjung karena fasilitas pendukung belum sepenuhnya siap [2]. Pemerintah Desa Pagak mengoreksi keterbatasan ini secara bertahap dengan terus melengkapi fasilitas, termasuk menggandeng UMP untuk menambahkan wahana edukasi energi surya pada 2019 [3]. Tiket masuk resmi baru diterapkan setelah kawasan wisata benar-benar siap menerima kunjungan dalam skala lebih besar. Proses bertahap ini menjadi pembelajaran penting bahwa kawasan wisata edukasi memerlukan waktu pematangan fasilitas sebelum dikomersialkan secara penuh.

Desa Pagak turut menyusun dokumen rencana jalan atau roadmap mandiri energi hingga 2032, menandakan bahwa pengembangan energi surya baru merupakan tahap awal sebelum merambah pemanfaatan energi angin yang menjadi identitas utama Kampung Kitiran. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya menyusun peta jalan jangka panjang sejak tahap awal, agar setiap tahap pengembangan energi terbarukan memiliki arah yang jelas dan terukur.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan fasilitas pendukung pada tahap perintisan awal, ketika kawasan wisata belum siap dikomersialkan dan masih mengandalkan akses gratis bagi pengunjung [2]. Pemerintah Desa Pagak memitigasi tantangan ini dengan terus melengkapi fasilitas secara bertahap, mulai dari penataan kincir dan taman hingga penambahan wahana edukasi energi surya bersama UMP.

Tantangan eksternal berupa rendahnya popularitas energi terbarukan dibandingkan bahan bakar fosil di kalangan masyarakat umum turut menjadi kendala dalam menarik minat pengunjung pada wahana edukasi energi. Pemerintah Desa Pagak memitigasi tantangan ini dengan mengemas edukasi energi dalam bentuk wisata yang menghibur, memadukan panel surya dengan atraksi taman bunga, kincir warna-warni, dan kuliner khas desa agar lebih menarik bagi pengunjung segala usia.

Tantangan lain adalah menjaga keberlanjutan produksi UMKM desa, seperti minyak atsiri daun sirih yang permintaan pasarnya mencapai 50 kilogram per bulan sementara pasokan desa baru mampu memenuhi separuhnya [6]. Pemerintah desa memitigasi kesenjangan pasokan ini dengan terus mendorong pengembangan kapasitas produksi UMKM lokal seiring meningkatnya kunjungan wisata ke Kampung Kitiran.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Kepala Desa Sudarwo yang rela memanfaatkan tanah bengkok pribadinya sebagai modal awal rintisan wisata, menunjukkan komitmen nyata di luar sekadar imbauan kebijakan [5]. Dukungan pendampingan dari Bank Rakyat Indonesia melalui program Desa BRILiaN turut mempermudah akses permodalan bagi UMKM di kawasan wisata Rawa Lutung, setelah Desa Pagak masuk lima besar Desa BRILiaN pada 2021 [5].

Faktor kedua adalah kemitraan akademik dengan Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yang menyediakan keahlian teknis pemasangan sistem energi surya tanpa membebani sepenuhnya anggaran desa [3]. Modal sosial berupa kearifan lokal kincir tradisional yang sudah dikenal warga turut menjadi pengikat identitas wisata yang autentik, bukan sekadar mengimpor konsep wisata dari daerah lain.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum menjadi kawasan wisata, kitiran hanya berfungsi sebagai alat pengusir hama di sawah tanpa nilai ekonomi tambahan bagi warga [2]. Setelah dikembangkan menjadi Kampung Kitiran, kawasan ini kini menarik pengunjung berkisar 50 hingga 100 orang pada hari biasa, bahkan melonjak hingga 150 orang pada akhir pekan, dengan tiket masuk Rp5.000 per orang.

Pengembangan wahana edukasi energi surya bersama UMP pada 2019 memperkuat posisi Kampung Kitiran sebagai destinasi yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif bagi pelajar dan masyarakat umum [3]. Capaian ini berlanjut dengan raihan gelar Juara 1 Desa Wisata Jawa Tengah 2024, yang diserahkan pada Anugerah Desa Wisata Jawa Tengah di Purworejo pada 13 September 2024 [5].

Dampak yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya beragam usaha mikro kecil menengah di sekitar kawasan wisata, mulai dari kerajinan bambu dan penyulingan minyak atsiri hingga budidaya anggrek [6]. Kuliner khas ketupat landhan petis ayam dan sroto Pagak turut ikut berkembang bersama kunjungan wisata [5]. Produk kerajinan bambu desa bahkan telah menjangkau pasar Asia Tenggara, menunjukkan bahwa dampak ekonomi kreatif desa merambah lebih jauh dari sekadar wisata lokal.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan awal Kampung Kitiran bersumber dari tanah bengkok Kepala Desa Sudarwo yang dialihfungsikan sebagai rintisan kawasan wisata, dilengkapi dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa untuk penataan fasilitas [5]. Pengembangan wahana edukasi energi surya pada 2019 turut didukung kemitraan nonfinansial dengan Program Studi Teknik Elektro UMP, yang menyumbangkan keahlian teknis tanpa membebani anggaran desa untuk biaya konsultasi [3].

Model pendapatan Kampung Kitiran bertumpu pada tiket masuk sebesar Rp5.000 per pengunjung, dilengkapi pendapatan tambahan dari penyewaan sepeda tua dan penjualan produk UMKM desa. Dukungan pendampingan permodalan dari program Desa BRILiaN Bank Rakyat Indonesia turut memperkuat akses UMKM di kawasan wisata terhadap sumber pembiayaan tambahan, sehingga model bisnis kawasan wisata tidak bertumpu semata pada pendapatan tiket [5].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mengangkat kitiran, alat tradisional petani, sebagai tema utama wisata edukasi energi terbukti menjadi keputusan kunci yang memberi identitas autentik dan membedakan Kampung Kitiran dari objek wisata edukasi energi lainnya. Keputusan menggandeng perguruan tinggi untuk pengembangan teknis energi surya, alih-alih membangun kapasitas dari nol, juga terbukti mempercepat kehadiran wahana edukasi berkualitas.

Jika memulai dari awal, Pemerintah Desa Pagak dapat mempertimbangkan penyusunan roadmap energi terbarukan sejak tahap perintisan, bukan setelah wahana energi surya berjalan lebih dulu. Pengalaman menunjukkan bahwa pengembangan bertahap dari energi surya menuju energi angin memerlukan perencanaan jangka panjang yang idealnya disusun sejak awal, bukan menyusul di tengah perjalanan.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan menggali kearifan lokal atau alat tradisional yang sudah dikenal warga sebagai tema utama wisata edukasi, sebagaimana kitiran diangkat Desa Pagak. Menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi setempat untuk dukungan teknis energi terbarukan juga disarankan, agar desa tidak perlu menanggung penuh biaya keahlian teknis dari anggaran sendiri.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Kampung Kitiran dijaga melalui dokumen roadmap mandiri energi hingga 2032 yang telah disusun Pemerintah Desa Pagak, memberikan arah pengembangan jangka panjang dari energi surya menuju energi angin. Diversifikasi atraksi wisata, mulai dari taman bunga, wisata lumpur, hingga kuliner khas desa, turut menjaga daya tarik kawasan agar tidak bergantung pada satu wahana energi semata.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada pengelolaan kawasan wisata oleh BUMDes dan Kelompok Sadar Wisata Desa Pagak, bukan sepenuhnya bergantung pada figur Kepala Desa Sudarwo. Struktur ini membuat program berpeluang tetap berjalan meski kepemimpinan desa berganti di masa depan. Pendampingan berkelanjutan dari Bank Rakyat Indonesia melalui program Desa BRILiaN turut memberi jaminan kapasitas kelembagaan pengelola wisata [5].

Rencana pendapatan mandiri jangka panjang diarahkan pada penguatan ekosistem UMKM di sekitar kawasan wisata, seperti kerajinan bambu yang telah menjangkau pasar Asia Tenggara dan penyulingan minyak atsiri [6]. Dengan begitu, pendapatan desa tidak hanya bertumpu pada tiket masuk wisata semata. Strategi ini diharapkan menjadikan Kampung Kitiran sebagai penggerak ekonomi kreatif desa secara lebih menyeluruh, bukan sekadar destinasi wisata musiman.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kampung Kitiran Desa Pagak berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari energi bersih dan terjangkau hingga pertumbuhan ekonomi. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik edukasi energi terbarukan dan pemberdayaan ekonomi kreatif warga Desa Pagak sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau Wahana edukasi panel surya dan roadmap mandiri energi hingga 2032 mendorong kesadaran publik tentang pemanfaatan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil. Sistem pembangkit listrik tenaga surya terpasang sejak 2019 menerangi kawasan wisata Rawa Lutung Kitiran.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kunjungan wisata mendorong tumbuhnya UMKM lokal seperti kerajinan bambu, penyulingan minyak atsiri, dan kuliner khas desa. Kunjungan wisata mencapai 50-150 orang per hari, dengan produk kerajinan bambu menjangkau pasar Asia Tenggara.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Transformasi lahan desa menjadi kawasan wisata edukasi ramah lingkungan menunjukkan model pembangunan pedesaan berkelanjutan yang diakui tingkat provinsi. Desa Pagak meraih gelar Juara 1 Desa Wisata Jawa Tengah 2024.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, kearifan lokal atau alat tradisional yang dapat diangkat menjadi tema wisata edukasi yang autentik. Kedua, kesediaan kepala desa maupun pemerintah desa mengalokasikan lahan awal untuk rintisan kawasan wisata. Ketiga, kesediaan menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi setempat untuk dukungan teknis energi terbarukan.

Estimasi biaya replikasi bergantung pada skala wahana energi yang dikembangkan, dengan opsi kemitraan akademik seperti yang dilakukan Desa Pagak bersama UMP dapat menekan biaya konsultasi teknis secara signifikan [3]. Durasi pengembangan penuh dapat mengacu pada perjalanan Desa Pagak, yaitu sekitar dua tahun dari penetapan status desa wisata pada 2017 hingga peluncuran wahana energi surya pada 2019. Rentang waktu ini menunjukkan bahwa pengembangan bertahap dapat dilakukan sesuai kemampuan anggaran desa.

Model wisata edukasi energi terbarukan ini dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan jenis energi yang dikembangkan pada potensi alam setempat, baik surya, angin, air, maupun biomassa. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif maupun Kementerian Desa PDTT berpeluang menjadikan model Kampung Kitiran sebagai rujukan replikasi bagi desa-desa lain yang ingin memadukan edukasi energi dengan pengembangan ekonomi kreatif [1].

 

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Pagak,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pagak

[2] Liputan6, “Angin Sepoi-Sepoi Pagi di Kampung Kitiran Banjarnegara yang Bikin Ketagihan,” liputan6.com, Sep. 2018. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/3637284/angin-sepoi-sepoi-pagi-di-kampung-kitiran-banjarnegara-yang-bikin-ketagihan

[3] D. N. K. Hardani, I. H. Kurniawan, dan Winarso, “Wisata Edukasi Berbasis Energi Terbarukan Sel Surya,” Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM), vol. 3, no. 2, Sep. 2019. [Online]. Tersedia: https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/JPPM/article/view/5154

[4] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Pagak, Purwareja Klampok, Banjarnegara,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pagak,_Purwareja_Klampok,_Banjarnegara

[5] Tribun Banyumas, “Destinasi Wisata Unik Desa Pagak Banjarnegara, Raih Juara 1 Desa Wisata Jawa Tengah Tahun 2024,” banyumas.tribunnews.com, 28 Jan. 2025. [Online]. Tersedia: https://banyumas.tribunnews.com/2025/01/28/destinasi-wisata-unik-desa-pagak-banjarnegara-raih-juara-1-desa-wisata-jawa-tengah-tahun-2024

[6] Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, “Potensi Ekonomi Kreatif di Desa Wisata Pagak,” visitjawatengah.jatengprov.go.id. [Online]. Tersedia: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/artikel/potensi-ekonomi-kreatif-di-desa-wisata-pagak

 

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Kampung Kitiran, Wisata Edukasi Mandiri Energi dan Ramah Lingkungan
Alamat
Desa Pagak, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Pemerintah Desa Pagak (Kepala Desa Sudarwo) bersama Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Kontak
Sudarwo (Kepala Desa Pagak), telepon/WhatsApp +62-821-3576-4534, website pagak-banjarnegara.desa.id
Lokasi