Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Malalin di Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan merespons ancaman pandemi Covid-19 sejak 2020 dengan inovasi berbasis kearifan lokal [1]. Warga dilatih membuat antiseptik alami dan jamu dari tanaman lokal seperti daun kelor, kunyit, jahe, temulawak, daun sirih, dan jeruk nipis [1]. Pelatihan yang difasilitasi Kepala Desa Sareng Toto, SE bersama tim pendamping desa ini dibiayai Dana Desa dan mencakup pemeriksaan suhu tubuh warga secara berkala [1]. Langkah ini menjadikan Desa Malalin contoh desa yang mandiri dalam mitigasi kesehatan berbasis sumber daya lokal. Inovasi ini menjawab kebutuhan mendesak membekali warga dengan keterampilan perlindungan diri di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan desa dan melonjaknya harga antiseptik pasar selama pandemi [2]. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan keterampilan warga agar mampu melindungi diri secara mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada fasilitas kesehatan yang terbatas di tingkat desa. Dampak utamanya adalah meningkatnya literasi kesehatan warga dan terbentuknya kebiasaan hidup sehat baru berbasis tanaman lokal [1]. Dampak lainnya adalah terwujudnya sinergi antara kebijakan kabupaten, gugus tugas Covid-19, dan inisiatif pemerintah desa dalam mempersiapkan warga menghadapi kehidupan normal baru.

 

Latar Belakang

Desa Malalin terletak di Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, wilayah pegunungan dengan akses menuju fasilitas kesehatan kabupaten yang tidak selalu mudah ditempuh warga. Topografi berbukit dan jarak yang jauh dari pusat layanan kesehatan menjadi karakteristik umum desa-desa di Kecamatan Cendana, termasuk Malalin. Di sisi lain, desa ini memiliki potensi tanaman obat yang melimpah di pekarangan warga, termasuk daun kelor, kunyit, jahe, temulawak, daun sirih, dan jeruk nipis. Tanaman-tanaman ini secara turun-temurun sudah dikenal warga sebagai bahan jamu keluarga [1]. Potensi kearifan lokal inilah yang kelak menjadi modal utama saat desa harus merespons ancaman kesehatan berskala nasional.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal 2020 memaksa seluruh desa, termasuk desa terpencil seperti Malalin, berhadapan langsung dengan ancaman kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya. Keterbatasan fasilitas kesehatan di tingkat desa menjadi kerentanan nyata yang berpotensi memperparah dampak pandemi jika warga tidak memiliki kemampuan perlindungan mandiri. Kebutuhan akan antiseptik dan suplemen imunitas melonjak tajam di seluruh Indonesia pada masa itu, sementara pasokan dari pasar kerap terhambat dan harganya tidak terjangkau bagi sebagian warga desa. Kondisi ini menciptakan celah yang perlu diisi solusi berbasis sumber daya lokal yang sudah tersedia di lingkungan desa sendiri [2].

Momentum bertindak datang ketika Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menerbitkan Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19. Surat edaran ini secara eksplisit mengizinkan Dana Desa dialokasikan untuk pembuatan masker dan hand sanitizer di tingkat desa [2]. Kebijakan ini membuka ruang legal dan pembiayaan bagi Kepala Desa Sareng Toto untuk segera bertindak, alih-alih menunggu bantuan eksternal yang belum tentu datang tepat waktu. Ketersediaan tanaman obat di sekitar warga membuat opsi produksi antiseptik dan jamu mandiri menjadi pilihan paling realistis untuk dieksekusi secara cepat.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah program pelatihan terintegrasi pembuatan antiseptik alami dan jamu peningkat imunitas berbasis tanaman lokal, dibiayai melalui realokasi Dana Desa sesuai arahan pemerintah pusat untuk penanganan Covid-19 [2]. Inovasi ini lahir dari inisiatif Kepala Desa Sareng Toto yang bermitra dengan pendamping desa untuk mengalihkan potensi herbal yang sudah ada di sekitar warga. Potensi itu diubah menjadi produk kesehatan fungsional yang dapat diproduksi sendiri oleh setiap keluarga [1]. Pendekatan ini dipilih karena tidak memerlukan investasi bahan baku baru maupun keahlian teknis tinggi dari warga.

Program pelatihan bekerja dalam tiga modul yang saling mendukung. Modul pertama mengajarkan pembuatan antiseptik dari daun sirih dan jeruk nipis yang mengandung senyawa flavonoid, eugenol, dan asam sitrat dengan sifat antibakteri [4]. Modul kedua mengajarkan pembuatan jamu dan minuman herbal dari daun kelor, kunyit, jahe, dan temulawak yang secara ilmiah dikenal mendukung daya tahan tubuh [3]. Modul ketiga berupa praktik pemeriksaan suhu tubuh mandiri sebagai langkah deteksi dini gejala Covid-19, sehingga ketiga modul ini dapat dipraktikkan warga di rumah menggunakan bahan yang mudah diperoleh tanpa biaya tinggi.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dengan koordinasi antara Kepala Desa Sareng Toto dan tim pendamping desa, yaitu Mansur, SE serta Syahrir Mardua Mallapa dari Pendamping Kecamatan, didukung Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid [1]. Tim ini merancang kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan dan kapasitas warga. Identifikasi tanaman lokal yang tersedia dan mudah diakses menjadi titik awal yang memastikan pelatihan bisa langsung dipraktikkan tanpa hambatan akses bahan baku. Rancangan awal ini disusun bertahap agar warga dari berbagai latar belakang pendidikan dapat mengikutinya dengan mudah.

Pada sesi pelatihan awal, sebagian warga membuat larutan antiseptik dengan konsentrasi daun sirih dan jeruk nipis yang tidak konsisten karena belum ada takaran baku yang jelas, sehingga efektivitas produk antarrumah tangga bervariasi. Tim pendamping mengoreksi kesalahan ini dengan menyusun panduan takaran standar berdasarkan referensi konsentrasi bahan aktif yang teruji secara ilmiah, sebelum sesi lanjutan digelar [4]. Koreksi ini menjadi pembelajaran penting bahwa pelatihan berbasis kearifan lokal tetap memerlukan standar teknis yang jelas agar hasilnya benar-benar efektif, bukan sekadar simbolis.

Pelaksanaan pelatihan lanjutan dilakukan secara langsung dengan melibatkan warga dari berbagai kalangan usia, dalam suasana partisipatif yang mendorong peserta aktif bertanya dan mencoba langsung proses pembuatan. Antusiasme warga yang tinggi menjadi indikasi bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal jauh lebih mudah diterima dibandingkan pendekatan medis teknis yang asing bagi mereka. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya menyiapkan panduan takaran standar sejak awal pelatihan, bukan menunggu ditemukan masalah di lapangan terlebih dahulu.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah memastikan standarisasi dosis dan cara pembuatan antiseptik dan jamu yang dipraktikkan warga, agar produk yang dihasilkan benar-benar efektif secara ilmiah, bukan sekadar ritual yang memberikan rasa aman semu [4]. Tim pendamping memitigasi tantangan ini dengan menyusun panduan takaran standar sebagaimana dijelaskan pada tahap koreksi proses penerapan, sehingga variasi konsentrasi antarrumah tangga dapat ditekan. Pendekatan berbasis panduan tertulis ini dipilih ketimbang membiarkan warga menakar bahan secara berbeda-beda.

Tantangan eksternal berupa keterbatasan literatur populer tentang takaran tanaman obat yang tepat sempat menghambat penyusunan panduan pelatihan yang mudah dipahami warga awam. Tim pendamping memitigasi kendala ini dengan merujuk pada kajian ilmiah tentang kandungan aktif tanaman lokal, seperti kurkumin pada kunyit dan gingerol pada jahe, untuk memastikan materi pelatihan tetap akurat secara teknis [3]. Kolaborasi antara pendamping teknis dan tenaga ahli kabupaten menjadi kunci menerjemahkan literatur ilmiah menjadi panduan praktis bagi warga desa.

Kendala lain adalah menjaga keberlanjutan praktik pembuatan jamu dan antiseptik setelah momentum pelatihan berlalu, karena kebiasaan baru membutuhkan penguatan berulang agar benar-benar terinternalisasi. Pemerintah desa memitigasi risiko ini dengan merencanakan sesi pelatihan lanjutan secara berkala serta mendorong pembentukan Taman Tanaman Obat Keluarga di tingkat RT atau RW [5]. Tanpa sistem penguatan semacam ini, ada kecenderungan warga kembali ke pola konsumsi lama begitu rasa khawatir terhadap pandemi mulai mereda.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan proaktif Kepala Desa Sareng Toto yang tidak menunggu instruksi lebih lanjut, melainkan langsung mengambil inisiatif menggunakan Dana Desa untuk merespons darurat kesehatan sesuai kondisi lokal desanya [1]. Keputusannya mengintegrasikan kearifan lokal, yaitu pengetahuan tentang tanaman obat yang sudah dimiliki warga, ke dalam program mitigasi pandemi menciptakan relevansi tinggi dan penerimaan cepat dari masyarakat. Kepemimpinan yang berani mengambil keputusan cepat inilah yang membuat desa tidak kehilangan momentum di masa awal pandemi.

Faktor kedua adalah kualitas tim pendamping yang hadir tidak hanya sebagai instruktur teknis, tetapi sebagai fasilitator yang memahami konteks sosial budaya Desa Malalin. Sinergi antara Pendamping Kecamatan Mansur dan Syahrir Mardua Mallapa dengan Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid menghasilkan materi pelatihan yang teknis akurat sekaligus mudah dipahami warga desa tanpa latar belakang pendidikan kesehatan [1]. Modal sosial berupa kepercayaan warga terhadap pendamping yang sudah dikenal turut mempercepat penerimaan program pelatihan ini.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum pelatihan berlangsung, warga Desa Malalin bergantung sepenuhnya pada produk antiseptik dan suplemen dari pasar yang langka dan mahal pada masa awal pandemi, tanpa keterampilan memproduksi alternatif sendiri. Setelah pelatihan, warga yang sebelumnya tidak familiar dengan proses ekstraksi tanaman obat kini mampu memproduksi antiseptik dan minuman herbal berbahan daun kelor, kunyit, jahe, dan temulawak secara mandiri di rumah masing-masing [1]. Perubahan dari ketergantungan pasar menuju produksi mandiri ini menjadi indikator paling nyata dari keberhasilan inovasi ini.

Kajian ilmiah mendukung efektivitas pendekatan yang diambil Desa Malalin. Kunyit dan jahe mengandung kurkumin dan gingerol yang dikenal memiliki sifat imunomodulator dan anti-inflamasi, mendukung daya tahan tubuh warga yang mengonsumsinya secara rutin [3]. Daun sirih dan jeruk nipis sebagai bahan antiseptik alami juga memiliki dasar ilmiah kuat, karena mengandung flavonoid, eugenol, dan asam sitrat yang terbukti efektif menghambat pertumbuhan bakteri pada penelitian hand sanitizer alami [4].

Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri komunitas bahwa mereka tidak harus menjadi penonton pasif dalam menghadapi pandemi. Inovasi ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah desa dengan gugus tugas kabupaten, membuktikan bahwa penanganan pandemi paling efektif ketika pemerintah desa diberi ruang beradaptasi dengan kondisi lokal, bukan hanya mengikuti protokol seragam dari atas [2]. Dokumentasi program tidak merinci angka pasti jumlah warga yang mengikuti pelatihan maupun volume produksi antiseptik dan jamu secara agregat, sehingga capaian ini masih bersifat kualitatif.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Program pelatihan ini dibiayai sepenuhnya melalui realokasi Dana Desa, mengikuti arahan Surat Edaran Menteri Desa PDTT Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 [2]. Surat edaran itu mengizinkan penggunaan anggaran desa untuk pembuatan masker dan hand sanitizer. Skema ini tidak memerlukan investasi bahan baku baru karena tanaman obat yang dipakai sudah tersedia di pekarangan warga, sehingga sebagian besar anggaran teralokasi untuk honor fasilitator dan bahan pendukung pelatihan. Dokumentasi program tidak merinci besaran anggaran secara spesifik, sehingga total biaya pelatihan masih bersifat estimatif berdasarkan skema Dana Desa serupa di desa lain.

Model keberlanjutan pendanaan diarahkan pada potensi pengembangan produk jamu dan antiseptik kemasan melalui BUM Desa atau kelompok usaha perempuan desa, mengubah modal pengetahuan yang lahir dari respons darurat pandemi menjadi sumber pendapatan berkelanjutan [4], [6]. Pendekatan ini menjadikan keterampilan warga sebagai aset ekonomi jangka panjang, bukan sekadar kemampuan darurat yang hanya relevan selama pandemi berlangsung. Pengembangan produk herbal kemasan berpotensi menjadi komoditas ekonomi kreatif desa dengan pasar yang tumbuh seiring kesadaran kesehatan masyarakat pascapandemi.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mengintegrasikan tiga modul pelatihan sekaligus, yaitu antiseptik, jamu, dan pemeriksaan suhu, dalam satu program terpadu terbukti menjadi keputusan kunci yang tepat karena menyentuh aspek pencegahan, peningkatan imunitas, dan deteksi dini secara bersamaan. Pendekatan berbasis kearifan lokal yang memanfaatkan pengetahuan turun-temurun tentang tanaman obat juga terbukti lebih mudah diterima warga dibandingkan pendekatan medis teknis yang asing bagi mereka. Kombinasi kedua keputusan ini menjadi fondasi penerimaan program yang cepat di tengah situasi darurat pandemi.

Jika memulai dari awal, tim pendamping mengakui idealnya panduan takaran standar bahan aktif disiapkan sejak sesi pelatihan pertama, bukan disusun setelah ditemukan variasi konsentrasi produk antarrumah tangga di lapangan. Penundaan penyusunan panduan ini sempat membuat sebagian warga memproduksi antiseptik dengan efektivitas yang tidak konsisten pada masa awal pelatihan. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi desa lain agar menyiapkan rujukan teknis sejak tahap perencanaan, bukan menunggu masalah muncul terlebih dahulu.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari inventarisasi tanaman obat yang sudah tumbuh di pekarangan warga, sebelum memutuskan jenis produk kesehatan yang akan dilatihkan. Melibatkan pendamping desa dan tenaga ahli kabupaten sejak tahap perencanaan kurikulum juga disarankan agar materi pelatihan tetap akurat secara teknis sekaligus mudah dipahami warga awam. Merancang mekanisme penguatan berkala, seperti pembentukan Taman Tanaman Obat Keluarga, sejak awal program turut disarankan agar kebiasaan baru tidak pudar begitu momentum darurat mereda.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini didorong melalui pelembagaan program pelatihan sebagai bagian dari kegiatan rutin bidang kesehatan di APBDes, sehingga pelatihan serupa dapat diulang secara berkala dan menjangkau warga baru yang belum mengikuti sesi pertama [2]. Pengembangan Taman Tanaman Obat Keluarga di tingkat RT atau RW menjadi langkah lanjutan strategis untuk memastikan bahan baku antiseptik dan jamu selalu tersedia di lingkungan terdekat warga tanpa biaya pengadaan [5]. Pelembagaan dalam anggaran rutin ini menjadi kunci agar program tidak berhenti begitu perhatian terhadap pandemi mereda.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian penting mengingat keberhasilan awal program ini banyak ditopang inisiatif personal Kepala Desa Sareng Toto. Pelembagaan program dalam Peraturan Desa dan APBDes rutin, bukan sekadar kebijakan darurat masa pandemi, diharapkan menjaga keberlanjutan pelatihan meski kepemimpinan desa berganti di masa depan. Penguatan kelembagaan semacam ini penting agar keberlanjutan kesehatan mandiri warga tidak bergantung pada satu figur kepala desa saja.

Rencana pendapatan mandiri diarahkan melalui pengembangan keterampilan warga menjadi unit usaha produktif berbasis BUM Desa, sebagaimana dijelaskan pada bagian sumber pendanaan dan model bisnis, agar program tidak bergantung penuh pada Dana Desa setiap tahun. Diversifikasi produk herbal kemasan turut dipersiapkan agar kelompok usaha perempuan desa memiliki sumber pendapatan tambahan pascapandemi [6]. Strategi ini diharapkan membuat kemandirian kesehatan warga Desa Malalin tetap terjaga meski perhatian nasional terhadap Covid-19 sudah menurun.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Desa Malalin dalam pelatihan pembuatan jamu dan antiseptik alami berkontribusi secara nyata pada empat tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saling berkaitan. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini membuktikan bahwa desa dengan sumber daya terbatas mampu menjadi aktor aktif dalam pencapaian agenda pembangunan global ketika diberi kepercayaan dan ruang berinovasi [7], [8]. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pelatihan membuat antiseptik dan jamu dari tanaman lokal mengurangi pengeluaran rumah tangga yang melonjak selama pandemi, karena warga tidak perlu membeli produk mahal dari pasar. Jumlah keluarga yang memproduksi sendiri antiseptik dan jamu dari pekarangan rumah.
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Program memperkuat akses warga terhadap sarana pencegahan penyakit yang terjangkau, meningkatkan imunitas melalui konsumsi herbal, dan membangun deteksi dini suhu tubuh di tingkat desa. Jumlah warga terlatih memproduksi antiseptik dan jamu, serta frekuensi pemeriksaan suhu berkala.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Keterampilan yang diperoleh warga berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha produktif berbasis produk herbal kemasan melalui BUM Desa atau kelompok perempuan desa. Terbentuknya rintisan unit usaha herbal berbasis BUM Desa atau kelompok usaha perempuan.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Inovasi ini terwujud melalui kemitraan antara pemerintah desa, pendamping kecamatan, tenaga ahli kabupaten, dan gugus tugas Covid-19 dalam satu program terpadu. Jumlah mitra aktif yang terlibat dalam perancangan dan pelaksanaan program pelatihan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pelatihan Desa Malalin mudah direplikasi oleh desa lain di Kabupaten Enrekang maupun seluruh Sulawesi Selatan. Prasyaratnya sederhana, yaitu ketersediaan tanaman obat lokal, fasilitator yang terampil, dan anggaran Dana Desa yang difokuskan pada bidang kesehatan. Dokumen pelatihan yang disusun pendamping desa dapat dijadikan panduan standar yang disebarkan melalui forum pendamping desa kabupaten untuk memfasilitasi replikasi yang cepat [1].

Estimasi waktu replikasi berkisar satu hingga dua bulan sejak identifikasi tanaman lokal hingga sesi pelatihan pertama digelar, mengikuti pola yang ditempuh Desa Malalin sejak Surat Edaran Menteri Desa terbit pada 2020 [2]. Model ini dapat diadaptasi desa lain dengan mengganti jenis tanaman obat sesuai ketersediaan lokal, selama tetap merujuk pada kajian ilmiah tentang kandungan aktif dan takaran yang aman digunakan [3], [4]. Estimasi biaya replikasi relatif rendah karena sebagian besar anggaran hanya dialokasikan untuk honor fasilitator dan bahan pendukung pelatihan, bukan investasi infrastruktur baru.

Untuk scale up yang lebih luas, Kementerian Desa PDTT dapat mendorong pengembangan program Desa Tanggap Covid-19 dan Taman Tanaman Obat Keluarga sebagai prioritas Dana Desa berkelanjutan. Dukungan kebijakan semacam ini akan menciptakan ekosistem yang mendukung replikasi model Desa Malalin ke desa-desa lain di seluruh Indonesia. Desa Malalin dapat berperan sebagai desa percontohan di Sulawesi Selatan untuk program integrasi tanaman obat lokal dengan sistem kesehatan desa, terutama dalam konteks penguatan ketahanan kesehatan komunitas menghadapi ancaman wabah di masa mendatang.

 

Daftar Pustaka

[1] Portal Inovasi Daerah Tertinggal, “Tangkal Covid-19, Desa Malalin Latih Warga Bikin Jamu dan Antiseptik,” idt.web.id. [Online]. Tersedia: https://idt.web.id

[2] Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 serta Penegasan Padat Karya Tunai Desa,” jogloabang.com, 2020. [Online]. Tersedia: https://www.jogloabang.com/desa/se-mendes-8-2020-desa-tanggap-covid-19-penegasan-pktd

[3] Tim Peneliti, “Review: Indonesian Herbal Ingredients as Immune Booster,” Jurnal Jamu Indonesia, vol. 7, no. 1, IPB University, 2022. [Online]. Tersedia: https://jamu-journal.ipb.ac.id/index.php/JJI/article/view/253

[4] Tim Peneliti, “Aktivitas Antibakteri Hand Sanitizer Berbahan Ekstrak Daun Sirih dan Ekstrak Jeruk Nipis,” NECTAR: Jurnal Pendidikan Biologi, Universitas Tidar. [Online]. Tersedia: https://jom.untidar.ac.id/index.php/nectar/article/view/1559

[5] Kamrin, L. O. L. Azim, L. A. Kalza, and L. O. A. Saktiansyah, “Pemberdayaan Masyarakat Desa Tudungano melalui Pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Upaya Kemandirian Kesehatan,” Jurnal PIMAS, vol. 4, no. 4, pp. 384-391, 2025, doi: 10.35960/pimas.v4i4.2063. [Online]. Tersedia: https://ejournal.uhb.ac.id/index.php/PIMAS/article/view/2063

[6] LPPM Universitas Pakuan, “Pemberdayaan UMKM dalam Pembuatan Jamu Tradisional dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Upaya Pencapaian SDGs di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor,” fmipa.unpak.ac.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://fmipa.unpak.ac.id/berita/pemberdayaan-umkm-dalam-pembuatan-jamu-tradisional-dari-tanaman-obat-keluarga-toga-sebagai-upaya-pencapaian-sdgs-di-desa-cikarawang-kabupaten-bogor

[7] Bappenas / SDGs Indonesia, “Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera,” SDGs Universitas Brawijaya. [Online]. Tersedia: https://sdgs.ub.ac.id/inacol-sdgs/17-goals-bappenas/sdgs-3-kehidupan-sehat-dan-sejahtera/

[8] Tim Pengabdian UMPR, “Edukasi dan Pelatihan Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga di Desa Dlingo Bantul sebagai Upaya Pencapaian Tujuan SDGs di Bidang Kesehatan,” PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 2025. [Online]. Tersedia: https://journal.umpr.ac.id/index.php/pengabdianmu/article/view/10042

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pelatihan Pembuatan Jamu dan Antiseptik Alami — Desa Sehat Tanggap Covid-19
Alamat
Desa Malalin, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan
Inovator
Sareng Toto, SE (Kepala Desa Malalin); Pendamping Kecamatan Mansur, SE dan Syahrir Mardua Mallapa; Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid
Kontak
Sareng Toto, SE (Kepala Desa Malalin), telepon/WA +62-813-4202-5097 | Website Kabupaten Enrekang, enrekangkab.go.id
Lokasi