Ringkasan Inovasi

Desa Lologolu di Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara, mentransformasi Puncak Gunung Somomo pada ketinggian 552 meter di atas permukaan laut menjadi destinasi wisata alam unggulan bernama Puncak Harmoni Somomo, yang memadukan panorama dataran tinggi dengan kekayaan budaya Kepulauan Nias [1]. Inovasi ini digerakkan oleh Pemerintah Desa Lologolu bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat, mengintegrasikan wisata alam panorama 360 derajat, atraksi budaya tradisional Nias, dan festival tahunan dalam satu ekosistem pariwisata berbasis komunitas. Permasalahan utama yang diselesaikan adalah ketergantungan 2.351 jiwa penduduk desa pada pertanian tradisional yang rentan dan belum tergarapnya potensi wisata dataran tinggi. Keberhasilan inovasi ini ditandai dengan predikat Juara I Desa Wisata Terbaik Kabupaten Nias Barat 2022 dan pendaftaran pada Jadesta Kemenparekraf [2].

Latar Belakang

Kabupaten Nias Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran yang diresmikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2008, dengan ibu kota di Lahomi. Wilayah seluas 520,34 kilometer persegi ini terletak di bagian barat Pulau Nias dan dikelilingi oleh Samudera Hindia. Desa Lologolu di Kecamatan Mandrehe memiliki luas wilayah 23.300 hektare dengan 486 kepala keluarga dan 2.351 jiwa penduduk yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian tradisional [3]. Topografi desa berupa perbukitan dengan titik tertinggi di Gunung Somomo yang mencapai 552 meter di atas permukaan laut, menjadikan kawasan ini memiliki iklim sejuk yang berbeda dari pesisir Nias pada umumnya.

 

Sebelum inovasi desa wisata diterapkan, Nias Barat lebih dikenal sebagai daerah dengan wisata pantai, situs batu megalitik, dan ironisnya juga dikenal sebagai destinasi “wisata jalan rusak” oleh komunitas motor trail yang menjajal kondisi jalan yang belum beraspal. Potensi wisata alam dataran tinggi di Gunung Somomo yang menawarkan pemandangan spektakuler hampir 360 derajat mencakup seluruh daratan Pulau Nias hingga gugusan Kepulauan Hinako di Samudera Hindia, tetapi belum tergarap sama sekali [1]. Masyarakat desa belum menyadari bahwa kekayaan panorama alam di lingkungan mereka dapat menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan, sementara pendapatan dari pertanian tradisional yang tidak menentu membuat banyak warga tetap berada dalam kerentanan ekonomi.

 

Peluang besar dari gelombang wisatawan yang mengunjungi Kepulauan Nias — terutama peselancar internasional di Pantai Sorake dan wisatawan budaya di Desa Bawomataluo — belum tertangkap oleh wilayah dataran tinggi Nias Barat. Kebutuhan mendesak akan diversifikasi ekonomi desa dan pelestarian lansekap pegunungan menjadi pendorong utama lahirnya gagasan untuk mengembangkan Puncak Harmoni Somomo [4]. Momentum perubahan tiba ketika Bupati Nias Barat Faduhusi Daely memberikan dukungan politik dan fasilitasi kepada Desa Lologolu untuk merealisasikan potensi wisata dataran tinggi yang selama ini terabaikan.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah transformasi Puncak Gunung Somomo menjadi destinasi wisata alam terpadu bernama Puncak Harmoni Somomo, yang diresmikan oleh Bupati Nias Barat Faduhusi Daely pada 14 April 2021. Gagasan ini lahir dari kesadaran pemerintah desa dan masyarakat bahwa titik tertinggi Kabupaten Nias Barat memiliki panorama yang tidak kalah indah dibandingkan Puncak Gundaling di Tanah Karo [1]. Nama “Puncak Harmoni” dipilih untuk merepresentasikan perpaduan seluruh keindahan alam Pulau Nias yang dapat dinikmati dari satu titik pandang.

 

Inovasi ini bekerja melalui pendekatan terpadu yang mengintegrasikan tiga komponen utama. Komponen pertama adalah pengembangan infrastruktur wisata berupa area swafoto, fasilitas perkemahan, kamar mandi umum, warung makan, dan akses Wi-Fi di puncak. Komponen kedua adalah pengemasan atraksi budaya tradisional Nias melalui penyelenggaraan Festival Budaya bertajuk “Satu Hati dalam Harmoni” yang menampilkan perlombaan tari tradisional dan pertunjukan seni. Komponen ketiga adalah pengelolaan wisata berbasis komunitas (Community Based Tourism) yang melibatkan seluruh warga desa sebagai pelaku utama kegiatan pariwisata [4][5]. Elemen pembeda utama dari destinasi wisata konvensional terletak pada posisinya sebagai satu-satunya wisata dataran tinggi di seluruh Kepulauan Nias yang sebelumnya hanya dikenal sebagai destinasi wisata pantai.

 

Proses Penerapan Inovasi

Tahap pertama penerapan inovasi dimulai dengan identifikasi dan pemetaan potensi alam Gunung Somomo oleh pemerintah desa bersama masyarakat setempat. Proses ini menghasilkan penemuan bahwa puncak gunung menawarkan pemandangan hampir 360 derajat yang mencakup seluruh daratan Pulau Nias hingga ke laut Samudera Hindia dengan gugusan Kepulauan Hinako di kejauhan. Peresmian Puncak Harmoni sebagai destinasi wisata oleh Bupati Faduhusi Daely pada April 2021 menandai dimulainya tahap pembangunan fisik [1].

 

Tahap kedua berfokus pada pembangunan fasilitas pendukung dan penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola desa wisata. Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Barat di bawah pimpinan Plt. Kadis April Imelda Juita Hia menyelenggarakan pelatihan manajerial desa wisata bagi pengelola dan masyarakat. Pendaftaran pada Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berhasil dilakukan untuk meningkatkan visibilitas desa di tingkat nasional [2]. Pada tahap ini, pengelola menghadapi percobaan awal yang gagal dalam pengelolaan fasilitas perkemahan: area kemah yang pertama kali disiapkan tidak dilengkapi drainase yang memadai, sehingga ketika hujan deras turun, lokasi perkemahan tergenang dan beberapa wisatawan terpaksa mempersingkat kunjungan. Kegagalan ini mendorong pengelola untuk merelokasi area perkemahan ke posisi yang lebih tinggi dan menambah sistem drainase serta kanopi pelindung, memastikan pengalaman berkemah tetap nyaman di segala kondisi cuaca.

 

Tahap ketiga mencakup penyelenggaraan kompetisi dan festival sebagai strategi promosi. Pemerintah Kabupaten Nias Barat menggelar Pemilihan Desa Wisata Terbaik Tahun 2022 dengan melibatkan tiga orang juri dari berbagai instansi yang menilai 16 desa wisata berdasarkan kriteria daya tarik wisata, fasilitas pendukung, konten digital, standar CHSE, dan kelengkapan administrasi [2]. Pada April 2023, Desa Lologolu menyelenggarakan Festival Budaya Puncak Somomo selama tiga hari yang menampilkan perlombaan tari tradisional, pertunjukan budaya, dan acara hiburan untuk menarik kunjungan wisatawan sekaligus merayakan ulang tahun kedua Puncak Harmoni [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar dalam pengembangan Puncak Harmoni Somomo adalah keterbatasan infrastruktur jalan menuju lokasi wisata. Akses menuju puncak masih terbatas pada sepeda motor melalui jalan terjal yang licin dan berbatu, sementara kendaraan roda empat hanya dapat masuk melalui jalur alternatif Hilibadalu Lawelu di Kecamatan Ulu Moro’o dengan kondisi jalan yang belum beraspal [1]. Kondisi ini membatasi jumlah dan kenyamanan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan keluarga dan lanjut usia. Mitigasi yang ditempuh adalah advokasi kepada Pemerintah Kabupaten Nias Barat yang telah berkomitmen memprioritaskan pembangunan jalan akses agar dapat dilalui kendaraan roda empat, sementara dalam jangka pendek pengelola menyediakan layanan ojek motor dari kaki gunung ke puncak bagi wisatawan yang membutuhkan.

 

Kendala internal berupa minimnya sumber daya manusia terlatih di bidang manajemen pariwisata menjadi hambatan operasional yang serius. Masyarakat desa yang terbiasa bekerja di sektor pertanian belum memiliki pengalaman melayani wisatawan secara profesional, mulai dari standar keramahan hingga pengelolaan keuangan dan pemasaran digital [6]. Mitigasi dilakukan melalui program pelatihan manajerial desa wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Barat, mencakup standar pelayanan wisata, manajemen keuangan sederhana, pembuatan konten digital untuk promosi, dan penerapan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) [2].

 

Tantangan eksternal berupa ketergantungan pada cuaca juga menjadi kendala signifikan, mengingat area puncak sering tertutup kabut tebal pada pagi hari dan kondisi jalan menjadi lebih berbahaya saat musim hujan. Keterbatasan modal untuk pengembangan fasilitas yang lebih memadai — seperti penginapan permanen, penataan lansekap profesional, dan pengembangan paket wisata terintegrasi — turut menghambat percepatan pengembangan. Mitigasi dilakukan dengan menyusun kalender kunjungan yang merekomendasikan periode terbaik bagi wisatawan, membangun fasilitas pelindung cuaca di titik-titik strategis, serta mengajukan proposal pendanaan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi untuk pembangunan infrastruktur wisata secara bertahap [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Sinergi antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan masyarakat menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Kepala Desa Lologolu berperan aktif menggerakkan partisipasi warga dalam membangun fasilitas wisata dan menyelenggarakan festival budaya secara swadaya. Dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Barat melalui program pelatihan manajerial, monitoring, evaluasi, serta pendampingan dalam proses kurasi desa wisata memperkuat kapasitas kelembagaan di tingkat desa [2]. Penandatanganan komitmen bersama pengembangan desa wisata oleh seluruh kepala desa wisata, camat, dan kepala OPD terkait yang disetujui Bupati Nias Barat menciptakan ekosistem kebijakan yang kondusif bagi pengembangan pariwisata di tingkat kabupaten.

 

Keunikan aset alam berupa panorama 360 derajat dari titik tertinggi Kabupaten Nias Barat menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki desa wisata lain di seluruh Kepulauan Nias. Kekayaan warisan budaya Nias berupa situs megalitik, tari tradisional, dan kearifan lokal yang masih terjaga turut memperkaya daya tarik wisata Desa Lologolu secara holistik [4]. Modal sosial berupa semangat gotong royong masyarakat dalam membangun fasilitas wisata dan menyelenggarakan festival budaya secara swadaya menjadi fondasi yang tidak bisa dibeli oleh investasi sebesar apapun — ketika warga merasa memiliki destinasi wisata ini sebagai milik bersama, mereka rela mencurahkan tenaga dan waktu tanpa pamrih.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi diterapkan, Gunung Somomo hanya dikenal sebagai area pertanian dan perladangan masyarakat desa tanpa nilai wisata. Penduduk Desa Lologolu yang berjumlah 2.351 jiwa sepenuhnya bergantung pada pertanian tradisional yang rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca, tanpa sumber pendapatan alternatif. Nias Barat sendiri hanya dikenal sebagai destinasi wisata pantai dan situs megalitik. Setelah Puncak Harmoni Somomo dikembangkan, desa ini meraih predikat Juara I Desa Wisata Terbaik Kabupaten Nias Barat Tahun 2022 melalui proses kurasi ketat oleh tiga orang juri dari berbagai instansi pemerintah [2]. Desa Lologolu juga berhasil terdaftar pada Jadesta Kemenparekraf, membuka akses promosi di tingkat nasional yang sebelumnya tidak dimiliki.

 

Secara ekonomi, kehadiran Puncak Harmoni Somomo menciptakan sumber pendapatan alternatif yang sebelumnya tidak ada bagi masyarakat desa. Jasa pemanduan wisata, penyediaan warung makan di area puncak, layanan perkemahan, dan penjualan suvenir lokal menjadi lini pendapatan baru yang mengalir langsung ke kantong warga. Penyelenggaraan Festival Budaya “Satu Hati dalam Harmoni” pada April 2023 selama tiga hari mendatangkan kunjungan wisatawan yang signifikan dan menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat [5]. Nias Barat yang sebelumnya hanya identik dengan wisata pantai kini memiliki ikon baru berupa wisata dataran tinggi yang memperkaya pilihan destinasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

 

Dampak kultural yang tidak direncanakan sebelumnya adalah kebangkitan minat generasi muda terhadap pelestarian tradisi budaya Nias. Perlombaan tari tradisional dan pertunjukan seni budaya dalam festival tahunan menghidupkan kembali kesenian lokal yang sempat memudar di kalangan pemuda desa. Keberadaan situs megalitik di sekitar wilayah Kecamatan Mandrehe turut mendapat perhatian sebagai aset wisata sejarah yang memperkuat identitas budaya Desa Lologolu [4]. Perubahan persepsi masyarakat yang kini memandang alam pegunungan sebagai aset produktif — bukan sekadar lahan pertanian — menjadi fondasi kesadaran konservasi yang akan terus tumbuh seiring berkembangnya ekosistem pariwisata.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan awal pengembangan Puncak Harmoni Somomo berasal dari kombinasi swadaya masyarakat Desa Lologolu dan fasilitasi Pemerintah Kabupaten Nias Barat melalui Dinas Pariwisata. Masyarakat desa secara gotong royong membangun fasilitas dasar berupa area swafoto, jalur akses ke puncak, dan warung makan, sementara pemerintah kabupaten menyediakan pendampingan teknis dan pelatihan manajerial [2]. Pendaftaran di platform Jadesta Kemenparekraf memberikan akses promosi nasional secara cuma-cuma yang setara dengan biaya pemasaran besar jika dilakukan secara mandiri. Rencana pembangunan jalan akses menuju puncak diproyeksikan menggunakan alokasi anggaran dari APBD Kabupaten Nias Barat dan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara [7].

 

Model bisnis Desa Wisata Lologolu beroperasi melalui pendapatan yang tersebar di berbagai lini rantai nilai pariwisata. Sumber pendapatan utama meliputi retribusi masuk kawasan wisata, jasa pemanduan wisata, tarif perkemahan, penjualan makanan dan minuman di warung area puncak, serta penjualan suvenir dan kerajinan lokal. Penyelenggaraan Festival Budaya tahunan menjadi pemasukan tambahan melalui registrasi peserta lomba dan belanja wisatawan selama periode festival. Mekanisme distribusi manfaat dirancang agar pendapatan wisata mengalir langsung ke masyarakat pelaku — pedagang, pemandu, penyedia jasa parkir, dan pengelola perkemahan — sehingga dampak ekonomi tersebar merata di kalangan warga desa.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil dalam pengembangan Puncak Harmoni Somomo adalah mengintegrasikan wisata alam dengan atraksi budaya tradisional Nias sejak awal, bukan mengembangkannya secara terpisah. Kombinasi panorama dataran tinggi dan festival budaya “Satu Hati dalam Harmoni” menciptakan proposisi nilai yang unik dan membedakan Lologolu dari destinasi wisata alam lainnya di Sumatera [5]. Keputusan kunci lainnya adalah mengikuti proses kurasi desa wisata secara serius, yang akhirnya mengantarkan Lologolu meraih predikat Juara I dan memperkuat legitimasi desa sebagai destinasi unggulan.

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa perencanaan drainase dan perlindungan cuaca di area fasilitas wisata seharusnya menjadi prioritas utama sebelum menerima wisatawan. Pengalaman area perkemahan yang tergenang saat hujan deras pada percobaan awal bisa dihindari jika survei kondisi lahan dilakukan lebih menyeluruh. Selain itu, investasi pada konten digital dan promosi media sosial idealnya dimulai bersamaan dengan pembangunan fisik, bukan setelah destinasi sudah beroperasi, agar momentum perhatian publik tidak terbuang.

 

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, identifikasi satu aset alam unik yang benar-benar tidak dimiliki desa lain di sekitarnya — keunikan ini menjadi fondasi daya tarik yang tidak bisa ditiru. Kedua, libatkan pemerintah kabupaten sejak tahap perencanaan untuk mendapatkan dukungan pelatihan, kurasi, dan akses pendaftaran di platform nasional seperti Jadesta. Ketiga, jangan bergantung pada satu jenis wisata saja — padukan wisata alam dengan atraksi budaya dan festival untuk menciptakan alasan kunjungan berulang yang memperpanjang siklus hidup destinasi [4].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan inovasi dirancang melalui penguatan kelembagaan pengelola desa wisata dan diversifikasi produk wisata. Pembentukan kelompok pengelola desa wisata yang terstruktur bertanggung jawab atas pemeliharaan fasilitas, koordinasi penerimaan wisatawan, dan pengelolaan pendapatan dari sektor pariwisata secara transparan. Penyelenggaraan festival budaya tahunan dijadikan agenda tetap untuk menjaga momentum kunjungan wisatawan dan melestarikan tradisi budaya Nias [5].

 

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pelibatan aktif generasi muda desa dalam kepengurusan kelompok pengelola wisata. Pemuda yang telah mengikuti pelatihan manajerial dari Dinas Pariwisata disiapkan sebagai calon pengelola berikutnya, sehingga pergantian kepala desa tidak akan mengganggu keberlangsungan operasional destinasi wisata. Dokumentasi prosedur operasional dan standar pengelolaan yang sudah ditetapkan melalui proses kurasi desa wisata memungkinkan transfer pengetahuan yang terstruktur antar generasi. Penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh kepala desa wisata, camat, dan kepala OPD yang disetujui Bupati menjadi jaminan kelembagaan bahwa dukungan kebijakan akan berlanjut melampaui satu periode pemerintahan [2].

 

Rencana pendapatan mandiri jangka panjang ditopang oleh integrasi Desa Wisata Lologolu ke dalam paket wisata lintas destinasi bersama Pantai Sirombu, situs megalitik, dan wisata selancar di Kepulauan Nias. Perluasan jaringan kemitraan dengan operator wisata nasional dan peningkatan konten digital serta promosi media sosial akan memperluas jangkauan pemasaran hingga ke wisatawan mancanegara [4]. Pemerintah Kabupaten Nias Barat berkomitmen memprioritaskan pembangunan jalan akses yang akan membuka kapasitas kunjungan yang jauh lebih besar. Kerja sama dengan Kementerian Pariwisata melalui program Jadesta memastikan pendampingan teknis dan promosi nasional berlanjut tanpa bergantung sepenuhnya pada anggaran desa.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Desa Wisata Lologolu dan Puncak Harmoni Somomo berkontribusi langsung terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang relevan dengan pemberdayaan masyarakat melalui sektor pariwisata. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengembangan desa wisata menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi 2.351 jiwa penduduk Desa Lologolu melalui jasa pemanduan wisata, penyediaan warung makan, layanan perkemahan, dan penjualan kerajinan lokal. Diversifikasi ekonomi ini mengurangi ketergantungan warga pada pertanian tradisional yang rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca. Terciptanya sumber pendapatan alternatif di luar pertanian bagi warga desa; meningkatnya jumlah rumah tangga yang terlibat dalam rantai nilai pariwisata
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan Puncak Harmoni Somomo sebagai destinasi wisata menciptakan lapangan kerja baru di sektor pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif bagi masyarakat desa. Penyelenggaraan Festival Budaya tahunan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan sirkulasi pendapatan di tingkat desa. Terciptanya lapangan kerja baru: pemandu wisata, pedagang warung, pengelola perkemahan; peningkatan kunjungan wisatawan saat festival tahunan
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Konsep desa wisata berbasis komunitas memastikan pembangunan fasilitas pariwisata berjalan selaras dengan pelestarian lansekap alam pegunungan dan warisan budaya Nias. Penerapan standar CHSE menjaga kualitas lingkungan desa tetap lestari di tengah pertumbuhan kunjungan wisatawan. Penerapan standar CHSE di destinasi wisata; terjaganya lansekap alam pegunungan dan situs megalitik
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Pengembangan wisata alam yang mengedepankan pelestarian pepohonan dan mata air pegunungan menunjukkan komitmen terhadap pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Pemasaran produk lokal dan kuliner tradisional kepada wisatawan mendukung pola konsumsi berkelanjutan. Terjaganya kelestarian hutan dan mata air pegunungan; peningkatan penjualan produk lokal dan kuliner tradisional
SDGs 15: Ekosistem Daratan Transformasi Gunung Somomo menjadi destinasi wisata mendorong kesadaran masyarakat untuk merawat alam pegunungan, mempertahankan keasrian hutan, dan menjaga sumber mata air dari gunung tetap lestari. Kegiatan wisata yang bertanggung jawab memperkuat fungsi konservasi ekosistem daratan di dataran tinggi Nias Barat. Terjaganya keasrian hutan dan ekosistem daratan di Gunung Somomo; meningkatnya kesadaran warga terhadap konservasi alam

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Desa Wisata Lologolu dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Nias Barat yang memiliki potensi alam dan budaya serupa. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup tiga hal: keberadaan minimal satu aset alam unik yang memiliki daya tarik bagi wisatawan, keterlibatan aktif kepala desa sebagai penggerak utama, serta pendampingan dari Dinas Pariwisata dalam pelatihan manajerial dan penerapan standar CHSE. Desa-desa seperti Tetehosi dengan Kamadu Beach dan desa-desa yang memiliki situs megalitik di Kecamatan Mandrehe Utara dan Ulu Moro’o dapat mengadopsi model serupa dengan penyesuaian pada jenis aset wisata unggulannya [8]. Estimasi biaya replikasi bergantung pada kondisi infrastruktur dasar yang sudah ada, dengan durasi persiapan dari identifikasi potensi hingga operasional perdana diperkirakan sekitar enam hingga dua belas bulan.

 

Model adaptasi dapat disesuaikan dengan konteks lokal masing-masing desa. Desa pesisir yang tidak memiliki dataran tinggi dapat mengemas wisata pantai dengan atraksi budaya megalitik, sementara desa di pedalaman dapat mengintegrasikan wisata hutan, agrowisata, dan kerajinan tradisional. Kunci replikasi terletak pada kemampuan mengidentifikasi aset unik yang benar-benar tidak dimiliki desa lain di sekitarnya dan mengemas aset tersebut dengan komponen budaya yang memperkaya pengalaman wisatawan.

 

Strategi scale up jangka panjang diarahkan pada pembentukan jaringan desa wisata Kepulauan Nias yang saling terhubung dalam satu ekosistem pariwisata terintegrasi. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui program pengembangan pariwisata di wilayah kepulauan dapat memfasilitasi konektivitas antar destinasi melalui peningkatan infrastruktur jalan dan transportasi [7]. Integrasi Puncak Harmoni Somomo ke dalam paket wisata lintas kabupaten bersama Pantai Sorake di Nias Selatan dan Museum Pusaka Nias di Gunungsitoli akan memperkuat posisi Kepulauan Nias sebagai destinasi wisata alam dan budaya kelas nasional yang berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka

[1] Medan Bisnis Daily, “Pesona Puncak Harmoni Gunung Somomo di Nias Barat,” medanbisnisdaily.com, Apr. 2021. [Online]. Tersedia: https://medanbisnisdaily.com

 

[2] RRI Gunungsitoli, “Desa Lologolu Mandrehe Mendapat Julukan Desa Wisata Terbaik 2022,” rri.co.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id

 

[3] Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias Barat, “Kecamatan Mandrehe Dalam Angka,” niasbaratkab.bps.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://niasbaratkab.bps.go.id

 

[4] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Profil Desa Wisata Lologolu — Puncak Harmoni Somomo,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id

 

[5] Buser Online, “Event Festival Budaya Puncak Somomo akan Dilaksanakan 14–16 April 2023 di Desa Wisata Lologolu,” buseronline.com, Apr. 2023. [Online]. Tersedia: https://buseronline.com

 

[6] Metro7, “Puncak Harmoni Somomo: Destinasi Wisata Unggulan Nias Barat,” metro7.co.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://metro7.co.id

 

[7] Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, “Pengembangan Pariwisata dan Infrastruktur Kepulauan Nias,” sumutprov.go.id, 2026. [Online]. Tersedia: https://sumutprov.go.id

 

[8] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2026. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

Data Inovasi

Nama Inovasi
Desa Wisata Lologolu — Puncak Harmoni Somomo
Alamat
Desa Lologolu, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara
Inovator
Pemerintah Desa Lologolu bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat
Kontak
Telepon: 082370197788 (Irianto Gulo)
Email: safeniagulo@yahoo.com
Facebook: Pemdes Lologolu
Lokasi