Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Karanggedang, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, membangun dua ruas jalan baru menggunakan Dana Desa tahun 2019 melalui skema Program Padat Karya Tunai (PKT). Jalan poros sepanjang 600 meter menuju Dusun Sindeh, Desa Wringinharjo, Kecamatan Gandrungmangu, dan jalan baru menuju area pertanian Pacir Ipis menjadi dua investasi infrastruktur untuk membuka isolasi desa dataran tinggi dan meningkatkan ekonomi pertanian warga [1]. Dampak inovasi ini berlapis: petani menikmati akses lebih mudah ke lahan dan pasar, harga tanah di sekitar desa meningkat, 1.200 Hari Orang Kerja (HOK) terserap selama konstruksi, dan panorama alam sepanjang jalan baru membuka peluang agrowisata yang melengkapi Kemit Forest Education sebagai destinasi wisata ikonik desa [2].
Latar Belakang
Desa Karanggedang berdiri di kawasan dataran tinggi dan perbukitan Kecamatan Sidareja, berjarak 8 km dari kota kecamatan dan 80 km dari kota Kabupaten Cilacap. Posisi geografis ini selama ratusan tahun membuat warga harus menempuh jalan setapak sempit dan berbatu untuk mencapai kecamatan tetangga, Gandrungmangu, yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan sosial mereka [1].
Para petani yang menjadi tulang punggung ekonomi desa menanggung beban paling berat. Jalan setapak yang sempit membuat biaya pengangkutan hasil panen menjadi mahal dan tidak efisien, sementara akses tengkulak dari luar desa pun terbatas. Kajian mengenai infrastruktur jalan pertanian menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas jalan, semakin tinggi biaya transportasi yang harus ditanggung petani, dan semakin rendah daya tawar mereka di hadapan pembeli [3].
Kondisi ini sudah lama dirasakan warga dan diakui sebagai kebutuhan mendesak. Aspirasi pembangunan dua jalan baru pun masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) sejak masa kepemimpinan kepala desa sebelumnya, dan Saryo selaku kepala desa yang menjabat sejak 2019 melanjutkan komitmen tersebut saat Dana Desa 2019 mulai bisa digunakan [4].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah transformasi jalan setapak berusia ratusan tahun menjadi jalan poros desa menggunakan mekanisme pembangunan berbasis komunitas melalui skema Program Padat Karya Tunai (PKT). Skema ini menempatkan warga desa setempat sebagai pekerja langsung sehingga anggaran Dana Desa tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga uang tunai yang beredar di tingkat rumah tangga [5].
Dua ruas jalan dibangun sekaligus dalam satu tahun anggaran. Jalan poros sepanjang 600 meter menghubungkan Desa Karanggedang dengan Dusun Sindeh, Desa Wringinharjo, Kecamatan Gandrungmangu, dengan anggaran Rp151.000.000. Jalan kedua membuka akses baru menuju area pertanian Pacir Ipis dengan anggaran Rp51.000.000, sehingga total investasi dua ruas ini mencapai Rp202.000.000 dari Dana Desa 2019 [1].
Proses Penerapan Inovasi
Proses inovasi dimulai dari forum musyawarah desa yang melibatkan warga, perangkat desa, dan pendamping desa. Kesepakatan pembangunan dua jalan ini merupakan buah dari perencanaan partisipatif jangka menengah yang sudah dituangkan dalam RPJMDes, bukan keputusan tiba-tiba [4].
Pelaksanaan konstruksi menerapkan mekanisme PKT yang mengutamakan tenaga kerja lokal. Setidaknya 30 persen dari total anggaran Dana Desa yang dialokasikan untuk pembangunan fisik wajib digunakan untuk membayar upah tenaga kerja warga desa setempat, termasuk mereka yang menganggur maupun setengah menganggur [6].
Selama proses pembangunan, tantangan utama adalah kondisi topografi perbukitan yang membutuhkan pekerjaan penyiapan lahan lebih intensif dibandingkan desa di dataran rendah. Kendala ini menjadi pembelajaran bagi desa bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah berbukit memerlukan perencanaan teknis yang lebih cermat dan waktu pelaksanaan yang lebih panjang [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah kondisi geografis desa yang berupa dataran tinggi dan perbukitan. Pembangunan jalan di kawasan berbukit memerlukan volume pekerjaan tanah yang lebih besar, risiko longsor yang lebih tinggi, dan pemeliharaan yang lebih intensif dibandingkan jalan di daerah datar. Mitigasinya dilakukan melalui perencanaan teknis yang lebih cermat dan alokasi waktu pelaksanaan yang lebih panjang [1].
Kendala lain adalah kapasitas anggaran Dana Desa yang terbatas untuk menyelesaikan seluruh kebutuhan infrastruktur sekaligus. Desa memprioritaskan dua ruas jalan yang paling strategis pada 2019, sementara ruas lain menunggu giliran melalui perencanaan jangka panjang RPJMDes agar kebutuhan infrastruktur dapat dipenuhi secara bertahap [4].
Kendala keberlanjutan berupa kerusakan jalan akibat cuaca dan arus kendaraan pengangkut hasil panen dimitigasi melalui pemeliharaan berkala, seperti pengaspalan sepanjang 300 meter senilai Rp112.830.000 dari Dana Desa 2025 yang dipimpin Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Suyono [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor terpenting adalah adanya perencanaan partisipatif yang menjadikan pembangunan jalan sebagai kesepakatan kolektif warga, bukan proyek top-down dari kepala desa. Dengan tertuangnya rencana ini dalam RPJMDes, Kepala Desa Saryo memiliki dasar hukum dan legitimasi sosial yang kuat untuk melanjutkan komitmen tersebut [4].
Faktor lain yang menentukan adalah ketersediaan Dana Desa sebagai instrumen fiskal mandiri yang memungkinkan desa mengeksekusi rencana infrastruktur tanpa harus bersaing dalam antrean panjang proyek anggaran kabupaten. Dukungan pendamping desa yang memiliki kompetensi teknis perencanaan juga memastikan pelaksanaan PKT berjalan sesuai regulasi dan menghasilkan output berkualitas [7].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, dua ruas jalan baru berhasil terbangun dengan total anggaran Rp202.000.000 dari Dana Desa 2019. Program ini menyerap 1.200 Hari Orang Kerja (HOK) sehingga uang tunai mengalir langsung ke tangan keluarga miskin, penganggur, dan pekerja setengah menganggur yang menjadi sasaran utama PKT [2].
Secara ekonomi, akses jalan yang baik mendorong lebih banyak tengkulak dan pembeli dari luar desa masuk ke Karanggedang, sehingga harga hasil pertanian menjadi lebih kompetitif. Kajian tentang infrastruktur jalan pertanian membuktikan bahwa peningkatan kualitas jalan secara langsung menurunkan biaya transportasi petani dan berpotensi meningkatkan pendapatan mereka [3].
Dampak jangka panjang juga terlihat dari kenaikan harga tanah di sekitar kawasan yang kini terhubung jalan baru. Panorama alam sepanjang jalan poros membuka peluang wisata agro yang berpotensi melengkapi Kemit Forest Education — destinasi wisata ikonik Karanggedang yang sudah menarik pengunjung dari Banyumas, Kebumen, Purbalingga, hingga wilayah Jawa Barat [9].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Seluruh pembangunan dua ruas jalan dibiayai penuh dari Dana Desa 2019, dengan rincian Rp151.000.000 untuk jalan poros menuju Dusun Sindeh dan Rp51.000.000 untuk jalan menuju Pacir Ipis, total Rp202.000.000 [1]. Sesuai ketentuan PKT, sedikitnya 30 persen dari anggaran fisik dialokasikan langsung sebagai upah tenaga kerja warga, menjadikan proyek ini sekaligus instrumen bantuan tunai bagi rumah tangga miskin dan setengah menganggur [6].
Karena berstatus infrastruktur publik, jalan poros ini tidak menghasilkan pendapatan langsung bagi desa — nilai ekonominya bersifat tidak langsung melalui penurunan biaya transportasi petani, kenaikan harga tanah, dan potensi pendapatan agrowisata di masa depan. Keberlanjutan pemeliharaan bergantung pada alokasi rutin Dana Desa tahun-tahun berikutnya, seperti pengaspalan Rp112.830.000 pada 2025 [8].
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Karanggedang menunjukkan bahwa konsistensi RPJMDes lintas periode kepemimpinan desa penting agar rencana infrastruktur besar tidak terhenti hanya karena pergantian kepala desa — aspirasi jalan poros ini sudah ada sejak kepemimpinan sebelumnya dan baru terealisasi di era Kepala Desa Saryo. Skema PKT juga membuktikan bahwa proyek infrastruktur desa dapat sekaligus menjadi instrumen jaring pengaman sosial jika porsi upah tenaga kerja lokal benar-benar dijaga sesuai ketentuan minimum 30 persen.
Pelajaran teknis penting lainnya adalah bahwa desa di kawasan perbukitan perlu mengalokasikan waktu dan anggaran lebih besar untuk pekerjaan tanah dibanding desa dataran rendah — mengabaikan faktor topografi ini berisiko membuat perencanaan anggaran meleset dari kebutuhan riil di lapangan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan infrastruktur jalan dibuktikan dengan komitmen pemeliharaan yang konsisten. Pada 2025, Pemerintah Desa Karanggedang kembali mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp112.830.000 untuk pengaspalan 300 meter jalan di Dusun Wanadadi, memastikan jalan yang sudah dibangun tidak dibiarkan rusak oleh cuaca dan arus kendaraan pengangkut hasil panen [8].
Kepala Desa Saryo menyampaikan bahwa langkah pengaspalan ini merupakan wujud nyata dari visi Karanggedang untuk terus bangkit dan maju, mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial warga [8]. Untuk jangka panjang, desa juga berupaya mendorong peningkatan status sebagian ruas jalan strategis melalui advokasi kepada pemerintah kabupaten agar pemeliharaannya dapat ditopang anggaran daerah di masa mendatang.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Pembangunan jalan poros Desa Karanggedang berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) karena memiliki efek berganda pada ekonomi, ketenagakerjaan, dan pengurangan kesenjangan kawasan terpencil [10].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Program PKT menyerap 1.200 HOK yang mengalirkan penghasilan tunai langsung kepada warga miskin, penganggur, dan pekerja setengah menganggur selama masa konstruksi. | 1.200 Hari Orang Kerja (HOK) terserap selama konstruksi |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Akses jalan yang lebih baik memperlancar distribusi hasil pertanian ke pasar, sehingga petani mendapat harga jual yang lebih kompetitif. | Peningkatan jumlah tengkulak/pembeli luar desa yang masuk ke Karanggedang |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Skema PKT menciptakan lapangan kerja sementara yang layak bagi warga desa selama konstruksi, sekaligus mendorong potensi agrowisata jangka panjang. | Minimal 30% anggaran fisik dialokasikan sebagai upah tenaga kerja lokal |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pembangunan jalan poros menghubungkan desa terpencil ke jaringan perekonomian antar-kecamatan dan mendukung tumbuhnya industri wisata berbasis alam. | 2 ruas jalan baru sepanjang total 600+ meter dibangun 2019 |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Jalan poros mengurangi isolasi Desa Karanggedang sebagai desa dataran tinggi yang selama ratusan tahun menghadapi hambatan akses. | Konektivitas baru ke Dusun Sindeh, Desa Wringinharjo, Kec. Gandrungmangu |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | Pembangunan jalan memperkuat hubungan antardesa yang telah berlangsung ratusan tahun dan mendukung kawasan perdesaan yang lebih inklusif dan terhubung. | Pemeliharaan berkelanjutan (pengaspalan Rp112,83 juta pada 2025) |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pembangunan jalan poros berbasis PKT yang diterapkan Desa Karanggedang mudah direplikasi oleh desa-desa lain di kawasan perbukitan yang menghadapi masalah isolasi serupa. Kunci replikasinya terletak pada tiga hal: perencanaan partisipatif yang dituangkan dalam RPJMDes, pemanfaatan Dana Desa dengan skema PKT untuk menyerap tenaga kerja lokal, dan penentuan ruas jalan yang benar-benar strategis bagi ekonomi warga [5].
Untuk scale up, desa-desa yang telah membangun jalan dapat mendorong peningkatan status jalan strategis melalui advokasi kepada pemerintah daerah, sejalan dengan komitmen berkelanjutan yang ditunjukkan Desa Karanggedang melalui pemeliharaan rutin setiap tahun anggaran [8]. Langkah scale up lainnya adalah mengintegrasikan pembangunan jalan dengan program wisata desa, sehingga jalan bukan hanya jalur pertanian tetapi juga jalur wisata yang mendatangkan pendapatan asli desa, mengikuti model kawasan wisata Kemit Forest yang sudah lebih dulu dikenal luas [11].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “Jalan Poros, Inovasi Desa Karanggedang untuk Dukung Ekonomi Pertanian,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/jalan-poros-inovasi-desa-karanggedang-untuk-dukung-ekonomi-pertanian/
[2] Wikipedia, “Kemit Forest,” Wikipedia Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kemit_Forest
[3] Y. Simamora et al., “Pengaruh Infrastruktur Jalan terhadap Peningkatan Pendapatan Petani,” Jurnal GLORY, Universitas Nusa Cendana. [Online]. Tersedia: https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/glory/article/download/24798/8748
[4] Pemerintah Desa Karanggedang, “Profil Desa Karanggedang,” karanggedang-sid.desa.id. [Online]. Tersedia: https://karanggedang-sid.desa.id/profil-desa/
[5] Updesa.com, “Inilah 3 Cara Melaksanakan Padat Karya Tunai Desa,” updesa.com. [Online]. Tersedia: https://updesa.com/padat-karya-tunai-desa/
[6] Pemerintah Kabupaten Banyumas, “Pedoman Umum Pelaksanaan Padat Karya Tunai di Desa,” banyumaskab.go.id. [Online]. Tersedia: https://static.banyumaskab.go.id/website/file/website_2210181007415bcd3efd51a37.pdf
[7] N. Septiani, “Analisis Efektivitas Program Padat Karya Tunai (PKT) terhadap Pemberdayaan Masyarakat Desa,” Skripsi, UIN Raden Intan Lampung. [Online]. Tersedia: https://repository.radenintan.ac.id/28590/1/SKRIPSI%201-2.pdf
[8] JawaPes, “Pemeliharaan Jalan Karanggedang Sidareja Ditingkatkan Lewat Pengaspalan,” jawapes.or.id, 13 Jun. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.jawapes.or.id/2025/06/pemeliharaan-jalan-karanggedang.html
[9] Cilacap Info, “Sekelumit Kisah tentang Obyek Wisata Kemit Forest di Sidareja Cilacap,” cilacap.info, 29 Okt. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.cilacap.info/ci-18869/sekelumit-kisah-tentang-obyek-wisata-kemit-forest-di-sidareja-cilacap
[10] R. Mamo et al., “Dampak Modernisasi Pertanian dan Infrastruktur Jalan terhadap Struktur Sosial Masyarakat Desa,” Journal Public UHO, Universitas Halu Oleo. [Online]. Tersedia: https://journalpublicuho.uho.ac.id/index.php/journal/article/download/649/461/5447
[11] Visit Jawa Tengah, “Menikmati Udara Sejuk dan Keindahan Alam di Kemit Forest,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 31 Okt. 2024. [Online]. Tersedia: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/artikel/menikmati-udara-sejuk-dan-keindahan-alam-di-kemit-forest