Ringkasan Inovasi

Desa Kandar di Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mentransformasi sistem pertanian tradisional ladang berpindah menjadi sentra padi gogo dan sawah tadah hujan termekanisasi yang menjadikan pulau karang tandus sebagai lumbung pangan di perbatasan Australia [1]. Inovasi ini digerakkan oleh Pemerintah Desa Kandar bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan Nurges) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kandar, dengan mengarahkan alokasi Dana Desa secara masif sejak 2015 untuk pengadaan traktor, mesin tanam, mesin panen, dan penggilingan padi keliling [2]. Permasalahan utama yang diselesaikan adalah ketergantungan masyarakat pulau terluar pada pertanian manual yang melelahkan dengan hasil tidak pasti, serta status desa tertinggal yang melekat selama bertahun-tahun. Keberhasilan inovasi ini ditandai dengan lompatan status IDM dari desa tertinggal (2019) menjadi desa mandiri (2020) dan predikat Juara Pertama Lomba Desa Tingkat Provinsi Maluku 2021 [3].

Latar Belakang

Pulau Selaru, tempat Desa Kandar berpijak, merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan perairan Australia. Topografi pulau ini sebagian besar disesaki batu karang, kering kerontang, dan tandus saat musim kemarau tiba [1]. Tidak ada embung, bendungan, maupun aliran sungai besar yang dapat diandalkan untuk mengairi lahan pertanian. Celah-celah tanah dangkal di antara bebatuan karang adalah satu-satunya ruang bagi warga untuk bercocok tanam. Secara historis, menanam padi di Maluku bukanlah budaya dominan dibandingkan sagu atau umbi-umbian, namun masyarakat Kandar secara turun-temurun telah mempraktikkan tradisi menanam padi tadah hujan jauh sebelum era Orde Baru [2].

 

Sebelum inovasi diterapkan, pertanian di Kandar murni mengandalkan tenaga manusia dan siklus ladang berpindah. Sebelum musim tanam, petani membabat hutan, membakar lahan, mencangkul bongkahan tanah kering, dan menanam benih satu per satu secara manual ke dalam lubang tanah [4]. Biaya pengolahan satu hektar lahan bisa mencapai Rp 3 juta, yang seringkali berujung pada kegagalan panen jika curah hujan tidak mencukupi atau serangan hama melanda. Kelelahan fisik yang luar biasa dipadukan dengan hasil panen yang tidak pasti membuat kesejahteraan petani stagnan. Hingga tahun 2019, Desa Kandar masih terpuruk dalam kategori “desa tertinggal” berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) dengan skor 0,58 [1].

 

Keterbatasan fisik alam inilah yang melahirkan kebutuhan mendesak akan intervensi teknologi. Potensi lahan yang sebenarnya cukup luas di Desa Kandar tidak akan pernah menghasilkan output maksimal tanpa mekanisasi pengolahan tanah dan manajemen tata air. Momentum perubahan tiba ketika kucuran perdana Dana Desa mulai mengalir pada 2015, membuka peluang bagi pemerintah desa untuk mengarahkan anggaran ke sektor pertanian produktif yang selama ini terbentur ketiadaan modal untuk pengadaan alat mesin pertanian.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi di Desa Kandar adalah pergeseran sistemik dari “ladang berpindah tradisional” menjadi “sawah tadah hujan termekanisasi”, yang didorong sepenuhnya oleh realokasi cerdas penggunaan Dana Desa [2][4]. Pemerintah Desa menghentikan pembangunan infrastruktur fisik yang kurang esensial, lalu mengarahkan anggaran untuk mendatangkan teknologi pertanian. Pengolahan tanah yang dulunya dipacul dengan tangan kini digantikan oleh traktor bajak. Penanaman benih langsung ke lubang tanah diubah menjadi sistem semai modern menggunakan mesin tanam. Pascapanen pun direvolusi melalui mesin perontok dan mesin penggiling padi portabel keliling yang menjemput gabah langsung ke lahan petani [5].

 

Inovasi ini bekerja dengan memberdayakan kelompok tani (Gapoktan) sebagai unit pelaksana lapangan, sementara BUMDes bertindak sebagai operator mesin dan penyalur produk. BUMDes mengelola unit usaha penggilingan padi, membantu pengadaan kemasan, dan mengurus perizinan agar beras lokal Kandar dapat menembus pasar luar pulau, termasuk ke Saumlaki bahkan Papua [3]. Elemen pembeda utama inovasi ini terletak pada keberanian merealokasi Dana Desa dari proyek infrastruktur fisik ke alat produksi pertanian — sebuah keputusan yang sangat jarang diambil oleh desa-desa lain di Indonesia. Secara paralel, ketergantungan mutlak pada air hujan mulai dimitigasi dengan pengadaan 6 titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dari pemerintah pusat, memungkinkan cadangan air di saat curah hujan menurun [6].

 

Proses Penerapan Inovasi

Tahap rintisan dimulai pada tahun 2015 ketika kucuran perdana Dana Desa mulai mengalir ke Kandar. Melalui musyawarah desa, disepakati bahwa prioritas utama bukan sekadar jalan atau gedung, melainkan alat produksi pertanian. Masyarakat dan kelompok tani diinventarisasi, lalu satu per satu traktor dan mesin pertanian didatangkan. Petani senior seperti Efraim Refualu (82 tahun) yang dulunya memacul tanah secara manual, dilatih mengoperasikan mesin [1]. Kehadiran mesin membangkitkan gairah bertani; jumlah keluarga petani meningkat pesat dari 290 menjadi 320 keluarga, sementara kelompok tani bertambah dari 20 menjadi 24 kelompok.

 

Pada percobaan awal penggunaan traktor, pengelola menghadapi kegagalan yang menjadi pembelajaran berharga. Traktor yang didatangkan dari Jawa ternyata tidak sesuai dengan kondisi tanah karang Selaru yang keras dan dipenuhi akar-akar batu — mata bajak patah dan rusak dalam beberapa hari penggunaan pertama. Kegagalan ini mendorong pengelola untuk berkonsultasi dengan teknisi pertanian dan melakukan modifikasi pada mata bajak traktor agar lebih kokoh menghadapi tanah karang. Petani juga belajar bahwa waktu pengolahan tanah harus disesuaikan dengan kondisi kelembaban — tanah karang harus dibajak segera setelah hujan turun ketika tanah masih lunak, bukan saat kering yang membuat batu karang mengeras.

 

Tahap akselerasi berlangsung antara tahun 2018 hingga 2020. Produktivitas melesat tajam berkat mekanisasi — hasil panen yang sebelumnya minim dan tidak menentu, stabil di angka 3,5 hingga 5 ton gabah kering per hektar, melampaui standar rata-rata lahan kering nasional [6]. Luas tanam terus berekspansi hingga mencapai 363 hektar pada 2026, terdiri dari 350 hektar padi gogo dan 13 hektar padi sawah [2]. BUMDes mengambil alih rantai pasok dengan mengoperasikan mesin penggilingan dan membeli gabah petani dengan harga wajar, memotong jalur tengkulak yang merugikan. Puncak keberhasilan dicapai pada 2021 ketika Kandar meraih Juara Pertama Lomba Desa Tingkat Provinsi Maluku [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar yang masih membayangi inovasi ini adalah ketergantungan mutlak pada ketersediaan air hujan. Menanam padi di atas pulau karang tanpa sungai berarti musim tanam hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun (musim rendengan). Keterlambatan curah hujan akibat anomali iklim global (El Nino) seringkali menunda jadwal tanam dan mengancam keberhasilan panen [4]. Mitigasi yang ditempuh adalah pengadaan 6 titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dari pemerintah pusat pada 2025/2026 sebagai cadangan air saat curah hujan menurun, serta advokasi berkelanjutan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi untuk merealisasikan pembangunan embung berskala menengah yang mampu menangkap air hujan secara masif [6].

 

Kendala operasional mencakup pemeliharaan suku cadang traktor dan mesin panen. Sebagai pulau terluar, mendatangkan suku cadang yang rusak dari Ambon atau Jawa memakan waktu lama dan biaya transportasi mahal. Keterlambatan pencairan Dana Desa dari pemerintah pusat pada beberapa periode juga sempat mengganggu kelancaran operasional BUMDes. Mitigasi dilakukan dengan membangun stok suku cadang kritis di gudang desa untuk mengurangi ketergantungan pada pengiriman darurat, serta melatih teknisi lokal dari kalangan pemuda desa agar mampu melakukan perbaikan ringan secara mandiri tanpa menunggu teknisi dari luar pulau.

 

Pengembangan skala BUMDes juga terbentur pada kapasitas manajerial dan pemenuhan standar kemasan yang layak agar beras “Merek Kandar” bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Mitigasi ditempuh melalui pendampingan manajerial dari pendamping desa (Frans Luanmase) dan Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Tanimbar, serta proses pengurusan perizinan edar pangan dan pengadaan kemasan premium yang sedang dirampungkan oleh BUMDes [1]. Keberadaan SMK Pertanian yang baru berdiri di desa juga diharapkan mencetak lulusan yang mampu memperkuat kapasitas manajerial dan teknis BUMDes di masa mendatang [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu pertama adalah keberanian kepemimpinan desa dalam merealokasi Dana Desa ke sektor pertanian produktif. Kepala desa dan pendamping desa memahami bahwa membangun kemandirian desa terluar harus dimulai dari piring makan warganya. Investasi ratusan juta untuk traktor dan mesin giling adalah keputusan berisiko yang terbayar lunas ketika produksi beras meningkat tajam dan pendapatan petani terangkat [4]. Keberanian ini menjadi contoh langka di Indonesia, di mana mayoritas desa mengalokasikan Dana Desa untuk pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan dan gedung.

 

Faktor kedua adalah etos kerja luar biasa masyarakat Kandar yang telah teruji mengolah tanah karang selama berabad-abad. Kehadiran mesin pertanian tidak membuat mereka malas, melainkan memicu ekspansi luas lahan tanam yang jauh melampaui kapasitas sebelumnya. Semangat kolektif ini didukung oleh integrasi antar-sektor; ketika mereka tidak sedang berada di sawah, masyarakat menambah pendapatan keluarga melalui kerajinan tenun ikat Tanimbar yang juga difasilitasi oleh BUMDes [3]. Modal sosial berupa gotong royong masyarakat pesisir pulau terluar menjadi fondasi yang memastikan mekanisasi pertanian berjalan sebagai gerakan kolektif, bukan proyek individual.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi diterapkan, pertanian di Kandar murni mengandalkan tenaga manusia dengan sistem ladang berpindah. Biaya pengolahan satu hektar lahan mencapai Rp 3 juta dengan hasil panen yang tidak menentu, dan status IDM berada di angka 0,58 (desa tertinggal) pada 2019. Setelah mekanisasi berjalan, dampak paling spektakuler adalah lonjakan IDM dari 0,58 menjadi 0,85 dalam waktu satu tahun (2019–2020), menjadikan Kandar satu-satunya desa mandiri di Kepulauan Tanimbar yang berada di luar pusat kota kecamatan [1]. Prestasi ini diperkuat dengan predikat Juara Pertama Lomba Desa Tingkat Provinsi Maluku pada 2021 [3].

 

Secara kuantitatif, dari lahan seluas 363 hektar, rata-rata produksi mencapai 3,5–5 ton gabah kering per hektar — melampaui standar rata-rata lahan kering nasional. Kelompok tani unggulan seperti Gapoktan Nurges yang menggarap 40 hektar mampu mencetak 140 ton produksi dalam satu musim panen [2]. Keberhasilan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat desa, tetapi menjadikan Kandar sebagai pengekspor beras lokal utama ke Saumlaki dan kabupaten sekitarnya — sebuah posisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi desa di pulau karang tandus.

 

Dampak sosial yang tidak direncanakan sebelumnya adalah berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian pertama di desa tersebut [4]. Kehadiran SMK ini memastikan transfer pengetahuan agronomi modern kepada generasi muda Kandar, agar mereka kelak mampu mengembangkan hortikultura dan inovasi pertanian cerdas iklim. Kebanggaan kolektif masyarakat meningkat pesat setelah diakui sebagai desa terbaik di Provinsi Maluku, mengubah persepsi dari “desa tertinggal di pulau terluar” menjadi “lumbung pangan kebanggaan Tanimbar.” Efek spillover berupa minat desa-desa tetangga di Pulau Selaru untuk mengikuti jejak Kandar turut memperluas dampak inovasi ini melampaui batas administratif satu desa.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan utama inovasi mekanisasi pertanian Desa Kandar berasal dari alokasi Dana Desa yang direalokasikan secara masif dari pos pembangunan infrastruktur fisik ke pengadaan alat mesin pertanian sejak 2015. Keputusan ini menjadikan Dana Desa sebagai instrumen investasi produktif, bukan sekadar belanja konsumtif infrastruktur [2]. Dukungan tambahan datang dari pemerintah kabupaten dan pusat melalui pengadaan 6 titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang biayanya melampaui kemampuan Dana Desa [6]. Bantuan benih unggul dan penyuluhan teknis dari Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Tanimbar turut memperkuat fondasi produksi.

 

Model bisnis Desa Kandar beroperasi melalui ekosistem ekonomi sirkular yang digerakkan oleh BUMDes sebagai agregator tunggal. BUMDes mengelola unit usaha penggilingan padi yang membeli gabah petani dengan harga wajar — memotong jalur tengkulak — lalu mengolah dan mengemas beras untuk dijual ke pasar Saumlaki dan kabupaten sekitarnya [3]. Sumber pendapatan BUMDes meliputi marjin penggilingan, jasa penyewaan traktor dan mesin tanam kepada kelompok tani, serta penjualan beras bermerek. Pendapatan ini digunakan untuk pemeliharaan mesin, pengadaan suku cadang, dan reinvestasi dalam perluasan kapasitas produksi. Di luar sektor pertanian, BUMDes juga memfasilitasi pemasaran kerajinan tenun ikat Tanimbar yang menjadi sumber pendapatan komplementer bagi keluarga petani.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil Pemerintah Desa Kandar adalah keberanian merealokasi Dana Desa dari proyek infrastruktur fisik yang kurang esensial ke pengadaan alat produksi pertanian. Keputusan ini melawan arus utama penggunaan Dana Desa di seluruh Indonesia yang didominasi pembangunan jalan dan gedung, tetapi terbukti menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dan berkelanjutan. Keputusan kunci lainnya adalah menempatkan BUMDes sebagai agregator rantai pasok yang memotong jalur tengkulak, sehingga nilai tambah produksi tetap mengalir ke desa [1].

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa pemilihan spesifikasi traktor dan mesin pertanian seharusnya disesuaikan sejak awal dengan kondisi tanah karang Selaru yang sangat berbeda dari tanah lempung di Jawa. Pengalaman mata bajak yang patah pada percobaan pertama bisa dihindari jika survei kondisi tanah dan konsultasi dengan teknisi pertanian dilakukan sebelum pengadaan. Selain itu, pelatihan pemeliharaan mesin bagi teknisi lokal idealnya dimulai bersamaan dengan kedatangan mesin pertama, bukan setelah kerusakan terjadi.

 

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, beranikan realokasi Dana Desa ke sektor produktif yang langsung meningkatkan pendapatan petani — alat mesin pertanian menghasilkan return on investment yang jauh lebih tinggi dibandingkan pembangunan fisik yang tidak menggerakkan ekonomi. Kedua, posisikan BUMDes sebagai agregator dan operator mesin sejak awal agar rantai nilai produksi terintegrasi dari hulu ke hilir dalam satu kelembagaan. Ketiga, pastikan spesifikasi teknologi yang didatangkan sesuai dengan kondisi alam lokal — mesin standar dari pulau utama belum tentu cocok untuk medan tanah karang di pulau terluar [4].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan berfokus pada penguatan BUMDes sebagai agregator tunggal produk pertanian desa. BUMDes sedang merampungkan perizinan edar pangan dan pengadaan kemasan premium untuk beras lokal Kandar [1]. Dengan adanya merek dagang tersendiri, marjin keuntungan petani dapat ditingkatkan, dan beras Kandar akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi sebagai beras lokal organik dari pulau terluar. Penyelenggaraan festival panen raya tahunan yang dihadiri Bupati Kepulauan Tanimbar menjadi momentum promosi dan penguatan komitmen kebijakan [2].

 

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui keberadaan SMK Pertanian yang baru berdiri di Desa Kandar. Lulusan SMK ini disiapkan sebagai tenaga terlatih yang mampu mengoperasikan mesin pertanian modern, mengelola BUMDes secara profesional, dan mengembangkan diversifikasi tanaman palawija serta hortikultura [4]. Transfer pengetahuan dari petani senior seperti Efraim Refualu kepada generasi muda melalui pendampingan langsung di lahan memastikan kearifan lokal bertani di tanah karang tidak punah. Dokumentasi prosedur operasional BUMDes dan standar pengolahan lahan yang sudah terbentuk memungkinkan keberlangsungan operasional meskipun pergantian kepala desa terjadi.

 

Rencana pendapatan mandiri jangka panjang ditopang oleh pengembangan infrastruktur pengairan yang memungkinkan frekuensi tanam meningkat dari satu kali menjadi dua kali setahun (Indeks Pertanaman 200). Pembangunan embung berskala menengah dan penambahan masif sumur JIAT yang harus diambil alih oleh APBD Provinsi dan APBN menjadi prasyarat untuk mencapai target ini [6]. Diversifikasi tanaman palawija dan sayur-sayuran usai panen padi akan menjaga kesuburan hara tanah karang sekaligus menambah sumber pendapatan petani. Konektivitas pasar ke Saumlaki dan kawasan Blok Masela yang berkembang pesat berpotensi memperluas jangkauan pemasaran beras Kandar tanpa bergantung sepenuhnya pada Dana Desa.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi mekanisasi pertanian Desa Kandar berkontribusi langsung pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang relevan dengan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah kepulauan terluar. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Mekanisasi pertanian secara langsung melipatgandakan pendapatan keluarga petani dari hasil panen yang meningkat. Transformasi Kandar dari desa berstatus “sangat tertinggal” menjadi “mandiri” membuktikan bahwa Dana Desa berhasil mengentaskan kemiskinan struktural. Lompatan IDM dari 0,58 (2019) menjadi 0,85 (2020); peningkatan jumlah keluarga petani dari 290 menjadi 320 keluarga
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Desa Kandar berhasil mencapai swasembada beras lokal dengan produktivitas 3,5–5 ton/hektar dari lahan seluas 363 hektar, menjamin ketahanan pangan bagi penduduk kepulauan terluar yang rentan terhadap hambatan pasokan logistik dari pulau utama. Produktivitas 3,5–5 ton/ha; luas tanam 363 hektar; Gapoktan Nurges mencetak 140 ton/musim dari 40 hektar
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang menyerap tenaga kerja lokal sebagai operator mesin pertanian, pengelola penggilingan, dan pengrajin tenun ikat. Perekonomian desa berputar secara mandiri tanpa bergantung penuh pada subsidi fiskal pemerintah pusat. BUMDes aktif mengoperasikan unit penggilingan; 24 kelompok tani terorganisasi; beras Kandar dipasarkan ke Saumlaki dan kabupaten sekitar
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Peralihan dari praktik peladangan berpindah (bakar lahan) menuju pertanian menetap termekanisasi mengurangi kerusakan ekologi daratan karang, mendukung praktik produksi pangan yang lebih berkelanjutan. Berkurangnya praktik pembakaran lahan; transisi ke pertanian menetap termekanisasi
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Sinergi antara Dana Desa, BUMDes, Dinas Pertanian Kabupaten (penyediaan JIAT), dan lembaga pendidikan (SMK Pertanian) menciptakan ekosistem kemitraan yang utuh dalam memajukan pertanian lahan kering di perbatasan negara. Kemitraan aktif Dana Desa–BUMDes–Dinas Pertanian–SMK Pertanian; 6 titik JIAT dari pemerintah pusat; Juara 1 Lomba Desa Provinsi Maluku

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model mekanisasi pertanian tadah hujan berbasis Dana Desa yang dilakukan Kandar sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa lain di Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara yang memiliki topografi karang dan curah hujan terbatas. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup tiga hal: keberanian Kepala Desa untuk menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai prioritas utama APBDes, ketersediaan lahan yang cukup luas meskipun berkarakter tanah karang, serta keberadaan kelompok tani yang terorganisasi sebagai unit pelaksana lapangan. Pendamping desa memegang peran vital dalam memfasilitasi musyawarah perencanaan yang berpihak pada kebutuhan alat produksi petani. Estimasi biaya replikasi bergantung pada jenis dan jumlah mesin yang dibutuhkan, dengan durasi persiapan dari musyawarah desa hingga panen perdana diperkirakan sekitar satu hingga dua musim tanam.

 

Model adaptasi dapat disesuaikan dengan kondisi agroklimat masing-masing wilayah. Desa-desa di dataran rendah dengan ketersediaan air yang lebih baik dapat langsung menerapkan sistem sawah tadah hujan, sementara desa-desa di tanah karang perlu memprioritaskan modifikasi spesifikasi mesin pertanian agar sesuai dengan kondisi lokal. Kunci replikasi terletak pada keberanian merealokasi anggaran desa ke sektor produktif dan keberadaan BUMDes yang mampu menjadi agregator rantai pasok dari hulu ke hilir.

 

Strategi scale up di tingkat kabupaten diarahkan pada replikasi sistem Kandar ke desa-desa tetangga di Pulau Selaru seperti Adaut, Lingat, Namtabung, Werain, Fursui, dan Eliasa yang sudah mulai menanam padi dalam luasan kecil [6]. Jika seluruh desa di Kecamatan Selaru terkoneksi dalam satu rantai pasok yang dikelola BUMDes Bersama (BUMDesma), Selaru dapat memproklamirkan diri sebagai lumbung pangan utama untuk seluruh Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan kawasan Blok Masela yang berkembang pesat. Pembangunan infrastruktur pengairan skala kawasan harus diambil alih oleh APBD Provinsi dan APBN karena biayanya melampaui kemampuan Dana Desa.

Daftar Pustaka

[1] Kompas, “Kisah Sawah Tadah Hujan yang Mengangkat Kandar Jadi Desa Mandiri di Maluku,” kompas.id, 2020. [Online]. Tersedia: https://kompas.id

[2] Radio Republik Indonesia (RRI), “Bupati Tanimbar dan Upaya Ketahanan Pangan Melalui Panen Raya Padi Gogo di Desa Kandar,” rri.co.id, Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id

 

[3] Antara News, “Desa Kandar di Tanimbar Raih Juara 1 Lomba Desa Tingkat Provinsi Maluku 2021,” antaranews.com, Agu. 2021. [Online]. Tersedia: https://antaranews.com

[4] Kompas, “Dana Desa Lahirkan Tiga Desa Mandiri di Kepulauan Tanimbar,” kompas.id, 2020. [Online]. Tersedia: https://kompas.id

[5] Maluku Post, “Prestasi Tanimbar: Gubernur Serahkan Penghargaan Juara 1 Lomba Desa ke Kandar,” malukupost.com, 2021. [Online]. Tersedia: https://malukupost.com

[6] Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Tanimbar, “Laporan Panen Raya Padi Lahan Kering dan Pengembangan JIAT di Kecamatan Selaru,” kkt.go.id, 2026. [Online]. Tersedia: https://kkt.go.id

Data Inovasi

Nama Inovasi
Mekanisasi Sawah Tadah Hujan dan Pertanian Padi Gogo Berbasis Dana Desa
Alamat
Desa Kandar, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku
Inovator
Pemerintah Desa Kandar, Kelompok Tani Masyarakat (Gapoktan Nurges), dan BUMDes Kandar
Kontak
Email: desawisata@gmail.com
Telepon: 081356602907 (Kori Rofineta Masrikat)
Lokasi