Ringkasan Inovasi
Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi tata kelola kesehatan komunitas terpadu yang menggabungkan lima pilar program promotif-preventif: Bank Sampah Mandiri, Kawasan Bebas Asap Rokok (KABAR), Taman Gizi dan Toga Desa, Jumantik Mandiri, serta pengelolaan sampah terpadu melalui TPST Dewanata [1]. Inisiasi utamanya adalah pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Dewanata pada awal 2023 oleh Kepala Desa Slamet Budiyono, yang merespons darurat sampah akibat tekanan kunjungan wisatawan di dataran tinggi Dieng [3]. Tujuannya adalah membangun lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat di kawasan wisata dataran tinggi yang rentan secara ekologis [1]. Hasilnya nyata: pada Maret 2025, Desa Dieng Kulon meraih penghargaan Desa Sehat dalam Lomba Desa dan Kecamatan Sehat Kabupaten Banjarnegara, mengantarkan Banjarnegara untuk pertama kalinya siap mengikuti ajang Kabupaten Kota Sehat (KKS) nasional [7], capaian yang turut didokumentasikan mitra pendukung TPST Dewanata sebagai kisah sukses kesehatan komunitas Dieng Kulon [9].
Latar Belakang
Desa Dieng Kulon adalah destinasi wisata unggulan yang masuk 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia versi ADWI 2021 dan menjadi tuan rumah Dieng Culture Festival, event tahunan yang menarik puluhan ribu wisatawan ke kawasan dataran tinggi di atas 2.000 meter di atas permukaan laut [2]. Namun popularitas ini membawa konsekuensi serius: produksi sampah desa melonjak drastis saat musim liburan dan gelaran Dieng Culture Festival, menjadikan sampah masalah yang bertahun-tahun menghantui kawasan wisata bersejarah ini [3]. Laporan Mongabay Indonesia mencatat bagaimana kemeriahan Dieng Culture Festival kerap menyisakan tumpukan sampah yang mencemari kawasan wisata [6].
Di sisi lain, belum ada sistem kesehatan komunitas yang terstruktur untuk menjawab kebutuhan promotif dan preventif warga secara berkelanjutan di luar penanganan sampah. Kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang solid [1].
Kontribusi Desa Dieng Kulon terhadap Pendapatan Asli Daerah Banjarnegara dari sektor pariwisata yang mencapai sekitar Rp20 miliar pada 2023 membuktikan bahwa investasi dalam kebersihan dan kesehatan lingkungan berpotensi menjadi investasi wisata yang menguntungkan secara jangka panjang [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari keresahan Kepala Desa Slamet Budiyono yang menyaksikan penumpukan sampah tak terkelola menghantui kawasan wisata ini bertahun-tahun tanpa solusi sistemik. Pada awal 2023, ia menginisiasi pendirian TPST Dewanata di lahan milik Perhutani seluas 500 meter persegi, dilengkapi mesin pemilah, mesin pencacah, dan alat press [3].
TPST Dewanata bekerja dengan prinsip ekonomi sirkular: sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sampah non-organik dipilah dan dijual kembali. “TPST Dewanata ini merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan sampah di Dieng,” ujar Slamet Budiyono, sementara Manajer TPST Dewanata, Kabul Suwoto, menyatakan syukur karena fasilitas ini juga menjadi sumber penghasilan baru bagi pengelolanya [3].
Di level komunitas, inovasi diperluas menjadi ekosistem kesehatan terpadu mencakup empat pilar pelengkap: Bank Sampah Mandiri yang mengubah sampah anorganik warga menjadi tabungan; KABAR yang menciptakan ruang publik bebas asap rokok; Taman Gizi dan Toga Desa untuk edukasi gizi balita dan ibu hamil; serta Jumantik Mandiri yang menempatkan juru pemantau jentik di setiap rumah warga [1].
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan pembangunan fisik TPST Dewanata pada awal 2023 yang didukung jejaring mitra strategis. Perhutani menyediakan lahan, PT Geo Dipa Energi berkontribusi pada pengadaan mesin pengolah, dan Bank Indonesia KPw Purwokerto menyumbangkan alat pemilah, alat press, alat pencacah, dan kendaraan operasional sebagai bagian dari program mendorong pariwisata hijau di Dataran Tinggi Dieng [5].
Pada tahap selanjutnya, pemerintah desa menggalang keterlibatan kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat untuk menjalankan empat program kesehatan komunitas secara paralel dengan beroperasinya TPST [1]. Bank Indonesia mendokumentasikan bahwa pengelolaan TPST Dewanata memungkinkan sampah yang sebelumnya menjadi masalah berubah menjadi sumber penghasilan bagi warga [4].
Kapasitas TPST sempat kewalahan menghadapi lonjakan sampah saat gelaran Dieng Culture Festival dan musim liburan panjang — kondisi yang memaksa manajemen mengembangkan sistem perencanaan kapasitas yang adaptif terhadap siklus kunjungan wisata [6]. Pengalaman ini mendorong pemerintah desa mengintegrasikan manajemen sampah wisatawan ke dalam SOP operasional TPST, termasuk koordinasi dengan panitia event besar.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar adalah besarnya volume sampah dari luar desa — terutama dari wisatawan selama musim liburan dan Dieng Culture Festival — yang pada periode puncak dapat melampaui kapasitas normal TPST Dewanata [6]. Mitigasinya dilakukan melalui perencanaan kapasitas yang lebih dinamis dan koordinasi dengan panitia event agar pemilahan sampah diterapkan sejak titik awal.
Kendala lain adalah membangun dan mempertahankan konsistensi perilaku warga dalam memilah sampah dari sumbernya dan mematuhi kawasan bebas asap rokok program KABAR. Perubahan kebiasaan sosial yang sudah berlangsung puluhan tahun membutuhkan pendampingan berkelanjutan, edukasi rutin, dan keteladanan nyata dari tokoh yang dihormati di desa, bukan sekadar sosialisasi satu kali [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kolaborasi antara pemerintah desa, komunitas, dan mitra eksternal yang bergerak dengan tujuan bersama yang jelas sejak awal [1]. Kepemimpinan Kepala Desa Slamet Budiyono yang berani menginisiasi TPST Dewanata saat masalah sampah dianggap terlalu besar untuk diselesaikan di level desa menjadi titik penting yang menggerakkan seluruh ekosistem inovasi ini [3].
Faktor kedua adalah kemampuan pemerintah desa membangun jejaring kemitraan multi-institusi yang komplementer — Bank Indonesia, Perhutani, PT Geo Dipa, dan Pupuk Indonesia berkontribusi secara terkoordinasi tanpa tumpang tindih [5]. Pengelolaan TPST Dewanata sebagai entitas yang mandiri secara finansial, bukan program seremonial yang bergantung penuh pada bantuan, memastikan fondasi keberlanjutan yang kuat [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung terasa pada transformasi pengelolaan lingkungan: TPST Dewanata kini mengolah sampah desa secara sistematis, mengurangi tumpukan sampah yang lama menghantui kawasan wisata Dieng [3]. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan petani lokal, sementara petugas TPST yang seluruhnya warga Desa Dieng Kulon mendapat penghasilan dari hasil penjualan produk olahan sampah [3].
Kontribusi Desa Dieng Kulon terhadap PAD Banjarnegara dari sektor pariwisata mencapai sekitar Rp20 miliar pada 2023, mencerminkan tingginya kepercayaan wisatawan terhadap kualitas destinasi yang kini lebih bersih [2]. Bank Indonesia KPw Purwokerto mendokumentasikan TPST Dewanata sebagai model program pariwisata hijau di dataran tinggi yang layak disebarluaskan [5].
Puncak pengakuan datang pada Maret 2025 melalui penghargaan Desa Sehat dalam Lomba Desa dan Kecamatan Sehat Kabupaten Banjarnegara, mengantarkan Banjarnegara untuk pertama kalinya siap mengikuti Kabupaten Kota Sehat (KKS) nasional [7]. Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana, yang menjabat sejak Februari 2025, memberikan apresiasi dan berharap Dieng Kulon menjadi inspirasi bagi desa lain di Banjarnegara [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan fisik TPST Dewanata dibiayai melalui kemitraan multi-institusi: Perhutani menyediakan lahan, PT Geo Dipa Energi mengadakan mesin pengolah, dan Bank Indonesia KPw Purwokerto menyumbangkan alat pemilah, alat press, alat pencacah, serta kendaraan operasional sebagai bagian program pariwisata hijau [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci total nilai investasi dari seluruh mitra secara gabungan.
Model bisnis operasional TPST bertumpu pada penjualan pupuk kompos hasil olahan sampah organik dan sampah non-organik daur ulang, dengan pendapatan digunakan untuk membiayai upah petugas dan kelangsungan fasilitas tanpa bergantung penuh pada Dana Desa [4]. Skema ini menjadikan TPST Dewanata unit usaha mandiri, bukan program yang berhenti ketika bantuan eksternal berakhir.
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Dieng Kulon menunjukkan bahwa fasilitas pengelolaan sampah di kawasan wisata harus dirancang dengan kapasitas yang adaptif terhadap siklus kunjungan, bukan hanya kebutuhan harian rutin — kewalahan TPST saat Dieng Culture Festival menjadi bukti nyata bahwa desa wisata musiman memerlukan perencanaan kapasitas berbeda dari desa non-wisata.
Pelajaran lain adalah bahwa perubahan perilaku warga (memilah sampah, mematuhi kawasan bebas rokok) memerlukan pendampingan dan keteladanan berkelanjutan, bukan sosialisasi sekali jalan — desa lain yang ingin mereplikasi model ini perlu menyiapkan program edukasi jangka panjang sejak awal, bukan berharap perubahan instan setelah fasilitas fisik selesai dibangun.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi bertumpu pada tiga pilar: kemandirian finansial TPST Dewanata melalui model bisnis sirkular, integrasi program kesehatan komunitas ke dalam layanan desa yang terlembaga, dan perencanaan partisipatif yang menjadikan seluruh program agenda prioritas jangka panjang [4].
Pemerintah Desa Dieng Kulon juga menyusun perencanaan pembangunan dengan prioritas penguatan infrastruktur wisata berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat [1]. Dengan posisinya sebagai peraih penghargaan Desa Sehat yang berkontribusi pada nominasi KKS nasional, Desa Dieng Kulon memiliki insentif reputasional untuk terus mempertahankan standar kesehatan komunitasnya [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi kesehatan komunitas terpadu Desa Dieng Kulon menghubungkan pengelolaan lingkungan, kesehatan komunitas, ekonomi pariwisata, dan tata kelola inklusif dalam satu sistem yang saling memperkuat.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | TPST Dewanata menciptakan lapangan kerja tetap bagi warga sebagai petugas pengelola sampah yang mendapat upah dari penjualan produk olahan. | Jumlah petugas TPST warga lokal yang menerima upah rutin |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Kombinasi KABAR, Jumantik Mandiri, Taman Gizi Toga, dan Bank Sampah Mandiri menciptakan lingkungan dan perilaku hidup sehat yang komprehensif. | Penghargaan Desa Sehat Kabupaten Banjarnegara (Maret 2025) |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan TPST menghasilkan lapangan kerja layak, sementara lingkungan bersih mendorong kunjungan wisatawan yang berkontribusi pada PAD Banjarnegara. | Kontribusi PAD pariwisata Dieng Kulon ±Rp20 miliar (2023) |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Model desa wisata sehat mengintegrasikan aktivitas pariwisata intensif dengan pemeliharaan kualitas lingkungan dan kesehatan komunitas. | Status Desa Wisata Terbaik ADWI 2021 tetap terjaga kebersihannya |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | TPST Dewanata mengimplementasikan ekonomi sirkular — sampah organik menjadi pupuk kompos, sampah non-organik dipilah dan dijual kembali. | Volume sampah organik/non-organik yang diolah TPST per periode |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara pemerintah desa, Bank Indonesia, Perhutani, PT Geo Dipa Energi, dan Pupuk Indonesia dalam membangun TPST Dewanata. | Jumlah mitra institusi (BUMN, perbankan, kehutanan) yang terlibat |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi kesehatan komunitas terpadu Dieng Kulon dapat direplikasi oleh desa wisata lain yang menghadapi tekanan lingkungan akibat tingginya kunjungan wisatawan, terutama destinasi yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah memadai [2]. Kunci replikasinya meliputi pembentukan unit pengelola sampah dengan model bisnis sirkular yang mandiri finansial, mobilisasi kader kesehatan lintas kelompok, dan pembangunan jejaring kemitraan dengan BUMN serta sektor swasta sejak tahap desain [4].
Untuk scale up, Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara dan Provinsi Jawa Tengah dapat mendorong replikasi dengan menjadikan Dieng Kulon sebagai desa percontohan kunjungan studi bagi desa wisata lain. Dengan posisi Banjarnegara yang kini bersiap mengikuti Kabupaten Kota Sehat nasional berkat kontribusi Dieng Kulon, model ini memiliki legitimasi kelembagaan untuk dipromosikan lebih luas [7].
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Desa Dieng Kulon, “Desa Dieng Kulon Raih Penghargaan Desa Sehat — Langkah Nyata Menuju Banjarnegara Sehat 2025,” dieng.desa.id, 31 Mar. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.dieng.desa.id/artikel/2025/03/31/desa-dieng-kulon-raih-penghargaan-desa-sehat-langkah-nyata-menuju-banjarnegara-sehat
[2] F. A. Aziz, “Penyumbang PAD Pariwisata Terbesar Kabupaten Banjarnegara: Desa Dieng Kulon,” Kompasiana, 21 Jul. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/farisiabdulaziz/669d1107c925c4593a21f002/
[3] Pemerintah Desa Dieng Kulon, “TPST Dewanata Desa Dieng Kulon Berhasil Atasi Persoalan Sampah,” dieng.desa.id, 25 Jul. 2023. [Online]. Tersedia: https://www.dieng.desa.id/index.php/artikel/2023/7/25/tpst-dewanata-desa-dieng-kulon-berhasil-atasi-persoalan-sampah
[4] Bank Indonesia KPw Purwokerto, “TPST Dewanata Dieng: Solusi Pengelolaan Sampah yang Mengubah Masalah Menjadi Berkah,” YouTube BI Purwokerto, 2023. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=8gSLwloSSes
[5] iNews Purwokerto, “Wujudkan Sektor Pariwisata Hijau di Dataran Tinggi Dieng, BI Dorong Sampah Jadi Berkah,” purwokerto.inews.id, 4 Sep. 2023. [Online]. Tersedia: https://purwokerto.inews.id/read/341843/wujudkan-sektor-pariwisata-hijau-di-dataran-tinggi-dieng-bi-dorong-sampah-jadi-berkah
[6] Mongabay Indonesia, “Setelah Gelaran Dieng Culture Festival, Sampahnya Bagaimana?” mongabay.co.id, 8 Ags. 2018. [Online]. Tersedia: https://mongabay.co.id/2018/08/08/setelah-gelaran-dieng-culture-festival-sampahnya-bagaimana/
[7] Netral News, “Ini Juara Lomba Kecamatan dan Desa Sehat, Banjarnegara Siap Ikuti KKS,” netralnews.com, 15 Apr. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.netralnews.com/ini-juara-lomba-kecamatan-dan-desa-sehat-banjarnegara-siap-ikuti-kks/
[8] Detik News, “Puluhan Tahun Jadi Masalah, Gunungan Sampah di Dieng Kini Datangkan Berkah,” detik.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://www.detik.com/jateng/bisnis/d-6915334/puluhan-tahun-jadi-masalah-gunungan-sampah-di-dieng-kini-datangkan-berkah
[9] PT Geo Dipa Energi Unit Dieng, “ID 00848: Desa Dieng Kulon Integrasikan Program Kesehatan Komunitas,” Instagram, 14 Des. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DSUQ9nykx6v/