Ringkasan Inovasi

Desa Demulih di Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, sejak 2017 berhasil mewujudkan konsep smart village melalui pemanfaatan teknologi wajan bolic — antena penangkap sinyal WiFi berbahan dasar wajan penggorengan dan pipa paralon — untuk memberikan layanan internet gratis kepada seluruh warga di tiga banjar dinas. Pemerintah Desa Demulih di bawah kepemimpinan Perbekel I Nyoman Wijana, S.E., menggagas inovasi ini untuk mengatasi kondisi blank spot di Banjar Dinas Tanggahan Talang Jiwa yang sebelumnya tidak memiliki akses telepon maupun internet sama sekali. Dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2017 serta supervisi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Bangli, tower pemancar nirkabel dipasang di Bukit Demulih untuk memancarkan sinyal WiFi ke seluruh wilayah desa yang mencakup 463 hektare dan 4.659 jiwa. Inovasi ini memungkinkan warga mengakses pelayanan administrasi desa, perpustakaan online, informasi posyandu, pengaduan masyarakat, dan surat-menyurat secara digital melalui smartphone — sebuah pencapaian yang mengantarkan Desa Demulih mewakili Kabupaten Bangli dalam Lomba Desa Tingkat Provinsi Bali pada tahun 2018 [1][2].

Latar Belakang

Desa Demulih terletak di Kecamatan Susut, sebuah kawasan dataran tinggi di Kabupaten Bangli, Bali, yang dikelilingi hamparan sawah terasering dan perbukitan hijau. Desa seluas 463 hektare ini dihuni oleh 1.325 kepala keluarga atau 4.659 jiwa yang tersebar di tiga banjar dinas: Banjar Dinas Demulih, Banjar Dinas Tanggahan Tengah, dan Banjar Dinas Tanggahan Talang Jiwa. Mata pencaharian penduduk cukup beragam, mulai dari petani, pelaku pariwisata, pedagang, pengrajin ukiran kayu, pegawai negeri sipil, hingga produsen obat-obatan herbal — sebuah potensi ekonomi yang sesungguhnya membutuhkan akses informasi digital untuk berkembang lebih jauh [1].

 

Pada 2016, ambisi Pemerintah Desa Demulih untuk menerapkan konsep smart village menemui tembok besar. Banjar Dinas Tanggahan Talang Jiwa, yang terletak sekitar 7 kilometer dari pusat desa di Banjar Demulih, sama sekali tidak memiliki akses telepon maupun internet — kondisi blank spot total yang membuat warga di banjar tersebut terisolasi dari arus informasi digital. Pengrajin ukiran kayu tidak mampu memasarkan karyanya ke pasar yang lebih luas. Warga yang membutuhkan layanan administrasi harus menempuh perjalanan berjam-jam ke kantor desa. Anak-anak usia sekolah kehilangan kesempatan mengakses sumber belajar online yang sudah lazim digunakan di wilayah perkotaan [1][3].

 

Kesenjangan digital antara Banjar Demulih yang sudah terkoneksi dengan Banjar Tanggahan Talang Jiwa yang gelap tanpa sinyal menjadi pemicu aksi nyata. Perbekel I Nyoman Wijana menyadari bahwa smart village mustahil terwujud jika seluruh elemen desa tidak terhubung secara merata. Ia pun memimpin musyawarah desa yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk menggagas solusi internet gratis bagi seluruh warga — sebuah keputusan berani yang menjadi titik awal transformasi digital Desa Demulih [1][2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem jaringan internet nirkabel (wireless) terintegrasi yang memanfaatkan tower pemancar di Bukit Demulih sebagai titik distribusi sinyal WiFi ke seluruh banjar dinas, dikombinasikan dengan teknologi wajan bolic sebagai antena penerima berbiaya rendah di sisi rumah warga. Gagasan ini lahir dari musyawarah desa pada 2016 ketika Tim IT Desa Demulih memutuskan bahwa teknologi nirkabel merupakan satu-satunya solusi yang layak mengingat topografi berbukit dan jarak antarbanjar yang mencapai 7 kilometer. Inspirasi penggunaan wajan bolic datang dari eksperimen serupa di berbagai wilayah terpencil Indonesia yang membuktikan bahwa wajan penggorengan biasa mampu difungsikan sebagai antena parabola penangkap sinyal [1][4].

 

Wajan bolic bekerja dengan prinsip fisika sederhana namun efektif: cekungan wajan berdiameter minimal 36 sentimeter berfungsi sebagai reflektor parabola yang mengumpulkan gelombang radio dan memfokuskannya ke titik tengah tempat antena penerima — berupa USB WiFi adapter yang dimasukkan ke dalam pipa paralon berisi aluminium foil — ditempatkan. Sinyal lemah yang sebelumnya tidak tertangkap oleh perangkat biasa diperkuat secara signifikan hingga mampu memberikan koneksi internet stabil dalam radius hingga 2 kilometer. Wajan bolic kemudian dipasang di atap rumah warga dengan posisi menghadap ke arah tower pemancar di kantor desa atau balai banjar. Yang membedakan inovasi Desa Demulih dari pendekatan konvensional adalah keberanian menggabungkan infrastruktur tower profesional dengan teknologi rakyat berbiaya rendah — menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat [4][5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai pada akhir 2016 dengan musyawarah desa yang menyepakati alokasi anggaran dari APBDes 2017 untuk pembangunan infrastruktur internet. Langkah pertama adalah pemasangan jaringan internet utama di Kantor Desa Demulih yang berada di Banjar Demulih sebagai pusat server dan akses internet. Tim IT desa kemudian merancang arsitektur jaringan nirkabel yang memanfaatkan ketinggian Bukit Demulih — sebuah bukit yang menjulang di antara tiga banjar — sebagai lokasi tower pemancar utama karena posisinya yang tidak terhalang pepohonan maupun bangunan [1].

 

Pada awal 2017, tower pemancar dipasang dan sinyal nirkabel dipancarkan menuju Banjar Tanggahan Talang Jiwa dan Banjar Tanggahan Tengah. Proses ini tidak berjalan mulus pada percobaan pertama: sinyal terhalang oleh vegetasi tropis yang tumbuh lebat di sepanjang jalur transmisi antara Bukit Demulih dan banjar tujuan. Tim IT harus melakukan survei ulang, mengidentifikasi titik-titik halangan, dan menyesuaikan ketinggian serta sudut tower pemancar berkali-kali hingga menemukan konfigurasi optimal. Kegagalan kalibrasi pertama ini memberikan pelajaran berharga bahwa perencanaan line of sight yang teliti jauh lebih penting daripada sekadar memasang tower di titik tertinggi [1][4].

 

Setelah jaringan nirkabel antarbanjar berhasil stabil, tahap berikutnya adalah sosialisasi teknologi wajan bolic kepada warga. Tim IT desa mengadakan pelatihan pembuatan dan pemasangan wajan bolic di setiap balai banjar, mengajarkan cara memilih wajan dengan kelengkungan yang tepat, merakit antena dari pipa paralon dan aluminium foil, serta mengarahkan wajan ke arah tower pemancar untuk mendapatkan sinyal terkuat. Secara bertahap, warga yang ingin mengakses internet dari rumah mulai memasang wajan bolic di atap rumah masing-masing — mengubah peralatan dapur sederhana menjadi gerbang menuju dunia digital [5][4].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis terbesar adalah kondisi geografis Desa Demulih yang berbukit dengan vegetasi tropis lebat. Pepohonan tinggi dan bangunan-bangunan yang menjulang berpotensi menghalangi jalur sinyal nirkabel antara tower pemancar dan titik penerima di setiap banjar. Mitigasinya, Tim IT desa melakukan pemetaan line of sight secara menyeluruh dan memilih Bukit Demulih sebagai lokasi tower utama karena ketinggiannya yang memungkinkan sinyal melampaui seluruh halangan fisik. Selain itu, jadwal pemangkasan vegetasi di sepanjang jalur transmisi ditetapkan secara berkala untuk menjaga kualitas sinyal tetap optimal [1].

 

Kendala kedua berkaitan dengan karakteristik wajan bolic itu sendiri: semakin besar diameter wajan, semakin kuat sinyal yang ditangkap, namun semakin sulit pula pemasangannya dan semakin sering memerlukan kalibrasi ulang untuk menemukan sudut optimal. Cuaca ekstrem seperti angin kencang kerap menggeser posisi wajan sehingga sinyal melemah. Solusi yang ditempuh adalah melatih warga melakukan kalibrasi mandiri dan memasang penopang wajan yang lebih kokoh di atap rumah. Tim IT juga menyiapkan panduan bergambar sederhana agar warga dapat mengatasi masalah teknis ringan tanpa harus menunggu bantuan petugas [4][5].

 

Tantangan non-teknis yang tidak kalah berat adalah rendahnya literasi digital sebagian warga, khususnya generasi tua yang belum terbiasa menggunakan smartphone maupun aplikasi online. Meskipun internet sudah tersedia secara gratis, banyak warga yang masih memerlukan pendampingan intensif untuk mengakses layanan digital desa. Mitigasi yang diterapkan adalah penugasan petugas desa terlatih sebagai pendamping digital di setiap balai banjar, yang secara rutin mendampingi warga melakukan transaksi administrasi, mengakses informasi, dan memanfaatkan fitur pengaduan online hingga mereka mampu melakukannya secara mandiri [1][3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling krusial dalam keberhasilan smart village Desa Demulih adalah kepemimpinan visioner Perbekel I Nyoman Wijana yang sejak awal berkomitmen menjadikan teknologi informasi sebagai tulang punggung pembangunan desa. Ia tidak hanya menginisiasi gagasan, tetapi juga memimpin langsung proses musyawarah dengan BPD untuk mengalokasikan dana APBDes, bernegosiasi dengan DPMD Kabupaten Bangli agar bersedia menjadi supervisor, dan memobilisasi Tim IT desa untuk merancang serta mengeksekusi seluruh infrastruktur teknis. Dukungan institusional dari DPMD Kabupaten Bangli sebagai supervisor memberikan legitimasi sekaligus bimbingan teknis yang mempercepat implementasi [1][2].

 

Modal sosial khas Bali berupa sistem banjar — di mana warga terbiasa bermusyawarah, bergotong royong, dan menjalankan keputusan bersama — menjadi pengikat partisipasi yang sangat kuat. Ketika keputusan untuk menyediakan internet gratis sudah disepakati dalam musyawarah desa, seluruh warga di tiga banjar dinas terlibat aktif dalam proses sosialisasi dan pelatihan teknis. Tradisi ngayah (kerja bakti sukarela) memudahkan pelaksanaan pemasangan tower dan pelatihan wajan bolic karena warga dengan sukarela menyediakan tenaga dan waktu tanpa mengharapkan imbalan finansial [3][2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak kuantitatif paling nyata adalah teratasinya kondisi blank spot di seluruh wilayah Desa Demulih. Sebelum 2017, hanya Banjar Demulih yang memiliki akses internet, sementara Banjar Tanggahan Talang Jiwa memiliki konektivitas nol persen. Setelah tower pemancar dan jaringan wajan bolic beroperasi, kini 100 persen wilayah desa — mencakup ketiga banjar dinas — terjangkau sinyal nirkabel. Seluruh 4.659 jiwa penduduk dapat mengakses layanan digital desa melalui smartphone berbasis Android, mencakup profil desa, jadwal posyandu, produk unggulan, perpustakaan online, peta rumah tangga miskin, surat-menyurat elektronik, dan fitur pengaduan online. Pencapaian ini mengantarkan Desa Demulih mewakili Kabupaten Bangli dalam Lomba Desa Tingkat Provinsi Bali pada 2018 [1][2].

 

Dampak kualitatif yang paling mencolok adalah perubahan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan pemerintah desa. Warga yang sebelumnya harus datang langsung ke kantor desa untuk mengurus surat keterangan usaha, surat keterangan tidak mampu, atau dokumen administrasi lainnya, kini dapat mengajukannya secara online dari rumah. Proses yang dulu memakan waktu berjam-jam kini selesai dalam hitungan menit. Fitur pengaduan online memicu transparansi pemerintahan desa karena aspirasi dan keluhan warga terarsip secara digital dan wajib ditindaklanjuti [1][3].

 

Dampak multiplier yang tidak direncanakan sebelumnya adalah terbukanya akses pemasaran daring bagi pengrajin ukiran kayu dan produsen obat herbal yang kini mulai menjangkau pasar di luar Kabupaten Bangli. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi digital meningkat secara signifikan, terlihat dari antusiasme warga yang secara sukarela menghadiri pelatihan pemanfaatan internet untuk keperluan ekonomi produktif. Perubahan budaya ini membuktikan bahwa penyediaan infrastruktur digital bukan sekadar proyek teknis, melainkan katalisator transformasi sosial-ekonomi yang berdampak luas melampaui tujuan awal program [5][6].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan utama untuk pembangunan infrastruktur internet Desa Demulih berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2017 yang dialokasikan melalui musyawarah desa dengan persetujuan BPD. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan perangkat jaringan utama, pembangunan tower pemancar di Bukit Demulih, pembelian router mikrotik, serta pengadaan access point WiFi di setiap balai banjar. Biaya pembuatan wajan bolic per unit sangat ekonomis, berkisar antara Rp200.000 hingga Rp350.000 — ratusan kali lebih murah daripada antena komersial — sehingga warga yang ingin memasang di rumah masing-masing tidak terbebani biaya besar [1][4].

 

Saat ini layanan internet disediakan secara gratis dengan akses dikontrol menggunakan mikrotik routerboard beserta username dan password umum. Untuk keberlanjutan finansial, pemerintah desa memproyeksikan bahwa pengelolaan layanan internet akan dialihkan ke BUMDes sehingga dapat menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) melalui skema layanan freemium: akses dasar tetap gratis untuk seluruh warga, sementara paket premium dengan bandwidth lebih besar ditawarkan berbayar bagi pelaku usaha dan pengguna yang membutuhkan koneksi lebih cepat. Pendapatan dari layanan premium diproyeksikan mampu menutupi biaya operasional sekaligus menghasilkan kontribusi bagi PADes [1].

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil Pemerintah Desa Demulih adalah memanfaatkan topografi alam Bukit Demulih sebagai lokasi tower pemancar, sehingga tidak perlu membangun menara yang sangat tinggi dan mahal. Pengalokasian APBDes untuk infrastruktur digital menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan dana hibah eksternal, cukup dengan keberanian merealokasi anggaran yang sudah tersedia. Pelibatan DPMD Kabupaten Bangli sebagai supervisor sejak awal memberikan legitimasi, bimbingan teknis, dan jaminan keberlanjutan program yang menjadi fondasi keberhasilan implementasi. Adopsi teknologi tepat guna berupa wajan bolic membuktikan bahwa solusi tidak harus mahal — yang terpenting adalah kesesuaian teknologi dengan konteks lokal [1][4].

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa survei line of sight jalur transmisi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh sebelum pemasangan tower, bukan setelah mengalami kegagalan sinyal pertama yang menyebabkan pemborosan waktu dan tenaga. Program literasi digital bagi warga — terutama generasi tua — seharusnya dimulai bersamaan dengan pembangunan infrastruktur, bukan menunggu hingga internet tersedia dan baru menyadari bahwa banyak warga yang belum siap memanfaatkannya. Sistem autentikasi berbasis NIK juga idealnya dirancang sejak awal agar kontrol penggunaan dan pengembangan layanan premium tidak terhambat di kemudian hari.

 

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, identifikasi titik tertinggi di wilayah desa yang memiliki line of sight bersih ke seluruh pemukiman sebelum membangun tower pemancar, karena keberhasilan jaringan nirkabel sangat bergantung pada posisi pemancar. Kedua, libatkan pemuda desa yang melek teknologi sebagai Tim IT lokal agar pemeliharaan jaringan tidak bergantung pada tenaga ahli dari luar yang mahal dan sulit dijangkau. Ketiga, mulailah dengan layanan digital yang paling dibutuhkan warga — seperti administrasi surat-menyurat — untuk membangun kepercayaan sebelum menambah fitur lain yang lebih kompleks [5][3].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan jangka panjang Desa Demulih bertumpu pada transfer pengelolaan layanan internet dari pemerintah desa ke BUMDes agar program tidak sepenuhnya bergantung pada alokasi APBDes tahunan. BUMDes akan mengelola layanan internet sebagai unit bisnis mandiri dengan model freemium: akses dasar tetap gratis untuk seluruh warga, sementara paket premium dengan bandwidth lebih besar ditawarkan berbayar bagi pelaku usaha dan pengguna yang membutuhkan koneksi lebih cepat. Pendapatan dari layanan premium diproyeksikan mampu menutupi biaya operasional sekaligus menghasilkan kontribusi bagi Pendapatan Asli Desa [1].

 

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pelembagaan Tim IT desa yang direkrut dari pemuda setempat. Pengetahuan teknis tidak hanya dimiliki oleh Perbekel, melainkan didistribusikan ke generasi muda yang akan menjadi penerus pengelolaan infrastruktur digital desa. Dokumentasi konfigurasi jaringan, prosedur pemeliharaan, dan panduan penanganan masalah teknis disusun secara tertulis agar keberlangsungan operasional terjamin meskipun terjadi pergantian kepemimpinan desa. Dengan demikian, inovasi smart village ini tidak bergantung pada figur tunggal, melainkan menjadi sistem yang terlembaga dan berkelanjutan [1][3].

 

Perluasan titik hotspot ke tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau masyarakat — seperti pasar desa, pura, dan area wisata — menjadi agenda pengembangan berikutnya. Penguatan sistem autentikasi berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan meningkatkan keamanan dan keterukuran penggunaan jaringan, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan layanan digital yang lebih canggih seperti e-commerce desa dan sistem informasi pertanian. Strategi ini memastikan bahwa infrastruktur digital yang sudah terbangun terus berkembang dan menghasilkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat [6].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi smart village Desa Demulih berkontribusi secara langsung terhadap pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Pemanfaatan teknologi tepat guna berbiaya rendah untuk memperluas akses digital di wilayah pedesaan merupakan manifestasi konkret dari agenda global inklusi digital dan pengurangan kesenjangan. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Akses internet gratis membuka peluang bagi anak-anak dan warga desa untuk mengakses perpustakaan online, sumber belajar digital, dan informasi pendidikan yang sebelumnya tidak tersedia di wilayah blank spot. Jumlah warga yang mengakses perpustakaan online desa; akses sumber belajar digital oleh anak usia sekolah
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Konektivitas internet mendukung pengrajin ukiran kayu dan produsen obat herbal memasarkan produk secara daring ke pasar yang lebih luas, meningkatkan pendapatan dan membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM desa. Jumlah UMKM yang memasarkan produk secara online; peningkatan omzet pengrajin dan produsen lokal
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembangunan tower pemancar nirkabel dan adopsi teknologi wajan bolic merupakan investasi infrastruktur digital berbiaya rendah yang membuktikan bahwa desa mampu membangun konektivitas sendiri tanpa menunggu operator telekomunikasi besar. Coverage area dari 0% menjadi 100% (3 banjar); biaya infrastruktur per unit wajan bolic Rp200.000–350.000
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Program internet gratis secara merata menghapus kesenjangan digital antara Banjar Demulih yang lebih maju dengan Banjar Tanggahan Talang Jiwa yang sebelumnya terisolasi, memastikan pemerataan akses informasi bagi seluruh 4.659 jiwa penduduk desa. Eliminasi blank spot di seluruh wilayah desa; pemerataan akses layanan publik digital
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh Digitalisasi pelayanan administrasi desa dan fitur pengaduan online meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pemerintahan desa — setiap pengaduan terarsip dan wajib ditindaklanjuti secara terukur. Jumlah layanan administrasi yang beralih ke sistem online; waktu respons pengaduan masyarakat

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Replikasi inovasi smart village Desa Demulih di desa lain memerlukan beberapa prasyarat minimum. Pertama, ketersediaan akses internet awal di setidaknya satu titik di desa (kantor desa atau sekolah) yang akan menjadi sumber sinyal utama. Kedua, identifikasi titik tinggi alami atau buatan yang memiliki line of sight bersih ke seluruh pemukiman untuk penempatan tower pemancar. Ketiga, keberadaan minimal dua orang pemuda yang melek teknologi dan bersedia dilatih sebagai Tim IT lokal. Estimasi biaya replikasi untuk desa dengan luas dan topografi serupa berkisar Rp50–100 juta untuk infrastruktur tower dan jaringan utama (dari APBDes), ditambah Rp200.000–350.000 per unit wajan bolic yang ditanggung masing-masing rumah tangga, dengan durasi implementasi diperkirakan 3–6 bulan dari perencanaan hingga go-live [4][1].

 

Model adaptasi dapat disesuaikan dengan konteks geografis dan sosial masing-masing desa. Desa di dataran rendah tanpa bukit alami dapat menggunakan menara besi konvensional sebagai pengganti bukit, sementara desa pesisir dengan halangan minimal justru lebih mudah menerapkan teknologi ini karena line of sight yang lebih terbuka. Kunci adaptasi terletak pada pemahaman bahwa teknologi wajan bolic bersifat fleksibel dan dapat dimodifikasi sesuai kondisi lokal, selama prinsip dasar reflektor parabola dan jalur transmisi tanpa halangan terpenuhi [4].

 

Untuk scale up di tingkat kabupaten, model Desa Demulih dapat diperluas dengan membangun jaringan mesh antardesa — di mana setiap desa yang sudah terkoneksi menjadi relay sinyal bagi desa tetangganya. DPMD atau Dinas Kominfo kabupaten dapat berperan sebagai koordinator dan supervisor teknis, meniru pola kerja sama yang sudah berhasil antara Desa Demulih dengan DPMD Kabupaten Bangli. Strategi ini memungkinkan perluasan cakupan internet desa secara bertahap tanpa memerlukan investasi besar secara sekaligus [2][1].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Internet Gratis dengan Wajan Bolik — Desa Demulih, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali,” inovasi.web.id, 2017. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/internet-gratis-dengan-wajan-bolik/

 

[2] Antara News Bali, “Desa Demulih Wakili Bangli dalam Lomba Desa Tingkat Provinsi,” antaranews.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/710986/desa-demulih-wakili-bangli-dalam-lomba-desa-tingkat-provinsi

 

[3] Bali Puspa News, “Smart Village Desa Demulih: Inovasi Pelayanan Publik Berbasis IT di Kabupaten Bangli,” balipuspanews.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.balipuspanews.com/

 

[4] O. W. Purbo, “Panduan Pembuatan Antena Wajan Bolic untuk Akses Internet,” onnocenter.or.id. [Online]. Tersedia: https://onnocenter.or.id/

 

[5] Bali Post, “Desa Demulih Kembangkan Smart Village dengan Wajan Bolic untuk Internet Gratis,” balipost.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.balipost.com/

 

[6] Pemerintah Desa Demulih, “Website Resmi Desa Demulih,” demulih.desa.id. [Online]. Tersedia: https://demulih.desa.id

 

[7] M. A. Firmansyah dan R. Kurniawan, “Analisis Penerapan Antena Wajanbolic sebagai Solusi Akses Internet di Daerah Blank Spot,” Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi, 2019. [Online]. Tersedia: https://www.neliti.com/

 

Kata Kunci: desa demulih, smart village, wajan bolic, internet gratis, Bangli, Bali, teknologi tepat guna, blank spot, I Nyoman Wijana, Kecamatan Susut, pelayanan publik online, APBDes, tower wireless, hotspot desa, inklusi digital, desa digital, e-government desa, lomba desa provinsi Bali, BUMDes, mikrotik routerboard

Data Inovasi

Nama Inovasi
Internet Gratis dengan Wajan Bolic (<em>Smart Village</em> Desa Demulih)

Alamat
Desa Demulih, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali 80661
Inovator
I Nyoman Wijana, S.E. (Perbekel Desa Demulih) bersama Tim IT Desa Demulih dan DPMD Kabupaten Bangli
Kontak
Telepon: +62-857-9214-3033
Email: desademulih001@gmail.com
Website: https://demulih.desa.id
Lokasi