Ringkasan Inovasi
Desa Citamiang, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, mendirikan radio siaran komunitas Shattara FM yang mulai mengudara pada Agustus 2017 di frekuensi 93 MHz, untuk memudahkan penyebarluasan informasi pembangunan desa kepada warga [1]. Inovasi ini diawali usulan masyarakat, kemudian Pemerintah Desa Citamiang mengalokasikan anggaran Rp30.541.000 dari Dana Desa dalam APBDes 2017 untuk membeli peralatan siaran seperti komputer, pemancar, mixer, dan antena. Warga turut berpartisipasi secara swadaya dalam pelatihan penyiar dan penggunaan peralatan pendukung. Shattara FM menghadirkan program informasi desa, sosialisasi kebijakan, promosi produk unggulan, hingga talkshow interaktif yang melibatkan penyiar dari kalangan pemerintah desa, warga, dan siswa sekolah setempat. Radio ini juga menjadi sarana promosi potensi wisata dan ekonomi desa yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, sekaligus wadah belajar dan literasi informasi bagi generasi muda desa. Inisiatif ini dirintis pada masa kepemimpinan Kepala Desa Ajang Syihabudin (menjabat 2014-2019), sebelum kepemimpinan desa beralih ke Kepala Desa Dian Rudiansyah yang kini melanjutkan berbagai program penguatan ekonomi dan aset desa [4].
Latar Belakang
Desa Citamiang terletak di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, di kaki Gunung Gede Pangrango dengan hawa sejuk pegunungan, sekitar 6 kilometer di selatan pusat kecamatan [2]. Desa ini terbagi dalam tiga dusun — Citamiang, Selawi, dan Cimenteng — dengan 30 Rukun Tetangga dan 5 Rukun Warga, berpenduduk sekitar 1.649 jiwa di atas luas wilayah 325 hektare, di mana mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun [2].
Sebelum Shattara FM berdiri, Pemerintah Desa Citamiang tidak memiliki kanal komunikasi massal untuk menyebarluaskan informasi kebijakan dan program pembangunan kepada warga secara cepat dan menjangkau seluruh dusun. Warga juga belum memiliki sarana promosi bersama untuk memperkenalkan potensi desa, seperti kerajinan kerai bambu, budi daya ikan, dan potensi wisata di kaki Gunung Gede Pangrango, kepada khalayak yang lebih luas.
Momentum pendirian radio ini muncul dari usulan masyarakat sendiri, yang kemudian direspons Pemerintah Desa Citamiang di bawah Kepala Desa Ajang Syihabudin dengan mengalokasikan anggaran dalam APBDes 2017. Ajang berpandangan bahwa sarana komunikasi seperti radio akan memudahkan penyampaian informasi kebijakan dan menjadi media pembelajaran efektif bagi masyarakat menuju desa yang maju, mandiri, dan religius [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pendirian radio siaran komunitas Shattara FM yang mengudara di frekuensi 93 MHz sejak Agustus 2017, dikelola Pemerintah Desa Citamiang bersama warga sebagai kanal komunikasi dua arah antara pemerintah desa dan masyarakat [1]. Radio ini dirancang tidak hanya sebagai corong informasi pemerintah, tetapi juga wadah warga menyampaikan aspirasi dan kegiatan ekonomi produktif.
Mekanismenya mencakup program informasi desa berisi program pembangunan, realisasi APBDes, imbauan, dan sosialisasi, program promosi produk unggulan desa, siaran kreasi siswa yang dikelola langsung oleh pelajar setempat, serta talkshow interaktif yang menerima telepon dan SMS pendengar. Yang membedakan pendekatan ini dari media pemerintah desa konvensional adalah keterlibatan penyiar lintas kalangan — mulai dari perangkat desa, warga umum, hingga siswa sekolah — sehingga radio ini menjadi ruang belajar sekaligus sarana literasi informasi generasi muda desa.
Proses Penerapan Inovasi
Pendirian Shattara FM diawali usulan masyarakat, kemudian Pemerintah Desa Citamiang mengalokasikan pos anggaran dalam APBDes 2017 yang bersumber dari Dana Desa sebesar Rp30.541.000. Anggaran ini dibelanjakan untuk peralatan siaran, mulai dari komputer, pemancar, mixer, antena, hingga piranti pendukung lainnya [1].
Pada tahap awal pengoperasian, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia menjadi kendala, mengingat penyiar dan pengelola radio belum memiliki pengalaman siaran maupun penggunaan peralatan pemancar. Alih-alih mendatangkan tenaga profesional berbayar dari luar desa, Pemerintah Desa Citamiang mengandalkan partisipasi swadaya warga untuk mengikuti pelatihan penyiar dan penggunaan peralatan pendukung, sehingga kapasitas pengelolaan radio tumbuh secara bertahap dari dalam desa sendiri — pembelajaran penting bahwa keberlanjutan media komunitas lebih bergantung pada investasi kapasitas manusia lokal dibanding sekadar kelengkapan peralatan teknis.
Program siaran kemudian dikembangkan bertahap, dari sekadar informasi pembangunan menjadi program yang lebih beragam seperti siaran kreasi siswa dan talkshow interaktif yang menghadirkan tokoh atau pejabat sebagai narasumber, memperluas fungsi radio dari sekadar corong pemerintah menjadi ruang dialog dan pembelajaran warga.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan keterampilan teknis warga dalam mengoperasikan peralatan siaran radio pada masa awal pendirian. Pemerintah Desa mengatasinya melalui pelatihan swadaya bagi calon penyiar dan pengelola, sehingga kapasitas pengelolaan berkembang dari dalam desa tanpa bergantung pada tenaga profesional luar.
Tantangan eksternal berupa keterbatasan anggaran desa untuk mengembangkan radio secara berkelanjutan turut menjadi pertimbangan, mengingat radio komunitas umumnya tidak menghasilkan pendapatan komersial signifikan. Pemerintah Desa memitigasi hal ini dengan memosisikan radio sebagai investasi jangka panjang untuk efisiensi komunikasi pembangunan dan promosi ekonomi desa, alih-alih mengharapkan pengembalian finansial langsung.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan Shattara FM adalah kreativitas dan inovasi perangkat desa yang masih muda, yang mampu merancang program siaran variatif dan menarik bagi berbagai kalangan pendengar, mulai dari warga umum hingga siswa sekolah [1].
Faktor kedua adalah dukungan penuh Kepala Desa yang memandang radio sebagai investasi jangka panjang bagi komunikasi pemerintah-warga dan promosi potensi desa, bukan sekadar proyek seremonial, sehingga anggaran pendirian dialokasikan serius dalam APBDes sejak awal.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum Shattara FM berdiri, Pemerintah Desa Citamiang tidak memiliki kanal komunikasi massal untuk menjangkau seluruh warga di tiga dusun secara cepat. Setelah mengudara sejak Agustus 2017, radio ini menjadi sarana rutin penyebarluasan informasi pembangunan, sosialisasi kebijakan, dan promosi produk unggulan desa yang menjangkau warga lintas dusun.
Warga kini memiliki kanal untuk menyampaikan aspirasi dan mempromosikan kegiatan ekonomi produktif secara langsung melalui siaran radio, sementara siswa sekolah mendapat ruang berkreasi dan mempromosikan sekolah masing-masing melalui program siaran kreasi siswa. Radio ini turut menjadi media pembelajaran dan literasi informasi bagi generasi muda desa.
Dampak spillover dari promosi potensi desa melalui Shattara FM adalah ketertarikan sejumlah investor untuk bekerja sama mengembangkan potensi destinasi wisata di Kecamatan Kadudampit, menunjukkan bahwa radio komunitas dapat menjadi sarana pendukung penguatan ekonomi desa dan kawasan perdesaan secara lebih luas [1]. Semangat penguatan aset dan ekonomi desa ini berlanjut di bawah kepemimpinan Kepala Desa Dian Rudiansyah, yang sejak 2022 aktif menggali potensi aset desa seperti kerajinan bambu dan wisata agro berbasis lahan pertanian seluas 153 hektare [4].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal pendirian Shattara FM sepenuhnya berasal dari Dana Desa yang dialokasikan Pemerintah Desa Citamiang dalam APBDes 2017 sebesar Rp30.541.000, digunakan untuk pengadaan peralatan siaran seperti komputer, pemancar, mixer, dan antena [1]. Biaya operasional dan peningkatan kapasitas pengelola ditopang partisipasi swadaya warga melalui pelatihan penyiar tanpa membebani anggaran desa lebih lanjut.
Model radio ini tidak berorientasi pada pendapatan komersial langsung, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur komunikasi publik desa yang nilainya diukur dari efisiensi penyebarluasan informasi dan potensi tidak langsung berupa promosi ekonomi desa, seperti ketertarikan investor terhadap potensi wisata Kadudampit yang dipromosikan lewat siaran radio.
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Desa Citamiang menunjukkan bahwa keputusan melibatkan warga secara swadaya dalam pelatihan penyiar, alih-alih hanya mengandalkan pengadaan peralatan semata, adalah keputusan kunci yang tepat karena memastikan keberlanjutan pengelolaan radio tidak bergantung pada tenaga profesional berbayar dari luar desa.
Jika memulai dari awal, keterlibatan siswa sekolah dan generasi muda dalam program siaran idealnya sudah dirancang sejak tahap perencanaan awal, bukan berkembang belakangan, mengingat program siaran kreasi siswa terbukti menjadi salah satu daya tarik yang memperluas basis pendengar dan pelibatan generasi muda.
Bagi desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah memulai dari usulan dan kebutuhan nyata warga, mengalokasikan anggaran desa secara realistis untuk peralatan dasar, serta berinvestasi pada pelatihan sumber daya manusia lokal agar radio komunitas dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan tanpa bergantung pada figur atau kepemimpinan tertentu.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Shattara FM ke depan perlu ditopang pelembagaan pengelolaan radio dalam struktur organisasi desa yang formal, sehingga operasional siaran tidak bergantung pada kepemimpinan kepala desa tertentu, mengingat radio ini dirintis pada periode kepemimpinan sebelumnya dan perlu terus dijaga keberlanjutannya lintas periode kepemimpinan.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan desa telah berjalan, dengan kepemimpinan Desa Citamiang beralih dari Kepala Desa Ajang Syihabudin yang menjabat pada 2014-2019 — periode ketika Shattara FM dirintis — kepada Kepala Desa Dian Rudiansyah yang menjabat sejak 2022 dan aktif melanjutkan program penguatan ekonomi dan aset desa [3], [4]. Regenerasi penyiar dari kalangan siswa sekolah turut menjadi mekanisme alami yang memastikan radio ini terus mendapat suplai tenaga pengelola muda dari generasi ke generasi.
Rencana keberlanjutan pendanaan dapat diperkuat dengan menjadikan Shattara FM sebagai bagian dari strategi promosi aset dan potensi desa yang lebih luas, termasuk kerajinan bambu dan agrowisata berbasis Mina Padi yang tengah dikembangkan Pemerintah Desa Citamiang saat ini, sehingga radio tidak hanya menjadi biaya operasional desa, tetapi turut mendukung nilai ekonomi program pembangunan desa lainnya [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Radio Shattara FM di Desa Citamiang berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Program siaran kreasi siswa dan konten edukatif menjadikan radio sebagai media pembelajaran dan literasi informasi bagi generasi muda desa. | Siswa sekolah mengelola program siaran kreasi siswa |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Promosi produk unggulan dan potensi wisata desa melalui radio menarik minat investor untuk mengembangkan ekonomi kawasan. | Sejumlah investor tertarik mengembangkan potensi wisata Kadudampit |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pendirian radio siaran menjadi infrastruktur komunikasi inovatif berbasis Dana Desa yang menjangkau seluruh dusun. | 1 stasiun radio komunitas beroperasi sejak Agustus 2017 |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | Siaran informasi realisasi APBDes dan talkshow interaktif memperkuat transparansi pemerintahan dan partisipasi warga menyampaikan aspirasi. | Program informasi desa menyiarkan realisasi pembangunan secara rutin |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi Pemerintah Desa, warga, siswa, dan calon investor melalui radio menjadi model kemitraan multipihak dalam pembangunan desa. | Penyiar berasal dari perangkat desa, warga, dan siswa |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model radio komunitas berbasis Dana Desa ini sangat mudah direplikasi oleh desa lain di Indonesia yang menghadapi keterbatasan kanal komunikasi massal antara pemerintah desa dan warga. Prasyarat minimum meliputi usulan atau kebutuhan nyata dari warga, alokasi anggaran desa untuk peralatan dasar siaran, serta kesediaan warga mengikuti pelatihan penyiar secara swadaya.
Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau, mengacu pada pengalaman Desa Citamiang yang hanya memerlukan sekitar Rp30,5 juta untuk peralatan dasar siaran radio pada 2017. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menyesuaikan skala peralatan terhadap kebutuhan cakupan siaran, serta melibatkan sekolah setempat sejak awal untuk memperluas basis penyiar dan pendengar generasi muda.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Shattara FM, Desa Citamiang Kembangkan Media Komunikasi Pemerintah-Warga dan Promosi Potensi Unggulan Desa,” contoh.kemendesa.go.id, 6 Okt. 2020. [Online]. Tersedia: https://contoh.kemendesa.go.id/2020/10/06/shattara-fm-desa-citamiang-kembangkan-media-komunikasi-pemerintah-warga-dan-promosi-potensi-unggulan-desa/
[2] Kontributor Wikipedia, “Citamiang, Kadudampit, Sukabumi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Citamiang,_Kadudampit,_Sukabumi
[3] Sukabumi Update, “Kampanye Pilkades Pakai Dana Desa Lalu Kalah, Kades Citamiang Sukabumi Jadi Tersangka,” sukabumiupdate.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/sukabumi/147404/kampanye-pilkades-pakai-dana-desa-lalu-kalah-kades-citamiang-sukabumi-jadi-tersangka
[4] Sukabumizone, “Dongkrak Ekonomi Masyarakat, Kades Citamiang Gali Potensi Aset Desa,” sukabumizone.com, 28 Jun. 2022. [Online]. Tersedia: https://sukabumizone.com/2022/06/28/dongkrak-ekonomi-masyarakat-kades-citamiang-gali-potensi-aset-desa/