Ringkasan Inovasi
Desa Citalahab, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mengubah kawasan hutan belukar seluas 85×80 meter menjadi Sarana Olahraga Desa (Sorga) berupa lapangan sepak bola, dibangun menggunakan Dana Desa secara swadaya pada 2016 [1]. Tujuan utama pembangunan ini adalah menyediakan ruang kegiatan positif bagi pemuda desa yang sebelumnya rentan terjerumus pergaulan negatif akibat ketiadaan ruang publik. Kehadiran Sorga membawa dampak sosial yang terasa bagi warga, membantu mengalihkan perhatian pemuda dari ancaman narkoba dan tawuran antarkelompok [1]. Inovasi ini digagas Kepala Desa Hambali dengan modal hanya Rp50 juta dari Dana Desa, ditopang gotong royong warga yang menekan biaya pembangunan secara signifikan [2]. Keberhasilan ini menarik perhatian Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), yang menjadikan Sorga sebagai salah satu model nasional dari empat program prioritas desa — bersama Prukades, BUMDes, dan embung air desa — bahkan Menteri Desa Eko Putro Sandjojo turut melakukan tendangan pembuka saat berkunjung ke lapangan ini pada September 2017 [3], [4], [5].
Latar Belakang
Desa Citalahab terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten [6]. Kabupaten Pandeglang sendiri mengalami penurunan jumlah desa tertinggal yang signifikan pada pertengahan 2010-an, dari 214 desa atau 65 persen pada 2014 menjadi 149 desa atau 30,84 persen pada 2016, seiring penguatan program pembangunan berbasis Dana Desa di wilayah ini [5].
Impian masyarakat Desa Citalahab untuk memiliki sarana olahraga publik sudah terpendam sejak warga pertama kali mengusulkannya pada 2014, namun ketiadaan anggaran pembangunan di tingkat desa membuat rencana ini tertunda selama dua tahun. Kondisi ini membuat pemuda desa kehilangan wadah berkumpul untuk menyalurkan bakat dan hobi, sementara ketiadaan ruang publik yang memadai kerap memicu permasalahan sosial seperti tawuran, kenakalan remaja, dan penyalahgunaan obat terlarang di kalangan anak muda desa.
Momentum terwujudnya sarana olahraga ini datang pada 2016, ketika alokasi Dana Desa mulai tersedia dan Pemerintah Desa Citalahab di bawah Kepala Desa Hambali melihat lahan hutan belukar seluas 85×80 meter yang selama ini terbengkalai sebagai peluang pembangunan fasilitas publik [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan Sarana Olahraga Desa, yang oleh warga disingkat menjadi Sorga, mengubah hutan belukar menjadi lapangan sepak bola melalui keputusan yang diambil aparat desa lewat musyawarah perencanaan pembangunan desa pada 2016 [1].
Sorga dirancang bukan sekadar lapangan tanah biasa, melainkan pusat interaksi sosial yang mewadahi kegiatan olahraga fisik dan pertemuan warga setiap sore, dapat diakses gratis oleh siapa pun. Yang membedakan pendekatan ini dari pembangunan fasilitas olahraga konvensional adalah pemanfaatan lahan tidur yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi maupun sosial, dikombinasikan dengan gotong royong warga yang menekan biaya konstruksi jauh di bawah standar pembangunan fasilitas serupa.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan inovasi dimulai ketika Pemerintah Desa Citalahab mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp50 juta pada 2016 [2]. Langkah pertama melibatkan penebangan pohon dan pembersihan semak belukar yang menutupi seluruh area lahan, dilanjutkan warga bergotong royong meratakan tanah agar layak dijadikan lapangan olahraga.
Proses pemerataan tanah sempat menghadapi kendala akibat keterbatasan alat berat yang tersedia di desa, namun semangat gotong royong warga berhasil mengatasi kekurangan peralatan teknis tersebut dengan tenaga manual, sehingga biaya pembangunan fasilitas ini bisa ditekan jauh di bawah perkiraan awal [2]. Pada tahap perencanaan sistem drainase, desa dan warga sempat kurang memperhitungkan kebutuhan resapan air, sehingga lapangan berisiko tergenang saat musim hujan — kekurangan ini kemudian dikoreksi dengan menambahkan sistem resapan air sederhana, menjadi pembelajaran penting bagi pengembang infrastruktur desa lain di Kabupaten Pandeglang bahwa perencanaan drainase perlu diperhitungkan sejak awal desain lapangan, bukan menyusul setelah lapangan selesai dibangun.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal yang muncul setelah lapangan beroperasi adalah perawatan rumput yang cepat rusak akibat tingginya intensitas penggunaan oleh berbagai kelompok usia, memengaruhi kenyamanan bermain terutama saat turnamen berlangsung. Pemerintah desa dan pengelola lapangan mengatasinya dengan menjadwalkan perawatan rutin, meski keterbatasan anggaran operasional membuat penanganan ini belum bisa dilakukan secara maksimal.
Kendala eksternal berupa keterbatasan anggaran untuk membangun fasilitas pendukung seperti tribun dan ruang ganti turut memengaruhi kesiapan desa saat ditunjuk menjadi tuan rumah kompetisi olahraga antardesa. Pemerintah desa memitigasi hal ini secara bertahap dengan merencanakan integrasi pengelolaan lapangan ke BUMDes, agar tersedia sumber pendapatan tambahan untuk melengkapi fasilitas pendukung di masa mendatang.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu keberhasilan paling utama adalah tingginya budaya gotong royong masyarakat Citalahab. Keterlibatan aktif warga dalam proses pengerjaan fisik memangkas biaya tenaga kerja secara signifikan, dengan warga memainkan peran ganda sebagai perencana sekaligus pelaksana pembangunan yang turut mengawasi mutu fasilitas.
Faktor kedua adalah kepemimpinan Kepala Desa Hambali yang berani mengalokasikan Dana Desa untuk kebutuhan sosial pemuda, bukan sekadar infrastruktur fisik konvensional [1]. Keberhasilan ini turut mendapat pengakuan pemerintah pusat, tecermin dari kunjungan langsung Menteri Desa, PDTT, Eko Putro Sandjojo ke lapangan ini pada September 2017 [3], [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum 2016, lahan seluas 85×80 meter di Desa Citalahab hanya berupa hutan belukar terbengkalai tanpa nilai tambah bagi warga sekitar, sementara pemuda desa tidak memiliki ruang publik untuk berkegiatan positif. Setelah dibangun, lapangan sepak bola Sorga kini ramai dikunjungi pemuda setiap pagi dan sore hari, berubah menjadi pusat kebugaran dan hiburan gratis bagi seluruh warga [2].
Secara kualitatif, sarana olahraga ini dilaporkan membantu menjauhkan pemuda dari perbuatan merugikan seperti mengonsumsi narkoba dan tawuran antarkampung, seiring meningkatnya aktivitas olahraga bersama yang memberi pemuda ruang menyalurkan energi ke arah yang lebih positif [1]. Pemuda kini memiliki alternatif kegiatan yang sebelumnya tidak tersedia di desa.
Secara ekonomi, desa berhasil menekan biaya pembangunan hanya sebesar Rp50 juta berkat gotong royong warga, jauh lebih hemat dibanding perkiraan biaya pembangunan fasilitas serupa dengan jasa kontraktor. Turnamen olahraga tingkat desa yang mulai rutin digelar turut membuka peluang usaha bagi pedagang kecil di sekitar lapangan saat pertandingan berlangsung. Dampak spillover paling signifikan adalah pengakuan pemerintah pusat yang menjadikan Sorga sebagai salah satu model nasional dari empat program prioritas desa, mendorong Menteri Desa Eko Putro Sandjojo berkunjung langsung dan melakukan tendangan pembuka di lapangan ini [3], [4], [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal pembangunan Sorga sepenuhnya berasal dari Dana Desa sebesar Rp50 juta yang dialokasikan Pemerintah Desa Citalahab pada 2016, dengan kontribusi tenaga kerja swadaya warga melalui gotong royong yang menekan kebutuhan biaya konstruksi tambahan [2].
Model bisnis ke depan diarahkan melalui integrasi pengelolaan lapangan ke dalam BUMDes, yang akan menyewakan lahan parkir dan lapak pedagang di sekitar lapangan untuk menghasilkan Pendapatan Asli Desa. Dana yang terkumpul dari skema ini direncanakan khusus digunakan untuk biaya perawatan rutin lapangan olahraga [3].
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Desa Citalahab menunjukkan bahwa keputusan memanfaatkan lahan tidur yang sudah dimiliki desa, alih-alih membeli lahan baru untuk fasilitas olahraga, adalah keputusan kunci yang tepat karena menekan biaya investasi secara signifikan tanpa mengurangi manfaat sosial fasilitas tersebut.
Jika memulai dari awal, perencanaan sistem drainase lapangan idealnya sudah diperhitungkan sejak tahap desain awal, bukan dikoreksi setelah lapangan selesai dibangun, agar risiko genangan air saat musim hujan bisa dicegah sejak awal konstruksi.
Bagi desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah memetakan lahan tidur atau terbengkalai yang sudah dimiliki desa sebelum mengalokasikan anggaran pembangunan fasilitas baru, mengandalkan gotong royong warga untuk menekan biaya konstruksi, serta merencanakan skema pengelolaan berkelanjutan seperti BUMDes sejak tahap awal agar fasilitas tidak terbengkalai setelah pembangunan selesai.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah desa merancang strategi keberlanjutan dengan menyerahkan pengelolaan lapangan kepada kelompok pemuda dan karang taruna, yang bertanggung jawab menyusun jadwal penggunaan lapangan serta mengadakan kerja bakti pemeliharaan secara rutin. Strategi ini menumbuhkan rasa memiliki yang kuat di kalangan generasi muda terhadap fasilitas publik tersebut.
Mekanisme regenerasi pengelolaan bertumpu pada struktur karang taruna yang secara alami mengalami pergantian anggota dari waktu ke waktu, sehingga keberlangsungan pengelolaan lapangan tidak bergantung pada satu generasi pemuda maupun satu kepala desa tertentu.
Dalam jangka panjang, desa berencana mengintegrasikan pengelolaan sarana olahraga ini di bawah naungan BUMDes, yang akan menyewakan lahan parkir dan lapak pedagang untuk menghasilkan pendapatan asli desa, sehingga biaya perawatan rutin lapangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Dana Desa setiap tahun [3].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pembangunan Sorga di Desa Citalahab berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Biaya pembangunan yang terjangkau lewat gotong royong membuka peluang usaha kecil bagi pedagang di sekitar lapangan. | Biaya pembangunan hanya Rp50 juta berkat swadaya warga |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Pembangunan lapangan olahraga menyediakan fasilitas publik gratis untuk menjaga kebugaran dan kesehatan fisik warga desa. | Lapangan diakses gratis oleh pemuda setiap pagi dan sore |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Perubahan hutan belukar menjadi ruang publik inklusif menciptakan lingkungan desa yang lebih tertata dan ramah bagi masyarakat. | 85×80 meter lahan tidur berubah menjadi ruang publik |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | Aktivitas olahraga membantu mengalihkan pemuda dari bahaya narkoba dan tawuran, mendukung ketertiban sosial di desa. | Aktivitas olahraga rutin dilaporkan mengurangi potensi tawuran antarkampung |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi Pemerintah Desa, warga, dan Kementerian Desa PDTT menjadikan Sorga model nasional pemanfaatan Dana Desa. | Sorga dijadikan model dari 4 program prioritas desa Kemendes PDTT |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Strategi replikasi inovasi ini dilakukan dengan membagikan kisah sukses Citalahab melalui forum kepala desa, dan Pemerintah Kecamatan Banjar menjadikan inovasi ini sebagai proyek percontohan pemanfaatan Dana Desa yang efektif [4]. Harapannya, desa-desa lain bisa meniru langkah pemanfaatan lahan tidur menjadi fasilitas sosial produktif dengan biaya terjangkau.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Desa, PDTT, menjadikan Sorga Desa sebagai salah satu dari empat program prioritas pembangunan desa nasional, bersama Prukades, BUMDes, dan embung air desa [2], [5]. Rencana pengembangan lanjutan mencakup penyediaan fasilitas cabang olahraga lain seperti bola voli dan bulu tangkis, memperluas manfaat kesehatan dan sosial bagi warga desa lain yang ingin mereplikasi model ini.
Daftar Pustaka
[1] Kompas Money, “Cerita di Balik Sorga Desa Citalahab,” Kompas.com, 4 Sep. 2017. [Online]. Tersedia: https://money.kompas.com/read/2017/09/04/084953926/cerita-di-balik-sorga-desa-citalahab
[2] Inovasi Desa, “ID 00982: Desa Citalahab Bangun Sarana Olahraga dari Hutan Belukar untuk Jauhkan Pemuda dari Narkoba,” inovasi.web.id, 13 Feb. 2020. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-citalahab-bangun-sarana-olahraga-dari-hutan-belukar-untuk-jauhkan-pemuda-dari-narkoba/
[3] Merdeka, “Mendes PDTT Lakukan Tendangan Penalti di Sorga Desa Pandeglang,” merdeka.com, Sep. 2017. [Online]. Tersedia: https://www.merdeka.com/peristiwa/mendes-pdtt-lakukan-tendangan-penalti-di-sorga-desa-pandeglang.html
[4] Tempo, “Mendes PDTT Lakukan Tendangan Pembuka di Sorga Desa Pandeglang,” Tempo.co, 3 Sep. 2017. [Online]. Tersedia: https://www.tempo.co/info-tempo/mendes-pdtt-lakukan-tendangan-pembuka-di-sorga-desa-pandeglang-1244347
[5] Sekretariat Negara RI, “Siaran Pers Kemendes PDTT: Empat Program Prioritas Desa Dorong Pertumbuhan Ekonomi Pandeglang,” setneg.go.id, 2017. [Online]. Tersedia: https://www.setneg.go.id/baca/index/siaran_pers_kemendes_pdtt_empat_program_prioritas_desa_dorong_pertumbuhan_ekonomi_pandeglang
[6] Kontributor Wikipedia, “Citalahab, Banjar, Pandeglang,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Citalahab,_Banjar,_Pandeglang