Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Cibiruwetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menginisiasi program Bebas TBC melalui pembentukan kader relawan komunitas bernama Kahartos, akronim dari Kader Harapan Temukan Obati Sampai Sembuh [1]. Program ini menggerakkan warga desa sebagai garda terdepan deteksi dini tuberkulosis, menjemput bola langsung ke rumah-rumah warga yang menunjukkan gejala batuk kronis, mengumpulkan sampel dahak, dan mendampingi proses pengobatan dari awal hingga tuntas sembuh. Pada 2015, Desa Cibiruwetan dinobatkan sebagai Desa Peduli TBC pertama di Provinsi Jawa Barat, sebuah prestasi yang mencerminkan efektivitas model berbasis komunitas dalam menekan penyebaran penyakit infeksi menular ini [1]. Kini inovasi ini diakui oleh Kementerian Dalam Negeri melalui platform Tuxedovation BSKDN sebagai model inovasi desa yang signifikan dalam upaya eliminasi TBC [2].

 

Latar Belakang

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara dan masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Indonesia menanggung beban TBC yang berat, dengan lebih dari 1.060.000 kasus baru tercatat setiap tahun secara nasional, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia [4].

Di Desa Cibiruwetan, tingginya kepadatan permukiman dan intensitas interaksi sosial harian menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran bakteri TBC [3]. Masalah yang memperburuk kondisi adalah rendahnya kesadaran warga untuk memeriksakan gejala batuk kronis yang mereka anggap biasa. Rasa malu, stigma sosial terhadap penderita TBC, dan minimnya edukasi kesehatan membuat banyak kasus tidak pernah terdeteksi hingga infeksi sudah menyebar ke orang-orang terdekat penderita [1].

Kepala Desa Asep Hasan Sazili, yang mulai menjabat pada 2013, menangkap peluang untuk mengubah paradigma penanganan TBC dari yang semata menunggu pasien datang ke puskesmas menjadi aktif menjemput bola langsung ke rumah warga [1]. Filosofi ini sejalan dengan temuan riset yang menunjukkan bahwa tanpa penjaringan aktif (active case finding) di komunitas, kasus-kasus TBC di desa terpencil akan terus luput dari sistem kesehatan formal [5].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pemberdayaan komunitas berbasis kader kesehatan desa melalui pembentukan satuan relawan TB Care Kahartos, model community-based active case finding yang menempatkan warga terlatih sebagai ujung tombak deteksi dan pendampingan TBC di tingkat rukun warga [2]. Yayasan Aisyiyah diundang sebagai mitra yang memberikan pelatihan teknis kepada kader pertama, meletakkan fondasi ilmiah bagi gerakan sukarela ini [1].

Secara teknis, setiap kader Kahartos bertugas mendatangi warga yang menunjukkan gejala TBC, terutama batuk lebih dari dua minggu, untuk meminta dan mengumpulkan sampel dahak menggunakan alat yang disediakan puskesmas. Sampel dahak kemudian diantarkan ke Puskesmas Cibiru Hilir untuk diperiksa menggunakan metode mikroskopik; hasil positif segera ditindaklanjuti dengan pendampingan pengobatan intensif yang membutuhkan waktu minimal enam bulan hingga tuntas [3], [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses implementasi dimulai pada 2013 di bawah kepemimpinan Kepala Desa Asep Hasan Sazili dengan hanya dua orang relawan perintis [1]. Kedua pionir ini mendapatkan pelatihan teknis dari Yayasan Aisyiyah, mencakup identifikasi gejala TBC, teknik pengambilan sampel dahak yang aman, komunikasi persuasif dengan pasien, dan pendampingan kepatuhan minum obat.

Pemerintah Desa Cibiruwetan kemudian merekrut 19 kader tambahan secara bertahap, sehingga total kader Kahartos berkembang menjadi 21 orang yang mewakili setiap wilayah Rukun Warga (RW) di seluruh desa [1]. Penempatan satu kader per RW adalah keputusan strategis: kader mengenal warganya secara personal dan bisa membangun kepercayaan yang tidak mudah dibangun oleh tenaga kesehatan yang datang sekali lalu pergi.

Perjalanan tidak selalu mulus: pada fase awal, kader sering menghadapi penolakan dari warga yang menolak memberikan sampel dahak karena takut hasilnya positif dan identitasnya diketahui tetangga [1]. Penolakan ini menjadi pelajaran yang mendorong tim kader mengoreksi pendekatannya: alih-alih langsung masuk ke prosedur medis yang terasa mengancam, kader mengembangkan pendekatan komunikasi empatik, mendahulukan obrolan santai dan membangun rasa aman sebelum meminta sampel. Proses uji-coba dalam strategi komunikasi inilah yang menghasilkan kepiawaian kader meyakinkan warga yang paling skeptis sekalipun untuk bersedia diperiksa [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terberat yang terus membayangi langkah para kader adalah stigma sosial yang masih kuat terhadap penderita TBC. Pasien TBC sering memilih menyembunyikan kondisinya karena takut dikucilkan dari lingkungan sosial, ketakutan yang memperlambat proses deteksi dini karena warga yang paling berisiko justru paling aktif menghindari pemeriksaan [1], [5]. Kendala ini dimitigasi melalui pendekatan komunikasi empatik kader yang mengutamakan pembangunan rasa aman dan kepercayaan personal sebelum meminta sampel dahak.

Tantangan kedua adalah menjaga stamina dan konsistensi kader dalam jangka panjang, mengingat tugas mereka membutuhkan kunjungan rumah rutin, waktu, energi, dan keterampilan komunikasi yang tidak sedikit. Penolakan berulang dari warga berdampak pada demotivasi kader baru yang belum berpengalaman menghadapi resistensi lapangan [1]. Kendala ini dimitigasi melalui sistem mentoring antarkader, di mana kader senior berbagi strategi komunikasi kepada kader junior, mekanisme transfer pengetahuan informal yang nilainya tidak kalah dengan pelatihan formal.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah komitmen kelembagaan Pemerintah Desa Cibiruwetan yang mengalokasikan dana operasional tetap dari APBDesa untuk membiayai seluruh kegiatan kader setiap tahun [1]. Kepastian anggaran ini menjadi sinyal bahwa program ini adalah prioritas resmi desa, bukan kegiatan sukarela yang bisa dihentikan kapan pun.

Faktor kedua adalah desain insentif yang dirancang Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Cibiruwetan berupa penghargaan bulanan kepada kader yang berhasil mengumpulkan sampel dahak terbanyak [1]. Sistem kompetisi positif ini menjaga motivasi kader tetap tinggi. Kemitraan dengan Puskesmas Cibiru Hilir yang menyediakan alat pengambilan sampel, pemeriksaan laboratorium, dan pendampingan medis lanjutan melengkapi ekosistem dukungan yang membuat kader bisa bekerja dengan kompetensi yang terjamin [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling bersejarah dari inovasi ini adalah dinobatkannya Desa Cibiruwetan sebagai Desa Peduli TBC pertama di Provinsi Jawa Barat pada 2015, pengakuan yang datang hanya dua tahun setelah program dimulai [1]. Pengakuan nasional juga datang dari Kementerian Dalam Negeri yang mendaftarkan Kahartos dalam platform inovasi Tuxedovation BSKDN sebagai model unggulan penanggulangan TBC berbasis komunitas [2].

Menurut dokumentasi program, kader Kahartos berhasil mendeteksi 115 suspek TBC pada 2017 dengan 10 warga terkonfirmasi positif, meningkat menjadi 124 suspek terdeteksi dengan 11 kasus positif pada 2018 [1]. Puskesmas Cibiru Hilir yang menjadi mitra rujukan turut mencatat penemuan puluhan kasus positif TBC dalam periode enam bulan pada tahun-tahun berikutnya, menunjukkan cakupan deteksi yang terus berjalan [3].

Dampak sosial yang nyata adalah pergeseran budaya kesehatan masyarakat Cibiruwetan: warga kini lebih terbuka membicarakan TBC dan menyadari bahwa batuk kronis adalah sinyal yang harus segera dilaporkan ke kader [1]. Desa Cibiruwetan kini juga bekerja sama dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dalam program Active Case Finding yang memperluas cakupan deteksi dini [6]. Model kader berbasis desa semacam ini sejalan dengan kebijakan provinsi; Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, dalam konteks penguatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC secara umum, menegaskan bahwa eliminasi TBC memerlukan kekompakan dan sinergi lintas sektor hingga ke tingkat desa [7].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Program TB Care Kahartos didanai melalui alokasi dana operasional tetap dari APBDesa Cibiruwetan yang dicairkan rutin setiap tahun untuk membiayai seluruh kegiatan kader [1]. Sebagai layanan kesehatan publik berbasis komunitas, program ini tidak memiliki model pendapatan komersial; pemeriksaan dan pengobatan bagi warga sepenuhnya gratis melalui kemitraan dengan Puskesmas Cibiru Hilir.

Skema insentif kader dikelola LPMD Cibiruwetan melalui penghargaan bulanan bagi kader dengan capaian pengumpulan sampel dahak terbanyak, mekanisme yang menjaga motivasi tanpa membebani anggaran desa secara berlebihan [1]. Keberlanjutan pembiayaan diperkuat lewat kemitraan dengan Stop TB Partnership Indonesia yang turut menyuntikkan sumber daya dan pelatihan lanjutan [6].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menempatkan satu kader per Rukun Warga, alih-alih mengandalkan tenaga kesehatan luar yang tidak mengenal warga secara personal, terbukti menjadi kunci membangun kepercayaan yang tidak bisa dibeli dengan anggaran berapa pun [1]. Mengintegrasikan program ke dalam struktur APBDesa resmi sejak awal, alih-alih membiarkannya sebagai inisiatif sukarela semata, juga terbukti melindungi program dari risiko terhenti akibat pergantian kepemimpinan.

Jika memulai dari awal, pelatihan komunikasi empatik untuk menghadapi penolakan warga idealnya menjadi bagian kurikulum dasar kader sejak perekrutan pertama, bukan ditemukan lewat trial-and-error setelah penolakan berulang terjadi di lapangan. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengalokasikan anggaran operasional resmi sejak tahap awal, menjalin kemitraan pelatihan dengan lembaga kesehatan atau organisasi masyarakat, dan merancang sistem insentif kader yang terukur dan adil sejak program dimulai.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program ini dijamin secara kelembagaan melalui alokasi dana tetap dari APBDesa yang dicairkan rutin untuk membiayai operasional seluruh kegiatan kader [1]. Integrasi program TB Care Kahartos dalam struktur anggaran desa yang resmi memastikan program tidak berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan kepala desa, risiko yang umum menghentikan inovasi berbasis personal kepemimpinan di banyak desa lain.

Kemitraan dengan Stop TB Partnership Indonesia yang aktif dalam beberapa tahun terakhir memperkuat keberlanjutan program dengan menyuntikkan sumber daya, pelatihan lanjutan, dan jaringan advokasi yang melampaui kemampuan desa secara mandiri [6]. Pendaftaran inovasi Kahartos dalam platform Tuxedovation BSKDN Kementerian Dalam Negeri memastikan dokumentasi dan visibilitas program terjaga secara nasional [2].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program TB Care Kahartos berkontribusi secara langsung pada beberapa tujuan SDGs, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan TBC adalah penyakit yang berkaitan erat dengan kemiskinan; warga yang sakit kehilangan kemampuan bekerja dan menguras tabungan keluarga untuk biaya pengobatan. Deteksi dini dan pengobatan gratis mencegah warga jatuh sakit parah. Pengobatan TBC bagi warga terkonfirmasi positif diberikan gratis melalui Puskesmas Cibiru Hilir.
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera TB Care Kahartos berkontribusi pada target SDGs 3.3 yang bertujuan mengakhiri epidemi TBC pada 2030, memutus rantai penularan secara aktif di tingkat komunitas. 115 suspek terdeteksi (10 positif) pada 2017; 124 suspek terdeteksi (11 positif) pada 2018.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Program kader berbasis komunitas menjangkau warga yang paling sulit diakses sistem kesehatan formal, mendemokratisasi akses layanan kesehatan bagi warga yang selama ini tersisih karena stigma atau keterbatasan waktu. 21 kader Kahartos tersebar mewakili setiap wilayah Rukun Warga di Desa Cibiruwetan.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh Integrasi program dalam struktur APBDesa dan LPMD Cibiruwetan membangun kelembagaan desa yang lebih tangguh dalam menyediakan layanan publik dasar bagi warganya. Program TB Care Kahartos tercatat resmi dalam APBDesa dan diakui platform Tuxedovation BSKDN.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model TB Care Kahartos memiliki keunggulan replikasi yang krusial: biaya implementasinya rendah namun dampaknya tinggi. Program ini tidak membutuhkan peralatan medis canggih, gedung baru, atau teknologi mahal, cukup kader warga yang terlatih, komitmen kepala desa mengalokasikan anggaran rutin, dan kemitraan dengan puskesmas setempat sebagai pintu rujukan pemeriksaan [1], [5].

Jawa Barat telah mengembangkan program Desa Siaga TBC yang mendorong replikasi model berbasis komunitas serupa di seluruh kabupaten/kota, dengan Desa Cibiruwetan menjadi salah satu rujukan praktik baik [8]. Stop TB Partnership Indonesia yang bermitra aktif dengan Cibiruwetan membuka peluang scale up nasional melalui jaringan program eliminasi TBC yang menyasar puluhan provinsi dan ratusan kabupaten/kota [9].

 

Daftar Pustaka

[1] Tim Kerja Inovasi Desa Kemendes PDTT, “ID 00839: Desa Cibiruwetan Pelopori Kader Peduli TB di Jawa Barat,” inovasi.web.id, 22 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/id-00839/.

[2] Tuxedovation BSKDN Kemendagri, “KAHARTOSS (Kader Harapan Temukan Obati Sampai Sembuh) — Inovasi Penanggulangan TBC Wilayah Kerja Puskesmas Cibiru Hilir,” tuxedovation.inovasi.bskdn.kemendagri.go.id. [Daring]. Tersedia: https://tuxedovation.inovasi.bskdn.kemendagri.go.id/detail_inovasi/160806.

[3] Jabar Herald, “Dalam Enam Bulan, Puskesmas Cibiru Hilir Temukan 24 Kasus Positif TBC,” jabar.herald.id, 13 Jul. 2022. [Daring]. Tersedia: https://jabar.herald.id/2022/07/13/dalam-enam-bulan-puskesmas-cibiru-hilir-temukan-24-kasus-positif-tbc/.

[4] Ekuatorial / USAID, “Pemkot Bandung dan USAID Gulirkan Program Bebas TBC,” ekuatorial.com, 29 Mei 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.ekuatorial.com/2024/05/pemkot-bandung-dan-usaid-gulirkan-program-bebas-tbc/.

[5] M. A. Safitri et al., “Pelatihan Skrining Kasus TB pada Kader Kesehatan untuk Meningkatkan Penemuan Suspek TBC di Wilayah Puskesmas,” Jurnal Healthcare, Payung Negeri, vol. 13, no. 1, Jun. 2024, hal. 119–127. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.payungnegeri.ac.id/index.php/healthcare/article/download/451/250/.

[6] Instagram Stop TB Partnership Indonesia — Desa Cibiru Wetan, “Active Case Finding Tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis, Kerja Sama dengan STPI,” instagram.com, 14 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DV7qmjFElz7/.

[7] Liputan6.com, “Tanggulangi Penyakit TBC, Wagub Jabar Minta Dukungan Seluruh Sektor,” liputan6.com, 17 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/6106012/tanggulangi-penyakit-tbc-wagub-jabar-minta-dukungan-seluruh-sektor.

[8] SlideShare, “Aksi Nyata dan Inovasi Provinsi Jawa Barat Menuju Eliminasi TBC — Desa/Kelurahan Siaga TBC di Jawa Barat,” slideshare.net, 26 Agt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.slideshare.net/slideshow/rev_aksi-nyata-dan-inovasi-provinsi-jawa-barat-menuju-eliminasi-tbc_subang_26ags25-pptx/283.

[9] TB Komunitas, “KAK Seleksi SSR SR Komunitas Eliminasi TBC Provinsi Jawa Barat — Program GF TB 2024–2026,” tbckomunitas.id, Okt. 2024. [Daring]. Tersedia: https://tbckomunitas.id/wp-content/uploads/2024/10/KAK-Seleksi-SSR-SR-Jawa-Barat.pdf.

Data Inovasi

Nama Inovasi
TB Care Kahartos — Kader Harapan Temukan Obati Sampai Sembuh, Program Bebas TBC Desa Cibiruwetan
Alamat
Desa Cibiruwetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Asep Hasan Sazili (Kepala Desa Cibiruwetan periode 2013–2019, penggagas TB Care Kahartos), bersama Pemerintah Desa Cibiruwetan dan Puskesmas Cibiru Hilir
Kontak
Website https://cibiruwetan.desa.id, Instagram @kahartosstbc_cibiruwetan, Telepon +62-812-2165-3542 (Hadian Supriatna, Kepala Desa Cibiruwetan saat ini)
Lokasi