Ringkasan Inovasi

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan pengolahan limbah minyak goreng (jelantah) menjadi Refined Used Cooking Oil (R-UCO) sejak 2014 [2]. Program ini digagas Lurah (Kepala Desa) Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, untuk mengatasi pencemaran sungai akibat limbah jelantah rumah tangga sekaligus mencegah peredaran minyak jelantah rekondisi yang membahayakan kesehatan [1]. Melalui 11 unit Bank Tigor (tilasan gorengan) yang tersebar di 118 Rukun Tetangga, BUMDes membeli jelantah warga seharga Rp2.000 per liter untuk diolah lebih lanjut [1]. Hasil olahan ini dijual sebagai campuran bahan bakar kepada PT Tirta Investama (Danone Aqua) sejak kerja sama resmi ditandatangani pada 2016. Omzet BUMDes dari program ini melonjak dari Rp700 juta pada 2015 menjadi Rp1,5 miliar pada 2016 [1]. Namun, kerja sama dengan Danone Aqua berhenti pada 2018, dan kini TPS3R Panggungharjo hanya mengumpulkan jelantah dalam skala jauh lebih kecil tanpa lagi mengolahnya menjadi bahan bakar [3].

 

Latar Belakang

Desa Panggungharjo terletak di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas wilayah 5,61 kilometer persegi dan penduduk sekitar 28.571 jiwa yang terbagi dalam 14 pedukuhan [4]. Desa yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta ini menjadi kawasan permukiman padat dengan kepadatan penduduk mencapai lebih dari 5.000 jiwa per kilometer persegi, menjadikannya salah satu desa terpadat di kawasan aglomerasi perkotaan Yogyakarta [4].

Pesatnya pertumbuhan permukiman di Desa Panggungharjo membuat persoalan sampah dan limbah rumah tangga terus berkembang, termasuk limbah minyak goreng bekas atau jelantah yang kerap dibuang sembarangan oleh warga [2]. Kebiasaan ini mencemari sungai desa, sementara minyak jelantah yang tidak terkelola berisiko direkondisi dan diedarkan kembali untuk dikonsumsi, padahal minyak rekondisi tidak baik bagi kesehatan jika dikonsumsi [1].

Momentum penanganan masalah ini muncul ketika Lurah Wahyudi Anggoro Hadi mengetahui bahwa Danone Aqua tengah mencari cara menekan emisi karbon operasional pabriknya, membuka peluang kemitraan pengolahan limbah jelantah menjadi bahan bakar alternatif [1]. BUMDes Panggung Lestari kemudian mulai menghimpun minyak jelantah dari warga sejak 2014, sebelum kerja sama formal dengan Danone Aqua ditandatangani pada 2016 [2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengolahan minyak jelantah menjadi Refined Used Cooking Oil (R-UCO) melalui proses pemurnian, menjadikannya bahan bakar alternatif pengganti solar [1]. Gagasan ini lahir dari kebutuhan mengatasi pencemaran sungai sekaligus mencari sumber pendapatan baru bagi desa, memanfaatkan limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

BUMDes membentuk 11 unit Bank Tigor (tilasan gorengan) yang dikelola perwakilan PKK di tingkat RT untuk menghimpun jelantah dari 118 RT di Desa Panggungharjo [1]. Bank Tigor membeli jelantah dari warga seharga Rp2.000 per liter, lalu menjualnya ke BUMDes seharga Rp4.000 per liter. Setelah dimurnikan, BUMDes menjual R-UCO kepada PT Tirta Investama Klaten sebagai campuran bahan bakar genset, forklift, dan boiler pabrik, dengan komposisi sekitar 20 hingga 30 persen R-UCO dicampur solar industri [1].

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada kemitraan langsung dengan perusahaan multinasional sebagai pembeli tetap, alih-alih hanya mengandalkan pasar lokal untuk produk daur ulang limbah. Pendekatan ini membedakan Panggung Lestari dari pengelolaan limbah desa konvensional yang umumnya berhenti pada aspek pengumpulan tanpa kepastian pasar jangka panjang.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai pada 2014 ketika BUMDes Panggung Lestari mulai menghimpun minyak jelantah dari masyarakat dan lingkungan sekitar, termasuk pabrik tahu dan restoran [2]. Kerja sama dengan Danone Aqua diformalkan pada 2016, ditandatangani Lurah Wahyudi Anggoro Hadi bersama Direktur Danone saat itu, Karyanto Wibowo [3].

Pada tahap awal kerja sama, BUMDes kesulitan memenuhi target pasokan 8.000 liter R-UCO per bulan yang diminta Danone Aqua [1]. Pasokan jelantah dari warga hanya mencukupi sekitar 5.000 liter per bulan, meski BUMDes telah menambah tenaga pengumpul. BUMDes mengoreksi kesenjangan pasokan ini dengan memperluas jangkauan penghimpunan hingga ke daerah lain seperti Gunung Kidul, Purworejo, dan Temanggung, serta menggandeng industri kuliner seperti rumah makan dan hotel [1]. Produksi R-UCO tercatat mencapai 32.000 hingga 33.000 liter pada 2016, turun menjadi sekitar 27 ton pada 2017 [3].

Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya memperhitungkan kapasitas pasokan bahan baku secara realistis sebelum menandatangani komitmen volume dengan mitra industri besar. Kesenjangan antara target dan realisasi pasokan terbukti menjadi tantangan berkelanjutan hingga akhirnya kerja sama tidak lagi berlanjut pada 2018 [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan pasokan minyak jelantah dari warga, dengan hanya sekitar 1.700 dari total 9.300 kepala keluarga atau sekitar 18 persen yang berpartisipasi menghimpun jelantah melalui Bank Tigor [2]. BUMDes memitigasi keterbatasan ini dengan memperluas jaringan pengumpulan ke luar desa dan menggandeng industri kuliner sebagai sumber pasokan tambahan [1].

Tantangan eksternal berupa ketergantungan pada satu mitra industri besar, Danone Aqua, membuat keberlanjutan program rentan terhadap keputusan bisnis perusahaan tersebut. Ketergantungan ini terbukti menjadi kendala nyata ketika kerja sama akhirnya dihentikan pada 2018 tanpa alasan yang diungkap secara terbuka oleh pengelola [3].

Tantangan lain adalah minimnya diversifikasi pembeli R-UCO, sehingga ketika kerja sama dengan Danone berakhir, BUMDes tidak memiliki mitra pengganti untuk menyerap hasil olahan dalam skala serupa. Pemerintah desa memitigasi dampak ini dengan menyesuaikan skala operasi, kini berfokus pada pengumpulan dan penjualan jelantah mentah kepada berbagai perusahaan dengan syarat ketat larangan konsumsi, alih-alih mengolahnya sendiri menjadi bahan bakar [3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama pada masa kejayaan program adalah kepemimpinan Lurah Wahyudi Anggoro Hadi, seorang apoteker yang dikenal luas atas berbagai inovasi tata kelola Desa Panggungharjo [5]. Ia proaktif menjajaki kemitraan dengan perusahaan multinasional, didukung kelembagaan Bank Tigor yang melibatkan kader PKK di tingkat RT untuk menghimpun jelantah secara terstruktur [1].

Faktor kedua adalah kesesuaian kebutuhan antara desa dan mitra industri, karena Danone Aqua saat itu tengah mencari solusi menekan emisi karbon, sementara desa memiliki pasokan limbah yang perlu dikelola. Kesesuaian kebutuhan semacam ini menjadi fondasi kemitraan yang saling menguntungkan, meski pada akhirnya tidak bertahan permanen [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum program berjalan, limbah jelantah rumah tangga di Desa Panggungharjo mencemari sungai dan berisiko direkondisi untuk dikonsumsi kembali. Setelah program berkembang, omzet BUMDes Panggung Lestari dari pengolahan jelantah melonjak dari Rp700 juta pada 2015 menjadi Rp1,5 miliar pada 2016, dengan produksi mencapai 32.000-33.000 liter R-UCO per tahun [1].

Program ini turut menekan peredaran minyak jelantah rekondisi yang membahayakan kesehatan, sekaligus memberi penghasilan tambahan bagi warga yang menjual jelantah ke Bank Tigor [1]. Keberhasilan awal ini menjadikan BUMDes Panggung Lestari dikenal luas sebagai salah satu BUMDes percontohan di Indonesia dalam pengelolaan limbah berbasis komunitas [4].

Dampak yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal justru muncul setelah kerja sama dengan Danone Aqua berhenti pada 2018 [3]. BUMDes harus menyesuaikan skala operasi dari pengolahan bahan bakar bernilai tinggi menjadi sekadar pengumpulan dan penjualan jelantah mentah melalui 22 bank sampah dengan volume sekitar 150 liter per bulan. Penyusutan skala ini menjadi pengingat bahwa kemitraan dengan satu mitra industri besar perlu diimbangi strategi diversifikasi pasar sejak awal.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Model bisnis awal berbasis rantai nilai bertingkat: warga menjual jelantah ke Bank Tigor seharga Rp2.000 per liter, dan Bank Tigor menjualnya ke BUMDes seharga Rp4.000 per liter [1]. BUMDes kemudian menjual hasil olahan R-UCO ke Danone Aqua seharga Rp7.250 hingga Rp8.600 per liter. Model ini memberi margin keuntungan bertingkat bagi setiap simpul rantai pasok, dari warga hingga BUMDes.

Setelah kerja sama dengan Danone Aqua berakhir pada 2018, model bisnis bergeser menjadi penjualan jelantah mentah tanpa pengolahan lanjutan [3]. Harga beli dari warga kini sekitar Rp6.500 per liter melalui 22 bank sampah, dengan penjualan ke perusahaan sekitar Rp10.000 per kilogram. Skala pendapatan dari model baru ini jauh lebih kecil dibandingkan puncak kejayaan program pada 2016, mencerminkan perubahan strategi dari pengolahan bernilai tambah tinggi menjadi perdagangan bahan baku sederhana.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan membentuk Bank Tigor berbasis kader PKK di tingkat RT terbukti menjadi keputusan kunci yang mempermudah penghimpunan jelantah secara terstruktur dari warga. Keputusan menjajaki kemitraan dengan perusahaan multinasional seperti Danone Aqua juga terbukti mampu mendongkrak omzet BUMDes secara signifikan pada masa kejayaannya.

Jika memulai dari awal, BUMDes Panggung Lestari dapat mempertimbangkan diversifikasi pembeli R-UCO sejak tahap awal kerja sama dengan Danone Aqua, alih-alih bergantung pada satu mitra industri tunggal. Pengalaman berakhirnya kerja sama pada 2018 menjadi pelajaran bahwa ketergantungan pada satu mitra besar berisiko tinggi bagi keberlanjutan usaha desa jangka panjang.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan membangun kelembagaan pengumpulan berbasis komunitas seperti Bank Tigor sejak awal, namun juga menjajaki lebih dari satu mitra pembeli sebelum menandatangani komitmen volume produksi tertentu. Menyiapkan rencana cadangan berupa model bisnis alternatif, seperti penjualan bahan mentah, juga disarankan agar usaha tetap berjalan meski kerja sama utama berakhir.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan pengelolaan jelantah di Panggungharjo kini bertumpu pada jaringan 22 bank sampah yang tetap menghimpun minyak jelantah warga meski tanpa pengolahan lanjutan menjadi bahan bakar [3]. Model yang lebih sederhana ini dipilih agar program tetap berjalan secara berkelanjutan meski dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan masa kejayaan kerja sama dengan Danone Aqua.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan telah teruji secara nyata, ketika Wahyudi Anggoro Hadi mengundurkan diri sebagai Lurah Panggungharjo pada September 2024 untuk maju dalam Pilkada Bantul [6]. Ia digantikan Ari Suryanto yang terpilih melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu pada 8 Desember 2024. Pelembagaan BUMDes Panggung Lestari sebagai entitas usaha desa yang independen turut memastikan pengelolaan jelantah tetap berjalan lintas periode kepemimpinan.

Rencana keberlanjutan jangka panjang idealnya diarahkan pada penjajakan mitra pembeli baru untuk R-UCO, memanfaatkan kembali kapasitas pengolahan yang pernah dibangun BUMDes, alih-alih hanya menjual jelantah mentah dengan margin lebih rendah. Diversifikasi produk olahan BUMDes ke sektor lain turut menjadi strategi mengurangi ketergantungan pada satu lini usaha jelantah semata.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Pengolahan Limbah Minyak Jelantah BUMDes Panggung Lestari berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari konsumsi bertanggung jawab hingga penanganan perubahan iklim. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik pengelolaan limbah rumah tangga di Desa Panggungharjo sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Pengolahan jelantah menjadi R-UCO mencegah peredaran minyak rekondisi yang membahayakan kesehatan sekaligus memberi nilai ekonomi pada limbah rumah tangga. Omzet BUMDes dari jelantah mencapai Rp1,5 miliar pada puncaknya di 2016.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim R-UCO menggantikan sebagian solar sebagai bahan bakar industri, membantu Danone Aqua menekan emisi karbon operasional pabrik. R-UCO dicampur sekitar 20-30 persen dengan solar untuk genset, forklift, dan boiler pabrik.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Bank Tigor berbasis RT mengurangi pencemaran sungai akibat pembuangan jelantah sembarangan di kawasan permukiman padat Panggungharjo. Sebelas unit Bank Tigor menjangkau 118 RT, kini berkembang menjadi 22 bank sampah.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, kelembagaan pengumpulan berbasis komunitas seperti Bank Tigor yang melibatkan kader PKK di tingkat RT. Kedua, kemitraan dengan industri yang membutuhkan bahan bakar alternatif atau bahan baku daur ulang. Ketiga, diversifikasi mitra pembeli sejak awal agar program tidak bergantung pada satu perusahaan saja.

Estimasi biaya replikasi tahap awal relatif terjangkau karena mengandalkan jaringan pengumpulan berbasis RT tanpa investasi peralatan besar, sementara pengolahan lanjutan menjadi R-UCO memerlukan investasi peralatan pemurnian sesuai skala produksi yang ditargetkan. Durasi pengembangan dapat mengacu pada perjalanan Panggungharjo, yaitu sekitar dua tahun dari perintisan penghimpunan jelantah pada 2014 hingga kerja sama formal dengan Danone Aqua pada 2016.

Model pengumpulan limbah rumah tangga berbasis Bank Tigor ini dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan jenis limbah yang paling banyak dihasilkan di wilayah masing-masing, tidak terbatas pada minyak jelantah semata. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun Kementerian Desa PDTT berpeluang menjadikan model Bank Tigor sebagai rujukan replikasi, dengan catatan turut mengadopsi pelajaran diversifikasi mitra industri dari pengalaman Panggungharjo [3].

 

Daftar Pustaka

[1] Kompas.com, “Gara-gara Limbah Minyak Goreng, Desa Ini Hasilkan Ratusan Juta Rupiah,” nasional.kompas.com, 25 Apr. 2019. [Online]. Tersedia: https://nasional.kompas.com/read/2019/04/25/15091141/gara-gara-limbah-minyak-goreng-desa-ini-hasilkan-ratusan-juta-rupiah

[2] Kalurahan Panggungharjo, “Pasokan Minyak Jelantah Kurang, BUMDes Panggung Lestari Harapkan Masyarakat Desa Panggungharjo Bentuk Bank Tigor,” panggungharjo.desa.id. [Online]. Tersedia: https://www.panggungharjo.desa.id/pasokan-minyak-jelantah-kurang-bumdes-panggung-lestari-harapkan-masyarakat-desa-panggungharjo-bentuk-bank-tigor/

[3] Harian Jogja, “TPS3R Panggungharjo Tak Lagi Olah Minyak Jelantah,” jogjapolitan.harianjogja.com, 15 Jan. 2025. [Online]. Tersedia: https://jogjapolitan.harianjogja.com/r-1200995/tps3r-panggungharjo-tak-lagi-olah-minyak-jelantah

[4] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Panggungharjo, Sewon, Bantul,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Panggungharjo,_Sewon,_Bantul

[5] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Wahyudi Anggoro Hadi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Wahyudi_Anggoro_Hadi

[6] Radar Jogja, “Berkas Tiga Calon PAW Lurah Panggungharjo Pengganti Wahyudi Anggoro Hadi Diseleksi, Pemenangnya Ditetapkan Pada Pemilihan 8 Desember Mendatang,” radarjogja.jawapos.com. [Online]. Tersedia: https://radarjogja.jawapos.com/bantul/655274822/berkas-tiga-calon-paw-lurah-panggungharjo-pengganti-wahyudi-anggoro-hadi-diseleksi-pemenangnya-ditetapkan-pada-pemilihan-8-desember-mendatang

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pengolahan Limbah Minyak Jelantah menjadi Refined Used Cooking Oil (R-UCO)
Alamat
Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Inovator
BUMDes Panggung Lestari bersama Pemerintah Desa Panggungharjo (Lurah Wahyudi Anggoro Hadi)
Kontak
telepon/WhatsApp +62-813-2800-4697, website panggungharjo.desa.id
Lokasi