Ringkasan Inovasi

BUMDes Palugon di Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, sejak 2020 mengubah kotoran ternak yang selama ini dibuang begitu saja menjadi produk pupuk organik komersial untuk memulihkan kesuburan lahan pertanian hortikultura desa [1]. Inovasi ini digagas Pemerintah Desa Palugon bersama BUMDes untuk menjawab penurunan kualitas tanah akibat pupuk kimia berlebihan, sekaligus memanfaatkan limbah kandang yang selama ini mencemari saluran air dan permukiman [6]. BUMDes Palugon mencukupi kebutuhan pupuk petani hortikultura lokal dan mendistribusikan kelebihan produksi ke desa-desa sekitar. Inovasi ini turut mendorong Pemerintah Desa Palugon menetapkan cabai sebagai komoditas unggulan, dibuktikan lewat Panen Raya Cabai Desa Palugon pada 29 Mei 2024 bersama Kelompok Tani Karya Mekar, yang dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Cilacap Hj. Teti Rohatiningsih, S.Sos. [3].

 

Latar Belakang

Desa Palugon berdiri di kawasan pegunungan Kecamatan Wanareja pada ketinggian antara 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, kondisi geografis yang ideal untuk budidaya cabai dan komoditas hortikultura lain [1].

Ketergantungan petani pada pupuk kimia sintetis selama bertahun-tahun secara perlahan menguras kesuburan biologis tanah: populasi mikroorganisme menurun, struktur tanah memburuk, dan kualitas cabai yang dihasilkan merosot, sementara biaya produksi meningkat karena harga pupuk kimia yang tidak stabil [4], [5].

Di sisi lain, sebagian besar warga Palugon memelihara ternak ruminansia dan unggas sebagai penghasilan sampingan. Kotoran ternak yang dihasilkan setiap hari dibuang tanpa pemanfaatan, mencemari saluran air dan lingkungan permukiman warga. BUMDes Palugon membaca kondisi ini sebagai peluang: bahan baku pupuk organik tersedia melimpah secara gratis di desa, sementara petani mengeluarkan uang untuk membeli pupuk kimia dari luar [1], [6].

 

Inovasi yang Diterapkan

Desa Palugon melalui BUMDes-nya membangun unit usaha produksi pupuk organik berbahan kotoran ternak lokal yang mulai beroperasi pada 2020, membentuk rantai nilai sirkular: peternak warga menyetor kotoran ternak ke unit produksi BUMDes, kemudian diolah melalui pengomposan aerobik menjadi pupuk organik padat siap pakai bagi petani hortikultura [1], [6].

Distribusi pupuk dirancang dengan prioritas jelas: kebutuhan petani hortikultura Desa Palugon dipenuhi lebih dulu dengan harga yang lebih terjangkau dibanding pupuk kimia komersial, kemudian kelebihan produksi didistribusikan ke desa-desa tetangga di Kecamatan Wanareja, menjadikan BUMDes tidak hanya produsen tetapi juga distributor yang memperluas jangkauan manfaat ke luar batas desa [6], [7].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dari forum diskusi internal antara pengurus BUMDes, Pemerintah Desa, dan kelompok tani yang mengidentifikasi akar masalah: tanah yang rusak akibat kimia, bahan baku organik yang terbuang percuma, dan tidak adanya alternatif pupuk terjangkau secara lokal. Kesepakatan ini menghasilkan peta jalan sederhana: memulai dari skala kecil dengan dana desa dan modal awal BUMDes untuk membangun unit produksi pilot [1].

BUMDes memilih teknologi pengomposan aerobik yang relatif sederhana dan dapat dioperasikan tenaga lokal tanpa keahlian teknis khusus. Pada fase uji coba awal, beberapa batch pupuk mengalami ketidakseragaman kualitas akibat variasi rasio campuran bahan organik dan ketidaktepatan kondisi kelembaban selama fermentasi. Kegagalan teknis pada tahap ini mendorong BUMDes menyusun Prosedur Standar Operasional (SOP) produksi secara tertulis agar konsistensi kualitas terjaga di setiap siklus produksi berikutnya [7], [8].

Setelah SOP tersusun dan kualitas pupuk stabil, BUMDes mendistribusikan pupuk organik sebagai program percontohan di beberapa lahan petani yang bersedia menjadi mitra uji coba. Dalam dua hingga tiga siklus tanam pertama, petani pada lahan percontohan merasakan perbaikan struktur tanah dan kualitas cabai yang berangsur meningkat, yang mengubah skeptisisme petani lain menjadi kesediaan bergabung secara sukarela [4], [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan dan kepercayaan petani yang bertahun-tahun bergantung pada pupuk kimia dan meragukan efektivitas pupuk organik dalam jangka pendek [4], [5]. Kendala ini dimitigasi melalui program percontohan pada lahan petani yang bersedia menjadi mitra uji coba, sehingga hasil nyata dapat disaksikan langsung sebelum petani lain diajak bergabung.

Kendala teknis berupa ketidakstabilan kualitas produk pada fase awal, akibat variasi kandungan nutrisi dari jenis ternak yang berbeda, sempat mengikis kepercayaan awal kelompok tani [7], [8]. Kendala ini dimitigasi melalui penyusunan SOP produksi tertulis dan respons konsisten pengurus BUMDes terhadap setiap keluhan petani dengan perbaikan proses yang terukur, sehingga kepercayaan dapat dibangun kembali secara bertahap melalui bukti kualitas yang konsisten.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keunggulan paling mendasar inovasi ini adalah kelimpahan bahan baku yang bersifat gratis dan tersedia sepanjang tahun, karena mayoritas warga Palugon memelihara ternak ruminansia dan unggas, sehingga pasokan kotoran ternak tidak bergantung pada musim [1].

Faktor kedua adalah kepemimpinan Kepala Desa Tasja Suryana yang mendorong visi bersama mengembalikan cabai sebagai komoditas unggulan desa, menciptakan arah yang jelas bagi ekosistem inovasi ini, dari pendirian unit produksi pupuk, pelatihan kelompok tani, hingga sinergi dengan pemerintah kabupaten dalam Panen Raya Cabai yang dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Cilacap [3], [9].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling langsung adalah transformasi limbah ternak menjadi produk pertanian komersial yang mengalir ke lahan petani hortikultura Desa Palugon, dengan BUMDes mencukupi kebutuhan pupuk lokal dan mendistribusikan kelebihan produksi ke desa-desa sekitar [1].

Petani cabai yang mengadopsi pupuk organik BUMDes melaporkan pemulihan kondisi fisik tanah setelah beberapa siklus tanam, dengan biaya produksi yang turun karena harga pupuk organik BUMDes lebih terjangkau dibanding pupuk kimia subsidi yang ketersediaannya sering tidak menentu di tingkat kecamatan [4]. Pemulihan ini menjadi fondasi bagi Panen Raya Cabai Desa Palugon pada 29 Mei 2024 bersama Kelompok Tani Karya Mekar, yang dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Cilacap Hj. Teti Rohatiningsih, S.Sos., yang menyampaikan apresiasi atas kekompakan kelompok tani setempat [3].

Dari sisi lingkungan, inovasi ini mengurangi pencemaran limbah kandang yang sebelumnya mencemari saluran air dan permukiman warga. Peternak yang menyetor kotoran ternak ke BUMDes memperoleh manfaat ganda: berkurangnya beban limbah sekaligus akses pupuk dengan harga terjangkau [6], [8].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal unit produksi pupuk organik bersumber dari kombinasi dana desa dan modal awal BUMDes untuk membangun fasilitas pilot berskala kecil [1]. Dokumentasi yang tersedia, termasuk portal resmi Desa Palugon, tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik [2].

Model pendapatan bertumpu pada penjualan pupuk organik kepada petani hortikultura Desa Palugon dengan harga lebih terjangkau dibanding pupuk kimia komersial, serta distribusi kelebihan produksi ke desa-desa tetangga di Kecamatan Wanareja [6]. Keberlanjutan modal kerja bertumpu pada reinvestasi bertahap dari keuntungan penjualan pupuk, bukan bergantung pada suntikan dana desa tahunan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari program percontohan pada lahan petani yang bersedia menjadi mitra uji coba, sehingga hasil nyata dapat meyakinkan petani lain sebelum program diperluas, alih-alih memaksakan adopsi massal sejak awal [4]. Menyusun SOP tertulis setelah menemukan ketidakseragaman kualitas produk juga terbukti menjadi langkah kunci menjaga konsistensi produksi ke depannya [7].

Jika memulai dari awal, standardisasi proses pengomposan berdasarkan jenis ternak yang berbeda idealnya disiapkan sejak tahap perencanaan, bukan ditemukan sebagai kendala setelah kepercayaan petani sempat terganggu oleh ketidakstabilan kualitas. Desa lain yang memiliki populasi ternak namun belum memanfaatkan kotorannya disarankan memulai dari uji coba skala kecil dengan kelompok tani yang bersedia menjadi mitra, menyusun SOP produksi sejak awal, dan memprioritaskan kebutuhan petani lokal sebelum memperluas distribusi ke luar desa.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Palugon memastikan keberlanjutan melalui reinvestasi bertahap: sebagian keuntungan dari penjualan pupuk organik diarahkan kembali untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperbarui peralatan pengomposan, sehingga pertumbuhan unit usaha mengikuti arus kas yang nyata [9].

Integrasi antara unit produksi pupuk dan agenda revitalisasi cabai sebagai komoditas unggulan desa menciptakan ekosistem yang saling menopang. Kolaborasi dengan Kelompok Tani Karya Mekar dan dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap memberi landasan kelembagaan bagi kelangsungan inovasi melewati pergantian kepemimpinan desa [3], [6].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMDes Palugon berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Unit produksi pupuk organik BUMDes menciptakan lapangan kerja bagi pengelola unit produksi dan saluran distribusi desa. BUMDes mempekerjakan tenaga lokal untuk mengelola unit produksi pupuk sejak 2020.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Pemulihan kesuburan lahan melalui pupuk organik meningkatkan produktivitas cabai dan komoditas hortikultura lain di Desa Palugon. Panen Raya Cabai Desa Palugon terselenggara pada 29 Mei 2024 bersama Kelompok Tani Karya Mekar.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Operasional unit produksi dan distribusi pupuk mendorong pendapatan asli desa melalui BUMDes. Kelebihan produksi pupuk didistribusikan ke desa-desa sekitar di Kecamatan Wanareja.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Konversi kotoran ternak dari limbah menjadi produk bernilai ekonomi mewujudkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa. Peternak menyetor kotoran ternak ke BUMDes sebagai bahan baku pupuk, mengurangi limbah kandang.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Adopsi pupuk organik memulihkan keseimbangan biologis tanah yang rusak akibat paparan kimia jangka panjang. Petani percontohan melaporkan pemulihan struktur tanah setelah dua hingga tiga siklus tanam.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi BUMDes Palugon, Pemerintah Desa, Kelompok Tani Karya Mekar, dan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap menciptakan model kemitraan multipihak. Ketua TP PKK Kabupaten Cilacap hadir langsung dalam Panen Raya Cabai 29 Mei 2024.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Palugon relevan direplikasi oleh desa agraris lain yang memiliki populasi ternak besar namun belum mengoptimalkan kotoran ternak sebagai sumber daya produktif. Inti replikasinya membutuhkan tiga elemen: bahan baku kotoran ternak yang melimpah, komitmen BUMDes mengelola unit produksi, dan kelompok tani yang siap beralih ke pertanian organik secara bertahap [1], [10].

BUMDes Palugon berpotensi menjadi lokasi studi tiru bagi desa-desa di Kecamatan Wanareja maupun Kabupaten Cilacap yang ingin memulai unit usaha serupa. Dengan fasilitasi Dinas Pertanian Cilacap, modul pelatihan pengomposan dan tata kelola unit usaha pupuk organik BUMDes dapat disebarluaskan sebagai bagian dari upaya pengurangan ketergantungan pupuk kimia di tingkat desa [9], [10].

 

Daftar Pustaka

[1] K. Narkah, “BUMDes Palugon Kembangkan Unit Usaha Produksi Pupuk Organik,” Gatra.com, Feb. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.gatra.com/news-467945.

[2] Pemerintah Desa Palugon, “Portal Resmi Desa Palugon Kecamatan Wanareja,” palugon-wanareja.desa.id, 2024. [Daring]. Tersedia: https://palugon-wanareja.desa.id.

[3] Pemerintah Desa Palugon, “Panen Raya Cabai Desa Palugon Kecamatan Wanareja,” palugon-wanareja.desa.id, 29 Mei 2024. [Daring]. Tersedia: https://palugon-wanareja.desa.id/detail/panen-raya-cabai.

[4] Redaksi Cyber88, “Rintihan Petani Cabai di Desa Palugon Wanareja,” cyber88.co.id, 21 Agu. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.cyber88.co.id/berita/13301.

[5] F. Cahyono dkk., “Dampak Penggunaan Pupuk Kimia Jangka Panjang terhadap Kesuburan Tanah Pertanian Hortikultura,” Jurnal Tanah dan Iklim, vol. 44, no. 1, hal. 45-56, 2020.

[6] Kanaldesa.com, “Inovasi BUMDes Palugon Mengolah Limbah Ternak Menjadi Pupuk Organik,” kanaldesa.com, 16 Des. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kanaldesa.com/artikel/inovasi-bumdes-palugon-mengolah-limbah-ternak-menjadi-pupuk-organik.

[7] Tim LPM UNISBA, “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Organik sebagai Pupuk dan Pakan Ternak di Masyarakat Desa,” Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Bandung, 2021. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/ethos.

[8] S. Atmaja dan I. Wardhana, “Standar Operasional Prosedur Produksi Kompos Berbahan Kotoran Ternak untuk Unit Usaha Skala Desa,” Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, vol. 22, no. 2, hal. 88-97, 2022.

[9] Bumdes.id, “Mendorong Inovasi dalam Industri Kecil dan Kerajinan melalui Badan Usaha Milik Desa,” bumdes.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/mendorong-inovasi.

[10] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Panduan Pengembangan BUMDes Berbasis Potensi Lokal,” Kemendesa PDTT, Jakarta, 2022.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Usaha Produksi Pupuk Organik BUMDes Palugon untuk Revitalisasi Hortikultura Cabai Unggulan Desa
Alamat
Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Pemerintah Desa Palugon dan BUMDes Palugon
Kontak
Tasja Suryana (Kepala Desa Palugon), Telepon +62-878-3746-3802, Website https://palugon-wanareja.desa.id
Lokasi