Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi agrowisata berbasis lahan kas desa dengan mengalihfungsikan kebun durian Montong Cane seluas lima hektar yang dikelola BUMDes menjadi destinasi wisata petik buah langsung dari pohon [1], [8]. Kebun ini dibangun di atas bekas tanah pemakaman umum seluas tujuh hektar yang sebagian besar terlantar sejak lama, dan mulai ditanami durian pada 2012 [6]. Inovasi ini mengintegrasikan kebun durian produktif dengan embung desa dan Curug Bandung di kawasan pegunungan Wanareja, menjadikan Desa Limbangan sebagai simpul agrowisata terpadu [2]. Tujuan utama inovasi ini adalah mendiversifikasi sumber pendapatan desa, meningkatkan kesejahteraan 28 petani anggota Kelompok Tani, dan mempersingkat rantai distribusi buah durian dari petani langsung ke tangan konsumen wisatawan [4]. Keberhasilan agrowisata ini membuktikan bahwa lahan kas desa yang semula terlantar dapat dikelola BUMDes menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri [2].
Latar Belakang
Desa Limbangan berdiri di kawasan pegunungan Kecamatan Wanareja, wilayah Cilacap Barat yang dikenal dengan bentang alam hijau berupa sawah, perkebunan, dan aliran sungai dengan curug-curug alami yang belum banyak dikenal wisatawan luar, salah satunya Curug Bandung di Dusun Karanganyar yang hanya dapat dicapai lewat jalur setapak sekitar 500 meter dengan kemiringan curam [1], [3].
Lahan seluas tujuh hektar di Dusun Nangkabesar yang kini menjadi kebun durian sebelumnya adalah tanah pemakaman umum yang hanya sekitar 25 persen di antaranya benar-benar digunakan untuk pemakaman, sementara sisanya dibiarkan ditumbuhi semak dan tanaman liar bertahun-tahun. Kepala Desa Harsono menggambarkan kondisi ini sebagai lahan terlantar dengan struktur tanah yang tampak tidak ideal untuk bercocok tanam [6]. Sejak 2012, lahan ini ditanami durian Montong Cane dan dikelola secara konvensional oleh 28 petani anggota Kelompok Tani, sekadar memanen dan menjual buah ke pasar tanpa menambahkan nilai lebih melalui konsep wisata [4]. Pendapatan petani sangat bergantung pada fluktuasi harga durian di tingkat pasar, yang kerap merugikan petani saat produksi berlimpah namun permintaan tengkulak melemah [6].
BUMDes Limbangan yang telah terbentuk dan tercatat pada portal resmi desa belum beroperasi seproduktif yang direncanakan, sementara potensi aset desa terus menunggu untuk dioptimalkan [9]. Embung desa yang selesai dibangun sekitar satu kilometer dari Curug Bandung, jalur curug alami, serta produktivitas kebun buah yang mulai memasuki fase panen pada tahun ketiga sejak 2018 menciptakan peluang untuk diintegrasikan ke dalam satu sistem bisnis wisata terpadu [5], [1]. Kepala Desa Harsono menangkap momentum ini sebagai titik balik untuk mengubah BUMDes dari unit kelembagaan yang pasif menjadi motor aktif penggerak ekonomi desa [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Limbangan adalah mengalihfungsikan kebun durian lahan kas desa yang semula hanya menjadi kebun produksi biasa menjadi destinasi agrowisata petik buah langsung dari pohon. BUMDes merancang konsep wisata terpadu di mana wisatawan tidak hanya membeli durian, tetapi merasakan pengalaman memetik durian Montong Cane langsung di tengah kebun seluas lima hektar yang asri dan sejuk di pegunungan Wanareja [1], [2].
Inovasi ini bekerja dengan memadukan dua daya tarik sekaligus: kualitas premium durian Montong Cane yang berbobot antara 2,5 hingga 7 kilogram per buah dengan cita rasa manis legit berpadu aroma khas, dan pengalaman wisata alam autentik di pegunungan yang tidak bisa direplikasi di pasar konvensional manapun [6]. BUMDes merancang paket wisata terintegrasi yang menghubungkan kebun durian dengan embung desa untuk wisata perikanan rekreatif dan area piknik keluarga, serta jalur menuju Curug Bandung sebagai bagian dari paket ekowisata satu kawasan yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan [5], [3].
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama BUMDes adalah melakukan pemetaan aset dan potensi desa secara menyeluruh, mengidentifikasi kondisi pohon durian, kapasitas tampung embung, aksesibilitas jalur curug, dan kesiapan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata. Dari sekitar 600 bibit durian Montong Cane yang ditanam sejak 2012 atas inisiatif pemerintah desa berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, sekitar 100 pohon mati pada tahun-tahun awal akibat kekurangan pasokan air saat musim kemarau dan kerentanan terhadap penyakit, menyisakan sekitar 500 pohon yang bertahan hingga berproduksi [6]. Kegagalan awal ini mendorong petani dan pemerintah desa memperketat jadwal irigasi dan perawatan tanaman secara berkala, sehingga pohon-pohon yang tersisa dapat tumbuh hingga memasuki fase produktif pada tahun ketiga panen, dengan setiap pohon menghasilkan 20 hingga 60 butir buah per musim [6], [1].
Pemerintah desa secara paralel memprioritaskan perbaikan infrastruktur jalan desa sebagai prasyarat mutlak pengembangan pariwisata pedesaan. BUMDes kemudian memperbaiki tata kelola manajemen dengan mengadopsi sistem pencatatan keuangan yang lebih transparan, mekanisme pembagian hasil yang adil kepada petani anggota, dan sistem pemesanan kunjungan wisatawan yang lebih terstruktur agar arus pengunjung dapat diatur dan tidak merusak kebun [2], [4].
Koordinasi antara BUMDes dan 28 petani anggota juga memerlukan waktu untuk membangun kepercayaan bersama, karena petani yang terbiasa dengan pola panen-jual konvensional perlu diyakinkan bahwa model wisata petik durian akan memberikan nilai tambah lebih tinggi dan pendapatan lebih stabil daripada menjual kepada tengkulak. Pembelajaran dari fase transisi ini mendorong BUMDes melibatkan petani lebih intensif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, menjadikan mereka mitra aktif, bukan sekadar penyedia lahan [6], [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar adalah musimalitas produksi durian yang membuat agrowisata petik buah hanya dapat beroperasi optimal selama beberapa bulan musim panen dalam setahun. Kendala ini dimitigasi dengan mengembangkan daya tarik wisata alternatif di luar musim durian, yakni embung, Curug Bandung, dan wisata alam pegunungan, agar arus kunjungan dan pendapatan desa tidak terkonsentrasi hanya pada satu musim [7].
Kapasitas manajemen BUMDes yang masih perlu diperkuat menjadi kendala tersendiri karena pengelolaan wisata membutuhkan kompetensi baru di bidang pemasaran digital, manajemen pengalaman tamu, dan pengembangan paket wisata kreatif yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pengelola BUMDes saat ini [7]. Kendala ini dimitigasi melalui penguatan kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap untuk pendampingan tata kelola. Keterbatasan infrastruktur akses jalan yang terus dalam proses perbaikan juga sesekali membatasi kenyamanan kunjungan wisatawan dari daerah jauh, dan dimitigasi dengan menjadikan perbaikan jalan sebagai prioritas anggaran desa yang berjalan bertahap [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Ketersediaan aset produktif yang matang menjadi fondasi utama keberhasilan, kebun durian yang ditanam sejak 2012 dan mulai berproduksi pada tahun ketiga panen memberikan BUMDes modal alam yang tidak perlu dibangun dari nol, meski sempat kehilangan sekitar 100 dari 600 pohon pada masa awal penanaman. Jenis Montong Cane yang dipilih merupakan varietas unggulan dengan daya tarik pasar premium, sehingga mampu bersaing di segmen wisata agro yang semakin diminati wisatawan urban [6], [1].
Faktor kedua adalah kepemimpinan Kepala Desa Harsono yang mendorong sinergi nyata antara pemerintah desa, BUMDes, dan kelompok tani dalam satu visi bersama mengembangkan agrowisata terpadu. Komitmen pemerintah desa memperbaiki infrastruktur jalan sebagai enabler fundamental pengembangan wisata menunjukkan keseriusan mewujudkan kawasan agrowisata yang dapat dinikmati wisatawan dari berbagai daerah. Studi kasus agrowisata durian di berbagai daerah mengonfirmasi bahwa ketersediaan varietas unggulan, infrastruktur akses yang memadai, dan tata kelola BUMDes yang transparan adalah tiga pilar yang paling menentukan keberhasilan model serupa [6], [7].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sejak memasuki fase produksi pada tahun ketiga panen, kebun agrowisata Desa Limbangan menghasilkan panen berlimpah setiap musim, setiap pohon menghasilkan 20 hingga 60 butir buah berbobot 2,5 hingga 7 kilogram per buah, dengan harga jual berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram di tingkat grosir dan sekitar Rp50.000 per kilogram di tingkat eceran [6]. Produksi ini tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas, tetapi menjadi magnet wisata yang menarik pengunjung untuk datang langsung ke desa dan merasakan pengalaman petik durian dari pohon [4].
Dampak ekonomi yang paling nyata adalah terbukanya rantai nilai baru bagi seluruh ekosistem warga desa. Kunjungan wisatawan menggerakkan penjualan kuliner lokal di warung sekitar kawasan, membuka peluang industri kreatif berbasis olahan durian seperti dodol, bolu, dan keripik durian, serta meningkatkan pendapatan petani yang kini mendapatkan nilai jual lebih tinggi dari sistem wisata petik langsung dibandingkan menjual ke tengkulak [4], [2]. Model kolaborasi BUMDes Pesahangan dan Negarajati di Cimanggu, yang membangun agrowisata durian bernama Azizs Paradise di atas 500 pohon pada lima hektar lahan ditambah kemitraan tujuh hektare lahan Perhutani, membuktikan bahwa agrowisata durian berbasis BUMDes di Cilacap mampu menghasilkan pendapatan hingga miliaran rupiah, tolok ukur potensi skala yang bisa dicapai Desa Limbangan [2].
Embung desa yang telah rampung dibangun membuka lini wisata tambahan berupa perikanan rekreatif dan piknik keluarga yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan di desa [5]. Curug Bandung yang terhubung dalam paket wisata terpadu memperkuat daya tarik Desa Limbangan sebagai destinasi wisata alam lengkap, tidak hanya untuk pecinta durian, tetapi juga keluarga dan wisatawan alam yang mencari pengalaman autentik pegunungan Cilacap Barat [3], [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal penanaman kebun durian pada 2012, meskipun inisiatif ini berjalan atas koordinasi pemerintah desa dengan Dinas Pertanian, mengindikasikan dukungan anggaran desa dan pendampingan teknis dari dinas terkait sejak tahap perintisan [6]. Pembangunan embung desa turut menjadi bagian dari investasi infrastruktur desa yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata tambahan [5].
Model pendapatan bertumpu pada penjualan tiket petik buah langsung dari pohon dengan harga premium dibanding penjualan grosir konvensional (Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram di tingkat grosir versus sekitar Rp50.000 per kilogram bila dibeli langsung wisatawan), retribusi wisata embung dan curug, serta penjualan produk olahan durian seperti dodol dan bolu oleh warga sekitar kawasan [6], [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan mengubah lahan bekas pemakaman yang terlantar menjadi kebun produktif membuktikan bahwa aset desa yang tampak tidak bernilai sekalipun dapat diubah menjadi motor ekonomi jika dikelola dengan tekad dan pendampingan teknis yang tepat [6]. Kehilangan sekitar 100 dari 600 pohon pada masa awal penanaman juga menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan jangka panjang memerlukan investasi serius pada irigasi dan perawatan tanaman sejak tahun-tahun pertama, bukan hanya pada penanaman awal semata.
Jika memulai dari awal, kajian kesesuaian lahan dan sistem irigasi darurat musim kemarau idealnya disiapkan sebelum penanaman massal, mengingat seperlima lebih dari total bibit sempat mati karena kekurangan air. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari inventarisasi aset desa yang selama ini dianggap tidak produktif, memastikan pendampingan teknis pertanian sejak tahap penanaman, dan melibatkan petani sebagai mitra pengambil keputusan sejak awal, bukan sekadar penyedia lahan setelah kebun matang.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
BUMDes Limbangan merancang konsep wisata terpadu yang menghubungkan seluruh aset desa, kebun durian, embung, dan Curug Bandung, dalam satu paket kunjungan yang dapat dinikmati dalam satu hari penuh [1]. Integrasi aset ini memastikan wisatawan tidak hanya datang untuk satu atraksi sehingga nilai belanja per kunjungan meningkat dan multiplier effect ekonomi lokal tercipta secara optimal [2].
Untuk menjamin keberlanjutan produksi, BUMDes berencana melakukan peremajaan dan perluasan kebun secara bertahap dengan menanam varietas unggulan lain yang memiliki periode panen berbeda, sehingga musim agrowisata dapat diperpanjang. Penguatan kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap dan program pendampingan BUMDes dari pemerintah provinsi akan terus diprioritaskan untuk meningkatkan kapasitas tata kelola dan memperluas jangkauan pemasaran digital [6], [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Agrowisata Durian Montong Cane Desa Limbangan adalah contoh konvergensi pembangunan berkelanjutan di tingkat desa, di mana satu inovasi pengelolaan lahan kas desa mampu secara bersamaan menjawab dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial budaya, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Model wisata petik langsung memotong ketergantungan 28 petani anggota Kelompok Tani pada harga tengkulak yang fluktuatif, meningkatkan margin pendapatan petani secara langsung. | Harga jual petik langsung sekitar Rp50.000/kg, lebih tinggi dari harga grosir Rp35.000–40.000/kg ke tengkulak. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Pengelolaan kebun durian produktif seluas lima hektar oleh BUMDes menjamin kesinambungan produksi buah berkualitas, memperkuat basis pertanian hortikultura desa. | Sekitar 500 pohon durian produktif menghasilkan 20–60 butir buah per pohon setiap musim. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Agrowisata menciptakan lapangan kerja layak di berbagai lini: pengelola kebun, pemandu wisata, pengelola embung, penjaja kuliner, dan operator parkir. | 28 petani anggota Kelompok Tani terlibat langsung dalam pengelolaan kebun dan agrowisata. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pemanfaatan lahan kas desa bekas pemakaman terlantar dan embung sebagai kawasan wisata terpadu mengoptimalkan aset publik untuk kepentingan ekonomi dan rekreasi masyarakat. | Lahan bekas TPU seluas 7 hektare beralih fungsi menjadi kebun agrowisata produktif seluas 5 hektare. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Model wisata petik langsung dari pohon meminimalkan rantai distribusi dan limbah pasca-panen, sementara produk olahan durian mendorong pemanfaatan hasil panen secara optimal. | Olahan durian seperti dodol, bolu, dan keripik dipasarkan warga sekitar kawasan wisata. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Pengelolaan kebun durian berkelanjutan mempertahankan tutupan vegetasi pohon produktif di kawasan pegunungan Wanareja, mencegah alih fungsi lahan yang merusak. | Lahan yang sebelumnya terlantar kini tertutup vegetasi durian produktif seluas 5 hektare. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, Kelompok Tani, Dinas Pariwisata Cilacap, dan model kolaborasi lintas-BUMDes seperti di Cimanggu menciptakan kerangka kemitraan multipihak. | Model Azizs Paradise (BUMDes Pesahangan-Negarajati) menjadi rujukan kolaborasi lintas-BUMDes bagi Limbangan. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model agrowisata durian BUMDes Desa Limbangan memiliki potensi replikasi tinggi di desa-desa Kecamatan Wanareja lainnya yang menyimpan potensi perkebunan buah, embung, dan curug yang belum dioptimalkan [3]. Kunci replikasinya terletak pada tiga langkah: inventarisasi aset produktif desa yang sudah ada (termasuk lahan yang tampak tidak bernilai seperti bekas pemakaman), pembentukan BUMDes yang dikelola secara profesional, dan perancangan paket wisata terpadu yang menggabungkan semua potensi dalam satu pengalaman kunjungan yang utuh [2].
Untuk scale up, model kolaborasi lintas-BUMDes seperti Azizs Paradise yang sukses diterapkan BUMDes Pesahangan dan Negarajati di Pegunungan Cimanggu, yang membangun agrowisata durian 500 batang di lima hektare lahan ditambah kemitraan tujuh hektare lahan Perhutani dan menghasilkan pendapatan miliaran rupiah, menjadi referensi konkret yang dapat diadopsi Desa Limbangan untuk menggandeng desa-desa tetangga membentuk kluster agrowisata Cilacap Barat berskala regional [2]. Pengembangan platform pemasaran digital akan memperluas jangkauan promosi jauh melampaui batas geografis kabupaten [3].
Daftar Pustaka
[1] Liputan6, “Pagi Rupawan Curug Bandung, Surga Tersembunyi Pegunungan Cilacap Barat,” liputan6.com, 1 Feb. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/4169228.
[2] Kanal Desa, “Kolaborasi Dua BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian,” kanaldesa.com, 2021. [Daring]. Tersedia: https://kanaldesa.com/artikel/kolaborasi-dua-bumdes-kembangkan-agrowisata-durian.
[3] TV Tani – Kementerian Pertanian RI, “Mengolah Potensi Alam Agrowisata Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah,” YouTube, 21 Sep. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=KqeVCq0DPgo.
[4] Gatra, “BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian di Pegunungan,” gatra.com, 12 Sep. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.gatra.com/news-522540.
[5] Instamajenang, “Embung Curug Bandung Wanareja Mulai Dibangun,” Facebook, 26 Jun. 2019. [Daring]. Tersedia: https://www.facebook.com/instamajenang.
[6] Liputan6, “Berburu Legitnya Durian Montong Cane Murah di Pegunungan Cilacap Barat,” liputan6.com, 26 Jan. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/4164061/berburu-legitnya-durian-montong-cane-murah-di-pegunungan-cilacap-barat.
[7] K. Angganarsati, “Strategi Pengembangan Agrowisata Kebun Durian di Kecamatan Mijen Kota Semarang Berdasarkan Daya Dukung Lahan,” Tugas Akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2019. [Daring]. Tersedia: https://repository.its.ac.id/67567/.
[8] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00875: Desa Limbangan Cilacap Mengelola Agrowisata Durian Montong dan Menggerakkan Ekonomi Desa,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-limbangan-cilacap-mengelola-agrowisata-durian-montong-dan-menggerakkan-ekonomi-desa/.
[9] Pemerintah Desa Limbangan, “BUMDes Limbangan Kelola Agrowisata Durian,” limbangan.kab-cilacap.id. [Daring]. Tersedia: https://limbangan.kab-cilacap.id/detail/bumdes-limbangan-kelola-agrowisata-durian.