Ringkasan Inovasi
Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, menjadi lokasi pelepasan ekspor perdana gula semut oleh BUMDes Kabul Ciptaku pada 1 Mei 2025. BUMDes mengirim 18,5 ton gula semut, yaitu gula kelapa kristal organik, senilai USD 35.000 atau Rp586,4 juta ke Hungaria [1], [2]. Pengurus BUMDes menjalankannya bersama pemerintah desa dan petani penderes nira, dengan pendampingan Kementerian Desa PDT, Kementerian Perdagangan, dan agregator CV Java Agro Mandiri [3]. Inovasi ini menjawab keterbatasan akses langsung produsen gula kelapa desa ke pembeli luar negeri, dengan agregator yang menghubungkan produksi desa ke pembeli Hungaria yang kredibilitasnya divalidasi Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Budapest [3]. Dampak utamanya adalah terbukanya jalur ekspor langsung dari desa, yang kini menjadi contoh bagi program Desa Ekspor kedua kementerian [1], [5].
Latar Belakang
Desa Langgongsari berada di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kawasan yang dikenal sebagai sentra gula kelapa kristal atau gula semut. Menurut Menteri Desa PDT Yandri Susanto, Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan gula kelapa dunia, dan 80 persen dari jumlah itu berasal dari Banyumas dan sekitarnya [5]. Sepanjang 2024, Kabupaten Banyumas mengekspor 5.342,10 ton gula kelapa ke Amerika dan Eropa [4]. Di desa ini, gula kelapa organik menjadi produk unggulan BUMDes Kabul Ciptaku, di samping madu klanceng, durian, dan kelengkeng [6].
Besarnya volume ekspor Banyumas belum berarti produsen di tingkat desa terhubung langsung dengan pembeli luar negeri. Pelepasan ekspor biasanya dilakukan perusahaan swasta atau badan usaha milik negara, sehingga Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut ini pertama kalinya ia menghadiri pelepasan ekspor oleh sebuah BUMDes [2]. Artinya, sebelum 1 Mei 2025, BUMDes Kabul Ciptaku belum pernah mengirim ekspor sendiri, dengan volume ekspor langsung sebesar nol ton. Penderes nira memanjat pohon kelapa setiap hari, tetapi akses mereka ke informasi pasar, persyaratan mutu ekspor, dan logistik antarnegara masih terbatas. Kesenjangan inilah yang menjadi titik tolak inovasi: ekspor Banyumas mencapai 5.342,10 ton pada 2024, sementara kontribusi langsung BUMDes desa ini belum ada.
Momentum muncul ketika Kementerian Desa PDT dan Kementerian Perdagangan menyepakati nota kesepahaman untuk mewujudkan desa ekspor [5]. Dalam program tersebut, Kemendag memetakan 2.332 desa, dengan 734 desa masuk klaster siap ekspor dan 1.598 desa belum siap [6]. Pada saat yang sama, agregator CV Java Agro Mandiri sudah bekerja sama dengan Kemendag sejak 2021 melalui ITPC Budapest untuk mencari pembeli potensial [3]. Kombinasi kerangka program, mitra agregator, dan jaringan pembeli ini membuka peluang yang sebelumnya belum tersedia bagi BUMDes.
Inovasi yang Diterapkan
Gagasan inovasi ini berangkat dari program Desa Ekspor, yang mendorong BUMDes berperan sebagai penghimpun produk desa untuk pasar internasional [5], [6]. Inovasi yang diterapkan berupa model tata niaga ekspor berbasis BUMDes. BUMDes Kabul Ciptaku menyiapkan gula semut organik dari desa, lalu mengirimkannya lewat agregator CV Java Agro Mandiri kepada pembeli di Hungaria [3]. Melalui agregator yang sama, BUMDes juga membuka peluang pengiriman ke Spanyol, Yunani, Australia, dan Afrika Selatan [1].
BUMDes Kabul Ciptaku mengelola beberapa unit usaha, yaitu air bersih, industri agro Bulak Barokah, peternakan sapi, dan agrowisata, dengan gula kelapa organik sebagai salah satu produk unggulan [6]. Mekanisme ekspornya bertumpu pada pembagian peran yang jelas. BUMDes menjaga pasokan dan mutu produk dari desa, agregator mengurus proses ekspor, dan ITPC Budapest membantu mencari serta memvalidasi kredibilitas pembeli [3]. Kebaruan inovasi terletak pada posisi BUMDes sebagai pihak penjual dalam transaksi ekspor, sedangkan pendekatan konvensional menempatkan perusahaan besar sebagai eksportir dan desa hanya sebagai pemasok bahan baku [2].
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari penyiapan jaringan dan kelembagaan. Kemendag memetakan 2.332 desa dalam program Desa Ekspor, sementara agregator CV Java Agro Mandiri yang bermitra dengan Kemendag sejak 2021 menghubungkan BUMDes dengan ITPC Budapest [3], [6]. ITPC Budapest kemudian membantu mencari pembeli dan memvalidasi kredibilitasnya sebelum kesepakatan dibuat [3]. Validasi ini penting karena BUMDes belum pernah bertransaksi lintas negara. Setelah pembeli terverifikasi, produk disiapkan untuk pengiriman 18,5 ton yang dilepas pada 1 Mei 2025 [1].
Penyesuaian mutu tidak berjalan mulus. Menurut catatan inovasi.web.id, beberapa sampel awal belum lolos uji laboratorium karena kadar air yang tidak konsisten dan adanya kontaminasi [9]. Pengurus BUMDes menjadikan penolakan ini bahan evaluasi, dengan menekankan kebersihan wadah penampung nira dan ketepatan waktu panen kepada petani [9]. Pengalaman ini menunjukkan bahwa standar mutu perlu dikomunikasikan sampai tingkat penderes sebelum sampel dikirim ke calon pembeli.
Bagi replikator, urutan kerja yang layak ditiru adalah memetakan komoditas, menyiapkan mutu, menggandeng agregator berpengalaman, memvalidasi pembeli, dan baru kemudian mengirim barang. Tahap validasi pembeli dan kemitraan agregator sebaiknya tidak dilewati karena BUMDes pemula belum memiliki rekam jejak ekspor. Pelepasan pengiriman di Desa Langgongsari yang dihadiri Menteri Perdagangan, Menteri Desa PDT, dan Bupati Banyumas juga menjadi bukti bahwa dukungan pemerintah dapat memperkuat kepercayaan mitra [3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal terbesar adalah menjaga konsistensi mutu dari banyak produsen gula kelapa yang masing-masing menerapkan prosedur kebersihan secara berbeda [9]. Kendala lain adalah kapasitas pengurus BUMDes dalam mengelola dokumen ekspor, kontrak dagang, dan logistik pelayaran yang belum pernah mereka tangani sebelumnya. BUMDes mengatasinya dengan bermitra bersama agregator CV Java Agro Mandiri yang mengurus proses ekspor, sambil menyampaikan standar kebersihan dan waktu panen kepada petani [3], [9]. Kemendes PDT juga meminta pengelola menjaga mutu agar nama baik desa dan Indonesia tetap terjaga [5].
Tantangan eksternal datang dari persyaratan mutu pasar tujuan dan kondisi alam. Musim kemarau dan hujan memengaruhi kualitas serta produksi nira, sehingga konsistensi hasil sulit dijaga sepanjang tahun [10]. Pembeli luar negeri juga dapat mengajukan klaim mutu apabila produk mengandung kontaminan, yang berisiko merusak kepercayaan pasar [10]. Untuk merespons hal ini, Bupati Banyumas menyatakan perlunya laboratorium pengujian mutu sebelum ekspor sebagai bagian dari dukungan bagi produsen desa [4].
Regenerasi penderes menjadi tantangan jangka panjang. Menteri Desa PDT menyoroti bahwa industri gula kelapa kristal terhambat jika generasi muda enggan menjadi penderes [7]. Pemerintah Kabupaten Banyumas menyiapkan dukungan berupa bibit kelapa genjah yang lebih aman bagi penderes serta program asuransi tenaga kerja bagi mereka [4]. Dukungan ini menjawab risiko keselamatan kerja yang selama ini melekat pada profesi penderes.
Faktor Penentu Keberhasilan
Peta pemangku kepentingan dalam inovasi ini saling melengkapi. Kemendag menjalankan program Desa Ekspor dan menghadirkan ITPC Budapest untuk memvalidasi pembeli, sementara Kemendes PDT membina BUMDes dan menjadikan ekspor ini bagian dari rencana aksi pemberdayaan BUM Desa [3], [5]. CV Java Agro Mandiri berperan sebagai agregator dan mitra ekspor, sedangkan Pemerintah Kabupaten Banyumas mendampingi melalui dukungan lanjutan bagi penderes dan pengujian mutu [3], [4]. Di tingkat desa, pengurus BUMDes yang dipimpin Direktur Akhmad Hariyanto memperagakan proses produksi gula kelapa kepada para menteri saat pelepasan [5].
Modal sosial yang mengikat partisipasi tampak dari kolaborasi masyarakat desa, pemerintah, dan dunia usaha. Bupati Banyumas menyebut pelepasan ekspor ini sebagai cermin kolaborasi ketiga unsur tersebut dalam membangun ekonomi desa yang mandiri dan berorientasi global [4]. Kerja sama itulah yang mempertemukan produsen desa, lembaga pemerintah, dan mitra swasta dalam satu rantai pasok ekspor. Tanpa keterlibatan ketiganya, BUMDes yang baru pertama kali mengekspor sulit menjaga mutu dan kepercayaan pembeli.
Hasil dan Dampak Inovasi
Perbandingan sebelum dan sesudah inovasi paling jelas terlihat pada akses ekspor. Sebelum 1 Mei 2025, BUMDes Kabul Ciptaku belum pernah mengekspor sendiri, sehingga volume ekspor langsungnya nol ton. Setelah inovasi berjalan, BUMDes mengirim 18,5 ton gula semut senilai USD 35.000 atau Rp586,4 juta ke Hungaria dalam satu pengiriman [1]. Jika dihitung sederhana, nilai tersebut setara sekitar Rp31.700 per kilogram pada tingkat ekspor, atau sekitar 0,35 persen dari volume ekspor gula kelapa Banyumas sepanjang 2024 sebesar 5.342,10 ton [4].
Pada tataran kelembagaan, BUMDes kini memiliki pengalaman mengelola transaksi ekspor dan jaringan pembeli yang divalidasi pemerintah [3]. Menteri Perdagangan menyebut Kabul Ciptaku sebagai BUMDes yang menginspirasi karena produknya berhasil menembus pasar ekspor [1]. Menteri Desa PDT menyatakan BUMDes ini akan menjadi contoh bagi BUMDes di ribuan desa lain [1]. Pengakuan tersebut memperkuat posisi Langgongsari dalam program Desa Ekspor.
Dampak perilaku dan kesadaran mutu juga mulai terlihat. Pemerintah mengingatkan pengelola agar menjaga kualitas karena ekspor membawa nama desa sekaligus nama Indonesia [5]. Perhatian terhadap regenerasi penderes, keselamatan kerja, dan pengujian mutu ikut mengemuka sebagai agenda lanjutan [4], [7]. Data pendapatan penderes sebelum dan sesudah inovasi belum dipublikasikan, sehingga pemantauan pendapatan menjadi pekerjaan rumah penting bagi pengelola.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan awal yang terdokumentasi berupa pembinaan dari Kemendes PDT dan fasilitasi Kemendag melalui program Desa Ekspor dan ITPC Budapest [1], [3]. Besaran investasi awal dan biaya operasional ekspor belum dipublikasikan dalam sumber terbuka, sehingga angka tersebut perlu dilengkapi pengelola BUMDes. Nilai transaksi pengiriman perdana sebesar USD 35.000 atau Rp586,4 juta dapat menjadi acuan skala usaha pada tahap awal [1].
Model pendapatan BUMDes bertumpu pada penjualan gula semut organik kepada pembeli luar negeri melalui agregator, di samping unit usaha lain seperti air bersih, peternakan sapi, dan agrowisata [3], [6]. Tujuan BUMDes adalah meningkatkan Pendapatan Asli Desa dengan memanfaatkan komoditas unggulan desa [6]. Untuk pembiayaan berkelanjutan, koperasi bersertifikat organik di Banyumas memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5.000 per kilogram gula semut melalui skema CSR Premium dari pembeli Eropa, yang dapat menjadi rujukan bagi BUMDes [8].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang tepat adalah menggandeng agregator berpengalaman dan memanfaatkan jaringan ITPC Budapest untuk memvalidasi pembeli [3]. Langkah ini membuat BUMDes yang belum pernah mengekspor tidak harus membangun seluruh kapasitas ekspor dari nol. Dukungan dua kementerian dan pemerintah kabupaten pada saat pelepasan juga memperkuat kepercayaan mitra terhadap BUMDes [4], [5].
Jika memulai dari awal, pengelola sebaiknya menyiapkan standar mutu tertulis dan pengujian laboratorium lebih dini. Sampel awal yang belum lolos uji menunjukkan bahwa kadar air dan kebersihan perlu dikendalikan sebelum produk diperkenalkan kepada calon pembeli [9]. Rencana pembangunan laboratorium pengujian mutu yang disampaikan Bupati Banyumas menegaskan kebutuhan tersebut [4].
Saran praktis bagi desa lain adalah memetakan komoditas yang sudah memiliki produsen aktif, lalu membangun kemitraan dengan agregator dan lembaga perdagangan sebelum mencari pembeli sendiri. Desa juga perlu mencatat data dasar seperti jumlah penderes, harga di tingkat produsen, dan pendapatan rumah tangga sejak awal. Data ini memudahkan pengelola membuktikan dampak inovasi kepada pemerintah, mitra, dan warga.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Dalam jangka panjang, BUMDes Kabul Ciptaku dapat memperluas tujuan ekspor melalui agregator yang sama ke Spanyol, Yunani, Australia, dan Afrika Selatan [1]. Pemerintah Kabupaten Banyumas mendorong penyediaan laboratorium pengujian mutu, bibit kelapa genjah, dan asuransi tenaga kerja bagi penderes agar pasokan tetap terjaga [4]. Ketiga langkah ini melindungi basis produksi sekaligus menjaga konsistensi mutu yang dibutuhkan pembeli luar negeri.
Regenerasi kepemimpinan dan pelaku perlu disiapkan sejak dini. Menteri Desa PDT mendorong regenerasi penderes nira agar generasi muda mau melanjutkan usaha gula kelapa kristal [7]. Agar inovasi tidak bergantung pada satu tokoh, pengelolaan ekspor sebaiknya didokumentasikan dalam prosedur BUMDes yang dapat dipelajari pengurus berikutnya, dan pengurus muda dilibatkan dalam pengelolaan pesanan.
Untuk pendapatan mandiri, BUMDes dapat mempelajari skema CSR Premium dari pembeli Eropa yang memberi tambahan sekitar Rp5.000 per kilogram bagi produsen bersertifikat organik di Banyumas [8]. Skema ini mengurangi ketergantungan pada dana hibah dan program pemerintah. Pendapatan dari unit usaha lain, seperti air bersih dan agrowisata, juga dapat menopang biaya operasional BUMDes [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ekspor gula semut BUMDes Kabul Ciptaku berkontribusi pada lima tujuan pembangunan berkelanjutan. Kontribusi terbesar terletak pada penguatan ekonomi desa dan kemitraan lintas lembaga. Rincian setiap tujuan dijelaskan pada tabel berikut, lengkap dengan indikator yang dapat dipantau oleh pengelola BUMDes.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Akses langsung ke pembeli luar negeri memperluas peluang produsen gula kelapa desa memperoleh harga yang lebih baik dan penghasilan yang lebih stabil. Manfaat ini masih perlu dibuktikan dengan data pendapatan penderes. | Pendapatan rumah tangga penderes mitra BUMDes, dipantau tahunan sejak 2025 dan dibandingkan dengan data sebelum ekspor. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BUMDes menciptakan nilai ekonomi baru melalui ekspor 18,5 ton gula semut dan memperkuat usaha desa sebagai penggerak ekonomi daerah [1]. | Nilai ekspor BUMDes: 0 menjadi USD 35.000 (Rp586,4 juta) pada 1 Mei 2025. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Model tata niaga berbasis BUMDes memberi usaha kecil di desa akses ke rantai nilai dan pasar internasional melalui agregator [3]. | Jumlah pembeli luar negeri yang terhubung dengan BUMDes: dari 0 menjadi 1 negara tujuan (Hungaria), dengan 4 negara lain dalam penjajakan. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | Produk yang dikirim berupa gula kelapa organik, dan kebersihan wadah nira serta ketepatan waktu panen ditekankan untuk menjaga mutu [6], [9]. | Persentase sampel produk yang lolos uji laboratorium pembeli pada setiap pengiriman. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Ekspor ini melibatkan Kemendes PDT, Kemendag, Pemerintah Kabupaten Banyumas, agregator swasta, dan pembeli di Hungaria dalam satu rantai kerja sama [3], [4]. | Jumlah mitra formal yang terlibat: 5 pihak (2 kementerian, 1 pemerintah kabupaten, 1 agregator, 1 pembeli luar negeri). |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum bagi desa lain adalah adanya komoditas unggulan dengan produsen yang aktif, kelembagaan BUMDes yang berjalan, dan kesediaan menerapkan standar mutu yang ketat. Desa juga perlu terhubung dengan program Desa Ekspor agar mudah mengakses agregator dan perwakilan perdagangan. Kemendag telah memetakan 734 desa siap ekspor dan 1.598 desa belum siap yang akan didampingi untuk naik kelas [6].
Biaya dan waktu replikasi belum dipublikasikan secara resmi. Penyusun memperkirakan tahap persiapan mutu, kemitraan agregator, dan validasi pembeli memerlukan sekitar 6 hingga 12 bulan, dengan komponen biaya utama berupa pengujian mutu, pengemasan, dan dokumen ekspor. Angka ini merupakan estimasi awal yang perlu dikonfirmasi pengelola BUMDes atau Kemendes PDT. Desa dengan komoditas berbeda dapat mengadaptasi model ini dengan mengganti produk, tetapi tetap mempertahankan pembagian peran antara BUMDes, agregator, dan lembaga validasi pembeli.
Untuk memperluas manfaat, Langgongsari dapat menjadi lokasi belajar bagi BUMDes lain karena Menteri Desa PDT menyebutnya sebagai contoh bagi ribuan desa [1]. Kemendag dan Kemendes PDT dapat menggunakan kasus ini dalam pendampingan desa yang belum siap ekspor [6]. Pengelola juga dapat menghimpun produsen gula kelapa di desa sekitar agar volume pengiriman meningkat, dengan syarat standar mutu diterapkan seragam.
Daftar Pustaka
[1] Redaksi Kompas.com, “Mendag Busan Lepas Ekspor Gula Kelapa Produksi BUMDes Senilai Rp 586,4 Juta ke Hungaria,” money.kompas.com, 2 Mei 2025. [Online]. Available: https://money.kompas.com/read/2025/05/02/145950326/mendag-busan-lepas-ekspor-gula-kelapa-produksi-bumdes-senilai-rp-5864-juta-ke
[2] ANTARA, “Mendag apresiasi BUMDes di Banyumas ekspor gula semut ke Hungaria,” antaranews.com, 1 Mei 2025. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/4806877/mendag-apresiasi-bumdes-di-banyumas-ekspor-gula-semut-ke-hungaria
[3] Media Perkebunan, “BUMDes di Banyumas Ekspor Gula Merah Kelapa ke Hungaria, Dua Menteri Sumringah,” mediaperkebunan.id, 2 Mei 2025. [Online]. Available: https://mediaperkebunan.id/bumdes-di-banyumas-ekspor-gula-merah-kelapa-ke-hungaria-dua-menteri-sumringah/
[4] Pemerintah Kabupaten Banyumas, “Bupati Sadewo Dampingi Dua Menteri dalam Pelepasan Ekspor Gula Kelapa BUMDes Kabul Ciptaku Banyumas ke Hungaria,” banyumaskab.go.id, 1 Mei 2025. [Online]. Available: https://www.banyumaskab.go.id/read/51782/bupati-sadewo-dampingi-dua-menteri-dalam-pelepasan-ekspor-gula-kelapa-bumdes-kabul-ciptaku-banyumas-ke-hungaria
[5] INAnews, “Ekspor Gula Kelapa BUM Desa Kabul Ciptaku Dilepas Mendes,” inanews.co.id, Mei 2025. [Online]. Available: https://www.inanews.co.id/2025/05/ekspor-gula-kelapa-bum-desa-kabul-ciptaku-dilepas-mendes/
[6] Majalah Hortus Archipelago, “BUMDes Banyumas Ekspor Gula Kelapa ke Hungaria,” news.majalahhortus.com, 2 Mei 2025. [Online]. Available: https://news.majalahhortus.com/bumdes-banyumas-ekspor-gula-kelapa-ke-hungaria/
[7] Langit7.id, “Potensi Ekspor Gula Kristal Menjanjikan, Mendes Berharap Adanya Regenerasi Penderes,” langit7.id, 2 Mei 2025. [Online]. Available: https://langit7.id/read/47654/1/potensi-ekspor-gula-kristal-menjanjikan-mendes-berharap-adanya-regenerasi-penderes-1746165928
[8] ANTARA, “Merawat kepercayaan dunia pada gula kelapa asal Banyumas,” antaranews.com, 28 Jun. 2026. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/5626152/merawat-kepercayaan-dunia-pada-gula-kelapa-asal-banyumas
[9] inovasi.web.id, “ID 00780: BUMDes Kabul Ciptaku Desa Langgongsari Ekspor Gula Semut ke Hungaria untuk Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Petani Desa,” inovasi.web.id, 25 Mar. 2026. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/bumdes-kabul-ciptaku-desa-langgongsari-ekspor-gula-semut-ke-hungaria/
[10] Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, “Mengenal Gula Kelapa Organik Purbalingga,” dinpertan.purbalinggakab.go.id, 10 Des. 2019. [Online]. Available: https://dinpertan.purbalinggakab.go.id/mengenal-gula-kelapa-organik-purbalingga/