Ringkasan Inovasi
Tim Penggerak PKK Desa Palasarigirang, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, mendirikan Bank Rezeki PKK pada 2017 sebagai bank sampah berbasis tabungan bagi ibu hamil dan ibu rumah tangga. Program ini digagas Ketua PKK Nuryamah bersama Pemerintah Desa Palasarigirang di bawah Kepala Desa Ujang Ma’mun [3]. Bank Rezeki PKK menjawab persoalan pengelolaan sampah yang belum tertata di desa, sekaligus keterbatasan biaya persalinan yang masih membebani sebagian keluarga kurang mampu di pedesaan [6]. Warga, khususnya perempuan hamil dan ibu rumah tangga, mengumpulkan sampah kategori daur ulang dan mengantarkannya ke pos penampungan di depan kantor desa untuk ditimbang serta dicatat dalam buku tabungan. Setelah berjalan satu tahun, Pemerintah Desa Palasarigirang mendukung program ini lewat anggaran desa 2017, menyediakan tempat penampungan sementara dan kendaraan motor roda tiga untuk mengangkut sampah dari pos pengumpulan tambahan di Posyandu dan PAUD. Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kebiasaan memilah sampah di kalangan warga, sekaligus tersedianya tabungan tambahan yang dapat dicairkan menjelang persalinan bagi ibu hamil peserta program.
Latar Belakang
Desa Palasarigirang merupakan salah satu dari tujuh desa di Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat [1]. Kecamatan ini secara keseluruhan memiliki luas 49,37 kilometer persegi dan dihuni 54.831 jiwa dengan kepadatan 1.110 jiwa per kilometer persegi [2]. Wilayah kecamatan ini mengandalkan pertanian sayuran yang dipasarkan hingga Bogor dan Jakarta, peternakan, dan perikanan, termasuk sentra pembenihan ikan nila tingkat kecamatan di Dusun Pasir Awi [3]. Kepala Desa Palasarigirang, Ujang Ma’mun, kerap menekankan bahwa potensi ini perlu dikelola dengan pelatihan dan edukasi warga, bukan sekadar bantuan finansial [3].
Sebelum Bank Rezeki PKK berdiri, pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Palasarigirang belum tertata, sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius jika dibiarkan menumpuk tanpa pemilahan. Selain persoalan sampah, sebagian keluarga di pedesaan Indonesia, termasuk di Sukabumi, masih menghadapi keterbatasan biaya untuk proses persalinan. Kondisi ini mendorong pemerintah pusat menghadirkan skema Jaminan Persalinan (Jampersal) bagi ibu hamil yang belum memiliki jaminan kesehatan [6]. Dua persoalan yang tampak terpisah ini, sampah yang tidak terkelola dan biaya persalinan yang membebani keluarga, menjadi titik tolak lahirnya gagasan menghubungkan keduanya.
Momentum lahirnya Bank Rezeki PKK muncul ketika para kader penggerak PKK Desa Palasarigirang menyadari bahwa sampah rumah tangga, jika dikelola dengan sistem tabungan, dapat sekaligus menjawab dua kebutuhan warga, yaitu kebersihan lingkungan dan dana persalinan. Ketua PKK Nuryamah bersama kader lainnya kemudian menginisiasi Bank Rezeki PKK pada 2017, dengan sasaran utama perempuan hamil dan ibu rumah tangga sebagai peserta sekaligus penerima manfaat langsung.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah Bank Rezeki PKK, sebuah bank sampah berbasis tabungan yang menyasar khusus perempuan hamil dan ibu rumah tangga di Desa Palasarigirang. Gagasan ini lahir dari kebutuhan membudayakan hidup bersih dan menjaga lingkungan, sekaligus menyediakan bantuan keuangan tambahan untuk proses persalinan warga perempuan yang hamil. Pendekatan menggabungkan pengelolaan sampah dengan pembiayaan kesehatan ibu ini dipilih karena memanfaatkan aktivitas rumah tangga sehari-hari sebagai sumber tabungan, tanpa membebani warga dengan setoran uang tunai.
Warga peserta mengumpulkan sampah kategori daur ulang dari rumah tangga masing-masing, kemudian mengantarkannya ke pos penampungan di depan kantor desa. Petugas dari PKK Desa Palasarigirang menimbang sampah yang disetorkan dan mencatat nilainya dalam buku tabungan setiap peserta, sehingga saldo tabungan bertambah seiring jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan. Mekanisme pencatatan berbasis buku tabungan ini memudahkan warga memantau perkembangan simpanan mereka menjelang masa persalinan.
Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penetapan sasaran khusus perempuan hamil dan ibu rumah tangga, alih-alih membuka bank sampah untuk seluruh warga secara umum tanpa arah pemanfaatan yang jelas. Pendekatan bersasaran ini memastikan manfaat tabungan sampah benar-benar terarah pada kebutuhan mendesak, yaitu pembiayaan persalinan, bukan sekadar tabungan umum tanpa tujuan spesifik.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai pada 2017 ketika para kader penggerak PKK Desa Palasarigirang merintis Bank Rezeki PKK secara swadaya, mengandalkan pos penampungan sederhana di depan kantor desa tanpa dukungan sarana transportasi maupun tempat penyimpanan permanen. Pada tahap awal ini, pengumpulan dan pengangkutan sampah masih bergantung sepenuhnya pada tenaga kader PKK, sehingga jangkauan pos pengumpulan terbatas hanya di sekitar kantor desa.
Keterbatasan sarana pada tahun pertama membuat sejumlah warga di dusun yang lebih jauh kesulitan menyetorkan sampah secara rutin, karena harus menempuh jarak lebih jauh ke satu-satunya pos penampungan yang ada. Pemerintah Desa Palasarigirang mengoreksi keterbatasan ini setelah program berjalan satu tahun, dengan mengalokasikan anggaran desa 2017 untuk menyediakan tempat penampungan sementara dan kendaraan motor roda tiga. Pemerintah desa sekaligus menambah pos pengumpulan di Posyandu dan PAUD agar lebih dekat dengan permukiman warga. Koreksi ini menjadi pembelajaran penting bahwa keberhasilan bank sampah berbasis swadaya perlu segera ditopang sarana transportasi begitu jumlah peserta bertambah, bukan dibiarkan bertumpu pada tenaga kader semata.
Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya merancang skema perluasan pos pengumpulan sejak tahun pertama program berjalan, alih-alih menunggu keluhan warga tentang jarak tempuh muncul terlebih dahulu. Replikator juga disarankan menjajaki dukungan anggaran desa sedini mungkin untuk sarana pengangkutan, mengingat keterbatasan ini terbukti menjadi kendala nyata pada tahun pertama Bank Rezeki PKK.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan sarana pengangkutan dan tempat penampungan pada tahun pertama program, ketika Bank Rezeki PKK masih mengandalkan satu pos penampungan sederhana di depan kantor desa. Pemerintah Desa Palasarigirang memitigasi tantangan ini dengan mengalokasikan anggaran desa 2017 untuk kendaraan motor roda tiga dan tempat penampungan sementara, sekaligus menambah titik pos pengumpulan di Posyandu dan PAUD.
Tantangan eksternal berupa risiko pencemaran lingkungan apabila sampah rumah tangga tidak dikelola dengan baik tetap menjadi ancaman laten di wilayah pedesaan seperti Palasarigirang. Kader PKK memitigasi risiko ini dengan mendorong warga memilah sampah kategori daur ulang sejak dari rumah tangga, sehingga sampah yang berpotensi mencemari lingkungan dapat langsung dikonversi menjadi nilai tabungan, bukan dibuang sembarangan.
Tantangan lain adalah keberlanjutan partisipasi warga, mengingat program bergantung pada kedisiplinan perempuan hamil dan ibu rumah tangga menyetorkan sampah secara rutin setiap periode. Keterlibatan aktif kader PKK dalam menimbang dan mencatat setoran secara transparan menjadi mitigasi utama, memastikan warga tetap percaya bahwa setiap sampah yang disetorkan benar-benar tercatat sebagai tabungan mereka.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan kader penggerak PKK Desa Palasarigirang di bawah Ketua Nuryamah, yang berhasil mengubah aktivitas rumah tangga sehari-hari menjadi sumber tabungan bernilai ekonomi bagi peserta. Dukungan Kepala Desa Ujang Ma’mun yang mengalokasikan anggaran desa untuk sarana pengangkutan sampah pada tahun kedua turut menjadi faktor kunci keberlanjutan program [3].
Modal sosial berupa kepercayaan warga terhadap sistem pencatatan buku tabungan PKK turut memperkuat partisipasi, karena perempuan hamil dan ibu rumah tangga dapat melihat langsung akumulasi nilai sampah yang mereka setorkan. Kombinasi kepemimpinan kader, dukungan anggaran desa, dan kepercayaan warga inilah yang membuat Bank Rezeki PKK dapat berkembang melampaui skala rintisan awalnya.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum Bank Rezeki PKK berdiri, pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Palasarigirang belum tertata dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan, sementara sebagian keluarga tetap menghadapi keterbatasan biaya persalinan. Setelah program berjalan, warga peserta memiliki mekanisme konkret mengubah sampah rumah tangga menjadi tabungan yang dapat dicairkan menjelang persalinan, sekaligus membiasakan pemilahan sampah kategori daur ulang sejak dari rumah.
Dukungan Pemerintah Desa Palasarigirang melalui anggaran desa 2017, berupa penyediaan tempat penampungan sementara dan kendaraan motor roda tiga, menjadi indikator nyata bahwa Bank Rezeki PKK dinilai berhasil pada tahun pertama sehingga layak mendapat investasi lanjutan. Perluasan pos pengumpulan ke Posyandu dan PAUD turut memperluas jangkauan penerima manfaat program ke wilayah yang sebelumnya belum terlayani pos penampungan utama.
Perubahan yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya kesadaran warga secara lebih luas tentang nilai ekonomi sampah, yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dan hanya menjadi beban lingkungan. Dampak multiplier ini turut memperkuat peran Posyandu dan PAUD sebagai titik kumpul komunitas, karena keduanya kini juga berfungsi sebagai pos pengumpulan sampah bernilai tabungan bagi warga sekitar.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan awal Bank Rezeki PKK bersumber dari swadaya kader PKK Desa Palasarigirang, tanpa dukungan anggaran desa pada tahun pertama program berjalan. Setelah satu tahun berjalan, Pemerintah Desa Palasarigirang menambah dukungan lewat anggaran desa 2017, berupa penyediaan tempat penampungan sementara dan kendaraan motor roda tiga untuk mengangkut sampah dari pos pengumpulan tambahan di Posyandu dan PAUD.
Model pendapatan Bank Rezeki PKK bertumpu pada nilai jual sampah kategori daur ulang yang dikonversi menjadi saldo tabungan warga, mengikuti kebijakan nasional pengelolaan bank sampah melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle [5]. Skema ini tidak membebani peserta dengan setoran uang tunai, karena sumber tabungan sepenuhnya berasal dari sampah rumah tangga yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, sehingga keberlanjutan pembiayaan bergantung pada konsistensi warga memilah dan menyetorkan sampah secara rutin.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menyasar khusus perempuan hamil dan ibu rumah tangga sebagai peserta Bank Rezeki PKK, alih-alih membuka program untuk seluruh warga tanpa arah pemanfaatan jelas, terbukti menjadi keputusan kunci. Manfaat program menjadi terasa langsung bagi kelompok yang paling membutuhkan dana persalinan. Keputusan mengonversi sampah menjadi tabungan, bukan donasi langsung, juga terbukti mendorong partisipasi warga secara berkelanjutan karena mereka merasa turut berkontribusi, bukan sekadar menerima bantuan.
Jika memulai dari awal, Pemerintah Desa Palasarigirang mengakui idealnya dukungan sarana pengangkutan dan perluasan pos pengumpulan sudah disiapkan sejak tahun pertama, bukan menunggu satu tahun berjalan terlebih dahulu. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi replikator agar tidak membiarkan program bank sampah bertumpu terlalu lama pada swadaya kader tanpa dukungan anggaran desa yang memadai.
Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan menetapkan kelompok sasaran spesifik sejak awal, sebagaimana Bank Rezeki PKK menyasar perempuan hamil dan ibu rumah tangga, agar manfaat program lebih terarah dan mudah diukur. Menjalin dukungan anggaran desa untuk sarana pengangkutan sampah sejak tahap perintisan juga disarankan, agar perluasan pos pengumpulan tidak tertunda hingga satu tahun seperti yang dialami Desa Palasarigirang.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Bank Rezeki PKK dijaga melalui pelembagaan pos pengumpulan di titik-titik strategis seperti Posyandu dan PAUD, yang secara rutin dikunjungi warga sehingga penyetoran sampah dapat berjalan tanpa hambatan jarak. Dukungan anggaran desa yang berkelanjutan untuk perawatan kendaraan motor roda tiga turut menjadi jaminan operasional pengangkutan sampah dalam jangka panjang.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada struktur kepengurusan PKK Desa Palasarigirang yang berjenjang dan berganti secara berkala mengikuti masa bakti pengurus, sehingga program tidak bergantung pada satu individu Ketua PKK semata. Dukungan Kepala Desa Ujang Ma’mun yang telah menjabat sejak sebelum program dimulai hingga periode berikutnya turut menjaga kontinuitas kebijakan anggaran desa untuk Bank Rezeki PKK [4].
Rencana keberlanjutan jangka panjang diarahkan pada perluasan jumlah peserta dan titik pos pengumpulan, sehingga nilai sampah yang terkumpul semakin besar tanpa harus selalu bergantung pada tambahan anggaran desa setiap tahun. Strategi ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular bank sampah nasional, yang menekankan kemandirian finansial melalui nilai jual sampah daur ulang itu sendiri [5].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Bank Rezeki PKK Desa Palasarigirang berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari kehidupan sehat dan sejahtera hingga konsumsi dan produksi bertanggung jawab. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik tabungan sampah untuk pembiayaan persalinan warga Desa Palasarigirang sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Tabungan sampah menyediakan dana tambahan bagi ibu hamil untuk proses persalinan, melengkapi skema Jaminan Persalinan nasional bagi keluarga kurang mampu. | Perempuan hamil peserta program memiliki saldo tabungan dari setoran sampah yang dapat dicairkan menjelang persalinan. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Program menyasar khusus perempuan hamil dan ibu rumah tangga sebagai pengelola sekaligus penerima manfaat utama, memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga. | Kader PKK perempuan mengelola penuh proses penimbangan, pencatatan, dan pencairan tabungan sampah. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Bank Rezeki PKK mendorong warga memilah dan mendaur ulang sampah rumah tangga sesuai prinsip reduce, reuse, recycle yang diatur kebijakan nasional. | Sampah kategori daur ulang dikumpulkan rutin di pos penampungan kantor desa, Posyandu, dan PAUD. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, ketersediaan kader PKK aktif yang bersedia mengelola penimbangan dan pencatatan sampah secara rutin. Kedua, kesediaan Pemerintah Desa mendukung sarana pengangkutan dan tempat penampungan begitu jumlah peserta bertambah. Ketiga, penetapan kelompok sasaran spesifik agar manfaat program lebih terarah, seperti perempuan hamil pada Bank Rezeki PKK.
Estimasi biaya replikasi pada tahap rintisan relatif rendah, karena hanya memerlukan pos penampungan sederhana, timbangan, dan buku tabungan. Estimasi biaya tahap pengembangan mengacu pada alokasi anggaran desa 2017 milik Palasarigirang, yang mencakup kendaraan motor roda tiga dan tempat penampungan sementara, dengan durasi persiapan sekitar satu tahun sejak program dirintis secara swadaya.
Model Bank Rezeki PKK dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan kelompok sasaran pada kebutuhan pembiayaan kesehatan spesifik yang paling mendesak di wilayah masing-masing, tidak terbatas pada persalinan semata. Tim Penggerak PKK tingkat kabupaten maupun Dinas Lingkungan Hidup setempat berpeluang menjadikan model ini sebagai rujukan replikasi bank sampah bersasaran, sejalan dengan kebijakan nasional pengelolaan sampah melalui bank sampah [5].
Daftar Pustaka
[1] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Palasari Girang, Kalapanunggal, Sukabumi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Palasari_Girang,_Kalapanunggal,_Sukabumi
[2] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Kalapanunggal, Sukabumi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalapanunggal,_Sukabumi
[3] Suara Sukabumi, “Beragam Potensi di Desa Palasarigirang Kalapanunggal, Kades: Kalau Dikelola dengan Baik akan Menambah Income bagi Warga,” suarasukabumi.id. [Online]. Tersedia: https://www.suarasukabumi.id/sukabumi/51315336516/beragam-potensi-di-desa-palasarigirang-kalapanunggal-kades-kalau-dikelola-dengan-baik-akan-menambah-income-bagi-warga
[4] SwaraDesaku.com, “Kecamatan Kalapanunggal Gelar Sertijab 7 Kades Sekaligus Pelantikan Ketua TP-PKK Desa,” swaradesaku.com, 23 Des. 2019. [Online]. Tersedia: https://swaradesaku.com/arsip/7727
[5] Kementerian Lingkungan Hidup RI, “Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank Sampah,” sipsn.menlhk.go.id. [Online]. Tersedia: https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/upload/produkhukum/ph__No_13Tahun2012_file_1609108404585.pdf
[6] Kementerian Kesehatan RI, “Kemenkes Jamin Kesehatan Ibu Melahirkan dengan Program Jampersal,” kemkes.go.id. [Online]. Tersedia: https://kemkes.go.id/id/kemenkes-jamin-kesehatan-ibu-melahirkan-dengan-program-jampersal
Mantep, semoga semakin baik kualitas ibu hamil di jabar