Ringkasan Inovasi
BUMDes Jaya Nagari di Desa Gunungsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah merintis Kampung Edukatif sejak sekitar tahun 2019 sebagai pusat pelatihan vokasi berbasis kearifan lokal yang mengemas keahlian petani dan pengrajin lereng Gunung Slamet menjadi paket wisata edukasi [2]. Inovasi ini digagas oleh pengurus BUMDes Jaya Nagari bersama masyarakat desa untuk mengatasi permasalahan utama berupa tingginya arus urbanisasi pemuda dan terancam punahnya keahlian tradisional akibat tidak adanya wadah transfer pengetahuan antargenerasi. Dampak utamanya adalah terciptanya profesi baru bagi pemuda desa sebagai instruktur dan pemandu wisata serta bertumbuhnya pendapatan asli desa dari sektor wisata edukasi yang dikelola secara mandiri [2].
Latar Belakang
Desa Gunungsari terletak di lereng Gunung Slamet, gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah, dalam kawasan Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Topografi wilayah ini berupa dataran tinggi pegunungan dengan suhu udara sejuk dan curah hujan tinggi yang menopang perkebunan kopi rakyat serta pertanian sayuran. Masyarakat desa mayoritas bermata pencaharian sebagai petani kopi dan pengrajin pandai besi dengan tradisi kerajinan yang sudah diwariskan lintas generasi [3]. Potensi unggulan daerah meliputi kekayaan budaya kerajinan pandai besi, perkebunan kopi lereng gunung, serta keberadaan studio radio komunitas Persada FM di Dukuh Krajan.
Sebelum Kampung Edukatif berdiri, Desa Gunungsari menghadapi ancaman serius berupa tingginya arus urbanisasi pemuda ke kota besar. Sekitar 60 persen pemuda usia produktif memilih merantau karena merasa tidak ada wadah pengembangan diri dan peluang ekonomi yang menarik di desa. Kunjungan wisatawan ke desa tercatat sangat minim, kurang dari 20 orang per bulan, dan pendapatan asli desa dari sektor nonpertanian nyaris nol [2]. Keahlian tradisional pandai besi dan pengolahan kopi yang dimiliki para tetua terancam punah karena tidak ada mekanisme terstruktur untuk mentransfer pengetahuan kepada generasi muda yang semakin sedikit jumlahnya.
Keberadaan studio radio Persada FM di Dukuh Krajan menjadi peristiwa pemicu yang membuka mata BUMDes Jaya Nagari terhadap potensi yang belum tergarap. Aset infrastruktur komunikasi ini belum pernah difungsikan secara optimal sebagai alat promosi potensi desa. BUMDes membaca keberadaan Persada FM, keahlian para petani dan pengrajin, serta kebutuhan menahan laju urbanisasi sebagai tiga elemen yang bisa disatukan menjadi satu ekosistem pembelajaran inovatif [2]. Kesadaran bahwa desa harus segera bertindak sebelum generasi terakhir pemilik keahlian tradisional meninggal mendorong percepatan pembangunan konsep Kampung Edukatif.
Inovasi yang Diterapkan
Ide Kampung Edukatif lahir dari hasil pemetaan aset desa yang mengidentifikasi bahwa kekayaan pengetahuan praktis tersimpan di tangan para tetua namun belum pernah dikemas sebagai produk bernilai ekonomi. BUMDes Jaya Nagari mengembangkan inovasi berupa pengubahan aktivitas harian petani dan pengrajin lokal menjadi kurikulum pembelajaran luar ruang yang bernilai komersial [2]. Desa secara bersamaan berfungsi sebagai tempat tinggal, pusat produksi, dan ruang kelas terbuka. BUMDes bertindak sebagai manajer profesional yang mengatur seluruh paket pelatihan, menjadwalkan kunjungan, dan memastikan kualitas layanan terjaga.
Lima program pelatihan utama yang menjadi tulang punggung Kampung Edukatif adalah pengolahan kopi, pandai besi, beternak ayam, tata bahasa Jawa, dan ilmu komunikasi penyiaran radio [2]. Masing-masing program memiliki instruktur dari kalangan warga desa yang dipilih berdasarkan keahlian nyata selama puluhan tahun. Elemen pembeda utama dari pendekatan wisata konvensional adalah sistem ini menempatkan warga desa bukan sebagai objek wisata yang diamati, melainkan sebagai instruktur ahli yang ilmunya dihormati dan dibayar oleh para tamu. Studio radio Persada FM berperan ganda: sebagai laboratorium komunikasi dan sebagai corong promosi ke seluruh wilayah Kabupaten Pemalang [5].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dari pemetaan mendalam terhadap seluruh aset desa melalui dialog intensif dengan tokoh masyarakat, petani, pengrajin, dan pemuda. Dari pemetaan itu teridentifikasi bahwa kekayaan pengetahuan praktis ada di tangan para tetua, tetapi mereka tidak terbiasa menyampaikannya di depan orang banyak [2]. BUMDes kemudian merancang kurikulum pelatihan, menyusun paket kunjungan, dan mempersiapkan sarana pendukung di lokasi-lokasi praktik langsung di kebun kopi dan bengkel pandai besi.
Eksperimen awal melalui kelas rintisan bagi pelajar sekolah terdekat memperlihatkan kegagalan yang menjadi pembelajaran berharga: para petani yang menguasai seluruh proses pengolahan kopi dari kebun hingga cangkir tidak mampu menyampaikan ilmunya secara menarik kepada peserta. Kegagalan komunikasi ini memicu lahirnya kolaborasi lintas profesi yang mengubah arah program secara fundamental. Para penyiar radio Persada FM diundang untuk melatih petani dan pengrajin dalam teknik berbicara di depan publik, menyusun alur cerita pelatihan, dan membuat materi yang mudah dipahami berbagai usia [6]. Koreksi pendekatan ini mengubah petani yang pendiam menjadi instruktur ekspresif dan percaya diri.
Setelah kapasitas instruktur terbentuk, BUMDes Jaya Nagari terus memperbaiki kurikulum secara berkala berdasarkan umpan balik langsung dari peserta di setiap akhir sesi. Wawasan paling berharga bagi replikator adalah bahwa filosofi pembelajaran berbasis pengalaman langsung — peserta memilih biji kopi, menyangrai, menggiling, dan menyeduh sendiri di bawah bimbingan petani — menjadi nilai jual paling khas yang sulit ditiru destinasi wisata edukasi lain [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal terbesar adalah hambatan psikologis para instruktur tani yang terbiasa bekerja dalam kesunyian ladang dan bengkel, bukan di depan audiens. Petani yang menguasai proses pengolahan kopi selama puluhan tahun bisa kehilangan kata-kata ketika harus menjelaskan proses yang sama kepada sekelompok pelajar [2]. Mitigasi yang ditempuh adalah program pelatihan komunikasi lintas profesi dengan melibatkan penyiar radio Persada FM sebagai pelatih teknik berbicara publik, penyusunan alur cerita pelatihan, dan simulasi berulang sebelum instruktur tampil di depan peserta sesungguhnya.
Tantangan eksternal adalah menjaga konsistensi kualitas layanan ketika volume kunjungan meningkat dan jumlah instruktur yang perlu dikoordinasikan bertambah. BUMDes harus membangun sistem standar operasional yang cukup terstruktur untuk menjaga kualitas, namun cukup fleksibel untuk mempertahankan keautentikan interaksi [6]. Solusi yang diterapkan adalah penyusunan modul panduan instruktur yang memuat poin-poin kunci materi namun memberikan keleluasaan gaya penyampaian personal. BUMDes juga menerapkan sistem evaluasi peserta di setiap akhir sesi untuk mendeteksi penurunan kualitas secara dini dan memberikan umpan balik langsung kepada instruktur [2].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah keunggulan infrastruktur komunikasi berupa studio radio Persada FM yang tidak dimiliki kebanyakan desa di Kabupaten Pemalang. Persada FM berfungsi ganda: sebagai laboratorium yang melatih kemampuan bicara para instruktur tani dan sebagai media promosi yang menjangkau ribuan pendengar tanpa biaya iklan [5]. Kombinasi fungsi pelatihan dan promosi dalam satu aset ini menjadi keunggulan kompetitif yang menjadi tulang punggung keberhasilan Kampung Edukatif.
Faktor kedua adalah kepemimpinan BUMDes Jaya Nagari yang membangun kepercayaan antara petani, pengrajin, dan pemuda melalui transparansi pengelolaan yang konsisten sejak awal [2]. Ketika warga percaya bahwa pendapatan dari paket wisata dibagi secara adil dan setiap instruktur mendapat penghargaan setara, semangat gotong royong lereng Gunung Slamet yang sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat berubah menjadi modal sosial. Kearifan lokal berupa tradisi berbagi pengetahuan dari sesepuh kepada generasi muda diadaptasi menjadi mekanisme transfer keahlian yang terstruktur dan berkelanjutan [6].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dari kondisi awal kunjungan wisatawan kurang dari 20 orang per bulan dengan pendapatan desa dari sektor nonpertanian nyaris nol, Desa Gunungsari kini menerima kunjungan rutin dari institusi pendidikan, komunitas, dan rombongan wisata keluarga dengan frekuensi yang meningkat signifikan. Produk kopi olahan lokal yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk biji mentah kepada pengepul kini memiliki pasar baru yang lebih luas melalui rantai pemasaran organik dari peserta pelatihan yang membawa cerita dan merekomendasikan desa [2]. Pendapatan asli desa dari sektor wisata edukasi mulai tumbuh dan berkontribusi pada kas BUMDes.
Dari sisi sumber daya manusia, inovasi ini berhasil menciptakan profesi baru di desa yang sebelumnya tidak ada: pemandu wisata edukasi dan instruktur teknis vokasional yang bekerja penuh waktu di kampung sendiri. Pemuda yang sebelumnya merupakan bagian dari 60 persen usia produktif yang berencana merantau kini memiliki alasan konkret untuk tinggal karena terbukti ada penghasilan layak dan karir yang berkembang [2]. Perubahan perilaku ini merupakan dampak sosial paling bermakna bagi keberlanjutan desa dalam jangka panjang.
Dampak spillover yang tidak direncanakan sebelumnya adalah terselamatkannya kearifan lokal dan keahlian tradisional dari ancaman kepunahan melalui proses dokumentasi aktif oleh studio Persada FM [5]. Setiap sesi pelatihan yang disiarkan atau direkam menjadi arsip pengetahuan yang dapat diakses kembali kapan pun. Perpustakaan hidup ini menyimpan cara pengrajin pandai besi mengolah besi, cara petani kopi membaca tanda alam untuk menentukan waktu panen, dan tata bahasa Jawa yang mulai dilupakan generasi muda.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan awal Kampung Edukatif bersumber dari penyertaan modal Pemerintah Desa Gunungsari kepada BUMDes Jaya Nagari melalui mekanisme Alokasi Dana Desa. Dana tersebut digunakan untuk penyiapan sarana pendukung pelatihan, pengadaan peralatan praktik di bengkel pandai besi dan kebun kopi, serta pembenahan studio radio Persada FM sebagai laboratorium komunikasi [2]. Biaya tenaga instruktur pada tahap awal ditanggung melalui mekanisme swadaya dengan kompensasi berupa pembagian hasil dari paket wisata yang terjual.
Model pendapatan BUMDes bertumpu pada penjualan paket wisata edukasi yang mencakup biaya pelatihan, konsumsi, dan pembelian produk olahan lokal. Strategi pembiayaan berkelanjutan dirancang melalui reinvestasi sebagian laba BUMDes untuk pembiayaan pelatihan lanjutan instruktur baru dan pengembangan modul pelatihan tambahan [7]. Pendapatan tambahan diperoleh dari penjualan produk kopi olahan, kerajinan pandai besi, dan jasa penyiaran radio yang semakin beragam seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan kunci yang tepat adalah memposisikan warga desa sebagai instruktur ahli yang ilmunya dihormati dan dibayar, bukan sebagai objek wisata yang diamati dari jauh. Pendekatan ini secara langsung membangun kebanggaan dan rasa memiliki yang menjadi fondasi partisipasi sukarela warga. Keputusan memanfaatkan penyiar radio Persada FM sebagai pelatih komunikasi bagi instruktur tani juga terbukti sangat tepat karena menghasilkan solusi kreatif dari dalam desa sendiri tanpa membutuhkan konsultan luar [2].
Jika memulai dari awal, hal yang akan dilakukan berbeda adalah melakukan uji coba kelas rintisan dalam skala lebih kecil terlebih dahulu dengan kelompok peserta yang sudah dikenal, sebelum membuka kelas untuk peserta dari luar desa. Selain itu, penyusunan modul panduan instruktur dan sistem evaluasi sebaiknya disiapkan sejak awal, bukan setelah masalah kualitas layanan muncul. Bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, saran paling praktis adalah mulailah dari pemetaan keahlian lokal yang sudah ada, bukan dari membangun keahlian baru, karena setiap desa pasti memiliki pengetahuan tradisional yang bernilai jual jika dikemas dengan tepat [6].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Kampung Edukatif dibangun di atas dua pilar: kemandirian finansial melalui reinvestasi laba BUMDes untuk pelatihan instruktur muda, dan kemandirian konten melalui sistem kaderisasi yang memastikan setiap instruktur berpengalaman memiliki murid yang siap mengambil alih [2]. Pola manajemen mandiri ini dirancang agar Kampung Edukatif tidak bergantung pada siklus program bantuan pemerintah. Struktur kelembagaan BUMDes yang memiliki badan hukum tersendiri menjamin bahwa inovasi tetap berjalan meskipun kepala desa berganti.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pelibatan pemuda desa sebagai asisten instruktur yang secara bertahap mengambil alih peran instruktur senior. Studio radio Persada FM menjadi tulang punggung strategi keberlanjutan konten karena setiap sesi pelatihan yang direkam menjadi arsip digital yang dapat diakses dan diperbarui [5]. Rencana pendapatan mandiri diarahkan pada diversifikasi modul pelatihan baru seperti fotografi alam pegunungan dan pengolahan hasil hutan nonkayu yang diidentifikasi dari umpan balik peserta.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Kampung Edukatif Desa Gunungsari berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan menyinergikan pelestarian kearifan lokal, pendidikan vokasi informal, pemberdayaan pemuda, dan pengembangan wisata berbasis komunitas. Inovasi ini menyentuh dimensi pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, dan pelestarian budaya secara bersamaan. Rincian kontribusi disajikan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Kampung Edukatif menciptakan sumber penghasilan baru bagi petani, pengrajin pandai besi, dan pemuda desa sebagai instruktur dan pemandu wisata. Rantai nilai produk kopi yang diperpanjang dari kebun hingga pengalaman wisata menghasilkan pendapatan lebih besar dibanding menjual biji mentah. | Jumlah warga yang memperoleh pendapatan tambahan dari wisata edukasi; peningkatan harga jual kopi olahan dibanding biji mentah. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Kampung Edukatif menghadirkan pendidikan informal berbasis pengalaman langsung yang mencakup keterampilan vokasional pertanian, kerajinan, komunikasi, dan bahasa daerah. Radio Persada FM sebagai laboratorium komunikasi memperluas akses pembelajaran melampaui batas fisik desa. | Jumlah peserta pelatihan per tahun; jumlah modul pelatihan yang dikembangkan; jangkauan siaran edukasi Persada FM. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Inovasi ini menekan angka pengangguran dan urbanisasi pemuda dengan menciptakan profesi baru sebagai pemandu wisata edukasi dan instruktur vokasi. Pertumbuhan sektor wisata edukasi yang dikelola BUMDes menghasilkan pendapatan asli desa. | Jumlah pemuda yang bekerja sebagai instruktur/pemandu; penurunan persentase urbanisasi pemuda dari 60%; kontribusi wisata edukasi terhadap PADes. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | Kampung Edukatif mengurangi kesenjangan akses terhadap pendidikan vokasi antara warga desa terpencil di lereng Gunung Slamet dengan warga perkotaan. Menjadikan petani dan pengrajin sebagai instruktur mengurangi kesenjangan status sosial antara profesi pertanian dan sektor jasa. | Ketersediaan fasilitas pelatihan vokasi di desa; peningkatan penghasilan instruktur tani dibanding sebelum program. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Dengan memberikan alasan ekonomi kuat bagi pemuda untuk tetap tinggal, Kampung Edukatif berkontribusi pada pembangunan komunitas perdesaan yang seimbang dan mengurangi tekanan urbanisasi berlebihan. Arsip pengetahuan lokal melalui Persada FM menjaga warisan budaya lereng Gunung Slamet. | Jumlah pemuda yang memilih tetap tinggal di desa; jumlah arsip pengetahuan lokal yang terekam di Persada FM. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum untuk mereplikasi inovasi ini adalah tersedianya keahlian tradisional di tangan warga, semangat gotong royong yang membuat mereka bersedia berbagi, dan satu pengelola yang mampu mengemas keahlian tersebut menjadi produk layanan bernilai jual [2]. Estimasi biaya replikasi untuk satu kampung edukatif dengan 3 hingga 5 modul pelatihan berkisar Rp25 juta hingga Rp50 juta untuk penyiapan sarana dan pengembangan kurikulum, dengan durasi persiapan 3 hingga 6 bulan. Studio radio bukan prasyarat mutlak; desa yang tidak memilikinya dapat menggantikan dengan podcast, channel YouTube komunitas, atau akun media sosial yang dikelola secara aktif.
Untuk scale up di tingkat kawasan, BUMDes Jaya Nagari sudah membuka peluang bagi desa-desa tetangga di lereng Gunung Slamet untuk studi banding dan mendapatkan modul standar operasional. Model adaptasi sangat fleksibel: setiap desa dapat mengembangkan spesialisasi berdasarkan keahlian lokal masing-masing [3]. Jika beberapa desa di Kecamatan Pulosari mengembangkan spesialisasi berbeda, jaringan Kampung Edukatif antardesa dapat dikemas menjadi paket wisata edukasi kawasan yang menawarkan itinerari multi-hari. Strategi ini memperluas manfaat ke desa-desa lain sekaligus memperkuat posisi kawasan lereng Gunung Slamet sebagai destinasi wisata edukasi unggulan Jawa Tengah [4].
Daftar Pustaka
[2] Inovasi Desa, “ID 00658: BUMDes Jaya Nagari Membangun Kampung Edukatif Guna Tingkatkan Keterampilan Pemuda dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa Gunungsari,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id
[3] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Gunungsari,” Jadesta — Jaringan Desa Wisata. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id
[4] Detik Jateng, “14 Wisata di Sekitar Kaki Gunung Slamet,” detik.com, 15 Okt. 2023. [Online]. Available: https://www.detik.com
[5] Instagram Inovasi Desa, “Inovasi Kampung Edukatif BUMDes Jaya Nagari Desa Gunungsari,” 21 Feb. 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com
[6] S. Rahayu et al., “Strategi Pemberdayaan Potensi Masyarakat Melalui Edukasi Pengelolaan Kampung Wisata,” Jurnal Rinjani Universitas Tribhuwana Tunggadewi, 2022. [Online]. Available: https://rinjani.unitri.ac.id
[7] F. Zamzami dan I. Huda, “Akuntabilitas Keuangan BUMDes Melalui Sistem Informasi Keuangan,” Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Okt. 2020. [Online]. Available: https://ugm.ac.id
[8] A. Kumparan, “Taman Botani Baturaden: Destinasi Wisata Edukatif yang Mempesona di Lereng Gunung Slamet,” kumparan.com, 4 Agu. 2024. [Online]. Available: https://kumparan.com
terima kasih informasinya sangat bermanfaat
info nya menarik dan bermnfaat