Ringkasan Inovasi

Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, menjalankan Program Pemulihan Ekonomi Hijau (PEH) yang menolak dikotomi antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Program ini bekerja melalui lima pilar yang saling menopang: reboisasi dan pemulihan tutupan hutan, pengembangan energi terbarukan (panel surya dan biogas), pertanian organik dengan irigasi efisien, pengelolaan limbah organik menjadi kompos, dan pengembangan usaha berbasis alam melalui Eko Eduwisata Lebah Kelulut Trigona (Trigona sp.) [1]. Desa yang merupakan eks transmigrasi Separi III ini kini menjadi salah satu percontohan pengelolaan ekonomi hijau di Kutai Kartanegara. Eko Eduwisata Lebah Trigona yang berdiri sejak 2013 telah menarik pengunjung dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur, sementara data 2024 mencatat 18 titik lampu jalan bertenaga panel surya aktif dengan rencana penambahan 112 titik, tiga unit biogas beroperasi, dan penanaman 5.000 pohon dalam satu aksi kolaboratif multipihak pada Mei 2024 [2].

 

Latar Belakang

Desa Bhuana Jaya adalah desa eks transmigrasi yang sejak era Orde Baru dikenal sebagai Separi III. Kalimantan Timur menyimpan kekayaan alam yang besar, tetapi juga menanggung tekanan eksploitasi sumber daya alam dari pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, dan aktivitas industri di sekitar Tenggarong Seberang yang memberi tekanan pada kualitas tanah, air, dan udara warga desa [3].

Kondisi konkret yang dihadapi warga: ketika tutupan lahan berkurang, debit air irigasi menurun di musim kemarau; ketika tanah kelelahan akibat pupuk kimia berlebih, produktivitas sawah dan kebun turun; ketika limbah organik ternak tidak dikelola, bau dan polusi air menjadi masalah kesehatan lingkungan [4].

Bhuana Jaya juga menyadari posisi strategisnya di Kecamatan Tenggarong Seberang, yang berada di jalur menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, membuka peluang menjadi bagian ekosistem perdesaan yang memasok produk pertanian organik, energi hijau, dan jasa wisata alam bagi permintaan yang tumbuh seiring pembangunan IKN [5].

 

Inovasi yang Diterapkan

Program Pemulihan Ekonomi Hijau bekerja melalui lima pilar yang dirancang saling memperkuat, sehingga keberhasilan satu pilar menjadi enabler bagi pilar lain [1].

Pilar Program, Data Teknis, dan Dampak
1. Reboisasi dan Pemulihan Hutan Pada Mei 2024, Desa Bhuana Jaya berkolaborasi dengan UPTD KPH Santan, Kelompok Tani Hutan (KTH) Tuah Himba, dan CSR PT Pama Persada Nusantara menanam 5.000 pohon di kawasan yang telah mengalami deforestasi, dengan jenis pohon dipilih untuk pemulihan keanekaragaman hayati, stabilisasi tanah, dan manfaat ekonomi jangka menengah.
2. Energi Terbarukan: Panel Surya dan Biogas Per data 2024, 18 titik lampu penerangan jalan umum (PJU) sudah menggunakan panel surya, dengan rencana penambahan 112 titik. Kotoran ternak sapi diolah melalui biodigester menjadi biogas, dengan 3 unit beroperasi, dimanfaatkan warga untuk memasak dan penerangan.
3. Pertanian Organik dan Irigasi Efisien Desa mendorong transisi dari pertanian berbasis pupuk kimia menuju pertanian organik berbahan kompos desa, sekaligus mengoptimalkan sistem irigasi agar distribusi air lebih efisien saat musim kemarau.
4. Pengelolaan Limbah Organik dan Kompos Limbah organik rumah tangga dan pertanian, seperti jerami, kulit buah, sisa sayuran, dan kotoran ternak, dipilah dan diolah menjadi kompos untuk kebutuhan pupuk pertanian desa.
5. Eko Eduwisata Lebah Kelulut dan Penguatan UMKM Eko Eduwisata Lebah Trigona berdiri sejak 2013, menghasilkan madu murni, propolis mentah, dan bee pollen, sekaligus menjadi tempat edukasi budidaya lebah tanpa sengat bagi pengunjung dan warga.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pemerintah Desa Bhuana Jaya memulai transformasi hijau bukan dari investasi infrastruktur besar, melainkan dari perubahan narasi: mendefinisikan ulang makna “kemajuan desa” agar tidak lagi diukur semata dari pembangunan fisik, tetapi dari keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kesehatan ekosistem [4].

Eko Eduwisata Lebah Trigona yang berdiri sejak 2013, dirintis Suwondo yang kini juga menjabat Sekretaris Desa, menjadi jangkar kepercayaan program: bukti nyata yang lebih dulu bisa dilihat warga bahwa pendekatan berbasis alam dapat menghasilkan pendapatan yang konsisten [6]. Aksi kolaboratif penanaman 5.000 pohon pada Mei 2024 bersama KPH Santan, KTH Tuah Himba, dan CSR PT Pama Persada Nusantara menjadi formalisasi kemitraan multipihak yang mengubah program desa dari inisiatif sektoral menjadi gerakan bersama [1].

Pengembangan energi terbarukan dilakukan bertahap mengikuti kapasitas anggaran dan keterampilan teknis yang tersedia, dimulai dari instalasi panel surya pada bangunan umum dan rumah percontohan, kemudian diperluas ke lampu penerangan jalan menuju target 112 titik PJU surya tambahan [7]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan instalasi teknis yang spesifik pada tahap ini; pendekatan bertahap sendiri tampaknya dipilih justru untuk memungkinkan desa mempelajari dan menyesuaikan pendekatan teknis sebelum berinvestasi dalam skala lebih besar.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama adalah mengubah kebiasaan warga yang terbentuk bertahun-tahun. Petani yang terbiasa menggunakan pupuk kimia memerlukan pendampingan dan bukti hasil nyata sebelum mau beralih ke pupuk organik, karena bagi mereka perubahan ini menyangkut pendapatan keluarga, bukan sekadar keputusan ideologis [4]. Kendala ini dimitigasi dengan menjadikan Eko Eduwisata Lebah Trigona sebagai bukti hidup terlebih dahulu, sehingga warga melihat contoh nyata sebelum diminta mengubah praktik pertanian mereka sendiri.

Tantangan teknis pada instalasi biogas adalah memastikan kontinuitas pasokan biomassa yang cukup, karena jumlah ternak yang terbatas di beberapa RT membuat output biogas per unit tidak selalu konsisten, sementara pemeliharaan panel surya memerlukan jadwal pembersihan berkala agar efisiensi tidak menurun [7]. Kendala ini dimitigasi melalui pengembangan bertahap sesuai kapasitas anggaran dan keterampilan teknis desa, bukan instalasi massal sekaligus yang berisiko sulit dipelihara.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah visi kepemimpinan yang menolak pemisahan antara ekonomi dan ekologi, disampaikan melalui tindakan yang terlihat, seperti lampu jalan bertenaga matahari dan kotoran sapi yang menghasilkan gas memasak [2].

Faktor kedua adalah kekuatan kemitraan multipihak: PT Pama Persada Nusantara, salah satu kontraktor tambang batu bara besar di Kalimantan, berkomitmen mendanai penanaman pohon di desa yang berada dalam lingkar dampak operasionalnya [8]. Faktor ketiga adalah keberadaan Eko Eduwisata Lebah Trigona sebagai demonstrator hidup yang membuktikan bahwa pelestarian alam dapat menjadi strategi bisnis yang masuk akal, bukan sekadar pengorbanan ekonomi [6].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak terukur pada 2024: 18 titik PJU bertenaga surya beroperasi (dengan pipeline 112 titik tambahan), 3 unit biogas aktif, dan 5.000 pohon tertanam dalam aksi kolaborasi Mei 2024 [1].

Eko Eduwisata Lebah Trigona terus berkembang sebagai destinasi eduwisata yang menarik pengunjung dari berbagai wilayah Kalimantan Timur, menghasilkan madu murni, propolis mentah, dan bee pollen, dengan pengunjung dapat mengolah lahan pertanian dan merasakan madu langsung dari sarangnya [6], [10]. Destinasi ini juga dikunjungi tim dari desa-desa lain di Kutai Kartanegara yang ingin mempelajari model serupa [8].

Dampak jangka panjang yang strategis adalah perubahan orientasi pembangunan desa dalam dokumen perencanaan, mengarahkan investasi infrastruktur, SDM, dan kemitraan desa ke dalam kerangka ekonomi hijau yang koheren [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan Program Pemulihan Ekonomi Hijau bertumpu pada kombinasi anggaran desa dan kemitraan CSR, seperti pendanaan penanaman pohon dari PT Pama Persada Nusantara [8]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran anggaran desa yang dialokasikan untuk instalasi panel surya dan biogas secara spesifik.

Model pendapatan bertumpu pada penjualan madu, propolis, dan bee pollen dari Eko Eduwisata Lebah Trigona, penghematan biaya listrik dari PJU tenaga surya, penghematan biaya LPG dari biogas rumah tangga, dan potensi penjualan kompos ke luar desa sebagai produk turunan bernilai ekonomi [6].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun bukti nyata (Eko Eduwisata Lebah Trigona) sebelum mengharapkan warga mengubah kebiasaan pertanian mereka, sehingga ekonomi hijau tidak diperkenalkan sebagai konsep abstrak melainkan sebagai model bisnis yang sudah terbukti bekerja [6]. Pendekatan bertahap dalam instalasi energi terbarukan, alih-alih investasi massal sekaligus, juga memberi ruang desa untuk belajar dan menyesuaikan sebelum skala diperbesar [7].

Jika memulai dari awal, mekanisme pemeliharaan rutin untuk panel surya dan pasokan biomassa biogas idealnya direncanakan sejak tahap instalasi, bukan ditemukan sebagai kendala operasional setelah unit terpasang. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari pilar yang paling sesuai dengan potensi lokal yang sudah ada, membangun kemitraan dengan pihak yang memiliki kepentingan langsung di kawasan sekitar (seperti perusahaan tambang atau perkebunan), dan tidak memaksakan seluruh lima pilar berjalan sekaligus sejak awal.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program bertumpu pada internalisasi nilai hijau ke dalam budaya desa dan komersialisasi produk hijau yang memberi insentif ekonomi nyata bagi warga: madu kelulut yang terjual, kompos yang mengurangi tagihan pupuk petani, dan lampu jalan surya yang menekan tagihan listrik desa [8].

Posisi strategis Bhuana Jaya dalam koridor pembangunan IKN membuka peluang scale up berbasis pasar, mendorong pemerintah desa membangun sertifikasi produk organik dan kapasitas pemasaran digital agar produk Bhuana Jaya dapat memasuki rantai pasok kawasan IKN [5].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program Pemulihan Ekonomi Hijau Desa Bhuana Jaya berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Peralihan ke pertanian organik dengan irigasi efisien dan pemupukan berbasis kompos bertujuan meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan tanpa degradasi kualitas tanah. Kompos dari limbah organik desa digunakan sebagai pengganti sebagian pupuk kimia pada lahan pertanian.
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau 18 titik PJU bertenaga surya dan 3 unit biogas aktif menjadi implementasi nyata transisi energi terbarukan di tingkat desa. 18 titik PJU surya beroperasi, dengan rencana penambahan 112 titik.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Eko Eduwisata Lebah Trigona menciptakan pendapatan dari jasa wisata, penjualan madu, propolis, dan bee pollen, serta kegiatan edukasi. Eko Eduwisata Lebah Trigona beroperasi sejak 2013 dan menarik pengunjung lintas wilayah Kalimantan Timur.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Siklus kompos yang mengolah limbah organik desa menjadi pupuk pertanian menerapkan ekonomi sirkular di skala dasar. Limbah jerami, kulit buah, sisa sayuran, dan kotoran ternak diolah menjadi kompos.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Penanaman 5.000 pohon, panel surya, dan biogas bersama-sama berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim di tingkat desa. 5.000 pohon ditanam dalam aksi kolaboratif Mei 2024 bersama KPH Santan, KTH Tuah Himba, dan PT Pama.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Reboisasi kawasan hutan yang telah ditebang dan pemeliharaan habitat lebah Trigona meningkatkan keanekaragaman hayati darat di Bhuana Jaya. Populasi lebah Trigona dijaga sebagai bagian dari Eko Eduwisata sekaligus pollinator ekosistem lokal.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa, UPTD KPH Santan, KTH Tuah Himba, dan CSR PT Pama Persada Nusantara menjadi model kemitraan lintas sektor di tingkat desa. Empat pihak berkolaborasi dalam aksi penanaman 5.000 pohon pada Mei 2024.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Lima Pilar Ekonomi Hijau Bhuana Jaya dapat direplikasi oleh desa lain di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur yang memiliki tekanan lingkungan serupa dari aktivitas industri sekitar. Kunci replikasinya adalah memulai dari pilar yang paling sesuai potensi lokal: desa dengan banyak ternak dapat memulai dari biogas, desa dengan lahan hutan rusak dari reboisasi, dan desa dengan keanekaragaman hayati tinggi dari eko-eduwisata seperti kelulut, tanpa harus menjalankan seluruh lima pilar sekaligus [2].

Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat menetapkan Bhuana Jaya sebagai desa inti dalam jaringan desa hijau Kukar, memberi insentif Dana Desa tambahan bagi desa yang mengadopsi minimal dua pilar ekonomi hijau, dan memfasilitasi akses kemitraan CSR perusahaan tambang di wilayah Kukar untuk desa-desa sekitar kawasan konsesi tambang [8].

 

Daftar Pustaka

[1] Desa Bhuana Jaya, “Gerakan Ekonomi Hijau Desa Bhuana Jaya Berkolaborasi dengan PT. PAMA dan KPHP Santan,” bhuanajaya.desa.id, 15 Mei 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.bhuanajaya.desa.id/gerakan-hijau-desa-bhuana-jaya-tenggarong-seberang-2024/.

[2] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Pemulihan Ekonomi Hijau, Inovasi Desa Bhuana Jaya untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Sekaligus Jaga Alam,” inovasi.web.id, 25 Jun. 2024. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pemulihan-ekonomi-hijau-inovasi-desa-bhuana-jaya-untuk-peningkatan-ekonomi-masyarakat-sekaligus-jaga-alam/.

[3] Kaltim Tribunnews, “Bhuana Jaya, Desa Transmigran di Kukar yang Punya Banyak Potensi dan Prestasi,” kaltim.tribunnews.com, 12 Des. 2021. [Daring]. Tersedia: https://kaltim.tribunnews.com/2021/12/12/bhuana-jaya-desa-transmigran-di-kukar-yang-punya-banyak-potensi-dan-prestasi.

[4] Desa Bhuana Jaya, “Konservasi – Desa Berwawasan Lingkungan, Masyarakat Sejahtera Berkelanjutan,” bhuanajaya.desa.id, 27 Apr. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.bhuanajaya.desa.id/keyword/konservasi/page/3/.

[5] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00683: Pemerintah Desa Bhuana Jaya Jalankan Ekonomi Hijau dan Perkuat Kesejahteraan Warga,” inovasi.web.id, 6 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-bhuana-jaya-jalankan-ekonomi-hijau-dan-perkuat-kesejahteraan-warga/.

[6] Kutai Panrita, “Manisnya Madu Kelulut – Eko Eduwisata Lebah Trigona Desa Bhuana Jaya,” kutaipanrita.id, 15 Nov. 2023. [Daring]. Tersedia: https://kutaipanrita.id/manisnya-madu-kelulut-eko-eduwisata-lebah-trigona/.

[7] Desa Bhuana Jaya, “Memanfaatkan Sumber Daya Alam Pedesaan sebagai Sumber Energi Terbarukan,” bhuanajaya.desa.id, 22 Jan. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.bhuanajaya.desa.id/keyword/pemanfaatan-sdm/.

[8] Kaltim Post – Jawa Pos, “Ladang Kelulut Bhuana Jaya Jadi Inspirasi Desa Inovatif di Kukar,” kaltimpost.jawapos.com. [Daring]. Tersedia: https://kaltimpost.jawapos.com/kutai-kartanegara/2509170116/ladang-kelulut-bhuana-jaya-jadi-inspirasi-desa-inovatif-di-kukar/.

[10] Desa Bhuana Jaya, “Wisatawan Dapat Merasakan Pengalaman Langsung Mengolah Lahan Pertanian,” Instagram, instagram.com. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/p/DQTEHjqEuXh/.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Program Pemulihan Ekonomi Hijau (PEH), "Desa Berwawasan Lingkungan, Masyarakat Sejahtera Berkelanjutan"
Alamat
Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Inovator
Pemerintah Desa Bhuana Jaya
Kontak
Suwondo (Sekretaris Desa), Telepon +62-821-5820-0251, Website https://www.bhuanajaya.desa.id/
Lokasi