Ringkasan Inovasi

Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, mengukuhkan diri sebagai sentra kerajinan Genteng Winong — produk genteng tanah liat yang dikenal luas di Magetan sejak 1920-an dan menjadi tumpuan ekonomi hampir seluruh warga sejak berkembang pesat pada 1990-an [1]. Para pengrajin genteng di desa ini, salah satunya Sumiran, secara bertahap beralih dari mencetak genteng sepenuhnya dengan tangan menjadi menggunakan mesin press cetak yang dioperasikan secara manual, untuk mengatasi keterbatasan hasil produksi harian dan ketidakseragaman bentuk genteng yang kerap menyebabkan risiko atap bocor. Sebelum mesin press digunakan, pengrajin mengandalkan cetakan tangan yang menguras banyak waktu dan tenaga kerja, dengan hasil cetakan yang tidak selalu seragam sehingga kualitas produk sulit konsisten. Setelah beralih ke mesin press, ukuran dan ketebalan genteng menjadi lebih presisi, susunan genteng di atap lebih rapat, dan produk mulai menarik minat pengembang properti serta kontraktor bangunan komersial, memperluas pasar Genteng Winong hingga ke Madiun, Ngawi, dan Ponorogo [3].

 

Latar Belakang

Desa Gulun terletak di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, dengan kantor pemerintahan desa beralamat di Jalan Manggis [5]. Wilayah desa memiliki luas sekitar 1,87 kilometer persegi dan jumlah penduduk 3.612 jiwa [1]. Menurut catatan sejarah setempat, desa ini berdiri sekitar abad ke-18 pada masa Perang Diponegoro, ketika seorang perwira bernama Singo Wijoyo melarikan diri dan mendirikan permukiman di wilayah ini, sementara nama “Gulun” sendiri diambil dari sejenis pohon yang masih dapat dijumpai di desa hingga kini [2].

Kerajinan genteng tanah liat, yang dikenal warga sebagai Genteng Winong dan mencakup wilayah Desa Gulun bersama Desa Tanjungsepreh, telah dikenal sejak 1920-an dan menjadi bisnis profesional sekitar 1970-an sebelum berkembang pesat pada era 1990-an [1]. Sebelum mesin press digunakan, para pengrajin hanya mengandalkan cetakan manual yang memakan banyak waktu dan tenaga kerja, sehingga jumlah produksi harian sangat terbatas dan sulit memenuhi pesanan besar, sementara bentuk genteng yang dihasilkan kerap tidak seragam dan berisiko menyebabkan atap bocor.

Momentum modernisasi mendesak ketika permintaan pasar semakin kompetitif dan pengembang properti mulai menuntut standar presisi ukuran yang lebih tinggi dibanding genteng cetakan tangan konvensional. Para pengrajin Desa Gulun, termasuk Sumiran, kemudian beralih menggunakan mesin press cetak untuk menjawab tuntutan pasar tanpa kehilangan karakter genteng tanah liat khas Winong yang sudah dikenal luas.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah penggunaan mesin press cetak genteng yang dioperasikan secara manual oleh pengrajin, menggantikan metode mencetak sepenuhnya dengan tangan yang selama ini digunakan turun-temurun. Alat ini bekerja dengan menekan tanah liat yang sudah dihaluskan menggunakan mesin giling (molen) ke dalam cetakan berstandar, sehingga menghasilkan bentuk genteng yang presisi dan seragam dalam waktu lebih singkat dibanding cetakan tangan [2].

Proses produksinya tetap mengikuti lima tahap tradisional Genteng Winong: pemilihan tanah liat padat tanpa campuran pasir, penghalusan menggunakan molen, pencetakan dengan mesin press, pengeringan alami di bawah sinar matahari, dan pembakaran di tungku kayu bakar [2]. Yang membedakan pendekatan ini dari otomasi penuh adalah mesin press tetap mempertahankan keterlibatan tenaga kerja manusia dalam setiap tahap, sehingga peningkatan produktivitas tidak serta-merta menghilangkan lapangan kerja pengrajin, melainkan meningkatkan presisi dan kecepatan kerja mereka.

 

Proses Penerapan Inovasi

Peralihan dari cetakan tangan ke mesin press cetak berlangsung bertahap seiring perkembangan industri Genteng Winong sejak berkembang pesat pada 1990-an, dengan pengrajin mengadopsi mesin press secara mandiri sesuai kemampuan modal masing-masing rumah produksi [1]. Sumiran menjadi salah satu pengrajin yang menerapkan mesin press ini di rumah produksinya di Desa Gulun.

Pada masa transisi, tidak semua mesin press yang diadopsi pengrajin langsung menghasilkan tingkat presisi yang diharapkan, karena kualitas hasil cetakan tetap bergantung pada keahlian operator dalam mengatur tekanan dan mengisi cetakan secara merata. Pengrajin yang belum mendapatkan hasil seragam pada percobaan awal harus menyesuaikan kembali teknik pengisian tanah liat dan tekanan mesin sebelum memperoleh kualitas genteng yang benar-benar presisi dan siap dipasarkan ke pasar yang lebih luas.

Ketahanan industri ini turut teruji ketika pandemi Covid-19 pada 2020-2021 menyebabkan penurunan pesanan hingga 35-40 persen, sebagaimana dialami sejumlah pengrajin Genteng Winong lain di Desa Gulun. Para pengrajin merespons dengan strategi produksi selektif agar tidak menumpuk stok, serta mulai memasarkan produk melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, hingga permintaan dari pengembang perumahan dan toko bahan bangunan kembali stabil pada akhir 2021 [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan modal pengrajin untuk mengadopsi mesin press cetak, mengingat metode lama yang mengandalkan tenaga kerja manual selama ini menguras biaya upah yang tinggi namun tidak memerlukan investasi alat di muka. Pengrajin seperti Sumiran mengatasinya dengan beralih secara bertahap, menyesuaikan investasi mesin dengan kemampuan modal usaha masing-masing.

Tantangan eksternal berupa persaingan pasar dan fluktuasi harga musiman turut memengaruhi industri ini, dengan harga jual genteng per seribu keping bisa turun signifikan pada musim hujan dibanding musim kemarau. Selain itu, pandemi Covid-19 sempat menekan permintaan pasar secara tajam, yang dimitigasi pengrajin melalui pemasaran digital dan produksi selektif berbasis pesanan alih-alih produksi massal tanpa kepastian pembeli [3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah reputasi Genteng Winong yang sudah terbangun sejak 1920-an sebagai produk genteng tanah liat berkualitas di Magetan, sehingga peningkatan presisi lewat mesin press semakin memperkuat kepercayaan pasar yang sudah ada, bukan membangun reputasi dari nol [1].

Faktor kedua adalah kekompakan antarpengrajin dalam satu sentra industri yang saling menopang, di mana hampir seluruh warga Desa Gulun menggantungkan hidup dari kerajinan genteng, menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung mulai dari pemasok tanah liat hingga jaringan distribusi ke luar daerah.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum mesin press digunakan, produksi harian pengrajin sangat terbatas akibat metode cetak tangan yang memakan waktu, dengan bentuk genteng yang kerap tidak seragam dan berisiko menyebabkan atap bocor. Setelah mesin press diterapkan, pengrajin mampu menghasilkan sekitar 250-300 keping genteng basah per hari dengan ukuran dan ketebalan yang presisi, mendukung susunan atap yang lebih rapat dan minim risiko kebocoran [3].

Kualitas produk yang meningkat memperluas pasar Genteng Winong hingga ke luar Magetan, mencakup Madiun, Ngawi, dan Ponorogo, serta menjangkau proyek perumahan, pertokoan, dan bahkan rumah sakit di Jawa Timur dan Jawa Tengah [3], [4]. Harga jual genteng berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per keping untuk pembelian eceran, atau Rp800.000 hingga Rp1.300.000 per seribu keping untuk pembelian partai besar, tergantung musim.

Dampak spillover dari modernisasi ini adalah ketahanan industri Genteng Winong menghadapi guncangan eksternal seperti pandemi Covid-19, ketika pengrajin mampu beradaptasi lewat pemasaran digital tanpa harus menghentikan produksi sama sekali. Sentra genteng ini juga membuka lapangan kerja bagi hampir seluruh warga Desa Gulun, menjadikan Genteng Winong identitas ekonomi utama desa yang dikenal hingga lintas kabupaten [3].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal usaha mesin press cetak genteng sepenuhnya berasal dari swadaya masing-masing pengrajin, tanpa bergantung pada bantuan atau hibah pemerintah, mengingat industri Genteng Winong sudah berjalan sebagai usaha mandiri warga sejak beberapa generasi [1]. Setiap rumah produksi mengelola modal dan investasi alatnya secara independen sesuai skala usaha masing-masing.

Model bisnisnya berbasis penjualan langsung ke konsumen, pengembang perumahan, dan toko bahan bangunan, dengan skema harga eceran maupun partai besar yang disesuaikan musim dan volume pesanan. Sejumlah pengrajin turut memanfaatkan media sosial sebagai kanal pemasaran tambahan, memperluas jangkauan pembeli tanpa menambah biaya distribusi yang besar [3].

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman pengrajin Desa Gulun menunjukkan bahwa keputusan beralih ke mesin press secara bertahap sesuai kemampuan modal, alih-alih memaksakan investasi besar sekaligus, adalah keputusan kunci yang tepat karena meminimalkan risiko kerugian bila hasil belum sesuai harapan. Kesediaan menyesuaikan teknik operasional mesin melalui percobaan berulang juga terbukti penting untuk mencapai hasil cetakan yang benar-benar presisi.

Jika memulai dari awal, pelatihan teknis penggunaan mesin press idealnya sudah disiapkan sejak awal adopsi, agar pengrajin tidak perlu melalui banyak percobaan gagal sebelum memperoleh hasil cetakan yang presisi dan konsisten.

Bagi sentra kerajinan serupa di daerah lain yang ingin bertransformasi dari metode manual ke mesin press, saran praktisnya adalah memulai investasi secara bertahap sesuai kemampuan modal, mempertahankan proses tradisional yang menjadi ciri khas produk, serta memanfaatkan media sosial sebagai kanal pemasaran tambahan untuk memperluas jangkauan pasar tanpa biaya besar.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan industri Genteng Winong di Desa Gulun ditopang regenerasi alami pengrajin dari generasi ke generasi, mengingat hampir seluruh warga desa menggantungkan hidup dari kerajinan ini sejak 1920-an, sehingga keahlian dan jaringan pasar terus diwariskan secara turun-temurun [1].

Mekanisme regenerasi usaha tidak bergantung pada satu tokoh sentral, melainkan tersebar di antara banyak rumah produksi independen seperti milik Sumiran dan pengrajin lain di Desa Gulun, sehingga keberlangsungan sentra industri tidak rentan terhenti akibat pergantian generasi pada satu keluarga pengrajin saja.

Rencana pendapatan mandiri ke depan dapat diperkuat dengan memperluas pemanfaatan media sosial dan platform digital untuk pemasaran, sebagaimana sudah dirintis sejumlah pengrajin sejak masa pandemi, serta menjajaki diversifikasi varian produk genteng untuk menjangkau segmen pasar proyek komersial yang lebih luas [4].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi modernisasi cetakan Genteng Winong di Desa Gulun berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Hampir seluruh warga Desa Gulun menggantungkan hidup dari kerajinan Genteng Winong sebagai sumber penghidupan utama. Mayoritas rumah tangga desa berprofesi sebagai pengrajin genteng
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Mesin press meningkatkan produktivitas pengrajin tanpa menghilangkan lapangan kerja, sekaligus memperluas pasar dan pendapatan. Produksi 250-300 keping genteng basah per hari per pengrajin
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Modernisasi alat produksi dari cetakan tangan ke mesin press cetak menjadi inovasi infrastruktur produksi skala rumah tangga. Mesin press cetak diadopsi bertahap oleh pengrajin Desa Gulun
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Genteng berkualitas presisi mendukung ketahanan bangunan perumahan dan mengurangi risiko kebocoran atap bagi konsumen di berbagai daerah. Pasar meluas ke Madiun, Ngawi, dan Ponorogo
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Presisi hasil cetakan mesin press mengurangi produk cacat dan pemborosan bahan baku tanah liat dibanding cetakan tangan. Ukuran dan ketebalan genteng lebih seragam dan konsisten

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model modernisasi bertahap dari cetakan tangan ke mesin press ini berpotensi direplikasi oleh sentra kerajinan genteng tradisional lain di Indonesia yang menghadapi keterbatasan produksi dan ketidakseragaman kualitas serupa. Prasyarat minimum meliputi ketersediaan bahan baku tanah liat berkualitas, keahlian dasar pengrajin dalam proses pembakaran tradisional, serta kesediaan berinvestasi bertahap pada mesin press sesuai kemampuan modal.

Estimasi biaya replikasi bervariasi tergantung skala usaha, karena setiap pengrajin di Desa Gulun mengadopsi mesin press secara independen sesuai modal masing-masing tanpa investasi kolektif besar. Sentra kerajinan lain dapat mengadaptasi model ini dengan memulai dari satu unit mesin press untuk menguji peningkatan kualitas dan produktivitas, sebelum memperluas investasi seiring bertambahnya permintaan pasar.

 

Daftar Pustaka

[1] Kontributor Wikipedia, “Gulun, Maospati, Magetan,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Gulun,_Maospati,_Magetan

[2] “Pabrik Genteng Winong di Desa Gulun,” gentenggulunmaospati.blogspot.com, Okt. 2014. [Online]. Tersedia: http://gentenggulunmaospati.blogspot.com/2014/10/pabrik-genteng-winong-di-desa-gulun.html

[3] Dimensi News, “Hebat…!! Saat Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, Pengrajin Genteng Winong Tetap Produksi,” dimensinews.co.id, 2021. [Online]. Tersedia: https://www.dimensinews.co.id/175098/hebat-saat-bertahan-ditengah-pandemi-covid-19-pengrajin-genteng-winong-tetap-produksi.html

[4] “Jual Genteng Magetan – Produsen Pabrik Genteng Gulun – Winong,” gentengmagetan.wordpress.com, 16 Des. 2017. [Online]. Tersedia: https://gentengmagetan.wordpress.com/2017/12/16/jual-genteng-magetan-produsen-pabrik-genteng-gulun-winong/

[5] Pemerintah Desa Gulun, “Website Resmi Desa Gulun,” gulun.magetan.go.id. [Online]. Tersedia: https://gulun.magetan.go.id/

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Modernisasi Cetakan Genteng Winong Menggunakan Mesin Press
Alamat
Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
Inovator
Pengrajin Genteng Desa Gulun, salah satunya Sumiran
Kontak
Sumiran, 0813-3597-9720
Lokasi