Ringkasan Inovasi

Desa Bandar Baru di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe (STTU Jehe), Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara, membangun Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 250 meter menggunakan alat berat dan satu unit jembatan gelagar besi berlantai kayu menuju Dusun Nantabar Julu menggunakan Dana Desa tahun 2017 senilai Rp306 juta [1]. Inovasi yang diprakarsai oleh Kepala Desa Bin Berutu bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) ini membuka akses ke sentra produksi pertanian seluas kurang lebih 50 hektar yang sebelumnya terisolasi, di mana sekitar 30 kepala keluarga petani menanam komoditas bernilai tinggi seperti gambir, kulit manis, durian, petai, jengkol, dan kayu sengon [1]. Kabupaten Pakpak Bharat dikenal sebagai salah satu penghasil gambir terbesar di Sumatera Utara dengan kandungan katekin mencapai 78–90%, menjadikan pembukaan akses ke sentra gambir Nantabar Julu bukan sekadar pembangunan jalan, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat desa [2][3].

Latar Belakang

Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Dairi yang diresmikan pada 25 Februari 2003, dengan luas wilayah sekitar 1.218,30 km² yang terbagi ke dalam 8 kecamatan dan 52 desa [3]. Kabupaten ini memiliki kepadatan penduduk terendah di Sumatera Utara — hanya sekitar 42 jiwa per km² — dengan jumlah penduduk sekitar 57.000 jiwa, menjadikannya salah satu kabupaten terkecil populasinya di provinsi tersebut [4]. Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe tempat Desa Bandar Baru berada merupakan wilayah berbukit-bukit pada ketinggian 300–750 meter di atas permukaan laut, dengan topografi yang menjadikan aksesibilitas sebagai tantangan utama pembangunan [5].

 

Sektor pertanian dan perkebunan menjadi tulang punggung perekonomian Pakpak Bharat, dengan gambir sebagai komoditas unggulan yang telah dibudidayakan secara turun-temurun. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pakpak Bharat pada tahun 2017 menerbitkan buku saku potensi desa unggulan yang menegaskan bahwa wilayah Kecamatan STTU Jehe pada ketinggian 600–1.200 mdpl merupakan zona ideal untuk tanaman gambir [1]. Survey dari berbagai universitas juga merekomendasikan gambir sebagai tanaman yang berpeluang besar meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat di wilayah ini. Gambir Pakpak Bharat dikenal memiliki kandungan katekin yang sangat tinggi — mencapai 78,91% hingga 89,99% — yang menempatkannya di posisi tawar kuat di pasar ekspor internasional, terutama India dan Bangladesh [2].

 

Namun potensi besar ini terbentur kenyataan pahit: Dusun Nantabar Julu yang merupakan sentra produksi pertanian seluas 50 hektar milik sekitar 30 KK petani Desa Bandar Baru sama sekali tidak memiliki akses jalan yang bisa dilalui kendaraan [1]. Petani hanya mengandalkan jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, sehingga hasil panen gambir, kulit manis, durian, petai, jengkol, dan kayu sengon harus dipikul secara manual dari kebun ke permukiman atau titik pengumpulan. Biaya dan tenaga untuk mengangkut hasil panen menjadi sangat besar, margin keuntungan petani tergerus, dan produktivitas lahan 50 hektar yang berpotensi tinggi tidak dapat dioptimalkan. Kondisi ini menjadi keluhan utama yang disampaikan warga dalam Musyawarah Dusun (Musdus) dan Musyawarah Desa (Musdes) tahun 2016.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembukaan Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 250 meter menggunakan alat berat dan pembangunan satu unit jembatan gelagar besi berlantai kayu yang menghubungkan permukiman Desa Bandar Baru dengan Dusun Nantabar Julu [1]. JUT ini bukan sekadar pelebaran jalan setapak, melainkan pembukaan badan jalan baru melalui medan berbukit yang sebelumnya tidak terjangkau kendaraan bermotor sama sekali. Penggunaan alat berat (excavator) untuk penggalian dan perataan badan jalan di medan pegunungan menunjukkan ambisi pembangunan yang serius — bukan proyek pengerasan jalan biasa, melainkan pembukaan akses sama sekali baru ke kawasan pertanian yang terisolasi.

 

Elemen pembeda dari inovasi ini adalah kehadiran jembatan gelagar besi berlantai kayu yang menjadi simpul konektivitas kritis. Tanpa jembatan ini, JUT yang sudah dibangun tidak akan berfungsi optimal karena ada sungai atau jurang yang memisahkan ruas jalan. Desain gelagar besi memberikan kekuatan struktural untuk menahan beban kendaraan pengangkut hasil tani, sementara lantai kayu memberikan fleksibilitas dan kemudahan perawatan menggunakan material lokal yang tersedia di hutan sekitar [1]. Kombinasi JUT dan jembatan ini secara bersama-sama membuka akses kendaraan roda empat ke sentra produksi 50 hektar yang sebelumnya hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses bermula dari aspirasi petani yang disampaikan dalam Musyawarah Dusun (Musdus) tahun 2016, kemudian dibawa ke forum Musyawarah Desa (Musdes) untuk dibahas dan disepakati bersama [1]. Dalam Musdes, sekitar 30 KK petani yang menjadi pengguna langsung jalan menuju Dusun Nantabar Julu secara kompak menyuarakan kebutuhan mendesak ini. Kepala Desa Bin Berutu bersama BPD kemudian menetapkan pembukaan JUT dan pembangunan jembatan sebagai prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahun 2017, dengan anggaran Rp306 juta yang bersumber dari Dana Desa dan ditampung dalam APBDes 2017.

 

Pelaksanaan pembangunan menghadapi tantangan teknis yang serius mengingat topografi pegunungan Kecamatan STTU Jehe. Pembukaan badan jalan sepanjang 250 meter melalui medan berbukit memerlukan penggalian dan perataan tanah (cut and fill) yang presisi agar elevasi jalan tidak terlalu terjal untuk dilalui kendaraan [6]. Pada segmen awal pembukaan, badan jalan yang digali oleh alat berat menghasilkan korekan tanah yang terlalu dalam di beberapa titik tanpa gorong-gorong yang memadai, sehingga air hujan menggenang dan membuat jalan tidak bisa dilewati [6]. TPK segera berkoordinasi dengan Tenaga Ahli Infrastruktur Desa, Jhonny R Lbn Tobing, untuk mengoreksi elevasi dan menambahkan saluran drainase sederhana pada titik-titik kritis. Koreksi ini memperbaiki kualitas badan jalan secara signifikan pada segmen-segmen selanjutnya.

 

Pembangunan jembatan gelagar besi berlantai kayu juga memerlukan keahlian teknis khusus yang tidak dimiliki warga desa secara mandiri. Tenaga Ahli P3MD-PID Kabupaten Pakpak Bharat, Arjuna SP, berperan penting dalam pendampingan teknis konstruksi jembatan agar memenuhi standar keamanan dan mampu menahan beban kendaraan pengangkut hasil tani [1]. Partisipasi warga terutama terlihat pada penyediaan kayu lokal untuk lantai jembatan dan pengerahan tenaga swadaya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan alat berat.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis utama adalah topografi pegunungan yang membuat pembukaan jalan dengan alat berat jauh lebih kompleks dibandingkan pembangunan jalan di dataran rendah. Kontur tanah yang curam, curah hujan tinggi di wilayah pegunungan, dan karakteristik tanah yang mudah tererosi menciptakan risiko longsor pada badan jalan yang baru digali [6]. Mitigasi dilakukan melalui pendampingan intensif dari Tenaga Ahli Infrastruktur Desa yang memastikan sudut kemiringan galian dan sistem drainase sesuai standar teknis untuk medan berbukit, serta penjadwalan pembangunan pada musim kemarau untuk meminimalkan risiko kerusakan akibat hujan.

 

Tantangan sosial berupa kebutuhan masyarakat untuk merelakan sebagian lahan agar badan jalan dapat melintas dengan lebar yang memadai. Pembukaan JUT di medan pegunungan seringkali memerlukan pelebaran badan jalan dari jalan setapak menjadi 3–4 meter, yang berarti ada lahan warga yang terdampak [7]. Mitigasi dilakukan melalui musyawarah terbuka di mana Kepala Desa dan BPD menjelaskan bahwa manfaat ekonomi dari terbukanya akses ke 50 hektar lahan pertanian akan jauh melebihi nilai lahan yang dihibahkan. Kesepakatan dicapai karena 30 KK petani yang menjadi pengguna langsung memahami bahwa harga jual hasil panen mereka akan meningkat begitu kendaraan bisa masuk ke kebun.

 

Tantangan keberlanjutan berupa risiko kerusakan jalan yang tinggi di kawasan pegunungan akibat erosi, longsor, dan curah hujan yang intens. Jalan yang dibangun tanpa perkerasan permanen (seperti rabat beton) sangat rentan terhadap kerusakan musiman [6]. Mitigasi ditempuh dengan merencanakan peningkatan kualitas permukaan jalan secara bertahap pada tahun-tahun anggaran berikutnya, serta membangun kebiasaan gotong royong perawatan jalan oleh 30 KK petani pengguna setiap menjelang musim hujan.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Kepala Desa Bin Berutu yang responsif terhadap aspirasi petani menjadi faktor penentu utama. Beliau tidak membiarkan keluhan warga tentang keterisolasian Dusun Nantabar Julu sekadar menjadi catatan Musdes, melainkan langsung menetapkannya sebagai prioritas RKPDes dengan alokasi anggaran terbesar dari Dana Desa [1]. Keberanian mengalokasikan Rp306 juta — porsi signifikan dari Dana Desa untuk satu proyek — menunjukkan visi jangka panjang bahwa membuka akses ke 50 hektar lahan produktif akan menghasilkan pengembalian ekonomi yang jauh melebihi investasi infrastruktur.

 

Dukungan teknis dari tim pendamping yang kompeten menjadi pilar kedua keberhasilan. Kehadiran Arjuna SP (Tenaga Ahli P3MD-PID Kabupaten) dan Jhonny R Lbn Tobing (Tenaga Ahli Infrastruktur Desa) memastikan bahwa pembangunan jalan dan jembatan di medan pegunungan memenuhi standar teknis meskipun kapasitas SDM desa terbatas [1]. Validasi ilmiah dari Bappeda Pakpak Bharat dan berbagai universitas yang menegaskan potensi gambir di zona ketinggian STTU Jehe juga memberikan legitimasi akademis terhadap keputusan investasi Dana Desa, karena membuktikan bahwa lahan yang dibuka aksesnya memang berpotensi tinggi secara ekonomi [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum JUT dan jembatan dibangun, 30 KK petani Desa Bandar Baru yang berkebun di Dusun Nantabar Julu harus mengangkut semua hasil panen — gambir, kulit manis, durian, petai, jengkol, dan kayu sengon — secara manual dengan dipikul melalui jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki [1]. Proses pengangkutan yang melelahkan ini membatasi volume panen yang bisa dibawa keluar, memaksa petani meninggalkan sebagian hasil panen yang tidak terangkut, dan melemahkan posisi tawar terhadap tengkulak karena petani tidak punya pilihan selain menjual di titik pengumpulan terdekat dengan harga seadanya.

 

Setelah JUT dan jembatan beroperasi, kendaraan roda empat untuk pertama kalinya dapat menjangkau kawasan produksi 50 hektar di Dusun Nantabar Julu. Dampak langsungnya adalah penurunan drastis biaya dan waktu pengangkutan hasil panen, peningkatan volume panen yang dapat dikeluarkan per trip, dan terbukanya akses bagi tengkulak atau pembeli yang sebelumnya enggan masuk ke kawasan terisolasi [7]. Bagi petani gambir khususnya, kemampuan mengangkut daun gambir segar dengan cepat ke tempat pengolahan sangat krusial karena kualitas katekin gambir dipengaruhi oleh kecepatan pengolahan setelah panen [2].

 

Dampak multiplier yang mulai terasa adalah meningkatnya minat warga untuk menggarap lahan yang sebelumnya terbengkalai di sekitar Nantabar Julu. Ketika akses jalan sudah tersedia, lahan-lahan yang selama ini ditinggalkan karena tidak efisien secara logistik mulai dilirik kembali untuk ditanami gambir dan komoditas bernilai tinggi lainnya. Secara sosial, inovasi ini juga memberikan inspirasi bagi desa-desa lain di Kecamatan STTU Jehe untuk melakukan hal serupa — membuka akses jalan ke sentra produksi pertanian yang selama ini terisolasi menggunakan Dana Desa [1].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Seluruh biaya pembangunan JUT dan jembatan berasal dari Dana Desa tahun anggaran 2017 sebesar Rp306 juta yang ditampung dalam APBDes Desa Bandar Baru [1]. Anggaran ini mencakup biaya sewa alat berat (excavator) untuk pembukaan badan jalan sepanjang 250 meter, pengadaan material gelagar besi dan kayu untuk jembatan, serta biaya tenaga kerja terampil dan swadaya masyarakat. Pemanfaatan Dana Desa untuk JUT memiliki landasan kebijakan yang kuat karena pembangunan infrastruktur pertanian merupakan salah satu prioritas penggunaan Dana Desa sesuai ketentuan Kementerian Desa PDTT.

 

Model keberlanjutan finansial bersifat tidak langsung: JUT dan jembatan tidak menghasilkan pendapatan retribusi secara langsung, melainkan menciptakan efisiensi ekonomi yang meningkatkan penghasilan petani melalui penurunan biaya angkut, peningkatan volume panen yang terselamatkan, dan perbaikan posisi tawar harga. Peningkatan pendapatan 30 KK petani pada gilirannya memperluas basis ekonomi desa, serta berpotensi meningkatkan kontribusi ke BUMDes jika unit usaha pengumpulan hasil tani dikelola secara kelembagaan di masa mendatang. Biaya pemeliharaan jalan dan jembatan direncanakan melalui alokasi rutin dalam APBDes tahun-tahun berikutnya, ditambah gotong royong perawatan oleh komunitas petani pengguna jalan.

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat dalam inovasi ini adalah mengalokasikan Dana Desa untuk membuka akses ke sentra produksi pertanian yang terbukti berpotensi tinggi — bukan membangun infrastruktur yang terlihat megah tetapi tidak menyelesaikan masalah ekonomi petani. Keputusan ini diperkuat oleh validasi ilmiah dari Bappeda dan universitas yang memastikan bahwa Dusun Nantabar Julu memang berada di zona ideal untuk tanaman gambir unggulan [2]. Pendekatan Musdes yang partisipatif juga terbukti tepat karena memastikan bahwa proyek yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan riil petani, bukan keinginan pemerintah desa semata.

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa perencanaan teknis yang lebih matang — terutama perhitungan elevasi, sudut kemiringan galian, dan penempatan gorong-gorong — seharusnya diselesaikan sebelum alat berat mulai bekerja, bukan dikembangkan secara korektif setelah permasalahan muncul di lapangan [6]. Keterlibatan Tenaga Ahli Infrastruktur Desa sejak tahap perencanaan (bukan hanya tahap pelaksanaan) akan mencegah pemborosan anggaran untuk koreksi teknis. Selain itu, perencanaan peningkatan kualitas permukaan jalan secara bertahap (dari jalan tanah ke sirtu, kemudian ke rabat beton) seharusnya sudah tertuang dalam rencana jangka menengah APBDes agar kualitas jalan terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Saran praktis bagi desa-desa lain di daerah pegunungan yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, lakukan validasi potensi ekonomi lahan yang akan dibuka aksesnya — libatkan Bappeda dan perguruan tinggi untuk memastikan bahwa investasi infrastruktur sebanding dengan potensi pendapatan yang dihasilkan. Kedua, libatkan Tenaga Ahli Infrastruktur Desa sejak tahap desain, bukan hanya tahap pelaksanaan, karena pembangunan jalan di medan pegunungan memerlukan perencanaan teknis yang berbeda secara fundamental dari pembangunan jalan di dataran. Ketiga, rencanakan pemeliharaan jalan sebagai program rutin, bukan insidental, karena jalan di pegunungan sangat rentan kerusakan akibat erosi dan longsor [7].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan JUT dan jembatan di medan pegunungan bergantung pada dua mekanisme utama. Pertama, alokasi anggaran pemeliharaan dalam APBDes setiap tahun untuk menambal kerusakan jalan akibat erosi dan curah hujan tinggi, serta inspeksi berkala struktur jembatan gelagar besi. Kedua, gotong royong pemeliharaan oleh 30 KK petani pengguna jalan yang memiliki kepentingan langsung terhadap kelancaran akses ke kebun mereka di Nantabar Julu [1]. Rasa kepemilikan kolektif yang terbentuk sejak proses Musdes menjadi modal sosial penting agar pemeliharaan berjalan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran desa.

 

Strategi pengembangan jangka panjang mencakup peningkatan kualitas permukaan jalan secara bertahap — dari jalan tanah saat ini ke pengerasan sirtu kemudian rabat beton — sesuai kemampuan anggaran APBDes tahun-tahun berikutnya. Pembangunan tambahan berupa perluasan ruas jalan ke areal pertanian lain yang masih terisolasi juga dapat direncanakan untuk memperluas jangkauan manfaat infrastruktur. Dalam dimensi ekonomi, potensi pembentukan kelompok tani atau unit usaha BUMDes yang mengelola pengumpulan dan pemasaran gambir secara kolektif akan semakin relevan setelah akses logistik sudah tersedia — mengubah petani dari penjual individual ke tengkulak menjadi koperasi yang dapat bernegosiasi langsung dengan pasar ekspor [2].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pembukaan JUT dan jembatan di Desa Bandar Baru membuktikan bahwa Dana Desa yang dialokasikan untuk membuka isolasi sentra produksi pertanian berdampak langsung pada beberapa dimensi pembangunan berkelanjutan. Investasi infrastruktur yang tepat sasaran di daerah pegunungan dapat sekaligus mengentaskan kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperkuat kelembagaan desa [1].

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Terbukanya akses kendaraan ke sentra produksi 50 hektar secara langsung menurunkan biaya angkut hasil panen, meningkatkan volume penjualan, dan memperbaiki posisi tawar 30 KK petani terhadap tengkulak, yang berkorelasi langsung dengan peningkatan pendapatan [1]. Penurunan biaya angkut hasil panen; peningkatan volume panen yang terjual; akses kendaraan ke 50 Ha lahan yang sebelumnya hanya dijangkau jalan kaki
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Kemudahan mengangkut sarana produksi (pupuk, bibit) ke lahan dan mengangkut hasil panen ke pasar mendorong intensifikasi pertanian di 50 hektar lahan yang sebelumnya tidak optimal, meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan perkebunan di Dusun Nantabar Julu [7]. Peningkatan produktivitas lahan 50 Ha; kemudahan distribusi pupuk dan bibit ke lahan; bertambahnya lahan yang digarap setelah akses terbuka
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembukaan JUT 250 meter dan jembatan gelagar besi menciptakan infrastruktur konektivitas yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar, memungkinkan mobilisasi alat dan mesin pertanian modern ke lahan yang sebelumnya tidak terjangkau [1]. JUT 250 meter dan 1 jembatan gelagar besi terbangun; kendaraan roda empat dapat masuk ke sentra produksi; investasi Dana Desa Rp306 juta menjadi aset infrastruktur produktif
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pembukaan akses yang terencana mendorong pengelolaan lahan pertanian pegunungan secara lebih produktif dan terawat, mengurangi praktik perladangan berpindah yang merusak hutan dan mendorong budidaya tanaman keras (gambir, kulit manis, kayu sengon) yang menjaga tutupan lahan [2]. Budidaya tanaman keras yang menjaga tutupan lahan; pengurangan praktik pembukaan hutan liar; optimalisasi 50 Ha lahan yang sudah ada
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara pemerintah desa, BPD, Tenaga Ahli P3MD-PID, Tenaga Ahli Infrastruktur Desa, Bappeda Kabupaten, dan perguruan tinggi membuktikan kemitraan multipihak sebagai kunci pembangunan infrastruktur berkualitas di daerah terpencil [1]. Kemitraan aktif 5+ pihak; pendampingan teknis dari P3MD-PID dan Tenaga Ahli Infrastruktur; validasi potensi oleh Bappeda dan universitas

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Desa Bandar Baru relevan direplikasi oleh desa-desa di kawasan pegunungan Sumatera yang memiliki sentra produksi pertanian bernilai tinggi tetapi terisolasi oleh ketiadaan jalan. Prasyarat minimum mencakup: identifikasi lahan produktif yang sudah digarap petani tetapi terkendala logistik, ketersediaan Dana Desa yang cukup untuk investasi pembukaan jalan dengan alat berat, dan komitmen warga untuk menghibahkan sebagian lahan demi pelebaran badan jalan [7]. Estimasi biaya replikasi berkisar Rp250–400 juta tergantung panjang ruas, tingkat kesulitan medan, dan kebutuhan jembatan, dengan durasi pembangunan 2–4 bulan di musim kemarau.

 

Untuk scale up di tingkat kabupaten, Bappeda Pakpak Bharat dapat mengembangkan peta aksesibilitas sentra produksi gambir di seluruh 52 desa, mengidentifikasi lokasi-lokasi yang paling mendesak untuk dibuka JUT, dan menyusun rencana pembangunan bertahap dengan prioritas berdasarkan potensi ekonomi lahan dan jumlah petani yang terdampak [3]. Integrasi pembukaan JUT dengan program hilirisasi gambir — seperti pendirian unit pengolahan katekin di tingkat kecamatan — akan memaksimalkan dampak ekonomi karena petani tidak hanya mendapat akses logistik tetapi juga akses ke rantai nilai yang lebih tinggi [2].

 

Daftar Pustaka

[1] Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan STTU Jehe, “Desa Bandar Baru Bangun Infrastruktur Jalan dan Jembatan Menuju Lahan Pertanian,” Katalog Inovasi Desa, Perkumpulan Gedhe Nusantara & Kementerian Desa PDTT, 2018.

 

[2] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pakpak Bharat, “Buku Saku Potensi Desa Unggulan Kabupaten Pakpak Bharat: Rekomendasi Tanaman Gambir di Kecamatan STTU Jehe,” Bappeda Kabupaten Pakpak Bharat, 2017.

 

[3] Wikipedia, “Kabupaten Pakpak Bharat,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pakpak_Bharat

 

[4] Badan Pusat Statistik Kabupaten Pakpak Bharat, “Kabupaten Pakpak Bharat Dalam Angka 2025,” pakpakbharatkab.bps.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://pakpakbharatkab.bps.go.id

 

[5] Wikipedia, “Sitellu Tali Urang Jehe, Pakpak Bharat,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sitellu_Tali_Urang_Jehe,_Pakpak_Bharat

 

[6] Wahana News, “Masyarakat Desa Bandar Baru Keluhkan Proyek Pembukaan Jalan: Badan Jalan Tidak Rata dan Tanpa Gorong-gorong,” wahananews.co, 2021. [Online]. Tersedia: https://wahananews.co

 

[7] Bidik Nasional, “Jalan Penghubung Desa Bandar Baru dan Desa Mahala Rusak Parah, Petani Kesulitan Angkut Hasil Tani,” bidiknasional.com, 2022. [Online]. Tersedia: https://bidiknasional.com

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pembukaan Jalan Usaha Tani (JUT) dan Pembangunan Jembatan Desa Menuju Sentra Produksi Pertanian Dusun Nantabar Julu
Alamat
Desa Bandar Baru, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
Inovator
Bin Berutu (Kepala Desa Bandar Baru) bersama Badan Permusyawaratan Desa dan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan STTU Jehe
Kontak
Telepon: 082287960824 (Bin Berutu, Kepala Desa Bandar Baru)
Telepon: 082165090234 (Arjuna SP, Tenaga Ahli P3MD-PID Kabupaten Pakpak Bharat)
Telepon: 08126458384 (Jhonny R Lbn Tobing, Tenaga Ahli Infrastruktur Desa)
Lokasi