Ringkasan Inovasi

BUMDes Terus Jaya Sehati di Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sejak 2016 merintis pengembangan enam unit bisnis komersial yang saling menopang untuk menggerakkan perekonomian desa [1]. Inovasi kelembagaan ini digagas Direktur BUMDes Ati Nurhayati bersama Kepala Desa Deden Gunaefi, bertujuan menjaga perputaran uang warga tetap di dalam desa dan memotong ketergantungan pada tengkulak yang selama ini menyerap sebagian margin ekonomi warga [2]. Dampak inovasi ini terlihat dari kenaikan keuntungan usaha BUMDes dari Rp14 juta pada 2016 menjadi sekitar Rp30 juta per tahun, serta terbukanya lapangan kerja bagi warga yang sebelumnya merantau ke kota [1]. Sistem kemitraan produksi BUMDes kini melibatkan 170 perajin anyaman besek, 70 petani mitra, dan lima karyawan tetap, dengan pembagian sisa hasil usaha yang transparan [4].

 

Latar Belakang

BUMDes Terus Jaya Sehati berdiri tanpa modal dan tanpa aset operasional sejak pertama kali didirikan, sehingga harus merintis dari titik nol dengan segala keterbatasan yang melingkupinya [1]. Pengurus BUMDes sempat menghadapi dilema ketika mendapat tawaran menjadi agen resmi elpiji Pertamina, sebuah peluang usaha yang membutuhkan investasi puluhan juta rupiah, sementara kas BUMDes kosong [4].

Kondisi demografi Desa Sukajaya memperlihatkan bahwa sekitar 50 persen dari total 6.700 jiwa penduduk berprofesi sebagai petani kecil, sementara sebagian lainnya merantau menjadi buruh pabrik di kota [1]. Warga membutuhkan wadah kelembagaan lokal yang mampu memfasilitasi produksi, menyerap hasil pertanian dengan harga layak, dan memasarkan komoditas desa ke konsumen yang lebih luas [2]. Tanpa ekosistem bisnis lokal, uang hasil panen warga banyak mengalir keluar desa melalui tengkulak tanpa memberi nilai tambah bagi perekonomian setempat [4].

Desa Sukajaya sesungguhnya memiliki sejumlah keunggulan yang belum dioptimalkan secara sistematis: tradisi anyaman bambu (besek) sebagai kemasan moci khas Sukabumi yang sudah dilakukan turun-temurun di Kampung Nangewer, lahan pertanian yang cocok untuk komoditas seperti edamame dan melon, serta posisi geografis sekitar tiga kilometer dari jalan utama [5], [7]. Potensi-potensi inilah yang kemudian diorganisasikan BUMDes menjadi rangkaian unit usaha yang saling terkait [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes mengembangkan model bisnis desa terintegrasi melalui enam unit usaha yang saling memperkuat: pangkalan gas elpiji, Pertashop, BUMDes Mart, unit kuliner dan katering, pengepulan kerajinan anyaman besek moci, serta agrowisata Kampung Melon di lahan seluas enam hektare [1]. Unit-unit ini dirancang agar rupiah yang dibelanjakan warga di BUMDes Mart atau dihasilkan petani dari edamame dan melon lebih banyak berputar di dalam desa [4].

Cara kerja inovasi ini bergantung pada partisipasi warga sebagai penyedia sekaligus konsumen produk desa [2]. BUMDes Mart menjadi pusat perdagangan yang mempertemukan produk warga, dari sayuran, kerajinan besek, hingga produk olahan, dengan konsumen lokal tanpa banyak perantara. BUMDes membeli besek dari 170 ibu-ibu perajin dengan harga Rp330 per besek, lalu menjualnya ke pabrik-pabrik moci di Cianjur dan Sukabumi [1], [7].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses implementasi dimulai dari langkah yang tidak lazim: Direktur BUMDes Ati Nurhayati menjaminkan sertifikat rumah pribadinya untuk mendapatkan pinjaman Rp77 juta sebagai modal awal unit elpiji, ketika belum ada sumber pendanaan lain yang tersedia [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya unit usaha yang gagal secara langsung pada tahap ini; koreksi yang justru terlihat adalah keputusan untuk tidak membangun keenam unit sekaligus, melainkan bertahap sesuai kemampuan modal, guna menghindari beban utang berlebih di awal [4].

Penjualan elpiji yang berjalan baik memungkinkan BUMDes melunasi utang dalam waktu relatif singkat, membuka kepercayaan pemerintah desa untuk mengucurkan Dana Desa secara bertahap: Rp150 juta pada 2017 untuk unit elpiji dan kuliner, Rp100 juta pada 2018 untuk BUMDes Mart, dan Rp50 juta untuk unit Pertashop [1]. Pola reinvestasi bertahap ini membangun portofolio bisnis secara organik tanpa menanggung beban utang yang mengancam keberlangsungan operasional [2].

Tim pengelola kemudian mengarahkan petani menanam edamame di lahan dua hektare, komoditas yang saat itu minim pesaing di pasar lokal, dengan BUMDes bertindak sebagai pembeli dengan harga Rp12.000 per kilogram dan menghasilkan hingga delapan ton per panen [1]. Pengembangan Kampung Melon di lahan enam hektare, yang kini menanam sekitar 11 varietas melon asal Tiongkok, Taiwan, dan Korea di lima greenhouse, menjadi tahap ekspansi agribisnis BUMDes yang lebih baru [6], [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Hambatan terbesar pada masa perintisan adalah ketiadaan modal, memaksa pengelola mengandalkan cara di luar kebiasaan, termasuk menjaminkan aset pribadi, karena pencairan Dana Desa kala itu berlangsung lambat [1]. Situasi ini sempat menimbulkan keraguan warga terhadap kemampuan BUMDes bertahan sebagai lembaga usaha jangka panjang. Pengelola memitigasi kendala ini dengan membuktikan kelayakan usaha lewat unit elpiji terlebih dahulu sebelum meminta kepercayaan warga dan pemerintah desa untuk unit-unit berikutnya [2].

Tantangan berikutnya adalah resistensi pemilik warung kelontong desa yang merasa tersaingi oleh kehadiran BUMDes Mart [4]. Pengelola BUMDes memitigasi resistensi ini dengan mengajak para pemilik warung menjadi mitra rantai pasok dan distributor produk BUMDes, sehingga persaingan berubah menjadi kerja sama yang saling menguntungkan [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kesediaan Direktur BUMDes Ati Nurhayati mengambil risiko pribadi dengan menjaminkan asetnya sendiri untuk membuktikan keseriusan BUMDes kepada warga yang masih ragu [1]. Kemampuan membaca peluang usaha, dari distribusi energi, kuliner, pengepulan besek, hingga agrowisata melon, membangun lini bisnis yang saling menopang dan menciptakan permintaan internal yang lebih stabil [4].

Faktor kedua adalah dukungan Kepala Desa Deden Gunaefi yang berperan sebagai Komisaris BUMDes, memastikan aliran Dana Desa terdistribusi untuk memperkuat modal BUMDes setiap tahunnya [1]. Prinsip pengelolaan “dilakukan warga dan untuk warga” membangun rasa kepemilikan kolektif yang menjaga loyalitas mitra dan karyawan BUMDes [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Keuntungan operasional BUMDes meningkat dari Rp14 juta pada 2016 menjadi sekitar Rp30 juta per tahun, dengan gaji karyawan yang telah setara upah minimum kabupaten [1]. Lima karyawan tetap, 70 mitra petani, dan 170 perajin besek kini memiliki kepastian penghasilan yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga yang ditentukan tengkulak [1].

Perajin besek di Kampung Nangewer dapat menghasilkan rata-rata Rp66.000 per hari dari produksi sekitar 200 besek per orang, berkat sistem pembelian langsung BUMDes yang stabil [5]. Agrowisata Kampung Melon di lahan enam hektare dengan lima greenhouse kini menghasilkan omzet hingga Rp700 juta per tahun dan menarik pengunjung dari berbagai daerah untuk memetik melon secara langsung dengan harga Rp30.000 per kilogram tanpa biaya masuk [6], [3].

Dampak sosial yang terlihat adalah kembalinya sebagian warga yang semula merantau karena kini tersedia lapangan kerja di kampung sendiri [1]. Pada 2019, Desa Sukajaya turut menjadi satu dari lima desa yang dipilih pemerintah untuk mengikuti kunjungan studi pengelolaan desa ke Tiongkok pada 23 Maret-3 April 2019, sebuah program pembelajaran tata kelola desa, bukan aktivitas pemasaran produk ke pasar internasional [4].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal unit elpiji berasal dari pinjaman pribadi Rp77 juta yang dijamin dengan sertifikat rumah Direktur BUMDes, karena kas BUMDes saat itu kosong [1]. Setelah unit ini terbukti menguntungkan, Dana Desa dikucurkan bertahap: Rp150 juta pada 2017 untuk elpiji dan kuliner, Rp100 juta pada 2018 untuk BUMDes Mart, dan Rp50 juta untuk Pertashop.

Model pendapatan bertumpu pada margin penjualan elpiji dan Pertashop, omzet BUMDes Mart, pembelian-jual-kembali besek ke pabrik moci, penjualan edamame ke BUMDes seharga Rp12.000 per kilogram, serta omzet agrowisata Kampung Melon hingga Rp700 juta per tahun [1], [6]. Skema ini memungkinkan setiap unit usaha membiayai ekspansi unit berikutnya secara bertahap tanpa bergantung pada satu sumber dana tunggal [2].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah membuktikan kelayakan usaha lewat satu unit terlebih dahulu (elpiji) sebelum meminta kepercayaan untuk unit-unit berikutnya, sehingga risiko tidak ditanggung sekaligus di awal [1]. Mengajak pemilik warung kelontong menjadi mitra distribusi, bukan menganggapnya pesaing, juga terbukti mencegah konflik yang bisa menghambat pertumbuhan BUMDes Mart [4].

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui idealnya sumber pendanaan formal untuk modal perintisan disiapkan lebih awal agar tidak perlu bergantung pada jaminan aset pribadi pengurus [1]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari satu unit usaha yang paling mudah dibuktikan keuntungannya, melibatkan pemilik usaha kecil eksisting sebagai mitra sejak awal, dan memetakan keunggulan lokal yang sudah ada, seperti kerajinan atau komoditas pertanian, sebelum membangun unit usaha baru [2].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan BUMDes Terus Jaya Sehati bertumpu pada strategi “satu RW satu produk” yang mengarahkan produksi klaster di tiap permukiman desa agar setiap wilayah memiliki produk unggulan yang saling melengkapi [1]. Warga secara berkelanjutan mendapatkan pelatihan peningkatan kualitas produk, dari teknik anyaman hingga standar pengemasan, untuk menjaga daya saing produk desa [2].

Pengembangan agrowisata Kampung Melon dengan fasilitas greenhouse dan jalur pemetikan buah dirancang menjadi sumber pendapatan yang terdiversifikasi dan tidak terlalu bergantung pada satu komoditas [6]. Regenerasi kepemimpinan dan pelibatan pemuda desa dalam operasional dan promosi digital menjadi agenda untuk menjaga kesinambungan inovasi melewati pergantian generasi pengelola BUMDes [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

BUMDes Terus Jaya Sehati berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMDes menciptakan penghasilan yang lebih pasti bagi perajin besek, petani mitra, dan karyawan desa yang sebelumnya bergantung pada tengkulak dan ketidakpastian pendapatan harian. 170 perajin besek, 70 petani mitra, dan 5 karyawan tetap memiliki sumber penghasilan dari unit usaha BUMDes.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Penguatan agribisnis BUMDes yang mendorong petani menanam edamame dan melon dengan jaminan pembelian harga layak mendiversifikasi komoditas pertanian desa. Petani mitra memanen hingga 8 ton edamame per panen dengan harga beli Rp12.000 per kilogram dari BUMDes.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Enam unit usaha BUMDes membuka lapangan kerja yang membuat sebagian warga perantau kembali bekerja di desa sendiri. Keuntungan BUMDes naik dari Rp14 juta (2016) menjadi sekitar Rp30 juta per tahun.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model “satu RW satu produk” yang mengklaster produksi berdasarkan kearifan lokal tiap permukiman memperkuat identitas produktif tiap kawasan dan mengurangi dorongan merantau. Sebagian warga yang sebelumnya merantau ke kota kini bekerja di unit usaha BUMDes.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara BUMDes, Pemerintah Desa, pemilik warung kelontong sebagai mitra distribusi, petani, perajin anyaman, dan pabrik moci menciptakan ekosistem kemitraan yang saling menguntungkan. Pemilik warung kelontong yang semula bersaing kini menjadi mitra distribusi produk BUMDes Mart.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Terus Jaya Sehati relevan direplikasi oleh desa-desa di Kabupaten Sukabumi dan wilayah Jawa Barat lainnya yang memiliki kombinasi pertanian produktif, kerajinan tangan khas, dan komoditas lokal yang belum dikelola dalam satu ekosistem bisnis terpadu [2]. Tiga elemen inti yang dapat direplikasi adalah keberanian menggunakan Dana Desa sebagai modal usaha produktif, mekanisme beli-putus untuk menyerap produksi warga, dan strategi mengajak pedagang eksisting menjadi mitra alih-alih pesaing [4].

Pengakuan Desa Sukajaya sebagai salah satu Desa BRILian menunjukkan bahwa model pengelolaan BUMDes ini telah mendapat perhatian dari program pendampingan desa berbasis kemitraan perbankan [3]. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dapat mempertimbangkan Desa Sukajaya sebagai salah satu rujukan replikasi bagi BUMDes yang baru merintis atau sedang stagnan di daerah dengan karakteristik agraris serupa [3].

 

Daftar Pustaka

[1] Kompas.id, “Terus Jaya Sejahtera Bersama Warga,” kompas.id, 13 Nov. 2019. [Daring]. Tersedia: https://www.kompas.id/baca/utama/2019/11/13/terus-jaya-sejahtera-bersama-warga.

[2] R. Marzuki dkk., “BUMDes Marketing Strategy and the Role of Village Government,” KnE Social Sciences, Sep. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kneopen.com/KnE-Social/article/view/11978/.

[3] Seputarankita.com, “Dorong Kemandirian Ekonomi, Desa Sukajaya Luncurkan Inovasi Pemberdayaan Masyarakat,” seputarankita.com, Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.seputarankita.com/dorong-kemandirian-ekonomi-desa-sukajaya-luncurkan-inovasi-pemberdayaan-masyarakat/.

[4] Sukabumiupdate.com, “Lewat BUMDes Sukajaya Promosikan Kabupaten Sukabumi Hingga ke Negeri Tirai Bambu,” sukabumiupdate.com, 30 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/wawancara/52866/lewat-bumdes-sukajaya-promosikan-kabupaten-sukabumi-hingga-ke-negeri-tirai-bambu.

[5] Sukajaya-sukabumi.desa.id, “Melihat Geliat Usaha Perajin Besek Mochi di Sukajaya Sukabumi,” sukajaya-sukabumi.desa.id, 20 Jan. 2023. [Daring]. Tersedia: https://sukajaya-sukabumi.desa.id/artikel/2023/1/21/melihat-geliat-usaha-perajin-besek-mochi-di-sukajaya-sukabumi.

[6] Radar Sukabumi, “Desa Sukajaya Kembangkan Agrowisata Buah Melon,” radarsukabumi.com, 2 Feb. 2020. [Daring]. Tersedia: https://radarsukabumi.com/kabupaten-sukabumi/desa-sukajaya-kembangkan-agrowisata-buah-melon/.

[7] Sukabumisatu.com, “Sentra Keranjang Moci di Desa Sukajaya Sukabumi,” sukabumisatu.com, 31 Mar. 2024. [Daring]. Tersedia: https://sukabumisatu.com/sentra-keranjang-moci-di-desa-sukajaya-sukabumi/.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pengembangan Enam Unit Usaha Terpadu BUMDes Terus Jaya Sehati
Alamat
Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Ati Nurhayati (Direktur BUMDes Terus Jaya Sehati) dan Deden Gunaefi (Kepala Desa Sukajaya/Komisaris BUMDes)
Kontak
Telepon +62-856-8303-339, Website https://sukajaya-sukabumi.desa.id
Lokasi