Ringkasan Inovasi

BUMDes Tawangsari di Desa Ketawang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, sejak 2016 membangun kekuatan ekonomi desa melalui tiga layanan yang dekat dengan kebutuhan warga: air bersih, ritel grosir modern bernama Tawang Gross, dan pengelolaan sampah [1]. Inovasi ini digerakkan Direktur BUMDes Kharisma Kefin Iskandar bersama Pemerintah Desa Ketawang, menjawab persoalan desa nonpariwisata yang sulit air bersih dan pemilik warung kecil yang harus berbelanja jauh ke kota untuk mengisi stok dagangan [1]. Dampak paling nyata terlihat pada tersedianya layanan air bersih bagi 200 kepala keluarga, layanan pengelolaan sampah bagi 350 kepala keluarga termasuk desa tetangga dan sebuah pondok pesantren, serta hadirnya Tawang Gross sebagai pemasok warung lokal yang menyumbang Pendapatan Asli Desa [5]. Capaian ini mengantarkan BUMDes Tawangsari meraih peringkat ketiga BUMDes terbaik Kabupaten Malang pada 2018 dan peringkat ketiga tingkat Provinsi Jawa Timur pada 2019 [5].

 

Latar Belakang

Desa Ketawang tidak memiliki modal pariwisata yang menonjol seperti banyak desa lain di Kabupaten Malang. Sebagian besar warga bergantung pada pertanian dan usaha kecil, sementara kebutuhan dasar seperti air bersih dan akses belanja murah belum terlayani secara memadai [2], [3].

Masalah air bersih menjadi titik awal perubahan. Desa ini dikenal sulit air, sehingga warga membutuhkan layanan yang lebih dekat, lebih murah, dan lebih pasti dibanding mengandalkan pilihan yang mahal atau pasokan yang tidak stabil saat kemarau [1].

Pada saat yang sama, pemilik warung kecil harus berbelanja ke kota untuk mengisi stok dagangan. Jarak belanja yang jauh membuat ongkos naik, margin turun, dan uang desa terus mengalir ke luar wilayah. Situasi ini dibaca pemerintah desa sebagai peluang membangun usaha bersama yang memecahkan masalah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru [1], [2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi pertama adalah layanan air bersih desa yang dibangun dari sumur bor sedalam 65 meter, tandon, dan jaringan pipa ke rumah warga. Unit ini lahir dari kebutuhan paling mendesak masyarakat, lalu dikelola sebagai layanan sosial yang tetap menjaga keberlanjutan biaya operasional dan gaji petugas [1], [5].

Inovasi kedua adalah Tawang Gross, toko swalayan dan grosir desa yang dirancang bukan untuk menyingkirkan warung kecil, melainkan menjadi pemasok mereka. Pengelola menerapkan beberapa kluster harga agar warga eceran tetap bisa berbelanja, sementara pemilik warung mendapat harga kulakan yang membuat usahanya tetap hidup [1], [4].

Inovasi ketiga adalah unit pengelolaan sampah yang dikembangkan menyusul dua unit sebelumnya, kini melayani sekitar 350 kepala keluarga di Desa Ketawang, sebagian warga desa tetangga, dan Pondok Pesantren Al Rifai. Unit ini menekan kebiasaan warga membuang sampah ke sungai atau membakarnya secara langsung [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan BUMDes Tawangsari dimulai pada 2016 dari unit air bersih. Pemerintah desa mengucurkan modal awal Rp120 juta dari APBDes untuk membangun sumur bor, tandon air, dan jaringan pipa, lalu menugaskan lima pemuda desa sebagai operator lapangan dengan skema bagi hasil dari iuran pelanggan. Dalam kurun Maret-Desember 2016, unit ini membukukan omzet kotor sekitar Rp45 juta [1], [5].

Setelah kebutuhan dasar itu mulai tertangani, BUMDes membuka Tawang Gross pada 2017. Gedung toko dibangun dengan modal Rp213 juta, sedangkan barang dagangan dan pendampingan pengelolaan didukung pihak ketiga senilai Rp318 juta, langkah yang tergolong berani karena pengelola harus membangun kepercayaan pasar sambil menanggung utang usaha yang besar [1].

Fase awal toko tidak selalu mulus. Pada hari pembukaan, omzet sempat mencapai Rp16 juta, tetapi kemudian turun tajam menjadi Rp2 juta per hari. Tim pengelola belajar dari penurunan itu dengan memperkuat sosialisasi ke warga dan warung kecil, memantau harga pasar secara berkala, dan menyesuaikan strategi pasokan agar harga tetap kompetitif. Koreksi ini membuahkan hasil karena pinjaman pihak ketiga Rp318 juta dapat dilunasi dalam enam bulan [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar muncul saat Tawang Gross mulai dibangun. Sebagian warga dan pedagang kecil khawatir toko desa akan mematikan usaha mereka, sehingga penolakan sempat muncul akibat kabar bohong dan rasa tidak percaya terhadap niat pengelola [1]. Pengelola memitigasi penolakan ini dengan sosialisasi langsung ke warga dan warung kecil serta menerapkan kluster harga yang secara nyata menguntungkan pedagang eceran, bukan hanya janji di atas kertas.

Kendala lain datang dari proses belajar bisnis yang sangat cepat. Tim pengelola harus memahami logika perdagangan modern, membaca fluktuasi harga, dan menjaga stok tetap aman, padahal sebagian dari mereka sebelumnya bukan pelaku ritel profesional [1]. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan pengelolaan dari mitra pihak ketiga pemasok barang dagangan serta penguatan administrasi dan evaluasi kinerja yang direkomendasikan kajian kelembagaan atas BUMDes ini [3].

Tantangan teknis muncul pada unit air bersih, karena kondisi geografis desa yang sulit air memerlukan pengeboran hingga kedalaman 65 meter untuk mencapai sumber yang stabil [5]. Pemerintah desa memitigasi kebutuhan investasi ini dengan mengalokasikan modal APBDes secara penuh di awal, bukan bertahap, agar layanan air bersih bisa langsung menjangkau seluruh desa.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan BUMDes Tawangsari sangat ditentukan oleh kepemimpinan anak muda desa yang berani mengelola usaha secara profesional. Kharisma Kefin Iskandar dan timnya tidak hanya menjalankan administrasi, tetapi juga turun langsung membaca pasar, membangun kepercayaan masyarakat, dan memastikan usaha desa bergerak dengan logika bisnis yang sehat [1], [2].

Faktor kedua adalah kemitraan yang terbangun antara pemerintah desa, pengelola BUMDes, dan pihak ketiga pemasok. Kajian collaborative governance di Desa Ketawang menunjukkan bahwa kerja sama antarpihak menjadi fondasi penting dalam pengembangan BUMDes nonpariwisata, karena desa harus memadukan orientasi pelayanan publik dan orientasi usaha dalam waktu yang sama [2].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Unit air bersih BUMDes Tawangsari berhasil melayani 200 kepala keluarga dan menyelesaikan sebagian besar persoalan kebutuhan air warga Desa Ketawang, dikelola lima karyawan desa sehingga manfaatnya juga membuka pekerjaan bagi pemuda lokal [1]. Unit pengelolaan sampah yang dikembangkan sesudahnya kini melayani 350 kepala keluarga, termasuk desa tetangga dan Pondok Pesantren Al Rifai, menekan kebiasaan warga membuang sampah ke sungai atau membakarnya [5].

Pada unit ritel, Tawang Gross tumbuh menjadi mesin PADes yang nyata dengan omzet bulanan berkisar Rp100-150 juta. Setelah pinjaman awal dilunasi dalam enam bulan, toko ini menyumbang PADes Rp15 juta pada 2018 dengan target naik menjadi Rp20 juta pada 2019 [5]. Capaian ini turut mengantarkan BUMDes Tawangsari meraih peringkat ketiga BUMDes terbaik Kabupaten Malang pada 2018 dan peringkat ketiga tingkat Provinsi Jawa Timur pada 2019 [5].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembiayaan BUMDes Tawangsari bertumpu pada APBDes sebagai modal awal setiap unit usaha: Rp120 juta untuk unit air bersih pada 2016, dan Rp213 juta untuk gedung Tawang Gross pada 2017, ditambah Rp318 juta dari pihak ketiga untuk barang dagangan dan pendampingan pengelolaan [1]. Model pendapatan unit air bersih bertumpu pada iuran pelanggan dengan skema bagi hasil bagi lima operator lapangan, sementara Tawang Gross menerapkan kluster harga eceran dan kulakan yang keduanya tetap menguntungkan.

Kemampuan Tawang Gross melunasi pinjaman pihak ketiga Rp318 juta hanya dalam enam bulan menunjukkan model bisnis yang tidak bergantung pada subsidi operasional jangka panjang [1]. Pendapatan dari omzet bulanan Rp100-150 juta kemudian dialokasikan sebagian sebagai PADes yang terus ditargetkan naik, sementara dokumentasi yang tersedia tidak merinci skema pembiayaan spesifik unit pengelolaan sampah [5].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari kebutuhan paling mendesak, yaitu air bersih, sebelum melangkah ke unit usaha yang lebih kompleks seperti ritel modern, sehingga BUMDes lebih dulu membangun kepercayaan warga [1]. Penerapan kluster harga di Tawang Gross yang tetap menguntungkan warung kecil, bukan menyingkirkannya, juga terbukti menjadi keputusan kunci yang mencegah konflik pasar berkepanjangan [4].

Jika memulai dari awal, sosialisasi kepada warga dan pedagang kecil idealnya dilakukan sebelum toko dibuka, bukan sesudah kabar bohong dan penolakan muncul serta omzet sempat anjlok drastis [1]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari layanan dasar yang paling dirasakan warga, mengikat kemitraan dengan pihak ketiga untuk modal barang dagangan, dan menyiapkan strategi komunikasi publik sejak tahap perencanaan agar penolakan dapat dicegah lebih awal [3].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga melalui penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kajian akademik tentang BUMDes Tawangsari menekankan pentingnya penguatan administrasi, tata kelola, dan evaluasi kinerja agar BUMDes tetap sehat saat unit usaha bertambah dan skala transaksi terus membesar [2], [3].

Dari sisi bisnis, strategi keberlanjutan bertumpu pada loyalitas pelanggan desa dan kemitraan dengan warung kecil. Pada unit air bersih, perawatan sarana teknis harus dilakukan rutin agar kualitas layanan tidak turun. Pada unit ritel, harga kulakan yang stabil dan jaringan pasok yang efisien menjadi kunci agar warga tetap memilih berbelanja di desa sendiri [1].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMDes Tawangsari memperlihatkan bahwa pengelolaan layanan dasar dan usaha ritel dapat memberi kontribusi langsung pada agenda SDGs desa, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Unit air bersih, ritel, dan pengelolaan sampah membuka pekerjaan baru bagi pemuda desa dan memperluas sumber penghasilan keluarga di luar sektor pertanian tradisional. Lima pemuda desa bekerja sebagai operator air bersih dengan skema bagi hasil dari iuran pelanggan.
SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak Layanan sumur bor, tandon, dan jaringan pipa BUMDes membantu warga memperoleh akses air bersih yang lebih dekat, lebih murah, dan lebih stabil. Sumur bor sedalam 65 meter melayani 200 kepala keluarga di Desa Ketawang.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Tawang Gross memperkuat ekonomi lokal dengan menjaga perputaran uang tetap berada di desa, menyuplai warung kecil, dan menambah PADes dari usaha yang dikelola profesional. Omzet Tawang Gross mencapai Rp100-150 juta per bulan, menyumbang PADes Rp15 juta (2018) dengan target Rp20 juta (2019).
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Unit pengelolaan sampah membantu membangun lingkungan permukiman desa yang lebih bersih dan lebih sehat, menekan kebiasaan membuang sampah ke sungai. Unit pengelolaan sampah melayani 350 kepala keluarga, termasuk desa tetangga dan Pondok Pesantren Al Rifai.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan BUMDes Tawangsari tumbuh lewat kerja sama pemerintah desa, pengelola muda, dan mitra pihak ketiga, menunjukkan pentingnya kemitraan dalam membangun BUMDes nonpariwisata yang tahan lama. Pinjaman modal barang dagangan Rp318 juta dari pihak ketiga dilunasi penuh dalam enam bulan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Ketawang relevan direplikasi oleh desa-desa agraris yang tidak memiliki daya tarik wisata besar, tetapi punya kebutuhan dasar yang belum tertangani dan pasar lokal yang cukup padat. Kunci replikasinya adalah memulai dari masalah yang paling dirasakan warga, lalu mengubah solusi layanan itu menjadi unit usaha desa yang efisien dan dipercaya masyarakat [2], [3].

Untuk scale up, BUMDes dapat memperluas fungsi ritel sebagai pusat distribusi produk UMKM desa dan memperkuat unit simpan pinjam bagi pelaku usaha kecil. Jika pola ini diadopsi luas, desa-desa nonpariwisata memiliki contoh konkret bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menunggu investasi besar dari luar, tetapi bisa dimulai dari layanan air, pasar, dan tata kelola yang dikerjakan secara serius [1], [4].

 

Daftar Pustaka

[1] SINDOnews, “BUMDes Tawangsari, Bukan Sekadar Mencari Keuntungan,” daerah.sindonews.com, 4 Jun. 2019. [Daring]. Tersedia: https://daerah.sindonews.com/artikel/jatim/11311/bumdes-tawangsari-bukan-sekedar-mencari-keuntungan.

[2] R. A. T. Wijaya, S. Zauhar, dan A. Muttaqin, “Collaborative Governance dalam Pengembangan BUMDes Non Pariwisata Tawangsari di Kabupaten Malang,” Repository Universitas Brawijaya, 2021. [Daring]. Tersedia: https://repository.ub.ac.id/id/eprint/189346/.

[3] T. A. P. Ningsih, “Penguatan Kelembagaan BUM Desa Non Pariwisata di Kabupaten Malang (Studi Kasus di BUM Desa Tawang Sari, Desa Ketawang),” Repository Universitas Brawijaya, 28 Feb. 2024. [Daring]. Tersedia: https://repository.ub.ac.id/id/eprint/220887/.

[4] DPMD Kabupaten Malang, “Katalog Produk Unggulan BUMDes Kab. Malang,” fliphtml5.com, 27 Feb. 2020. [Daring]. Tersedia: https://fliphtml5.com/yxmxd/pxdw/Katalog_Produk_Unggulan_BUMDes_Kab._Malang/.

[5] Kompas.id, “BUMDes Tawangsari, Oase di Tengah Kerontang,” kompas.id. [Daring]. Tersedia: https://www.kompas.id/artikel/bumdes-tawangsari-oase-di-tengah-kerontang.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Tawang Gross, Pengelolaan Air Bersih, dan Pengelolaan Sampah BUMDes Tawangsari
Alamat
Desa Ketawang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Inovator
BUMDes Tawangsari bersama Pemerintah Desa Ketawang, dipimpin Kharisma Kefin Iskandar (Direktur BUMDes)
Kontak
Telepon +62-341-392039 (Kharisma Kefin Iskandar, Direktur BUMDes Tawangsari)
Lokasi