Ringkasan Inovasi

BUMDes Berkah Makaryo di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, mengembangkan Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan yang memadukan pertanian, pariwisata, dan pendidikan dalam satu kawasan [1]. Inovasi ini lahir dari program penguatan ketahanan pangan berbasis BUMDes yang didorong pemerintah pusat, sekaligus menjawab kebutuhan Pemerintah Desa Karangnangka mengoptimalkan lahan pertanian agar menghasilkan Pendapatan Asli Desa yang berkelanjutan [9]. Pelaku utama inovasi ini adalah pengurus BUMDes Berkah Makaryo bersama Pemerintah Desa Karangnangka, dengan Kodirin selaku perangkat desa sebagai narahubung program. Permasalahan utama yang hendak dijawab adalah rendahnya pemahaman anak-anak usia dini tentang proses produksi pangan, serta belum optimalnya pemanfaatan lahan pertanian dan Embung Karangnangka sebagai daya tarik edukasi [2]. Dampak yang mulai terlihat adalah meningkatnya kunjungan rombongan pelajar, terbukanya lapangan kerja lokal sebagai pemandu wisata dan petugas perawatan, serta terangkatnya nama Desa Karangnangka sebagai rujukan agro eduwisata di Kabupaten Banyumas [8].

 

Latar Belakang

Desa Karangnangka berada di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, dengan potensi lahan pertanian produktif serta sumber air dari Embung Karangnangka yang dibangun untuk mengatasi persoalan kekeringan sawah [5]. Embung ini menampung lebih dari 17.657 meter kubik air dan mengairi 12,5 hektare sawah, menjadikannya infrastruktur vital bagi ketahanan pangan warga sekitar [5]. Sebelum inovasi ini digagas, potensi lahan pertanian dan embung tersebut belum dihubungkan dengan aktivitas edukasi maupun pariwisata, sehingga nilai tambah ekonominya belum tergarap maksimal [4].

Pengurus BUMDes turut mengamati bahwa banyak anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar di sekitar desa tidak mengetahui proses produksi pangan dari sawah, dan mengira bahan pangan pokok datang langsung dari toko [2]. Kesenjangan pengetahuan ini mencerminkan keterputusan yang lebih luas antara generasi muda dan warisan budaya pertanian, sebuah fenomena yang juga ditemukan pada penelitian agroeduwisata di desa lain [3]. Ketiadaan wahana edukasi pertanian terpadu membuat peluang mengintegrasikan pariwisata dan ketahanan pangan di Karangnangka terabaikan untuk sementara waktu [4].

Momentum bertindak muncul ketika skema kebijakan nasional mewajibkan sebagian dana BUMDes dialokasikan untuk program ketahanan pangan, membuka peluang pembiayaan bagi gagasan wisata edukasi ini [9]. Pengurus BUMDes Berkah Makaryo menilai lahan pertanian dan Embung Karangnangka yang sudah tersedia dapat langsung dimanfaatkan tanpa investasi lahan baru. Kombinasi kebutuhan edukasi anak, aset lahan yang ada, dan dukungan kebijakan ketahanan pangan inilah yang mendorong BUMDes segera merancang kawasan wisata edukasi tersebut.

 

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Berkah Makaryo merancang Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan sebagai ruang terpadu yang memadukan pengalaman bertani langsung dengan pembelajaran sejarah kebudayaan lokal [1]. Kawasan ini menghadirkan wahana interaktif berupa simulasi bertani padi, budi daya sayur, penanaman melon dan anggur, hingga aktivitas nelayan sungai tradisional [1]. Ragam wahana ini dirancang agar anak-anak mengenal siklus produksi pangan secara menyeluruh, bukan hanya satu jenis komoditas saja.

Keunggulan kawasan ini terletak pada museum ketahanan pangan yang mengoleksi alat pertanian tradisional, dipadukan dengan permainan edukasi digital sebagai pengantar sebelum anak-anak mempraktikkan cara menanam padi di sawah sungguhan [6], [2]. Konsep perpaduan teknologi digital dan praktik fisik ini dirancang agar proses belajar pertanian menjadi lebih menyenangkan dan mudah diserap oleh anak-anak. Pendekatan bertahap dari simulasi digital menuju praktik lapangan ini menjadi elemen pembeda dibandingkan wisata edukasi pertanian konvensional yang langsung mengajak pengunjung turun ke sawah.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pengembangan kawasan ini diawali dengan observasi lapangan untuk memetakan minat anak-anak terhadap dunia pertanian dan kebutuhan institusi pendidikan akan wisata luar ruang [4]. Pengurus kemudian mengumpulkan alat pertanian kuno dari warga sekitar untuk melengkapi koleksi museum pangan yang menjadi jantung kawasan edukasi. Tahap pengumpulan artefak ini sekaligus menjadi ajang pelibatan warga dalam mendokumentasikan sejarah pertanian desa mereka sendiri.

Eksperimen awal sempat menemui kendala teknis dalam memadukan konsep museum statis dengan aktivitas luar ruangan yang dinamis [2]. Pembelajaran berharga muncul ketika pengurus menyadari bahwa anak-anak masa kini membutuhkan stimulasi visual interaktif sebelum bersentuhan langsung dengan lumpur sawah, sehingga permainan edukasi digital diintegrasikan sebagai tahap simulasi awal [6]. Koreksi atas rancangan awal inilah yang akhirnya membentuk alur kunjungan bertahap dari ruang museum menuju sawah yang dipakai hingga sekarang.

Guna mematangkan konsep tata kelola kebersihan, pengurus BUMDes melakukan studi tiru ke Desa Sudagaran, Kabupaten Banyumas, yang dikenal sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis warga hingga menjadi rujukan nasional dan diadopsi belasan kota di ASEAN [10]. Kunjungan studi banding ini menjadi titik balik penting yang memperkuat sistem operasional kawasan dan standar kebersihan yang berdampak langsung pada kenyamanan pengunjung. Wawasan dari Desa Sudagaran menjadi bekal berharga bagi replikator lain yang ingin memadukan wisata edukasi dengan tata kelola lingkungan yang rapi.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah kesenjangan antara konsep edukasi statis dalam museum dan dinamika kegiatan luar ruang di area pertanian [2]. Pengurus BUMDes memitigasi tantangan ini dengan merancang ulang alur kunjungan secara bertahap, dimulai dari simulasi digital sebelum masuk ke praktik lapangan langsung [6]. Proses revisi alur ini membutuhkan beberapa kali eksperimen sebelum format akhir yang nyaman bagi anak-anak ditemukan.

Tantangan lain berupa kebutuhan pembaruan konten dan perawatan fasilitas yang memerlukan alokasi anggaran khusus serta sumber daya manusia terlatih [8]. BUMDes memitigasi kendala ini dengan menyisihkan anggaran pemeliharaan rutin dari pendapatan wisata edukasi, alih-alih membiarkan fasilitas rusak karena minim perawatan. Ketergantungan pada kunjungan rombongan sekolah juga menjadi tantangan musiman yang perlu diatasi.

Guna mengatasi ketergantungan musiman tersebut, pengelola mengembangkan paket wisata keluarga akhir pekan agar arus kunjungan tetap stabil sepanjang tahun [8]. Langkah diversifikasi segmen ini diambil setelah menyadari bahwa kunjungan rombongan sekolah cenderung menumpuk pada hari dan musim tertentu saja. Strategi ini sekaligus menjadi mitigasi risiko pendapatan yang terlalu bergantung pada satu segmen pengunjung.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling mendasar bersumber dari semangat belajar pengurus BUMDes Berkah Makaryo yang secara aktif melakukan kunjungan ke desa percontohan untuk menyerap praktik tata kelola terbaik [10]. Keterbukaan terhadap ide baru inilah yang membuat rancangan fasilitas kawasan wisata terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan pasar pendidikan modern [1]. Dukungan penuh pemerintah desa dalam menyediakan hak pengelolaan aset lahan pertanian kepada BUMDes juga memainkan peran yang krusial.

Sinergi antara tokoh masyarakat, tenaga pendidik lokal, dan jajaran pengurus BUMDes menciptakan ekosistem kerja yang solid dalam mengembangkan kawasan ini [6]. Partisipasi warga dalam menjaga kebersihan desa turut memperkuat daya tarik kawasan bagi pengunjung, sejalan dengan semangat gotong royong yang dipelajari dari Desa Sudagaran [3]. Modal sosial berupa kekompakan warga inilah yang menjaga keberlangsungan operasional kawasan wisata edukasi setiap hari.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum kawasan ini beroperasi, lahan pertanian dan Embung Karangnangka hanya berfungsi sebagai infrastruktur irigasi tanpa nilai tambah pariwisata maupun edukasi [5]. Setelah Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan dibuka, lonjakan pemesanan kunjungan dari rombongan pelajar berbagai jenjang menjadi indikator paling terukur dari keberhasilan inovasi ini [8]. Pembukaan kawasan ini turut menyerap tenaga kerja lokal sebagai pemandu wisata edukasi dan petugas perawatan tanaman harian [1].

Penelitian pada desa wisata edukasi berbasis ketahanan pangan yang serupa menunjukkan respons positif wisatawan terhadap konsep agrowisata edukasi mencapai 87 persen, dengan tingkat kesadaran ketahanan pangan warga desa mencapai kategori baik sebesar 75 persen [6]. Temuan riset pembanding ini sejalan dengan dampak kualitatif yang dirasakan di Karangnangka, tempat pengetahuan anak-anak tentang proses produksi pangan meningkat setelah mengikuti program wisata [2]. Antusiasme institusi pendidikan ini secara langsung turut mempercepat perputaran ekonomi lokal dan menambah Pendapatan Asli Desa dari sektor jasa wisata yang sebelumnya tidak ada.

Reputasi Desa Karangnangka terangkat signifikan dan kini kerap menjadi rujukan studi banding bagi desa lain yang ingin mengembangkan unit usaha serupa [7]. Dokumentasi program belum merinci angka pasti jumlah kunjungan maupun pendapatan usaha secara agregat, sehingga capaian di atas masih bersifat indikatif dan perlu dicatat lebih rinci ke depan. Keberhasilan ini tetap membuktikan bahwa mengintegrasikan wisata dengan edukasi pertanian menghasilkan pendapatan ekonomi sekaligus kesadaran budaya yang berkelanjutan.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan bertumpu pada skema kebijakan nasional yang mewajibkan sebagian dana BUMDes dialokasikan untuk program ketahanan pangan [9]. Skema ini dipadukan dengan hak pengelolaan aset lahan pertanian desa yang diserahkan Pemerintah Desa Karangnangka kepada BUMDes [9]. Model bisnis kawasan ini bertumpu pada tiket kunjungan wahana edukasi, penjualan hasil panen simulasi, serta potensi kerja sama dengan institusi pendidikan untuk kunjungan berjadwal [8]. Skema ini menempatkan aset lahan dan embung desa sebagai sumber pendapatan langsung, bukan sekadar infrastruktur irigasi semata.

Strategi keberlanjutan pembiayaan diarahkan pada penyisihan sebagian pendapatan wisata untuk dana pemeliharaan infrastruktur dan peremajaan bibit tanaman setiap akhir musim panen [1]. Pendekatan ini dirancang agar kawasan tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran ketahanan pangan tahunan yang jumlahnya bisa berubah sesuai kebijakan. Dokumentasi program belum merinci target pendapatan asli BUMDes secara spesifik dari unit wisata ini, sehingga proyeksi keuangan jangka panjang masih berpotensi disusun lebih rinci.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan memadukan simulasi digital dengan praktik bertani langsung, alih-alih memilih salah satu pendekatan saja, terbukti menjadi keputusan kunci yang tepat bagi kawasan ini [6]. Keputusan menggelar studi tiru ke Desa Sudagaran sebelum operasional penuh juga terbukti mempercepat pematangan standar kebersihan kawasan [10]. Kedua keputusan ini menunjukkan pentingnya belajar dari praktik yang sudah teruji ketimbang merancang semuanya dari nol.

Jika memulai dari awal, pengurus mengakui idealnya alur kunjungan dari museum menuju sawah dirancang matang sejak tahap perencanaan, bukan melalui revisi berulang setelah kawasan mulai beroperasi [2]. Penundaan semacam ini sempat memperlambat kenyamanan pengunjung pada masa awal pembukaan kawasan. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi pengelola wisata edukasi lain agar menguji alur kunjungan secara menyeluruh sebelum peluncuran resmi.

Desa lain yang berencana menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari inventarisasi aset yang sudah dimiliki, seperti embung atau lahan pertanian, sebelum membangun fasilitas baru dari nol [4]. Menjalin studi banding dengan desa yang sudah punya reputasi di bidang terkait, seperti tata kelola kebersihan, juga disarankan untuk mempercepat pematangan konsep. Pendekatan bertahap semacam ini terbukti lebih hemat biaya dibandingkan membangun konsep wisata edukasi tanpa rujukan sama sekali.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi utama keberlanjutan berpusat pada pembaruan konten permainan edukasi digital secara berkala agar pengunjung selalu mendapatkan pengalaman baru yang relevan [1]. Pengelola juga merencanakan penambahan koleksi alat pertanian Nusantara dari berbagai daerah untuk memperkaya nilai historis museum pangan sebagai daya tarik jangka panjang. Pembaruan berkala ini penting agar kawasan tidak kehilangan daya tarik bagi pengunjung yang datang berulang kali.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian penting mengingat keberhasilan awal kawasan ini banyak ditopang inisiatif personal jajaran pengurus BUMDes saat ini. BUMDes membangun wadah kaderisasi pemandu wisata muda dari kalangan karang taruna untuk menjamin estafet sumber daya manusia yang kompeten dalam meneruskan misi edukasi desa [9]. Kaderisasi sejak dini ini diharapkan menjaga keberlanjutan program meski pengurus BUMDes berganti di masa depan.

Rencana pendapatan mandiri diarahkan melalui pengembangan paket wisata keluarga akhir pekan dan kolaborasi dengan institusi pendidikan agar kawasan tidak bergantung penuh pada anggaran ketahanan pangan tahunan [8]. Alokasi dana pemeliharaan infrastruktur dan peremajaan bibit tanaman disiapkan secara disiplin pada setiap siklus akhir musim panen [1]. Disiplin anggaran semacam ini diharapkan menjaga fasilitas tetap layak digunakan tanpa harus menunggu bantuan dana tambahan setiap tahun.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan Karangnangka menyentuh beberapa dimensi pembangunan berkelanjutan sekaligus, mulai dari penguatan ekonomi desa, peningkatan literasi pangan, hingga pelestarian tradisi pertanian lokal. Setiap komponen kawasan, dari museum hingga wahana bertani, berkontribusi langsung pada pencapaian tujuan SDGs global [2], [8]. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia dari sumber yang ada.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Kawasan wisata edukasi menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa dan lapangan kerja lokal bagi pemandu wisata, petugas perawatan, serta pedagang produk lokal. Warga yang sebelumnya bergantung pada hasil pertanian kini memiliki penghasilan tambahan dari sektor jasa wisata.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Program edukasi menanam padi, sayur, dan buah secara langsung memperkenalkan nilai ketahanan pangan kepada generasi muda sejak dini. Kawasan mendukung agenda nasional penguatan literasi pangan dan regenerasi petani.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Museum ketahanan pangan dan permainan edukasi digital menghadirkan metode pembelajaran di luar kelas yang inovatif dan inklusif. Sekolah dari berbagai jenjang mendapat akses pengalaman belajar pertanian yang tidak tersedia di ruang kelas konvensional.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Berkah Makaryo mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui unit wisata yang menghasilkan Pendapatan Asli Desa secara mandiri. Kaderisasi pemandu wisata muda dari karang taruna menciptakan pekerjaan layak bagi generasi berikutnya.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Pengelolaan sampah mandiri hasil studi tiru ke Desa Sudagaran serta perawatan ruang terbuka hijau menjaga kebersihan kawasan. Standar kebersihan kawasan meningkat setelah penerapan praktik tata kelola dari Desa Sudagaran.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Kawasan agrowisata mendorong penggunaan lahan produktif secara bijaksana dan memperkenalkan praktik pertanian ramah lingkungan kepada pengunjung. Embung Karangnangka yang mengairi 12,5 hektare sawah menjadi contoh pengelolaan ekosistem air dan lahan yang berkelanjutan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, ketersediaan aset lahan pertanian atau infrastruktur air seperti embung yang sudah berfungsi. Kedua, kelembagaan BUMDes yang siap menjadi operator resmi kawasan wisata edukasi. Ketiga, kesediaan menjalin studi banding dengan desa lain yang sudah punya keunggulan pada aspek tertentu, seperti tata kelola kebersihan.

Cetak biru konsep perpaduan wisata edukasi alam dan teknologi digital dari Karangnangka telah tersusun sebagai modul yang relatif mudah diadaptasi oleh desa lain [7], [1]. Pengurus BUMDes secara terbuka menyambut delegasi dari wilayah lain yang berminat menduplikasi sistem pengelolaan kawasan ini, menjadikan desa sebagai simpul pembelajaran agro eduwisata di tingkat kabupaten. Dokumentasi program tidak merinci total biaya pembangunan awal secara spesifik, sehingga calon replikator dapat mengacu pada skema penyertaan aset lahan dan dana ketahanan pangan BUMDes sebagai titik awal estimasi.

Strategi perluasan jangkauan pasar diarahkan pada pengembangan paket wisata keluarga akhir pekan untuk menjaring segmen wisatawan individu di luar rombongan sekolah [8]. Kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas juga terus dijalin untuk merumuskan kurikulum wisata luar ruang yang selaras dengan standar pendidikan nasional. Kolaborasi semacam ini diharapkan membuat kunjungan ke kawasan diakui sebagai bagian resmi dari kegiatan pembelajaran formal.

 

Daftar Pustaka

[1] Redaksi Lokadesa, “Agro Eduwisata: Menggabungkan Pendidikan dan Pariwisata untuk Pertanian Berkelanjutan,” lokadesa.com, 19 Sep. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.lokadesa.com/agro-eduwisata-menggabungkan-pendidikan-dan-pariwisata-untuk-pertanian-berkelanjutan/

[2] A. Faradilla et al., “Edgrow-Up: Edukasi Pertanian Berbasis Agro Wisata sebagai Solusi Peningkatan Minat Bertani Generasi Muda pada Sektor Ketahanan Pangan,” Jurnal PKM Sisfokomtek, Mei 2024. [Daring]. Tersedia: http://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jpkm/article/view/2998

[3] BBPKH Cinagara, “Agroeduwisata Kementan, Sarana Edukasi Milenial Mengenal Pertanian,” bbpkhcinagara.bppsdmp.pertanian.go.id, 12 Feb. 2025. [Daring]. Tersedia: https://bbpkhcinagara.bppsdmp.pertanian.go.id/berita/agroeduwisata-kementan-sarana-edukasi-milenial-mengenal-pertanian

[4] Tim Peneliti Neliti, “Desain Kawasan Agroedu-Wisata Berbasis Desa,” neliti.com. [Daring]. Tersedia: https://media.neliti.com/media/publications/516863-none-28cb5d05.pdf

[5] Suara Merdeka Banyumas, “Embung Karangnangka Kedungbanteng, Solusi Ketahanan Air untuk Pertanian di Banyumas,” banyumas.suaramerdeka.com. [Daring]. Tersedia: https://banyumas.suaramerdeka.com/banyumas/0914628292/embung-karangnangka-kedungbanteng-solusi-ketahanan-air-untuk-pertanian-di-banyumas

[6] Tim Peneliti LPPM Unindra, “Pengembangan Wahana Edukasi Berbasis Ketahanan Pangan sebagai Agrowisata melalui Pemberdayaan Masyarakat di Desa Banyubiru, Banten,” Jurnal PKM: Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 4, no. 4, Jul.-Agu. 2021. [Daring]. Tersedia: http://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/pkm/article/viewFile/8446/4184

[7] Tim Peneliti E-Journal Battuta, “Pengembangan Wisata Edukasi di Sawah: Menggali Potensi Pertanian Lokal,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Battuta. [Daring]. Tersedia: https://e-journalbattuta.ac.id/index.php/jpm/article/download/30/29/216

[8] Tim Peneliti UM, “Peningkatan Daya Tarik Desa Wisata Berbasis Edukasi Ketahanan Pangan,” Jurnal Ekonomi Universitas Negeri Malang. [Daring]. Tersedia: https://journal3.um.ac.id/index.php/fe/article/download/4371/2802

[9] Redaksi Bumdes.id, “Skema 20% Ketahanan Pangan melalui BUM Desa atau BUM Desa Bersama,” bumdes.id, 8 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/skema-20-ketahanan-pangan-melalui-bum-desa-bum-desa-bersama

[10] Mongabay Indonesia, “Berkah Kelola Sampah, Banyumas Jadi Percontohan Nasional,” mongabay.co.id, 25 Apr. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.mongabay.co.id/2025/04/25/berkah-kelola-sampah-banyumas-jadi-percontohan-nasional/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Kawasan Wisata Edukasi Ketahanan Pangan BUMDes Berkah Makaryo
Alamat
Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Pemerintah Desa Karangnangka dan BUMDes Berkah Makaryo
Kontak
Kodirin, Perangkat Desa Karangnangka, +62-813-2703-8235
Lokasi