Desa Tinggarjaya Kecamatan Sidareja Cilacap Revitalisasi Sepuluh Posyandu Balita demi Tekan Angka Stunting Anak Desa
Ringkasan Inovasi
Desa Tinggarjaya, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, merevitalisasi sepuluh Posyandu Balita yang tersebar di seluruh dusun, jumlah terbanyak di Kecamatan Sidareja [1], [2]. Program ini digagas Pemerintah Desa Tinggarjaya di bawah kepemimpinan Kepala Desa perempuan, Suwarni. Program ini didukung alokasi anggaran Dana Desa yang mencapai Rp53 juta pada 2019 untuk operasional kader dan Pemberian Makanan Tambahan bagi balita dan lansia. Inovasi ini menjawab kebutuhan mendeteksi dan menangani kasus stunting secara dini, di tengah tingginya prevalensi stunting Kabupaten Cilacap yang tercatat 36,2 persen pada 2018 [4]. Kader Posyandu dan bidan desa menjalankan program Bina Keluarga Balita serta survei deteksi dini tumbuh kembang anak, dengan strategi menjemput bola dari rumah ke rumah untuk mendorong partisipasi warga. Dampak yang mulai terlihat adalah tingginya angka partisipasi masyarakat, seperti di Posyandu Melati V Dusun Kedungwringin yang mencapai kehadiran balita 85 hingga 90 persen setiap bulan. Keberhasilan lain terlihat dari penanganan kasus stunting, sehingga anak yang semula belum bisa berjalan pada usia 33 bulan dapat beraktivitas normal pada usia 41 bulan.
Latar Belakang
Desa Tinggarjaya merupakan salah satu desa di Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, yang dipimpin kepala desa perempuan bernama Suwarni [1], [2]. Desa ini terdiri dari beberapa dusun, salah satunya Dusun Kedungwringin, dengan warga yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian di wilayah pedesaan Cilacap bagian selatan. Layanan kesehatan dasar bagi ibu dan anak di desa ini dijalankan melalui jaringan Posyandu Balita yang tersebar di setiap dusun, didampingi kader kesehatan dan bidan desa.
Kabupaten Cilacap menghadapi persoalan stunting yang cukup serius, dengan prevalensi balita stunting tercatat mencapai 36,2 persen pada 2018 berdasarkan data Riskesdas dan Survei Status Gizi Indonesia [4]. Angka ini menempatkan penanganan stunting sebagai prioritas mendesak bagi seluruh desa di Cilacap, termasuk Tinggarjaya, karena dampak stunting terhadap tumbuh kembang anak bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan jika terlambat terdeteksi. Sebelum revitalisasi dijalankan, sebagian Posyandu di desa, seperti Posyandu Melati V di Dusun Kedungwringin, bahkan belum memiliki gedung sendiri dan masih menumpang di rumah warga untuk melaksanakan pelayanan.
Momentum bertindak muncul ketika pemerintah pusat menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai agenda nasional, yang kemudian diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting [3]. Pemerintah Desa Tinggarjaya di bawah Kepala Desa Suwarni menjadikan revitalisasi Posyandu sebagai prioritas desa, ditandai dengan meningkatnya alokasi anggaran untuk program kesehatan masyarakat setiap tahunnya. Desa tidak ingin menunggu kasus stunting baru bermunculan sebelum benar-benar memperkuat kapasitas seluruh posyandu yang ada.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah revitalisasi menyeluruh terhadap sepuluh Posyandu Balita di Desa Tinggarjaya, mencakup penguatan kapasitas kader, penambahan anggaran operasional, dan program deteksi dini tumbuh kembang anak. Gagasan ini lahir dari kebutuhan menjadikan Posyandu bukan sekadar tempat penimbangan rutin, melainkan garda terdepan deteksi dan penanganan kasus gizi buruk maupun stunting. Pendekatan menyeluruh ini dipilih karena stunting memerlukan penanganan sejak dini, bukan setelah kondisi anak sudah parah.
Selain menyasar balita, Posyandu Tinggarjaya menjalankan Program Bina Keluarga Balita yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran ibu serta anggota keluarga dalam membina tumbuh kembang balita mereka. Program ini memastikan penanganan hak tumbuh kembang anak tidak berhenti pada pemeriksaan fisik semata, tetapi juga menyasar perbaikan pola asuh keluarga secara menyeluruh. Elemen pembeda inovasi ini terletak pada kombinasi antara layanan kesehatan teknis dan pemberdayaan keluarga, sehingga penanganan stunting tidak hanya bersifat kuratif tetapi juga preventif jangka panjang.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dengan penguatan program survei deteksi dini tumbuh kembang anak di seluruh sepuluh Posyandu Desa Tinggarjaya, sehingga kasus gizi buruk atau stunting dapat diketahui sejak tahap awal. Kader Posyandu dan dua bidan desa bekerja sama memantau setiap balita secara berkala, mencatat perkembangan berat badan, tinggi badan, dan kemampuan motorik anak. Sistem deteksi dini ini menjadi fondasi utama sebelum penanganan kasus per kasus dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Pada tahap awal, kader Posyandu sempat kesulitan mendorong partisipasi warga karena sebagian ibu balita enggan datang secara rutin ke Posyandu akibat kesibukan maupun kurangnya kesadaran akan pentingnya pemantauan berkala. Kader kemudian mengoreksi pendekatan pasif ini dengan strategi menjemput bola, yaitu mendatangi rumah-rumah warga secara langsung untuk mengajak ibu-ibu ke Posyandu maupun memantau kesehatan balita langsung di rumah warga yang sulit hadir. Perbaikan strategi inilah yang menjadi pembelajaran penting bahwa partisipasi masyarakat dalam program kesehatan desa tidak bisa hanya mengandalkan ajakan pasif, melainkan memerlukan pendekatan personal secara aktif.
Survei deteksi dini menemukan kasus stunting pada seorang anak berusia 33 bulan di Posyandu Melati V Dusun Kedungwringin pada 2018. Kader bersama bidan desa segera mengunjungi rumah anak tersebut untuk melihat kondisi kesehatan, lingkungan, dan keluarganya secara langsung. Tim kemudian memberikan makanan tambahan secara terus-menerus berupa biskuit, susu, dan makanan lokal bergizi, disertai pemantauan berkala hingga kondisi anak membaik. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya intervensi rumah tangga yang holistik, bukan hanya pemberian makanan tambahan semata, agar penanganan stunting benar-benar efektif.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan partisipasi warga pada tahap awal program, sebagaimana dijelaskan pada tahap koreksi proses penerapan. Kader Posyandu memitigasi tantangan ini dengan strategi kunjungan langsung dari rumah ke rumah, menggandeng organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat untuk turut memberikan sosialisasi kepada warga. Pendekatan kolaboratif dengan tokoh setempat ini terbukti lebih efektif membangun kepercayaan warga dibandingkan sosialisasi formal semata.
Kendala lain adalah keterbatasan infrastruktur, karena Posyandu Melati V di Dusun Kedungwringin belum memiliki gedung sendiri sehingga pelayanan menumpang di rumah Ketua Posyandu yang sekaligus istri Kepala Dusun Kedungwringin. Pemerintah desa memitigasi kendala ini dengan tetap memprioritaskan kelangsungan layanan meski fasilitas fisik belum ideal, sembari terus mendorong tingginya partisipasi warga yang mencapai 85 hingga 90 persen kehadiran balita setiap bulan. Keterbatasan gedung ini tidak menghalangi Posyandu Melati V menjadi salah satu posyandu dengan partisipasi tertinggi di desa.
Tantangan eksternal berupa tingginya prevalensi stunting di tingkat kabupaten turut menjadi persoalan struktural yang tidak sepenuhnya dapat diselesaikan program desa semata [4]. Pemerintah Desa Tinggarjaya memitigasi risiko ini dengan memperkuat kapasitas kader secara rutin melalui penyuluhan kesehatan bulanan, sekaligus menjalin sosialisasi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat agar kesadaran kesehatan menjangkau seluruh lapisan warga desa. Penguatan kapasitas di tingkat desa ini menjadi kontribusi konkret meski persoalan stunting di tingkat kabupaten memerlukan waktu lebih panjang untuk terselesaikan sepenuhnya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Kepala Desa Suwarni yang menjadikan revitalisasi Posyandu sebagai prioritas desa, tercermin dari alokasi anggaran Dana Desa yang mencapai Rp53 juta pada 2019 untuk operasional kader dan Pemberian Makanan Tambahan. Komitmen anggaran yang konsisten setiap tahun ini menjadi fondasi yang memungkinkan sepuluh Posyandu Desa Tinggarjaya beroperasi optimal tanpa kekurangan sumber daya dasar. Keberanian mengalokasikan anggaran signifikan untuk kesehatan, bukan hanya infrastruktur fisik, menunjukkan prioritas pembangunan yang berorientasi jangka panjang.
Faktor kedua adalah dedikasi kader Posyandu dan dua bidan desa yang bekerja keras menyadarkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif memeriksakan tumbuh kembang anak. Modal sosial berupa kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam sosialisasi program turut memperkuat penerimaan warga terhadap pentingnya Posyandu. Sinergi antara pemerintah desa, kader, bidan, dan tokoh masyarakat inilah yang membuat Desa Tinggarjaya mencatatkan angka partisipasi Posyandu termasuk peringkat atas di Kecamatan Sidareja.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum revitalisasi, sebagian Posyandu di Desa Tinggarjaya, seperti Posyandu Melati V, menghadapi keterbatasan fasilitas dan partisipasi warga yang belum optimal. Setelah revitalisasi berjalan, angka partisipasi masyarakat Desa Tinggarjaya untuk datang ke Posyandu termasuk peringkat atas di Kecamatan Sidareja, dengan tingkat kehadiran balita di Posyandu Melati V mencapai 85 hingga 90 persen setiap bulan. Peningkatan partisipasi inilah yang menjadi indikator paling nyata keberhasilan revitalisasi posyandu di desa ini.
Kasus stunting yang ditemukan pada 2018 di Posyandu Melati V menjadi bukti konkret keberhasilan sistem deteksi dini dan penanganan yang dijalankan. Anak yang pada usia 33 bulan belum bisa berjalan dan beraktivitas normal, setelah mendapat penanganan intensif berupa pemberian makanan tambahan dan pemantauan berkelanjutan, sudah dapat berjalan dan beraktivitas normal pada usia 41 bulan. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya kesadaran kolektif warga akan pentingnya pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui Program Bina Keluarga Balita.
Dokumentasi program tidak merinci angka pasti penurunan jumlah kasus stunting di Desa Tinggarjaya secara agregat. Capaian ini masih perlu dibandingkan dengan data prevalensi stunting kabupaten, yang tercatat menurun dari 36,2 persen pada 2018 menjadi 17,6 persen pada 2022 [4]. Kontribusi program desa terhadap tren penurunan tingkat kabupaten ini bersifat tidak langsung namun tetap relevan, mengingat Posyandu desa menjadi ujung tombak deteksi dini di tingkat akar rumput. Keberhasilan menangani kasus individual di Posyandu Melati V tetap menjadi bukti kualitatif kuat bahwa intervensi berbasis Posyandu desa dapat efektif memulihkan kondisi anak stunting.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Operasional sepuluh Posyandu Balita Desa Tinggarjaya dibiayai dari Dana Desa, dengan alokasi anggaran khusus setiap tahun untuk operasional kader Posyandu maupun Pemberian Makanan Tambahan bagi balita dan lansia. Pada 2019, anggaran Posyandu tercatat mencapai Rp53 juta, mencerminkan komitmen serius Pemerintah Desa Tinggarjaya terhadap program kesehatan masyarakat. Skema pembiayaan berbasis Dana Desa ini dipilih karena layanan kesehatan dasar bagi balita dan lansia dipandang sebagai kewajiban pokok pemerintah desa.
Program ini tidak berorientasi menghasilkan pendapatan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia desa di masa depan. Dokumentasi program tidak merinci besaran anggaran tahunan setelah 2019 secara spesifik, sehingga tren investasi Pemerintah Desa Tinggarjaya untuk program ini pada tahun-tahun berikutnya masih bersifat estimatif berdasarkan pola peningkatan alokasi anggaran kesehatan yang konsisten. Ketiadaan tarif layanan menjadi daya tarik utama bagi warga dengan keterbatasan ekonomi untuk tetap rutin memeriksakan kesehatan balita dan lansia mereka.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan mengubah pendekatan promosi dari menunggu pasif menjadi menjemput bola dari rumah ke rumah, sebagaimana dijelaskan pada tahap koreksi proses penerapan, terbukti menjadi keputusan kunci yang meningkatkan partisipasi warga secara signifikan. Keputusan menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam sosialisasi program juga terbukti mempercepat penerimaan warga terhadap pentingnya Posyandu, dibandingkan hanya mengandalkan sosialisasi formal dari pemerintah desa semata. Kedua keputusan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kepercayaan lokal kerap lebih efektif daripada instruksi administratif semata.
Jika memulai dari awal, kader Posyandu mengakui idealnya strategi jemput bola sudah diterapkan sejak program pertama kali berjalan, bukan setelah menyadari rendahnya partisipasi warga pada tahap awal. Penundaan pendekatan personal ini sempat membuat sebagian kasus gizi buruk terlambat terdeteksi karena warga tidak rutin datang ke Posyandu. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi desa lain agar merancang strategi partisipasi aktif sejak awal, bukan menunggu masalah partisipasi muncul terlebih dahulu.
Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari penguatan sistem deteksi dini tumbuh kembang anak di seluruh posyandu yang ada, sebelum menambah program baru yang lebih kompleks. Menjalin kemitraan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama sejak awal, sebagaimana dilakukan Desa Tinggarjaya, juga disarankan agar sosialisasi program kesehatan lebih mudah diterima warga. Mengalokasikan anggaran Dana Desa secara konsisten setiap tahun, bukan hanya saat ada kasus darurat, turut disarankan agar Posyandu selalu siap merespons kebutuhan kesehatan warga kapan saja.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan revitalisasi Posyandu dijaga melalui komitmen Pemerintah Desa Tinggarjaya mengalokasikan anggaran Dana Desa secara rutin setiap tahun untuk operasional kader dan Pemberian Makanan Tambahan. Pelembagaan anggaran rutin ini menjadi jaminan bahwa sepuluh Posyandu di desa tetap beroperasi optimal meski tidak ada program bantuan khusus dari luar desa. Kepastian anggaran tahunan semacam ini membedakan Posyandu Tinggarjaya dari program kesehatan desa lain yang kerap berhenti setelah dana stimulan awal habis.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada kelembagaan kader Posyandu dan PKK Desa yang berjalan independen dari jabatan kepala desa, sehingga program tetap berlangsung meski kepemimpinan desa berganti di masa depan. Peningkatan kapasitas kader melalui penyuluhan kesehatan bulanan turut mempersiapkan kader baru yang dapat meneruskan program deteksi dini dan penanganan stunting secara berkelanjutan. Independensi kelembagaan kader dari jabatan politis inilah yang menjaga program tidak terhenti akibat pergantian kepemimpinan desa.
Rencana keberlanjutan jangka panjang diarahkan pada penguatan Program Bina Keluarga Balita sebagai upaya preventif yang mengurangi kebutuhan intervensi kuratif di masa mendatang, sehingga anggaran Posyandu dapat dialokasikan lebih efisien. Strategi ini diharapkan menjaga keberlanjutan program tanpa harus terus menambah anggaran secara signifikan setiap tahun, karena pencegahan dini lebih hemat biaya dibandingkan penanganan kasus yang sudah parah. Efisiensi anggaran semacam ini penting agar Posyandu tetap dapat beroperasi optimal meski Dana Desa harus dibagi dengan kebutuhan pembangunan lain.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Revitalisasi Posyandu Balita Desa Tinggarjaya berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari kehidupan sehat dan sejahtera hingga penghapusan kelaparan dalam bentuk gizi buruk. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik deteksi dini dan penanganan stunting di Desa Tinggarjaya sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Program Pemberian Makanan Tambahan dan deteksi dini gizi buruk membantu mencegah dan menangani kasus stunting pada balita. | Kasus stunting anak usia 33 bulan berhasil ditangani hingga dapat berjalan normal pada usia 41 bulan. |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Sepuluh Posyandu Balita menyediakan pemeriksaan tumbuh kembang rutin, imunisasi, dan pemantauan gizi bagi balita dan lansia di seluruh dusun desa. | Tingkat kehadiran balita di Posyandu Melati V mencapai 85-90 persen setiap bulan. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Kepemimpinan Kepala Desa perempuan Suwarni dan pengelolaan Posyandu oleh kader perempuan menunjukkan peran aktif perempuan dalam pengambilan keputusan pembangunan desa. | Program kesehatan desa dipimpin dan dikelola oleh perempuan, dari kepala desa hingga kader dan pengelola PKK. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, komitmen pemerintah desa mengalokasikan anggaran Dana Desa secara rutin untuk operasional Posyandu dan Pemberian Makanan Tambahan. Kedua, kesediaan kader dan bidan desa menjalankan sistem deteksi dini tumbuh kembang anak secara konsisten. Ketiga, kesediaan menerapkan strategi jemput bola untuk mendorong partisipasi warga yang enggan datang secara sukarela.
Dokumentasi program tidak merinci total biaya replikasi maupun durasi pasti pembentukan sistem deteksi dini serupa, sehingga calon replikator dapat mengacu pada pola anggaran Rp53 juta per tahun yang dialokasikan Desa Tinggarjaya sebagai titik awal estimasi. Model ini dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan jumlah posyandu sesuai jumlah dusun dan kebutuhan penduduk setempat, selama prinsip deteksi dini dan jemput bola tetap dipertahankan. Estimasi waktu replikasi relatif singkat, sekitar beberapa bulan, karena desa cukup memperkuat kelembagaan posyandu yang sudah berjalan tanpa membangun sistem baru dari nol.
Pemerintah Kabupaten Cilacap berpeluang menjadikan model revitalisasi Posyandu Desa Tinggarjaya sebagai rujukan replikasi ke desa-desa lain dalam upaya mengejar target penurunan stunting hingga 14 persen. Peluang ini sejalan dengan program penyediaan alat antropometri bagi ribuan posyandu di kabupaten ini [5]. Perluasan model berbasis strategi jemput bola dan kemitraan tokoh masyarakat ini dapat mempercepat pencapaian target penurunan stunting di tingkat kabupaten secara lebih luas.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, “Desa Tinggarjaya, Kecamatan Sidareja,” Sistem Informasi Pelayanan Publik Nasional, sippn.menpan.go.id. [Online]. Tersedia: https://sippn.menpan.go.id/instansi/120411/kecamatan-sidareja/-desa-tinggarjaya
[2] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “Desa Tinggarjaya, Kec. Sidareja,” Sistem Informasi Desa, sidesa.jatengprov.go.id. [Online]. Tersedia: https://sidesa.jatengprov.go.id/pemkab/desa/33.01.11.2001
[3] Tim Percepatan Penurunan Stunting, “Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting,” stunting.go.id. [Online]. Tersedia: https://stunting.go.id/wapres-tugaskan-kepala-bkkbn-tingkatkan-konvergensi-program-percepatan-penurunan-stunting/
[4] Pemerintah Kabupaten Cilacap, “Kabupaten Cilacap Tingkatkan Upaya Penanggulangan Stunting dengan Intervensi Terpadu,” cilacapkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://cilacapkab.go.id/v3/kabupaten-cilacap-tingkatkan-upaya-penanggulangan-stunting-dengan-intervensi-terpadu/
[5] Pemerintah Kabupaten Cilacap, “Kejar Target Penurunan Stunting 14 Persen, 1835 Posyandu di Cilacap Terima Antropometri Kit untuk Validitas Data,” cilacapkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://cilacapkab.go.id/v3/kejar-target-penurunan-stunting-14-persen-1835-posyandu-di-cilacap-terima-antropometri-kit-untuk-validitas-data/