Ringkasan Inovasi

Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, membangun Lapangan Bola Lodaya Sakti berstandar FIFA di atas bekas lahan tempat pembuangan sampah yang sebelumnya tidak produktif, mulai dikerjakan pada 2018 [1]. Inisiatif Kepala Desa Yudi Cahyudin ini merupakan perwujudan program Nawacita “Ayo Bangun Desa” di sektor olahraga, sesuai Peraturan Menteri Desa Nomor 19 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Dana Desa 2018 [2]. Lapangan seluas 93 x 54 meter ini ditanami rumput Zoysia matrella asal Eropa, jenis yang juga dipakai di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dengan total investasi mencapai sekitar Rp2 miliar dari Dana Desa 2018–2019 dan bantuan Kementerian Desa 2019 [4]. Sempat viral di media sosial pada Oktober 2018, lapangan ini menghadapi krisis perawatan pada awal 2019 ketika kondisi rumput menguning akibat tekanan akses publik yang tidak terkendali, pembelajaran yang mendorong perbaikan tata kelola berkelanjutan [3]. Kini, lapangan yang dikelola BUMDes Sakti Lodaya ini menjadi ikon olahraga sekaligus wisata Desa Cisayong, digunakan untuk pertandingan, sekolah sepak bola, hingga perayaan satu abad desa pada 2025.

 

Latar Belakang

Lapangan sepak bola di kawasan perdesaan pada umumnya berfasilitas seadanya — berdebu, tanpa rumput terawat, atau tiang gawang yang sudah rusak. Kondisi ini kontras dengan Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, yang terletak sekitar 3 kilometer dari Kota Tasikmalaya di kaki Gunung Galunggung [1]. Lahan yang kini menjadi Lapangan Bola Lodaya Sakti sebelumnya merupakan bekas tempat pembuangan sampah (TPS) karena tanahnya dianggap tidak produktif untuk pertanian [4].

Minimnya fasilitas olahraga berkualitas di tingkat desa membuat warga, khususnya generasi muda, tidak memiliki ruang memadai untuk mengembangkan bakat sepak bola maupun sekadar berolahraga dan bersosialisasi. Lahan bekas TPS yang tidak produktif juga tidak memberikan manfaat ekonomi maupun sosial bagi warga sekitar, sementara kebutuhan akan ruang publik yang layak terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk desa.

Peluang muncul ketika Pemerintah Desa Cisayong menangkap momentum program Nawacita “Ayo Bangun Desa” di sektor olahraga, yang mendorong pembangunan satu lapangan olahraga berkualitas di setiap desa, sejalan dengan Peraturan Menteri Desa Nomor 19 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Dana Desa Tahun 2018 [2]. Kepala Desa Yudi Cahyudin memutuskan mengubah lahan bekas TPS yang tidak produktif itu menjadi lapangan sepak bola berstandar FIFA, keputusan yang telah mendapat persetujuan seluruh unsur masyarakat sebelum pembangunan dimulai pada 2018 [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan lapangan sepak bola berstandar FIFA di lahan bekas TPS, menggunakan rumput Zoysia matrella (ZM) asal Eropa yang termasuk kategori kualitas tinggi dengan kerapatan, elastisitas, kemampuan menahan beban, dan pemulihan diri yang baik, sehingga mengurangi risiko cedera pemain [1]. Jenis rumput yang sama juga digunakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring untuk Asian Games 2018, menempatkan standar lapangan desa ini setara fasilitas olahraga tingkat nasional.

Lapangan seluas 93 x 54 meter ini dilengkapi tembok penahan tanah (TPT), sistem drainase, dan water sprinkle system untuk menjaga kualitas rumput sepanjang tahun. Yang membedakan inovasi ini dari lapangan desa pada umumnya adalah kombinasi antara standar teknis internasional dengan tata kelola berbasis BUMDes — Lapangan Lodaya Sakti tidak sekadar dibangun lalu dibiarkan, melainkan dikelola sebagai aset ekonomi desa yang disewakan sekaligus dijadikan wadah pembinaan bakat sepak bola melalui Sakti Lodaya Foundation.

 

Proses Penerapan Inovasi

Pembangunan lapangan dimulai pada 2018 dengan alokasi Dana Desa APBN Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp1,4 miliar, mencakup pembangunan TPT, perataan tanah, drainase, water sprinkle system, pasir, dan pagar, ditambah bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat [1]. Lapangan ini sempat viral di media sosial pada Oktober 2018 karena dianggap luar biasa untuk ukuran fasilitas desa, menarik perhatian media nasional dan Kementerian Desa [2].

Hanya beberapa bulan setelah viral, kondisi lapangan berubah signifikan: pada Januari 2019, rumput premium yang sempat memukau publik mulai menguning dan berlubang di beberapa titik, dipenuhi puntung rokok dan sampah pengunjung. Masalah utamanya adalah akses publik yang dibiarkan terbuka tanpa pembatasan, padahal rumput jenis ini membutuhkan perawatan khusus dan tidak tahan terhadap lalu lintas kaki yang tidak terkendali. Kepala Desa Yudi Cahyudin mengakui secara terbuka: “Merubah pola pikir masyarakat tidak gampang,” sembari menegaskan bahwa “tanaman hidup kan tidak pasti bagus terus” [3]. Alih-alih menutupi masalah ini, pemerintah desa merencanakan penutupan sementara lapangan pada Februari–Maret 2019 untuk perbaikan, koreksi penting yang mengajarkan bahwa investasi pada rumput berstandar internasional harus diiringi aturan akses yang jelas sejak awal, bukan menunggu kerusakan terjadi lebih dulu [3].

Pembelajaran dari krisis 2019 mendorong investasi lanjutan: Kementerian Desa memberikan bantuan tambahan Rp650 juta pada 2019, sehingga total investasi mencapai sekitar Rp2 miliar hingga 2022, digunakan untuk merehabilitasi lapangan utama, membangun lapangan latihan berukuran 42 x 25 meter, jogging track, dan fasilitas pendukung lain hingga mencapai sekitar 85 persen penyelesaian pada 2022 [4].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah mengubah pola pikir warga yang terbiasa menggunakan lapangan desa secara bebas tanpa pembatasan, padahal rumput premium berstandar FIFA membutuhkan perawatan dan pembatasan akses yang lebih ketat dibanding lapangan tanah biasa. Kepala Desa Yudi Cahyudin mengatasinya secara bertahap, tidak dengan larangan total, melainkan dengan mengatur ulang pola penggunaan dan menutup lapangan sementara untuk masa pemulihan pada awal 2019 [3].

Tantangan finansial berupa biaya perawatan rumput impor yang tidak murah, meliputi listrik untuk sistem penyiraman, pemotongan rutin, dan pemupukan, mengharuskan Pemerintah Desa Cisayong mengalokasikan dana perawatan rutin sebesar Rp5 juta per bulan [1]. Kendala ini dimitigasi dengan menjadikan penyewaan lapangan sebagai sumber pendapatan tambahan, sehingga biaya perawatan tidak seluruhnya membebani anggaran desa dari tahun ke tahun.

Tantangan keberlanjutan investasi juga muncul, mengingat lapangan berstandar internasional membutuhkan dana pemeliharaan dan pengembangan lanjutan yang lebih besar dari perkiraan awal, sebagaimana terlihat dari total investasi yang membengkak dari Rp1,4 miliar menjadi sekitar Rp2 miliar hingga 2022. Pemerintah desa mengatasinya dengan aktif mengajukan bantuan lanjutan ke Kementerian Desa, yang terbukti berhasil menambah Rp650 juta untuk melengkapi fasilitas pendukung [4].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan jangka panjang lapangan ini adalah kesediaan Kepala Desa Yudi Cahyudin mengakui kegagalan perawatan secara terbuka pada 2019, alih-alih menyembunyikannya, dan segera mengambil langkah korektif berupa penutupan sementara untuk pemulihan. Sikap transparan ini menjaga kepercayaan publik terhadap proyek meski sempat menghadapi kritik atas kondisi lapangan yang tidak sesuai ekspektasi awal [3].

Faktor kedua adalah dukungan pendanaan berkelanjutan dari berbagai tingkat pemerintahan — Dana Desa, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Kementerian Desa — yang memungkinkan rehabilitasi dan pengembangan lapangan terus berlanjut pascakrisis 2019. Kelembagaan pengelolaan yang jelas, dengan BUMDes Sakti Lodaya mengurus penyewaan dan Sakti Lodaya Foundation mengurus pembinaan pemuda serta turnamen, turut memastikan lapangan ini memiliki pengelola yang jelas untuk aspek bisnis maupun pembinaan olahraga.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum dibangun, lahan ini adalah bekas TPS yang tidak produktif dan tidak memberi manfaat ekonomi maupun sosial bagi warga. Setelah dibangun dan melalui masa pemulihan pascakrisis 2019, Lapangan Lodaya Sakti kini menjadi fasilitas berstandar FIFA seluas 93 x 54 meter, dilengkapi lapangan latihan 42 x 25 meter dan jogging track, dengan total investasi sekitar Rp2 miliar hingga 2022 [4].

Secara ekonomi, lapangan ini menghasilkan pendapatan bagi BUMDes Sakti Lodaya melalui penyewaan, dengan tarif yang berkembang dari sekitar Rp500 ribu per sesi bermain pada 2018 menjadi sekitar Rp2,5 juta per sesi pertandingan 2×45 menit pada 2022, mencerminkan peningkatan kualitas layanan dan permintaan [1], [4]. Lapangan ini turut meraih penghargaan Inovasi Desa dari pemerintah pada periode 2018–2019 atas terobosannya mengubah lahan tak produktif menjadi aset bernilai [4].

Dampak sosial yang berkembang melampaui fungsi awal sebagai lapangan sepak bola terlihat pada November 2025, ketika Lapangan Lodaya Sakti menjadi lokasi utama Festival Beubeutian dalam rangka perayaan satu abad Desa Cisayong, menampilkan kearifan lokal, bazar UMKM, dan pawai budaya yang dihadiri Wakil Bupati Tasikmalaya [5]. Sekolah Sepak Bola (SSB) Sakti Lodaya kini rutin berlatih di lapangan ini, sementara akses gratis untuk bermain santai tetap dibuka bagi warga umum, menunjukkan keseimbangan yang berhasil dicapai antara pelestarian kualitas lapangan dan keterbukaan akses publik pascakrisis 2019.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan awal Lapangan Lodaya Sakti pada 2018 dibiayai Dana Desa APBN Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp1,4 miliar, mencakup TPT, perataan tanah, drainase, water sprinkle system, pasir, dan pagar, dilengkapi bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat [1]. Pascakrisis perawatan 2019, Kementerian Desa menambah bantuan sebesar Rp650 juta untuk rehabilitasi dan pengembangan fasilitas pendukung, sehingga total investasi mencapai sekitar Rp2 miliar hingga 2022 [4].

Model bisnis lapangan bertumpu pada penyewaan yang dikelola BUMDes Sakti Lodaya, dengan tarif berkembang dari sekitar Rp500 ribu per sesi bermain menjadi sekitar Rp2,5 juta per sesi pertandingan formal 2×45 menit seiring peningkatan kualitas fasilitas [1], [4]. Pendapatan sewa ini menopang biaya perawatan rutin sebesar Rp5 juta per bulan untuk listrik, penyiraman, pemotongan, dan pemupukan rumput, sementara Sakti Lodaya Foundation mengelola sisi pembinaan pemuda dan turnamen sebagai pelengkap nonkomersial dari model bisnis penyewaan lapangan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Desa Cisayong menunjukkan bahwa keputusan mengakui secara terbuka kegagalan perawatan pada 2019, alih-alih menutupinya demi menjaga citra, adalah keputusan kunci yang tepat untuk mempertahankan kepercayaan publik dan mendapat dukungan pendanaan lanjutan dari Kementerian Desa. Keputusan memanfaatkan lahan tak produktif bekas TPS untuk fasilitas publik bernilai tinggi juga terbukti efektif mengubah aset yang tadinya merugikan menjadi sumber pendapatan desa.

Jika memulai dari awal, aturan akses dan pembatasan penggunaan lapangan idealnya sudah dirancang dan disosialisasikan bersamaan dengan pembangunan fisik, bukan menyusul setelah rumput premium rusak akibat lalu lintas kaki yang tidak terkendali. Pembelajaran ini menegaskan bahwa investasi pada material berstandar internasional perlu diimbangi kesiapan tata kelola yang setara, bukan hanya kesiapan dana pembangunan fisik semata.

Bagi desa lain yang ingin membangun fasilitas olahraga serupa, saran praktis terpenting adalah menyiapkan aturan akses dan skema pembiayaan perawatan sejak tahap perencanaan, memilih badan pengelola yang jelas seperti BUMDes untuk aspek bisnis, dan tidak berkecil hati jika menghadapi kritik atas kondisi awal yang belum sempurna — sebagaimana dibuktikan Cisayong, transparansi dan perbaikan berkelanjutan dapat mengubah kegagalan awal menjadi fasilitas yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Lapangan Lodaya Sakti dijaga melalui pembagian peran kelembagaan yang jelas: BUMDes Sakti Lodaya mengelola aspek bisnis penyewaan lapangan untuk masyarakat umum, sementara Sakti Lodaya Foundation berfokus pada pembinaan generasi muda melalui sekolah sepak bola dan turnamen liga [1]. Pembagian ini memastikan aspek komersial dan aspek pembinaan olahraga tidak saling mengganggu prioritas masing-masing.

Mekanisme keberlanjutan tidak sepenuhnya bergantung pada satu figur Kepala Desa, karena pengelolaan operasional sehari-hari telah didelegasikan kepada BUMDes dan Sakti Lodaya Foundation sebagai lembaga formal, sehingga pergantian kepemimpinan desa di masa depan idealnya tidak menghentikan operasional lapangan yang sudah melembaga. Keterlibatan SSB Sakti Lodaya yang rutin berlatih di lapangan ini turut menjamin regenerasi pengguna dan pembina dari generasi ke generasi.

Diversifikasi fungsi lapangan dari sekadar arena sepak bola menjadi lokasi acara budaya, sebagaimana terbukti saat Festival Beubeutian dalam rangka satu abad Desa Cisayong pada November 2025, membuka sumber pendapatan tambahan di luar penyewaan pertandingan olahraga semata [5]. Pendapatan sewa yang terus tumbuh, dari Rp500 ribu menjadi Rp2,5 juta per sesi, menjadi fondasi agar biaya perawatan Rp5 juta per bulan dapat ditutup mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan Dana Desa maupun Kementerian Desa.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Lapangan Lodaya Sakti berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Ketersediaan lapangan berstandar tinggi mendorong warga, khususnya generasi muda, aktif berolahraga sepak bola secara rutin dan aman dari risiko cedera akibat rumput berkualitas rendah. Akses gratis bermain santai bagi warga umum tetap terbuka pascarehabilitasi
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Sekolah Sepak Bola (SSB) Sakti Lodaya yang berlatih rutin di lapangan ini memberikan pembinaan bakat olahraga bagi generasi muda desa secara terstruktur. SSB Sakti Lodaya berlatih rutin dengan jadwal tetap di bawah Sakti Lodaya Foundation
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan lapangan oleh BUMDes Sakti Lodaya menciptakan pendapatan asli desa melalui penyewaan, sekaligus membuka potensi wisata olahraga bagi kawasan Cisayong. Tarif sewa naik dari Rp500 ribu menjadi Rp2,5 juta per sesi (2018–2022)
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Transformasi lahan bekas tempat pembuangan sampah yang tidak produktif menjadi ruang publik bernilai tinggi mendukung penataan ruang desa yang lebih berkelanjutan. Lahan bekas TPS beralih fungsi menjadi fasilitas publik seluas ~5.000 m²
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi pembiayaan antara Dana Desa, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Kementerian Desa memungkinkan rehabilitasi dan pengembangan lapangan berkelanjutan pascakrisis 2019. 3 sumber pendanaan aktif (Dana Desa, Pemprov Jabar, Kemendes)

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pembangunan fasilitas olahraga berstandar tinggi di lahan tak produktif ini relevan direplikasi oleh desa lain yang memiliki lahan bekas TPS atau lahan marginal serupa, sejalan dengan semangat program Nawacita “Ayo Bangun Desa” yang mendorong satu lapangan olahraga berkualitas di setiap desa [2]. Prasyarat minimum meliputi ketersediaan lahan yang cukup luas, dukungan Dana Desa serta kemungkinan pendanaan tambahan dari provinsi atau Kementerian Desa, dan yang terpenting, kesiapan menyusun aturan akses dan pembiayaan perawatan sejak awal agar tidak mengulangi krisis perawatan seperti yang dialami Cisayong pada 2019.

Estimasi biaya replikasi dapat mengacu pada pengalaman Cisayong, dengan investasi awal sekitar Rp1,4 miliar untuk infrastruktur dasar dan potensi kebutuhan tambahan hingga Rp2 miliar jika mencakup fasilitas pendukung seperti lapangan latihan dan jogging track, ditambah biaya perawatan rutin sekitar Rp5 juta per bulan. Desa lain dapat mengadaptasi model kelembagaan ganda BUMDes dan yayasan pembinaan olahraga, serta mempertimbangkan diversifikasi fungsi lapangan untuk acara budaya dan wisata guna memperluas sumber pendapatan di luar penyewaan pertandingan semata.

 

Daftar Pustaka

[1] ANTARA News, “Semangat Cisayong Membangun Lapangan Bola Berstandar Internasional,” antaranews.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/769430/semangat-cisayong-membangun-lapangan-bola-berstandar-internasional

[2] Media Indonesia, “Dana Desa Berbuah Lapangan Berstandar FIFA,” mediaindonesia.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://mediaindonesia.com/nusantara/203664/dana-desa-berbuah-lapangan-berstandar-fifa

[3] Kompas, “Nasib Lapangan Desa Berstandar FIFA Itu Kini…Tak Seindah di Medsos,” bola.kompas.com, 16 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://bola.kompas.com/read/2019/01/16/06400028/nasib-lapangan-desa-berstandar-fifa-itu-kinitak-seindah-di-medsos

[4] ANTARA News, “Cisayong Ubah Bekas Lahan Sampah Jadi Lapangan Bola Internasional,” antaranews.com, 28 Mei 2022. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/2907225/cisayong-ubah-bekas-lahan-sampah-jadi-lapangan-bola-internasional

[5] Republika, “Festival Beubeutian di Cisayong Tasikmalaya dan Tradisi Generasi Baheula,” rejabar.republika.co.id, Nov. 2025. [Online]. Tersedia: https://rejabar.republika.co.id/berita/rzf9jz432/festival-beubeutian-di-cisayong-tasikmalaya-dan-tradisi-generasi-baheula

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Lapangan Sepak Bola Standar FIFA Lodaya Sakti
Alamat
Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Pemerintah Desa Cisayong (Yudi Cahyudin, Kepala Desa) bersama BUMDes Sakti Lodaya
Kontak
Yudi Cahyudin (Kepala Desa), 0813-2153-7878
Lokasi