Ringkasan Inovasi
Desa Panembangan di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, menjadi lokasi penerapan inovasi teknologi oven rotary blower untuk meningkatkan kualitas produksi gula kelapa kristal (gula semut) organik hingga memenuhi standar ekspor internasional. Inovasi ini digagas dan dijalankan oleh para pengrajin gula kelapa yang dikoordinasi oleh Soleh, SP, sebagai respons terhadap rendahnya nilai jual gula kelapa cetak tradisional yang selama bertahun-tahun menjadi mata pencaharian utama masyarakat desa. Teknologi oven rotary blower mampu mengeringkan gula kristal secara merata hingga kadar air mencapai 2 persen — standar yang disyaratkan pasar ekspor — sehingga harga jual meningkat dari kisaran Rp12.000–Rp13.500 per kilogram (gula cetak) menjadi Rp17.000–Rp25.000 per kilogram (gula kristal organik). Produk gula kristal dari Desa Panembangan kini telah menembus pasar internasional berkat dukungan sertifikasi organik dan teknologi pengolahan yang memadai [1][2].
Latar Belakang
Desa Panembangan terletak di Kecamatan Cilongok, sebuah kawasan pedesaan di sisi barat Kabupaten Banyumas yang dikelilingi hamparan pohon kelapa dan persawahan. Kecamatan Cilongok dikenal sebagai salah satu sentra produksi gula kelapa terbesar di Kabupaten Banyumas, dengan ribuan penderes (penyadap nira kelapa) yang menggantungkan penghidupan pada pengolahan nira menjadi gula merah cetak secara turun-temurun. Desa Panembangan sendiri memiliki ratusan penderes aktif yang setiap pagi memanjat belasan hingga puluhan pohon kelapa untuk mengumpulkan nira segar — sebuah pekerjaan berisiko tinggi yang menjadi tulang punggung ekonomi desa [2][3].
Persoalan utama yang dihadapi para pengrajin gula kelapa di Desa Panembangan adalah rendahnya nilai jual produk gula cetak tradisional. Harga gula kelapa cetak di pasaran lokal hanya berkisar Rp12.000–Rp13.500 per kilogram — angka yang nyaris tidak mencukupi untuk menutupi biaya produksi dan risiko kerja penderes yang harus memanjat pohon kelapa setinggi 15–20 meter setiap hari. Di saat yang sama, pasar internasional menunjukkan permintaan tinggi terhadap gula kelapa kristal organik dengan harga jual yang jauh lebih menarik, namun para pengrajin tidak mampu memenuhi standar mutu ekspor karena keterbatasan teknologi pengeringan. Proses pengeringan konvensional dengan sinar matahari sangat bergantung pada cuaca, menghasilkan produk dengan kadar air yang tidak konsisten, dan rentan terhadap kontaminasi debu serta serangga [1].
Momentum perubahan tiba ketika Soleh, SP — seorang pengrajin gula kelapa yang juga menjadi koordinator kelompok pengrajin di Desa Panembangan — menyadari bahwa transformasi dari gula cetak menjadi gula kristal memerlukan satu komponen krusial: teknologi pengeringan yang mampu menghasilkan produk dengan kadar air rendah secara konsisten dan higienis. Informasi tentang teknologi oven rotary blower yang telah diterapkan di beberapa sentra gula kelapa lain di Kabupaten Banyumas menjadi percikan ide yang mendorong Soleh memobilisasi sesama pengrajin untuk mengadopsi teknologi ini [1][3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pemanfaatan oven rotary blower sebagai teknologi pengeringan gula kelapa kristal yang menggantikan metode penjemuran konvensional di bawah sinar matahari. Gagasan ini terinspirasi oleh keberhasilan sentra-sentra gula kelapa lain di Kabupaten Banyumas yang telah lebih dulu mengadopsi teknologi serupa, serta dorongan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas yang aktif melakukan pembinaan teknologi kepada para pengrajin. Para pengrajin Desa Panembangan mengadaptasi teknologi ini dengan penyesuaian skala yang sesuai kapasitas produksi rumah tangga [1].
Oven rotary blower bekerja dengan prinsip sirkulasi udara panas tertutup yang efektif dan efisien. Tungku berbahan bakar gas LPG menghasilkan udara panas yang dialirkan ke dalam ruang pengering melalui blower (penghembus udara), sementara rak-rak berputar di dalam oven memastikan gula kristal terpapar panas secara merata dari seluruh sisi. Sistem rotasi ini menghilangkan masalah pengeringan tidak merata yang lazim terjadi pada penjemuran konvensional. Dalam waktu 2–4 jam, kadar air gula kristal dapat diturunkan hingga mencapai angka 2 persen — standar yang disyaratkan oleh pasar ekspor internasional [4].
Elemen pembeda utama yang menjadikan teknologi ini unggul dibandingkan penjemuran konvensional adalah konsistensi hasil, efisiensi waktu, dan standar higienitas. Penjemuran di bawah sinar matahari memerlukan waktu 1–2 hari tergantung cuaca, rentan kontaminasi, dan menghasilkan kadar air yang bervariasi antarpartai. Dengan oven rotary blower, pengrajin dapat memproduksi gula kristal berkualitas ekspor sepanjang tahun tanpa bergantung pada kondisi cuaca, menghasilkan warna dan tekstur yang seragam, serta memenuhi standar kebersihan yang disyaratkan oleh lembaga sertifikasi organik internasional [4][5].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai ketika Soleh bersama beberapa pengrajin aktif melakukan studi banding ke sentra-sentra gula kelapa di kecamatan tetangga yang telah lebih dulu menggunakan teknologi pengering mekanis. Mereka mempelajari desain oven, teknik pengoperasian, dan perhitungan biaya produksi secara rinci. Langkah awal yang diambil adalah pengadaan satu unit oven rotary blower sebagai unit percontohan yang ditempatkan di bengkel produksi milik kelompok pengrajin. Seluruh anggota kelompok dilatih mengoperasikan oven, mulai dari pengaturan suhu optimal, durasi pengeringan, hingga teknik pengayakan dan penyortiran butiran gula kristal [1].
Percobaan produksi pertama tidak langsung menghasilkan kualitas yang diharapkan. Pada batch awal, pengrajin mengatur suhu terlalu tinggi sehingga permukaan gula kristal menghitam dan gosong, sementara bagian dalam masih lembap. Kegagalan ini mengajarkan bahwa pengaturan suhu harus dilakukan secara bertahap — dimulai dari suhu rendah untuk mengeluarkan uap air secara perlahan, kemudian dinaikkan secara gradual — dan kecepatan rotasi rak harus disesuaikan dengan volume gula yang dikeringkan. Melalui serangkaian eksperimen selama beberapa minggu, tim pengrajin akhirnya menemukan konfigurasi optimal yang menghasilkan gula kristal berwarna keemasan dengan kadar air tepat 2 persen [4].
Wawasan berharga yang diperoleh dari proses ini adalah pentingnya menjaga kualitas bahan baku sejak tahap penyadapan nira. Gula kristal berkualitas ekspor tidak hanya bergantung pada teknologi pengeringan, tetapi juga pada kemurnian nira, kebersihan wadah penampung, dan kecepatan pengolahan setelah nira diturunkan dari pohon. Pengrajin yang menambahkan bahan pengawet kimia ke dalam nira akan menghasilkan gula yang tidak lolos uji sertifikasi organik, sehingga disiplin menjaga proses organik dari hulu ke hilir menjadi prasyarat mutlak [5].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis utama adalah kesulitan mengontrol suhu secara presisi pada unit oven rotary blower generasi pertama yang belum dilengkapi termometer digital. Pengrajin harus mengandalkan pengalaman dan intuisi untuk memperkirakan suhu dalam ruang pengering, sehingga hasil pengeringan antarpartai masih bervariasi. Mitigasi yang ditempuh adalah pemasangan termometer digital pada oven dan penyusunan panduan standar operasional yang mencantumkan suhu, durasi, dan volume optimal untuk setiap siklus pengeringan. Panduan ini ditulis dalam bahasa sederhana dan ditempel di dinding bengkel produksi agar seluruh pengrajin dapat mengikutinya secara konsisten [4].
Tantangan ekonomi berupa biaya investasi awal pengadaan oven menjadi hambatan bagi pengrajin berskala kecil. Harga satu unit oven rotary blower berkisar Rp5.000.000–Rp15.000.000 tergantung kapasitas, nominal yang memberatkan bagi pengrajin dengan modal terbatas. Solusi yang ditempuh adalah penggunaan oven secara kolektif melalui kelompok pengrajin, di mana biaya pengadaan ditanggung bersama dan jadwal penggunaan diatur secara bergiliran. Model kepemilikan kolektif ini tidak hanya meringankan beban investasi, tetapi juga mendorong solidaritas dan standarisasi kualitas antaranggota kelompok [1].
Tantangan pasar yang tidak kalah serius adalah persaingan dengan produk gula kristal dari desa-desa lain di Kabupaten Banyumas yang juga berlomba menembus pasar ekspor. Beberapa kasus penolakan produk di negara tujuan akibat terdeteksinya campuran gula rafinasi menciptakan reputasi negatif yang berdampak pada seluruh produsen di wilayah tersebut. Mitigasi yang diterapkan oleh pengrajin Desa Panembangan adalah penerapan disiplin ketat pada proses produksi organik dari penyadapan hingga pengemasan, serta aktif mengikuti program sertifikasi organik internasional untuk membedakan produk mereka dari kompetitor yang kurang terjaga kualitasnya [5][3].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling krusial dalam keberhasilan inovasi ini adalah peran Soleh sebagai koordinator yang tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga mengorganisasi sesama pengrajin ke dalam kelompok kerja yang terstruktur. Ia menjadi jembatan antara pengrajin di tingkat desa dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas yang memberikan pembinaan teknis, serta dengan perusahaan eksportir yang menjamin penyerapan produk. Dukungan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dalam bentuk pendampingan teknis dan penelitian turut memperkuat kapasitas pengrajin dalam memahami standar mutu ekspor [4][1].
Modal sosial berupa tradisi gotong royong dan kekerabatan antarpenyadap nira menjadi pengikat partisipasi yang sangat efektif. Profesi penderes adalah pekerjaan turun-temurun yang membangun ikatan kuat antarsesama pengrajin — mereka berbagi pohon kelapa, saling membantu saat musim produksi tinggi, dan bersama-sama menjaga reputasi produk desa. Ketika satu pengrajin berhasil meningkatkan pendapatan melalui gula kristal, cerita keberhasilan tersebut menyebar dengan cepat dan mendorong pengrajin lain untuk turut mengadopsi teknologi yang sama [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak kuantitatif paling nyata adalah peningkatan harga jual produk gula kelapa secara signifikan. Sebelum adopsi teknologi oven rotary blower, pengrajin menjual gula kelapa cetak seharga Rp12.000–Rp13.500 per kilogram; setelah bertransformasi ke gula kristal organik, harga jual melonjak menjadi Rp17.000–Rp25.000 per kilogram — peningkatan 40–85 persen tergantung kualitas hasil akhir dan kemasan. Kualitas produk yang dihasilkan mencapai standar ekspor dengan kadar air hingga 2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan produk penjemuran konvensional yang biasanya mencapai 4–6 persen. Peningkatan pendapatan ini berdampak langsung pada kesejahteraan rumah tangga pengrajin yang kini mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan perbaikan rumah [1].
Dampak kualitatif yang paling mencolok adalah perubahan persepsi masyarakat terhadap profesi penderes dan pengrajin gula kelapa. Pekerjaan yang semula dipandang sebagai profesi marjinal dengan pendapatan pas-pasan kini dilihat sebagai usaha produktif yang menghasilkan produk unggulan berkualitas ekspor. Anak-anak muda desa yang sebelumnya enggan meneruskan profesi orang tua mereka mulai tertarik kembali karena melihat potensi pendapatan yang jauh lebih menjanjikan. Proses produksi yang lebih higienis dan terstandardisasi juga meningkatkan kepercayaan diri pengrajin dalam memasarkan produk mereka [2].
Dampak multiplier yang tidak direncanakan sebelumnya adalah tumbuhnya kesadaran pengrajin terhadap pentingnya sertifikasi organik dan pengemasan modern. Pengrajin yang semula hanya menjual gula dalam bentuk curah tanpa label kini mulai memahami bahwa kemasan dan sertifikasi dapat melipatgandakan nilai jual produk. Beberapa kelompok pengrajin di Desa Panembangan bahkan mulai mengembangkan merek lokal sendiri untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik dan internasional [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan awal untuk pengadaan oven rotary blower berasal dari kombinasi swadaya kelompok pengrajin dan bantuan stimulan dari program pemberdayaan masyarakat pemerintah daerah. Biaya pengadaan satu unit oven berkisar Rp5.000.000–Rp15.000.000 tergantung kapasitas, sementara biaya operasional bulanan relatif rendah karena bahan bakar utama berupa gas LPG hanya memerlukan 1–2 tabung per siklus produksi. Model kepemilikan kolektif melalui kelompok pengrajin memungkinkan pembagian biaya investasi yang merata dan terjangkau bagi seluruh anggota [1].
Model pendapatan pengrajin berjalan melalui dua jalur utama. Jalur pertama adalah penjualan gula kristal organik kepada perusahaan eksportir yang bermitra dengan kelompok pengrajin untuk memenuhi permintaan pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Jalur kedua adalah penjualan langsung di pasar domestik melalui kemasan bermerek lokal yang menyasar konsumen ritel dan toko produk organik. Selisih harga antara gula cetak dan gula kristal — rata-rata Rp5.000–Rp11.500 per kilogram — menjadi margin keuntungan tambahan yang mempercepat pengembalian investasi oven dalam waktu 6–12 bulan, tergantung volume produksi [5][3].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat yang diambil pengrajin Desa Panembangan adalah memulai dengan satu unit oven percontohan sebelum melakukan ekspansi, karena strategi ini memungkinkan kalibrasi teknis dan pembangunan kepercayaan antaranggota kelompok secara bertahap. Penerapan model kepemilikan kolektif terbukti efektif mengatasi hambatan modal individu sekaligus mendorong standarisasi kualitas produksi. Kemitraan dengan perusahaan eksportir sejak tahap awal memberikan jaminan pasar yang menjadi motivasi kuat bagi pengrajin untuk menjaga konsistensi kualitas produk. Keterlibatan Dinas Pertanian dalam pembinaan teknis memastikan pengrajin mendapatkan pembaruan pengetahuan tentang standar mutu dan regulasi ekspor secara berkelanjutan [1].
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa pemasangan termometer digital dan alat ukur kadar air pada oven seharusnya dilakukan sejak unit pertama beroperasi, bukan ditambahkan setelah mengalami kegagalan produksi akibat suhu yang tidak terkontrol. Disiplin menjaga proses organik dari tahap penyadapan nira hingga pengemasan sebaiknya disosialisasikan secara lebih intensif kepada seluruh penderes, karena satu pelanggaran saja dapat mengakibatkan penolakan seluruh partai produk oleh lembaga sertifikasi. Dokumentasi konfigurasi optimal (suhu, durasi, volume) untuk setiap varian produk juga idealnya disusun sejak awal agar transfer pengetahuan kepada pengrajin baru berjalan lebih cepat.
Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, pastikan ketersediaan bahan baku nira kelapa yang memadai dan komitmen penderes untuk menerapkan proses organik tanpa bahan kimia, karena sertifikasi organik adalah kunci akses ke pasar ekspor berharga tinggi. Kedua, mulailah dengan satu unit oven bersama dan jadwalkan penggunaan secara bergiliran agar investasi terbagi rata dan seluruh anggota kelompok mendapatkan manfaat yang setara. Ketiga, jalin kemitraan dengan perusahaan eksportir atau koperasi pemasaran sejak awal untuk menjamin penyerapan produk dan mendapatkan umpan balik langsung tentang standar mutu yang dituntut pasar [5][2].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan jangka panjang inovasi gula kristal organik di Desa Panembangan bertumpu pada pelembagaan kelompok pengrajin ke dalam struktur yang lebih formal, baik melalui koperasi maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Formalisasi ini memastikan bahwa pengelolaan produksi, pemasaran, dan pemeliharaan peralatan tidak bergantung pada satu figur individu. Dengan menjadi badan usaha resmi, kelompok pengrajin akan memiliki akses ke permodalan formal, perlindungan hukum, dan kemampuan bernegosiasi yang lebih kuat dengan mitra bisnis [2].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui transfer pengetahuan lintas generasi. Pengrajin senior yang telah menguasai teknik pengoperasian oven dan standar mutu ekspor bertugas membimbing pengrajin muda melalui sistem magang langsung di bengkel produksi. Panduan operasional standar yang sudah disusun menjadi dokumen referensi tertulis yang memastikan keberlangsungan pengetahuan teknis meskipun terjadi pergantian koordinator kelompok. Generasi muda penderes yang kini melihat profesi pengrajin gula sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan menjadi modal regenerasi yang kuat [1].
Diversifikasi produk turunan dari gula kelapa — seperti gula semut aneka rasa, sirup nira, dan gula kelapa cair — menjadi strategi pengembangan pasar yang memperkuat ketahanan bisnis kelompok pengrajin. Selain itu, Desa Panembangan juga mengembangkan potensi wisata edukatif berbasis agroindustri gula kelapa, di mana pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penyadapan nira hingga produksi gula kristal. Strategi ini membuka aliran pendapatan baru yang tidak bergantung sepenuhnya pada fluktuasi harga gula di pasar ekspor [2][3].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi teknologi oven rotary blower untuk produksi gula kristal organik di Desa Panembangan berkontribusi secara langsung terhadap pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui teknologi tepat guna dan akses ke pasar ekspor merupakan manifestasi nyata dari agenda pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Peningkatan harga jual gula dari Rp12.000–13.500/kg (cetak) menjadi Rp17.000–25.000/kg (kristal organik) meningkatkan pendapatan rumah tangga pengrajin secara signifikan, mengurangi tekanan kemiskinan di kalangan penderes. | Peningkatan pendapatan pengrajin 40–85% per kilogram produk |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi gula kristal organik bersertifikat menjamin keamanan pangan dan kualitas produk yang dikonsumsi masyarakat, sekaligus mendukung keberlanjutan sistem pangan berbasis pertanian organik. | Produk bersertifikat organik dengan kadar air 2%; proses produksi homogen dan higienis |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Transformasi dari gula cetak ke gula kristal organik menciptakan nilai tambah yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menyerap tenaga kerja pemuda desa, dan membuka akses ke pasar ekspor internasional. | Jumlah pengrajin yang beralih ke produksi gula kristal; volume ekspor per tahun |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Penerapan teknologi oven rotary blower merupakan inovasi industri skala desa yang membuktikan bahwa teknologi tepat guna mampu meningkatkan kualitas produk pertanian hingga memenuhi standar pasar global. | Jumlah unit oven rotary blower yang beroperasi; penurunan kadar air dari 4–6% menjadi 2% |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Proses produksi organik tanpa bahan kimia tambahan dan pengeringan efisien dengan oven rotary blower mendukung pola produksi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kesehatan konsumen. | Persentase pengrajin yang menerapkan proses organik dari hulu ke hilir; sertifikasi organik aktif |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Replikasi inovasi oven rotary blower untuk produksi gula kristal organik di desa lain memerlukan beberapa prasyarat minimum. Pertama, ketersediaan pohon kelapa produktif dan penderes aktif yang mampu memasok nira segar secara berkelanjutan. Kedua, komitmen pengrajin untuk menerapkan proses organik tanpa bahan kimia dari tahap penyadapan hingga pengemasan, karena sertifikasi organik menjadi kunci akses ke pasar berharga tinggi. Ketiga, keberadaan kelompok pengrajin atau koperasi yang bersedia mengelola oven secara kolektif. Estimasi biaya replikasi untuk satu unit oven rotary blower berkisar Rp5.000.000–Rp15.000.000 untuk peralatan, ditambah Rp2.000.000–Rp3.000.000 untuk bahan pendukung awal (tabung LPG, ayakan, wadah pengemasan), dengan durasi dari pengadaan hingga produksi stabil diperkirakan 1–3 bulan [1][4].
Model adaptasi dapat disesuaikan dengan konteks masing-masing desa. Desa dengan populasi pohon kelapa yang lebih besar dapat meningkatkan kapasitas dengan menggunakan oven berkapasitas lebih besar atau menambah jumlah unit. Desa yang menghasilkan nira aren atau nira lontar dapat mengadaptasi teknologi yang sama untuk memproduksi gula kristal dari jenis nira yang berbeda, karena prinsip pengeringan dengan sirkulasi udara panas berlaku universal untuk semua jenis gula kristal [4].
Untuk scale up ke tingkat kecamatan atau kabupaten, model klaster produksi dapat diterapkan: beberapa kelompok pengrajin dari desa-desa berbeda bergabung dalam satu koperasi pemasaran yang mengoordinasikan standar mutu, sertifikasi organik, dan negosiasi harga dengan eksportir. Pemerintah kabupaten melalui Dinas Pertanian dan laboratorium pengujian gula yang sedang dibangun dapat berperan sebagai penjamin mutu dan fasilitator sertifikasi. Strategi ini memungkinkan produk gula kristal dari seluruh wilayah Kecamatan Cilongok dan sekitarnya tampil dengan standar kualitas yang seragam di pasar internasional [3][5].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “Gula Kristal Organik Desa Panembangan — Teknologi Tepat Guna untuk Produk Unggulan Desa Kualitas Ekspor,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/gula-kristal-panembangan/
[2] Pemerintah Desa Panembangan, “Profil Desa Panembangan — Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas,” panembangan.desa.id. [Online]. Tersedia: https://panembangan.desa.id
[3] Pemerintah Kabupaten Banyumas, “Pengembangan Gula Kelapa Kristal Organik sebagai Produk Unggulan Kabupaten Banyumas,” banyumaskab.go.id. [Online]. Tersedia: https://banyumaskab.go.id
[4] Universitas Jenderal Soedirman, “Pendampingan Teknis Pengrajin Gula Kelapa Kristal di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas,” unsoed.ac.id. [Online]. Tersedia: https://unsoed.ac.id
[5] Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang, “Analisis Kualitas dan Standar Ekspor Gula Kelapa Kristal Organik dari Kabupaten Banyumas,” polbangtanyoma.ac.id. [Online]. Tersedia: https://polbangtanyoma.ac.id
[6] R. Purnomo dan S. Widodo, “Penerapan Teknologi Pengering Tipe Rak Berputar untuk Peningkatan Mutu Gula Semut,” Jurnal Teknologi Pertanian, 2020. [Online]. Tersedia: https://www.neliti.com/
[7] Kementerian Pertanian Republik Indonesia, “Pengembangan Industri Gula Kelapa Kristal sebagai Komoditas Ekspor Unggulan,” pertanian.go.id. [Online]. Tersedia: https://pertanian.go.id
Kata Kunci: desa panembangan, gula kristal organik, gula semut, oven rotary blower, cilongok, banyumas, jawa tengah, teknologi tepat guna, penderes, nira kelapa, gula kelapa, ekspor, sertifikasi organik, kadar air, Soleh SP, pengrajin gula, produk unggulan desa, pengeringan mekanis, ekonomi desa, kelompok pengrajin
Bersyukur pendapatan para petani yg biasa kerja keras naik. Mudah2an bs ditiru di wilayah lain. Ayo betdayakan petani