Ringkasan Inovasi
Desa Wangon di Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, membangun Taman Kota Gelora Dewa (Gelanggang dan Arena Olahraga Desa Wangon) yang mengubah Lapangan Panggang menjadi ruang terbuka hijau (RTH) multifungsi dengan anggaran Rp600 juta melalui mekanisme pembiayaan multiyear (2015–2017) dan multidonor [1]. Keunikan inovasi ini terletak pada model pendanaan partisipatif: dua pertiga anggaran (Rp400 juta) berasal dari swadaya murni masyarakat yang tersebar di 72 Rukun Tetangga, sementara sisanya dari Pendapatan Asli Desa (PADes) dan Dana Desa (DD) [1]. Diprakarsai oleh Kepala Desa Subejo, taman ini dirancang sebagai “alun-alun desa” yang menyediakan area jogging, lapak pedagang produk unggulan desa selebar 6 meter mengelilingi taman, kolam ikan, air mancur, panggung permanen, dan area bermain anak — sebuah destinasi rekreasi murah yang sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Peresmian ditandai dengan pagelaran wayang kulit lakon “Sumantri Ngenger” oleh dalang kondang Ki Enthus Susmono (Bupati Tegal) pada 21 April 2018 [2].
Latar Belakang
Kabupaten Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan ibu kota di Purwokerto, memiliki luas wilayah sekitar 1.329 km² yang terbagi ke dalam 27 kecamatan, 301 desa, dan 30 kelurahan, dengan populasi sekitar 1,86 juta jiwa [3]. Kecamatan Wangon yang menjadi rumah bagi Desa Wangon memiliki posisi strategis luar biasa: terletak di titik pertemuan empat jalur jalan nasional — ke arah Ajibarang/Tegal, Purwokerto/Yogyakarta, Cilacap, dan Majenang/Bandung [4]. Kecamatan ini memiliki luas 60,78 km² dengan 12 desa dan populasi 87.782 jiwa, menjadikannya salah satu kecamatan terpadat dan paling strategis di Kabupaten Banyumas.
Desa Wangon sebagai ibukota kecamatan memiliki tingkat keramaian dan aktivitas ekonomi yang tinggi. Meskipun berstatus desa, karakteristiknya sudah mendekati kelurahan perkotaan — pusat perdagangan, jasa, dan transportasi berkumpul di sini. Namun di balik keramaian ini, desa memiliki kekurangan mendasar: tidak tersedia ruang publik terbuka yang representatif bagi warga [1]. Satu-satunya ruang terbuka adalah Lapangan Panggang — sebuah lapangan yang kondisinya jauh dari memadai sebagai ruang publik modern: gersang, tidak terawat, sering tergenang air saat musim hujan, dan tidak dilengkapi fasilitas penunjang untuk olahraga maupun rekreasi.
Kesadaran Kepala Desa Subejo bahwa Desa Wangon membutuhkan “alun-alun” yang layak menjadi pemicu inovasi ini. Bagi desa yang terletak di persimpangan empat jalur nasional dengan ribuan orang berlalu-lalang setiap hari, ketiadaan ruang publik yang menarik berarti kehilangan potensi ekonomi yang besar [1]. Subejo memandang bahwa Lapangan Panggang dapat ditransformasikan menjadi taman kota yang tidak hanya menyediakan ruang hijau dan sarana olahraga, tetapi juga lapak pedagang yang menggerakkan ekonomi dan arena rekreasi murah yang menarik keluarga dari desa-desa sekitar. Visi ini disosialisasikan secara intensif kepada warga dan mendapat sambutan luar biasa — tercermin dari kesediaan 72 RT menyumbang swadaya yang totalnya mencapai dua pertiga dari seluruh biaya pembangunan.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi inti adalah transformasi Lapangan Panggang yang gersang dan terlantar menjadi Taman Kota Gelora Dewa — ruang terbuka hijau multifungsi yang menyatukan lima fungsi dalam satu kawasan terpadu: (1) area olahraga dengan lintasan jogging dan paving; (2) ruang rekreasi keluarga dengan kolam ikan, air mancur, tempat duduk, dan lampu bunga hias; (3) pusat ekonomi dengan lapak pedagang selebar 6 meter mengelilingi taman untuk menjual produk unggulan desa; (4) panggung permanen di kedua sisi untuk pentas seni dan kegiatan budaya; dan (5) ruang hijau yang memberikan suasana sejuk di tengah keramaian kecamatan [1].
Elemen pembeda utama dari inovasi Desa Wangon bukan pada fasilitas fisiknya — banyak desa membangun taman — melainkan pada tiga aspek fundamental. Pertama, model pendanaan multidonor yang berhasil menggalang Rp400 juta swadaya murni dari 72 RT membuktikan tingkat partisipasi dan kepercayaan masyarakat yang luar biasa terhadap pemerintah desa [1]. Kedua, pendekatan multiyear (2015–2017) yang memungkinkan pembangunan bertahap tanpa membebani anggaran satu tahun anggaran tertentu. Ketiga, integrasi fungsi ekonomi melalui lapak pedagang yang menjadikan taman bukan sekadar tempat rekreasi tetapi juga mesin penggerak ekonomi yang menghasilkan PADes dan memberdayakan UMKM lokal.
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari tahun 2015 dengan fase sosialisasi dan perencanaan teknis yang intensif. Kepala Desa Subejo menyadari bahwa proyek sebesar Rp600 juta tidak mungkin didanai sepenuhnya dari APBDes, sehingga strategi penggalangan swadaya masyarakat menjadi fondasi utama [1]. Sosialisasi dilakukan ke setiap RT — total 72 RT di Desa Wangon — untuk menjelaskan visi transformasi Lapangan Panggang menjadi taman kota yang akan bermanfaat bagi seluruh warga. Respons masyarakat sangat positif: total swadaya yang terkumpul mencapai Rp400 juta, membuktikan bahwa warga memahami dan mendukung visi kepala desa mereka.
Pembangunan fisik dilakukan secara bertahap selama tiga tahun anggaran (2015–2017). Tahap pertama adalah pembuatan fondasi seluruh sisi lapangan dan penimbunan tanah untuk mengatasi masalah genangan air saat musim hujan — problem klasik Lapangan Panggang yang menyebabkan area ini tidak bisa digunakan selama berbulan-bulan [1]. Tahap kedua meliputi pemasangan paving untuk area jogging dan pedestrian di sisi depan, serta pembangunan panggung permanen di kedua sisi taman. Tahap ketiga adalah pemasangan tempat duduk, lampu bunga hias untuk penerangan malam, pembuatan dua kolam ikan dan air mancur, serta penataan lapak pedagang.
Tantangan teknis terbesar terjadi pada tahap penimbunan tanah. Volume tanah urugan yang diperlukan untuk meninggikan seluruh area lapangan agar bebas genangan ternyata jauh lebih besar dari perkiraan awal, karena kondisi tanah asli yang rendah dan cekungan di beberapa titik menampung air hujan lebih banyak dari yang diprediksi [1]. Tim pelaksana harus merevisi RAB penimbunan dan menambah volume tanah urugan, yang menyebabkan sebagian anggaran terserap lebih banyak di tahap fondasi. Penyesuaian dilakukan dengan menunda beberapa elemen finishing ke tahun anggaran berikutnya dan mengoptimalkan tenaga kerja swadaya dari warga untuk pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus.
Peresmian taman pada 21 April 2018 menjadi momen monumental yang dirayakan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang kondang Ki Enthus Susmono — yang saat itu menjabat sebagai Bupati Tegal — dengan lakon “Sumantri Ngenger” [2]. Peresmian yang megah ini menegaskan posisi Gelora Dewa bukan sebagai taman biasa, melainkan sebagai ikon Desa Wangon yang layak dirayakan. Ironisnya, Ki Enthus Susmono wafat karena serangan jantung hanya 23 hari setelah pentas di Wangon — pada 14 Mei 2018 — menjadikan peresmian Gelora Dewa sebagai salah satu pentas terakhir sang dalang legendaris [5].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan finansial utama adalah skala investasi Rp600 juta yang jauh melampaui kapasitas Dana Desa biasa. Jika mengandalkan DD dan PADes saja, pembangunan akan memakan waktu bertahun-tahun lebih lama [1]. Mitigasi dilakukan melalui model penggalangan swadaya yang terstruktur: Subejo mengunjungi setiap RT untuk menjelaskan visi dan manfaat taman, membangun kepercayaan bahwa kontribusi mereka akan terlihat hasilnya. Transparansi penggunaan dana dan pelaporan berkala ke setiap RT menjadi kunci terjaganya kepercayaan selama tiga tahun proses pembangunan.
Tantangan teknis berupa kondisi Lapangan Panggang yang rendah dan sering tergenang air hujan memerlukan penimbunan tanah yang volumenya lebih besar dari estimasi awal. Biaya tambahan penimbunan menekan alokasi untuk komponen lain [1]. Mitigasi dilakukan dengan pendekatan multiyear: komponen yang anggaran-nya terdampak dipindahkan ke tahun anggaran berikutnya, sehingga kualitas konstruksi tidak dikorbankan demi mengejar jadwal. Pelibatan tenaga kerja sukarela warga juga menurunkan biaya tenaga kerja secara signifikan.
Tantangan keberlanjutan berupa perawatan taman, kolam ikan, air mancur, dan fasilitas publik yang memerlukan biaya operasional rutin. Taman yang ramai dikunjungi menghasilkan sampah, kerusakan fasilitas, dan kebutuhan pemeliharaan taman hijau yang berkelanjutan [6]. Mitigasi ditempuh dengan memposisikan retribusi lapak pedagang sebagai sumber pendanaan pemeliharaan utama — karena pedagang yang mendapat manfaat langsung dari keramaian taman memiliki insentif untuk turut menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan yang menarik pengunjung.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Kepala Desa Subejo yang mengombinasikan visi ambisius dengan kemampuan mobilisasi sosial menjadi faktor penentu utama. Menggalang Rp400 juta swadaya dari 72 RT membutuhkan kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi terhadap pemimpin mereka — kepercayaan yang dibangun melalui transparansi, komunikasi langsung ke setiap RT, dan pembuktian progres pembangunan yang konsisten selama tiga tahun [1]. Banyak kepala desa memiliki visi tetapi tidak mampu memobilisasi sumber daya swadaya semasif ini; Subejo membuktikan bahwa visi yang dikomunikasikan dengan baik dapat menggerakkan seluruh komunitas.
Lokasi strategis Desa Wangon di persimpangan empat jalur nasional menjadi pilar kedua keberhasilan. Taman yang terletak di titik keramaian alami — di mana ribuan orang berlalu-lalang setiap hari — tidak perlu berjuang keras untuk mendatangkan pengunjung [4]. Keputusan mengintegrasikan lapak pedagang dalam desain taman memanfaatkan keramaian ini secara optimal: pengunjung yang singgah di taman secara alami menjadi konsumen produk unggulan desa, menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan. Pendekatan multiyear juga terbukti tepat karena memungkinkan pembangunan berkualitas tanpa memaksakan anggaran dalam satu tahun.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum Gelora Dewa dibangun, Lapangan Panggang adalah ruang terbuka gersang yang tergenang saat hujan, tidak memiliki fasilitas penunjang, dan tidak memberikan manfaat ekonomi maupun sosial yang berarti bagi warga [1]. Setelah taman beroperasi, area ini bertransformasi menjadi “alun-alun” Desa Wangon yang hidup dan produktif — masyarakat menyebutnya sebagai “Alun-alun Wangon” meskipun secara status merupakan aset pemerintah desa [4]. Warga yang sebelumnya tidak memiliki pilihan rekreasi murah kini dapat berjalan-jalan di taman, duduk di tepian kolam ikan, menikmati air mancur, membawa anak-anak bermain, atau berolahraga di lintasan jogging — semuanya tanpa biaya.
Dampak ekonomi terlihat dari operasional lapak pedagang selebar 6 meter yang mengelilingi taman. Pedagang produk unggulan desa mendapat lokasi berjualan yang strategis dengan arus pengunjung yang stabil, sementara retribusi lapak menjadi sumber PADes yang berkelanjutan [1]. Keramaian taman pada jam-jam tertentu — terutama sore dan malam hari — memicu pertumbuhan usaha kuliner dan jasa pendukung di sekitar kawasan. Panggung permanen yang digunakan untuk pentas seni dan kegiatan budaya juga mendatangkan pengunjung dari luar desa, memperluas dampak ekonomi melampaui batas administratif Desa Wangon.
Dampak sosial-budaya yang paling kuat adalah terciptanya ruang interaksi komunal yang sebelumnya tidak ada. Taman menjadi tempat pertemuan informal antarwarga, wadah kegiatan pemuda, arena bermain anak yang aman dan terawasi, serta ruang pentas seni yang melestarikan warisan budaya Banyumasan. Peresmian dengan wayang kulit Ki Enthus Susmono — salah satu pentas terakhir sang dalang legendaris — memberikan nilai historis yang memperkuat identitas kultural Gelora Dewa [2][5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Total investasi pembangunan Taman Kota Gelora Dewa sebesar Rp600 juta dengan komposisi pendanaan: swadaya murni masyarakat Rp400 juta (dua pertiga total), Pendapatan Asli Desa (PADes), dan Dana Desa (DD) [1]. Mekanisme multiyear (tiga tahun anggaran 2015–2017) memungkinkan pembangunan berkualitas tanpa memaksakan seluruh beban dalam satu APBDes. Swadaya dikumpulkan melalui iuran sukarela dari 72 RT yang mencerminkan tingkat partisipasi dan kepemilikan kolektif yang sangat tinggi.
Model keberlanjutan finansial bertumpu pada retribusi lapak pedagang sebagai sumber utama biaya pemeliharaan taman. Pedagang yang menempati lapak selebar 6 meter mengelilingi taman membayar retribusi harian atau bulanan yang dikelola pemerintah desa sebagai PADes. Potensi pendapatan tambahan berasal dari sewa panggung permanen untuk acara warga, retribusi pedagang keliling saat kegiatan besar, dan kontribusi sponsor untuk event budaya dan olahraga yang diselenggarakan di taman [1]. Model ini menjadikan Gelora Dewa aset yang berkontribusi positif terhadap keuangan desa — bukan beban pemeliharaan yang menguras APBDes.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat adalah model penggalangan swadaya yang terstruktur melalui 72 RT. Pendekatan ini tidak hanya berhasil menghimpun Rp400 juta — angka yang luar biasa untuk swadaya desa — tetapi juga menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang menjadi modal sosial terpenting untuk pemeliharaan taman jangka panjang [1]. Ketika warga merasa “taman ini milik kami karena kami ikut membiayainya,” mereka secara sukarela menjaga kebersihan dan keutuhan fasilitas tanpa harus dipaksa oleh peraturan. Pendekatan multiyear juga terbukti bijak karena memungkinkan penyesuaian anggaran ketika tantangan teknis (penimbunan tanah lebih besar dari estimasi) muncul di tengah proses pembangunan.
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa survey geoteknik dan hidrologi Lapangan Panggang seharusnya dilakukan lebih awal untuk memperkirakan volume penimbunan tanah secara akurat. Selisih antara estimasi dan kebutuhan aktual menyebabkan realokasi anggaran yang menunda beberapa komponen finishing [1]. Penyusunan masterplan taman yang lebih komprehensif — termasuk proyeksi jumlah lapak pedagang, kapasitas pengunjung, dan sistem pengelolaan sampah — juga sebaiknya melibatkan perencana kota atau arsitek lanskap agar desain taman lebih optimal dalam memaksimalkan setiap meter persegi ruang terbatas.
Saran praktis bagi desa lain yang ingin mereplikasi mencakup tiga hal. Pertama, mulailah dari sosialisasi yang intensif dan transparan — kunci keberhasilan penggalangan swadaya adalah kepercayaan warga terhadap pemimpin dan kejelasan manfaat yang akan mereka terima. Kedua, integrasikan fungsi ekonomi (lapak pedagang) sejak tahap desain, bukan ditambahkan kemudian, agar taman menjadi aset produktif yang membiayai pemeliharaannya sendiri. Ketiga, gunakan pendekatan multiyear jika anggaran satu tahun tidak mencukupi — lebih baik membangun bertahap dengan kualitas baik daripada memaksakan seluruh pembangunan dalam satu tahun dengan kualitas kompromi [6].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Taman Kota Gelora Dewa bertumpu pada tiga mekanisme. Pertama, retribusi pedagang dan pendapatan sewa fasilitas yang menutup biaya pemeliharaan rutin — perawatan taman hijau, kebersihan kolam ikan, fungsi air mancur, dan penerangan lampu hias [1]. Kedua, rasa kepemilikan kolektif warga yang terbentuk dari proses swadaya 72 RT — warga yang merasa memiliki taman akan menjaga dan merawatnya secara sukarela. Ketiga, keramaian alami yang dihasilkan oleh lokasi strategis di persimpangan empat jalur nasional — selama arus lalu lintas dan aktivitas kecamatan tetap tinggi, taman akan selalu memiliki pengunjung.
Strategi pengembangan jangka panjang mencakup penambahan fasilitas rekreasi (taman bermain anak yang lebih lengkap, area selfie spot), peningkatan kualitas lapak pedagang menjadi semi-permanen dengan desain yang seragam dan estetik, serta penjadwalan event budaya dan olahraga secara rutin untuk menjaga traffic pengunjung [6]. Potensi integrasi dengan destinasi wisata lain di Kecamatan Wangon — seperti Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak dan Batu Tumpang di Desa Banteran — dapat menjadikan Gelora Dewa sebagai hub wisata kecamatan yang memperkuat posisi Wangon sebagai tujuan kunjungan bagi wisatawan yang melintas di persimpangan empat jalur nasional [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Taman Kota Gelora Dewa membuktikan bahwa desa dapat membangun ruang publik berkualitas tinggi dengan model pendanaan partisipatif yang memadukan swadaya masyarakat, PADes, dan Dana Desa secara sinergis [1].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Taman dengan lintasan jogging, area olahraga, dan ruang hijau yang sejuk menyediakan fasilitas kebugaran gratis bagi seluruh warga Desa Wangon, mendorong gaya hidup aktif dan sehat yang sebelumnya terkendala ketiadaan sarana publik [1]. | Lintasan jogging tersedia gratis; area olahraga aktif digunakan warga; ruang hijau menurunkan suhu lingkungan di kawasan padat |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Lapak pedagang selebar 6 meter mengelilingi taman memberdayakan UMKM lokal untuk menjual produk unggulan desa, sementara keramaian pengunjung memicu pertumbuhan usaha kuliner dan jasa pendukung di sekitar kawasan [1]. | Lapak pedagang beroperasi mengelilingi taman; produk unggulan desa terpasarkan; pertumbuhan usaha kuliner dan jasa di sekitar taman; retribusi menjadi sumber PADes |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Transformasi lapangan gersang menjadi ruang terbuka hijau multifungsi meningkatkan kualitas lingkungan, menyediakan ruang publik inklusif, dan menjadikan Desa Wangon lebih layak huni dengan “alun-alun” yang setara standar perkotaan [4]. | RTH multifungsi tersedia dan dapat diakses seluruh warga; area bermain anak yang aman; kolam ikan dan air mancur meningkatkan estetika desa |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat | Model penggalangan swadaya transparan dari 72 RT dan mekanisme pembiayaan multiyear-multidonor membuktikan tata kelola desa yang partisipatif, akuntabel, dan mampu mengelola proyek bernilai Rp600 juta [1]. | Swadaya Rp400 juta dari 72 RT; transparansi penggunaan dana selama 3 tahun pembangunan; Musdes partisipatif; pelaporan berkala ke setiap RT |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi pendanaan multidonor antara swadaya masyarakat, PADes, dan Dana Desa APBN membuktikan kemitraan antara pemerintah desa dan warganya dalam membangun infrastruktur publik berkualitas tanpa bergantung pada satu sumber pendanaan [1]. | Pendanaan multidonor (swadaya + PADes + DD); kemitraan pemerintah desa–72 RT; peresmian dengan dukungan dalang kondang Ki Enthus Susmono |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Gelora Dewa sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa yang memiliki lahan terbuka tidak produktif dan berlokasi strategis di jalur keramaian. Prasyarat utama bukan anggaran besar (karena model swadaya membuktikan masyarakat bersedia berkontribusi jika visinya jelas), melainkan kepemimpinan desa yang mampu membangun kepercayaan dan memobilisasi partisipasi warga secara masif [1]. Estimasi biaya replikasi berkisar Rp400–800 juta tergantung skala dan fasilitas, dengan porsi swadaya yang potensial mencapai 50–70% jika sosialisasi dilakukan dengan baik.
Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Banyumas dapat mendorong pembangunan RTH multifungsi di desa-desa ibukota kecamatan (IKK) yang memiliki karakteristik serupa dengan Wangon — ramai tetapi tanpa ruang publik yang representatif. Integrasi antar-taman desa dengan jalur wisata kecamatan akan menciptakan klaster destinasi yang saling memperkuat [4]. Prinsip kunci yang harus dipertahankan dalam setiap replikasi adalah integrasi fungsi ekonomi (lapak pedagang) sejak desain awal — tanpa komponen ini, taman hanya menjadi beban pemeliharaan; dengan komponen ini, taman menjadi aset produktif yang membiayai dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
[1] VIVA, “Taman Kota Gelora Dewa, Desa Wangon Kembangkan Ruang Terbuka Hijau dan Rekreasi Murah,” viva.co.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://viva.co.id
[2] YouTube, “Wayang Kulit Ki Enthus Susmono — Lakon Sumantri Ngenger di Desa Wangon, 21 April 2018,” youtube.com. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=h7v83zQNSo4
[3] Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas, “Kabupaten Banyumas Dalam Angka 2024,” banyumaskab.bps.go.id. [Online]. Tersedia: https://banyumaskab.bps.go.id
[4] Wikipedia, “Wangon, Banyumas,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Wangon,_Banyumas
[5] Wikipedia, “Enthus Susmono,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Enthus_Susmono
[6] Kementerian Desa PDTT, “Panduan Pemanfaatan Dana Desa untuk Pembangunan Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau Desa,” kemendesa.go.id. [Online]. Tersedia: https://kemendesa.go.id