Ringkasan Inovasi

Desa Balida, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, menerapkan inovasi terpadu berbasis pelestarian budaya lokal dan pengembangan ekonomi kreatif melalui Pasar Budaya Racah Mampulang serta budidaya ikan dengan sistem bioflok [1] [2]. Di bawah inisiasi Kepala Desa (Pambakal) Sahridin yang menjabat sejak 2013, desa berpenduduk 941 jiwa ini bertransformasi dari desa terpinggirkan menjadi destinasi wisata budaya yang diakui di tingkat nasional [3]. Pasar Budaya Racah Mampulang memanfaatkan lahan persawahan seluas 1,5 hektare yang dilengkapi jembatan bambu sepanjang 350 meter, dengan keunikan sistem transaksi menggunakan koin bambu (racah) sebagai pengganti uang tunai [4]. Sementara itu, budidaya ikan patin dengan sistem bioflok yang dikembangkan melalui kemitraan dengan program CSR PT Adaro Indonesia dan BUMDes Usaha Mulia berhasil menghemat konsumsi pakan hingga 30 persen [5]. Dampak utama inovasi ini adalah terlibatnya sekitar 50 persen warga desa dalam ekosistem ekonomi kreatif, tumbuhnya puluhan UMKM lokal, serta diraihnya Juara 1 Bina Desa Award 2025 dan Top 10 Kalsel Innovation Award 2025 [6] [7].

Latar Belakang

Desa Balida terletak di Kecamatan Paringin yang sekaligus merupakan ibu kota Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 9 km² dengan jumlah penduduk 941 jiwa yang terdiri dari 468 laki-laki dan 473 perempuan, serta kepadatan penduduk hanya 102 jiwa per km² [8] [9]. Secara topografis, wilayah ini berada pada ketinggian 25–100 meter di atas permukaan laut dengan dominasi penggunaan lahan untuk perkebunan karet, persawahan, dan tegalan [9]. Kecamatan Paringin berbatasan dengan Kabupaten Tabalong di sebelah utara, Kecamatan Juai di timur, Kecamatan Paringin Selatan di selatan, dan Kecamatan Lampihong di barat. Desa ini telah memiliki sejumlah fasilitas dasar berupa Balai Rakyat yang berfungsi sebagai ruang pertemuan dan latihan kesenian, perpustakaan desa, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), serta sarana olahraga berupa lapangan voli dan bulu tangkis [5]. Masyarakat Desa Balida merupakan komunitas suku Banjar yang memiliki kekayaan tradisi budaya meliputi kesenian kuda gepang, wayang gung, mamanda, musik panting, madihin, tari baksa, wayang kulit, dan seni bela diri kuntau [1] [5].

Sebelum inovasi ini digagas, Desa Balida menghadapi sejumlah permasalahan mendasar yang saling berkaitan. Perekonomian masyarakat sangat bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan karet yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas, sementara lapangan kerja alternatif nyaris tidak tersedia di dalam desa [3]. Di sisi lain, warisan budaya tradisional Banjar yang dahulu hidup di tengah masyarakat perlahan kehilangan panggungnya — generasi muda lebih tertarik pada hiburan modern, dan para seniman tradisional kesulitan menemukan ruang untuk berkarya [1]. Tidak ada satu pun destinasi wisata yang mampu menarik pengunjung dari luar desa, dan potensi budidaya perikanan air tawar di wilayah yang kaya sumber daya air ini belum dikelola secara optimal. Kondisi ini menjadikan Desa Balida sebagai salah satu desa yang terpinggirkan dalam peta pembangunan di Kabupaten Balangan [6].

Momentum perubahan hadir dari dua arah yang saling menguatkan. Pertama, Sahridin yang menjabat sebagai Kepala Desa sejak 2013 mengunjungi sebuah pasar kuliner tradisional di daerah lain dan terinspirasi untuk mengadaptasi konsep tersebut dengan kearifan lokal Banjar [2]. Kunjungan tersebut menjadi trigger event yang mendorong Sahridin merumuskan visi “Maharagu Budaya, Mambangun Banua” — menjaga budaya sambil membangun desa. Kedua, perkenalan Sahridin dengan Hilmi Arifin, pemilik De Papuyu Farm yang sukses membudidayakan ikan papuyu dengan sistem bioflok, membuka cakrawala baru tentang potensi budidaya ikan air tawar yang lebih efisien dan hemat biaya [5]. Dua momentum ini mendorong lahirnya inovasi terpadu: Pasar Budaya Racah Mampulang sebagai wahana pelestarian budaya dan penggerak ekonomi kreatif, serta budidaya ikan bioflok sebagai sumber pendapatan produktif bagi desa.

 

Inovasi yang Diterapkan

Ide Pasar Budaya Racah Mampulang lahir dari observasi Sahridin terhadap keberhasilan pasar kuliner tradisional di daerah lain yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal [2]. Sahridin kemudian mengadaptasi konsep tersebut dengan memasukkan unsur pelestarian budaya Banjar sebagai diferensiator utama, sehingga pasar ini bukan sekadar tempat berdagang melainkan panggung rakyat yang menghidupkan tradisi. Nama “Racah Mampulang” berasal dari bahasa Banjar — racah berarti genangan air dan mampulang merujuk pada kawasan terbuka atau rawa — yang menggambarkan kondisi geografis asli lokasi tersebut sebelum dikembangkan [4]. Secara konseptual, destinasi wisata terpadu ini menempati lahan persawahan seluas 1,5 hektare dengan infrastruktur utama berupa jembatan bambu sepanjang 350 meter yang dibangun melingkar di atas area persawahan [4].

Elemen pembeda paling kuat dari pasar budaya ini adalah sistem transaksi yang menggunakan koin bambu (racah) — koin berbentuk kotak bernilai Rp1.000 dan koin berbentuk bulat bernilai Rp5.000 — yang harus ditukar di loket sebelum pengunjung berbelanja [4] [10]. Di sepanjang jembatan dan area pasar, terdapat stand-stand UMKM yang menjajakan kuliner khas Banjar dan kerajinan tangan lokal seperti anyaman purun, kerajinan bambu, dan olahan madu kelulut [11]. Dimensi budaya menjadi jantung dari setiap penyelenggaraan pasar, dengan pertunjukan kesenian tradisional dari Sanggar Seni Balida Satria dan enam sanggar seni lainnya yang meliputi kuda gepang, wayang gung, mamanda, tari baksa, musik panting, madihin, wayang kulit, serta seni bela diri kuntau [1] [5]. Pengunjung juga dapat menyaksikan dan ikut bermain permainan tradisional seperti balogo dan batungkau [4].

Inovasi kedua berupa budidaya ikan dengan sistem bioflok membawa pendekatan yang sama sekali berbeda dari budidaya ikan konvensional menggunakan tambak, empang, atau karamba [5]. Bioflok merupakan kumpulan berbagai mikroorganisme yang pertumbuhannya dipacu melalui pemberian probiotik dan pemasangan aerator dalam kolam. Sistem ini didukung perangkat elektrik yang mengatur gerakan atau aliran air kolam secara terus-menerus, dengan biaya listrik relatif kecil — hanya sekitar Rp 200.000 per bulan untuk 15 unit kolam [5]. Bila De Papuyu Farm milik Hilmi Arifin menggunakan sistem bioflok untuk budidaya ikan papuyu, Kelompok Pembudidaya Desa Balida memilih mengaplikasikan sistem ini untuk budidaya ikan patin yang permintaan pasarnya tinggi di wilayah Kalimantan Selatan [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan inovasi dimulai pada masa awal kepemimpinan Sahridin sejak 2013, ketika ia mulai mengidentifikasi dan memetakan potensi budaya desa yang selama ini terabaikan [2]. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali sanggar-sanggar seni yang sempat vakum dengan mengajak para seniman senior untuk kembali berlatih dan meregenerasi keahlian mereka kepada generasi muda. Sahridin mendirikan Sanggar Seni Balida Satria sebagai wadah utama pelestarian, yang kemudian berhasil menginspirasi tumbuhnya enam sanggar seni lainnya di desa [1]. Proses konsolidasi seniman ini memakan waktu beberapa tahun sebelum akhirnya ide Pasar Budaya Racah Mampulang mulai direalisasikan secara fisik. Sanggar Seni Balida Satria kerap diundang tampil dalam berbagai gelaran budaya, termasuk Aruh Pemuda Sanggam yang dilaksanakan pada akhir Oktober 2018, menampilkan mamanda, madihin, kuda gepang, wayang kulit, wayang gung, dan kuntau [5]. Balai Rakyat yang telah dibangun di depan lokasi kolam ikan berfungsi sebagai sarana latihan rutin para seniman [5].

Pembangunan fisik kawasan wisata tidak berjalan tanpa hambatan. Percobaan pertama membangun jembatan bambu di atas area persawahan menghadapi kendala teknis berupa fondasi yang tidak stabil karena kondisi tanah basah dan berlumpur [4]. Struktur bambu awal mudah rusak terkena air dan cuaca, sehingga harus direkonstruksi dengan teknik pengolahan bambu yang lebih tahan lama. Kegagalan ini menjadi pembelajaran berharga bahwa pembangunan di area lahan basah memerlukan perencanaan teknis yang matang. Dengan dukungan pelatihan pengolahan bambu dari Yayasan Bambu Indonesia yang difasilitasi melalui program CSR PT Adaro Indonesia, masyarakat berhasil membangun jembatan bambu 350 meter yang lebih kokoh dan tahan lama [3].

Proses pengembangan budidaya ikan bioflok juga melalui fase percobaan dan kegagalan. Menurut Sahridin, selain ikan patin, ikan lele, nila, dan gurame juga bisa dibudidayakan dengan sistem bioflok [5]. Namun, percobaan awal membudidayakan ikan lele mengalami kegagalan karena banyak ikan mati terserang penyakit. Kegagalan ini tidak mematahkan semangat — Desa Balida kembali mencoba dan beralih ke budidaya ikan patin yang terbukti lebih adaptif terhadap sistem bioflok di lingkungan setempat. Seribu ekor benih ikan patin yang dibeli seharga Rp 250.000 berhasil tumbuh mencapai ukuran sekitar setengah kilogram per ekor dalam waktu empat bulan, memenuhi dua kolam bantuan CSR PT Adaro [5]. Seiring pertumbuhan berat, ikan-ikan tersebut kemudian dipisah ke dalam dua kolam yang masing-masing memuat sekitar 500 ekor.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal yang dihadapi pada fase awal adalah resistensi sebagian warga yang meragukan kelayakan mengubah lahan persawahan menjadi kawasan wisata. Beberapa warga khawatir bahwa konversi fungsi lahan akan mengganggu produktivitas pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama [3]. Mitigasi dilakukan melalui pendekatan partisipatif — Sahridin meyakinkan warga bahwa kawasan wisata tidak menggantikan fungsi pertanian, melainkan memanfaatkan pematang sawah dan area tepian yang tidak produktif. Fakta bahwa petani pemilik lahan justru memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan wisata berhasil mengubah sikap skeptis menjadi dukungan aktif [6]. Pada aspek budidaya ikan, kegagalan awal dalam membudidayakan ikan lele yang mati terserang penyakit menjadi tantangan tersendiri, namun dimitigasi dengan beralih ke budidaya ikan patin yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan lokal [5].

Tantangan eksternal meliputi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola destinasi wisata secara profesional serta kebutuhan investasi infrastruktur yang tidak kecil [12]. Masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekebun karet tidak memiliki pengalaman dalam manajemen pariwisata, pemasaran digital, maupun pelayanan pengunjung. Mitigasi ditempuh melalui kemitraan strategis dengan PT Adaro Indonesia yang menyediakan dukungan CSR berupa pembangunan infrastruktur (pagar, saluran air, material batu untuk area pengunjung, fasilitas tenaga surya), pelatihan pengolahan bambu bekerja sama dengan Yayasan Bambu Indonesia, serta pendampingan pengelolaan BUMDes [3]. Tantangan konsistensi penyelenggaraan juga muncul — penelitian dari STIA Amuntai mencatat bahwa kedisiplinan operasional masih perlu ditingkatkan, termasuk stand UMKM yang kadang tutup saat pasar berlangsung dan perlunya pembinaan lebih intensif dari dinas terkait [12]. Pemerintah Desa merespons dengan menetapkan jadwal rutin penyelenggaraan pasar budaya satu bulan sekali serta membuat kesepakatan tertulis dengan para pedagang mengenai kewajiban kehadiran.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi terpadu di Desa Balida ditopang oleh sinergi multi-stakeholder yang saling melengkapi. Pemerintah Desa Balida di bawah kepemimpinan Sahridin berperan sebagai inisiator dan penggerak utama yang memiliki visi jangka panjang serta kemampuan memobilisasi partisipasi warga [2]. BUMDes Usaha Mulia menjalankan fungsi pengelolaan operasional dan unit usaha, sementara Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan kegiatan wisata di lapangan [3]. PT Adaro Indonesia sebagai mitra CSR menyediakan dukungan finansial dan teknis yang krusial, termasuk bantuan kolam bioflok dan pembangunan infrastruktur wisata [3] [5]. Kelompok Pembudidaya Ikan yang merupakan binaan program CSR PT Adaro mengelola operasional budidaya bioflok, sementara Sanggar Seni Balida Satria beserta enam sanggar seni lainnya menjadi pilar konten budaya yang menghidupkan setiap penyelenggaraan pasar [1]. Perkenalan dengan Hilmi Arifin dari De Papuyu Farm juga menjadi faktor kunci yang membuka pengetahuan masyarakat tentang teknologi bioflok [5].

Modal sosial berupa tradisi gotong royong dan semangat kolektif masyarakat Banjar menjadi pengikat partisipasi yang sangat kuat. Keputusan Sahridin untuk menjadikan pasar budaya sebagai panggung rakyat — bukan proyek eksklusif pemerintah desa — memastikan bahwa setiap warga merasa memiliki dan bertanggung jawab atas keberhasilan program. Keterlibatan sekitar 50 persen warga desa secara langsung dalam ekosistem pasar — sebagai pedagang, seniman, pengrajin, pembudidaya ikan, pengelola, maupun pekerja pendukung — menciptakan efek kepemilikan bersama (shared ownership) yang memperkuat keberlanjutan [6]. Kearifan lokal juga terlihat dalam pemanfaatan bambu sebagai material utama infrastruktur dan alat transaksi, yang tidak hanya murah dan mudah didapat tetapi juga memperkuat identitas budaya Banjar [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Transformasi Desa Balida dari desa yang terpinggirkan menjadi destinasi wisata budaya memberikan dampak yang melampaui ekspektasi awal. Dari sisi ekonomi, keterlibatan sekitar 50 persen warga desa dalam ekosistem pasar budaya — yang sebelumnya nyaris nol persen — menunjukkan perubahan struktural yang signifikan dalam pola mata pencaharian masyarakat [6]. Puluhan UMKM lokal tumbuh dan berkembang, menjajakan produk-produk unggulan seperti madu kelulut, kerajinan bambu, anyaman purun, keripik singkong, dan akar pinang [11]. Pendapatan Asli Desa (PADes) meningkat melalui kontribusi unit usaha BUMDes Usaha Mulia yang mengelola Pasar Budaya dan budidaya ikan bioflok [13]. Budidaya ikan patin bioflok membuktikan efisiensinya — dari 1.000 ekor benih seharga Rp 250.000, ikan tumbuh mencapai setengah kilogram per ekor dalam empat bulan dengan harga pasar Rp 15.000–20.000 per kilogram [5].

Dampak pelestarian budaya yang dihasilkan tidak kalah monumental. Kesenian tradisional Banjar yang nyaris punah kini kembali hidup dan memiliki panggung tetap untuk ditampilkan secara rutin [1]. Sanggar Seni Balida Satria berhasil menciptakan tarian garapan baru seperti Tari Bamandi-mandi dan Japin Lenggang Balida yang telah menjadi subjek penelitian seni di Universitas Lambung Mangkurat dan ditampilkan dalam berbagai gelar karya seni tingkat kabupaten [14]. Generasi muda yang awalnya tidak tertarik dengan kesenian tradisional kini aktif bergabung di tujuh sanggar seni yang beroperasi di desa, memastikan regenerasi pelaku budaya berjalan secara alami.

Dampak spillover yang melampaui perencanaan awal terlihat dari pengakuan dan penghargaan yang diraih di berbagai tingkatan. Sahridin dinobatkan sebagai Local Hero SDGs terbaik bidang pelestarian budaya lokal pada ajang International Sustainable Development Awards (ISDA) 2023 oleh Corporate Forum for CSR Development (CFCD) [2]. Desa Balida meraih Juara 1 Bina Desa Award Kabupaten Balangan 2025 dengan program “Merawat Budaya Membangun Desa” [6], serta masuk Top 10 Kalsel Innovation Award (KIA) 2025 kategori masyarakat [7]. Desa ini juga ditetapkan sebagai Desa Wisata dan Desa Budaya di tingkat provinsi, serta menjadi desa percontohan untuk ekosistem keuangan inklusif oleh OJK [3].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan pengembangan inovasi Desa Balida bersumber dari kombinasi Dana Desa, penyertaan modal desa untuk BUMDes Usaha Mulia, swadaya masyarakat, dan dukungan CSR PT Adaro Indonesia [3] [13]. Dana Desa digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar dan penyertaan modal BUMDes, sementara CSR PT Adaro Indonesia berkontribusi signifikan dalam pembangunan fasilitas pendukung seperti perbaikan jembatan, pembangunan pagar, pembuatan saluran air, penyediaan material batu, instalasi tenaga surya (solar cell), serta bantuan kolam bioflok untuk Kelompok Pembudidaya Ikan [3] [5]. PT Adaro juga memfasilitasi pelatihan pengolahan bambu bekerja sama dengan Yayasan Bambu Indonesia untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dan produk kerajinan warga.

Model bisnis dikelola melalui BUMDes Usaha Mulia yang menjalankan beberapa unit usaha terintegrasi. Pendapatan dari Pasar Budaya diperoleh melalui tiket masuk, penukaran koin bambu (racah), sewa stand bagi pedagang UMKM, serta jasa pengelolaan event budaya [13]. Untuk unit budidaya ikan, Pemerintah Desa Balida menyertakan modal sebesar Rp 50 juta kepada BUMDes yang digunakan untuk pengadaan tiga unit kolam ikan, bibit, penyediaan pakan, serta biaya operasional sehari-hari yang dikelola oleh dua orang pengelola [5]. Sistem bioflok bekerja dengan memasukkan campuran bakteri probiotik dan gula merah ke dalam air kolam sebagai media tumbuh mikroorganisme yang menguraikan sisa pakan dan feses ikan menjadi flok — gumpalan protein yang dapat dikonsumsi kembali oleh ikan, sehingga mengurangi konsumsi pakan hingga 30 persen [5]. Desa Balida juga sudah memiliki seperangkat alat pembuatan pakan mandiri — prosesnya melalui tiga tahapan: bahan baku (jagung, dedak padi, bungkil kedelai) dimasukkan ke mesin pencampur, kemudian dipress pada mesin cetakan pellet, lalu dikeringkan dengan oven atau dijemur secara alami [5]. Harga kolam bioflok berkisar Rp 3–5 juta tergantung diameter dan volume, sehingga replikasi oleh rumah tangga secara mandiri sangat terjangkau. BUMDes Usaha Mulia turut mengembangkan unit usaha hortikultura dan jasa Agen Bank Kalsel untuk memperkuat diversifikasi pendapatan [13].

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat dalam perjalanan inovasi ini adalah strategi memadukan dimensi ekonomi dan budaya dalam satu platform, bukan memisahkan keduanya sebagai program yang berdiri sendiri [2]. Dengan menjadikan kesenian tradisional sebagai daya tarik utama pasar — bukan sekadar pelengkap — Sahridin berhasil menciptakan proposisi nilai yang unik dan sulit ditiru. Keputusan menggunakan koin bambu sebagai alat transaksi juga terbukti brilian, karena menciptakan pengalaman yang memorable bagi pengunjung dan memperkuat narasi budaya yang diusung [4]. Pendekatan multi-stakeholder sejak awal — melibatkan BUMDes, Pokdarwis, Kelompok Pembudidaya, seniman, UMKM, dan mitra CSR — memastikan beban pengelolaan terdistribusi dan tidak terpusat pada satu pihak.

Jika memulai dari awal, aspek yang akan dilakukan berbeda adalah memperkuat infrastruktur digital dan pemasaran daring sejak fase awal pengembangan. Upaya digitalisasi UMKM, seperti pelatihan branding visual dan pembuatan akun marketplace, baru dilakukan belakangan melalui kerja sama dengan mahasiswa KKN [11]. Pada aspek budidaya ikan, kegagalan awal membudidayakan ikan lele yang mati terserang penyakit mengajarkan pentingnya riset kesesuaian jenis ikan dengan kondisi lingkungan lokal sebelum memulai produksi skala penuh [5]. Dokumentasi proses pembangunan yang lebih sistematis — termasuk pencatatan kegagalan teknis dan solusi yang ditemukan — akan menjadi aset berharga bagi desa-desa lain yang ingin mereplikasi model serupa.

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa: mulailah dari identifikasi potensi budaya dan kearifan lokal yang otentik, bukan mengimpor konsep dari luar yang tidak berakar di masyarakat. Libatkan seniman dan pelaku budaya lokal sebagai mitra utama, bukan sekadar pengisi acara, karena merekalah yang menjadi jiwa dari destinasi wisata budaya. Untuk budidaya bioflok, manfaatkan jaringan dengan praktisi yang sudah berhasil seperti De Papuyu Farm untuk memperoleh pendampingan teknis, dan siapkan mental untuk menghadapi kegagalan percobaan pertama sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bangun kemitraan dengan sektor swasta sejak awal untuk mengatasi keterbatasan modal infrastruktur, dan pastikan pengelolaan berada di bawah BUMDes agar manfaat ekonomi kembali kepada desa secara institusional.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi Desa Balida dirancang melalui pelembagaan pengelolaan di bawah BUMDes Usaha Mulia dan Pokdarwis, sehingga tidak bergantung pada satu individu maupun satu sumber pendanaan [13]. Struktur kelembagaan ini memastikan bahwa operasional pasar budaya dan budidaya ikan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan desa. Penjadwalan penyelenggaraan pasar secara rutin satu bulan sekali dan penetapan aturan operasional tertulis bagi pedagang dan pengelola menjadi mekanisme yang menjamin konsistensi kegiatan [12].

Mekanisme regenerasi kepemimpinan dan pelaku budaya dijamin melalui keberadaan tujuh sanggar seni aktif yang secara rutin merekrut dan melatih generasi muda [1]. Sanggar Seni Balida Satria tidak hanya mementaskan kesenian yang sudah ada, tetapi juga menciptakan karya-karya baru yang relevan dengan selera kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi [14]. Pelibatan mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi dalam program digitalisasi UMKM dan pengembangan konten wisata turut memperkuat kapasitas masyarakat dalam aspek-aspek yang selama ini menjadi kelemahan, seperti pemasaran digital dan branding [11].

Rencana pendapatan mandiri terus diperkuat melalui diversifikasi unit usaha BUMDes Usaha Mulia yang tidak hanya mengandalkan Pasar Budaya, tetapi juga mengembangkan budidaya ikan bioflok dengan tiga kolam aktif, fasilitas pembuatan pakan mandiri, unit hortikultura, serta jasa keuangan melalui Agen Bank Kalsel [5] [13]. Pengembangan Ekoriparian Nungkaran — sebuah kawasan wisata edukatif baru yang mengubah lahan terbengkalai di sepanjang aliran sungai menjadi area ekowisata dengan penanaman ribuan pohon — menjadi langkah strategis untuk memperluas portofolio wisata desa dan mengurangi ketergantungan pada satu destinasi tunggal [6]. Desa Balida juga telah ditetapkan sebagai desa akselerasi ekosistem keuangan inklusif oleh OJK, yang melibatkan Bank Kalsel dan PT Adaro untuk meningkatkan literasi dan akses keuangan masyarakat [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi terpadu Pasar Budaya Racah Mampulang dan budidaya ikan bioflok di Desa Balida memberikan kontribusi langsung dan tidak langsung terhadap beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kontribusi utama terlihat pada pelestarian budaya lokal, pertumbuhan ekonomi kreatif desa, dan ketahanan pangan melalui budidaya ikan yang efisien. Integrasi antara wisata, budaya, UMKM, perikanan, dan pengelolaan lingkungan menciptakan dampak multiplier yang menyentuh beberapa dimensi pembangunan berkelanjutan secara simultan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pasar Budaya Racah Mampulang dan budidaya ikan bioflok membuka lapangan kerja dan peluang usaha baru bagi warga desa yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian dan perkebunan karet. Sekitar 50 persen warga desa terlibat langsung dalam ekosistem ekonomi kreatif [6]. Partisipasi warga dalam ekonomi kreatif meningkat dari 0% menjadi sekitar 50%; puluhan UMKM baru tumbuh di desa
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Budidaya ikan patin dengan sistem bioflok berkontribusi terhadap ketahanan pangan lokal. Dari 1.000 ekor benih seharga Rp 250.000, ikan tumbuh hingga 0,5 kg per ekor dalam 4 bulan, menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat desa [5]. Produksi ikan patin dari 3 kolam BUMDes dan kolam CSR PT Adaro; efisiensi pakan 30% melalui sistem bioflok; pembuatan pakan mandiri dari bahan lokal
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Usaha Mulia mengelola beberapa unit usaha yang menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADes). Diversifikasi mata pencaharian dari pertanian ke ekonomi kreatif dan perikanan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga [13]. BUMDes mengelola minimal 4 unit usaha aktif; penyertaan modal Rp 50 juta untuk budidaya ikan; PADes meningkat dari kontribusi unit usaha
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pelestarian warisan budaya tak benda melalui penyelenggaraan rutin pertunjukan kesenian tradisional Banjar (kuda gepang, wayang gung, mamanda, madihin, musik panting, tari baksa, wayang kulit, kuntau) yang sebelumnya nyaris punah [1] [5]. 7 sanggar seni aktif beroperasi di desa; pertunjukan budaya rutin setiap bulan; 2 tarian baru diciptakan dan diteliti secara akademis
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Pemanfaatan bambu lokal sebagai material utama infrastruktur dan alat transaksi mendukung prinsip penggunaan sumber daya terbarukan. Sistem bioflok mendaur ulang limbah pakan menjadi flok yang dikonsumsi kembali oleh ikan, meminimalkan limbah budidaya [4] [5]. Jembatan bambu 350 meter dari material lokal; konsumsi pakan ikan berkurang 30% melalui daur ulang bioflok; pembuatan pakan dari bahan lokal
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi multi-stakeholder antara Pemerintah Desa, BUMDes, Pokdarwis, Kelompok Pembudidaya, PT Adaro Indonesia (CSR), Yayasan Bambu Indonesia, De Papuyu Farm, OJK, Bank Kalsel, dan perguruan tinggi menunjukkan model kemitraan yang efektif [3] [5]. Minimal 7 pemangku kepentingan terlibat aktif; program CSR dan keuangan inklusif terintegrasikan; transfer teknologi dari De Papuyu Farm

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum untuk mereplikasi model inovasi terpadu Desa Balida mencakup beberapa elemen fundamental. Untuk pasar budaya, dibutuhkan potensi budaya atau kearifan lokal yang otentik, kepemimpinan desa yang visioner, serta ketersediaan lahan (minimal 0,5–1 hektare) tanpa mengganggu fungsi produktif utama [2]. Untuk budidaya bioflok, prasyarat minimumnya adalah ketersediaan sumber air bersih yang memadai, akses listrik untuk aerator, serta modal awal untuk pengadaan kolam (Rp 3–5 juta per unit), benih ikan, dan pakan [5]. Keberadaan BUMDes sebagai badan pengelola dan mitra CSR atau sumber pendanaan eksternal akan mempercepat proses pengembangan.

Estimasi biaya replikasi sangat bergantung pada skala dan konteks lokal. Untuk komponen budidaya ikan bioflok, modal awal Rp 50 juta sudah mencakup pengadaan tiga unit kolam, bibit, pakan, dan operasional sebagaimana yang diterapkan di Desa Balida [5]. Untuk pasar budaya sederhana dengan jembatan bambu sepanjang 100 meter, 10–15 stand UMKM, dan satu panggung pertunjukan, diperkirakan membutuhkan investasi Rp 50–150 juta. Durasi pembangunan fisik membutuhkan 3–6 bulan, sementara proses konsolidasi komunitas seniman dan pelaku UMKM idealnya dimulai 6–12 bulan sebelum pembukaan pasar.

Model adaptasi inovasi ini sangat fleksibel. Konten budaya dapat disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah, sementara elemen koin bambu bisa diganti dengan material lokal lain yang relevan secara kultural. Untuk budidaya bioflok, jenis ikan dapat diadaptasi sesuai preferensi pasar lokal — Desa Balida sendiri telah membuktikan bahwa ikan patin lebih sesuai untuk lingkungan setempat dibandingkan ikan lele [5]. Untuk scale up di tingkat kabupaten atau provinsi, pemerintah daerah dapat menjadikan Desa Balida sebagai model percontohan dalam program pengembangan desa wisata budaya dan perikanan rakyat, dengan menyediakan pendampingan teknis dan fasilitasi akses pendanaan bagi desa-desa yang memenuhi prasyarat replikasi [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Kabupaten Balangan, “Desa Balida: Merawat Budaya Membangun Desa melalui Pasar Budaya Racah Mampulang,” balangankab.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://balangankab.go.id

 

[2] ANTARA News, “Sahridin, Kepala Desa Balida yang Mengubah Desa Terpinggirkan Menjadi Destinasi Wisata Budaya,” antaranews.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://antaranews.com

 

[3] Tribun News, “Kolaborasi PT Adaro Indonesia dan Desa Balida dalam Pengembangan Pasar Budaya Racah Mampulang,” tribunnews.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://tribunnews.com

 

[4] Wikipedia, “Pasar Budaya Racah Mampulang,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_Budaya_Racah_Mampulang

 

[5] Perkumpulan Gedhe Nusantara, “Dokumentasi Inovasi Desa Balida: Teknologi Bioflok dan Pelestarian Seni Budaya Banjar,” Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, 2019. [Online]. Tersedia: https://gedhe.or.id

 

[6] Desa Merdeka, “Desa Balida Bukan Lagi yang Terpinggirkan, Kini Jadi Juara 1 Bina Desa Award 2025,” desamerdeka.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://desamerdeka.id

 

[7] Info Publik, “Pasar Budaya Racah Mampulang Masuk Top 10 Kalsel Innovation Award 2025,” infopublik.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id

 

[8] Wikipedia, “Balida, Paringin, Balangan,” id.wikipedia.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Balida,_Paringin,_Balangan

 

[9] Badan Pusat Statistik Kabupaten Balangan, “Kecamatan Paringin Dalam Angka 2023,” balangankab.bps.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://balangankab.bps.go.id

 

[10] Jawa Pos, “Sahridin, Local Hero SDGs dari Desa Balida yang Melestarikan Budaya Banjar,” jawapos.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://jawapos.com

 

[11] Kompasiana, “Pemberdayaan UMKM Desa Balida Melalui Digitalisasi dan Branding Visual,” kompasiana.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://kompasiana.com

 

[12] STIA Amuntai, “Strategi Pengelolaan Pasar Budaya Racah Mampulang Desa Balida Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan,” stiaamuntai.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://stiaamuntai.ac.id

 

[13] ANTARA News, “BUMDes Usaha Mulia Desa Balida Diusulkan Ikuti Penilaian BUMDes Tingkat Provinsi,” antaranews.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://antaranews.com

 

[14] Universitas Lambung Mangkurat, “Tari Bamandi-mandi dan Japin Lenggang Balida: Garapan Sanggar Seni Balida Satria,” ulm.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://ulm.ac.id

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pasar Budaya Racah Mampulang dan Pengembangan Sistem Bioflok dalam Budidaya Ikan
Alamat
Desa Balida, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan 71662

Inovator
Sahridin (Pambakal/Kepala Desa Balida sejak 2013), Pemerintah Desa Balida, BUMDes Usaha Mulia, Kelompok Pembudidaya Ikan, Pokdarwis Desa Balida, Sanggar Seni Balida Satria
Kontak
Sahridin (Pambakal/Kepala Desa Balida): +62 823 5804 0477
Lokasi