Ringkasan Inovasi

Desa Birayang Surapati, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, merancang program Pelatihan Perbengkelan untuk mendukung pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG) di kalangan warga, khususnya generasi muda. Program ini digagas Pemerintah Desa Birayang Surapati sejak 2018, menyusul rangkaian pelatihan menjahit yang lebih dulu dilaksanakan, dan terinspirasi dari prestasi dua warga desa, Ahyadi dan Syafriansyah, yang berulang kali menjuarai Lomba Teknologi Tepat Guna tingkat Kabupaten Hulu Sungai Tengah [1]. Ahyadi tercatat telah menciptakan sekitar 70 rancang bangun alat TTG secara otodidak, sementara Syafriansyah meraih juara pertama Lomba TTG 2018 dengan kendaraan mini elektrik untuk mengangkut hasil bumi. Permasalahan utama yang hendak dijawab program ini adalah minimnya wadah formal yang menggabungkan keterampilan teknis merancang alat dengan pemahaman dasar kelayakan usaha, sebagaimana terlihat dari kegagalan salah satu inovasi Syafriansyah diikutsertakan ke tingkat provinsi akibat terlanjur dijual. Pelatihan Perbengkelan diharapkan menumbuhkan motivasi anak muda berinovasi di bidang sains dan teknologi secara lebih terarah dan berkelanjutan.

 

Latar Belakang

Desa Birayang Surapati merupakan bagian dari Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Desa ini terbentuk dari penggabungan beberapa kampung kecil yang sebelumnya memiliki pambakal atau kepala desa sendiri, yaitu Birayang Tugu, Birayang Damanhuri, dan Birayang Surapati [1], [2]. Suasana perdesaan yang penuh vegetasi masih tampak di sejumlah lokasi, namun sebagian wilayah lain sudah ramai dan padat penduduk, bahkan kemacetan lalu lintas kerap terjadi di jalan depan Pasar Birayang.

Sebagai desa hasil penggabungan, Birayang Surapati masih menghadapi persoalan integrasi sosial antarwarga eks-kampung yang belum sepenuhnya tuntas, tecermin dari organisasi Karang Taruna desa yang masih terpecah menjadi dua kelompok terpisah [1]. Di sisi lain, potensi kreativitas warga dalam merancang alat dan mesin tepat guna sesungguhnya cukup besar, dibuktikan oleh capaian dua warga desa yang rutin menjuarai Lomba TTG tingkat kabupaten. Namun potensi ini belum diimbangi pemahaman dasar kelayakan usaha, sehingga salah satu inovasi yang sudah menang di tingkat kabupaten justru gagal diikutsertakan ke tingkat provinsi karena terlanjur dijual oleh penciptanya.

Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyelenggarakan Lomba Teknologi Tepat Guna secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari lomba pemberdayaan masyarakat desa, tradisi yang masih berlanjut hingga tahun-tahun terakhir ini [3]. Pada 2018, dua warga Birayang Surapati, Syafriansyah dan Ahyadi, kembali tampil dengan hasil rekayasa masing-masing [1]. Momentum prestasi berulang inilah yang mendorong Pemerintah Desa Birayang Surapati menangkap peluang untuk melembagakan potensi individual tersebut menjadi program pelatihan yang lebih sistematis dan terbuka bagi generasi muda desa secara luas, setelah sebelumnya desa juga menyelenggarakan pelatihan menjahit bagi warga.

 

Inovasi yang Diterapkan

Pelatihan Perbengkelan adalah program pelatihan keterampilan yang dirancang Pemerintah Desa Birayang Surapati untuk mendukung pengembangan Teknologi Tepat Guna di kalangan warga, terutama generasi muda, sejalan dengan arah kebijakan nasional pengembangan TTG di tingkat desa [4]. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa prestasi individual seperti yang diraih Ahyadi dan Syafriansyah perlu ditransformasikan menjadi kapasitas kolektif desa, alih-alih bergantung pada bakat perorangan yang sifatnya otodidak dan tidak terstruktur [1].

Materi pelatihan mencakup pengenalan peluang usaha, perencanaan dan analisis kelayakan, promosi usaha bengkel, alur kerja dan tata letak bengkel, manajemen peralatan, perlengkapan, dan suku cadang, hingga teknis perbengkelan itu sendiri. Yang membedakan pendekatan ini dari sekadar pelatihan keterampilan teknis konvensional adalah penggabungan materi kewirausahaan dengan keterampilan teknis merancang dan memperbaiki alat, sebuah kombinasi yang secara langsung menjawab kelemahan yang pernah dialami salah satu inovator desa ketika inovasinya gagal lolos ke tingkat provinsi karena pertimbangan bisnis yang keliru [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses menuju Pelatihan Perbengkelan dimulai dari pengamatan Pemerintah Desa terhadap rekam jejak dua warganya di ajang Lomba TTG Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ahyadi tercatat telah menciptakan sekitar 70 rancang bangun alat tepat guna secara otodidak, di antaranya alat tugal sederhana, alat perontok padi mini yang sekaligus menghasilkan beras, kotak multifungsi, alat pembuatan garam dari air asin, serta lampu hemat energi yang dipasang di masjid kampungnya [1]. Ia mengasah kemampuannya dengan banyak membaca kisah tokoh penemu seperti Einstein, Thomas Alva Edison, dan Galileo Galilei, tanpa pernah mengikuti pendidikan atau pelatihan teknis formal.

Pembelajaran penting datang dari pengalaman Syafriansyah, peserta lain yang pada tahun sebelum 2018 menampilkan alat pembuatan tusuk sate dan tusuk gigi hasil rekayasanya sendiri. Alat yang menurut informasi dibuat dengan biaya sekitar Rp1,5 juta itu kemudian ia jual seharga Rp3,5 juta, sehingga gagal diikutsertakan dalam Lomba TTG tingkat provinsi karena tidak lagi berada di tangan penciptanya [1]. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bahwa keterampilan teknis semata tidak cukup — pemahaman dasar kelayakan usaha dan pengelolaan aset inovasi turut menentukan apakah sebuah temuan bisa terus dikembangkan. Pada Lomba TTG 2018, setiap peserta bahkan diwajibkan menandatangani fakta integritas untuk tidak menjual, memindahtangankan, atau membongkar alat pemenang selama minimal satu tahun sejak dinyatakan menang, aturan baru yang tampak selaras dengan pengalaman Syafriansyah sebelumnya.

Berbekal pembelajaran ini, setelah menyelenggarakan pelatihan menjahit, Pemerintah Desa Birayang Surapati merancang Pelatihan Perbengkelan yang secara sengaja memasukkan materi perencanaan dan analisis kelayakan usaha berdampingan dengan materi teknis, agar peserta tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dialami Syafriansyah.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah belum tuntasnya integrasi sosial antarwarga eks-kampung yang membentuk Desa Birayang Surapati, tecermin dari organisasi Karang Taruna yang masih terpecah menjadi dua kelompok terpisah. Kondisi ini berpotensi menghambat partisipasi merata warga muda dari seluruh eks-kampung dalam program pelatihan. Pemerintah Desa berupaya memitigasinya dengan terus mendorong penyatuan organisasi Karang Taruna, agar pelatihan perbengkelan dapat menjadi salah satu ruang pemersatu generasi muda lintas eks-kampung [1].

Tantangan lain adalah kesenjangan antara keterampilan teknis otodidak yang sudah dimiliki sebagian warga seperti Ahyadi, dengan pemahaman dasar ekonomi, kelayakan usaha, dan manajemen aset yang sering diabaikan, sebagaimana ditunjukkan kasus Syafriansyah. Pemerintah Desa memitigasi kesenjangan ini dengan merancang kurikulum pelatihan yang secara eksplisit memadukan materi bisnis dan teknis dalam satu program, bukan memisahkannya sebagai dua pelatihan yang berdiri sendiri.

Tantangan eksternal berupa keterbatasan sarana rujukan pembelajaran juga menjadi perhatian, mengingat peserta pelatihan memerlukan pengalaman langsung dari bengkel atau produsen kendaraan dan suku cadang yang sudah lebih berkembang. Rencana mengajak peserta melakukan studi banding dan magang ke bengkel-bengkel di daerah lain menjadi strategi mengatasi keterbatasan ini, melengkapi pembelajaran di dalam desa dengan paparan langsung terhadap praktik industri yang lebih matang.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah keberadaan modal sosial berupa individu kreatif seperti Ahyadi dan Syafriansyah yang telah lebih dahulu membuktikan diri di ajang Lomba TTG kabupaten. Rekam jejak nyata ini memberi bukti konkret bagi Pemerintah Desa bahwa investasi pada pelatihan keterampilan teknis warga memiliki dasar keberhasilan yang sudah teruji, bukan sekadar proyeksi tanpa preseden [1].

Faktor kedua adalah dukungan Pemerintah Desa di bawah Kepala Desa Ahmadiansyah yang secara aktif merancang kelanjutan program pelatihan keterampilan warga, dari pelatihan menjahit hingga pelatihan perbengkelan. Kesinambungan kebijakan ini menunjukkan komitmen desa membangun kapasitas warga secara bertahap dan terencana, sejalan dengan semangat Permendes PDTT Nomor 23 Tahun 2017 yang mendorong pengembangan TTG berbasis pemberdayaan masyarakat desa [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum program pelatihan perbengkelan dirancang, kapasitas inovasi TTG di Desa Birayang Surapati sepenuhnya bertumpu pada inisiatif otodidak individu seperti Ahyadi dan Syafriansyah, tanpa wadah pembinaan formal dari desa. Rencana Pelatihan Perbengkelan diharapkan mengubah pola ini menjadi pembinaan kolektif yang menjangkau lebih banyak anak muda desa, sehingga potensi inovasi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada segelintir warga berbakat [1].

Dampak yang diharapkan dari program ini adalah tumbuhnya motivasi anak-anak dan generasi muda Birayang Surapati untuk berinovasi di bidang sains dan teknologi, khususnya pengembangan Teknologi Tepat Guna, dengan bekal pemahaman kelayakan usaha yang tidak dimiliki generasi inovator sebelumnya. Desa juga berharap peserta pelatihan mampu menghasilkan temuan alat dan mesin yang lebih efisien secara teknis, ekonomi, dan sosial, bukan sekadar mahir memperbaiki mesin yang sudah ada.

Dampak spillover yang berpotensi muncul adalah penguatan kohesi sosial desa, mengingat pelatihan perbengkelan dirancang terbuka bagi warga dari seluruh eks-kampung yang membentuk Birayang Surapati. Jika berjalan sesuai rencana, program ini berpotensi menjadi ruang pertemuan generasi muda lintas eks-kampung yang selama ini masih terpisah dalam organisasi Karang Taruna, sekaligus melahirkan dokumentasi rancang bangun yang lebih rapi melalui aplikasi desain digital dibanding sketsa kertas yang selama ini digunakan Ahyadi.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Program Pelatihan Perbengkelan dikelola langsung oleh Pemerintah Desa Birayang Surapati sebagai kelanjutan dari rangkaian pelatihan keterampilan warga yang sebelumnya mencakup pelatihan menjahit, mengindikasikan pembiayaan bersumber dari anggaran desa yang dialokasikan untuk pengembangan kapasitas warga [1]. Program ini tidak dirancang sebagai unit usaha yang menghasilkan pendapatan langsung bagi desa, melainkan sebagai investasi kapasitas sumber daya manusia yang hasilnya diharapkan bermanfaat secara ekonomi bagi peserta secara individual, melalui usaha perbengkelan atau produksi alat TTG yang mereka kembangkan sendiri setelah pelatihan.

Potensi keberlanjutan pembiayaan jangka panjang dapat bersumber dari kemitraan dengan bengkel atau produsen kendaraan dan suku cadang di daerah lain melalui program studi banding dan magang, yang membuka peluang dukungan sumber daya dari mitra eksternal di luar anggaran desa semata.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Birayang Surapati menunjukkan bahwa keputusan desa mengamati dan belajar dari rekam jejak warga sebelum merancang program pelatihan merupakan langkah yang tepat, karena program yang lahir memiliki dasar kebutuhan nyata alih-alih sekadar mengikuti tren pelatihan dari luar. Kegagalan Syafriansyah mengikutsertakan inovasinya ke tingkat provinsi akibat menjualnya terlalu dini menjadi pelajaran paling berharga yang secara langsung membentuk desain kurikulum pelatihan perbengkelan desa.

Jika memulai dari awal, dokumentasi rancang bangun karya-karya Ahyadi idealnya sudah disusun secara digital sejak lama, mengingat sebagian alat yang pernah ia ciptakan kemungkinan sudah rusak atau tidak ada lagi, sehingga pengetahuan teknis yang terkandung di dalamnya berisiko hilang. Pelatihan penggunaan aplikasi desain 3D bagi peserta ke depan diharapkan mencegah hilangnya pengetahuan serupa di generasi berikutnya.

Bagi desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktis terpenting adalah mengidentifikasi lebih dulu individu kreatif yang sudah ada di desa sebagai modal sosial awal, memadukan pelatihan teknis dengan literasi kewirausahaan sejak tahap perancangan kurikulum, dan mempertimbangkan aturan main yang jelas seperti fakta integritas untuk melindungi hasil inovasi dari keputusan bisnis yang tergesa-gesa.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program direncanakan melalui kelanjutan studi banding dan magang peserta pelatihan ke bengkel-bengkel atau produsen kendaraan dan suku cadang yang sudah berkembang di daerah lain, agar keterampilan yang diperoleh terus mengikuti perkembangan teknologi terkini di luar desa [1]. Pemberian materi konsep dasar ekonomi, fisika, dan elektronik turut direncanakan agar peserta bekerja lebih efisien dan tidak sekadar mengandalkan coba-coba seperti generasi inovator sebelumnya.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan program ini bertumpu pada pelembagaan pelatihan sebagai bagian dari program rutin Pemerintah Desa, mengikuti pola yang sudah dimulai lewat pelatihan menjahit sebelum pelatihan perbengkelan, sehingga keberlanjutannya tidak bergantung pada satu Kepala Desa tertentu maupun pada figur individu seperti Ahyadi dan Syafriansyah semata.

Rencana pendapatan mandiri bagi peserta pelatihan diarahkan melalui usaha bengkel atau produksi alat TTG yang mereka kembangkan sendiri setelah pelatihan, dengan bekal analisis kelayakan usaha yang sudah diajarkan sejak awal program. Dokumentasi rancang bangun berbasis aplikasi desain digital juga membuka peluang temuan alat dapat diproduksi ulang atau dikembangkan lebih lanjut oleh generasi berikutnya, bahkan ketika alat fisik aslinya sudah tidak ada.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pelatihan Perbengkelan Desa Birayang Surapati berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Pelatihan Perbengkelan memberikan pendidikan vokasi nonformal bagi generasi muda desa, memadukan keterampilan teknis dan literasi kewirausahaan yang sebelumnya tidak tersedia secara formal. Jumlah peserta pelatihan perbengkelan dari generasi muda desa
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Materi kewirausahaan dan kelayakan usaha bengkel membuka peluang peserta merintis usaha perbengkelan atau produksi alat TTG mandiri setelah pelatihan. Jumlah peserta yang merintis usaha bengkel atau produksi TTG pascapelatihan
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Program ini mendorong lahirnya inovasi Teknologi Tepat Guna baru di tingkat desa, melanjutkan tradisi rancang bangun alat oleh warga seperti Ahyadi dan Syafriansyah. Jumlah rancang bangun TTG baru yang dihasilkan peserta pascapelatihan
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh Pelatihan yang terbuka bagi warga dari seluruh eks-kampung berpotensi menjadi ruang pemersatu, mendukung penyatuan organisasi Karang Taruna yang masih terpecah dua. Status penyatuan organisasi Karang Taruna lintas eks-kampung
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Rencana studi banding dan magang ke bengkel atau produsen suku cadang di daerah lain membangun kemitraan yang memperluas akses peserta pada praktik industri yang lebih matang. Jumlah mitra bengkel/produsen yang menerima peserta magang

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pelatihan Perbengkelan berbasis identifikasi inovator lokal ini relevan direplikasi oleh desa-desa lain di Kecamatan Batang Alai Selatan maupun Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang turut mengirimkan peserta ke Lomba TTG kabupaten setiap tahun. Prasyarat minimum bagi desa yang ingin mereplikasi meliputi keberadaan warga dengan minat atau rekam jejak di bidang rekayasa teknis, kesediaan Pemerintah Desa mengalokasikan anggaran pelatihan, serta akses ke mitra bengkel atau produsen suku cadang untuk kebutuhan magang dan studi banding [1].

Estimasi biaya replikasi dapat mengacu pada rentang biaya pembuatan alat TTG sederhana yang pernah dilakukan warga Birayang Surapati sendiri, seperti alat pembuatan tusuk sate dan tusuk gigi seharga sekitar Rp1,5 juta, hingga kendaraan mini elektrik seharga sekitar Rp3,5 juta, sebagai patokan kasar kebutuhan modal peralatan pelatihan tingkat desa. Kabupaten Hulu Sungai Tengah dapat memperluas manfaat model ini dengan menjadikan Lomba TTG tahunan sebagai ajang sekaligus rekrutmen bagi program pelatihan perbengkelan serupa di desa-desa lain, sehingga setiap talenta yang muncul dari kompetisi langsung memiliki jalur pembinaan lanjutan di tingkat desa masing-masing [5].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa Tertinggal, “Pelatihan Perbengkelan Dukung Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Desa Birayang Surapati,” idt.web.id, 2018. [Online]. Tersedia: https://idt.web.id

[2] Kontributor Wikipedia, “Birayang Surapati, Batang Alai Selatan, Hulu Sungai Tengah,” id.wikipedia.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Birayang_Surapati,_Batang_Alai_Selatan,_Hulu_Sungai_Tengah

[3] Barito Raya Post, “Pemkab HST Luncurkan Aplikasi Lemang dan Dua Inovasi Layanan Kependudukan,” baritorayapost.com, Agu. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.baritorayapost.com/eksekutif/pemkab-hst-luncurkan-aplikasi-lemang-dan-dua-inovasi-layanan-kependudukan/08/2026/

[4] Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 23 Tahun 2017 tentang Pengembangan dan Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Desa, Kementerian Desa PDTT, 2017.

[5] Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Rilis Kemendes PDTT: Teknologi Tepat Guna, Wujudkan Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat Desa,” setneg.go.id. [Online]. Tersedia: https://setneg.go.id/baca/index/rilis_kemendes_pdtt_teknologi_tepat_guna_wujudkan_kemandirian_dan_kesejahteraan_masyarakat_desa

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pelatihan Perbengkelan dalam Mendukung Pengembangan Teknologi Tepat Guna
Alamat
Desa Birayang Surapati, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator
Pemerintah Desa Birayang Surapati, terinspirasi dari inovator lokal Ahyadi dan Syafriansyah
Kontak
Ahmadiansyah (Kepala Desa), 0823-5157-7207
Lokasi