Ringkasan Inovasi

Desa Telaga Mas, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, menciptakan alat dan mesin mekanis untuk menyiangi sisik ikan sebagai tahap awal produksi ikan asin. Inovasi ini digagas dan dikelola Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang dengan dukungan Pemerintah Desa Telaga Mas yang dipimpin Kepala Desa Haji Yani [1]. Sebelum inovasi ini hadir, penyiangan sisik ikan sepenuhnya dilakukan manual, membutuhkan waktu sekitar seperempat jam hanya untuk satu ekor ikan besar — waktu yang sangat tidak efisien ketika produsen harus mengolah sisik ikan hingga satu ton dalam sekali produksi. Mesin berbahan drum plastik, pipa berputar, dan motor penggerak ini mampu melepaskan sisik dari puluhan kilogram ikan hanya dalam sekitar setengah jam. Dampaknya, produksi ikan asin khas rawa Danau Panggang — terutama dari ikan sepat dan gabus — kini mampu memenuhi permintaan pasar hingga puluhan ton per bulan, menjangkau berbagai kota di Pulau Jawa, sekaligus membuka lapangan kerja padat karya bagi banyak perempuan desa dalam rangkaian proses produksinya.

 

Latar Belakang

Desa Telaga Mas berada di Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 182 kilometer dari ibu kota provinsi dan sekitar 7 kilometer dari kantor kecamatan [2]. Desa yang dahulu bernama Manarap Telaga Mas ini berdiri sejak 1973 di kawasan rawa yang luas, dengan rumah-rumah warga yang sebagian besar dikelilingi air, di atas lahan seluas sekitar 16 kilometer persegi yang terbagi dalam 6 RT dan 3 RW [2].

Kawasan rawa Danau Panggang merupakan salah satu perairan rawa potensial penghasil ikan di Kalimantan Selatan, dengan dataran banjir yang menjadi sumber daya utama penopang ekonomi warga melalui hasil tangkapan ikan [3]. Ikan sepat dan ikan gabus menjadi dua komoditas utama yang kemudian diolah menjadi ikan asin, bahan pangan awetan yang tahan berbulan-bulan di suhu kamar dan digemari sebagai lauk oleh masyarakat luas. Namun proses penyiangan sisik ikan secara manual sebelum pengasinan membutuhkan waktu sekitar seperempat jam untuk satu ekor ikan besar saja, sehingga menjadi hambatan produktivitas nyata ketika produsen harus mengolah sisik ikan hingga mencapai satu ton dalam satu kali produksi.

Kondisi inilah yang mendorong Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang, termasuk produsen di Desa Telaga Mas, mencari cara mempercepat proses penyiangan sisik ikan yang selama ini menjadi tahap paling memakan waktu dalam rangkaian produksi ikan asin. Kebutuhan mempercepat proses produksi menjadi semakin mendesak seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap ikan asin khas Danau Panggang, yang jangkauan pemasarannya sudah menembus berbagai kota di Pulau Jawa dengan volume pengiriman mencapai puluhan ton per bulan [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah alat dan mesin mekanis untuk menyiangi sisik ikan, dibuat dari tangki air atau drum plastik dengan tinggi dan diameter sekitar 50 sentimeter. Bagian samping drum dilubangi untuk memasukkan pipa berukuran 70 sentimeter secara presisi, sehingga drum tetap kedap air namun mampu menampung ikan yang dimasukkan ke dalamnya [1].

Agar bisa berputar, pipa dihubungkan dengan motor atau generator yang diletakkan di samping drum, dengan bagian tengah pipa dilapisi kain bekas karung goni untuk menghasilkan gesekan yang melepaskan sisik ikan. Ikan yang akan diasinkan dimasukkan ke dalam drum bersama air, kemudian generator dihidupkan untuk memutar pipa hingga sisik terlepas dari puluhan kilogram ikan hanya dalam waktu sekitar setengah jam. Yang membedakan inovasi ini dari penyiangan manual adalah efisiensi waktu yang drastis: satu ekor ikan besar yang sebelumnya membutuhkan seperempat jam disiangi manual, kini bisa diproses bersama puluhan kilogram ikan lain sekaligus dalam durasi yang hampir sama.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan alat penyiang sisik ikan dimulai dari kebutuhan nyata produsen ikan asin Danau Panggang menghadapi volume produksi yang bisa mencapai satu ton sisik ikan dalam sekali produksi, jauh melampaui kapasitas penyiangan manual [1]. Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang merancang alat berbasis drum plastik yang mudah diperoleh dan menggunakan motor penggerak sederhana, sehingga biaya pembuatan dan perawatan alat tetap terjangkau bagi produsen skala rumah tangga.

Pemilihan pelapis kain bekas karung goni pada bagian tengah pipa bukan tanpa alasan: permukaan pipa polos tanpa lapisan kasar terbukti kurang efektif melepaskan sisik yang menempel kuat pada kulit ikan, sehingga produsen perlu menambahkan tekstur kasar pada permukaan yang berputar agar gesekan cukup kuat melepas sisik tanpa merusak daging ikan di baliknya. Pembelajaran ini menegaskan bahwa desain permukaan yang bersentuhan langsung dengan ikan sama pentingnya dengan tenaga penggerak itu sendiri — detail teknis kecil yang menentukan efektivitas keseluruhan alat, dan menjadi wawasan berharga bagi produsen desa lain yang ingin membuat alat serupa.

Setelah proses penyiangan sisik selesai, ikan dibersihkan isi perutnya satu demi satu, disayat dan dipotong sesuai standar yang diminta konsumen, lalu direndam dalam air garam selama sekitar tiga hari sebelum dijemur di atas para-para setinggi sekitar satu meter dari permukaan tanah selama tiga hari berikutnya [1]. Air bekas rendaman ikan asin tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi produk sampingan bernama uyah wadi — saus berbahan campuran cabai, bawang, dan rempah yang dihidangkan bersama buah-buahan seperti mentimun, kedondong, dan nanas, menunjukkan bahwa inovasi ini juga menciptakan nilai tambah dari apa yang sebelumnya dianggap limbah produksi.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan geografis menjadi kendala eksternal utama, mengingat sebagian besar desa di Danau Panggang berada di kawasan rawa yang luas dengan transportasi darat yang hanya bisa dilalui sepeda motor melalui titian kayu [1]. Kendala ini dimitigasi dengan mengandalkan transportasi air untuk mengangkut kardus-kardus ikan asin dari tambatan perahu Desa Pararain menuju hilir, sebelum dilanjutkan dengan truk atau pick up menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin untuk didistribusikan ke berbagai kota tujuan.

Tantangan produksi lain adalah sifat pekerjaan penyiangan, pembersihan, dan pengemasan ikan asin yang padat karya dan membutuhkan banyak tenaga manusia untuk tahap-tahap yang belum sepenuhnya bisa dimekanisasi, seperti membersihkan isi perut dan menyayat ikan satu per satu. Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang mengatasinya dengan memanfaatkan pola padat karya ini secara positif, membuka lapangan kerja bagi banyak perempuan desa serta puluhan pekerja lain di rantai budidaya, perikanan tangkap, pengemasan, dan distribusi.

Tantangan menjaga kualitas dan daya saing produk di tengah persaingan pasar juga menjadi perhatian, mengingat ikan asin dari berbagai daerah lain juga beredar di pasar nasional. Produsen mengatasinya dengan mempertahankan proses tradisional tanpa bahan pengawet tambahan dan hanya menggunakan ikan segar pilihan sebagai bahan baku, menjadikan keaslian dan kualitas sebagai keunggulan kompetitif utama ikan asin Danau Panggang.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah kesederhanaan desain alat yang menggunakan bahan-bahan mudah diperoleh seperti drum plastik, pipa, dan motor generator, sehingga produsen skala rumah tangga di desa rawa terpencil sekalipun mampu membuat dan merawatnya sendiri tanpa bergantung pada teknologi mahal dari luar [1].

Faktor kedua adalah kekompakan Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang yang didukung Pemerintah Desa Telaga Mas di bawah Kepala Desa Haji Yani, serta modal sosial berupa tradisi pengolahan ikan asin yang sudah mengakar lama di kawasan rawa Danau Panggang. Tradisi dan pengetahuan lokal mengenai pengolahan ikan air rawa, dipadukan kebutuhan nyata mempercepat produksi, menjadi pengikat partisipasi kelompok usaha dalam mengembangkan dan menggunakan inovasi ini secara kolektif.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ini hadir, penyiangan sisik ikan secara manual membutuhkan waktu sekitar seperempat jam untuk satu ekor ikan besar, sehingga mengolah sisik ikan hingga satu ton akan memakan waktu sangat lama dan menghambat kapasitas produksi. Setelah mesin penyiang sisik diterapkan, sisik dari puluhan kilogram ikan bisa dilepaskan hanya dalam sekitar setengah jam, mempercepat tahap awal produksi ikan asin secara signifikan [1].

Percepatan produksi ini berdampak langsung pada rantai ekonomi desa: rangkaian pekerjaan pengolahan ikan asin yang padat karya membuka lapangan kerja bagi banyak perempuan desa, sekaligus pekerjaan di sektor budidaya, perikanan tangkap, pengemasan, pengepakan, pengangkutan, dan distribusi. Untuk kegiatan pengemasan dan pengepakan saja, sekitar 20 orang terlibat dengan upah harian berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari, pendapatan tambahan yang signifikan bagi ekonomi rumah tangga di kawasan rawa terpencil.

Dampak yang meluas hingga ke luar daerah adalah jangkauan pasar ikan asin Danau Panggang yang kini menembus berbagai kota di Pulau Jawa, dengan volume pengiriman mencapai puluhan ton per bulan. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan adalah lahirnya produk sampingan uyah wadi dari air bekas rendaman ikan asin, yang membuka lini produk baru berupa saus buah khas Danau Panggang di luar produk ikan asin itu sendiri.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembuatan alat penyiang sisik ikan dibiayai secara swadaya oleh Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang, memanfaatkan bahan-bahan terjangkau seperti drum plastik bekas, pipa, dan motor generator sederhana, tanpa memerlukan investasi besar di luar kemampuan produsen skala rumah tangga [1]. Pendekatan ini menjadikan biaya replikasi alat relatif rendah dibandingkan mesin pengolahan ikan pabrikan.

Model bisnis ikan asin Danau Panggang bertumpu pada penjualan langsung produk olahan bernilai tambah kepada distributor dan pasar di berbagai kota, dengan volume pengiriman puluhan ton per bulan yang menunjukkan skala usaha cukup besar untuk kawasan rawa terpencil. Produk sampingan uyah wadi turut membuka aliran pendapatan tambahan dari pemanfaatan air bekas rendaman yang sebelumnya terbuang percuma, sementara pembayaran upah harian bagi puluhan pekerja pengemasan menunjukkan perputaran ekonomi tunai yang konsisten di dalam rantai produksi.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang menunjukkan bahwa solusi teknologi tidak harus mahal atau rumit untuk memberikan dampak besar pada produktivitas — drum plastik, pipa, dan motor sederhana terbukti mampu memangkas waktu penyiangan sisik ikan secara signifikan. Keputusan memanfaatkan bahan bekas dan mudah diperoleh, alih-alih menunggu bantuan mesin pabrikan yang mahal, menjadi keputusan kunci yang membuat inovasi ini cepat direalisasikan dan direplikasi antarprodusen.

Jika memulai dari awal, dokumentasi detail teknis seperti ukuran drum, diameter pipa, dan jenis pelapis permukaan yang efektif melepas sisik idealnya disusun secara tertulis sejak awal, agar produsen lain di desa-desa rawa sekitar Danau Panggang tidak perlu mengulang seluruh proses uji coba dari nol untuk menemukan kombinasi bahan yang tepat.

Bagi desa lain dengan potensi perikanan rawa serupa, saran praktis terpenting adalah memulai dari identifikasi tahap produksi yang paling memakan waktu dan tenaga — dalam kasus ini penyiangan sisik ikan — lalu mencari solusi mekanis sederhana berbasis bahan lokal yang terjangkau, daripada langsung berinvestasi pada mesin canggih yang belum tentu sesuai skala usaha rumah tangga.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini ditopang kesederhanaan alat yang mudah dirawat dan diperbaiki sendiri oleh anggota Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang, tanpa memerlukan teknisi khusus dari luar desa. Ketergantungan pada bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasar lokal, seperti drum plastik dan pipa, memastikan penggantian komponen yang rusak dapat dilakukan cepat tanpa mengganggu jadwal produksi ikan asin secara signifikan.

Mekanisme keberlanjutan kepemimpinan bertumpu pada kelembagaan Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang yang melibatkan banyak produsen secara kolektif, bukan bergantung pada satu individu atau satu keluarga produsen saja, sehingga pengetahuan mengenai pembuatan dan perawatan alat tersebar di antara banyak anggota kelompok. Dukungan Pemerintah Desa Telaga Mas di bawah Kepala Desa turut memastikan keberlanjutan usaha ini tetap mendapat perhatian kelembagaan desa, terlepas dari pergantian kepemimpinan di masa depan.

Diversifikasi produk melalui uyah wadi sebagai hasil olahan air bekas rendaman ikan asin menjadi salah satu strategi pendapatan mandiri yang tidak bergantung sepenuhnya pada penjualan ikan asin utama. Perluasan pasar ke berbagai kota di Pulau Jawa dengan volume puluhan ton per bulan juga menunjukkan bahwa usaha ini telah mencapai skala cukup mandiri secara finansial tanpa memerlukan subsidi berkelanjutan dari pihak luar.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi alat penyiang sisik ikan Desa Telaga Mas berkontribusi pada enam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Percepatan produksi ikan asin membuka lapangan kerja padat karya berupah harian bagi puluhan warga di rantai penyiangan, pengemasan, dan distribusi. Upah harian pekerja pengemasan Rp50.000–Rp100.000/hari untuk ~20 orang
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Pengolahan ikan asin sebagai pangan awetan memperpanjang daya simpan protein hewani dari hasil tangkapan rawa, menjaga ketersediaan pangan bergizi sepanjang tahun. Volume produksi ikan asin terkirim puluhan ton per bulan
SDGs 5: Kesetaraan Gender Rangkaian pekerjaan produksi ikan asin yang padat karya secara khusus membuka lapangan kerja bagi banyak perempuan desa, memberi mereka sumber pendapatan mandiri. Proporsi perempuan desa yang terlibat dalam rantai produksi ikan asin
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Rantai produksi ikan asin dari budidaya, penangkapan, pengolahan, hingga distribusi menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang inklusif di kawasan rawa terpencil. Jangkauan pasar hingga berbagai kota di Pulau Jawa
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Alat mekanis penyiang sisik ikan berbasis bahan lokal terjangkau membuktikan teknologi tepat guna sederhana mampu meningkatkan efisiensi produksi secara signifikan. Waktu penyiangan turun dari 15 menit/ekor menjadi puluhan kg/30 menit
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Pengolahan air bekas rendaman ikan asin menjadi produk sampingan uyah wadi mengurangi limbah produksi sekaligus menciptakan nilai tambah dari apa yang sebelumnya terbuang. Air rendaman diolah menjadi produk sampingan bernilai jual (uyah wadi)

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Alat penyiang sisik ikan berbasis drum plastik ini relevan direplikasi oleh kelompok usaha ikan asin lain di desa-desa rawa sekitar Danau Panggang maupun kawasan rawa lain di Kalimantan Selatan yang memiliki potensi hasil tangkapan ikan sepat dan gabus serupa [3], [4]. Prasyarat minimum meliputi ketersediaan drum plastik, pipa, motor atau generator penggerak, serta kelompok usaha yang bersedia mengelola alat secara kolektif untuk menekan biaya perawatan per produsen.

Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau karena seluruh komponen alat — drum plastik, pipa, motor penggerak, dan pelapis kain karung goni — dapat diperoleh dari bahan bekas atau pasar lokal, jauh lebih murah dibanding mesin pengolahan ikan pabrikan. Model adaptasi dapat disesuaikan dengan skala produksi masing-masing kelompok usaha, misalnya menambah jumlah drum untuk kelompok dengan volume produksi lebih besar, sementara strategi perluasan manfaat dapat dilakukan dengan mendokumentasikan spesifikasi teknis alat secara tertulis agar mudah disebarluaskan ke kelompok usaha ikan asin di kecamatan-kecamatan rawa lain di Hulu Sungai Utara.

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa Tertinggal, “Menyiangi Sisik Ikan, Inovasi Alat Mekanis Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang di Desa Telaga Mas,” idt.web.id. [Online]. Tersedia: https://idt.web.id

[2] Kontributor Wikipedia, “Telaga Mas, Danau Panggang, Hulu Sungai Utara,” id.wikipedia.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Telaga_Mas,_Danau_Panggang,_Hulu_Sungai_Utara

[3] A. H. Rais, T. N. M. Wulandari, dan E. Dharyati, “Aktivitas Penangkapan dan Produksi Ikan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan,” Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, vol. 24, no. 4, pp. 227–238, 2019. [Online]. Tersedia: https://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jppi/article/view/7159

[4] “Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Ikan di Kawasan Rawa Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara,” ResearchGate. [Online]. Tersedia: https://www.researchgate.net/publication/332438421_STRATEGI_PENGEMBANGAN_USAHA_BUDIDAYA_IKAN_DI_KAWASAN_RAWA_DANAU_PANGGANG_KABUPATEN_HULU_SUNGAI_UTARA

[5] BKKBN, “Profil Desa Telaga Mas,” Kampung KB. [Online]. Tersedia: https://kampungkb.bkkbn.go.id/kampung/1408/desa-telaga-mas

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Alat dan Mesin Mekanis untuk Menyiangi Sisik Ikan
Alamat
Desa Telaga Mas, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator
Kelompok Usaha Ikan Asin Danau Panggang bersama Pemerintah Desa Telaga Mas
Kontak
Haji Yani (Kepala Desa Telaga Mas), 0852-4999-6374
Lokasi