Ringkasan Inovasi
Desa Sugihwaras, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, mengatasi krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau melalui perbaikan teknologi sumur bor, dipicu protes warga ke balai desa setelah kemarau panjang lima bulan pada 2007 membuat pasokan air nyaris tidak mengalir [1]. Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM), yang kini menjadi bagian unit usaha BUMDes Aneka Usaha, merespons keluhan dengan melakukan kajian melibatkan tenaga ahli profesional, mengingat seluruh pasokan air bersih desa hanya bergantung pada satu sumur yang dibangun pada 2000 tanpa antisipasi dampak kemarau panjang. Kajian menemukan permukaan air sumur menyusut hingga 20 meter, dengan sumber air terbaik berada di kedalaman 60-69 meter. Solusinya, HIPPAM mengganti sumur pompa sentrifugal dengan sumur submersible yang mencapai kedalaman 60 meter, menambah dua sumur berdiameter 6 dan 8 inci, dibiayai Dana Desa Rp32 juta, hadiah lomba, dan swadaya masyarakat. Hasilnya, jumlah pelanggan air bersih naik dari 600 menjadi 972 pelanggan, dengan seluruh warga desa kini terlayani air bersih sepanjang hari tanpa keluhan macetnya air.
Latar Belakang
Desa Sugihwaras terletak di Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah sekitar 434 hektare dan jumlah penduduk sekitar 4.600-4.800 jiwa [2]. Sejak 2000, kebutuhan air bersih seluruh warga desa bergantung pada satu sumur yang dikelola Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM), tanpa cadangan sumber air lain.
Setiap musim kemarau, warga harus menunggu lama agar air sampai ke rumah, mengganggu kegiatan rutin seperti mandi, cuci, kakus, dan memasak. Puncaknya terjadi pada 2007, ketika kemarau panjang berlangsung hingga lima bulan dan pasokan air menjadi sangat sedikit, karena satu-satunya sumur yang dibangun pada 2000 tidak pernah dirancang dengan antisipasi dampak kemarau panjang terhadap ketersediaan air tanah.
Puncak krisis air bersih 2007 mendorong warga melayangkan protes ke balai desa, menuntut Pemerintah Desa dan HIPPAM segera mencari solusi. Momentum ini menjadi pemantik bagi HIPPAM, yang saat itu belum menjadi bagian BUMDes, untuk merespons keluhan pelanggan dan mengkaji ulang sumber air bersih bagi warga Sugihwaras secara menyeluruh [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah perbaikan teknologi sumur bor melalui kajian ilmiah yang melibatkan tenaga ahli profesional dari luar desa, memastikan perbaikan sarana air bersih satu-satunya milik desa menggunakan teknologi yang benar-benar tepat, bukan sekadar perbaikan tambal sulam [1].
Mekanismenya dimulai dari kajian awal menggunakan pipa untuk mengetahui posisi ketinggian air dalam sumur, dilanjutkan kajian lanjutan berupa pengeboran untuk memastikan ketersediaan dan letak sumber mata air desa yang sesungguhnya. Yang membedakan pendekatan ini dari perbaikan sumur konvensional adalah keputusan HIPPAM mendatangkan tenaga ahli profesional sebelum menentukan solusi teknis, sehingga pengalokasian dana menjadi tepat sasaran berdasarkan data nyata kedalaman dan kualitas sumber air, bukan sekadar dugaan.
Proses Penerapan Inovasi
Secara kronologis, penyelesaian masalah air bersih dimulai dari inventarisasi keluhan masyarakat oleh Ketua HIPPAM, yang menerima protes warga baik di rumah maupun di balai desa. Ketua HIPPAM bersama tim kemudian melakukan kajian awal ke dalam sumur menggunakan pipa untuk mengetahui posisi ketinggian air, dengan hasilnya dilaporkan kepada kepala desa [1].
Guna menemukan solusi permanen, HIPPAM mengajukan kebutuhan kajian lanjutan dengan pengeboran, sembari berkomunikasi dengan perwakilan RT/RW, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), dan Lembaga Musyawarah Desa (LMD) untuk pembiayaan kajian dan perbaikan sumur. Kajian lanjutan yang mendatangkan tenaga ahli profesional ini mengungkap bahwa permukaan air di sumur ternyata sudah menyusut hingga 20 meter, jauh dari perkiraan awal, sementara level sumber air terbaik dan terbesar justru berada di kedalaman 60-69 meter — temuan yang mengoreksi asumsi awal HIPPAM dan pemerintah desa soal penyebab macetnya air, sekaligus menjadi pembelajaran bahwa perbaikan sumur tanpa kajian mendalam berisiko salah sasaran.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, yang dibawa ke Pemerintah Desa Sugihwaras dan Kepala BUMDes Aneka Usaha, solusinya adalah mengganti sumur pompa sentrifugal dengan sumur submersible yang mampu mencapai kedalaman 60 meter. Sumur ditempatkan pada kedalaman 28-32 meter agar tidak terlalu berat dan mencegah turunnya permukaan air lebih jauh, dengan penambahan dua sumur berdiameter 6 inci dan 8 inci untuk memperkuat kapasitas pasokan.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah ketidakpastian HIPPAM soal sistem atau teknologi yang paling tepat untuk memperbaiki satu-satunya sarana air bersih desa, mengingat kesalahan pemilihan teknologi berisiko memboroskan dana desa yang terbatas. HIPPAM mengatasinya dengan melibatkan tenaga ahli profesional sejak tahap kajian awal hingga kajian lanjutan, memastikan keputusan teknis didasarkan pada data nyata kedalaman dan kualitas sumber air, bukan perkiraan semata.
Tantangan eksternal berupa keterbatasan sumber air, dengan permukaan air sumur yang ternyata sudah menyusut hingga 20 meter akibat kemarau panjang, turut menjadi kendala serius. HIPPAM memitigasi hal ini dengan memindahkan titik pengambilan air ke kedalaman 60-69 meter, level sumber air terbaik dan terbesar yang ditemukan lewat kajian pengeboran, serta menempatkan sumur submersible pada kedalaman 28-32 meter agar tidak memberatkan struktur dan mencegah penurunan muka air lebih lanjut.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah keterlibatan tenaga ahli profesional sejak tahap kajian awal, yang memastikan perbaikan sumur menggunakan teknologi yang tepat pada satu-satunya sarana air bersih milik desa, sehingga pengalokasian dana menjadi tepat sasaran [1].
Faktor kedua adalah kolaborasi lintas kelembagaan desa, melibatkan HIPPAM, perwakilan RT/RW, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Lembaga Musyawarah Desa (LMD), dan Pemerintah Desa Sugihwaras dalam pembiayaan dan pengambilan keputusan, sehingga solusi teknis yang dipilih mendapat dukungan penuh dari berbagai unsur desa. Pola pemberdayaan HIPPAM semacam ini juga sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang secara rutin membina kelompok HIPPAM di berbagai kecamatan, termasuk Kepohbaru, agar masyarakat tercukupi kebutuhan air bersihnya [3].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum perbaikan sumur dilakukan, warga harus menunggu lama untuk mendapatkan air, terutama saat kemarau, dengan jumlah pelanggan air bersih tercatat sekitar 600 pelanggan. Setelah sumur submersible dan dua sumur tambahan beroperasi, jumlah pelanggan air bersih naik menjadi 972 pelanggan, dengan seluruh warga Desa Sugihwaras kini terlayani air bersih [1].
Pasokan air bersih kini menjangkau hingga pelosok desa dan bisa dinikmati sepanjang hari, tidak lagi terbatas pada jam-jam tertentu seperti sebelumnya. Tidak ada lagi komplain terkait macetnya air dari pelanggan, menandakan perbaikan teknis yang dilakukan benar-benar menjawab akar persoalan, bukan sekadar solusi sementara.
Dampak spillover dari perbaikan sarana air bersih tingkat desa ini terlihat dari perkembangan infrastruktur air regional di Kecamatan Kepohbaru dan sekitarnya, di mana Pemerintah Kabupaten Bojonegoro meresmikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Wedoro pada September 2025, yang mengalirkan air bersih berkapasitas 80 liter per detik ke tiga kecamatan, termasuk Kepohbaru tempat Desa Sugihwaras berada, lewat jaringan pipa sepanjang 121,7 kilometer [4], [5]. Perkembangan ini menunjukkan bahwa penanganan krisis air di tingkat desa turut menjadi bagian dari upaya pemerataan air bersih yang terus berkembang di wilayah Bojonegoro timur.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal perbaikan sumur bersumber dari tiga jalur: Dana Desa sebesar Rp32 juta, hadiah lomba yang digunakan sebagai pendanaan tambahan, dan swadaya masyarakat. Kombinasi sumber pendanaan ini memastikan biaya perbaikan sumur submersible dan penambahan dua sumur baru tidak sepenuhnya membebani anggaran desa.
Model bisnis HIPPAM sebagai unit usaha BUMDes Aneka Usaha berbasis iuran pelanggan air bersih, dengan pertumbuhan jumlah pelanggan dari 600 menjadi 972 turut memperluas basis pendapatan HIPPAM untuk operasional dan perawatan sumur ke depan, sekaligus memperkuat posisi HIPPAM sebagai salah satu unit usaha produktif BUMDes.
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Desa Sugihwaras menunjukkan bahwa keputusan melibatkan tenaga ahli profesional sebelum menentukan solusi teknis, alih-alih langsung memperbaiki sumur berdasarkan dugaan, adalah keputusan kunci yang tepat karena mengungkap fakta bahwa permukaan air sudah menyusut 20 meter — informasi yang tidak mungkin diketahui tanpa kajian mendalam.
Jika memulai dari awal, sarana air bersih sejak dibangun pada 2000 idealnya sudah mempertimbangkan skenario kemarau panjang dan penyusutan muka air tanah, bukan menunggu krisis 2007 sebagai pemicu evaluasi, agar desa tidak perlu menunggu protes warga terlebih dahulu sebelum bertindak.
Bagi desa lain yang menghadapi persoalan air bersih serupa, saran praktisnya adalah tidak bergantung pada satu sumber air tunggal untuk seluruh warga, melibatkan tenaga ahli profesional sebelum memutuskan teknologi perbaikan, serta menggalang kolaborasi lintas kelembagaan desa seperti RT/RW, LKMD, dan LMD untuk memastikan dukungan pembiayaan yang lebih luas.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan sarana air bersih Desa Sugihwaras ditopang status HIPPAM sebagai unit usaha resmi BUMDes Aneka Usaha, dengan pendapatan dari iuran 972 pelanggan digunakan untuk operasional dan perawatan rutin sumur submersible serta dua sumur tambahan.
Mekanisme regenerasi pengelolaan bertumpu pada struktur kepengurusan HIPPAM di bawah BUMDes Aneka Usaha, dengan pembagian peran antara Ketua Unit Pengairan dan Ketua BUMDes, sehingga pengelolaan air bersih tidak bergantung pada satu individu semata, melainkan pada sistem kelembagaan yang telah melembaga sejak HIPPAM diintegrasikan ke BUMDes.
Rencana keberlanjutan jangka panjang turut diperkuat oleh perkembangan infrastruktur air regional seperti IPA Wedoro yang mulai beroperasi di Kecamatan Kepohbaru pada 2025, membuka peluang sinergi antara sarana air bersih HIPPAM tingkat desa dengan jaringan air baku PDAM Bojonegoro yang lebih besar ke depan [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi teknologi sumur bor di Desa Sugihwaras berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pasokan air bersih yang lancar mengurangi beban biaya rumah tangga yang sebelumnya harus mencari sumber air alternatif saat kemarau. | Warga tidak lagi perlu mencari air alternatif saat kemarau |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Akses air bersih yang lancar mendukung kebutuhan mandi, cuci, kakus, dan memasak, mengurangi risiko penyakit akibat air terbatas. | Air bersih tersedia sepanjang hari tanpa keluhan macet |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak | Perbaikan sumur submersible menjadi solusi teknis langsung untuk menjamin ketersediaan air bersih seluruh warga desa. | Jumlah pelanggan naik dari 600 menjadi 972 pelanggan |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Penerapan teknologi sumur submersible berbasis kajian ilmiah menjadi inovasi infrastruktur air bersih skala desa. | 3 sumur (1 diperbaiki, 2 baru) beroperasi dengan teknologi submersible |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Pasokan air bersih yang menjangkau seluruh pelosok desa mendukung kualitas permukiman dan kehidupan warga secara merata. | Seluruh warga Desa Sugihwaras terlayani air bersih |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model perbaikan sumur berbasis kajian ilmiah dan pelibatan tenaga ahli profesional ini sangat layak direplikasi oleh desa lain yang menghadapi krisis air bersih musiman, khususnya desa yang hanya mengandalkan satu sumber air tunggal. Prasyarat minimum meliputi kesediaan pemerintah desa dan pengelola air bersih mendanai kajian teknis, akses terhadap tenaga ahli profesional, serta dukungan kelembagaan desa seperti RT/RW, LKMD, dan LMD.
Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau, mengacu pada pengalaman Sugihwaras yang menghabiskan Rp32 juta dari Dana Desa ditambah hadiah lomba dan swadaya masyarakat untuk mengganti sumur pompa sentrifugal dengan sumur submersible serta menambah dua sumur baru. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menyesuaikan kedalaman dan jumlah sumur terhadap kondisi geologis serta jumlah pelanggan yang perlu dilayani.
Daftar Pustaka
[1] SUARAKARYA.ID, “BUMDes Aneka Usaha Atasi Kebutuhan Air Bersih Masyarakat,” suarakarya.id, 24 Agu. 2018. [Online]. Tersedia: https://m.suarakarya.id/detail/77292/BUMDes-Aneka-Usaha-Atasi-Kebutuhan-Air-Bersih-Masyarakat
[2] Kontributor Wikipedia, “Sugihwaras, Kepohbaru, Bojonegoro,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sugihwaras,_Kepohbaru,_Bojonegoro
[3] Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, “Berdayakan HIPPAM Agar Masyarakat Tercukupi Air Bersih,” bojonegorokab.go.id. [Online]. Tersedia: https://bojonegorokab.go.id/berita/5225/berdayakan-hippam-agar-masyarakat-tercukupi-air-bersih
[4] Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, “Langkah Pemerataan Air Bersih Layak Konsumsi, Pemkab Bojonegoro Bangun IPA Wedoro untuk Warga di Wilayah Timur,” bojonegorokab.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://bojonegorokab.go.id/berita/8785/langkah-pemerataan-air-bersih-layak-konsumsi-pemkab-bojonegoro-bangun-ipa-wedoro-untuk-warga-di-wilayah-timur
[5] Media Cahaya Baru, “Jaringan Air Bersih 121 Km Dibangun, Warga Sugihwaras-Kedungadem-Kepohbaru Kini Tenang,” mediacahayabaru.id, 18 Sep. 2025. [Online]. Tersedia: https://mediacahayabaru.id/2025/09/18/jaringan-air-bersih-121-km-dibangun-warga-sugihwaras-kedungadem-kepohbaru-kini-tenang/