Ringkasan Inovasi

Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, melestarikan kawasan hutan mangrove di sepanjang garis pantainya melalui penanaman intensif pohon api-api (Avicennia sp.) sejak 2016, setelah desa ini bergabung dengan kelompok pelestarian mangrove [1]. Hutan mangrove berfungsi menjaga kestabilan garis pantai dari abrasi, mencegah intrusi air laut, dan menjadi sumber makanan bagi biota laut seperti ikan dan udang. Pemerintah Desa Pagatan Besar di bawah Kepala Desa Samdiani mengembangkan teknik perlindungan bibit berupa segitiga pengaman kayu dan pagar bambu untuk mencegah sampah hanyut dan ternak memakan daun api-api, serta membangun tambatan perahu sebagai sarana pemantauan tanaman sekaligus spot foto pengunjung. Sejak resmi dibuka sebagai Ekowisata Mangrove Pagatan Besar pada 2019, kawasan seluas 10 hektare ini menjadi salah satu wisata hutan mangrove berbasis edukasi pertama di Tanah Laut, dengan indeks kesesuaian wisata 74-84 persen [5]. Namun, fasilitas wisata sempat terbengkalai sekitar lima tahun terakhir, sebelum Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turun tangan pada 2026 melatih warga mengolah daun api-api menjadi sabun herbal bermerek AVICEN Tech-Botanics sebagai upaya revitalisasi ekonomi kawasan [3].

 

Latar Belakang

Desa Pagatan Besar terletak di Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, tepat di bibir Laut Jawa, sekitar 80 kilometer atau dua jam perjalanan dari Banjarmasin [1], [4]. Sebagai desa pesisir, sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan laut, menjadikan garis pantainya rentan terhadap abrasi tanpa pelindung alami yang memadai.

Sebelum penanaman mangrove diintensifkan, garis pantai Desa Pagatan Besar rawan tergerus abrasi dan intrusi air laut, sementara ekosistem pesisir yang menopang kehidupan biota laut seperti ikan dan udang belum terjaga optimal. Bibit api-api yang ditanam warga secara sporadis sebelumnya sering gagal tumbuh karena tersapu sampah yang hanyut ke pantai maupun dimakan ternak sapi yang berkeliaran bebas di kawasan pesisir.

Momentum pelestarian mangrove secara terorganisasi datang pada 2016, ketika Desa Pagatan Besar bergabung dengan kelompok pelestarian mangrove dan mulai melakukan penanaman api-api secara intensif di sepanjang pesisir pantai, didukung Pemerintah Desa di bawah Kepala Desa Samdiani [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem perlindungan bibit mangrove terpadu yang menggabungkan penanaman api-api dengan infrastruktur pengaman sederhana. Api-api dipilih karena akarnya berada di dalam tanah dan mampu tumbuh pada ekosistem berkadar garam tinggi, berbeda dengan bakau yang berakar di atas tanah dan hanya bisa tumbuh di kadar garam rendah atau muara sungai — menjadikan api-api lebih sesuai dengan kondisi pesisir Pagatan Besar yang langsung menghadap laut terbuka.

Mekanismenya melibatkan segitiga pengaman dari kayu atau sisa kayu besar untuk mencegah bibit tersapu sampah, pagar dari kayu, bambu, dan tali di sepanjang areal hutan untuk mencegah sapi dan ternak lain memakan daun api-api, serta tambatan perahu yang dibangun hingga batas pantai untuk memantau perkembangan tanaman sekaligus menjadi spot foto pengunjung. Yang membedakan pendekatan ini dari penanaman mangrove konvensional adalah fungsi ganda infrastrukturnya — melindungi bibit sekaligus menjadi daya tarik wisata — sehingga investasi perlindungan lingkungan langsung terhubung dengan potensi ekonomi wisata.

 

Proses Penerapan Inovasi

Sejak 2016, penanaman api-api dilakukan bertahap di sepanjang pesisir, dilengkapi petak pembibitan berukuran 2×2 meter yang dibangun sekitar 100 meter dari batas pantai. Pembangunan tambatan perahu turut didukung program Kementerian dan Dinas Kelautan dan Perikanan, serta sebagian dibiayai Dana Desa [1]. Upaya ini membuahkan hasil ketika kawasan mangrove Pagatan Besar resmi dibuka sebagai ekowisata pada 2019, menjadi salah satu destinasi wisata hutan mangrove berbasis edukasi pertama di Kabupaten Tanah Laut, dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat [2].

Meski kawasan mangrove tumbuh baik dengan keanekaragaman jenis meliputi api-api (Avicennia marina), bakau (Rhizophora mucronata), dan beberapa spesies lain, serta mencatat indeks kesesuaian wisata 74-84 persen dalam kajian akademik, fasilitas wisata justru mengalami masa terbengkalai selama sekitar lima tahun terakhir [5]. Jembatan kayu ulin menuju laut dibangun terlalu rendah sehingga kerap terendam ombak tinggi dan sebagian rusak, sementara atap dan lantai gazebo rusak serta sampah plastik berserakan di kawasan — pembelajaran penting bahwa keberhasilan menumbuhkan ekosistem mangrove tidak otomatis diikuti keberlanjutan fasilitas wisata tanpa perawatan rutin dan desain infrastruktur yang mempertimbangkan ketinggian gelombang laut [2].

Menanggapi kondisi ini, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui tim inovasi turun tangan pada 2026 melatih warga, khususnya Karang Taruna desa, mengolah daun api-api menjadi sabun herbal bermerek AVICEN Tech-Botanics, dilengkapi pelatihan kalkulasi biaya produksi dan strategi pemasaran digital, sebagai upaya menghidupkan kembali nilai ekonomi kawasan mangrove di luar sekadar wisata fisik yang sempat terbengkalai [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama pada masa awal adalah tingginya tingkat kegagalan tumbuh bibit api-api akibat sampah hanyut dan gangguan ternak, yang diatasi melalui pembangunan segitiga pengaman kayu dan pagar pembatas di sepanjang areal tanam. Tantangan internal lain yang muncul kemudian adalah lemahnya perawatan fasilitas wisata pascapembukaan 2019, yang menyebabkan jembatan dan gazebo rusak serta sampah plastik menumpuk selama sekitar lima tahun [2].

Tantangan eksternal berupa desain infrastruktur jembatan kayu ulin yang tidak memperhitungkan tinggi gelombang laut menyebabkan kerusakan berulang saat ombak besar, sementara keterbatasan sumber daya pengelolaan pascapembukaan awal membuat pemeliharaan rutin sulit dijalankan secara konsisten. Kemitraan dengan ULM pada 2026 menjadi salah satu langkah mitigasi untuk menghadirkan sumber pendapatan baru yang lebih mudah dikelola warga dibanding perawatan infrastruktur fisik berskala besar [3].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan pelestarian mangrove ini adalah pemilihan jenis api-api yang tepat sesuai karakteristik ekosistem pesisir berkadar garam tinggi, dikombinasikan dengan infrastruktur perlindungan sederhana namun efektif seperti segitiga pengaman dan pagar pembatas ternak.

Faktor kedua adalah keterlibatan multipihak, mulai dari kelompok pelestarian mangrove pada tahap awal, Kementerian dan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk pendanaan infrastruktur, Pokdarwis untuk pengelolaan wisata, hingga Universitas Lambung Mangkurat yang membawa inovasi produk olahan mangrove pada tahap revitalisasi terbaru [1], [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum penanaman intensif 2016, garis pantai Desa Pagatan Besar rentan abrasi dengan tutupan mangrove yang minim dan tidak terlindungi. Setelah bertahun-tahun penanaman dan perlindungan, kawasan ini berkembang menjadi hutan mangrove seluas 10 hektare dengan keanekaragaman jenis yang mendukung status kelayakan sebagai kawasan ekowisata, mencapai indeks kesesuaian wisata 74-84 persen [5].

Ekowisata Mangrove Pagatan Besar sempat menjadi destinasi edukasi lingkungan yang dikunjungi wisatawan sejak dibuka 2019, namun mengalami penurunan kualitas fasilitas dalam lima tahun terakhir, mencerminkan status keberlanjutan dimensi ekonomi kawasan yang tergolong “cukup berkelanjutan” menurut kajian akademik, bukan sepenuhnya optimal [5]. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekologis mangrove perlu diimbangi keberlanjutan tata kelola wisata secara konsisten.

Dampak spillover terbaru datang dari program ULM 2026 yang mengubah daun api-api menjadi sabun herbal AVICEN Tech-Botanics, membuka sumber pendapatan alternatif bagi warga pesisir yang tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan wisata fisik yang fluktuatif [3]. Model ini berpotensi menjadi jalan keluar bagi kawasan yang sempat mengalami stagnasi fasilitas wisata.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal penanaman dan infrastruktur perlindungan mangrove berasal dari kombinasi program Kementerian dan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dana Desa, sementara sebagian tambatan perahu dan fasilitas dibangun secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran tahunan [1].

Model bisnis ekowisata sebelumnya bertumpu pada tiket masuk dan kunjungan wisatawan, namun terbukti rentan tanpa perawatan fasilitas berkelanjutan. Model bisnis terbaru yang dirintis bersama ULM mengarah pada produk turunan bernilai tambah seperti sabun herbal mangrove, yang menawarkan sumber pendapatan lebih stabil dibanding hanya mengandalkan kunjungan wisata, dilengkapi pelatihan kalkulasi biaya produksi dan pemasaran digital bagi Karang Taruna desa [3].

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Pagatan Besar menunjukkan bahwa keputusan mengombinasikan penanaman mangrove dengan infrastruktur pemantauan yang juga berfungsi sebagai daya tarik wisata (tambatan perahu) adalah keputusan kunci yang tepat pada tahap awal, karena menghubungkan langsung pelestarian lingkungan dengan potensi ekonomi.

Jika memulai dari awal, desain infrastruktur wisata seperti jembatan kayu idealnya mempertimbangkan ketinggian gelombang laut sejak perencanaan awal, dan skema perawatan rutin idealnya dilembagakan sejak pembukaan resmi 2019, bukan dibiarkan hingga fasilitas terbengkalai lima tahun kemudian.

Bagi desa pesisir lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas fisik wisata, tetapi juga merancang sumber pendapatan berbasis produk olahan sejak awal — seperti sabun herbal atau produk turunan mangrove lainnya — sehingga keberlanjutan ekonomi tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan wisata yang fluktuatif dan mahalnya perawatan infrastruktur fisik.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan kawasan mangrove Pagatan Besar ke depan ditopang dua jalur: pemulihan bertahap fasilitas ekowisata yang sempat terbengkalai, dan diversifikasi ekonomi melalui produk olahan seperti sabun herbal AVICEN Tech-Botanics hasil kemitraan dengan ULM [3].

Mekanisme regenerasi pengelolaan melibatkan Karang Taruna desa yang dilatih langsung oleh tim inovasi ULM, memastikan pengetahuan produksi sabun herbal tidak hanya dikuasai generasi pendiri Pokdarwis, melainkan diwariskan ke generasi muda desa yang lebih siap menghadapi tantangan pemasaran digital ke depan [3].

Rencana pendapatan mandiri desa diperkuat melalui produk sabun herbal mangrove yang menawarkan masa simpan lebih lama dibanding produk olahan pangan berbasis mangrove, sehingga distribusi dan penjualan dapat dilakukan lebih fleksibel tanpa bergantung pada kunjungan wisatawan langsung ke kawasan yang fasilitasnya masih dalam proses pemulihan [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pelestarian mangrove di Desa Pagatan Besar berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Produk sabun herbal mangrove membuka sumber pendapatan alternatif bagi warga pesisir di luar hasil tangkapan laut. Karang Taruna dilatih memproduksi dan memasarkan sabun herbal AVICEN Tech-Botanics
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekowisata mangrove dan produk olahan daun api-api menciptakan peluang usaha baru bagi warga desa pesisir. Indeks kesesuaian wisata mencapai 74-84% di tiga stasiun kajian
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Hutan mangrove berfungsi sebagai penyerap karbon alami sekaligus pelindung pesisir dari dampak kenaikan permukaan laut. 10 hektare kawasan mangrove terjaga sejak 2016
SDGs 14: Ekosistem Lautan Mangrove menjaga kestabilan garis pantai dari abrasi dan menjadi habitat serta sumber makanan bagi biota laut. Garis pantai terlindungi dari abrasi dan intrusi air laut
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penanaman dan perlindungan bibit mangrove melestarikan keanekaragaman vegetasi pesisir, termasuk api-api dan bakau. Beragam jenis mangrove tumbuh, termasuk Avicennia marina dan Rhizophora mucronata

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model perlindungan mangrove berbasis infrastruktur sederhana dan berfungsi ganda (pelindung bibit sekaligus daya tarik wisata) ini sangat relevan direplikasi oleh desa pesisir lain yang menghadapi abrasi dan intrusi air laut. Prasyarat minimum meliputi kesediaan bergabung dengan kelompok pelestarian mangrove yang sudah berpengalaman, akses lahan pesisir yang sesuai karakteristik api-api atau jenis mangrove lokal, serta dukungan pendanaan awal dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan maupun Dana Desa.

Namun, pengalaman Pagatan Besar juga memberi pelajaran replikasi yang penting: desa lain sebaiknya merencanakan skema perawatan fasilitas jangka panjang dan diversifikasi produk olahan sejak tahap perencanaan awal, bukan hanya mengandalkan pembangunan fasilitas fisik semata, agar tidak mengalami periode stagnasi serupa sebelum akhirnya memerlukan program revitalisasi dari pihak luar seperti kemitraan perguruan tinggi.

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Tambatan Perahu, Desa Pagatan Besar Pantau dan Amankan Kawasan Hutan Mangrove,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tambatan-perahu-desa-pagatan-besar-pantau-dan-amankan-kawasan-hutan-mangrove/

[2] Poros Kalimantan, “Wisata Mangrove di Pagatan Besar Terbengkalai, Desa Pengin Hidupkan Lagi,” poroskalimantan.com. [Online]. Tersedia: https://poroskalimantan.com/wisata-mangrove-di-pagatan-besar-terbengkalai-desa-pengin-hidupkan-lagi/

[3] Kompas TV, “ULM Sulap Daun Mangrove Jadi Sabun Herbal, Buka Peluang Ekonomi Baru di Tanah Laut,” kompas.tv, 24 Jun. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.kompas.tv/advertorial/676733/ulm-sulap-daun-mangrove-jadi-sabun-herbal-buka-peluang-ekonomi-baru-di-tanah-laut

[4] Kontributor Wikipedia, “Pagatan Besar, Takisung, Tanah Laut,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pagatan_Besar,_Takisung,_Tanah_Laut

[5] Mustofa, “Analisis Potensi Sumberdaya Mangrove di Desa Pagatan Besar Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut sebagai Kawasan Ekowisata,” Jurnal Sylva Scienteae, Universitas Lambung Mangkurat. [Online]. Tersedia: https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jss/article/view/500

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pengamanan dan Pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove
Alamat
Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator
Pemerintah Desa Pagatan Besar bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), didukung Universitas Lambung Mangkurat
Kontak
Samdiani (Kepala Desa), 0822-5498-0630
Lokasi