Ringkasan Inovasi

Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) berkedudukan di Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejak 2002, yayasan ini mengembangkan Program Manajemen Sarana Transportasi (MST) yang menyediakan sepeda motor operasional bagi tenaga kesehatan di desa-desa terpencil [1]. Program ini digagas Mansetus Balawala bersama Simon Milward, setelah keduanya menemukan tingginya angka kematian ibu dan anak akibat keterlambatan tenaga kesehatan menjangkau pasien di wilayah kepulauan berbukit Flores Timur [2]. YKS meminjamkan sepeda motor kepada bidan dan petugas kesehatan, disertai pelatihan berkendara, perawatan berkala gratis, dan sistem pemantauan penggunaan melalui logbook. Sebelum program berjalan, bidan seperti Yanti kerap terlambat menjangkau pasien darurat karena tidak memiliki kendaraan operasional sendiri, kondisi yang menurutnya beberapa kali berujung kematian pasien. Setelah menerima bantuan motor pada Maret 2009, Yanti mengaku tidak ada lagi kematian akibat keterlambatan pertolongan dalam tiga bulan pertama pemanfaatan kendaraan [1]. Program serupa yang diterapkan Motorcycle Outreach di wilayah lain Nusa Tenggara Timur turut mencatat penurunan kasus gizi buruk anak dari 167 menjadi 27 kasus dalam tujuh bulan setelah sepeda motor diperkenalkan [3].

 

Latar Belakang

Kabupaten Flores Timur terdiri atas tiga gugusan wilayah, yaitu Flores daratan, Pulau Adonara, dan Pulau Solor, dengan luas keseluruhan 5.983,38 kilometer persegi, mencakup 1.812,85 kilometer persegi daratan dan 4.170,53 kilometer persegi perairan [4]. Topografi kabupaten ini didominasi perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lahan di atas 12 persen, tersebar di 19 kecamatan, 219 desa, dan 17 kelurahan [4]. Yayasan Kesehatan untuk Semua berkedudukan di Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, yang berpenduduk 2.583 jiwa, menjadikannya pusat koordinasi program kesehatan bagi puskesmas-puskesmas terpencil di wilayah kepulauan ini [5].

Kondisi geografis kepulauan dan berbukit membuat banyak tenaga kesehatan di Flores Timur, seperti bidan desa, tidak memiliki akses transportasi memadai untuk menjangkau pasien darurat di wilayah terpencil. Bidan Yanti, salah satu tenaga kesehatan di Flores Timur, mengaku kondisi ini pernah menimbulkan korban jiwa akibat keterlambatan pertolongan selama hampir sepuluh tahun ia bertugas sebagai bidan desa sebelum 2009 [1]. Panggilan darurat yang datang dari dua atau tiga pasien pada waktu hampir bersamaan memperparah keterbatasan ini, karena satu tenaga kesehatan harus memilih pasien mana yang lebih dulu ditangani tanpa kendaraan operasional yang siap pakai.

Momentum penanganan masalah ini muncul ketika Mansetus Balawala bersama Simon Milward menemukan tingginya angka kematian ibu dan anak di Flores Timur akibat keterlambatan tenaga kesehatan menjangkau pasien. Kondisi serupa dialami Bidan Ety Ruron di Puskesmas Lewolema, yang pernah kehilangan pasien ibu hamil karena harus berjalan kaki tanpa kendaraan menuju lokasi persalinan [2]. Keduanya terinspirasi model Riders for Health di Afrika, yang telah mengelola armada sepeda motor kesehatan sejak 1991 di Lesotho [6]. Pada 2002, keduanya mendirikan Yayasan Kesehatan untuk Semua untuk mengadaptasi model tersebut ke wilayah kepulauan Flores Timur.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Program Manajemen Sarana Transportasi (MST), sebuah sistem peminjaman dan pengelolaan sepeda motor operasional bagi tenaga kesehatan yang diadaptasi dari model Riders for Health di Afrika. Ide ini lahir dari kebutuhan mendesak tenaga kesehatan di Flores Timur yang harus menjangkau pasien di wilayah kepulauan berbukit tanpa transportasi umum memadai. Pendekatan berbasis manajemen armada kendaraan ini dipilih karena telah terbukti efektif menekan tingkat kerusakan kendaraan dan mempercepat respons layanan kesehatan di negara lain.

YKS meminjamkan sepeda motor kepada bidan, dokter, dan tenaga kesehatan lain di desa terpencil, disertai pelatihan mengendarai dan merawat kendaraan. Setiap tenaga kesehatan wajib mencatat aktivitas penggunaan motor dalam logbook, meliputi posisi spidometer awal dan akhir, tempat tujuan, jenis pelayanan, kasus kesehatan yang ditangani, serta jumlah sasaran yang dilayani. Bengkel YKS melakukan perawatan berkala pada interval waktu tertentu untuk memastikan kendaraan selalu siap pakai tanpa mengalami kerusakan mendadak saat digunakan.

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada kombinasi tiga pilar sekaligus, yaitu pemberian akses kendaraan, pemantauan penggunaan melalui logbook, dan perawatan preventif terjadwal, alih-alih hanya menyumbangkan kendaraan tanpa sistem pengelolaan lanjutan. Pendekatan menyeluruh ini membedakan MST dari program bantuan kendaraan konvensional yang umumnya berhenti pada tahap penyerahan aset semata.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai awal 2000-an ketika Mansetus Balawala pertama kali menyediakan sepeda motor jenis Yamaha YT 115 untuk dipinjamkan kepada bidan desa di Larantuka. Uji coba awal ini menunjukkan bahwa model motor tersebut kurang sesuai dengan kondisi jalan berbukit dan kebutuhan bidan perempuan, sehingga sejumlah bidan mengalami kesulitan mengendarainya [7]. Kegagalan pada pemilihan model motor pertama ini menjadi pembelajaran penting bahwa spesifikasi kendaraan harus disesuaikan dengan kondisi medan dan karakteristik pengendara, bukan sekadar tersedia dan berfungsi.

YKS kemudian mengoreksi pilihan tersebut dengan mengganti unit motor menjadi Yamaha Force One yang dinilai lebih sesuai, sebelum akhirnya menstandarkan seluruh armada menjadi 14 unit Honda Revo pada 2005 [7]. YKS secara resmi mengembangkan Program Manajemen Sarana Transportasi pada 2002, mengadaptasi sistem manajemen armada yang telah terbukti berhasil menekan tingkat kerusakan kendaraan operasional kesehatan di berbagai negara [6]. Milestone penting lain adalah pemberian motor kepada Bidan Yanti pada Maret 2009, yang dalam tiga bulan pertama pemanfaatannya langsung menunjukkan hasil berupa nihilnya kematian akibat keterlambatan pertolongan [1].

Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya menyediakan periode uji coba dan evaluasi jenis kendaraan sebelum melakukan pengadaan massal, sebagaimana dilakukan YKS sebelum menstandarkan armadanya menjadi Honda Revo. Replikator juga perlu menyiapkan sistem logbook dan jadwal perawatan sejak awal peminjaman kendaraan pertama, bukan menambahkannya setelah program berjalan, agar data penggunaan dapat terekam sejak dini.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal yang dihadapi YKS adalah risiko penyalahgunaan sepeda motor bantuan oleh tenaga kesehatan penerima, seperti penggunaan di luar keperluan pelayanan kesehatan. YKS memitigasi tantangan ini dengan melibatkan Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat mitra sebagai pemantau lapangan yang turut hadir dalam pertemuan monitoring dan evaluasi berkala. Jika ditemukan pelanggaran, mitra YKS dapat melaporkannya sehingga tenaga kesehatan bersangkutan mendapat peringatan atau penarikan sepeda motor.

Pelanggaran kategori berat, seperti kecelakaan akibat mabuk, ditindak YKS dengan penarikan motor secara langsung dan pengalihan kendaraan kepada tenaga kesehatan lain yang membutuhkan, baik di wilayah yang sama maupun wilayah lain. Mekanisme sanksi bertingkat ini memastikan aset yayasan tetap termanfaatkan optimal oleh tenaga kesehatan yang benar-benar patuh pada tata tertib pemanfaatan kendaraan.

Tantangan eksternal utama adalah kondisi geografis kepulauan Flores Timur yang berbukit dan minim infrastruktur jalan, sehingga kendaraan operasional rawan mengalami kerusakan jika tidak dirawat secara sistematis. YKS memitigasi tantangan ini dengan menerapkan perawatan berkala pada interval waktu tertentu, sehingga kondisi sepeda motor tetap awet meski sudah dioperasikan bertahun-tahun [1]. Kondisi ini berbeda dengan kendaraan dinas pemerintah yang rata-rata tidak dapat dipakai lagi setelah tiga tahun pembelian. Keterbatasan pendanaan lokal turut dimitigasi YKS dengan membuka layanan bengkel servis motor untuk umum sebagai sumber pendapatan tambahan di luar bantuan donor internasional.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kemitraan YKS dengan Dinas Kesehatan Flores Timur, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial kemasyarakatan yang berperan sebagai pemantau lapangan sekaligus mitra evaluasi program. Dukungan pemangku kepentingan lokal ini memastikan sistem sanksi dan pengawasan pemanfaatan sepeda motor berjalan efektif tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pengawasan langsung YKS.

Faktor kedua adalah jejaring pendanaan internasional yang berhasil dibangun YKS, mencakup Riders for Health, Motorcycle Outreach, Yamaha Japan, dan beberapa organisasi lain [1]. Modal sosial berupa kepercayaan tenaga kesehatan penerima manfaat, seperti kesaksian Bidan Yanti dan Ansel Demon, turut memperkuat legitimasi program di mata masyarakat maupun mitra donor.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum Program MST berjalan, bidan seperti Yanti kerap terlambat menjangkau pasien darurat karena tidak memiliki kendaraan operasional, kondisi yang menurutnya beberapa kali berujung kematian pasien selama hampir sepuluh tahun ia bertugas. Setelah menerima sepeda motor pada Maret 2009, Yanti mencatat tidak ada lagi kematian akibat keterlambatan pertolongan hanya dalam tiga bulan pertama pemanfaatan kendaraan [1]. Ansel Demon, petugas kesehatan di Puskesmas Pembantu Epubele, turut menilai kendaraan operasional pascaprogram MST hampir tidak pernah mengalami kerusakan saat digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Dampak serupa tercatat pada program Health for All yang didukung Motorcycle Outreach di wilayah lain Nusa Tenggara Timur [3]. Kasus gizi buruk anak di wilayah itu turun dari 167 menjadi 27 kasus dalam tujuh bulan sejak sepeda motor diperkenalkan untuk pelayanan kesehatan. Lima manfaat utama yang dirasakan meliputi respons lebih cepat terhadap panggilan pasien, meningkatnya cakupan wilayah pelayanan, meningkatnya akses informasi kesehatan, meningkatnya jumlah fasilitas sanitasi yang dipantau, dan meningkatnya frekuensi layanan kesehatan bagi sekolah dasar.

Perubahan yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya kepercayaan tenaga kesehatan terhadap sistem kerja YKS, tercermin dari kesaksian terbuka para bidan dan petugas puskesmas yang menjadi materi promosi program kepada donor internasional. Dampak multiplier lain terlihat dari berkembangnya bengkel YKS menjadi layanan servis umum, yang tidak hanya merawat armada motor kesehatan tetapi juga membuka lapangan kerja teknisi lokal di Larantuka.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan Program MST YKS bersumber dari kombinasi donor internasional dan pendapatan lokal. Donor internasional mencakup Riders for Health, Motorcycle Outreach, Yamaha Japan, ABATE of Indiana, ABATE of Alaska, South Suburban Chapter of Illinois, dan In Memory of Captain Ride [1]. Kolaborasi mereka menyokong pengadaan dan penggantian armada sepeda motor, sejak model awal Yamaha YT 115 hingga 14 unit Honda Revo pada 2005 [7]. YKS juga tengah menjajaki kerja sama pendanaan bersama Dinas Kesehatan Flores Timur untuk memperluas cakupan program ke depan.

Model pendapatan mandiri dijalankan melalui bengkel YKS yang membuka layanan servis sepeda motor bagi kendaraan program maupun kendaraan umum masyarakat, sekaligus menjual suku cadang kendaraan bermotor. Strategi diversifikasi pendapatan lokal ini mengurangi ketergantungan penuh YKS pada donor internasional untuk membiayai operasional perawatan armada motor kesehatan sehari-hari.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mengadaptasi model manajemen armada Riders for Health dari Afrika ke konteks kepulauan Flores Timur, alih-alih merancang sistem baru dari nol, terbukti mempercepat YKS membangun program yang teruji. Keputusan mengevaluasi dan mengganti jenis motor yang kurang sesuai, dari Yamaha YT 115 ke Yamaha Force One hingga akhirnya Honda Revo, juga terbukti penting untuk memastikan kendaraan benar-benar sesuai kebutuhan pengendara di lapangan.

Jika memulai dari awal, YKS mengakui idealnya uji coba jenis kendaraan dilakukan lebih sistematis sejak tahap perintisan, bukan setelah sejumlah bidan mengalami kesulitan mengendarai model pertama. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi replikator agar melibatkan calon pengguna akhir, seperti bidan dan petugas kesehatan perempuan, dalam proses pemilihan spesifikasi kendaraan sejak awal.

Desa atau lembaga kesehatan lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan membangun kemitraan lintas sektor sejak awal, mencakup Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi mitra, agar sistem pengawasan pemanfaatan kendaraan berjalan efektif. Menyiapkan sistem logbook dan jadwal perawatan berkala sejak awal peminjaman kendaraan pertama juga disarankan agar data dan kondisi armada dapat terpantau sejak dini.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Program MST dijaga melalui sistem logbook dan perawatan berkala yang telah dilembagakan sebagai prosedur standar YKS, sehingga operasional pemeliharaan armada tidak bergantung pada satu individu semata. Kemitraan dengan Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi mitra yang rutin dilibatkan dalam monitoring dan evaluasi turut menjaga keberlangsungan pengawasan program dalam jangka panjang.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada kelembagaan YKS sebagai yayasan resmi, bukan sekadar inisiatif pribadi Mansetus Balawala, sehingga program berpeluang tetap berjalan meski kepemimpinan yayasan berganti di masa depan. Pelibatan mitra lokal sebagai pemantau lapangan turut membuka peluang regenerasi tenaga pengawas dari kalangan masyarakat setempat.

Rencana pendapatan mandiri jangka panjang diarahkan pada pengembangan bengkel YKS sebagai unit usaha layanan servis umum, yang diharapkan mengurangi ketergantungan penuh pada donor internasional untuk membiayai perawatan armada. YKS juga tengah menjajaki kerja sama pendanaan bersama Dinas Kesehatan Flores Timur agar Program MST dapat terus diperluas tanpa hanya mengandalkan sumbangan donor luar negeri.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program MST YKS berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari kehidupan sehat dan sejahtera hingga kemitraan multipihak. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik penyediaan akses transportasi kesehatan bagi tenaga kesehatan di Flores Timur sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Sepeda motor operasional mempercepat respons tenaga kesehatan menjangkau pasien darurat di wilayah kepulauan berbukit Flores Timur. Kematian akibat keterlambatan pertolongan pada Bidan Yanti nihil dalam tiga bulan pertama pemanfaatan motor; kasus gizi buruk anak turun dari 167 menjadi 27 di wilayah program serupa.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Program menjangkau tenaga kesehatan di desa-desa terpencil kepulauan yang sebelumnya tertinggal akses transportasi dibanding wilayah kota kecamatan. Cakupan wilayah pelayanan kesehatan meningkat mencakup desa-desa yang sebelumnya sulit dijangkau tanpa kendaraan operasional.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi YKS dengan Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan, dan donor internasional seperti Riders for Health dan Motorcycle Outreach menunjukkan model kemitraan multipihak. Tujuh mitra pendanaan internasional tercatat mendukung pengadaan dan perawatan armada motor kesehatan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa atau lembaga kesehatan lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, kesediaan Dinas Kesehatan setempat menjadi mitra pengawasan pemanfaatan kendaraan. Kedua, ketersediaan bengkel atau teknisi lokal yang dapat dilatih melakukan perawatan berkala kendaraan. Ketiga, kesediaan tenaga kesehatan penerima mematuhi tata tertib pemanfaatan kendaraan operasional, termasuk pencatatan logbook.

Estimasi biaya replikasi dapat mengacu pada pengadaan 14 unit sepeda motor jenis Honda Revo yang dilakukan YKS pada 2005 sebagai armada standar [7]. Durasi pengembangan penuh berlangsung sekitar tiga tahun sejak uji coba model motor pertama hingga penetapan armada Honda Revo, menunjukkan bahwa program semacam ini memerlukan tahap evaluasi kendaraan sebelum pengadaan massal dilakukan.

Model MST dapat diadaptasi lembaga kesehatan lain dengan menyesuaikan jenis kendaraan pada kondisi geografis setempat, baik wilayah kepulauan seperti Flores Timur maupun dataran tinggi pegunungan lain di Indonesia. Studi uji lapangan terhadap sistem manajemen armada motor kesehatan serupa di Zambia turut membuktikan penurunan tingkat kerusakan kendaraan secara signifikan, memperkuat bukti replikabilitas model ini di berbagai konteks geografis [8]. Kementerian Kesehatan maupun Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi berpeluang menjadikan model MST YKS sebagai rujukan replikasi bagi daerah terpencil lain yang tenaga kesehatannya masih menghadapi kendala transportasi.

 

Daftar Pustaka

[1] Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI), “Tak Ada Lagi Kematian Karena Terlambat Ditolong,” bakti.or.id. [Online]. Tersedia: https://bakti.or.id/praktik-cerdas/tak-ada-lagi-kematian-karena-terlambat-ditolong

[2] Center for Tropical Medicine UGM, “Bidan Ety: Ambulans Motor Membantu Saya Selamatkan Nyawa Ibu & Bayi,” centertropmed-ugm.org. [Online]. Tersedia: https://centertropmed-ugm.org/bidan-ety-ambulans-motor-membantu-saya-selamatkan-nyawa-ibu-bayi/

[3] Motorcycle Outreach, “Activities,” motorcycleoutreach.org. [Online]. Tersedia: https://www.motorcycleoutreach.org/activities

[4] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Kabupaten Flores Timur,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Flores_Timur

[5] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Sarotari Tengah, Larantuka, Flores Timur,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sarotari_Tengah,_Larantuka,_Flores_Timur

[6] Wikipedia, “Riders for Health,” en.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Riders_for_Health

[7] 100KPJ, “Kisah Pria Flores Beli 14 Motor demi Selamatkan Nyawa,” 100kpj.com. [Online]. Tersedia: https://www.100kpj.com/motonews/1170-kisah-pria-flores-beli-14-motor-demi-selamatkan-nyawa

[8] K. M. Mehta, F. Rerolle, S. V. Rammohan, et al., “Systematic Motorcycle Management and Health Care Delivery: A Field Trial,” American Journal of Public Health, vol. 106, no. 1, pp. 87-94, 2016. doi: 10.2105/AJPH.2015.302891

 

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Program Manajemen Sarana Transportasi (MST) - Motor Operasional bagi Tenaga Kesehatan
Alamat
Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Inovator
Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS), digagas Mansetus Balawala bersama Simon Milward
Kontak
Telepon 0383-2325194, email yksflores@yahoo.co.id, website www.yksflores.org
Lokasi