Ringkasan Inovasi

Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, mengembangkan Goa Ngesong, gua unik di kaki Gunung Anjasmoro, menjadi destinasi wisata alam desa [1]. Gua ini ditemukan warga secara tidak sengaja saat mencari rumput pakan ternak di perbukitan antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo, kemudian dikembangkan Pemerintah Desa Pulosari bersama relawan lokal di bawah koordinasi Kepala Dusun Pulosari, Widji [3]. Nama Ngesong berasal dari bahasa Jawa berarti tembus, merujuk pada struktur gua yang menembus bukit dengan dua bibir menghadap barat dan timur, di mana sisi barat kini tertutup batu besar sesuai legenda setempat tentang tokoh sakti yang menutup sarang kirik kikik. Gua ini terletak tak jauh dari Candi Arimbi, cagar budaya peninggalan Majapahit yang diyakini sebagai tempat pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, ibunda Hayam Wuruk, dan telah didokumentasikan sejak akhir abad ke-19 oleh naturalis Alfred Russel Wallace [4]. Pemerintah Desa Pulosari, di bawah Kepala Desa Nefi Ufus Solikah, kini merancang pengelolaan Goa Ngesong bersama air terjun Grojokan Parang Ondo melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) agar menjadi sumber Pendapatan Asli Desa [2], [5].

 

Latar Belakang

Desa Pulosari berada di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, di kaki Gunung Anjasmoro dengan topografi berbukit pada ketinggian 300-400 meter di atas permukaan laut, terbagi dalam tiga dusun [2]. Nama desa berasal dari pohon polosari yang dulu tumbuh subur di wilayah ini, meski kini jarang ditemukan kecuali satu pohon yang masih dipertahankan di depan kantor desa, sementara asal-usul desa sendiri dikaitkan warga dengan legenda era Kerajaan Majapahit serta pembukaan hutan oleh Kyai Sari dan Mayang Sari yang mendirikan Kampung Pulosari [5].

Sebelum dikembangkan sebagai destinasi wisata, potensi alam Desa Pulosari, termasuk Goa Ngesong, air terjun Grojokan Parang Ondo, dan kawasan Sumber Bengawan, belum dikelola secara terorganisir sehingga tidak memberi nilai ekonomi bagi warga. Padahal desa ini menyimpan kekayaan alam dan sejarah yang berdekatan dengan Candi Arimbi, cagar budaya peninggalan Majapahit yang sudah lebih dulu dikenal wisatawan dan peneliti [4].

Momentum pengembangan wisata ini bermula dari penemuan Goa Ngesong secara tidak sengaja oleh warga yang mencari rumput pakan ternak di perbukitan antara Dusun Pulosari dan Sumbermulyo [3]. Penemuan ini mendorong Pemerintah Desa Pulosari dan relawan lokal, dikoordinasikan Widji selaku Kepala Dusun Pulosari, untuk menggali potensi wisata yang selama ini terpendam di wilayah mereka.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Goa Ngesong sebagai destinasi wisata alam desa, memadukan keunikan geologis gua yang menembus bukit dengan panorama air terjun, sungai jernih, dan hutan rimbun di sekitarnya [1]. Pemerintah desa memosisikan Goa Ngesong bukan sekadar objek tunggal, melainkan bagian dari paket wisata alam kaki Anjasmoro yang mencakup Grojokan Parang Ondo dan kedekatan dengan Candi Arimbi.

Mekanismenya melibatkan gotong royong warga dan relawan membersihkan area, menata akses jalan, dan mempersiapkan fasilitas dasar bagi pengunjung, sembari mengangkat narasi legenda kirik kikik dan koneksi historis dengan Candi Arimbi sebagai daya tarik naratif situs [3]. Yang membedakan pendekatan ini dari sekadar promosi wisata alam adalah upaya menggabungkan unsur mistis, sejarah Majapahit, dan keindahan geologis dalam satu paket cerita yang memperkaya pengalaman wisatawan.

 

Proses Penerapan Inovasi

Setelah penemuan Goa Ngesong oleh warga, Pemerintah Desa Pulosari mulai menata akses dan piranti wisata yang dibutuhkan, sebagaimana disampaikan Sekretaris Desa Muchammad Nurul yang menegaskan konsep Pulosari sebagai desa wisata segera direalisasikan [3]. Proses ini melibatkan pembersihan area gua dan penataan jalur akses menuju bibir gua timur yang berjarak sekitar 200 meter dari Balai Desa Pulosari, dilanjutkan jalur menurun sejauh 100 meter.

Pada tahap awal pengembangan, akses menuju Goa Ngesong masih terbatas dan menantang, dengan jalur kendaraan bermotor hanya bisa menjangkau sebagian jalan sebelum pengunjung harus berjalan kaki menuruni jalur curam, sehingga pengelola menyadari perlunya penataan akses bertahap agar destinasi ini lebih ramah bagi wisatawan umum, bukan hanya pendaki berpengalaman. Pembelajaran dari tahap ini mendorong pemerintah desa memprioritaskan penataan infrastruktur akses sebelum promosi wisata besar-besaran dilakukan.

Ketertarikan akademis turut menyertai proses pengembangan ini, dengan mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) dan Universitas Darul Ulum (Undar) melakukan penelitian dan studi kelayakan atas potensi wisata Goa Ngesong [3]. Kajian akademis ini membantu Pemerintah Desa Pulosari merancang strategi pengembangan yang lebih terukur sebelum mengelola situs ini secara profesional melalui BUMDesa.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah keterbatasan infrastruktur akses menuju gua yang curam dan menantang, sehingga belum ramah bagi wisatawan umum, terutama keluarga dengan anak-anak atau lansia. Pemerintah desa dan relawan mengatasinya secara bertahap melalui kerja gotong royong menata jalur akses dan fasilitas dasar, sembari menunggu dukungan pendanaan lebih besar untuk penataan permanen.

Tantangan eksternal berupa persaingan dengan destinasi wisata alam dan sejarah lain di Jombang, termasuk Candi Arimbi yang sudah lebih dulu dikenal luas, turut menjadi pertimbangan strategi promosi. Pemerintah desa memitigasi hal ini dengan memosisikan Goa Ngesong sebagai pelengkap paket wisata kawasan, memanfaatkan kedekatan lokasi dengan Candi Arimbi alih-alih bersaing langsung sebagai destinasi tunggal.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah semangat gotong royong warga Desa Pulosari dan relawan lokal yang bersedia bekerja bersama membersihkan dan menata Goa Ngesong tanpa menunggu proyek besar dari pemerintah kabupaten [1]. Koordinasi Widji sebagai Kepala Dusun Pulosari turut memastikan inisiatif warga terarah dan berkelanjutan.

Faktor kedua adalah kekayaan narasi situs, yang menggabungkan keunikan geologis, legenda kirik kikik, dan koneksi historis dengan Candi Arimbi, sehingga Goa Ngesong menawarkan pengalaman wisata yang lebih kaya dibanding sekadar keindahan alam semata. Dukungan kajian akademis dari mahasiswa Untag dan Undar turut memperkuat dasar perencanaan pengembangan situs ini [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum dikembangkan, Goa Ngesong dan potensi alam sekitarnya tidak dikenal luas dan tidak memberi nilai ekonomi bagi warga Desa Pulosari. Setelah ditata melalui kerja gotong royong warga dan relawan, Goa Ngesong kini mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam yang dipromosikan melalui situs resmi desa dan liputan media lokal seperti Kabar Jombang [3].

Warga Desa Pulosari kini memiliki kebanggaan baru atas kekayaan alam dan sejarah desanya, yang sebelumnya kurang dikenal dibanding Candi Arimbi. Ketertarikan mahasiswa dan media lokal turut mengangkat profil Desa Pulosari sebagai kawasan wisata potensial di kaki Gunung Anjasmoro.

Dampak spillover dari inovasi ini adalah rencana pengelolaan terpadu Goa Ngesong bersama Grojokan Parang Ondo dan potensi wisata lain di Desa Pulosari melalui BUMDesa, yang jika terealisasi dapat memperluas manfaat ekonomi ke seluruh warga desa, tidak hanya di sekitar lokasi gua [2]. Desa Pulosari, yang dikenal dengan julukan “Panyongone Anjasmoro,” juga berpotensi menggabungkan promosi wisata alam dengan produk unggulan keripik singkong sebagai oleh-oleh khas wisatawan [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal pengembangan Goa Ngesong berasal dari swadaya warga dan relawan lokal dalam bentuk tenaga kerja gotong royong untuk membersihkan dan menata area wisata, tanpa investasi besar dari anggaran pemerintah desa. Dukungan Dana Desa dan Pendapatan Daerah dari Retribusi Daerah (PDRD) turut menjadi sumber pembiayaan program pengembangan ekonomi desa secara umum, termasuk potensi sektor wisata [2].

Model bisnis ke depan diarahkan melalui pengelolaan profesional oleh BUMDesa, yang direncanakan mengelola tiket masuk, jasa pemandu wisata, dan produk oleh-oleh seperti keripik singkong, sehingga pendapatan dari wisata Goa Ngesong dapat menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa yang berkelanjutan.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Desa Pulosari menunjukkan bahwa keputusan memulai pengembangan wisata dari kerja gotong royong warga dan relawan, alih-alih menunggu investasi besar dari luar, adalah keputusan kunci yang tepat karena memungkinkan destinasi mulai dikenal tanpa modal besar di tahap awal. Melibatkan kajian akademis mahasiswa sejak dini juga membantu merancang strategi pengembangan yang lebih terarah.

Jika memulai dari awal, penataan infrastruktur akses menuju gua idealnya sudah direncanakan lebih matang sejak tahap awal, mengingat medan yang curam dan menantang berpotensi membatasi segmen wisatawan yang bisa berkunjung, terutama keluarga dan lansia.

Bagi desa lain yang memiliki potensi wisata alam serupa namun belum tergali, saran praktisnya adalah memanfaatkan narasi lokal seperti legenda dan koneksi sejarah untuk memperkaya daya tarik situs, menggandeng perguruan tinggi setempat untuk studi kelayakan, serta memulai penataan dari kerja gotong royong warga sebelum mengajukan pendanaan lebih besar.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan pengembangan Goa Ngesong direncanakan melalui pengelolaan profesional di bawah BUMDesa, sehingga tata kelola wisata tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kerja swadaya dan gotong royong warga semata.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada struktur pemerintahan desa formal, dengan Kepala Desa Pulosari saat ini, Nefi Ufus Solikah, meneruskan visi pengembangan wisata yang dirintis bersama koordinasi Widji di tingkat dusun [5]. Keterlibatan relawan lokal dan mahasiswa turut memastikan pengetahuan pengelolaan situs tidak bergantung pada satu individu semata.

Rencana pendapatan mandiri desa ke depan diperkuat dengan menggabungkan potensi wisata Goa Ngesong, Grojokan Parang Ondo, dan produk unggulan keripik singkong dalam satu paket wisata terpadu di bawah BUMDesa, sehingga desa memiliki beberapa sumber pendapatan yang saling melengkapi, tidak bergantung pada satu objek wisata saja.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi pengembangan wisata Goa Ngesong di Desa Pulosari berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengembangan wisata membuka alternatif sumber penghidupan bagi warga di luar sektor pertanian dan produk keripik singkong. Rencana pengelolaan wisata dan oleh-oleh melalui BUMDesa
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan wisata melalui BUMDesa berpotensi membuka lapangan kerja baru dan pendapatan asli desa dari sektor pariwisata. Rencana pembentukan unit usaha wisata di bawah BUMDesa
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Pengembangan wisata turut melestarikan narasi budaya dan sejarah lokal, termasuk koneksi dengan Candi Arimbi peninggalan Majapahit. Legenda dan sejarah situs terus diceritakan kepada pengunjung
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pengembangan wisata alam mendorong pelestarian kawasan hutan, sungai, dan perbukitan di sekitar Goa Ngesong dan Sumber Bengawan. Kawasan hutan dan aliran Sumber Bengawan tetap terjaga sebagai daya tarik wisata
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi Pemerintah Desa, relawan lokal, dan mahasiswa Untag serta Undar memperkuat kajian dan perencanaan pengembangan wisata. 2 perguruan tinggi terlibat dalam studi kelayakan wisata

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan wisata berbasis penemuan warga dan kerja gotong royong ini berpotensi direplikasi oleh desa lain yang memiliki potensi alam serupa namun belum tergali, khususnya desa yang berdekatan dengan situs sejarah atau cagar budaya yang sudah lebih dulu dikenal. Prasyarat minimum meliputi keberadaan potensi alam atau situs yang bisa dinarasikan secara menarik, kesediaan warga bergotong royong menata akses awal, serta dukungan perguruan tinggi setempat untuk studi kelayakan.

Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau pada tahap awal karena mengandalkan swadaya warga untuk penataan dasar, sebelum memerlukan investasi lebih besar untuk infrastruktur permanen dan pengelolaan profesional melalui BUMDesa. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan memetakan narasi lokal seperti legenda dan koneksi sejarah yang dimiliki wilayahnya, sebagaimana Desa Pulosari memanfaatkan kedekatan dengan Candi Arimbi untuk memperkaya daya tarik Goa Ngesong.

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Mutiara Tersembunyi di Kaki Anjasmoro: Menyingkap Pesona Mistis Goa Ngesong Jombang,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/id-00008-mutiara-tersembunyi-di-kaki-anjasmoro-menyingkap-pesona-mistis-goa-ngesong-jombang/

[2] Pemerintah Desa Pulosari, “Selayang Pandang Desa Pulosari,” pulosari-bareng.jombangkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://pulosari-bareng.jombangkab.go.id/desa/selayang

[3] Kabar Jombang, “Keelokan Tersembunyi Goa Ngesong di Desa Pulosari,” kabarjombang.com. [Online]. Tersedia: https://kabarjombang.com/travel-kuliner/keelokan-tersembunyi-goa-ngesong-di-desa-pulosari/

[4] Kontributor Wikipedia, “Candi Rimbi,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Rimbi

[5] Desa Kita, “Asal-usul Desa Pulosari Kecamatan Bareng Jombang: Dulunya Terdapat Banyak Tanaman Polosari, Ada Sejak Era Kerajaan Majapahit,” desakita.co. [Online]. Tersedia: https://desakita.co/pemerintahan/5634/asal-usul-desa-pulosari-kecamatan-bareng-jombang-dulunya-terdapat-banyak-tanaman-polosari-ada-sejak-era-kerajaan-majapahit/

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pengembangan Objek Wisata Goa Ngesong
Alamat
Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
Inovator
Pemerintah Desa Pulosari bersama relawan lokal, dikoordinasikan Widji (Kepala Dusun Pulosari)
Kontak
0858-9532-2224, http://pulosari.id
Lokasi