Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Sidamulih, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, mengembangkan data geospasial berbasis drone sebagai data pendukung perencanaan pembangunan desa sejak 2015, tidak puas hanya mengandalkan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) meski partisipasi warga sudah tergolong baik [1]. Inovasi ini digagas pada masa kepemimpinan Tati Karyati, S.Pd, Kepala Desa perempuan pertama Sidamulih yang menjabat 2011-2017 [1]. Diawali workshop pemetaan potensi desa pada April 2015 hasil kolaborasi dengan DeDeMIT Ciamis, Gerakan Desa Membangun, dan Yayasan Gedhe Nusantara, Desa Sidamulih menjadi desa pertama di Kabupaten Ciamis yang mempraktikkan pemetaan menggunakan Drone Desa [5]. Pemerintah desa menggandeng perusahaan pemetaan Bukapeta dari Jakarta untuk memfasilitasi pencitraan jarak jauh, pelatihan pembuatan peta digital, dan membangun sistem informasi peta desa. Peta digital hasil pencitraan drone menjadi rujukan penyusunan Rencana Kegiatan Pemerintah Desa (RKPDes), menggantikan kebiasaan lama mengacu peta dari kabupaten yang kurang akurat. Praktik ini telah dipublikasikan dalam film dokumenter yang diproduksi ICT Watch Jakarta dan diputar di berbagai daerah.
Latar Belakang
Desa Sidamulih berkedudukan di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, berdiri sejak 1884 sebagai hasil pemekaran dari wilayah Ciparay [1]. Topografi desa berupa perbukitan dan hutan negara yang masih terjaga, dengan wilayah seluas 1.228 hektare terbagi dalam empat dusun — Cibayawak, Karanganyar, Legokmenol, dan Malabar — dan penduduk sekitar 3.495 jiwa, sekitar 84 persen di antaranya bekerja sebagai petani [2]. Kelestarian hutan desa ini bahkan pernah mengantarkan Sidamulih meraih predikat Juara Nasional Bidang Kehutanan pada 2007 [2].
Sebelum inovasi ini hadir, Pemerintah Desa Sidamulih mengandalkan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) sebagai satu-satunya basis data perencanaan, meski keterlibatan warga di forum tersebut tergolong baik. Pemerintah desa menyadari bahwa prinsip partisipatif saja belum cukup tanpa didukung data yang akurat dan sahih, sementara peta yang selama ini digunakan hanya mengacu pada gambar peta dari kabupaten yang kurang mendetail untuk kebutuhan perencanaan tingkat desa.
Momentum perubahan ini muncul pada masa kepemimpinan Tati Karyati, S.Pd, Kepala Desa perempuan pertama Sidamulih yang menjabat 2011-2017 dan dikenal aktif membawa desa meraih berbagai capaian, termasuk status desa peradaban [1]. Ketidakpuasan terhadap keterbatasan data pembangunan mendorong Pemerintah Desa Sidamulih menggelar workshop pemetaan potensi desa pada April 2015, saat itulah Drone Desa pertama kali diperkenalkan sebagai alat bantu pencitraan jarak jauh [5].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan data geospasial berbasis drone sebagai basis perencanaan pembangunan dan pemberdayaan desa yang lebih akurat, melengkapi prinsip partisipatif yang sudah berjalan lewat Musrenbangdes. Untuk urusan data geospasial, Desa Sidamulih menjadi desa pertama yang berinisiatif mempraktikkan pemetaan desa menggunakan drone di Kabupaten Ciamis.
Mekanismenya melibatkan kerja sama dengan Bukapeta, perusahaan pemetaan asal Jakarta, yang memfasilitasi pencitraan jarak jauh menggunakan drone, pelatihan pembuatan peta digital, dan pembangunan sistem informasi peta desa, didukung pula kolaborasi dengan DeDeMIT Ciamis, Gerakan Desa Membangun, dan Yayasan Gedhe Nusantara [5]. Yang membedakan pendekatan ini dari perencanaan desa konvensional adalah rupa bumi Desa Sidamulih dapat tervisualisasi dengan jelas melalui peta digital, menjadi rujukan langsung penyusunan Rencana Kegiatan Pemerintah Desa (RKPDes), bukan lagi sekadar mengandalkan peta kabupaten yang kurang detail.
Proses Penerapan Inovasi
Pengembangan data geospasial dimulai pada 2015, diawali sebuah workshop pemetaan potensi desa yang mempertemukan Pemerintah Desa Sidamulih dengan DeDeMIT Ciamis, Gerakan Desa Membangun, dan Yayasan Gedhe Nusantara pada April 2015 [5]. Saat workshop itulah Drone Desa diperkenalkan sebagai alat bantu pencitraan jarak jauh kepada perangkat dan warga desa.
Pemerintah Desa Sidamulih menyadari bahwa selama ini mereka hanya mengacu gambar peta dari kabupaten, yang ternyata tidak cukup detail untuk mendukung perencanaan program pembangunan fisik dan nonfisik secara tepat sasaran. Koreksi atas ketergantungan pada peta kabupaten inilah yang mendorong desa menggandeng Bukapeta untuk membangun kapabilitas pemetaan mandiri, sehingga desa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada data eksternal yang tidak selalu sesuai kondisi riil di lapangan.
Hasil pencitraan jarak jauh menggunakan drone menjadi bahan dasar penyusunan peta partisipatif desa, membantu Pemerintah Desa mengidentifikasi potensi desa sekaligus upaya pembenahan tata ruang dan tata wilayah. Praktik inovasi ini kemudian dipublikasikan dalam film dokumenter yang diproduksi ICT Watch Jakarta dan telah diputar di berbagai daerah maupun sejumlah negara, meski detail lengkap produksi film ini tidak sepenuhnya terlacak dalam dokumentasi publik yang tersedia.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan kapasitas teknis perangkat desa dalam mengoperasikan drone maupun mengolah data hasil pencitraan menjadi peta digital yang bisa dipahami dan dimanfaatkan untuk perencanaan. Pemerintah desa mengatasinya dengan menggandeng Bukapeta yang secara khusus memfasilitasi pelatihan pembuatan peta digital bagi perangkat desa, bukan sekadar menyerahkan hasil pemetaan tanpa transfer pengetahuan.
Tantangan eksternal berupa ketiadaan preseden desa lain di Kabupaten Ciamis yang menggunakan teknologi serupa membuat Desa Sidamulih harus merintis sendiri sebagai desa pertama, tanpa contoh langsung yang bisa dipelajari dari sesama desa di wilayahnya. Pemerintah desa memitigasi hal ini dengan memanfaatkan jaringan kolaborasi lebih luas seperti Gerakan Desa Membangun dan Yayasan Gedhe Nusantara yang sudah berpengalaman mendampingi desa-desa lain di Indonesia dalam pemanfaatan teknologi informasi [5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah kepemimpinan Tati Karyati yang berani mengambil langkah tidak lazim bagi desa seukuran Sidamulih pada masanya, yaitu berinvestasi pada teknologi pemetaan drone yang saat itu masih sangat jarang digunakan di tingkat desa mana pun di Indonesia [1].
Faktor kedua adalah kolaborasi multipihak yang solid, melibatkan Bukapeta sebagai mitra teknis pemetaan, DeDeMIT Ciamis, Gerakan Desa Membangun, dan Yayasan Gedhe Nusantara sebagai jaringan pendukung, sehingga Desa Sidamulih tidak perlu membangun kapasitas pemetaan drone sepenuhnya dari nol secara mandiri [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum inovasi ini diterapkan, Pemerintah Desa Sidamulih hanya mengandalkan gambar peta dari kabupaten yang kurang detail, sehingga program pembangunan berisiko kurang tepat sasaran. Setelah data geospasial berbasis drone diterapkan sejak 2015, rupa bumi Desa Sidamulih dapat tervisualisasi dengan jelas melalui peta digital yang menjadi rujukan langsung penyusunan RKPDes.
Pemanfaatan drone menghasilkan peta desa yang lebih akurat, sehingga program pembangunan fisik dan nonfisik menjadi semakin tepat sasaran, baik untuk identifikasi potensi desa maupun upaya pembenahan tata ruang dan tata wilayah. Status Desa Sidamulih sebagai pelopor pemanfaatan Drone Desa di Kabupaten Ciamis turut memperkuat reputasi desa, apalagi sebelumnya desa ini juga dikenal sebagai pelopor pemanfaatan website desa lewat sidamulih.desa.id.
Dampak spillover dari inovasi ini terlihat dari publikasi film dokumenter oleh ICT Watch Jakarta yang memperkenalkan praktik pemanfaatan data geospasial Desa Sidamulih ke berbagai daerah dan sejumlah negara. Warisan penataan data dan informasi desa ini turut berlanjut hingga saat ini, tecermin dari koordinasi pengembangan desa wisata yang digelar Kecamatan Pamarican bersama Pemerintah Desa Sidamulih pada Mei 2023, memanfaatkan basis data potensi desa yang sudah terbangun sejak era pemetaan drone [4].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal pengembangan data geospasial berasal dari kombinasi anggaran desa dan dukungan kolaborasi nonfinansial dari mitra eksternal, dengan Bukapeta memfasilitasi pencitraan jarak jauh, pelatihan pembuatan peta digital, dan pembangunan sistem informasi peta desa sebagai bagian dari kerja sama, bukan semata transaksi jasa berbayar penuh.
Model keberlanjutannya tidak berorientasi pada pendapatan komersial langsung, melainkan pada nilai tidak langsung berupa efisiensi perencanaan pembangunan desa, karena data peta yang akurat mengurangi risiko kesalahan alokasi anggaran untuk program fisik maupun nonfisik yang tidak tepat sasaran.
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Desa Sidamulih menunjukkan bahwa keputusan tidak puas hanya pada partisipasi warga semata, tetapi juga menuntut data akurat dan sahih sebagai dasar perencanaan, adalah keputusan kunci yang tepat karena kualitas data secara langsung memengaruhi ketepatan sasaran program pembangunan desa.
Jika memulai dari awal, transfer pengetahuan pengoperasian drone dan pengolahan data kepada perangkat desa idealnya sudah dirancang sejak tahap kerja sama awal dengan mitra teknis, agar desa tidak selamanya bergantung pada pihak luar setiap kali membutuhkan pembaruan data geospasial.
Bagi desa lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa, saran praktisnya adalah menjajaki kolaborasi dengan jaringan pendamping desa yang sudah berpengalaman seperti Gerakan Desa Membangun, mencari mitra teknis pemetaan yang bersedia memberikan pelatihan bukan sekadar jasa pencitraan, serta memastikan hasil pemetaan benar-benar diintegrasikan ke dokumen perencanaan resmi seperti RKPDes.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan pemanfaatan data geospasial Desa Sidamulih ditopang integrasinya ke dalam dokumen perencanaan resmi RKPDes, sehingga peta digital hasil pemetaan drone tidak berhenti sebagai proyek satu kali, melainkan menjadi rujukan rutin setiap penyusunan program pembangunan desa.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan telah teruji sejak masa Tati Karyati sebagai Kepala Desa perempuan pertama Sidamulih (2011-2017) hingga kepemimpinan desa saat ini di bawah Kepala Desa Hadli, yang meneruskan agenda pengembangan desa termasuk koordinasi desa wisata berbasis data potensi desa yang sudah terbangun [3], [4].
Rencana keberlanjutan ke depan dapat diperkuat dengan memanfaatkan basis data geospasial yang sudah ada untuk mendukung pengembangan desa wisata, sebagaimana mulai dirintis lewat koordinasi bersama Kecamatan Pamarican pada 2023, sehingga investasi pemetaan drone sejak 2015 terus memberi nilai tambah baru bagi desa di luar sekadar perencanaan infrastruktur.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Drone Desa di Sidamulih berkontribusi pada lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang saling berkaitan, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | Pelatihan pembuatan peta digital dari Bukapeta meningkatkan kapasitas teknis perangkat desa dalam mengelola data geospasial. | Perangkat desa dilatih membuat dan mengelola peta digital |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Inovasi ini digagas dan dipimpin Tati Karyati, kepala desa perempuan pertama Sidamulih, menunjukkan kepemimpinan perempuan yang progresif di tingkat desa. | Kepala desa perempuan pertama menjabat 2011-2017 |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pemanfaatan Drone Desa dan sistem informasi peta digital menjadi infrastruktur data inovatif pertama di tingkat kabupaten. | Desa pertama di Kabupaten Ciamis menerapkan pemetaan drone |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | Perencanaan pembangunan berbasis data akurat dan sahih memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola desa. | Peta digital menjadi rujukan resmi penyusunan RKPDes |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi dengan Bukapeta, DeDeMIT Ciamis, Gerakan Desa Membangun, dan Yayasan Gedhe Nusantara menjadi model kemitraan multipihak. | 4 mitra (Bukapeta, DeDeMIT, GDM, Gedhe Nusantara) berkolaborasi aktif |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pemetaan berbasis Drone Desa yang dirintis Sidamulih sangat layak direplikasi oleh desa lain yang masih mengandalkan peta kabupaten dengan detail terbatas. Prasyarat minimum meliputi kepemimpinan desa yang terbuka pada teknologi baru, akses kolaborasi dengan mitra teknis pemetaan atau jaringan pendamping desa seperti Gerakan Desa Membangun, serta komitmen mengintegrasikan hasil pemetaan ke dokumen perencanaan resmi seperti RKPDes.
Estimasi manfaat replikasi dapat dilihat dari status Desa Sidamulih sebagai desa pertama di Kabupaten Ciamis yang mempraktikkan pemetaan drone, yang kemudian menjadi rujukan pembelajaran lewat film dokumenter yang diputar di berbagai daerah dan negara. Desa lain dapat mengadaptasi model ini dengan menjajaki kemitraan serupa dengan perusahaan pemetaan atau lembaga pendamping desa, disesuaikan dengan kebutuhan topografi dan potensi wilayah masing-masing.
Daftar Pustaka
[1] Kontributor Wikipedia, “Sidamulih, Pamarican, Ciamis,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sidamulih,_Pamarican,_Ciamis
[2] Pemerintah Desa Sidamulih, “Profil Desa Sidamulih,” slideshare.net. [Online]. Tersedia: https://www.slideshare.net/slideshow/profil-desa-sidamulih-siap/38398367
[3] Harapan Rakyat, “Oknum Mengaku Wartawan Resahkan Pemdes Sidamulih Ciamis, Anggaran DD Jadi Senjata Intimidasi,” harapanrakyat.com, Nov. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.harapanrakyat.com/2025/11/oknum-mengaku-wartawan-resahkan-pemdes-sidamulih-ciamis-anggaran-dd-jadi-senjata-intimidasi/
[4] Kecamatan Pamarican, “Koordinasi Desa Wisata di Desa Sidamulih,” kecamatan-pamarican.ciamiskab.go.id, 10 Mei 2023. [Online]. Tersedia: https://kecamatan-pamarican.ciamiskab.go.id/berita/koordinasi-desa-wisata-di-desa-sidamulih
[5] Yayasan Gedhe Nusantara, “DeDeMIT Ciamis Manfaatkan DesaOS untuk Pelayanan Desa,” gedhe.or.id. [Online]. Tersedia: https://www.gedhe.or.id/dedemit-ciamis-manfaatkan-desaos-untuk-pelayanan-desa/
Dukungan dari semua pikah sangat di perlukan agar desa tidak monoton dalam dalam mengartikan pembangunan
Merdesa!!!