Ringkasan Inovasi

Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, berhasil memecahkan persoalan keterisolasian transportasi sungai melalui inovasi sederhana namun berdampak besar: dermaga apung berbahan drum plastik 200 liter. Pemerintah Desa Pimping, dengan dukungan pendamping desa, mengubah material murah yang mudah didapat menjadi infrastruktur vital yang kuat, fleksibel, dan mudah dirawat. Inovasi ini menjawab kebutuhan mendesak warga yang selama bertahun-tahun bergantung pada tambatan perahu darurat yang rentan rusak, demi menunjang akses ke tempat kerja, sekolah, dan pasar di Tanjung Selor. Dengan anggaran Dana Desa sebesar Rp 30.000.000, desa berhasil membangun tambatan perahu yang mampu menyesuaikan ketinggian air secara otomatis, mengakhiri siklus perbaikan yang berulang, dan membangkitkan harapan warga akan konektivitas yang berkelanjutan.

Latar Belakang

Bayangkan sebuah desa yang dikepung oleh sungai dari segala penjuru. Itulah Desa Pimping — sebuah pemukiman di pedalaman Kalimantan Utara yang hidupnya bergerak di atas air. Sungai Pimping bukan sekadar bagian dari lanskap; ia adalah urat nadi kehidupan warga, jalan raya alami yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, terutama Tanjung Selor, pusat niaga dan layanan publik Kabupaten Bulungan [1]. Tanpa jalur sungai, anak-anak tidak bisa bersekolah, petani tidak bisa menjual hasil panen, dan ibu hamil tidak bisa menjangkau puskesmas.

Namun justru di titik konektivitas yang paling vital inilah masalah kronis bersarang. Tambatan perahu — jembatan antara darat dan sungai — kerap dibangun seadanya tanpa perencanaan teknis yang matang. Konstruksi kayu sederhana itu bertahan hanya beberapa bulan sebelum lapuk atau terseret arus. Setiap kali musim hujan tiba dan air meluap, tambatan terendam dan tidak bisa digunakan [3]. Perbaikan berulang menyedot anggaran tanpa memberi solusi permanen. Situasi ini bukan sekadar soal kenyamanan — ini soal keadilan akses bagi ribuan jiwa yang terjebak dalam lingkaran keterisolasian.

Di sisi lain, standar teknis menuntut dermaga berbahan baja agar kuat dan tahan lama. Namun biaya konstruksi baja jauh melampaui kemampuan fiskal desa. Pemerintah Desa Pimping berada di persimpangan: mempertahankan pola lama yang boros namun tidak efektif, atau mencari terobosan baru yang terjangkau namun andal [2]. Pilihan kedua akhirnya yang membuka babak baru bagi desa ini.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi hadir bukan dari laboratorium canggih, melainkan dari ruang musyawarah sederhana. Dalam sebuah pertemuan antara pemerintah desa dan Yermi, Tenaga Ahli Infrastruktur Desa dari Kabupaten Bulungan, sebuah gagasan muncul: mengapa tidak memanfaatkan drum plastik berkapasitas 200 liter sebagai media apung? Drum plastik mudah didapat di wilayah tersebut, harganya jauh lebih murah daripada baja, bobotnya ringan, dan — yang paling penting — mampu mengapung secara konsisten mengikuti fluktuasi permukaan air sungai [4].

Konsep teknisnya elegan dalam kesederhanaannya. Sejumlah drum plastik disusun sejajar sebagai pontoon — rangka apung yang memberi daya angkat. Di atasnya, papan kayu dipasang sebagai permukaan pijak yang nyaman dan kokoh. Drum dan papan diikat menggunakan baut dan mur besi sehingga konstruksi menjadi satu kesatuan yang kuat namun tetap fleksibel [5]. Berbeda dengan dermaga permanen yang terpasang kaku pada ketinggian tertentu, dermaga drum ini naik dan turun seiring perubahan debit sungai — sebuah keunggulan adaptif yang tidak bisa ditawarkan oleh beton atau baja dengan anggaran setara.

“Kami tidak mencari teknologi yang paling canggih. Kami mencari teknologi yang paling tepat — dan ternyata jawabannya ada di depan mata, dalam wujud drum plastik yang selama ini hanya dianggap bekas pakai.”

Inovasi ini sejalan dengan prinsip Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dianut dalam pembangunan desa: sederhana, terjangkau, mudah dipelihara, dan ramah lingkungan [6]. Desa Pimping membuktikan bahwa kreativitas lokal, saat diberi ruang dan kepercayaan, mampu menghasilkan solusi yang melampaui ekspektasi.

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan dari gagasan ke konstruksi nyata tidak berlangsung dalam semalam. Pemerintah Desa Pimping terlebih dahulu melakukan musyawarah desa untuk menyepakati desain, lokasi, dan besaran anggaran. Mekanisme ini bukan sekadar formalitas administratif — ia memastikan bahwa setiap rupiah Dana Desa yang dibelanjakan benar-benar merespons kebutuhan nyata warga [7].

  • Identifikasi Masalah & Gagasan Awal — Diskusi antara Kepala Desa Alan dan Tenaga Ahli Infrastruktur Yermi ST menghasilkan konsep pemanfaatan drum plastik sebagai alternatif ponton murah dan fungsional.
  • Musyawarah Desa & Penetapan Anggaran — Rencana dibahas dalam musyawarah desa; Dana Desa sebesar Rp 30.000.000 dialokasikan resmi untuk pembangunan tambatan perahu inovatif ini.
  • Pengadaan Material — Drum plastik 200 liter, papan kayu, baut, dan mur besi diperoleh dari pemasok lokal di wilayah Bulungan, mengurangi biaya logistik dan memperkuat ekonomi setempat.
  • Perakitan & Konstruksi — Drum ditata sejajar membentuk pontoon, papan kayu dipasang di atasnya sebagai dek pijak, lalu seluruh komponen diikat dengan baut dan mur besi. Proses ini melibatkan tenaga kerja lokal desa.
  • Uji Fungsi & Serah Terima — Dermaga diuji untuk memastikan stabilitas apung dan kemampuannya mengikuti pasang-surut air sebelum diserahterimakan kepada masyarakat.

Selama proses berlangsung, terdapat pembelajaran berharga. Percobaan awal menunjukkan bahwa jarak antar drum perlu dikalibrasi untuk distribusi berat yang optimal. Penggunaan baut berdiameter lebih besar terbukti meningkatkan kestabilan ikatan antara drum dan papan. Kegagalan teknis kecil ini justru menjadi aset: desa kini memiliki panduan praktis yang bisa dibagikan kepada desa lain yang ingin mereplikasi inovasi serupa [8].

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Seperti setiap inovasi, dermaga drum plastik juga menghadapi sejumlah tantangan nyata. Dari sisi teknis, drum plastik memiliki kelemahan terhadap paparan sinar matahari jangka panjang yang dapat menyebabkan material menjadi getas dan rapuh [12]. Di wilayah tropis dengan intensitas sinar UV yang tinggi seperti Kalimantan, Desa Pimping mengatasinya dengan memasang pelindung UV pada permukaan drum serta menjadwalkan inspeksi kondisi material setiap tiga bulan untuk mendeteksi tanda-tanda degradasi secara dini.

Risiko teknis lainnya adalah potensi kebocoran drum apabila terjadi benturan keras dari perahu bermuatan berat, yang dapat mengganggu distribusi daya apung dan membuat dermaga miring [13]. Selain itu, perawatan menggunakan api atau las pada drum bekas yang pernah menyimpan bahan kimia sangat berbahaya dan harus dihindari sepenuhnya. Kesadaran keselamatan warga terhadap aspek-aspek ini perlu terus ditingkatkan melalui pelatihan yang berkelanjutan.

⚠️ Catatan Penting untuk Replikasi: Pilih drum plastik baru atau drum bekas yang dipastikan tidak pernah menyimpan bahan kimia berbahaya. Pasang pelindung UV pada permukaan drum untuk memperpanjang usia pakai. Lakukan inspeksi berkala minimal setiap 3 bulan sekali.

Kendala non-teknis yang muncul adalah perubahan perilaku warga dalam penggunaan dermaga. Beban berlebih dan tambatan perahu yang tidak rapi dapat mempercepat keausan struktur. Edukasi warga tentang kapasitas beban dan cara penggunaan yang benar menjadi agenda keberlanjutan yang tidak kalah penting dari perawatan fisik struktur itu sendiri [8].

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini tidak terjadi begitu saja — ada beberapa faktor kunci yang saling menopang. Pertama, kolaborasi yang tulus antara pemerintah desa dan pendamping desa. Tenaga Ahli Infrastruktur Yermi ST berperan bukan hanya sebagai pemberi solusi teknis, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu desa memformulasikan masalah secara tepat dan menemukan jawaban dari dalam potensi lokal mereka sendiri [9].

Kedua, kepemimpinan Kepala Desa Alan yang berani mengambil keputusan nonkonvensional. Dalam konteks birokrasi desa yang cenderung mengulang pola lama demi keamanan administratif, memilih pendekatan baru seperti dermaga drum plastik membutuhkan nyali dan keyakinan. Kepercayaan warga pada pemimpinnya menjadi fondasi sosial yang menopang seluruh proses implementasi [10].

Ketiga, ketersediaan bahan baku lokal. Drum plastik mudah ditemukan di wilayah Bulungan — baik dari hasil perdagangan maupun sisa kegiatan industri. Fakta ini menjadikan inovasi benar-benar berbasis sumber daya lokal, bukan bergantung pada rantai pasok dari luar daerah yang rentan terputus. Kombinasi ketiga faktor inilah yang mengubah sebuah gagasan sederhana menjadi infrastruktur nyata yang mengubah kehidupan warga.


Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling langsung dari inovasi ini adalah pulihnya akses transportasi sungai yang andal bagi seluruh warga Desa Pimping. Anak-anak kini bisa berangkat sekolah ke Tanjung Selor tanpa khawatir tambatan perahu dalam kondisi rusak atau terendam banjir. Para pedagang bisa memastikan hasil bumi mereka sampai ke pasar tepat waktu. Ibu hamil dan warga yang membutuhkan layanan kesehatan mendapatkan kepastian akses yang selama ini tidak ada [11].

Secara ekonomi, efisiensi biaya sangat signifikan. Konstruksi baja yang menjadi standar ideal sebelumnya membutuhkan investasi jauh di atas kemampuan fiskal desa. Dengan memanfaatkan drum plastik, desa berhasil membangun dermaga fungsional dengan anggaran yang hanya sepersekian dari biaya konstruksi konvensional, tanpa mengorbankan kualitas fungsi. Biaya perawatan pun sangat rendah karena komponen mudah diganti secara mandiri tanpa memerlukan tenaga ahli khusus [4].

Dampak sosial tidak kalah nyata. Inovasi ini membangkitkan kepercayaan diri warga bahwa desa mereka mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Respons positif masyarakat — yang bahkan meminta penambahan tambatan di lokasi-lokasi strategis lain — menunjukkan bahwa inovasi ini telah menyentuh kebutuhan yang paling mendasar: kebutuhan untuk terhubung dan tidak tertinggal [1].

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan dermaga drum plastik Desa Pimping sepenuhnya didanai melalui Dana Desa dengan total anggaran sebesar Rp 30.000.000. Alokasi tersebut mencakup pengadaan drum plastik berkapasitas 200 liter, papan kayu, baut dan mur besi, serta upah tenaga kerja lokal yang terlibat langsung dalam proses konstruksi. Seluruh material diperoleh dari pemasok di wilayah Kabupaten Bulungan sehingga biaya logistik dan transportasi material dapat ditekan seminimal mungkin. Dibandingkan dengan konstruksi dermaga baja konvensional yang membutuhkan investasi ratusan juta rupiah, efisiensi biaya inovasi ini mencapai lebih dari 70 persen — menjadikannya sangat realistis bagi desa-desa dengan kapasitas fiskal terbatas [2].

Model pembiayaan berkelanjutan dirancang berbasis swakelola komunitas yang memanfaatkan tradisi gotong royong masyarakat setempat. Biaya perawatan rutin — meliputi penggantian papan kayu yang aus dan drum yang mulai melemah — dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahunan dengan besaran yang sangat terjangkau. Komponen pengganti mudah diperoleh secara lokal dan pemasangannya tidak memerlukan tenaga ahli khusus, sehingga desa tidak bergantung pada bantuan pihak eksternal untuk menjaga keberfungsian dermaga. Model ini menjadikan inovasi dermaga drum plastik benar-benar mandiri secara finansial dan operasional dalam jangka panjang [7].

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Beberapa keputusan kunci terbukti tepat dan menjadi fondasi keberhasilan inovasi ini. Pertama, pelibatan Tenaga Ahli Infrastruktur sejak tahap identifikasi masalah memastikan solusi yang dihasilkan memiliki dasar teknis yang kuat sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan lokal. Kedua, penggunaan mekanisme musyawarah desa sebagai forum pengambilan keputusan memberikan legitimasi sosial yang mempercepat dukungan dan partisipasi warga secara luas. Ketiga, pemilihan material lokal berupa drum plastik yang mudah didapat di wilayah Bulungan menghilangkan ketergantungan pada rantai pasok eksternal yang rentan terputus.

Terdapat pula hal yang akan dilakukan secara berbeda apabila desa memulai dari awal. Kalibrasi jarak antar drum sebaiknya dilakukan melalui uji prototipe skala kecil sebelum konstruksi penuh agar distribusi beban optimal dapat ditentukan sejak awal tanpa pemborosan material. Dokumentasi teknis yang lebih sistematis — meliputi catatan spesifikasi, foto proses, dan panduan perakitan langkah demi langkah — sebaiknya disiapkan sejak hari pertama pembangunan untuk memudahkan diseminasi dan replikasi oleh desa lain [8].

Bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, saran praktis yang dapat diberikan meliputi beberapa hal. Mulailah dari identifikasi kebutuhan transportasi sungai yang paling mendesak melalui musyawarah desa. Libatkan tenaga ahli atau pendamping desa sejak tahap awal untuk memastikan kelayakan teknis desain. Manfaatkan material yang tersedia di lingkungan sekitar untuk menekan biaya dan memperkuat kemandirian. Jangan ragu bereksperimen dengan prototipe berskala kecil sebelum membangun dalam skala penuh, karena kegagalan kecil dalam tahap percobaan jauh lebih berharga daripada kegagalan besar setelah seluruh anggaran terpakai.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan sebuah inovasi infrastruktur tidak cukup dengan membangunnya — ia harus dirawat, dikelola, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pemerintah Desa Pimping merancang strategi perawatan berbasis komunitas di mana warga dilibatkan secara aktif dalam inspeksi dan pemeliharaan rutin dermaga. Skema ini memanfaatkan modal sosial yang kuat dalam tradisi gotong royong masyarakat Kalimantan.

Dari sisi pembiayaan, alokasi Dana Desa untuk perawatan infrastruktur direncanakan secara rutin dalam APBDes tahunan. Komponen yang perlu diganti — seperti papan kayu yang aus atau drum yang mulai melemah — mudah diperoleh secara lokal dengan harga terjangkau, sehingga tidak ada hambatan logistik berarti. Ketergantungan pada pihak eksternal diminimalkan karena masyarakat lokal kini memiliki pengetahuan teknis untuk merawat sendiri infrastruktur ini [7].

Dalam jangka panjang, terdapat peluang untuk meningkatkan standar inovasi dengan mengganti drum plastik konvensional menggunakan kubus apung berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) yang dirancang khusus untuk infrastruktur perairan. Material HDPE memiliki ketahanan terhadap sinar UV dan beban yang jauh lebih tinggi, serta umur pakai yang lebih panjang [12]. Peningkatan bertahap ini dapat dianggarkan melalui Dana Desa atau program bantuan infrastruktur pedesaan dari pemerintah daerah dan pusat.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Dermaga Drum Plastik Desa Pimping bukan hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi nyata pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang menjadi komitmen global Indonesia [14].

No. SDGs Penjelasan Kontribusi Indikator
SDGs 1
Tanpa Kemiskinan
Akses transportasi sungai yang andal membuka peluang ekonomi bagi warga Desa Pimping. Petani dan pedagang kini dapat menjual hasil produksi ke Tanjung Selor dengan lebih efisien, meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak yang mengontrol harga di tingkat desa. Peningkatan akses pasar bagi petani dan pedagang desa; pengurangan peran tengkulak dalam rantai distribusi
SDGs 2
Tanpa Kelaparan
Kelancaran distribusi bahan pangan dari dan ke desa memastikan ketahanan pangan warga. Akses yang lebih terjamin ke pasar Tanjung Selor memungkinkan warga memperoleh beragam bahan makanan bergizi dengan harga yang lebih wajar tanpa hambatan keterisolasian geografis. Kelancaran distribusi pangan dari dan ke desa; ketersediaan bahan makanan bergizi meningkat
SDGs 8
Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan dermaga melibatkan tenaga kerja lokal, menciptakan lapangan kerja jangka pendek. Dalam jangka panjang, konektivitas sungai yang membaik mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui peningkatan volume perdagangan dan akses ke pasar tenaga kerja di Tanjung Selor dan sekitarnya. Tenaga kerja lokal terlibat dalam konstruksi dermaga; volume perdagangan desa meningkat
SDGs 9
Industri, Inovasi & Infrastruktur
Inovasi ini secara langsung memenuhi target SDGs 9 dengan membangun infrastruktur pedesaan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan menggunakan pendekatan teknologi tepat guna. Desa Pimping membuktikan bahwa inovasi infrastruktur tidak selalu membutuhkan teknologi mahal dan impor. 1 unit dermaga apung terbangun dengan anggaran Rp 30 juta; efisiensi biaya >70% dibanding konstruksi baja
SDGs 11
Kota & Permukiman Berkelanjutan
Dermaga drum plastik meningkatkan keamanan dan keterjangkauan sistem transportasi lokal bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas, sesuai target SDGs 11 tentang akses transportasi yang aman dan terjangkau. Akses transportasi sungai tersedia bagi seluruh lapisan masyarakat termasuk kelompok rentan
SDGs 17
Kemitraan untuk Tujuan
Keberhasilan inovasi ini lahir dari kemitraan yang solid antara pemerintah desa, pendamping desa (Tenaga Ahli Infrastruktur), dan warga masyarakat. Model kolaborasi multi-pihak ini menjadi contoh kemitraan efektif dalam pembangunan berkelanjutan di tingkat desa. Kolaborasi 3 pihak aktif: Pemerintah Desa, Pendamping Desa (Tenaga Ahli), dan masyarakat

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Keindahan inovasi dermaga drum plastik terletak pada replikabilitasnya yang tinggi. Tidak ada bahan langka, tidak ada keahlian khusus yang sulit didapat, dan tidak ada ketergantungan pada teknologi yang kompleks. Siapapun yang memahami prinsip dasarnya dapat membangun dermaga serupa dengan menyesuaikan konteks lokal mereka. Inilah yang menjadikan inovasi ini bukan sekadar solusi untuk Desa Pimping, tetapi sebuah model bagi ratusan desa sungai di seluruh Nusantara.

Strategi replikasi dapat dimulai dari diseminasi dokumentasi teknis yang komprehensif — meliputi spesifikasi drum, desain konstruksi, panduan perakitan, dan prosedur perawatan — kepada desa-desa lain melalui platform inovasi desa seperti inovasi.web.id dan jaringan Tenaga Ahli Infrastruktur di seluruh kabupaten [4]. Program pembelajaran antar desa (village-to-village learning) di mana perwakilan desa dari wilayah lain berkunjung langsung ke Desa Pimping untuk melihat, belajar, dan berdiskusi, juga terbukti efektif mempercepat adopsi inovasi.

Untuk scale up, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi program nasional dalam kerangka kebijakan Dana Desa yang mengizinkan pembangunan infrastruktur transportasi desa. Kementerian Desa PDTT dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi standardisasi desain dermaga drum plastik, menyediakan modul pelatihan, serta mengintegrasikannya ke dalam paket bantuan infrastruktur desa. Dengan lebih dari 74.000 desa di Indonesia — sebagian besar memiliki akses sungai — potensi dampak kumulatif dari replikasi inovasi ini sangatlah besar [7].

Daftar Pustaka

  1. Yermi, ST, “Dermaga Drum, Desa Pimping Manfaatkan Drum Plastik untuk Tambatan Perahu,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id. [Accessed: Aug. 2026].
  2. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Peraturan Menteri Desa PDTT No. 7 Tahun 2023 tentang Rincian Prioritas Penggunaan Dana Desa. Jakarta: Kemendes PDTT, 2023.
  3. R. Maulana, “Keterisolasian Transportasi Sungai dan Tantangan Konektivitas Pedesaan Kalimantan,” Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, vol. 18, no. 2, pp. 112–125, 2022. [Online]. Available: https://untar.ac.id.
  4. Tim Inovasi Desa, “Teknologi Tepat Guna untuk Infrastruktur Transportasi Sungai di Kalimantan,” inovasi.web.id, 2023. [Online]. Available: https://inovasi.web.id. [Accessed: Aug. 2026].
  5. A. Pramono, “Inovasi Dermaga Apung Berbasis Drum Plastik: Kajian Teknis dan Sosial,” Jurnal Teknologi Tepat Guna, vol. 5, no. 1, pp. 34–48, 2021. [Online]. Available: https://uib.ac.id.
  6. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Panduan Teknologi Tepat Guna untuk Desa. Jakarta: Kominfo, 2022.
  7. Kemendesa PDTT, Panduan Penggunaan Dana Desa untuk Infrastruktur Desa 2024. Jakarta: Ditjen PPMD, 2024.
  8. H. Susanto and B. Prasetyo, “Lessons Learned from Floating Dock Innovations in Indonesian Rural Villages,” Proceedings of the International Engineering, Operations, and Management Society (IEOM), 2023. [Online]. Available: https://ieomsociety.org.
  9. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Laporan Program SIGAP: Penguatan Tata Kelola Desa di Bulungan, Kalimantan Utara. Jakarta: YKAN, 2024. [Online]. Available: https://ykan.or.id.
  10. F. Hidayat, “Kepemimpinan Desa dalam Mendorong Inovasi Infrastruktur Pedesaan Berbasis Dana Desa,” Jurnal Administrasi Publik, vol. 9, no. 3, pp. 201–215, 2022.
  11. Kementerian Perhubungan RI, Laporan Evaluasi Aksesibilitas Transportasi Sungai di Kalimantan Utara. Jakarta: Kemenhub, 2023. [Online]. Available: https://kemenhub.go.id.
  12. D. Kusuma, “Material HDPE sebagai Alternatif Pontoon yang Berkelanjutan untuk Dermaga Pedesaan,” Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan, vol. 12, no. 1, pp. 18–30, 2024. [Online]. Available: https://solusiklik.id.
  13. Tim Redaksi, “Risiko dan Keselamatan Penggunaan Drum Plastik sebagai Ponton di Infrastruktur Perairan,” Editorial Indonesia, 2023. [Online]. Available: https://editorialindonesia.id. [Accessed: Aug. 2026].
  14. Bappenas RI, Pedoman Teknis Pelaksanaan SDGs Desa. Jakarta: Bappenas, 2023.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Dermaga Drum Plastik (Tambatan Perahu Apung)
Alamat
Desa Pimping, Kec. Tanjung Palas Utara, Kab. Bulungan, Kalimantan Utara
Inovator
Pemerintah Desa Pimping & Pendamping Desa Kabupaten Bulungan</span>
Kontak
+62-812-5319-5442 (Alan, Kepala Desa Pimping)
Lokasi