Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, mengubah lahan kosong tidak produktif menjadi wahana wisata bertema Suku Indian menggunakan Dana Desa sebagai modal utama [1]. Inovasi ini menempatkan BUMDes Penambangan sebagai pengelola destinasi wisata kreatif yang menjawab kebutuhan warga akan penghasilan baru sekaligus tren wisata foto tematik generasi muda [2]. Wahana Indian Camp yang berdiri sejak 2019 menawarkan tenda segitiga berlukis motif hewan, ruang selfie tematik, sewa kostum Indian, serta tiket masuk yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat [3]. Kunjungan wisatawan meningkat sejak peresmian, lapangan kerja lokal terbuka, dan Pendapatan Asli Desa bertumbuh dari pengelolaan BUMDes, hingga diliput Kompas Travel pada Februari 2020 sebagai destinasi wisata terbaru Bondowoso yang sedang naik daun [9].

 

Latar Belakang

Desa Penambangan di Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, selama bertahun-tahun tidak memiliki destinasi wisata yang mampu menarik pengunjung dari luar wilayah secara konsisten [2]. Lahan kosong di desa terbengkalai tanpa memberikan manfaat ekonomi, meski Bondowoso berada di antara destinasi wisata besar seperti Kawah Ijen dan Kawah Wurung yang sudah dikenal luas [4].

Kepala Desa Martha Suprihastini membaca perubahan perilaku generasi milenial yang gemar berswafoto dan mencari lokasi Instagramable, sebuah tren yang belum direspons desa mana pun di Kecamatan Curahdami saat itu [2]. Kajian akademik tentang pengembangan desa wisata di Penambangan mengonfirmasi bahwa tekad meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan membuka lapangan kerja baru menjadi motor utama lahirnya inisiatif ini [6].

Pemerintah Kabupaten Bondowoso turut mendorong desa-desa memanfaatkan potensi lokal secara kreatif untuk mendukung pertumbuhan pariwisata daerah [4]. Perlu dicatat bahwa Martha Suprihastini, yang memimpin Desa Penambangan selama dua periode dan menggagas Indian Camp pada masa jabatannya, mengundurkan diri sebagai Kepala Desa pada 15 Juni 2023 untuk maju sebagai bakal calon legislatif DPRD Bondowoso, dengan kepemimpinan desa selanjutnya dilanjutkan oleh Penjabat Kepala Desa Samsu Efendi.

 

Inovasi yang Diterapkan

Indian Camp lahir dari gagasan Martha Suprihastini yang menangkap fenomena wisata foto tematik milenial dan menghadirkannya di desa dengan biaya terjangkau [2]. Inovasi ini mengalihfungsikan lahan desa tidak produktif menjadi wahana wisata imersif bertema Suku Indian, dibangun sejak 2019 menggunakan Dana Desa, dengan BUMDes Penambangan sebagai pengelola operasional [1].

Pengunjung disambut tenda segitiga warna-warni berlukis motif elang, kuda, banteng, dan serigala, dengan ruang selfie tematik yang mengalunkan musik khas suku asli Amerika Utara, sewa kostum lengkap seharga Rp10.000, dan tiket masuk terjangkau [3]. Paket wisata keluarga yang menggabungkan hiburan, edukasi pertanian lokal, dan permainan tradisional memperluas segmen pengunjung dari sekadar wisata foto menjadi pengalaman keluarga [2].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pembangunan dimulai dari identifikasi lahan desa tidak terpakai yang berlokasi sekitar enam kilometer dari pusat Kota Bondowoso, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit [2]. Tim desa merancang konsep wahana secara partisipatif melalui musyawarah warga yang memilih tema Suku Indian sebagai konsep yang belum ada pesaingnya di Kabupaten Bondowoso saat itu [1].

Pada fase awal, pengelola BUMDes melakukan uji coba operasional dengan mengundang warga dan pelajar lokal untuk menilai kenyamanan fasilitas sebelum dibuka penuh untuk umum [2]. Masukan uji coba ini mengungkap bahwa kepadatan pengunjung yang berlebihan mengganggu pengalaman wisata, sehingga pengelola mengoreksi tata letak spot foto dan membangun sistem pemesanan rombongan lebih dulu melalui media sosial dan kontak pengelola [3].

Promosi digital melalui Instagram dan Facebook menjadi akselerator kunjungan sejak minggu-minggu awal pembukaan, didukung konten foto pengunjung yang dibagikan secara sukarela di media sosial pribadi mereka, sebagaimana juga diliput media lokal Jawa Timur yang menjuluki Indian Camp sebagai “kampung selfi” Bondowoso sejak Oktober 2019 [10]. Fenomena serupa wisata foto tematik bertema Indian juga tumbuh di daerah lain Jawa Timur, seperti kajian tentang perubahan sosial di sekitar Cowboy and Indian Camp Desa Modangan, Kabupaten Blitar, yang menunjukkan daya tarik sosial destinasi bertema serupa secara lebih luas [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas dekorasi dan properti tematik yang terpapar cuaca tropis secara terus-menerus. Material tenda, ornamen kain, dan elemen kayu rentan rusak lebih cepat dari perkiraan, sehingga BUMDes mengalokasikan sebagian pendapatan untuk dana renovasi dan perawatan berkala [2].

Tekanan kompetitif dari wahana wisata bertema Indian yang mulai bermunculan di berbagai daerah Jawa Timur, seperti di Blitar, menciptakan urgensi bagi Indian Camp untuk terus menghadirkan atraksi dan spot foto baru [5]. Mitigasinya dilakukan melalui pembaruan konten visual berkala dan diversifikasi paket wisata agar pengunjung berulang tetap tertarik [1].

Kendala operasional awal berupa kepadatan pengunjung yang tidak teratur juga dimitigasi melalui sistem pemesanan rombongan terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan pada tahap Proses Penerapan Inovasi, agar arus kunjungan lebih tertata dan pengalaman wisata tetap terjaga.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Martha Suprihastini yang berani mengalokasikan Dana Desa untuk konsep wisata yang belum pernah dicoba di daerah ini menjadi faktor paling menentukan keberhasilan Indian Camp, didukung kemampuannya membaca tren perilaku wisata foto generasi muda [2].

Faktor kedua adalah sinergi antara Pemerintah Desa, BUMDes sebagai operator, dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang membangun akses infrastruktur menuju lokasi serta memberikan apresiasi yang meningkatkan visibilitas destinasi [2]. Strategi promosi digital BUMDes melalui Instagram dan Facebook yang aktif memperbarui konten menjadi mesin penarik wisatawan dengan biaya minimal [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sejak peresmian pada 2019, Indian Camp disambut antusias wisatawan, terutama pelajar, generasi muda, dan keluarga dari Bondowoso serta kabupaten sekitarnya yang berdatangan setiap akhir pekan [3]. Tarif masuk dan sewa kostum yang terjangkau menjadikannya destinasi yang dapat diakses semua lapisan masyarakat [3].

Kajian pengembangan desa wisata Penambangan mencatat bahwa kehadiran Indian Camp turut mendorong tumbuhnya usaha informal lokal — pedagang makanan, jasa ojek lokal, dan perajin aksesori — yang ikut memperoleh manfaat dari arus kunjungan wisatawan [6]. Lapangan kerja baru dari operasional BUMDes, seperti pengelola loket, pemandu wisata, dan penjaga kostum, memberi penghasilan langsung bagi warga yang sebelumnya bergantung pada pertanian [1].

Kompas Travel memuat liputan Indian Camp pada Februari 2020 sebagai tempat wisata terbaru Bondowoso yang sedang naik daun, memperluas jangkauan promosi ke pembaca nasional [9]. Kajian tentang strategi pengembangan BUMDes wisata di Kabupaten Bondowoso secara umum turut menunjukkan bahwa unit usaha wisata dengan orientasi pasar yang jelas berpotensi menjadi sumber PADes berkelanjutan, sebagaimana ditunjukkan model serupa di BUMDes lain wilayah Bondowoso [7].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan fisik Indian Camp dibiayai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dari Dana Desa, tanpa investasi swasta atau utang, dengan BUMDes Penambangan bertindak sebagai pengelola operasional harian [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal alokasi Dana Desa untuk pembangunan wahana ini secara spesifik.

Model bisnis bertumpu pada pendapatan tiket masuk dan sewa kostum yang terjangkau namun bervolume tinggi setiap akhir pekan, ditambah efek promosi viral organik dari konten foto pengunjung di media sosial yang tidak membutuhkan biaya iklan berbayar [2]. Pendapatan ini kemudian dialokasikan kembali untuk perawatan fasilitas dan PADes.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Indian Camp menunjukkan bahwa investasi Dana Desa untuk konsep wisata yang belum teruji dapat berhasil ketika kepala desa mampu membaca tren pasar secara akurat, dan bahwa daya tarik visual yang fotogenik dapat memicu promosi viral organik tanpa biaya pemasaran besar. Uji coba terbatas sebelum peluncuran penuh, alih-alih langsung membuka untuk umum, terbukti membantu menemukan masalah operasional seperti kepadatan pengunjung sebelum berdampak luas.

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa keberlangsungan sebuah inovasi desa tidak boleh bergantung pada satu individu pemimpin semata — pergantian Kepala Desa Martha Suprihastini pada 2023 karena mencalonkan diri sebagai anggota legislatif menunjukkan pentingnya melembagakan pengelolaan inovasi pada BUMDes agar tetap berjalan meski kepemimpinan desa berganti.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Indian Camp ditopang mekanisme reinvestasi yang mengalokasikan sebagian keuntungan BUMDes secara berkala untuk pembaruan fasilitas dan penambahan spot foto baru sesuai tren pasar [2]. Pemerintah Kabupaten Bondowoso turut memperkuat fondasi ini dengan membangun dan merawat akses infrastruktur menuju lokasi [2].

Diversifikasi produk wisata menjadi pilar strategis jangka panjang: mengintegrasikan paket wisata edukasi pertanian, permainan tradisional, dan aktivitas malam hari diharapkan memperluas segmen pengunjung sekaligus memperpanjang durasi kunjungan rata-rata [1].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Indian Camp Desa Penambangan berkontribusi pada beberapa dimensi SDGs melalui alih fungsi lahan tidur menjadi destinasi wisata produktif berbasis BUMDes.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan PADes yang meningkat dari pengelolaan Indian Camp memberi ruang bagi program pemberdayaan warga, sementara lapangan kerja baru mengurangi ketergantungan pada pertanian musiman semata. Jumlah tenaga kerja BUMDes terserap (loket, pemandu, penjaga kostum, kebersihan)
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Wahana wisata kreatif mendorong pertumbuhan ekonomi informal di sekitar destinasi dan menghasilkan PADes berkelanjutan. Jumlah usaha informal (pedagang, ojek lokal, perajin) di sekitar destinasi
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Tiket masuk dan sewa kostum yang terjangkau menjadikan Indian Camp dapat diakses semua lapisan masyarakat, dari pelajar hingga keluarga petani. Tarif sewa kostum lengkap Rp10.000, terjangkau lintas kelas ekonomi
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan Pengalihfungsian lahan tidur menjadi destinasi wisata yang hidup mencerminkan pengelolaan ruang desa yang produktif dan berkelanjutan. Luas lahan tidur yang dialihfungsikan menjadi wahana wisata
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Pemerintah Desa, BUMDes, dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang membangun infrastruktur akses mencerminkan kemitraan lintas tingkat pemerintahan. Dukungan infrastruktur akses dari Pemkab Bondowoso menuju lokasi

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Indian Camp menunjukkan bahwa wisata tematik berbasis Dana Desa dapat mengubah lahan tidur menjadi sumber PADes tanpa investasi besar atau keahlian teknis rumit [1]. Kajian tentang pengelolaan wisata berbasis Community Based Tourism mengonfirmasi bahwa model di mana komunitas lokal menjadi pengelola dan penerima manfaat utama relatif lebih lestari dan mudah direplikasi dibanding model yang bergantung pada investor luar [8].

Strategi scale up diarahkan pada pengembangan kawasan wisata terpadu yang mengintegrasikan wisata foto tematik, edukasi pertanian, dan paket wisata bermalam untuk menarik wisatawan dari kota-kota besar Jawa Timur [1]. Desa Penambangan terbuka bagi desa lain di Kabupaten Bondowoso yang ingin mempelajari konsep, biaya pembangunan, dan sistem operasional Indian Camp sebagai panduan replikasi [2].

 

Daftar Pustaka

[1] Portal Inovasi Desa, “ID 00845: Desa Penambangan Bondowoso Hadirkan Wisata Indian Camp dan Gerakkan Ekonomi Warga,” inovasi.web.id, 7 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-penambangan-bondowoso-hadirkan-wisata-indian-camp-dan-gerakkan-ekonomi-warga/

[2] Portal Inovasi Desa, “Indian Camp, Desa Penambangan Kembangkan Wisata ala Suku Indian di Bondowoso,” inovasi.web.id, 21 Jun. 2020. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/indian-camp-desa-penambangan-kembangkan-wisata-ala-suku-indian-di-bondowoso/

[3] Y. ErLyn, “Serasa di Camp Dayak!! Wisata Home Selfie Camp Indiana Desa Penambangan Bondowoso,” YouTube, 2 Nov. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=jUilPL1RNBQ

[4] D. D. Harjo, “Program Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dalam Mengembangkan Obyek Wisata Kawah Wurung,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Jember. [Online]. Tersedia: http://repository.unmuhjember.ac.id/4108/1/ARTIKEL.pdf

[5] Y. K. Wulandari et al., “Perubahan Sosial Masyarakat Sekitar Wisata Cowboy and Indian Camp di Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar,” Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, vol. 3, no. 4, pp. 384–393, 2023. [Online]. Tersedia: http://journal3.um.ac.id/index.php/fis/article/download/3488/2247

[6] A. Maulana et al., “Pengembangan Menuju Desa Wisata di Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat,” Jurnal Respon Publik (RPP), UNISMA, 2022. [Online]. Tersedia: https://jim.unisma.ac.id/index.php/rpp/article/download/18735/14236

[7] M. F. Hidayat et al., “Strategi Pengembangan Potensi Desa melalui Badan Usaha Milik Desa: Studi Kasus BUMDes Sumber Agung Desa Alassumur, Kabupaten Bondowoso,” Jurnal Agriscience, Universitas Trunojoyo Madura, Mar. 2023. [Online]. Tersedia: https://journal.trunojoyo.ac.id/agriscience/article/view/15708

[8] IPDN, “Pengelolaan Objek Wisata Berbasis Community Based Tourism,” eprints.ipdn.ac.id. [Online]. Tersedia: http://eprints.ipdn.ac.id/16003/1/

[9] Travel Kompas, “Berburu Foto Selfie di Indian Camp, Tempat Wisata Terbaru di Bondowoso,” travel.kompas.com, 9 Feb. 2020. [Online]. Tersedia: https://travel.kompas.com/read/2020/02/09/150518427/berburu-foto-selfie-di-indian-camp-tempat-wisata-terbaru-di-bondowoso

[10] Mitra Jatim, “Desa Penambangan Memajukan Wisata Bondowoso dengan Kampung Selfinya,” mitrajatim.com, 21 Okt. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.mitrajatim.com/2019/10/desa-penambangan-memajukan-wisata.html

Data Inovasi

Nama Inovasi
Indian Camp — Wahana Wisata Tematik Suku Indian Berbasis BUMDes Desa Penambangan
Alamat
Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
Inovator
Martha Suprihastini (Kepala Desa Penambangan 2013–2023, Penggagas Indian Camp) bersama Pengelola BUMDes Penambangan
Kontak
Telepon/WhatsApp +62-812-4971-0091 dan +62-896-4643-5304, IG/FB: Indian Camp Penambangan
Lokasi