Ringkasan Inovasi

Pokdarwis Pagubugan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mengubah sawah terasering di lereng Gunung Slamet menjadi destinasi wisata alam berkelanjutan. Inovasi ini memadukan kolam renang berair pegunungan alami di tengah hamparan sawah produktif dengan paket wisata edukasi pertanian dan atraksi budaya Banyumasan [1]. Dampaknya nyata: pendapatan wisata dilaporkan mencapai sekitar Rp272 juta pada 2025, jauh melampaui nilai sewa lahan pertanian konvensional yang sebelumnya hanya sekitar Rp10 juta per tahun. Capaian ini mengantarkan Desa Melung meraih Juara 1 Desa Wisata Nusantara 2025 dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, yang diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Desa 2026 di Kabupaten Boyolali pada 15 Januari 2026, menandai transformasi dari desa tertinggal menjadi desa maju berkelas nasional [2].

 

Latar Belakang

Desa Melung di lereng selatan Gunung Slamet, di perbatasan Kedungbanteng dan Baturraden, menyimpan anugerah alam berupa hamparan sawah terasering hijau dan sumber mata air pegunungan yang jernih. Namun potensi ini bertahun-tahun hanya dipandang sebagai lahan pertanian biasa dengan nilai ekonomi stagnan. Tanah kas desa seluas 4,3 hektar hanya menghasilkan pendapatan sewa pertanian sekitar Rp10 juta per tahun, angka yang jauh dari cukup untuk membiayai pembangunan desa [3].

Warga menyadari bahwa diversifikasi pendapatan desa menjadi mendesak, mengingat ketergantungan pada sektor pertanian murni sering kali tidak menentu hasilnya. Kebutuhan akan terobosan kreatif untuk mengubah aset tidur menjadi mesin ekonomi produktif tanpa mengorbankan kelestarian alam menjadi tantangan utama yang harus dijawab [4].

Peluang muncul ketika tren wisata back to nature mulai digandrungi wisatawan perkotaan yang merindukan suasana pedesaan otentik. Nama “Pagubugan” berasal dari sebutan lokal untuk gerumbul atau area sawah dengan gubuk besar yang dulu digunakan warga sebagai tempat berkumpul [3]. Kearifan lokal inilah yang menjadi fondasi identitas wisata yang membedakan Melung dari destinasi lain.

 

Inovasi yang Diterapkan

Pokdarwis Pagubugan melahirkan inovasi wisata alam yang memadukan kolam renang alami di tengah hamparan sawah produktif. Inovasi ini memanfaatkan aliran irigasi alami dari mata air lereng Gunung Slamet yang dialirkan ke kolam renang tanpa bahan kimia apa pun, sehingga airnya selalu segar dan bersumber langsung dari hutan [5]. Wisatawan menikmati sensasi berenang sembari memandang hamparan sawah terasering dan puncak Gunung Slamet dari dalam kolam [6].

Pengelola juga membangun jogging track dari bebatuan alami yang mengelilingi area persawahan, dan mendirikan gubug-gubug bambu di tepi pematang sebagai ruang istirahat yang selaras dengan kearifan lokal. Sistem air yang cerdas memastikan air kolam yang meluap kembali mengalir mengairi sawah di bawahnya sehingga tidak ada yang terbuang percuma. Paket wisata edukatif juga dikembangkan, mengajak pengunjung belajar bertani, memetik sayur organik, dan mengolah gula kelapa secara tradisional [7], [8].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai dengan pemetaan potensi lahan secara partisipatif dan musyawarah desa untuk menyamakan visi mengenai konsep wisata berkelanjutan. Pengelola membuka akses terbatas pada tahap uji coba sekitar 2017 untuk memantau respons pengunjung dan dampak lingkungan pada area persawahan produktif [9]. Tantangan terbesar muncul dalam manajemen pengunjung agar tidak merusak tanaman padi milik petani yang justru menjadi daya tarik visual utama kawasan.

Kegagalan dalam pengelolaan sampah dan antrean pada masa uji coba menjadi pembelajaran berharga untuk memperbaiki sistem operasional dan infrastruktur pendukung secara bertahap. Tim pengelola secara konsisten mengikuti ajang lomba desa wisata sebagai sarana evaluasi dan benchmarking, dari peringkat tujuh besar pada 2023, naik ke empat besar pada 2024, hingga akhirnya meraih juara pertama pada 2025 [10].

Legalitas usaha diperkuat melalui pembentukan BUMDes yang menaungi unit usaha pariwisata agar akuntabilitas keuangan dapat dipertanggungjawabkan kepada warga desa. Uji coba paket wisata dilakukan berulang kali kepada berbagai segmen, mulai dari pelajar sekolah dasar hingga komunitas pecinta alam, untuk mendapatkan umpan balik yang konstruktif [11].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir warga dari sekadar petani penggarap lahan menjadi tuan rumah pariwisata yang melayani pengunjung secara profesional. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan berulang dan pembuktian nyata bahwa pariwisata menghasilkan pendapatan yang lebih stabil dibanding sekadar menyewakan lahan [4]. Pada tahap awal, manajemen sampah dan kepadatan pengunjung sempat menurunkan kualitas pengalaman wisata, dimitigasi melalui perbaikan sistem operasional secara bertahap hasil evaluasi uji coba.

Kendala lain adalah aksesibilitas jalan menuju Desa Melung yang kondisinya perlu terus diperbaiki seiring lonjakan volume kendaraan pengunjung, serta keterbatasan infrastruktur parkir dan fasilitas toilet umum. Kendala ini dimitigasi secara bertahap melalui alokasi sebagian keuntungan wisata untuk perbaikan infrastruktur pendukung [1]. Risiko degradasi lingkungan akibat kelebihan kapasitas pengunjung dimitigasi dengan komitmen membatasi luas lahan wisata buatan hanya pada sepuluh persen dari total lahan yang tersedia.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Timbul Yulianto sebagai Ketua Pokdarwis yang berhasil membangun konsensus warga untuk bergerak bersama mengembangkan potensi alam desa. Kemampuannya mengemas “kesederhanaan” desa menjadi “kemewahan pengalaman” bagi wisatawan kota merupakan terobosan konseptual yang tidak banyak desa mampu lakukan [1]. Prinsip bahwa pertanian dan pariwisata harus berjalan berdampingan, bukan saling menggantikan, menjadi nilai inti yang menjaga integritas ekosistem desa.

Faktor kedua adalah partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat yang merasakan manfaat langsung dari wisata Pagubugan. Lebih dari dua puluh rumah warga bertransformasi menjadi homestay yang memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga, sehingga setiap warga merasa memiliki tanggung jawab menjaga kualitas destinasi [4].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi dari inovasi Pagubugan cukup signifikan: pendapatan wisata dilaporkan mencapai sekitar Rp272 juta pada 2025. Publikasi lain menunjukkan omzet wisata Pagubugan pernah tercatat sekitar Rp325-326 juta pada 2019 dan 2022, sementara sumbangan Pendapatan Asli Desa dari sektor ini berkisar Rp91 juta pada 2022 dan Rp66 juta pada 2024, menunjukkan bahwa angka pendapatan yang dipublikasikan bervariasi tergantung metode pencatatan (omzet kotor versus kontribusi PADes bersih) dan tahun pelaporan, meski trennya tetap jauh di atas nilai sewa lahan pertanian sebelumnya [10]. Lonjakan kunjungan wisatawan meningkat signifikan pascaraihan Juara 1 Desa Wisata Nusantara 2025 [10]. Tiket masuk yang hanya Rp10.000 per orang terbukti menarik ratusan pengunjung per hari, ramai dikunjungi sepanjang akhir pekan [12].

Dampak sosial terasa melalui tumbuh suburnya usaha mikro warga, mulai dari kuliner mendoan dan wedang jahe hingga kerajinan bambu dan anyaman lokal. Lebih dari dua puluh rumah warga berubah menjadi homestay layak huni, memberikan penghasilan tambahan yang nyata bagi keluarga pemiliknya. Wisata Pagubugan juga banyak dijadikan rujukan studi banding dan penelitian akademis oleh mahasiswa dan pengelola desa wisata dari berbagai daerah [7], [9].

Dampak kultural yang membanggakan adalah kebangkitan kembali seni tradisi Lengger Banyumasan yang tadinya mulai redup, kini rutin dipentaskan untuk menyambut tamu wisata, menciptakan lapangan kerja bagi seniman lokal sekaligus melestarikan warisan budaya. Pemuda desa yang dulunya merantau kini mulai kembali karena melihat peluang ekonomi nyata di kampung halaman sendiri [11].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal pengembangan Pagubugan bertumpu pada pemanfaatan tanah kas desa seluas 4,3 hektar dan swadaya kelompok Pokdarwis, sebelum kemudian diperkuat dengan pembentukan BUMDes yang menaungi unit usaha pariwisata secara formal untuk akuntabilitas keuangan. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal investasi awal pembangunan kolam dan fasilitas pendukung secara spesifik [11].

Model pendapatan bertumpu pada beragam segmen harga: tiket masuk reguler Rp10.000 per orang, paket camping mandiri Rp15.000, paket camping lengkap dengan api unggun dan tenda berkapasitas empat orang Rp83.000, serta paket wisata edukasi seperti outbound, pelatihan, dan trekking masing-masing Rp150.000 per orang, hingga paket live-in Rp250.000 per orang. Homestay warga disewakan mulai Rp70.000 per malam per orang, menciptakan diversifikasi pendapatan yang menyebar ke banyak pelaku usaha desa, bukan terpusat pada satu sumber saja [12].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan kompetisi desa wisata nasional sebagai alat evaluasi dan benchmarking bertahun-tahun (tujuh besar 2023, empat besar 2024, juara 2025), alih-alih hanya mengejar kemenangan sekali coba, terbukti menjadi strategi perbaikan berkelanjutan yang efektif. Menjaga komitmen mengalokasikan hanya sepuluh persen lahan untuk fasilitas wisata buatan, sementara sisanya tetap area pertanian, juga terbukti menjadi diferensiasi kuat yang membedakan Pagubugan dari desa wisata lain [10].

Jika memulai dari awal, sistem pengelolaan sampah dan kapasitas antrean idealnya dirancang sejak fase uji coba pertama, bukan diperbaiki setelah kegagalan awal dirasakan pengunjung. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi aset alam atau budaya lokal yang benar-benar unik terlebih dahulu, memastikan fungsi pertanian atau ekologi asli tetap dominan dibanding fasilitas wisata buatan, dan membangun kelembagaan BUMDes sejak awal agar transparansi keuangan terjaga ketika pendapatan mulai tumbuh signifikan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Melung bertumpu pada penguatan kelembagaan BUMDes dan Pokdarwis yang didukung legalitas kuat dan laporan keuangan yang transparan. Pengelola berkomitmen mempertahankan prinsip konservasi dengan hanya memanfaatkan sepuluh persen dari total 4,3 hektar lahan untuk fasilitas wisata buatan, sementara sembilan puluh persen tetap dipertahankan sebagai area pertanian produktif dan ruang terbuka hijau [8].

Generasi muda desa dilibatkan sebagai agen promosi digital yang memperkenalkan pesona Melung melalui konten media sosial. Diversifikasi paket wisata, live in, edukasi pertanian, outbound alam terbuka, dan atraksi seni budaya, dikembangkan agar wisatawan memiliki alasan kuat untuk kembali berkunjung lebih dari sekali [10].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi wisata alam Pagubugan Desa Melung berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs yang ditetapkan PBB untuk 2030, dengan memadukan pemberdayaan ekonomi warga, pelestarian alam, revitalisasi budaya lokal, dan tata kelola desa yang baik.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Transformasi lahan dari sewa sekitar Rp10 juta/tahun menjadi wisata berpendapatan ratusan juta rupiah per tahun membuka sumber penghidupan baru bagi warga, termasuk lebih dari 20 keluarga pengelola homestay. Pendapatan wisata dilaporkan sekitar Rp272 juta pada 2025, jauh di atas sewa lahan Rp10 juta/tahun.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Paket wisata edukasi pertanian mempertahankan aktivitas pertanian produktif di 90% lahan yang tersedia, memastikan produksi pangan lokal tetap berjalan berdampingan dengan wisata. 90% dari 4,3 hektar lahan tetap difungsikan sebagai area pertanian produktif.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Wisata Pagubugan berfungsi sebagai destinasi wisata edukasi yang mengajarkan pertanian organik, pengolahan hasil bumi, dan seni budaya Banyumasan kepada pelajar dan mahasiswa. Paket edukasi (outbound, pelatihan, trekking) tersedia seharga Rp150.000 per orang.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ekosistem wisata Pagubugan menciptakan pekerjaan bagi pengelola wisata, pemandu lokal, pelaku kuliner, pengrajin, seniman Lengger, dan pengelola homestay. Lebih dari 20 rumah warga beralih fungsi menjadi homestay berpenghasilan tambahan.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Konsep wisata yang mempertahankan 90% lahan sebagai ruang pertanian dan terbuka hijau menjadikan Desa Melung contoh permukiman pedesaan yang berkembang tanpa kehilangan identitas ekosistemnya. Status Juara 1 Desa Wisata Nusantara 2025 dari Kemendes PDT.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Komitmen mempertahankan fungsi ekosistem sawah terasering dan hutan lereng Gunung Slamet menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi resapan air, dengan sistem irigasi kolam yang kembali mengairi sawah. Air kolam yang meluap dialirkan kembali untuk mengairi sawah di bawahnya tanpa terbuang.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Keberhasilan Pagubugan bertumpu pada kemitraan antara Pokdarwis, BUMDes, Pemerintah Desa Melung, dan Kementerian Desa PDT yang memberikan pengakuan nasional. Progres kompetisi nasional: peringkat 7 besar (2023), 4 besar (2024), Juara 1 (2025).

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pagubugan relevan direplikasi oleh desa-desa lain yang memiliki lahan pertanian berpotensi tinggi namun belum termanfaatkan optimal. Kunci replikasinya terletak pada tiga elemen: identifikasi aset alam atau budaya lokal yang unik, pengemasan konsep wisata yang tidak merusak fungsi asli lahan, dan pelibatan seluruh warga sebagai pemain aktif ekosistem wisata [11]. Desa Melung kini membuka diri sebagai tempat studi banding bagi pengelola desa wisata rintisan dari seluruh Indonesia.

Strategi scale up akan dilakukan dengan mengembangkan paket wisata terintegrasi yang menghubungkan Pagubugan dengan potensi lain di sekitar kawasan Baturraden dan lereng Gunung Slamet. Kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan korporasi untuk program gathering, retreat, dan CSR menjadi strategi memperluas segmen pasar wisata [8].

 

Daftar Pustaka

[1] Kompas Travel, “Pesona Desa Wisata Melung Banyumas, Juara 1 Desa Wisata Nusantara 2025,” travel.kompas.com, 18 Jan. 2026. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2026/01/18/080000127/pesona-desa-wisata-melung-banyumas-juara-1-desa-wisata-nusantara-2025

[2] Kompas Regional, “Desa Melung Banyumas Raih Juara Desa Wisata Nusantara 2025, Begini Keindahannya,” regional.kompas.com, 21 Jan. 2026. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2026/01/21/150039278/desa-melung-banyumas-raih-juara-desa-wisata-nusantara-2025-begini

[3] Tribun Banyumas, “Pesona Desa Melung Juara Wisata Nasional: Transformasi Desa Tertinggal Jadi Desa Maju di Banyumas,” banyumas.tribunnews.com, 23 Jan. 2026. [Online]. Available: https://banyumas.tribunnews.com/better-banyumas/87192/pesona-desa-melung-juara-wisata-nasional-transformasi-desa-tertinggal-jadi

[4] Tribun Jateng, “Transformasi Melung dari Desa Tertinggal ke Desa Maju di Banyumas, Kini Jadi Juara Wisata Nasional,” jateng.tribunnews.com, 16 Jan. 2026. [Online]. Available: https://jateng.tribunnews.com/travel/1241612/transformasi-melung-dari-desa-tertinggal-ke-desa-maju-di-banyumas-kini-jadi-juara-wisata-nasional

[5] Wikipedia, “Melung, Kedungbanteng, Banyumas,” id.wikipedia.org. [Online]. Available: https://id.wikipedia.org/wiki/Melung,_Kedungbanteng,_Banyumas

[6] IDN Times Jateng, “Wisata Pagubugan Melung, Sensasi Berenang di Tengah Sawah,” jateng.idntimes.com, 13 Agu. 2023. [Online]. Available: https://jateng.idntimes.com/travel/destination/wisata-pagubugan-melung-sensasi-berenang-di-tengah-sawah-c1c2-01-ylzzj-58v8h7

[7] Detik Travel, “Fakta-fakta Menarik Desa Melung, Juara Pertama Desa Wisata Nusantara 2025,” travel.detik.com, 22 Jan. 2026. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8321740/fakta-fakta-menarik-desa-melung-juara-pertama-desa-wisata-nusantara-2025

[8] Kolom Desa, “Wisata Edukasi Pagubugan, Destinasi Unggulan Desa Melung,” kolomdesa.com, 25 Apr. 2024. [Online]. Available: https://kolomdesa.com/wisata-edukasi-pagubugan-destinasi-unggulan-desa-melung/6197/

[9] YouTube, “Desa Wisata Sukses di Banyumas, Kolam Renang Tengah Sawah | Pagubugan Melung,” 7 Feb. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=U2vwSfDTLv0

[10] Suara Merdeka Banyumas, “Juara 1 Nasional Deswita Nusantara, Kunjungan Wisata Pagubugan Melung Naik Signifikan,” banyumas.suaramerdeka.com, 25 Jan. 2026. [Online]. Available: https://banyumas.suaramerdeka.com/gaya-hidup/0916617496/juara-1-nasional-deswita-nusantara-kunjungan-wisata-pagubugan-melung-naik-signifikan

[11] Desa Wisata Karangmangu, “Inspirasi Desa Wisata Berkelanjutan di Indonesia: Desa Wisata Melung Juara Desa Wisata Nusantara 2025,” desawisatakarangmangu.com, 21 Jan. 2026. [Online]. Available: https://desawisatakarangmangu.com/desa-wisata-melung-juara-desa-wisata-nusantara-2025/

[12] Travels Promo, “Tiket Pagubugan Melung Kolam Renang di Persawahan,” travelspromo.com, 24 Jun. 2024. [Online]. Available: https://travelspromo.com/htm-wisata/pagubugan-melung-banyumas/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Wisata Alam Pagubugan & Ekosistem Desa Wisata Berkelanjutan
Alamat
Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53152
Inovator
Pokdarwis Pagubugan bersama Pemerintah Desa Melung; Timbul Yulianto (Ketua Pokdarwis)
Kontak
+62-815-3527-6763 / +62-811-2681-411; Website: https://melung.desa.id
Lokasi