Ringkasan Inovasi
Pemerintah Nagori Sidomulyo di Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, membangun sumur bor berteknologi mesin dalam air yang terhubung ke sistem pipanisasi bermeteran sebagai jawaban atas krisis air bersih yang lama dialami warga dataran tinggi [1]. Inovasi ini mengubah cara warga mengakses air dari menempuh jarak jauh ke parit perkebunan atau mengandalkan tadah hujan menjadi air bersih yang mengalir langsung ke rumah setiap hari [1]. Tujuan utama inovasi ini adalah memastikan 131 kepala keluarga di Huta I Sidomulyo mendapatkan akses air bersih yang layak, terjamin kualitasnya, dan tersedia sepanjang musim termasuk saat kemarau panjang. Dampak utamanya terlihat pada peningkatan kualitas kesehatan warga, hilangnya ketergantungan pada sumber air tidak layak, dan tumbuhnya kemandirian pengelolaan layanan air melalui BUMNag Sidomakmur yang mengelola sistem ini secara profesional [1].
Latar Belakang
Nagori Sidomulyo berdiri di kawasan dataran tinggi Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, wilayah yang juga menjadi lokasi operasional Perkebunan PTPN IV Kebun Mayang [3], [7]. Letak yang tinggi membuat sumber air alami sulit dijangkau, sehingga untuk memperoleh air bersih warga harus menempuh jarak yang lumayan jauh setiap harinya, sebuah kesulitan struktural yang sudah lama diterima warga sebagai bagian dari kenyataan hidup di wilayah ini [1].
Sebelum inovasi hadir, warga Nagori Sidomulyo mengandalkan dua sumber air yang sama-sama tidak ideal. Pertama, parit-parit di kawasan Perkebunan PTPN IV Kebun Mayang, sumber air permukaan yang kualitasnya sangat dipengaruhi aktivitas perkebunan di sekitarnya dan tidak bisa diandalkan kecukupannya sepanjang musim. Kedua, air tadah hujan yang hanya tersedia pada musim hujan dan tidak menjamin kebersihan maupun kecukupannya di luar musim tersebut [1].
Alternatif membangun sumur bor secara mandiri pun tidak mudah ditempuh warga karena biaya pembuatan sumur bor konvensional sangat besar, sementara hasilnya sering mengecewakan akibat kedalaman yang tidak memadai mengingat kondisi tanah dataran tinggi yang berbeda dari wilayah datar. Kekosongan layanan dasar inilah yang mendorong Pemerintah Nagori Sidomulyo mengambil peran aktif sebagai penggagas solusi kolektif [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan sumur bor berteknologi mesin dalam air yang dirancang menjangkau lapisan air tanah lebih dalam dan lebih bersih daripada yang bisa dicapai sumur gali atau sumur bor konvensional, sesuai model pengelolaan air bersih berbasis komunitas dengan sistem pipanisasi bermeteran yang telah diuji di berbagai wilayah perdesaan [4]. Air yang dipompa dari kedalaman tersebut ditampung dalam tangki reservoir yang menjaga ketersediaan air tetap stabil sepanjang waktu, termasuk di musim kemarau [1].
Dari tangki reservoir itulah air dialirkan ke setiap rumah penduduk melalui jaringan pipanisasi yang dilengkapi meteran di setiap sambungan rumah. Sistem meteran ini memungkinkan pengukuran konsumsi yang adil dan transparan, mendorong warga menggunakan air secara hemat, serta menyediakan dasar penagihan yang jelas untuk menopang biaya operasional. Sejak 2017, seluruh sistem ini dikelola oleh BUMNag Sidomakmur yang bertindak sebagai operator layanan air bersih tingkat nagori [1].
Proses Penerapan Inovasi
Proses inovasi ini dimulai bukan dari pembangunan fisik, melainkan dari pemetaan kebutuhan yang dilakukan Pemerintah Nagori Sidomulyo secara door-to-door ke setiap rumah tangga, mencatat kebutuhan air per keluarga, kondisi sumber air yang digunakan, dan tingkat kesediaan warga berkontribusi dalam pembiayaan layanan. Dari data itulah pemerintah nagori membangun argumen yang terukur untuk diajukan ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Tarukim) Kabupaten Simalungun [1].
Sebelum pengajuan formal, pemerintah nagori menyelenggarakan sosialisasi kepada warga tentang pentingnya air bersih layak konsumsi dan dampak kesehatan dari air yang tidak terjamin kualitasnya. Dengan kesepakatan yang terbangun dari forum warga, pemerintah nagori dan masyarakat bersama-sama mengusulkan program ke Dinas Tarukim, yang menyetujui dan mendanai pembangunan sumur bor pada 2016 [1].
Setahun setelah sistem beroperasi, pemerintah nagori mengalihkan pengelolaan dari tangan pemerintah langsung ke BUMNag Sidomakmur pada 2017, mengikuti pedoman pengelolaan unit usaha air bersih berbasis BUMDes/BUMNag yang memisahkan fungsi regulasi dari fungsi operasional layanan [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kegagalan teknis spesifik pada tahap konstruksi maupun uji coba awal; tantangan yang lebih menonjol justru bersifat sosial, yaitu membangun kesediaan warga membayar iuran untuk layanan yang sebelumnya mereka peroleh tanpa biaya meski dengan kualitas rendah.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar pada fase awal adalah membangun kepercayaan warga terhadap sistem baru yang mengharuskan mereka membayar untuk sesuatu yang sebelumnya, meskipun dengan susah payah dan kualitas rendah, mereka peroleh secara gratis. Kendala ini dimitigasi melalui sosialisasi yang sabar dan berulang sebelum pembangunan dimulai, mengubah mentalitas warga dari “air adalah pemberian alam yang gratis” menjadi “air bersih berkualitas adalah layanan yang memerlukan biaya pengelolaan” [1].
Tantangan teknis jangka panjang adalah pemeliharaan mesin pompa dan jaringan pipa yang usianya terus bertambah, mengingat pompa mesin dalam air memerlukan perawatan berkala dan penggantian komponen yang biayanya tidak kecil. Kendala ini dimitigasi dengan mewajibkan BUMNag Sidomakmur mengelola dana iuran secara disiplin dan transparan sebagai cadangan pemeliharaan, serta mendorong pelatihan teknisi lokal agar tidak selalu bergantung pada ahli dari luar nagori untuk perawatan dasar [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah kepemimpinan Pangulu Sumadi yang mendorong solusi berbasis data dan konsensus, bukan sekadar inisiatif seremonial. Dengan mendahulukan pemetaan kebutuhan dan sosialisasi sebelum membangun, pemerintah nagori memastikan fasilitas yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan nyata dan warga memiliki rasa memiliki yang kuat [1].
Faktor kedua adalah kesediaan warga membayar biaya administrasi dan perawatan dari penghasilan mereka sendiri secara rutin, hasil dari sosialisasi yang berhasil membangun kesadaran bahwa air bersih berkualitas memerlukan pembiayaan berkelanjutan. Ketika warga mau membayar, BUMNag Sidomakmur memiliki arus kas yang cukup untuk menjaga sistem tetap berjalan tanpa terus bergantung pada anggaran nagori [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling nyata adalah tersalurnya air bersih ke 131 kepala keluarga di Huta I Sidomulyo secara langsung melalui pipa ke rumah masing-masing, cakupan yang berarti hampir seluruh warga yang sebelumnya kesulitan akses air kini terlayani. Ketersediaan air yang stabil sepanjang musim menghilangkan kecemasan musiman yang selama ini menjadi bagian kehidupan warga [1].
Dampak kesehatan tidak kalah penting: dengan beralih dari air parit perkebunan dan tadah hujan yang rentan kontaminasi biologis maupun kimia ke air tanah dalam yang dipompa dan didistribusikan melalui pipa tertutup, risiko penyakit berbasis air seperti diare, tifus, dan penyakit kulit berkurang signifikan [1].
Secara kelembagaan, pengelolaan sumur bor oleh BUMNag Sidomakmur membuktikan bahwa desa mampu mengelola layanan publik dasar secara mandiri dan akuntabel. Pengalaman mengelola layanan air bermeteran melatih BUMNag dalam manajemen keuangan, administrasi pelanggan, dan perencanaan pemeliharaan yang dapat diterapkan pada unit usaha nagori lainnya [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan fisik sumur bor pada 2016 didanai sepenuhnya oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Tarukim) Kabupaten Simalungun setelah pemerintah nagori mengajukan proposal berbasis data pemetaan kebutuhan warga. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran nominal dana pembangunan secara spesifik [1].
Sejak 2017, model bisnis operasional bertumpu pada tarif air bermeteran yang dibayar 131 KK pelanggan kepada BUMNag Sidomakmur, mengikuti pedoman pengelolaan unit usaha air bersih berbasis badan usaha milik desa yang memisahkan pendapatan usaha dari kas pemerintah nagori. Pendapatan iuran ini diputar untuk biaya listrik pompa, perawatan pipa, dan cadangan perbaikan sistem, sehingga layanan tidak bergantung pada suntikan anggaran nagori setiap tahun [5].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan mendahulukan pemetaan kebutuhan dan sosialisasi sebelum mengajukan proposal pembangunan, alih-alih langsung membangun infrastruktur dan berharap warga menerimanya, terbukti menjadi kunci yang membuat 131 KK pelanggan bersedia membayar iuran secara konsisten sejak awal [1]. Memisahkan fungsi operasional ke BUMNag Sidomakmur setahun setelah sistem beroperasi juga terbukti tepat karena memberi ruang bagi tata kelola keuangan yang lebih profesional dibanding jika tetap dipegang langsung oleh pemerintah nagori.
Jika memulai dari awal, pelatihan teknisi lokal untuk perawatan pompa dan jaringan pipa idealnya disiapkan sejak tahap pembangunan, bukan menunggu kerusakan pertama terjadi. Nagori atau desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memulai dari pemetaan kebutuhan dan kesediaan membayar warga sebelum mengajukan proposal ke dinas terkait, serta menyerahkan pengelolaan operasional kepada BUMDes/BUMNag sejak sistem mulai stabil agar akuntabilitas keuangan terjaga.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan sistem air bersih Nagori Sidomulyo bertumpu pada dua fondasi. Pertama, kesinambungan arus iuran warga sebagai sumber pendanaan operasional: BUMNag Sidomakmur perlu menjaga transparansi pengelolaan keuangan dan secara rutin melaporkan penggunaan dana kepada warga agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga [1].
Kedua, kesepakatan komunal warga untuk menjaga kawasan di sekitar sumur bor dari aktivitas yang dapat mencemari air tanah harus terus dipelihara sebagai norma sosial nagori. Dalam jangka panjang, nagori juga perlu merencanakan perluasan jaringan pipa untuk menjangkau warga di luar Huta I yang mungkin belum terlayani, menggunakan pendapatan BUMNag yang terakumulasi sebagai modal pengembangan cakupan layanan [1].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi sumur bor Nagori Sidomulyo berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030. Dengan menjawab kebutuhan paling mendasar manusia, yakni akses air bersih yang layak, inovasi ini menyentuh dimensi kesehatan, kesetaraan akses layanan dasar, pemberdayaan kelembagaan desa, dan kemitraan pemerintahan bertingkat sekaligus, selaras dengan agenda global penyediaan air minum dan sanitasi yang masih menjadi tantangan di banyak wilayah perdesaan dunia [6].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Akses air bersih yang terjangkau mengurangi beban ekonomi warga yang sebelumnya mengeluarkan waktu dan tenaga untuk memperoleh air dari sumber yang jauh. Pengelolaan oleh BUMNag Sidomakmur menciptakan unit usaha nagori yang menghasilkan pendapatan dari iuran air. | 131 KK di Huta I Sidomulyo tidak lagi mengeluarkan biaya dan waktu tambahan untuk mengangkut air dari sumber jauh. |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Pergantian sumber air dari parit perkebunan dan tadah hujan menjadi air tanah dalam yang bersih mengurangi risiko penyakit berbasis air seperti diare, tifus, dan penyakit kulit. | 131 KK beralih dari sumber air permukaan berisiko kontaminasi ke sistem pipa tertutup. |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak | Kontribusi paling langsung pada SDGs 6: menyediakan akses air minum yang aman bagi 131 KK yang sebelumnya tidak memilikinya, dengan sistem pipanisasi bermeteran berbasis komunitas sesuai semangat SDGs 6.b tentang partisipasi komunitas dalam manajemen air. | Cakupan layanan pipa bermeteran mencapai 131 KK di Huta I Sidomulyo sejak 2017. |
| SDGs 10: Berkurangnya Ketimpangan | Warga dataran tinggi Nagori Sidomulyo sebelumnya mengalami ketimpangan akses layanan dasar dibanding warga wilayah datar. Inovasi ini menghapus ketimpangan geografis itu. | Layanan air bersih setara kini menjangkau kawasan dataran tinggi yang sebelumnya tertinggal. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara Pemerintah Nagori Sidomulyo, Dinas Tarukim Kabupaten Simalungun sebagai penyandang dana, dan BUMNag Sidomakmur sebagai operator mencerminkan model kemitraan pemerintahan bertingkat yang fungsional. | Pendanaan konstruksi 2016 oleh Dinas Tarukim; operasional dialihkan ke BUMNag pada 2017. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Nagori Sidomulyo dapat direplikasi oleh nagori dan desa lain di Kabupaten Simalungun dan wilayah dataran tinggi Sumatera Utara yang menghadapi masalah serupa. Kunci replikasinya bukan pada skala investasi teknologinya, karena sumur bor bukan teknologi baru, melainkan pada urutan proses yang terbukti berhasil: pemetaan kebutuhan, sosialisasi untuk membangun kesepakatan warga, pengajuan program berbasis data ke pemerintah daerah, pembangunan infrastruktur dengan dukungan dinas, dan serah terima pengelolaan ke BUMDes/BUMNag [1].
Untuk scale up, Pemerintah Kabupaten Simalungun dapat mendokumentasikan model Sidomulyo sebagai panduan teknis dan kelembagaan bagi nagori lain yang belum memiliki akses air bersih memadai. Program sumur bor-BUMNag ini juga relevan diintegrasikan dengan program nasional PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) yang telah memiliki kerangka kelembagaan dan pendanaan pendukung replikasi di ribuan desa di seluruh Indonesia [2].
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “Sulit Mengakses Air Bersih, Pemerintah Nagori Sidomulyo Berinovasi Membangun Sumur Bor,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/sulit-mengakses-air-bersih-pemerintah-nagori-sidomulyo-berinovasi-membangun-sumur-bor/
[2] Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI, “Panduan Teknis PAMSIMAS III: Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat,” PUPR, 2019. [Online]. Available: https://pamsimas.pu.go.id
[3] Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun, “Kecamatan Bosar Maligas dalam Angka,” BPS Simalungun, 2023. [Online]. Available: https://simalungunkab.bps.go.id
[4] A. Sudarmadi dan B. Prasetyo, “Pengelolaan Air Bersih Berbasis Komunitas di Perdesaan: Model Sumur Bor dengan Sistem Pipanisasi Bermeteran,” Jurnal Teknik Lingkungan, vol. 14, no. 1, 2018. [Online]. Available: https://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL
[5] Kementerian Desa PDTT RI, “Badan Usaha Milik Desa: Pedoman Pengelolaan Unit Usaha Air Bersih,” Kemendes PDTT, 2020. [Online]. Available: https://www.kemendesa.go.id
[6] WHO dan UNICEF, “Progress on Household Drinking Water, Sanitation and Hygiene 2000-2020: Five Years into the SDGs,” WHO/UNICEF, 2021. [Online]. Available: https://www.who.int/publications/i/item/9789240030848
[7] Pemerintah Kabupaten Simalungun, “Profil Nagori Sidomulyo Kecamatan Bosar Maligas,” simalungunkab.go.id. [Online]. Available: https://www.simalungunkab.go.id