Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Pasir Baru di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengembangkan Wisata Kreatif Bukit Cienong sejak 2019 sebagai destinasi berbasis panorama alam perbukitan pesisir yang digagas bersama BUMDes Karya Mandiri dan Patriot. Kawasan yang terletak di Kampung Cibangban ini menghadirkan menara pandang berbentuk haluan kapal berwarna-warni, sepeda gantung, area santai bermeja kayu, dan lapak kuliner khas pesisir dalam satu paket pengalaman yang mudah dikenali di media sosial [1]. Inovasi ini digagas oleh Kepala Desa Hidayah untuk mengatasi persoalan potensi alam perbukitan yang selama bertahun-tahun tidak tergarap, sementara arus wisatawan menuju Geyser Cisolok dan Pantai Cikembang justru melintas begitu saja tanpa singgah di desa. Dampak utamanya terlihat pada bertambahnya variasi destinasi wisata di koridor Cisolok, terbukanya ruang usaha kuliner bagi warga desa, dan semakin dikenalnya Pasir Baru sebagai desa yang mampu mengelola potensi alamnya menjadi manfaat ekonomi bersama [2].
Latar Belakang
Desa Pasir Baru terletak di kawasan pesisir dan perbukitan Kecamatan Cisolok, sekitar 20 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi di Pelabuhan Ratu. Posisi ini strategis karena desa berada tidak jauh dari Pantai Cikembang dan Geyser Cisolok, pemandian air panas yang sudah lama menjadi daya tarik utama kawasan, sehingga arus wisatawan sebenarnya sudah melintas dekat desa ini jauh sebelum Bukit Cienong ada [3].
Selama bertahun-tahun, arus wisatawan itu lewat begitu saja tanpa berhenti cukup lama di Desa Pasir Baru. Potensi bukit yang menghadap ke bentang pesisir selatan Sukabumi belum memiliki kemasan wisata yang kuat, tidak ada titik pemberhentian yang menarik perhatian, dan tidak ada peluang usaha yang bisa ditawarkan kepada pengunjung yang melintas. Pemuda desa yang mencari pekerjaan cenderung pergi ke luar desa, sementara perputaran uang dari industri wisata kawasan tidak sempat mampir ke tangan warga Pasir Baru [4].
Di sisi lain, Desa Pasir Baru sudah memiliki modal sosial yang tidak kecil. Kampung Cibongkok di desa ini dikenal sebagai sentra kerajinan kaos kaki yang menunjukkan masyarakat sudah terbiasa bekerja dalam ekosistem usaha kecil yang produktif. Kepala Desa Hidayah membaca kombinasi antara potensi alam yang belum tergarap, modal sosial kewirausahaan warga, dan arus wisatawan yang sudah ada di kawasan itu sebagai peluang yang bisa diintegrasikan melalui satu inovasi wisata kreatif [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Wisata Kreatif Bukit Cienong sebagai destinasi berbasis panorama alam dan kreativitas visual yang dikelola oleh BUMDes Karya Mandiri dan Patriot. Elemen paling ikonik dari kawasan ini adalah menara pandang berbentuk haluan kapal berwarna-warni yang berdiri di puncak bukit, sebuah struktur yang langsung menjadi identitas destinasi sekaligus magnet swafoto yang mendorong penyebaran konten organik di media sosial. Di sekitar menara, pengelola membangun ekosistem pengalaman yang lebih lengkap: sepeda gantung, deretan kursi dan meja di landasan kayu untuk bersantai memandangi pesisir, serta area kuliner tempat warga menjual makanan khas pesisir [5].
Cara kerja inovasi ini kontekstual dengan perilaku wisatawan masa kini yang mencari kombinasi pengalaman visual, aktivitas ringan, dan suasana nyaman untuk berlama-lama. Ketika pengunjung naik ke menara haluan kapal dan memotret panorama pesisir selatan Sukabumi, foto itu tersebar di media sosial dan menjadi iklan gratis yang mengundang gelombang pengunjung berikutnya. Siklus organik antara pengalaman wisata dan penyebaran konten digital inilah yang membuat Bukit Cienong tumbuh menjadi destinasi populer tanpa anggaran promosi besar dari pemerintah desa [6].
Proses Penerapan Inovasi
Bukit Cienong dibangun pada 2019 menggunakan dana Program Perencanaan Pembangunan Kecamatan (P3K), sumber pendanaan yang menunjukkan inovasi ini lahir dari perencanaan terkoordinasi antara pemerintah desa dan kecamatan, bukan sekadar inisiatif spontan tanpa dukungan kelembagaan. Kepala Desa Hidayah memimpin proses pembangunan fisik kawasan dengan melibatkan warga sebagai tenaga kerja lokal, sehingga sejak tahap konstruksi manfaat ekonomi sudah mulai berputar di tangan masyarakat desa sebelum satu tiket pun terjual [2].
Pengelolaan kawasan kemudian diserahkan kepada BUMDes Karya Mandiri dan Patriot, sebuah keputusan yang memisahkan fungsi pembangunan sebagai domain pemerintah desa dari fungsi operasional bisnis wisata yang memerlukan orientasi pelayanan lebih adaptif. Pembukaan resmi untuk publik dilakukan pada 16 September 2020, diresmikan langsung oleh Bupati Sukabumi Marwan Hamami yang memberikan apresiasi terhadap kreativitas Desa Pasir Baru dalam menghadirkan destinasi baru di kawasan Cisolok. Momentum peresmian di tengah masa pandemi Covid-19 turut mewajibkan pengelola membangun protokol kesehatan sebagai standar operasional harian sejak hari pertama kawasan dibuka [1].
Dalam perjalanan operasionalnya, pengelola menghadapi pembelajaran nyata tentang pentingnya merawat daya tarik wisata secara konsisten. Rekam jejak dari awal 2022 menunjukkan lantai kayu di spot foto haluan kapal jebol dimakan rayap, ilalang menutup sebagian kawasan, bale-bale rusak tak terurus, dan dua wahana sepeda gantung berkarat, dengan kerusakan tercatat sudah terjadi sejak pertengahan 2021. Pengalaman pahit ini menjadi pembelajaran paling berharga bagi replikator: destinasi wisata desa tidak cukup dibangun sekali, tetapi harus dirawat, diperbarui, dan dikelola secara konsisten agar tidak kehilangan daya tariknya [7].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal terbesar yang terdokumentasi dari Bukit Cienong adalah lemahnya kapasitas pemeliharaan fasilitas setelah euforia awal pembukaan mereda. Kerusakan lantai kayu, bale-bale, dan wahana sepeda gantung yang tercatat sejak pertengahan 2021 mencerminkan kesenjangan antara kapasitas membangun fasilitas wisata dan kapasitas merawatnya secara berkelanjutan, karena BUMDes belum menyisihkan dana pemeliharaan rutin sejak awal beroperasi. Sebagai respons, sekretaris desa melaporkan bahwa Pemerintah Desa Pasir Baru telah mengajukan proposal perbaikan Bukit Cienong kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi agar kawasan dapat direvitalisasi [9].
Tantangan eksternal yang dihadapi adalah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat di kawasan Cisolok dan Sukabumi secara keseluruhan, termasuk keberadaan Geopark Ciletuh yang sudah berstatus UNESCO Global Geopark. Mitigasi yang diperlukan untuk tantangan ini adalah pembaruan daya tarik secara berkala dan integrasi Bukit Cienong ke dalam paket kunjungan bersama Geyser Cisolok dan Pantai Cikembang, sehingga destinasi ini tidak bersaing sendirian melainkan menjadi bagian dari satu koridor wisata yang saling menguatkan [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah ketepatan membaca karakter pasar wisata milenial yang mendominasi pola kunjungan wisata alam perbukitan saat ini. Bukit Cienong tidak dibangun sebagai tempat yang rumit atau mahal, melainkan sebagai ruang sederhana dengan identitas visual kuat melalui menara haluan kapal berwarna-warni. Keputusan desain yang tampak sederhana ini sesungguhnya strategis, karena elemen visual yang unik dan mudah difoto adalah formula promosi media sosial paling efektif dan murah bagi destinasi wisata desa dengan anggaran terbatas [8].
Faktor kedua adalah sinergi kelembagaan antara pemerintah desa sebagai pengembang infrastruktur dan BUMDes Karya Mandiri dan Patriot sebagai operator wisata. Pemisahan peran ini menjamin keputusan operasional wisata, termasuk penetapan harga tiket, pembagian lapak pedagang, dan standar kebersihan kawasan, dibuat berdasarkan pertimbangan bisnis yang responsif terhadap kebutuhan pengunjung. Legitimasi dari Bupati Marwan Hamami yang meresmikan langsung kawasan ini pada September 2020 turut mempercepat penerimaan publik dan memperkuat posisi Bukit Cienong dalam peta wisata resmi Kabupaten Sukabumi [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling nyata dari inovasi ini adalah masuknya Bukit Cienong ke peta destinasi wisata resmi Kabupaten Sukabumi, bahkan masuk dalam daftar tujuh destinasi wisata Sukabumi yang direkomendasikan Detik Travel pada September 2020, hanya beberapa hari setelah peresmian. Kehadiran Bukit Cienong melengkapi koridor wisata Cisolok yang sebelumnya didominasi Geyser Cisolok dan Pantai Cikembang, sehingga wisatawan yang datang memiliki pilihan pengalaman yang lebih beragam [8].
Dari sisi ekonomi warga, inovasi ini mengubah bukit yang sebelumnya tidak menghasilkan pendapatan menjadi ruang ekonomi aktif yang mempertemukan pengunjung dengan pelaku usaha lokal setiap akhir pekan. Warga yang berjualan makanan dan minuman khas pesisir di lapak-lapak kawasan mendapatkan sumber penghasilan baru yang tidak bergantung pada musim panen atau kondisi pasar komoditas. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci angka pasti jumlah pedagang maupun nilai transaksi, namun arus kunjungan akhir pekan tercatat menciptakan permintaan yang lebih stabil dibanding sumber penghasilan berbasis pertanian [6].
Dampak kualitatif yang paling penting adalah berubahnya cara warga Desa Pasir Baru memandang potensi desanya sendiri. Sebelum Bukit Cienong ada, warga melihat bukit hanya sebagai lanskap biasa; setelah kawasan ini dikenal secara regional, bukit yang sama menjadi kebanggaan dan sumber identitas desa yang baru. Periode penurunan kondisi kawasan pada 2021-2022 juga mengajarkan warga dan BUMDes bahwa pengelolaan wisata memerlukan komitmen jangka panjang, bukan hanya semangat pada masa pembukaan [4].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembangunan awal Bukit Cienong pada 2019 dibiayai sepenuhnya melalui dana Program Perencanaan Pembangunan Kecamatan (P3K), skema pembiayaan tingkat kecamatan yang disalurkan kepada desa untuk merealisasikan usulan pembangunan hasil musyawarah warga. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, namun sumber dana ini menunjukkan bahwa destinasi wisata desa dapat dibangun tanpa bergantung pada investor swasta maupun pinjaman komersial [2].
Model bisnis operasional Bukit Cienong bertumpu pada pendapatan tiket masuk dan retribusi lapak pedagang kuliner yang dikelola oleh BUMDes Karya Mandiri dan Patriot. Pendapatan inilah yang seharusnya menjadi sumber pembiayaan pemeliharaan rutin fasilitas, meski periode kerusakan pada 2021-2022 menunjukkan bahwa alokasi dana pemeliharaan belum berjalan konsisten sejak awal operasional. Perbaikan tata kelola pendapatan tiket dan retribusi menjadi kunci agar kawasan ini tidak lagi mengalami periode terbengkalai serupa [9].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat dari pengalaman Bukit Cienong adalah investasi pada satu elemen visual yang sangat ikonik, yaitu menara haluan kapal berwarna-warni, yang terbukti efektif menjadi magnet swafoto dan promosi organik tanpa memerlukan anggaran pemasaran besar. Pemisahan peran antara pemerintah desa sebagai pembangun infrastruktur dan BUMDes sebagai operator bisnis juga terbukti menjadi fondasi kelembagaan yang sehat sejak awal [5].
Jika memulai dari awal, hal yang akan dilakukan berbeda adalah menetapkan skema pemeliharaan rutin dan pos anggaran khusus perawatan sejak hari pertama kawasan dibuka, bukan menunggu kerusakan nyata seperti yang terjadi pada 2021. Bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, saran praktisnya adalah menyisihkan sebagian pendapatan tiket sejak bulan pertama beroperasi dan menjadwalkan inspeksi fasilitas secara berkala, sehingga siklus antara euforia pembukaan dan penurunan kondisi seperti yang dialami Bukit Cienong dapat dicegah lebih dini [7].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pelajaran terpenting dari pengalaman pasang surut Bukit Cienong adalah bahwa keberlanjutan destinasi wisata desa harus direncanakan sejak awal, bukan ditangani secara reaktif setelah kunjungan menurun. Pembaruan daya tarik secara berkala, baik melalui wahana baru, dekorasi musiman, maupun event wisata lokal, menjadi strategi yang menjaga Bukit Cienong tetap relevan bagi wisatawan yang sudah pernah berkunjung sebelumnya [4].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi penting karena inovasi ini masih sangat bertumpu pada inisiatif Kepala Desa Hidayah; keberlanjutannya ke depan bergantung pada sejauh mana BUMDes Karya Mandiri dan Patriot mampu melembagakan tata kelola operasional secara mandiri, tidak semata bergantung pada figur kepala desa yang menjabat. Strategi jangka panjang yang paling menjanjikan adalah integrasi Bukit Cienong ke dalam paket wisata terpadu kawasan Cisolok bersama Geyser Cisolok, Pantai Cikembang, dan sentra kerajinan kaos kaki Kampung Cibongkok. Status Desa Pasir Baru yang sudah terdaftar sebagai Desa Wisata di platform Jadesta Kementerian Pariwisata membuka akses ke program pembinaan dan promosi nasional yang dapat memperkuat kapasitas pengelola [3].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Wisata Kreatif Bukit Cienong berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs PBB 2030. Dengan mengembangkan potensi alam perbukitan pesisir menjadi destinasi wisata yang menggerakkan ekonomi warga, inovasi ini menyentuh dimensi pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi inklusif, permukiman berkelanjutan, pelestarian ekosistem, dan kemitraan pembangunan.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Bukit Cienong membuka sumber penghasilan baru bagi warga yang berjualan makanan dan minuman di kawasan wisata, penghasilan yang tidak bergantung pada musim panen atau kondisi pasar komoditas. | Jumlah pelaku usaha kuliner/lapak yang beroperasi rutin di kawasan Bukit Cienong setiap akhir pekan sejak destinasi dibuka pada 2020 (dokumentasi tidak merinci angka pasti). |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan Bukit Cienong oleh BUMDes Karya Mandiri dan Patriot menciptakan lapangan kerja terstruktur di sektor pariwisata, termasuk pengelola kawasan dan operator wahana sepeda gantung. | Jumlah tenaga kerja lokal yang terserap dalam struktur pengelolaan BUMDes Karya Mandiri dan Patriot untuk operasional Bukit Cienong. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pengembangan Bukit Cienong sebagai kawasan wisata terencana menjadikan Desa Pasir Baru contoh permukiman desa yang mengelola potensi alam pesisir-perbukitan sebagai aset pembangunan berkelanjutan. | Status resmi Desa Pasir Baru sebagai Desa Wisata yang terdaftar di platform Jadesta Kementerian Pariwisata. |
| SDGs 14 dan 15: Ekosistem Laut dan Daratan | Posisi Bukit Cienong di kawasan perbukitan pesisir selatan Sukabumi yang berdekatan dengan garis pantai menuntut pengelolaan wisata yang bertanggung jawab terhadap ekosistem pesisir dan perbukitan. | Tidak adanya alih fungsi lahan hutan atau tutupan vegetasi bukit untuk pembangunan fasilitas wisata sejak 2019 hingga dokumentasi ini ditulis. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara Pemerintah Desa Pasir Baru, BUMDes Karya Mandiri dan Patriot, Kecamatan Cisolok selaku penyedia dana P3K, dan Pemkab Sukabumi yang meresmikan kawasan mencerminkan model kemitraan pemerintahan bertingkat. | Jumlah tingkat pemerintahan yang terlibat aktif: desa, kecamatan (dana P3K), kabupaten (peresmian Bupati), dan kementerian (pendaftaran Jadesta). |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Bukit Cienong dapat direplikasi oleh desa-desa pesisir dan perbukitan lain di Jawa Barat dan Indonesia yang memiliki potensi panorama alam tetapi belum mempunyai kemasan wisata yang kuat dan identitas visual yang dikenal publik. Kunci replikasinya bukan biaya besar, karena Bukit Cienong dibangun hanya dengan dukungan dana P3K tingkat kecamatan, melainkan pada kemampuan desa menciptakan satu elemen visual yang ikonik, mudah difoto, dan langsung terhubung dengan platform media sosial yang sudah dikuasai wisatawan muda [2].
Untuk scale up di tingkat kawasan, Desa Pasir Baru berpotensi menjadi simpul wisata kreatif dalam jaringan desa wisata Kecamatan Cisolok yang menghubungkan Geyser Cisolok, Pantai Cikembang, Kampung Cibongkok, dan Bukit Cienong dalam satu paket wisata terpadu satu hari. Jika Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi membangun paket promosi terpadu untuk koridor wisata Cisolok ini dan menghubungkannya dengan arus wisatawan Geopark Ciletuh, Bukit Cienong dapat berkembang dari destinasi berbasis pengunjung lokal menjadi tujuan wisata yang dikenal di skala Jawa Barat dan nasional, dengan syarat pengelolaan pemeliharaan fasilitasnya sudah lebih mapan dibanding periode 2021-2022 [3].
Daftar Pustaka
[1] Tatar Sukabumi, “Marwan Hamami Resmikan Tribun dan Kawasan Wisata Bukit Cienong Cisolok,” tatarsukabumi.id, 16 Sep. 2020. [Online]. Available: https://www.tatarsukabumi.id/read/6933/Marwan-Hamami-Resmikan-Tribun-dan-Kawasan-Wisata-Bukit-Cienong-Cisolok
[2] Sukabumi Now, “Bukit Cienong, Destinasi Wisata Baru di Cisolok,” sukabuminow.com, 16 Sep. 2020. [Online]. Available: https://sukabuminow.com/bukit-cienong-destinasi-wisata-baru-di-cisolok/
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Pasirbaru,” Jadesta — Jaringan Desa Wisata. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pasirbaru
[4] Inovasi Desa, “ID 00660: Pemerintah Desa Pasir Baru Kembangkan Wisata Kreatif Bukit Cienong untuk Gerakkan Ekonomi Warga dan Perluas Daya Tarik Sukabumi,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-pasir-baru-kembangkan-wisata-kreatif-bukit-cienong-untuk-gerakkan-ekonomi-warga-dan-perluas-daya-tarik-sukabumi/
[5] Detik Travel, “Melihat Wisata Kreatif Bukit Cienong Cisolok Sukabumi,” travel.detik.com, 16 Sep. 2020. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5175897/melihat-wisata-kreatif-bukit-cienong-cisolok-sukabumi
[6] Magnet Indonesia, “Bukit Cienong Menambah Panjang Daftar Destinasi Wisata Baru di Sukabumi,” magnetindonesia.co, 16 Sep. 2020. [Online]. Available: https://www.magnetindonesia.co/2020/09/bukit-cienong-menambah-panjang-daftar-destinasi-wisata-baru-di-sukabumi/
[7] Jurnalis Warga Sukabumi, “Nasib Wisata Bukit Cienong di Sukabumi yang Instagramable — Terbengkalai dan Ditinggalkan,” YouTube, 25 Jan. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=hQKZ-Xhu1s8
[8] Detik Travel, “Ini 7 Wisata Sukabumi yang Bikin Rindu Traveling,” travel.detik.com, 22 Sep. 2020. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5184812/ini-7-wisata-sukabumi-yang-bikin-rindu-traveling
[9] Tribunjabar.id, “Dulu Diresmikan Bupati Sukabumi, Wisata Bukit Cienong Kini Rusak Terbengkalai, Begini Kondisinya,” jabar.tribunnews.com, 22 Jan. 2022. [Online]. Available: https://jabar.tribunnews.com/2022/01/22/dulu-diresmikan-bupati-sukabimi-wisata-bukit-cienong-kini-rusak-terbengkalai-begini-kondisinya