Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Bedagung di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, mengembangkan inovasi wisata berbasis masyarakat yang mengintegrasikan agrowisata kopi bersejarah, wisata alam pegunungan, camping ground, dan kearifan lokal dalam satu ekosistem destinasi [4]. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Marga Jati menjadi motor penggerak utama yang mengorganisasi warga desa membangun dan mengelola destinasi wisata secara kolektif di dataran tinggi 1.200 mdpl [6]. Inovasi ini membawa Desa Wisata Bedagung menembus 10 Besar Gelar Desa Wisata (GDW) Jawa Tengah 2025, menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan yang mencapai babak final dari 29 peserta kabupaten/kota se-Jawa Tengah [1], [10]. Dampak utamanya adalah peningkatan ekonomi lokal, pemberdayaan warga desa, dan menaikkan citra Kabupaten Pekalongan sebagai destinasi wisata pegunungan unggulan di Jawa Tengah bagian barat [5].

 

Latar Belakang

Desa Bedagung berada di dataran tinggi sekitar 1.200 mdpl, dikelilingi hutan pinus, perkebunan kopi, teh, dan hamparan tanaman kapulaga yang subur [4]. Selama bertahun-tahun, potensi alam dan agrikultur ini belum terkelola sebagai aset wisata; warga hanya menjual komoditas mentah tanpa menangkap nilai tambah dari pesona alam dan warisan pertanian yang mereka miliki [5].

Komoditas paling unik di Desa Bedagung adalah Kopi Gunung Lumping, varietas kopi robusta yang ditanam di ketinggian 1.200 mdpl dan menurut catatan sejarah merupakan warisan perkebunan era VOC dari tahun 1700-an yang kini tumbuh secara organik di Gunung Lumping [2]. VOC mulai membudidayakan kopi secara intensif di berbagai wilayah keresidenan Jawa sejak awal abad ke-18, termasuk di Banten, Priangan, dan Pekalongan sendiri [8]. Kopi berusia sekitar tiga abad yang tumbuh organik di Gunung Lumping adalah aset wisata dan budaya bernilai tinggi yang sebelumnya belum pernah dikemas sebagai produk wisata [2].

Ditetapkannya Desa Wisata Bedagung melalui SK Bupati Pekalongan Nomor 500 13.2/365 tanggal 27 November 2023 menjadi titik balik yang menentukan [3]. Penetapan resmi ini membuka jalan bagi Pokdarwis Marga Jati untuk mengorganisasi warga desa secara sistematis, mengubah desa pertanian pegunungan menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang kompetitif di tingkat provinsi [6].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Desa Wisata Bedagung adalah model wisata desa terintegrasi yang memadukan dua pilar saling menguatkan: agrowisata kopi bersejarah (heritage agrotourism) dan wisata alam petualangan pegunungan [4]. Pengunjung yang datang untuk berkemah di hutan pinus juga diajak mengenal warisan Kopi Gunung Lumping, sementara pecinta agrowisata kopi dapat menikmati trekking ke air terjun dan hamparan alam Gunung Lumping [2].

Secara operasional, inovasi ini bekerja melalui Pokdarwis Marga Jati yang mengelola beberapa unit wisata sekaligus: Jungle What Campground, Pinus Siampel, Sijangkung Coffee & Campground, Curug Bajang, paket edukasi kopi dari kebun ke cangkir, jeep tour hutan, serta paket homestay bersama warga [4]. Wisatawan dapat memilih paket sesuai minat mereka, dari menyeduh kopi langsung dari perkebunan berusia tiga abad hingga menikmati malam bertabur bintang di camping ground pegunungan [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan Desa Wisata Bedagung dimulai dengan pembentukan Pokdarwis Marga Jati sebagai kelembagaan pengelola wisata berbasis masyarakat yang transparan dan akuntabel. Pokdarwis kemudian mendaftarkan Desa Bedagung ke platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kemenpar sebagai langkah awal membangun visibilitas digital di tingkat nasional [4]. Registrasi di Jadesta memungkinkan wisatawan dari seluruh Indonesia menemukan Bedagung melalui portal resmi pemerintah tanpa biaya promosi konvensional yang besar [6].

Untuk mengikuti GDW Jawa Tengah 2025 bertema “Harmoni Desa Wisata: Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama,” Pokdarwis memproduksi video kreatif yang berhasil menarik perhatian tim juri provinsi [1]. Proses kompetisi berlangsung melalui empat tahap: unggah video dan administrasi (23 Juni–15 Juli 2025), penilaian juri (21–26 Juli 2025), verifikasi lapangan (Agustus 2025), dan pengumuman pemenang (11 September 2025) di Banjarnegara, di mana Bedagung bersaing dengan desa-desa lain seperti Desa Wanadadi yang meraih Juara Favorit dan Desa Jarum di Klaten yang meraih Juara Harapan pada kategori berbeda [9], [7].

Tahap verifikasi lapangan oleh tim provinsi menjadi ujian sesungguhnya karena tim datang langsung menilai kesiapan fasilitas, manajemen Pokdarwis, dan autentisitas produk wisata [5]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya kekurangan spesifik yang ditemukan pada tahap ini, namun pengalaman menghadapi verifikasi langsung mengajarkan Pokdarwis Marga Jati bahwa konsistensi antara narasi promosi dan kondisi nyata di lapangan adalah kunci kepercayaan juri dan wisatawan, mendorong mereka terus meningkatkan standar pelayanan secara berkelanjutan [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Kendala utama yang masih dihadapi Desa Wisata Bedagung adalah aksesibilitas jalan menuju lokasi yang masih dalam tahap pengembangan [4]. Kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus menjadi hambatan bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan roda empat biasa, berpotensi mengurangi kunjungan dari wisatawan keluarga dan kelompok usia lanjut. Kendala ini dimitigasi melalui pengembangan infrastruktur jalan yang terus berjalan bertahap dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan [5].

Tantangan lain adalah menjaga autentisitas dan kualitas Kopi Gunung Lumping seiring meningkatnya permintaan wisata [2]. Peningkatan kunjungan memerlukan kapasitas produksi kopi yang lebih besar, sementara kopi warisan VOC ini ditanam secara organik dengan jumlah pohon terbatas dan tidak bisa diperbanyak secara instan tanpa mengorbankan keaslian yang menjadi daya tarik utamanya. Kendala ini dimitigasi dengan membatasi paket edukasi kopi sesuai kapasitas panen aktual, alih-alih memaksakan produksi massal yang berisiko merusak keaslian perkebunan bersejarah [2].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keunikan produk wisata menjadi keunggulan kompetitif Bedagung yang sulit ditiru desa wisata lain. Kopi Gunung Lumping, warisan perkebunan VOC dari abad ke-18 yang tumbuh organik di ketinggian 1.200 mdpl, adalah produk wisata dengan nilai historis dan autentisitas yang tinggi [2]. Riset tentang agrowisata menunjukkan wisatawan modern semakin mencari pengalaman autentik yang terhubung dengan sejarah dan kearifan lokal, ceruk pasar yang berhasil diisi Bedagung secara alamiah [8].

Pengelolaan berbasis komunitas melalui Pokdarwis Marga Jati memastikan semua warga memiliki peran dan manfaat nyata dari perkembangan wisata desa [6]. Semangat kolektif “Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama” mencerminkan model pengelolaan wisata partisipatif yang membuat seluruh ekosistem wisata desa bergerak sinergis, dari petani kopi, pengelola camping ground, pemandu trekking, hingga penyedia kuliner lokal [3].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Pencapaian terbesar dan terukur adalah masuknya Desa Wisata Bedagung dalam 10 Besar Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025, sebagai satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan dari 29 peserta kabupaten/kota se-Jawa Tengah [1], [10]. Pengakuan tingkat provinsi ini menempatkan Bedagung dalam peta destinasi wisata Jawa Tengah yang diakses jutaan wisatawan domestik setiap tahunnya [6].

Dampak ekonomi langsung dirasakan warga melalui pendapatan dari pengelolaan camping ground, penjualan Kopi Gunung Lumping, jasa pemandu wisata, layanan homestay, dan kuliner lokal yang dikelola warga desa sendiri [4]. Kehadiran Bedagung di platform Jadesta Kemenpar dan pengakuan provinsi meningkatkan visibilitas digital desa, menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah di Jawa yang sebelumnya belum mengenal Bedagung sebagai destinasi [5].

Secara kualitatif, pengembangan wisata desa mengubah persepsi warga tentang potensi kampung halaman mereka sendiri. Pemuda desa yang sebelumnya cenderung merantau kini memiliki alasan untuk tetap tinggal dan berkontribusi sebagai pengelola wisata, pemandu trekking, barista kopi lokal, atau pengembang konten digital [6].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pembangunan fasilitas Jungle What Campground, Pinus Siampel, dan Sijangkung Coffee & Campground secara spesifik, meskipun penetapan resmi melalui SK Bupati Pekalongan mengindikasikan dukungan kelembagaan pemerintah kabupaten sejak tahap awal [3]. Pembangunan unit wisata tampak bertumpu pada swadaya Pokdarwis Marga Jati dan warga pemilik lahan camping ground serta kebun kopi.

Model pendapatan bertumpu pada tiket dan sewa camping ground, penjualan Kopi Gunung Lumping dan paket edukasi kopi dari kebun ke cangkir, jasa pemandu trekking dan jeep tour, layanan homestay, serta kuliner lokal, dengan seluruh unit usaha dikelola langsung oleh warga di bawah koordinasi Pokdarwis [4], [5].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan Kopi Gunung Lumping, aset yang sudah dimiliki desa selama tiga abad, sebagai magnet utama wisata, alih-alih membangun atraksi baru dari nol, terbukti menjadi strategi paling efisien membangun keunikan yang tidak dapat ditiru desa lain [2]. Mendaftarkan diri ke Jadesta sejak tahap awal juga terbukti membuka visibilitas nasional tanpa biaya promosi besar sebelum desa memiliki anggaran pemasaran yang memadai.

Jika memulai dari awal, perbaikan akses jalan idealnya diprioritaskan bersamaan dengan pembentukan Pokdarwis, bukan menyusul setelah destinasi mulai dikenal luas, mengingat aksesibilitas tetap menjadi kendala utama hingga saat ini. Desa lain yang memiliki komoditas perkebunan bersejarah serupa disarankan menelusuri riwayat komoditas tersebut sebagai narasi wisata, membentuk kelembagaan Pokdarwis yang transparan sejak awal, dan mendaftarkan diri ke Jadesta sebagai pintu masuk pasar nasional sebelum mengandalkan promosi berbayar.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Bedagung bertumpu pada penguatan kelembagaan Pokdarwis Marga Jati sebagai pengelola profesional yang tidak bergantung pada satu generasi kepemimpinan [6]. Digitalisasi pemasaran melalui website resmi bedagung.id, platform Jadesta Kemenpar, dan media sosial menjamin visibilitas desa secara berkelanjutan tanpa biaya promosi konvensional yang mahal [6].

Dukungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam mendaftarkan Bedagung ke ajang GDW Jawa Tengah secara berkala memberikan momentum tahunan untuk terus meningkatkan standar pengelolaan wisata [1]. Pengembangan infrastruktur jalan yang sedang berlangsung akan membuka aksesibilitas lebih luas, memungkinkan Bedagung menyambut lebih banyak wisatawan secara inklusif [4].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Bedagung membuktikan bahwa wisata berbasis komunitas yang dikelola kolektif oleh warga desa mampu menjawab berbagai dimensi pembangunan berkelanjutan secara bersamaan, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengembangan unit wisata Jungle What Campground, Pinus Siampel, Sijangkung Coffee & Campground, pemanduan trekking, dan homestay warga menciptakan lapangan kerja layak bagi warga desa dari berbagai usia. Bedagung menembus 10 Besar GDW Jawa Tengah 2025 dari 29 peserta kabupaten/kota.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Model wisata berbasis komunitas menjadikan Bedagung permukiman pegunungan berkelanjutan, di mana aktivitas wisata memperkuat, bukan mengancam, keaslian lanskap alam dan warisan pertanian kopi. Kebun Kopi Gunung Lumping berusia sekitar tiga abad tetap dipertahankan sebagai daya tarik utama.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Produksi Kopi Gunung Lumping yang sepenuhnya organik, serta edukasi wisata “dari kebun ke cangkir,” mendorong pola produksi pertanian dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab. Paket edukasi kopi dibatasi sesuai kapasitas panen organik untuk menjaga keaslian produksi.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Kawasan hutan pinus dan perkebunan kopi organik di Gunung Lumping yang menjadi inti daya tarik wisata secara otomatis terjaga kelestariannya karena nilai ekonominya dirasakan langsung warga desa. Hutan pinus dan kebun kopi organik dipertahankan sebagai lokasi Jungle What Campground dan Sijangkung Coffee.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh Pokdarwis Marga Jati yang mengelola seluruh unit wisata secara kolektif dan transparan menciptakan kelembagaan desa yang akuntabel dan demokratis. Penetapan resmi Desa Wisata Bedagung lewat SK Bupati Nomor 500 13.2/365 tanggal 27 November 2023.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara Pokdarwis Marga Jati, Pemerintah Desa Bedagung, Pemerintah Kabupaten Pekalongan, dan Kementerian Pariwisata melalui Jadesta menciptakan ekosistem kemitraan multipihak. Desa Bedagung terdaftar resmi di platform Jadesta Kemenpar sejak 2023.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan wisata desa berbasis komunitas dan agrowisata komoditas lokal yang diterapkan Bedagung relevan direplikasi oleh desa-desa pegunungan lain di Kecamatan Paninggaran dan Kabupaten Pekalongan yang memiliki komoditas perkebunan khas seperti teh, manggis, dan cengkeh, namun belum mengemas proses produksinya sebagai pengalaman wisata edukasi [2]. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer adalah pembentukan Pokdarwis sebagai kelembagaan pengelola yang akuntabel, pendaftaran di Jadesta sebagai pintu masuk pasar nasional, dan identifikasi satu produk unggulan unik sebagai magnet utama destinasi [4].

Pada skala provinsi, keberhasilan Bedagung masuk 10 Besar GDW 2025 membuka peluang kolaborasi dengan desa-desa wisata finalis lain, seperti Desa Wanadadi (Juara Favorit) dan Desa Jarum Klaten (Juara Harapan), untuk membangun paket wisata lintas desa di Jawa Tengah bagian barat [9], [7]. Pengakuan di platform Jadesta Kemenpar mendorong desa-desa lain di Kabupaten Pekalongan untuk mendaftar dan mengembangkan model wisata berbasis potensi lokal masing-masing [6].

 

Daftar Pustaka

[1] Visit Jawa Tengah, “Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025: 29 Desa Tampilkan Pesona Wisata Unggulan,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 28 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/artikel/gelar-desa-wisata-jawa-tengah-2025-29-desa-tampilkan-pesona-wisata-unggulan-.

[2] Jadesta Kemenpar, “Produk Wisata: Kopi Lokal Gunung Lumping Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2024. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/paket/kopi_lokal_gunung_lumping_bedagung.

[3] Desa Wisata Bedagung, “GDW 2025 | Desa Wisata Bedagung Kec. Paninggaran Kab. Pekalongan,” YouTube, 14 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=0f4V1M9neEM.

[4] Jadesta Kemenpar, “Desa Wisata Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/bedagung.

[5] Radar CBS, “Desa Wisata Bedagung Pekalongan: Surga Tersembunyi di Lereng Pegunungan yang Bikin Jatuh Cinta,” radarcbs.com, 2025. [Daring]. Tersedia: https://radarcbs.com/read/6578/desa-wisata-bedagung-pekalongan-surga-tersembunyi-di-lereng-pegunungan-yang-bikin-jatuh-cinta.

[6] Pemerintah Desa Bedagung, “Website Resmi Desa Bedagung,” bedagung.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bedagung.id.

[7] Solopos/Espos, “Selamat! Desa Jarum Klaten Juara Harapan Anugerah Gelar Desa Wisata Jateng 2025,” solopos.espos.id, 14 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://solopos.espos.id/selamat-desa-jarum-klaten-juara-harapan-anugerah-gelar-desa-wisata-jateng-2025-2141629.

[8] Kumparan Bisnis, “Mengulik Jejak Kopi Era VOC di Banten yang Kini Gerakkan Ekonomi Petani Lokal,” kumparan.com, Jan. 2026. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/kumparanbisnis/mengulik-jejak-kopi-era-voc-di-banten-yang-kini-gerakkan-ekonomi-petani-lokal-26Xcgz1xtWi.

[9] RRI Purwokerto, “Desa Wanadadi Juara Favorit Desa Wisata Jateng 2025,” rri.co.id, 11 Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://rri.co.id/purwokerto/info-pemda/1827712/desa-wanadadi-juara-favorit-desa-wisata-jateng-2025.

[10] Dinporapar Kab. Pekalongan, “10 Besar Desa Wisata Tahun 2025 — Desa Wisata Bedagung,” Instagram @dinporapar, Sep. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/p/DOm7OG3k0_6/.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pengembangan Desa Wisata Berbasis Agrowisata Kopi dan Alam Pegunungan oleh Pokdarwis Marga Jati Desa Bedagung
Alamat
Desa Bedagung, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Pokdarwis Marga Jati, Pemerintah Desa Bedagung, dan Petani Kopi Lokal Gunung Lumping
Kontak
Cahyo, Telepon +62-857-1268-6513
Lokasi