Ringkasan Inovasi
Desa Kembang Kuning, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, melahirkan inovasi seni kriya langka yang menggabungkan keterampilan tradisional karamelisasi gula pasir dengan ekspresi estetika tiga dimensi berbentuk Itik Alabio, maskot budaya Kabupaten HSU yang paling ikonik [1]. Inovasi ini tumbuh selama hampir tiga dekade di tangan Ma Aisyah, perajin berusia 78 tahun yang mewarisi teknik dasar gulali dari orang tuanya lalu mengembangkannya menjadi seni kriya tiga dimensi yang dapat dimakan, dijadikan cinderamata, dan dipamerkan sebagai karya seni [2]. Tujuan utama inovasi ini adalah mempertahankan warisan kerajinan tradisional Banjar yang hampir punah, memberdayakan industri rumahan berbasis kearifan lokal, dan mengangkat identitas budaya Amuntai ke pasar yang lebih luas [2], [7]. Peliputan program TRANS7 Ragam Indonesia pada Mei 2020 membawa Gula Batu Itik ke layar televisi nasional dan meningkatkan permintaan dari berbagai penjuru Indonesia [1].
Latar Belakang
Kabupaten Hulu Sungai Utara menyandang identitas budaya yang kuat sebagai Kota Itik, gelar yang diabadikan dalam bentuk tugu Itik Alabio yang berdiri di tepian Sungai Negara, Amuntai. Itik Alabio adalah ras itik petelur produktif hasil persilangan itik lokal Kalimantan dengan itik Peking yang menjadi kebanggaan dan maskot Kabupaten HSU, diakui sebagai plasma nutfah unggulan nasional [3]. Namun selama bertahun-tahun, kekuatan simbolis Itik Alabio hanya termanifestasi dalam tugu dan produk peternakan, belum pernah diterjemahkan menjadi produk seni kriya khas daerah.
Di dalam rumah-rumah di Desa Kembang Kuning, tersimpan keterampilan langka yang diwariskan turun-temurun: teknik membuat gulali atau “gula batu”, kerajinan berbahan gula pasir yang dipanaskan hingga menjadi karamel lalu dibentuk menjadi aneka rupa [1]. Keterampilan ini perlahan terancam punah karena tidak ada regenerasi pengrajin yang sistematis dan tidak ada pengemasan produk yang menarik untuk memposisikannya di pasar modern [8].
Di sisi peluang, meningkatnya arus wisatawan domestik yang berkunjung ke situs kepurbakalaan Candi Agung Amuntai dan kawasan wisata Itik Alabio menciptakan permintaan nyata akan produk oleh-oleh khas yang autentik [4]. Peluang inilah yang ditangkap Ma Aisyah dari dapur kecilnya di Desa Kembang Kuning, berbekal warisan leluhur dan semangat inovasi, hingga Gula Batu Itik kini dikenal ke seluruh Indonesia [2].
Inovasi yang Diterapkan
Gula Batu Itik merupakan inovasi yang menggabungkan dua keterampilan yang jarang bersanding: teknik kimia karamelisasi gula pasir dan seni pahat tiga dimensi [2]. Ma Aisyah mewarisi teknik dasar membuat gulali dari orang tuanya, lalu mengembangkan trik khusus mengatur suhu dan waktu pemanasan agar gula yang mencair dan berubah menjadi karamel dapat dibekukan pada konsistensi yang tepat. Seluruh proses menggunakan pewarna makanan yang aman dikonsumsi, sehingga produk berfungsi ganda sebagai karya seni sekaligus penganan manis.
Produk Gula Batu Itik hadir dalam dua varian berdasarkan ukuran dan fungsi pasar. Varian mini seharga Rp1.000–Rp5.000 berbentuk itik, bunga, dan ornamen kecil, difungsikan sebagai hiasan permen di meja resepsi perkawinan adat Banjar. Varian besar seharga Rp50.000–Rp100.000 berbentuk kapal phinisi dan parcel ulang tahun berisi ornamen buah-buahan tiga dimensi, diposisikan sebagai hadiah korporat dan cinderamata premium bagi pembeli dari luar daerah seperti Banjarmasin dan Balikpapan [5], [2].
Proses Penerapan Inovasi
Proses pembuatan Gula Batu Itik dimulai dari pemanasan gula pasir di atas bara arang atau kayu bakar, pilihan teknis yang disengaja karena distribusi panas kayu bakar lebih merata dan lebih mudah dikendalikan secara intuitif dibanding kompor gas [2]. Gula dipanaskan hingga mencair sempurna menjadi karamel kecoklatan keemasan, lalu pada momen yang tepat ditambahkan pewarna makanan. Kesalahan menentukan “titik karamel yang tepat” berarti seluruh batch harus dibuang atau dilelehkan ulang, risiko yang membentuk kepekaan sensorik Ma Aisyah menjadi instrumen presisi yang menggantikan termometer dapur [1]. Dalam satu hari, Ma Aisyah dan keluarganya dapat menghabiskan hingga 50 kilogram gula untuk produksi [2].
Tahap pembentukan adalah fase paling kritis: perajin hanya memiliki jendela waktu tidak lebih dari beberapa menit saat karamel masih panas dan lentur untuk membentuknya sebelum gula mengeras kembali [1]. Kecepatan tangan dan memori otot yang dibangun selama puluhan tahun menjadi modal utama, keterampilan yang hanya bisa dibangun melalui ribuan jam latihan dan ratusan kali kegagalan [8].
Pengembangan varian produk besar seperti replika kapal phinisi menuntut lompatan teknis yang lebih kompleks: membangun rangka pendukung dari bahan yang tidak bereaksi dengan gula panas agar bentuk tiga dimensi yang rumit dapat dikonstruksi tanpa runtuh sebelum gula mengeras. Eksperimen bertahun-tahun dengan berbagai material rangka, beberapa gagal karena bereaksi dengan panas atau merusak estetika produk akhir, akhirnya menemukan kombinasi yang tepat dan dapat diulang secara konsisten [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar yang mengancam keberlanjutan Gula Batu Itik adalah krisis regenerasi pengrajin: seni kriya ini hingga kini masih dikerjakan oleh satu keluarga saja, menjadikannya rentan terhadap kepunahan jika tidak ada transfer keterampilan sistematis [1]. Ketergantungan pada satu keluarga menciptakan bottleneck produksi yang membatasi kemampuan memenuhi lonjakan permintaan saat musim lebaran dan musim pernikahan adat Banjar. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui program pelatihan terorganisir bagi muda-mudi Desa Kembang Kuning yang difasilitasi pemerintah desa dan Dinas Perindustrian Kabupaten HSU.
Tantangan kedua datang dari sisi bahan baku dan standar produk. Fluktuasi harga gula pasir sebagai komponen utama langsung memukul margin keuntungan perajin, terutama ketika harga gula melonjak bersamaan dengan permintaan musiman yang tinggi [2]. Kendala ini dimitigasi dengan menyesuaikan volume produksi terhadap fluktuasi harga bahan baku. Keterbatasan pengemasan yang masih konvensional turut membatasi daya saing produk di segmen oleh-oleh premium modern, dan direncanakan dimitigasi melalui dukungan sertifikasi PIRT dan kemasan standar dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten HSU [5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan Gula Batu Itik adalah dedikasi Ma Aisyah selama hampir tiga dekade, komitmen yang jauh melampaui motif ekonomi semata dan berakar pada kesadaran bahwa dirinya adalah penjaga warisan seni yang akan hilang jika tidak dirawat [1]. Kesadaran ganda sebagai pelaku ekonomi sekaligus penjaga warisan budaya inilah yang menjadikan inovasinya berkelanjutan melampaui siklus tren pasar [8].
Faktor kedua adalah kekuatan identitas budaya lokal yang melekat pada produk ini secara organik [3]. Bentuk Itik Alabio adalah simbol budaya yang diakui luas oleh masyarakat HSU sebagai penanda identitas daerah yang tidak bisa ditiru daerah lain. Kekuatan narasi budaya ini diperkuat oleh peran pendamping desa Elham Sarah yang memfasilitasi promosi produk dan menghubungkan perajin dengan jaringan pembeli dari luar daerah [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur dari inovasi Gula Batu Itik adalah lonjakan penjualan selama musim lebaran, momen puncak kunjungan wisatawan ke Candi Agung Amuntai yang membawa lebih dari 3.000 pengunjung selama periode libur lebaran [4]. Produk ini kini tersedia di Pasar Induk Amuntai, pertokoan kawasan Candi Agung, dan marketplace digital yang memungkinkan pemesanan dari seluruh Indonesia. Peliputan TRANS7 Ragam Indonesia pada Mei 2020 membawa eksposur media nasional yang meningkatkan volume permintaan dari pembeli di luar Kalimantan [1].
Dari perspektif pelestarian budaya, dampak terpenting adalah terpeliharanya warisan seni kriya tradisional Banjar yang tanpa intervensi kreatif Ma Aisyah berisiko punah tanpa jejak [8]. Gula Batu Itik telah dikenal sebagai produk warisan budaya khas Amuntai dan mendapat perhatian dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten HSU, membuka akses ke program pembinaan yang selama ini tidak tersedia bagi industri rumahan tanpa identitas produk yang kuat.
Secara ekonomi kreatif, pesanan khusus dari Banjarmasin dan Balikpapan untuk varian kapal phinisi seharga Rp50.000–Rp100.000 per unit membuktikan adanya pasar korporat berdaya beli tinggi untuk produk ini, jauh melampaui pasar lokal suvenir konvensional yang sebelumnya menjadi satu-satunya orientasi pemasaran [2].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci adanya suntikan modal formal dari Dana Desa maupun lembaga keuangan untuk pengembangan Gula Batu Itik; inovasi ini tumbuh murni dari modal keluarga dan reinvestasi hasil penjualan produk Ma Aisyah sendiri selama hampir tiga dekade [2]. Peran Pemerintah Desa dan pendamping desa lebih banyak berupa fasilitasi promosi dan penghubung jaringan pembeli, bukan penyertaan modal tunai.
Model pendapatan bertumpu pada dua segmen harga: varian mini Rp1.000–Rp5.000 untuk pasar suvenir pernikahan adat Banjar yang stabil dan terprediksi, serta varian besar Rp50.000–Rp100.000 untuk segmen hadiah korporat dan cinderamata premium yang memberi margin keuntungan lebih tinggi [5], [2].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan Ma Aisyah memadukan bentuk Itik Alabio, ikon budaya yang sudah dikenal luas warga HSU, dengan keterampilan gulali yang sudah ia kuasai sejak lama, terbukti menjadi kombinasi yang jauh lebih efektif dibanding menciptakan desain baru dari riset pasar formal [2]. Eksperimen bertahun-tahun mencari material rangka yang tidak bereaksi dengan gula panas untuk varian besar juga menjadi pelajaran bahwa inovasi produk kriya bisa lahir dari ketekunan mencoba-coba di dapur sederhana, bukan hanya dari laboratorium riset formal.
Jika memulai dari awal, transfer keterampilan kepada calon pengrajin muda idealnya dimulai sejak produk mulai dikenal luas, bukan menunggu hingga ketergantungan pada satu keluarga menjadi risiko eksistensial bagi keberlangsungan warisan budaya. Desa lain yang memiliki kerajinan tradisional serupa disarankan mengidentifikasi ikon budaya lokal yang paling dikenal warganya untuk dipadukan dengan keterampilan tradisional yang sudah dikuasai komunitas, alih-alih mengimpor desain atau teknik baru dari luar.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Gula Batu Itik membutuhkan dua transformasi yang berjalan bersamaan: pertama, mengubah model pewarisan keterampilan dari pola keluarga tertutup menjadi program pelatihan terbuka bagi muda-mudi Desa Kembang Kuning yang difasilitasi pemerintah desa dan Dinas Perindustrian Kabupaten HSU [2]. Kedua, memperkuat ekosistem pemasaran digital melalui konten yang menceritakan narasi budaya dan proses pembuatan, bukan hanya menampilkan produk semata.
Integrasi Gula Batu Itik ke dalam ekosistem pariwisata budaya Candi Agung Amuntai dan Kawasan Wisata Itik Alabio berpotensi menciptakan arus kunjungan yang lebih stabil sepanjang tahun [4]. Dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten HSU untuk sertifikasi PIRT dan kemasan standar akan membuka pasar yang lebih luas, termasuk jaringan toko oleh-oleh nasional dan platform e-commerce [8].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Gula Batu Itik Desa Kembang Kuning berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Industri rumahan Gula Batu Itik menciptakan penghasilan mandiri bagi keluarga perajin yang tidak bergantung pada pekerjaan sektor formal yang terbatas di pedesaan. | Lonjakan penjualan tercatat selama musim lebaran dengan lebih dari 3.000 pengunjung Candi Agung. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Ma Aisyah sebagai perajin perempuan menjadi penggerak utama pelestarian warisan budaya sekaligus pelaku ekonomi kreatif yang diakui hingga tingkat nasional. | Peliputan TRANS7 Ragam Indonesia mengangkat kisah Ma Aisyah sebagai perajin utama Gula Batu Itik. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengembangan Gula Batu Itik sebagai produk ekonomi kreatif membuka peluang pekerjaan berbasis keterampilan tangan bernilai budaya tinggi bagi warga Desa Kembang Kuning. | Varian premium kapal phinisi terjual Rp50.000–Rp100.000 per unit ke pembeli Banjarmasin dan Balikpapan. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Gula Batu Itik memperkuat identitas budaya Amuntai sebagai kota dengan warisan kriya khas yang tidak dimiliki daerah lain, memperkuat daya tarik destinasi budaya berkelanjutan. | Produk terintegrasi dengan ekosistem wisata Candi Agung Amuntai dan Kawasan Wisata Itik Alabio. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Proses produksi menggunakan bahan baku minimal (gula pasir dan pewarna makanan) tanpa limbah berbahaya, dengan karamel gagal yang dapat dilelehkan ulang dan digunakan kembali. | Sekitar 50 kilogram gula diolah per hari tanpa menghasilkan limbah berbahaya. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Gula Batu Itik membuka template replikasi bagi daerah lain di Indonesia yang menyimpan tradisi kerajinan gula atau permen tradisional yang terancam punah. Kunci replikasinya adalah formula dua langkah: identifikasi ikon daerah yang paling dikenal masyarakat lokal, seperti Itik Alabio bagi Amuntai, kemudian padukan ikon tersebut dengan bahan dan teknik kerajinan tradisional yang sudah dikuasai komunitas setempat [6].
Strategi scale up yang paling realistis adalah mengembangkan Desa Kembang Kuning menjadi destinasi wisata kriya berbasis pengalaman langsung, di mana wisatawan tidak hanya membeli produk tetapi juga belajar membuat Gula Batu Itik dalam workshop singkat yang dipandu perajin terlatih. Kemitraan dengan Dinas Pariwisata Kabupaten HSU untuk memasukkan Gula Batu Itik dalam paket wisata budaya Amuntai berpotensi menciptakan aliran pengunjung yang lebih stabil dan terkelola sepanjang tahun [4].
Daftar Pustaka
[1] TRANS7, “GULA BATU ITIK Khas Amuntai Yang Mulai Langka | RAGAM INDONESIA,” YouTube, 5 Mei 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=YU-a25jvEcg.
[2] Tia, “Gulaan Itik: Kuliner Khas HSU,” Radar Banjarmasin – Jawa Pos, 14 Sep. 2023. [Daring]. Tersedia: https://radarbanjarmasin.jawapos.com/tahulah-pian/1973161827/gulaan-itik-kuliner-khas-hsu.
[3] Pintasan.co, “Itik Alabio: Kelezatan Khas dan Warisan Budaya Kota Amuntai,” pintasan.co, 28 Okt. 2024. [Daring]. Tersedia: https://pintasan.co/itik-alabio-kelezatan-khas-dan-warisan-budaya-kota-amuntai/.
[4] ANTARA News Kalsel, “Perajin Gula Batu Raih Untung Libur Lebaran,” kalsel.antaranews.com, 8 Mei 2022. [Daring]. Tersedia: https://kalsel.antaranews.com/berita/326185/perajin-gula-batu-raih-untung-libur-lebaran.
[5] Sekilas Info Amuntai, “Gula Batu, Produk Khas Amuntai,” Facebook Group Sekilas Info Amuntai, 12 Apr. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.facebook.com/groups/368671254387702/posts/1183212522933567/.
[6] E. Sulastri et al., “Peristilahan Kerajinan Tangan Tradisional Kalimantan,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Universitas Tanjungpura, 2018. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/download/27762/75676578024.
[7] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00873: Desa Kembang Kuning Amuntai Mengembangkan Seni Kriya Gula Batu Itik dan Mengangkat Ekonomi Pengrajin Lokal,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-kembang-kuning-amuntai-mengembangkan-seni-kriya-gula-batu-itik-dan-mengangkat-ekonomi-pengrajin-lokal/.
[8] Kecamatan Amuntai Tengah, “Kerajinan Tangan Gula Batu Itik Khas Amuntai,” YouTube, 3 Apr. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=fX8famxVUeE.