Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, bermitra dengan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) membangun Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) sebagai langkah mewujudkan desa pintar (Smart Village). Sistem ini mengubah pengelolaan lahan dari cara konvensional menjadi proses otomatis yang dipantau melalui smartphone dan disimpan dalam cloud [1]. Inovasi ini bertujuan meringankan beban kerja petani, meningkatkan efisiensi budidaya, dan membuka peluang bagi generasi muda memasuki sektor pertanian berbasis teknologi. Dampak utamanya terlihat pada otomatisasi penyiraman dan pemupukan, perekaman data lahan secara real-time, dan perubahan persepsi warga bahwa bertani bisa modern, bersih, dan berbasis data [2].

 

Latar Belakang

Desa Kukuh berada di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali, dengan pertanian sebagai bagian penting kehidupan warga sehari-hari. Sebelum inovasi diterapkan, hampir seluruh aktivitas budidaya, mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pemantauan kondisi tanaman, dijalankan secara manual mengandalkan kebiasaan lapangan turun-temurun, sehingga petani harus hadir langsung di lahan setiap hari [3].

Pola konvensional ini menyita waktu dan tenaga, terutama saat cuaca berubah cepat dan keputusan lapangan lebih banyak bergantung pada perkiraan daripada data terukur. Petani yang membagi waktu dengan pekerjaan lain semakin kesulitan memenuhi ritme kerja harian yang padat, membuat produktivitas tertahan oleh keterbatasan metode, bukan keterbatasan lahan atau sumber daya alam [4].

Desa Kukuh memiliki ambisi menjadi desa digital yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup warga. Pemerintah desa melihat transformasi digital di sektor pertanian bukan sekadar modernisasi simbolik, melainkan solusi praktis yang menjawab kebutuhan nyata petani, sehingga kolaborasi dengan INSTIKI dimulai sebagai jalan menghadirkan teknologi pertanian presisi di tingkat desa [2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Smart Farming berbasis IoT lahir dari kolaborasi Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI, menjawab pertanyaan bagaimana teknologi dapat meringankan pekerjaan petani tanpa mempersulit cara kerjanya. Jawabannya adalah rangkaian sensor terhubung yang membaca kondisi lahan secara otomatis dan mengambil tindakan berdasarkan data tersebut, dirumuskan bersama dosen, mahasiswa INSTIKI, dan petani setempat [1].

Sistem ini bekerja dengan memasang sensor yang membaca kelembaban tanah, pH tanah, debit hujan, kondisi cuaca, dan ketersediaan air di tandon. Seluruh data dikirim secara real-time ke cloud dan tersimpan sebagai rekam jejak pengelolaan lahan yang terus bertumbuh. Berdasarkan pembacaan sensor itu, sistem mengaktifkan penyiraman dan pemupukan otomatis, sementara petani cukup membuka smartphone untuk memantau kondisi lahan tanpa harus hadir secara fisik [3].

 

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan dimulai dengan memilih lahan non-produktif milik I Made Mastera di wilayah Subak Mumbu, Desa Kukuh, sebagai lokasi percontohan pertama, ditanami cabai agar manfaat sistem dapat diamati pada komoditas yang sudah akrab dan bernilai ekonomi bagi petani setempat [4].

Tim dosen dan mahasiswa INSTIKI, yaitu I Putu Dedy Martawan, I Komang Ferby Arya Adiawan, I Made Ade Prasetia Widnyana, dan I Nyoman Gede Bayu Baskara, memasang sensor, menyiapkan tandon air, dan menyusun alur kerja perangkat dengan sistem cloud selama fase instalasi. Setelah tiga bulan implementasi dan uji coba, pemerintah desa bersama INSTIKI menggelar evaluasi resmi pada 12 Juli 2022 untuk mengukur kinerja sistem dan menghimpun masukan petani pengguna [2].

Selama masa uji coba, tim menghadapi tantangan kalibrasi sensor yang harus disesuaikan dengan karakter tanah Subak Mumbu yang berbeda dari kondisi standar laboratorium. Cuaca yang dinamis dan perbedaan kebiasaan bertani antarpetani menambah variabel yang harus diakomodasi. Dari pengalaman ini, tim mengoreksi pendekatannya: sistem sensor tidak bisa dikembangkan dari balik meja, melainkan harus dibangun bersama petani di lahan nyata, dengan penyesuaian algoritma berulang mengikuti realitas yang terus berubah [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar adalah kalibrasi sensor yang harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim mikro Subak Mumbu yang berbeda dari kondisi standar pengujian laboratorium, karena variasi cuaca harian yang tinggi di Tabanan menuntut penyesuaian parameter yang tidak bisa diselesaikan sekali dan dibiarkan begitu saja [3]. Kendala ini dimitigasi melalui pengujian ulang berulang kali langsung di lahan, dengan tim pengembang kembali ke lokasi setiap kali kondisi lapangan berubah untuk memperbarui pengaturan sistem.

Kendala lain adalah ketergantungan sistem pada konektivitas internet yang stabil agar data terkirim ke cloud dan perintah otomatis dieksekusi tepat waktu, mengingat kualitas sinyal di wilayah perdesaan tidak selalu konsisten [1]. Ketersediaan teknisi lokal yang mampu memelihara perangkat keras sensor juga menjadi tantangan jangka panjang. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui pendampingan rutin dari INSTIKI dan pemasukan anggaran pemeliharaan perangkat ke dalam rencana kerja desa, agar sistem tidak bergantung sepenuhnya pada kehadiran fisik tim kampus.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini ditentukan oleh kolaborasi yang saling melengkapi antara Pemerintah Desa Kukuh, INSTIKI, dan petani pemilik lahan. Perbekel I Nyoman Widhi Adnyana, S.Kom., M.Pd., yang memiliki latar belakang teknologi informasi, berperan sebagai penggerak kebijakan sekaligus jembatan komunikasi antara kebutuhan petani dan kemampuan teknis tim kampus [2].

Faktor penentu lainnya adalah kemudahan penggunaan yang dirancang sejak awal sebagai prioritas desain sistem. Petani tidak diharuskan memahami cara kerja sensor atau arsitektur cloud sebelum memanfaatkan sistem dalam kegiatan budidaya sehari-hari, sehingga tingkat penerimaan petani terhadap teknologi ini meningkat secara alami [1].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata adalah hilangnya keharusan petani hadir secara fisik di lahan untuk menjalankan penyiraman, pemupukan, dan pemantauan harian, karena tiga aktivitas ini kini berjalan otomatis berdasarkan pembacaan sensor. Energi petani dapat dialihkan ke keputusan budidaya yang lebih bernilai tinggi, seperti penentuan waktu panen dan pengelolaan hama [3].

Secara kuantitatif, sistem merekam sedikitnya lima jenis data lahan secara berkelanjutan: pH tanah, kelembaban tanah, kondisi cuaca, debit hujan, dan ketersediaan air di tandon, yang tersimpan di cloud sebagai basis pengetahuan lokal yang terus bertambah dari musim ke musim [4], [5]. Percontohan diterapkan pada satu lahan cabai di Subak Mumbu dengan dukungan dua institusi utama yang bekerja komplementer: Pemerintah Desa Kukuh sebagai inisiator dan INSTIKI sebagai pengembang teknis.

Secara kualitatif, inovasi ini menggeser cara pandang warga terhadap pekerjaan bertani. Stigma bahwa bertani identik dengan pekerjaan berat dan tidak berwawasan masa depan mulai berkurang ketika petani muda melihat sawah dan kebun sebagai ruang inovasi berbasis data. INSTIKI berkomitmen mengembangkan teknologi serupa di desa-desa di Bali dan Nusa Tenggara Barat, menjadikan Desa Kukuh titik awal ekosistem pertanian digital yang lebih luas [2].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pemasangan sensor dan infrastruktur cloud secara spesifik. Pengembangan sistem merupakan hasil kolaborasi non-komersial antara Pemerintah Desa Kukuh dan tim dosen serta mahasiswa INSTIKI sebagai bagian dari pengabdian masyarakat kampus [2].

Sebagai infrastruktur layanan pertanian desa, Smart Farming ini tidak memiliki model pendapatan komersial secara langsung; manfaat ekonominya berasal dari efisiensi waktu dan tenaga kerja petani yang dialihkan ke aktivitas budidaya bernilai tambah lebih tinggi. Keberlanjutan pembiayaan pemeliharaan direncanakan masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahunan agar tidak bergantung pada proyek kolaborasi awal semata [3].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah memilih lahan percontohan yang sebelumnya non-produktif dengan komoditas yang sudah akrab bagi petani (cabai), sehingga manfaat sistem dapat diamati secara jelas tanpa mempertaruhkan lahan produktif yang sudah menghasilkan [4]. Merancang antarmuka yang sederhana bagi petani, tanpa perlu memahami arsitektur sensor atau cloud, juga terbukti mempercepat penerimaan teknologi ini.

Jika memulai dari awal, kalibrasi sensor berdasarkan karakteristik tanah dan iklim mikro setempat idealnya dilakukan lebih menyeluruh sebelum instalasi penuh, mengingat kondisi Subak Mumbu ternyata cukup berbeda dari standar laboratorium. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan menggandeng institusi akademik yang bersedia turun langsung ke lahan untuk kalibrasi berulang, memilih lahan percontohan dengan komoditas yang sudah dikenal petani, dan menyiapkan anggaran pemeliharaan jangka panjang sejak tahap perencanaan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Smart Farming Desa Kukuh bertumpu pada dua langkah: memasukkan anggaran pemeliharaan perangkat, pembaruan firmware, dan pendampingan rutin petani ke dalam RKPDes tahunan agar sistem tidak berhenti ketika proyek kolaborasi awal dengan INSTIKI selesai, dan memanfaatkan data yang terus terkumpul sebagai basis keputusan budidaya, bukan hanya arsip yang tidak dibaca [3].

INSTIKI berkomitmen menjaga hubungan teknis jangka panjang dengan Desa Kukuh sebagai salah satu desa mitra pengembangan teknologi pertanian di Bali dan Nusa Tenggara Barat, membuka peluang pembaruan sistem mengikuti perkembangan teknologi sensor dan platform cloud [2].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program Smart Farming berbasis IoT Desa Kukuh berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Otomatisasi penyiraman dan pemupukan berbasis data sensor meningkatkan konsistensi perawatan tanaman dan mengurangi risiko gagal panen akibat kesalahan perlakuan manual. Sistem membaca kelembaban tanah dan debit hujan secara real-time untuk menentukan waktu penyiraman dan pemupukan.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Smart Farming meringankan beban kerja fisik petani dan memungkinkan satu orang mengelola lahan lebih luas dengan tenaga lebih sedikit. Tiga aktivitas harian (penyiraman, pemupukan, pemantauan) berjalan otomatis tanpa kehadiran fisik petani.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Implementasi IoT di sektor pertanian desa membuktikan infrastruktur inovasi teknologi tidak hanya milik kota dan industri besar. Sistem sensor dan cloud terpasang di lahan percontohan Subak Mumbu, Desa Kukuh.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Sistem penyiraman dan pemupukan otomatis berbasis sensor kelembaban tanah mencegah penggunaan air dan pupuk yang berlebihan. Lima jenis data lahan (pH, kelembaban, cuaca, debit hujan, ketersediaan air) direkam berkelanjutan untuk efisiensi input.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Model kolaborasi Desa Kukuh-INSTIKI menjadi contoh kemitraan pemerintah desa-perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi konkret di lapangan. Tim dosen dan empat mahasiswa INSTIKI terlibat langsung dalam pengembangan dan evaluasi sistem.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Replikasi Smart Farming Desa Kukuh dapat dimulai dari penyusunan paket dokumentasi teknis yang memuat spesifikasi perangkat minimum, panduan instalasi sensor, skema pelatihan operator petani, dan prosedur pemeliharaan berkala yang realistis sesuai kapasitas desa. Pengalaman tiga bulan uji coba di Subak Mumbu perlu didokumentasikan sebagai studi kasus pembelajaran yang jujur, termasuk tantangan kalibrasi dan solusi yang ditemukan [3].

Untuk scale up, INSTIKI telah menyatakan komitmen mengembangkan teknologi serupa di desa-desa di Bali dan Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Kabupaten Tabanan dapat mempercepat proses ini dengan menjadikan model Desa Kukuh sebagai program percontohan resmi desa digital kabupaten, memberikan dukungan anggaran dan fasilitasi akses ke lembaga penelitian yang membantu desa penerima replikasi dalam proses kalibrasi dan adaptasi sistem [2].

 

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00678: Pemerintah Desa Kukuh dan INSTIKI Hadirkan Smart Farming IoT yang Ringankan Kerja Petani,” inovasi.web.id, 5 Mar. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/pemerintah-desa-kukuh-dan-instiki-hadirkan-smart-farming-iot-yang-ringankan-kerja-petani/.

[2] INSTIKI, “Inovasi Smart Village! Desa Kukuh, Tabanan Berkolaborasi Bersama INSTIKI Bangun Smart Farming Berbasis IoT,” instiki.ac.id, 15 Jul. 2022. [Daring]. Tersedia: https://instiki.ac.id/2022/07/15/inovasi-smart-village-desa-kukuh-kerambitan-tabanan-berkolaborasi-bersama-instiki-bangun-smart-farming-berbasis-iot/.

[3] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Inovasi Smart Village, Desa Kukuh Bangun Smart Farming Berbasis IoT,” inovasi.web.id, 20 Apr. 2023. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/inovasi-smart-village-desa-kukuh-bangun-smart-farming-berbasis-iot/.

[4] Pemerintah Desa Kukuh, “Evaluasi Penerapan Sistem Smart Farming Berbasis IoT di Desa Kukuh Kerambitan,” kukuh.desa.id, 12 Jul. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.kukuh.desa.id/artikel/2022/07/12/evaluasi-penerapan-sistem-smart-farming-berbasis-iot-di-desa-kukuh-kerambitan.

[5] INSTIKI dan Desa Kukuh, “Kukuh Kerambitan Smart Farming,” YouTube, 25 Agu. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=-zYcvHF6aOE.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Smart Farming Berbasis Internet of Things (IoT)
Alamat
Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali 82161
Inovator
Pemerintah Desa Kukuh dan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI); Perbekel I Nyoman Widhi Adnyana, S.Kom., M.Pd.
Kontak
Telepon +62-822-3053-9357, Website www.kukuh.desa.id
Lokasi