Ringkasan Inovasi
BUMDes Renajaya di Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, sejak Februari 2020 membangun kemitraan dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) untuk mengubah limbah cangkang kerang totok (Thoe/Geloina sp.), yang selama ini terbuang di bantaran Sungai Serayu, menjadi dua produk bernilai ekonomi: kerajinan tangan khas pesisir dan bahan pakan ternak kaya kalsium [1]. Inovasi ini digagas Martin Tri Santoso, S.M., Direktur BUMDes Renajaya, untuk menjawab pencemaran dan bahaya fisik cangkang tajam di sungai sekaligus rendahnya nilai ekonomi yang diterima nelayan dari komoditas kerang [2]. Kolaborasi ini bertumpu pada tiga skema dukungan UMP: penelitian sesuai kearifan lokal, pengembangan teknologi tepat guna, dan pelatihan SDM pengurus BUMDes, sehingga masalah lingkungan desa menjadi titik awal penciptaan nilai ekonomi baru bagi warga [1].
Latar Belakang
Desa Karangrena adalah desa nelayan di tepi Sungai Serayu, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai salah satu sentra tangkap kerang totok (Geloina sp.) di Jawa Tengah. Kerang totok, atau Thoe dalam sebutan warga lokal, telah lama menjadi tumpuan penghidupan ratusan keluarga nelayan [2], [4].
Berat cangkang kerang totok mencapai sekitar lima kali berat isinya yang dapat dimakan, sehingga nelayan yang menghasilkan rata-rata 10 kg kerang per hari juga memproduksi sekitar 50 kg limbah cangkang setiap harinya. Dengan ratusan nelayan aktif di desa, total limbah cangkang yang dibuang ke bantaran Sungai Serayu setiap hari mencapai volume yang besar dan tidak terkelola [1].
Cangkang kerang totok yang terbuang di bantaran sungai bukan sekadar masalah estetika. Tepi cangkang yang tajam membahayakan warga yang beraktivitas di sungai, mulai dari anak-anak yang bermain hingga nelayan dan petani yang mengairi sawah, sementara penumpukan cangkang yang terus-menerus berpotensi memengaruhi kualitas air sungai [2]. Paradoks inilah yang ditangkap BUMDes Renajaya sebagai peluang: limbah yang melimpah dan menjadi masalah dapat diubah menjadi bahan baku produk bernilai jual jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari inisiatif Martin Tri Santoso, S.M., Direktur BUMDes Renajaya sekaligus Ketua Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos, yang merintis pertemuan formal dengan UMP pada 5 Februari 2020. Dalam pertemuan yang mempertemukan BUMDes dengan Wakil Rektor IV UMP Dr. H. Anwar Ma’ruf, S.T., M.T., kedua pihak sepakat cangkang kerang totok Thoe berpotensi diolah menjadi dua produk: kerajinan tangan khas pesisir Serayu dan bahan pakan ternak kaya kalsium [1].
Inovasi bekerja melalui dua jalur pengolahan yang terintegrasi dalam satu rantai nilai. Cangkang dengan kualitas estetika terbaik dipilah menjadi bahan baku kerajinan tangan, seperti hiasan dinding, aksesori, dan suvenir khas Karangrena. Cangkang yang tidak memenuhi syarat estetika dihancurkan dengan mesin hammer mill, difermentasi, dan diolah menjadi tepung atau pelet pakan ternak kaya kalsium karbonat (CaCO3), mineral penting bagi pertumbuhan unggas dan ternak ruminansia yang selama ini banyak dipenuhi dari pakan pabrikan [5], [6].
Proses Penerapan Inovasi
BUMDes Renajaya memulai proses dengan pemetaan dan inventarisasi volume limbah cangkang secara sistematis, menghitung volume limbah harian, titik pembuangan terbesar, dan kapasitas pengolahan yang dibutuhkan agar penanganan limbah efektif. Data lapangan ini menjadi fondasi menentukan skala dan model pengolahan yang sesuai kapasitas desa [2].
Setelah data terkumpul, BUMDes membangun kemitraan formal dengan UMP mencakup tiga komitmen: penelitian ilmiah tentang kandungan kimia cangkang kerang totok untuk memvalidasi potensinya sebagai pakan ternak, pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai kapasitas desa, serta pelatihan SDM pengurus BUMDes agar mampu mengoperasikan proses produksi secara mandiri [1].
Pada tahap uji coba pengolahan pakan ternak, tim menghadapi tantangan teknis nyata: kekerasan material cangkang Geloina sp. yang mengandung rata-rata 94,90% abu dan 7,76% CaCO3 membutuhkan mesin dengan daya penghancur yang cukup besar, sehingga mesin sederhana yang awalnya dicoba tidak cukup efektif [5]. Tim kemudian merujuk pengalaman pengabdian masyarakat Universitas Swadaya Gunung Jati yang mengolah limbah cangkang kerang hijau menjadi pakan ternak di daerah lain, yang menunjukkan kombinasi mesin hammer mill dan mixer sebagai solusi yang dapat diadaptasi di skala desa, dan mengoreksi pilihan peralatan mereka berdasarkan temuan ini [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar pada fase awal adalah keterbatasan infrastruktur pengolahan di tingkat desa, terutama pengadaan mesin penghancur cangkang (hammer mill) yang membutuhkan investasi awal cukup besar namun menjadi syarat mutlak agar produksi pakan ternak berjalan pada skala ekonomis [6]. Kendala ini dimitigasi dengan merujuk rancangan teknologi tepat guna dari pengalaman perguruan tinggi lain yang telah terbukti bekerja pada skala serupa, alih-alih merancang mesin dari nol.
Kendala kedua berasal dari perilaku nelayan: tidak semua nelayan bersedia mengubah kebiasaan membuang cangkang sembarangan ke sungai sebelum ada sistem pengumpulan limbah yang memberi insentif langsung [2]. Kendala ini direncanakan dimitigasi melalui sistem bank limbah yang menukar setoran cangkang dengan poin atau uang tunai, sehingga nelayan merasakan manfaat ekonomi nyata dari perubahan kebiasaan tersebut, bukan hanya imbauan edukasi semata [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama adalah kepemimpinan proaktif Martin Tri Santoso yang membangun jaringan kelembagaan dengan perguruan tinggi, membuka akses pada kapasitas riset dan teknologi yang tidak dimiliki desa secara mandiri [1].
Faktor kedua adalah komitmen institusional UMP menempatkan kemitraan dengan BUMDes sebagai wujud pengabdian masyarakat, bukan proyek sampingan. Sinergi antara pengetahuan lokal nelayan tentang karakteristik kerang totok dan kapasitas ilmiah UMP dalam validasi kandungan kimia serta teknologi pengolahan menciptakan inovasi yang kokoh secara teknis sekaligus relevan secara sosial [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak lingkungan yang diharapkan adalah berkurangnya volume limbah cangkang kerang yang mencemari bantaran Sungai Serayu, seiring terbentuknya sistem pengumpulan dan pengolahan limbah yang lebih terorganisir [2]. Riset kandungan kimia cangkang kerang totok dari wilayah Cilacap turut mengonfirmasi konsentrasi mineral yang tinggi pada cangkang, yang jika terakumulasi tanpa pengelolaan berpotensi memengaruhi kualitas air sungai [5].
Secara ekonomi, nelayan Thoe memiliki peluang sumber pendapatan tambahan dari cangkang yang sebelumnya tidak bernilai. Produk kerajinan berbahan cangkang kerang totok memiliki nilai sebagai produk budaya pesisir Sungai Serayu yang khas, sementara pakan ternak berbahan tepung cangkang berpotensi menekan biaya produksi peternak lokal sebagai sumber kalsium alternatif dari pakan pabrikan [6].
Secara kelembagaan, kolaborasi BUMDes Renajaya dengan UMP memperkuat posisi BUMDes sebagai lembaga yang mampu menyelesaikan masalah nyata warga berbasis riset, bukan hanya pengelola aset desa [1], [2].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal untuk mesin hammer mill dan fasilitas pengolahan cangkang secara spesifik. Kemitraan dengan UMP mencakup dukungan riset, teknologi tepat guna, dan pelatihan SDM, sehingga sebagian kebutuhan pengembangan teknis tidak sepenuhnya dibiayai mandiri oleh BUMDes [1].
Model pendapatan direncanakan bertumpu pada dua lini: penjualan produk kerajinan cangkang kerang sebagai suvenir khas pesisir Serayu, dan penjualan tepung atau pelet pakan ternak kaya kalsium kepada peternak lokal sebagai substitusi pakan pabrikan yang lebih terjangkau [6]. Sistem bank limbah yang direncanakan turut menjadi mekanisme untuk memastikan pasokan bahan baku cangkang berjalan konsisten dari nelayan mitra.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah melakukan pemetaan volume limbah secara sistematis sebelum menentukan skala dan teknologi pengolahan, sehingga investasi peralatan disesuaikan dengan kebutuhan nyata, bukan asumsi [2]. Merujuk pengalaman perguruan tinggi lain yang telah berhasil mengolah limbah cangkang sejenis, alih-alih merancang teknologi dari nol, juga terbukti mempercepat penyelesaian kendala teknis penghancuran cangkang yang keras [6].
Jika memulai dari awal, sistem insentif ekonomi bagi nelayan yang bersedia menyetorkan cangkang idealnya dirancang sejak tahap awal kemitraan, bukan sebagai respons setelah ditemukan resistensi perubahan kebiasaan. Desa pesisir lain yang menghadapi masalah limbah hasil laut serupa disarankan menggandeng perguruan tinggi terdekat untuk validasi ilmiah potensi limbah, memilih teknologi tepat guna yang sudah teruji di tempat lain, dan menyiapkan insentif ekonomi langsung bagi warga sejak perencanaan awal.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi bertumpu pada dua pilar: kemitraan riset jangka panjang dengan UMP yang memastikan kualitas produk terus ditingkatkan berdasarkan temuan ilmiah, dan sistem bank limbah desa yang menciptakan insentif ekonomi langsung bagi nelayan untuk menyetorkan cangkang secara rutin [1], [8].
Pengembangan pasar produk kerajinan melalui platform digital dan jaringan ekonomi kreatif menjadi agenda strategis agar pendapatan dari lini kerajinan dapat tumbuh berkelanjutan. Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos yang diketuai Martin Tri Santoso berfungsi sebagai platform koordinasi agar inovasi ini tidak berhenti di satu desa [1].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMDes Renajaya Karangrena berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengolahan limbah cangkang kerang totok berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi nelayan Thoe yang sebelumnya membuang cangkang tanpa nilai. | Ratusan nelayan aktif di Desa Karangrena menghasilkan sekitar 50 kg limbah cangkang per orang per hari. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Tepung cangkang kerang totok kaya kalsium karbonat sebagai substitusi pakan ternak mendukung peternakan lokal yang lebih terjangkau. | Cangkang kerang totok mengandung rata-rata 94,90% abu dan 7,76% CaCO3. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengembangan dua lini produk, kerajinan tangan dan pakan ternak, berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan ekonomi kreatif desa. | Dua jalur produk (kerajinan dan pakan ternak) dikembangkan dari satu sumber limbah yang sama. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Inovasi ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular: limbah dari aktivitas tangkap kerang menjadi bahan baku produk kerajinan dan pakan ternak. | Cangkang yang tidak memenuhi syarat estetika kerajinan dialihkan menjadi bahan pakan ternak, tanpa sisa yang terbuang percuma. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Sistem pengumpulan limbah cangkang menghentikan akumulasi cangkang tajam di bantaran Sungai Serayu yang berpotensi memengaruhi kualitas air dan biota akuatik. | Volume limbah cangkang yang dibuang ke sungai diarahkan ke sistem pengumpulan dan pengolahan BUMDes. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kemitraan formal BUMDes Renajaya dengan UMP melalui tiga skema (riset, TTG, pelatihan SDM) menjadi model kolaborasi desa-perguruan tinggi. | Pertemuan formal BUMDes-UMP terjadi pada 5 Februari 2020 dihadiri Wakil Rektor IV UMP. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi BUMDes Renajaya relevan direplikasi oleh desa nelayan lain di kawasan pesisir dan bantaran sungai Indonesia yang menghadapi masalah limbah hasil laut serupa. Kunci replikasinya adalah tiga langkah: identifikasi limbah lokal yang berlimpah dan belum terkelola, membangun kemitraan formal dengan perguruan tinggi terdekat yang memiliki program pengabdian masyarakat, dan mengembangkan teknologi pengolahan tepat guna yang disesuaikan kapasitas SDM dan anggaran desa [7], [8].
Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos yang dipimpin Martin Tri Santoso menjadi wahana yang siap menjadi pusat penyebaran model ini ke BUMDes-BUMDes tetangga di Cilacap dan sekitarnya [1].
Daftar Pustaka
[1] BUMDes Renajaya Karangrena, “Tangani Masalah Kerang Totok Thoe, BUMDes Renajaya Menggandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” Kompasiana, 5 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/bumdesrenajaya2113.
[2] S. Khairunnisa, “BUMDes Renajaya Menggandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” Portal Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, inovasi.web.id, 9 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tangani-masalah-kerang-totok-thoe.
[4] E. P. Wibisono, “Kerang Totok (Geloina sp.) di Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap: Potensi dan Pengelolaannya,” Skripsi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 2024. [Daring]. Tersedia: http://repository.unsoed.ac.id/29010.
[5] Tim Peneliti, “Analisis Kadar Unsur dan Senyawa Kimia Limbah Cangkang Kerang Totok (Geloina sp.) Hasil Tangkapan Nelayan Cilacap,” Academia.edu, 2016. [Daring]. Tersedia: https://www.academia.edu/23521315.
[6] Tim LPM-UGJ Cirebon, “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Cangkang Kerang Hijau sebagai Pakan Ternak dan Ikan,” Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Bandung, vol. 9, no. 2, hal. 281-288, 2021. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/ethos.
[7] M. Maulani, “Teknologi Tepat Guna: Konsep dan Aplikasi,” Universitas Trisakti, 2022. [Daring]. Tersedia: https://repository.karyailmiah.trisakti.ac.id.
[8] Redaksi, “Mendorong Inovasi dalam Industri Kecil dan Kerajinan melalui Badan Usaha Milik Desa,” bumdes.id, 2025. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/mendorong-inovasi.