Ringkasan Inovasi

BUMNag Maju Bersama di Nagori Wonorejo, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sejak berdiri pada Juli 2017 menerapkan model bisnis berbasis modal sosial yang mengintegrasikan usaha pembibitan ikan nila warga ke dalam satu ekosistem produksi dan pemasaran yang terkelola kolektif [1]. BUMNag tidak membangun kolam sendiri, melainkan bertindak sebagai agregator dan fasilitator, menghubungkan petani ikan anggota dengan benih unggul, pakan, pasar pembeli, dan jaringan kelompok melalui tiga pilar modal sosial: jejaring, kepercayaan, dan kerja sama [2]. Pada 2019, tercatat 36 kepala keluarga bermitra aktif, mengelola kolam seluas sekitar 6 hektare, dan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ekor bibit ikan nila per periode panen [1]. Inovasi ini mendapat apresiasi Pemerintah Kabupaten Simalungun berupa bantuan alat pembuat pakan ikan, dan menjadikan Nagori Wonorejo sebagai salah satu sentra pengadaan bibit nila yang diperhitungkan di kawasan Simalungun [1].

 

Latar Belakang

Nagori Wonorejo menyimpan potensi perikanan yang besar: sebagian besar warga mengusahakan pembibitan ikan nila di lahan sawah mereka, memanfaatkan ketersediaan air dan tradisi bercocok tanam yang sudah berakar [1]. Namun pada fase awal, usaha pembibitan ikan warga hampir seluruhnya dilakukan sendiri-sendiri, skala kecil, dan hanya sebagai usaha sambilan.

Tiga hambatan struktural menghadang kemajuan usaha perikanan warga secara bersamaan: lemahnya pengetahuan teknis budidaya ikan nila yang berkelanjutan sehingga produktivitas rendah dan tingkat kematian benih tinggi [3], skala usaha yang terlalu kecil untuk memenuhi permintaan pembeli besar sehingga posisi tawar warga lemah di hadapan pedagang pengumpul, dan keterbatasan akses permodalan serta pakan berkualitas [1].

Di tengah kondisi itu, Kabupaten Simalungun memiliki ekosistem perikanan budidaya yang mendukung, termasuk industri perikanan berbasis Danau Toba yang membutuhkan pasokan bibit nila dalam jumlah besar. PT Suri Tani Pemuka, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, tercatat menginvestasikan Rp350 miliar sejak 2012 hingga 2018 untuk budidaya ikan nila keramba jaring apung di Danau Toba, mempekerjakan sekitar 1.800 orang dan mengekspor sekitar 4.000 ton nila ke Eropa dan Amerika Serikat pada 2018 [4]. Skala industri inilah yang ditangkap BUMNag Maju Bersama sebagai peluang pasar, dengan mengorganisir kapasitas produksi warga yang sudah tersebar menjadi satu kekuatan kolektif.

 

Inovasi yang Diterapkan

BUMNag Maju Bersama menerapkan model bisnis agregasi produksi berbasis modal sosial, menempatkan kepercayaan, jaringan, dan kerja sama kolektif sebagai aset ekonomi yang setara pentingnya dengan modal finansial [2].

Secara operasional, BUMNag bekerja pada dua fungsi utama. Pertama, fungsi fasilitasi input: membantu anggota mendapatkan benih dan pakan dengan harga lebih terjangkau karena dibeli kolektif dalam volume besar [1]. Kedua, fungsi pemasaran output: memasarkan produksi bibit ikan seluruh anggota secara terpadu, sehingga volume produksi gabungan sekitar 2 juta ekor per periode mampu memenuhi pembelian dari petani ikan berbagai daerah, termasuk pembeli lintas kabupaten. BUMNag juga memberikan pendampingan teknis budidaya untuk memastikan kualitas bibit memenuhi standar pasar.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan tidak dimulai dengan membangun infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Atas bimbingan TAPP dan TAPED dari program P3MD-PID Kabupaten Simalungun, BUMNag yang berdiri Juli 2017 mulai mengidentifikasi petani ikan potensial dan mengajak mereka bergabung dalam pola kemitraan berbasis kepercayaan [1]. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagori (PMPN) Kabupaten Simalungun berperan sebagai pembina pada fase awal ini.

Tahun 2018 menjadi titik pembenahan menyeluruh: memperbarui mekanisme pelayanan, memperjelas skema kemitraan, dan membangun sistem pemasaran kolektif yang terstruktur. Membangun kepercayaan awal di antara warga yang terbiasa bekerja sendiri-sendiri memerlukan pembuktian nyata bahwa bergabung dengan BUMNag menguntungkan secara ekonomi, bukan sekadar sosialisasi verbal [1].

Pada 2019, model kemitraan ini berhasil menghimpun 36 kepala keluarga sebagai mitra aktif, dan Pemerintah Kabupaten Simalungun memberikan bantuan alat pembuat pakan ikan sebagai apresiasi [1]. Beberapa tahun kemudian, kajian akademik pada 2023 menemukan bahwa pengurus BUMNag Maju Bersama masih menghadapi ketidakmampuan menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi, akibat keterbatasan pengetahuan pengurus di bidang ini. Tim pendamping kemudian memberikan pendampingan bertahap, mulai dari edukasi tata kelola BUMNag hingga pendampingan langsung penjurnalan, buku besar, dan penyusunan laporan keuangan, hingga laporan yang dihasilkan dapat dipresentasikan di musyawarah nagori dan diserahkan ke pemerintah kabupaten [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan pertama adalah mempertahankan konsistensi kualitas bibit dari puluhan titik produksi yang tersebar di kolam-kolam anggota dengan kondisi air, metode pemeliharaan, dan tingkat kedisiplinan yang berbeda-beda [3]. Kendala ini dimitigasi melalui pendampingan teknis budidaya yang diberikan BUMNag kepada anggota agar bibit yang dihasilkan memenuhi standar pasar sebelum dipasarkan secara kolektif.

Tantangan kedua, yang terdokumentasi secara akademik pada 2023, adalah ketidakmampuan pengurus BUMNag menyusun laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi karena keterbatasan pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia pengelola [5]. Kendala ini dimitigasi melalui program pendampingan bertahap dari akademisi, mencakup edukasi tata kelola BUMNag dan pelatihan langsung penyusunan laporan keuangan, hingga BUMNag mampu menghasilkan laporan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada warga dan pemerintah kabupaten.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah keotentikan modal sosial yang sudah hadir secara organik di Nagori Wonorejo sebelum BUMNag berdiri, seperti tradisi gotong royong dan saling kenal antarwarga, yang mempercepat proses membangun kepercayaan organisasi [2].

Faktor kedua adalah peran pendampingan profesional dari TAPP dan TAPED P3MD-PID yang memberikan kerangka metodologis untuk menerapkan konsep modal sosial secara operasional di lapangan, dan belakangan pendampingan akademik tambahan untuk memperbaiki tata kelola keuangan BUMNag [1], [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling terukur adalah transformasi skala produksi menjadi kekuatan produksi kolektif sekitar 2 juta ekor bibit ikan nila per periode, dihasilkan 36 kepala keluarga mitra yang mengelola kolam seluas 6 hektare secara terkoordinasi [1]. Kajian akademik atas usaha tani pembibitan nila di Wonorejo, berbasis 28 responden petani, mencatat pendapatan usaha pembibitan nila hormon rata-rata Rp76.782.003, secara signifikan lebih tinggi dibanding pembibitan nila lokal non-hormon yang rata-rata Rp58.141.902 [6].

Dampak sosial terlihat pada peningkatan pendapatan anggota mitra karena bibit nila kini memiliki jalur pemasaran yang pasti melalui BUMNag, serta tumbuhnya kemandirian usaha di kalangan anggota yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pedagang pengumpul [1].

Dampak kelembagaan terlihat dari bantuan alat pembuat pakan ikan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun sebagai bentuk apresiasi, yang secara langsung memangkas biaya produksi anggota karena pakan dapat dibuat dari bahan baku lokal [1].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran modal awal pendirian BUMNag Maju Bersama pada 2017. Model pendapatan BUMNag bertumpu pada margin dari fasilitasi input (benih dan pakan yang dibeli kolektif) serta fasilitasi pemasaran output bibit ikan nila anggota [1].

Bagi petani anggota, perbandingan pendapatan usaha tani pembibitan nila hormon (rata-rata Rp76.782.003) dengan nila lokal non-hormon (rata-rata Rp58.141.902) menunjukkan bahwa pilihan teknik pembibitan turut memengaruhi besaran pendapatan yang diperoleh dari skema kemitraan ini [6]. Bantuan alat pembuat pakan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun turut menekan biaya produksi tanpa membebani BUMNag dengan investasi mandiri.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah membangun kepercayaan lebih dulu melalui konsistensi memenuhi janji, seperti harga benih yang lebih murah dan ketepatan pembayaran hasil panen, sebelum mengharapkan warga sepenuhnya percaya pada model kemitraan baru [1]. Fokus mengorganisir kapasitas produksi warga yang sudah ada, alih-alih membangun kolam sendiri dari nol, juga terbukti menjadi pilihan strategi yang lebih efisien secara modal.

Jika memulai dari awal, penguatan kapasitas tata kelola keuangan pengurus idealnya disiapkan sejak tahun-tahun awal berdirinya BUMNag, bukan ditemukan sebagai kelemahan bertahun-tahun kemudian melalui kajian akademik eksternal pada 2023 [5]. Nagori lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi modal sosial yang sudah ada di masyarakat sejak awal, memulai dari fungsi fasilitasi sederhana (input dan pemasaran) sebelum ekspansi, dan menyiapkan pelatihan tata kelola keuangan bagi pengurus sejak tahap pendirian.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan BUMNag Maju Bersama bertumpu pada penguatan tiga pilar modal sosialnya secara terus-menerus: memperluas jejaring anggota mitra, mempertebal kepercayaan melalui transparansi pelaporan keuangan dan pembayaran tepat waktu, serta memperdalam kerja sama dengan institusi di luar nagori seperti Balai Benih Ikan, perbankan, dan koperasi primer perikanan [2]. Alat pembuat pakan dari Pemkab Simalungun perlu dikelola sebagai unit usaha pendukung yang menghasilkan pendapatan tambahan, bukan sekadar fasilitas subsidi.

Sinergi dengan industri perikanan Danau Toba yang tengah berkembang, termasuk kebutuhan pasokan bibit dari operator skala besar seperti PT Suri Tani Pemuka, membuka peluang bagi BUMNag Maju Bersama untuk naik kelas dari sentra bibit nagori menjadi mitra pasokan yang lebih strategis [4].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMNag Maju Bersama Wonorejo berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan BUMNag menciptakan sumber penghasilan yang lebih pasti bagi kepala keluarga anggota yang sebelumnya menjalankan usaha pembibitan sebagai sambilan berpendapatan tidak menentu. 36 kepala keluarga bermitra aktif dengan BUMNag pada 2019, mengelola kolam seluas 6 hektare.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi 2 juta ekor bibit ikan nila per periode berkontribusi pada ketersediaan pasokan bibit untuk budidaya ikan nila konsumsi di kawasan Simalungun dan sekitarnya. Industri perikanan Danau Toba mengekspor sekitar 4.000 ton nila pada 2018, membutuhkan pasokan bibit berkelanjutan.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Model agregasi BUMNag mengubah pekerjaan sambilan menjadi usaha perikanan yang lebih terorganisasi dengan pendapatan yang terukur. Pendapatan usaha pembibitan nila hormon rata-rata Rp76.782.003, nila lokal rata-rata Rp58.141.902.
SDGs 16: Kelembagaan Kuat dan Akuntabel Perbaikan tata kelola laporan keuangan BUMNag melalui pendampingan akademik memperkuat akuntabilitas lembaga kepada warga dan pemerintah kabupaten. Laporan keuangan BUMNag hasil pendampingan 2023 dipresentasikan di musyawarah nagori.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan BUMNag membangun ekosistem kemitraan antara pemerintah nagori, Dinas PMPN Simalungun, tenaga pendamping profesional P3MD-PID, dan warga petani ikan. TAPP dan TAPED P3MD-PID Kabupaten Simalungun mendampingi BUMNag sejak fase pembentukan pada 2017.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMNag Maju Bersama berpotensi direplikasi di nagori lain di Kabupaten Simalungun, terutama yang berada di sekitar kawasan Danau Toba dan memiliki tradisi budidaya ikan yang sudah mengakar [3]. Kunci replikasinya bukan pada ketersediaan modal finansial besar, melainkan pada kesiapan mengidentifikasi dan mengaktifkan modal sosial yang sudah ada di masyarakat [2].

Strategi scale up yang strategis adalah menempatkan BUMNag Maju Bersama sebagai simpul klaster perikanan nila skala nagori yang terhubung ke rantai pasokan industri perikanan Danau Toba yang terus berkembang [4]. Pemerintah kabupaten dapat mempercepat scale up dengan memfasilitasi forum BUMNag perikanan antarnagori yang memungkinkan pertukaran pengetahuan dan standardisasi kualitas bibit.

 

Daftar Pustaka

[1] Tim Penulis Inovasi Desa, “ID 00623: BUMNag Maju Bersama Mampu Gerakkan Ekonomi Nagori Wonorejo Melalui Konsep Modal Sosial,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/bumnag-maju-bersama-mampu-gerakkan-ekonomi-nagori-wonorejo-melalui-konsep-modal-sosial/.

[2] A. P. Sari dan M. Zainuddin, “Modal Sosial dalam Pengembangan BUMDes: Studi Kasus BUMDes Sejahtera di Desa Ponokawan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo,” Jurnal Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.usk.ac.id/JSU/article/view/32614.

[3] R. Situmorang dkk., “Sosialisasi Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Nagori Tiga Ras, Kab. Simalungun, Sumatera Utara,” Jurnal Portal Publikasi, Mar. 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.portalpublikasi.id/index.php/AJP/article/view/1726.

[4] Kumparan Bisnis, “Bangun Budi Daya Ikan Nila di Danau Toba, JPFA Rogoh Rp 350 Miliar,” kumparan.com, 17 Jan. 2019. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/kumparanbisnis/bangun-budi-daya-ikan-nila-di-danau-toba-jpfa-rogoh-rp-350-miliar-1547779863511612249.

[5] L. Saragih, M. H. Sinaga, T. Parinduri, A. Sinurat, E. O. P. Damanik, R. M. Girsang, W. J. Tarigan, T. Sipayung, D. S. Purba, dan S. Martina, “Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan BUMNAG Maju Bersama,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei, vol. 3, no. 2, hal. 76-88, 2023. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.usi.ac.id/index.php/JPMSMH/article/view/34.

[6] J. Marbun, M. Siadari, dan D. I. Pratama, “Perbedaan Pendapatan Usaha Tani Pembibitan Ikan Nila Hormon dengan Ikan Nila Lokal (Studi Kasus: Desa Wonorejo, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun),” Jurnal Agrilink, vol. 3, no. 1, Feb. 2021. [Daring]. Tersedia: https://www.researchgate.net/publication/362197484_Perbedaan_Pendapatan_Usaha_Tani_Pembibitan_Ikan_Nila_Hormon_dengan_Ikan_Nila_Lokal_Studi_Kasus_Desa_Wonorejo_Kecamatan_Pematang_Bandar_Kabupaten_Simalungun.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Model Bisnis BUMNag Berbasis Modal Sosial - Integrasi Pembibitan Ikan Nila dan Fasilitasi Pemasaran Kolektif
Alamat
Nagori Wonorejo, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Inovator
Agus Susanto (Direktur BUMNag Maju Bersama), didukung Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPP) dan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TAPED) P3MD-PID Kabupaten Simalungun
Kontak
Agus Susanto (Direktur BUMNag), Telepon +62-852-7511-4211; Arjuna (TA-PP P3MD-PID), Telepon +62-821-6509-0234; Dewi Kariani Silalahi (TA-PED P3MD-PID), Telepon +62-812-6486-0850
Lokasi