Ringkasan Inovasi

Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di kawasan Ekowisata Boon Pring Andeman sebagai langkah menuju desa mandiri energi terbarukan. PLTMH ini memanfaatkan debit air sekitar 0,50 meter kubik per detik dari kawasan Sumber Andeman untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas generator 20 kVA dan produksi rata-rata 13 kilowatt, memasok puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata [1], [8]. Peletakan batu pertama dilakukan pada 2018, dengan konstruksi utama berlangsung pada 2019 dan diresmikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Maret 2020, didukung dana CSR BNI [2]. Pada 2019, Ekowisata Boon Pring meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) kategori Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal – Green Bronze, dan pada Mei 2022 BUMDes Kertoraharjo meraih The 5th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication (RDPE) Leadership Award mewakili Indonesia [3], [9].

 

Latar Belakang

Ekowisata Boon Pring Andeman tumbuh menjadi destinasi unggulan Kabupaten Malang berkat kekayaan 65 jenis bambu dan telaga alami di lahan seluas sekitar 36,8 hektare. Seiring pertumbuhan pengunjung, kebutuhan energi listrik kawasan untuk penerangan kios PKL, fasilitas umum, dan penunjang wisata malam meningkat, sementara pasokan mandiri belum tersedia [1].

Ketergantungan penuh pada pasokan listrik PLN membatasi potensi wisata malam dan menambah biaya operasional kawasan. Desa Sanankerto memiliki potensi alam berupa debit air yang relatif stabil dari beberapa mata air di kawasan Andeman, yang berpeluang dikonversi menjadi listrik melalui teknologi mikrohidro tanpa emisi dan tanpa biaya bahan bakar [1], [5].

Teknologi PLTMH dikenal sebagai solusi energi terbarukan yang relevan bagi desa dengan aliran air berdebit kontinu, menawarkan biaya operasional rendah dan dampak lingkungan minimal dibanding pembangkit berbahan bakar fosil [5]. Desa Sanankerto mengambil langkah menjadi salah satu pelopor desa wisata mandiri energi terbarukan di Kabupaten Malang, menggabungkan misi lingkungan dan ekonomi dalam satu infrastruktur [6].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan PLTMH yang terintegrasi langsung dengan pengelolaan Ekowisata Boon Pring. PLTMH ini memanfaatkan debit air sekitar 0,50 meter kubik per detik yang dialirkan melalui pipa pesat menuju turbin propeler D300 dengan tinggi jatuh efektif 3,46 meter, menghasilkan listrik bertegangan 380 volt, 50 Hz, dengan generator berkapasitas 20 kVA dan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari, yang menyalakan puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan di kawasan wisata [8].

Turbin yang digunakan dirancang khusus oleh tim teknis UMM sesuai karakteristik debit dan topografi lokasi, bukan sekadar turbin standar pabrikan [6]. Selain sebagai sumber listrik kawasan wisata, sistem ini turut direncanakan mengalirkan air bersih ke dusun di area atas kawasan yang diproyeksikan berkembang menjadi wisata petik buah, sehingga satu infrastruktur berpotensi melayani dua fungsi sekaligus [6].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan survei teknis oleh tim UMM yang dipimpin Suwignyo untuk mengukur debit air, tinggi jatuh (head), dan potensi daya listrik Sumber Andeman. Peletakan batu pertama pada 2018 dihadiri Rektor UMM Dr. Fauzan, Wakil Bupati Malang Sanusi, perwakilan BNI Wilayah Malang Ali Suasono, dan Kepala Desa Subur [1].

Konstruksi fisik berlangsung pada 2019 sebelum PLTMH diresmikan pada Maret 2020. Selama masa konstruksi, tim teknis UMM turut melatih operator teknis lokal dari warga Desa Sanankerto agar sistem dapat dioperasikan dan dipelihara secara mandiri [2].

Proses ini menemui tantangan teknis nyata: pemilihan jenis turbin yang tepat sesuai karakteristik aliran Sumber Andeman membutuhkan waktu pengujian lebih panjang dari jadwal awal karena variasi debit musiman yang perlu diperhitungkan secara cermat. Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa desain PLTMH harus berangkat dari data hidrologi spesifik lokasi, bukan dari spesifikasi standar katalog pabrikan, agar daya yang dihasilkan optimal dan stabil sepanjang tahun [7], [10].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis utama adalah menjaga konsistensi pasokan listrik saat musim kemarau panjang menurunkan debit mata air secara signifikan, yang berpotensi mengurangi kapasitas produksi listrik PLTMH [10]. Kendala ini dimitigasi dengan desain sistem yang memanfaatkan gabungan beberapa mata air di kawasan Andeman, bukan hanya satu sumber tunggal, sehingga fluktuasi debit satu mata air tidak langsung menghentikan pasokan listrik secara keseluruhan.

Tantangan kedua adalah keberlanjutan kapasitas teknis operator lokal yang telah dilatih UMM, karena tanpa pembaruan kompetensi berkala, kemampuan menangani kerusakan turbin dan sistem kelistrikan berpotensi melemah seiring waktu [2]. Kendala ini dimitigasi melalui kemitraan teknis jangka panjang dengan UMM yang tetap memberi akses dukungan teknis (engineering) kapan pun dibutuhkan, sehingga operator lokal tidak sepenuhnya dilepas tanpa pendampingan lanjutan [6].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kolaborasi tiga pihak, pemerintah desa, akademisi UMM, dan sektor korporasi BNI melalui program CSR, menjadi faktor penentu utama. Tanpa pendanaan CSR, modal infrastruktur tidak tersedia; tanpa keahlian teknis UMM, tidak ada kapasitas merancang turbin yang sesuai kondisi lokal; dan tanpa inisiatif Kepala Desa Subur, kolaborasi ini tidak akan terbentuk [6].

Faktor kedua adalah kapasitas manajerial BUMDes Kertoraharjo yang sudah berpengalaman mengelola Ekowisata Boon Pring sebelum PLTMH dibangun, dengan sistem keuangan dan SDM yang terbiasa merawat aset wisata, sehingga PLTMH menjadi bagian organik dari operasional yang sudah berjalan, bukan beban baru [2], [9].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara teknis, PLTMH Boon Pring menghasilkan listrik 380 volt dengan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari dari generator berkapasitas 20 kVA, seluruhnya dari energi terbarukan tanpa emisi karbon, memasok puluhan kios PKL dan titik lampu penerangan jalan di kawasan wisata [8]. Keandalan pasokan listrik mandiri ini membuka peluang pengembangan paket wisata malam yang sebelumnya sulit dilaksanakan karena keterbatasan penerangan.

Dampak ekonomi dirasakan pedagang kios yang tidak lagi menanggung biaya listrik dari PLN untuk kebutuhan operasional dasar, sehingga margin usaha mereka relatif meningkat [9]. Ekosistem bisnis kawasan wisata yang lebih lengkap, dari kios kuliner hingga penginapan, ikut terangkat oleh ketersediaan energi mandiri.

Pada tingkat pengakuan, Ekowisata Boon Pring meraih ISTA 2019 kategori Green Bronze dari Kementerian Pariwisata, dan pada 12 Mei 2022 BUMDes Kertoraharjo menerima The 5th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award mewakili Indonesia dalam kategori NGO/CSO, melalui pengusulan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur [3], [9].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan PLTMH dibiayai melalui dana CSR BNI, dengan estimasi nilai investasi berkisar Rp348-465 juta [1]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci lebih jauh pembagian penggunaan dana pada masing-masing tahap konstruksi.

Model keberlanjutan bertumpu pada penghematan biaya listrik kios dan fasilitas wisata yang sebelumnya ditanggung dari tagihan PLN, dengan BUMDes Kertoraharjo mengalokasikan sebagian pendapatan Ekowisata Boon Pring untuk dana perawatan mesin PLTMH setiap tahun [6]. Rencana pengembangan sistem PLTMH on-grid yang memungkinkan penjualan kelebihan listrik ke jaringan PLN berpotensi menjadi sumber pendapatan baru di luar penghematan biaya operasional [7].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan yang terbukti tepat adalah merancang turbin berdasarkan data hidrologi spesifik Sumber Andeman, bukan menggunakan spesifikasi standar pabrikan, meski hal ini membutuhkan waktu pengujian lebih panjang dari jadwal awal [7]. Melatih operator teknis lokal sejak masa konstruksi juga terbukti penting agar sistem tidak sepenuhnya bergantung pada teknisi luar begitu UMM menyelesaikan pendampingan awal [2].

Jika memulai dari awal, rencana cadangan pasokan energi untuk mengantisipasi penurunan debit saat kemarau panjang idealnya dirancang sejak tahap perencanaan, bukan sebagai respons setelah pengoperasian berjalan [10]. Desa lain yang memiliki aliran air berdebit kontinu disarankan melakukan survei hidrologi menyeluruh sebelum menentukan jenis turbin, menyiapkan skema kemitraan pendanaan dan teknis sejak awal, dan merancang program pelatihan ulang berkala bagi operator lokal.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan PLTMH ditopang tiga mekanisme: alokasi dana perawatan tahunan dari pendapatan Ekowisata Boon Pring, kemitraan teknis jangka panjang dengan UMM untuk dukungan engineering, dan integrasi PLTMH dengan pengembangan wisata malam serta rencana agrowisata petik buah di dusun atas kawasan [6].

Dalam jangka panjang, pengembangan sistem PLTMH on-grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan nasional dipertimbangkan sebagai sumber pendapatan desa tambahan di luar penghematan biaya operasional [7].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Sanankerto berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Listrik mandiri dari PLTMH memangkas biaya operasional pedagang kios PKL, meningkatkan margin usaha dan membuka peluang perluasan paket wisata malam. Puluhan kios PKL di kawasan Boon Pring tidak lagi menanggung biaya listrik PLN untuk penerangan dasar.
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau PLTMH Boon Pring mengonversi debit air kawasan Andeman menjadi listrik terbarukan tanpa emisi karbon untuk kebutuhan kawasan wisata. Generator berkapasitas 20 kVA menghasilkan listrik 380 volt dengan produksi rata-rata 13 kilowatt per hari.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Ketersediaan energi mandiri memperkuat ekosistem usaha di kawasan Boon Pring, dari pedagang kuliner hingga operator teknis PLTMH. Warga lokal dilatih UMM sebagai operator teknis PLTMH yang mengelola sistem secara mandiri.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim Penggunaan energi air sebagai pengganti listrik berbahan bakar fosil menurunkan emisi karbon di tingkat desa, ditopang hutan bambu yang menjaga debit mata air. Seluruh kebutuhan listrik dasar kawasan wisata dipasok dari energi air tanpa emisi karbon.
SDGs 15: Ekosistem Daratan Pelestarian 65 jenis bambu di Boon Pring menjaga kelangsungan debit mata air yang menjadi sumber energi PLTMH sekaligus daya tarik wisata. Kawasan Boon Pring seluas sekitar 36,8 hektare mempertahankan 65 jenis bambu sebagai ekosistem penjaga sumber air.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Model kolaborasi tiga pihak antara Pemerintah Desa Sanankerto, UMM, dan BNI melalui CSR membangun kerangka kemitraan desa-akademisi-korporasi. BUMDes Kertoraharjo meraih The 5th ASEAN RDPE Leadership Award mewakili Indonesia pada Mei 2022.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model PLTMH Sanankerto relevan direplikasi di desa wisata yang memiliki aliran air berdebit kontinu sepanjang tahun, terutama di kawasan hulu sungai Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara yang kaya sumber air namun belum memanfaatkannya untuk energi lokal [5]. Mekanisme replikasinya mencakup survei potensi hidrologi oleh tim teknis perguruan tinggi, diikuti pembangunan yang dibiayai melalui CSR BUMN atau dana desa dengan skema yang disesuaikan kondisi lokal [6].

Untuk scale up, Desa Sanankerto telah menerima kunjungan studi banding dari berbagai desa yang ingin membangun energi mandiri berbasis wisata [9]. Pengembangan sistem PLTMH generasi berikutnya berbasis on-grid yang memungkinkan desa menjual kelebihan listrik ke jaringan PLN dapat menjadi langkah lanjutan, mengubah desa dari konsumen energi mandiri menjadi turut berkontribusi pada jaringan listrik yang lebih luas [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Antara Jatim, “Eco Wisata Boonpring Malang Miliki PLTMH,” jatim.antaranews.com, 22 Apr. 2019. [Daring]. Tersedia: https://jatim.antaranews.com/berita/291303/eco-wisata-boonpring-malang-miliki-pltmh.

[2] Republika, “UMM Resmikan PLTMH di Kawasan Wisata Boon Pring,” republika.co.id, 2 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://republika.co.id/berita/pendidikan/universitas-muhammadiyah-malang/20/03/02/q6jslc368-umm-resmikan-pltmh-di-kawasan-wisata-boon-pring.

[3] TravelPlus Indonesia, “Inilah 18 Destinasi Peraih ISTA 2019,” travelplusindonesia.blogspot.com, 26 Sep. 2019. [Daring]. Tersedia: http://travelplusindonesia.blogspot.com/2019/09/inilah-18-destinasi-peraih-ista-2019.html.

[5] T. M. Sitompul dkk., “Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” TEKTRO, Jurnal Politeknik Negeri Lhokseumawe, 2023. [Daring]. Tersedia: https://e-jurnal.pnl.ac.id/TEKTRO/article/download/5670/4003.

[6] IDN Times Jatim, “Kembangkan Ekowisata Terpadu, UMM Bangun PLTMH di Boonpring,” jatim.idntimes.com, 1 Mar. 2020. [Daring]. Tersedia: https://jatim.idntimes.com/news/jawa-timur/kembangkan-ekowisata-terpadu-umm-bangun-pltmh-di-boonpring-00-db9b5-cvcwwm.

[7] R. Ramadhan dkk., “Rancang Bangun PLTMH Skala Kecil dengan Sistem On-Grid,” Kapalamada, Azramedia Indonesia, 2024. [Daring]. Tersedia: https://azramedia-indonesia.azramediaindonesia.com/index.php/Kapalamada/article/download/1432/1507/9940.

[8] Mongabay Indonesia, “Nyala Terang Listrik di Boon Pring Bersumber dari Mikro Hidro,” mongabay.co.id, 1 Sep. 2020. [Daring]. Tersedia: https://www.mongabay.co.id/2020/09/01/nyala-terang-listrik-di-boon-pring-bersumber-dari-mikro-hidro/.

[9] Kompas, “Kembangkan Wisata Bambu, BUMDes Desa Sanankerto Malang Raih Penghargaan Tingkat ASEAN,” surabaya.kompas.com, 12 Mei 2022. [Daring]. Tersedia: https://surabaya.kompas.com/read/2022/05/12/183939578/kembangkan-wisata-bambu-bumdes-desa-sanankerto-malang-raih-penghargaan.

[10] H. Sinaga dkk., “Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air Berbasis Mikrohidro,” JITET, Jurnal Ilmiah Teknik Elektro dan Teknik Informatika, Universitas Lampung, 13 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://journal.eng.unila.ac.id/index.php/jitet/article/view/6810.

Data Inovasi

Nama Inovasi
PLTMH Boon Pring - Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Berbasis Ekowisata Bambu
Alamat
Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Inovator
Kepala Desa Sanankerto dan Direktur BUMDes Kertoraharjo
Kontak
Drs. H. Samsul Arifin, M.Si (Direktur BUMDes), Telepon +62-813-3647-3986; H. Mohammad Subur, SE (Kepala Desa), Telepon +62-822-3278-6333; Website https://sanankerto.desa.id
Lokasi