Ringkasan Inovasi
Kampung Ugar di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, mengembangkan destinasi ekowisata yang memadukan panorama gugusan pulau karst yang menyerupai Raja Ampat, wisata religi Masjid Tua Patimburak yang dibangun pada 1870, dan tradisi memancing tanpa umpan ke dalam satu paket kunjungan [1], [4], [7]. Inovasi ini digerakkan Pemerintah Kampung Ugar bersama kelompok Papua Muda Inspiratif (PMI) untuk membuka sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya bergantung penuh pada hasil tangkapan laut sebagai nelayan tradisional [5]. Pada Oktober 2022, Kampung Ugar masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju, menjadikannya satu-satunya wakil Provinsi Papua Barat dalam ajang tersebut [3]. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno, turut mengunjungi kampung ini dan menyatakan komitmen memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan [2].
Latar Belakang
Kabupaten Fakfak memiliki bentang kepulauan tropis dengan ratusan pulau kecil bertebing karst yang selama ini lebih banyak dilalui perahu nelayan mencari nafkah dibanding dikunjungi wisatawan [1]. Penduduk lokal yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan menghadapi ketidakpastian pendapatan, terutama saat cuaca buruk melanda perairan.
Minimnya infrastruktur dan promosi selama ini membuat kawasan ini lebih banyak menjadi lokasi persinggahan sementara sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Papua [3]. Kebutuhan akan daya tarik yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama menjadi tantangan tersendiri bagi warga.
Pemerintah kampung bersama kelompok pemuda melihat peluang mengembangkan potensi budaya dan alam yang selama ini belum dikelola secara maksimal, seiring tren pariwisata berbasis pelestarian alam yang tumbuh pascapandemi [2].
Inovasi yang Diterapkan
Warga kampung menerapkan tata kelola pariwisata yang memadukan wisata bahari, wisata spiritual, dan pengalaman budaya lokal. Salah satu daya tarik khasnya adalah tradisi memancing tanpa umpan, yang dikemas sebagai atraksi utama bagi wisatawan [1].
Paket wisata juga mencakup penelusuran gua-gua karst seperti Goa Namnam, Goa Ular, Goa Soa Soa, Goa Paniki, dan Goa Ikan, kunjungan ke situs lukisan dinding prasejarah, serta interaksi dengan penyu hijau dan penyu sisik di perairan sekitar [1]. Kelompok ibu rumah tangga menyajikan kuliner khas seperti ikan kakap kuah kuning, tagas-tagas, ayam bumbu bakar bambu, nasi kelapa bakar, kue lontar, dan sirup pala kepada wisatawan [2].
Proses Penerapan Inovasi
Langkah awal dimotori pemuda kampung yang secara swadaya membersihkan pesisir dari sampah plastik kiriman laut, lalu menggandeng jejaring nelayan untuk menyepakati standar keselamatan operasional perahu angkutan wisatawan [5].
Setelah fondasi ini terbentuk, kelompok Papua Muda Inspiratif meluncurkan promosi melalui media sosial. Deputi IV Bidang Intelijen Ekonomi Badan Intelijen Negara, Gde Made Kartikajaya, bersama PMI mengunjungi Kampung Patimburak dan Kampung Ugar pada akhir September 2022, dengan Koordinator PMI Fakfak Abdul Wahab Iha menjelaskan program pengembangan wisata di tiap kampung sebagai upaya meningkatkan pendapatan warga [5]. Pada tahap awal promosi, sejumlah agen perjalanan sempat enggan bekerja sama karena kendala akses transportasi menuju kampung, sehingga pengelola harus meyakinkan mitra secara bertahap sebelum kerja sama terjalin [5].
Pada Oktober 2022, Menteri Sandiaga Uno mengunjungi langsung Kampung Ugar dan menyatakan Kemenparekraf akan memberikan pelatihan dan pendampingan lanjutan, termasuk potensi kemitraan dengan pelaku usaha swasta nasional untuk penguatan produk ekonomi kreatif [2], [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama adalah minimnya sarana pendukung seperti koneksi internet dan transportasi umum reguler, yang memaksa wisatawan menyewa kapal carter dengan biaya relatif tinggi [3]. Kendala ini dimitigasi dengan menjalin standar operasional bersama jejaring nelayan lokal, sehingga transportasi wisata tetap tersedia meski belum ada angkutan umum reguler.
Tantangan kedua adalah proses birokrasi lintas lembaga yang memperlambat pencairan dukungan bagi rintisan wisata pemuda desa [3]. Kendala ini dimitigasi dengan mengandalkan swadaya warga dan dukungan bertahap dari Kemenparekraf serta mitra swasta, alih-alih menunggu satu sumber pendanaan tunggal. Keengganan awal sejumlah agen perjalanan bekerja sama karena akses transportasi juga dimitigasi melalui pendekatan langsung dan bertahap oleh pengelola hingga kepercayaan mitra terbangun [5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kolaborasi antara tokoh adat, pemuka agama, dan kelompok Papua Muda Inspiratif menjadi faktor penggerak utama, dengan tetua adat membuka ruang bagi pemuda mempromosikan kampung melalui media digital [5]. Dukungan Kemenparekraf serta kunjungan langsung Menteri Sandiaga Uno turut mempercepat pengakuan dan pembenahan sarana yang tidak dapat dibiayai sepenuhnya oleh anggaran kampung [3].
Keunikan kombinasi wisata bahari, situs prasejarah, dan Masjid Tua Patimburak yang menjadi simbol toleransi antaragama di Fakfak turut membedakan Kampung Ugar dari destinasi wisata bahari lain di Papua Barat [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Pada Oktober 2022, Kampung Ugar masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia dan meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju, sebagai satu-satunya wakil Papua Barat dalam ajang tersebut [3]. Pengakuan ini turut mendorong perhatian Kemenparekraf terhadap potensi ekonomi kreatif kampung, mulai dari kuliner khas hingga kerajinan lokal [2].
Dampak ekonomi terlihat dari terbukanya sumber pendapatan alternatif bagi nelayan saat cuaca tidak memungkinkan melaut, melalui layanan pemandu wisata dan penjualan kuliner serta olahan sirup pala [2]. Dampak kualitatif yang muncul adalah tumbuhnya kesadaran warga menjaga kelestarian laut dan situs budaya yang kini menjadi bagian dari daya tarik ekonomi kampung.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal pembangunan sarana wisata Kampung Ugar. Pembersihan pesisir dan penyusunan standar operasional perahu wisata pada tahap awal dilakukan secara swadaya oleh warga dan pemuda kampung [5].
Model pendapatan bertumpu pada jasa pemandu wisata, sewa perahu angkutan wisatawan, penjualan kuliner khas dan sirup pala, serta potensi kemitraan dengan pelaku usaha swasta nasional yang diarahkan Kemenparekraf untuk penguatan produk ekonomi kreatif [6].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari pembersihan pesisir dan penataan standar keselamatan perahu sebelum melakukan promosi besar-besaran, sehingga fondasi layanan sudah relatif siap ketika kunjungan mulai meningkat [5]. Pendekatan bertahap meyakinkan agen perjalanan yang semula ragu karena akses transportasi juga menunjukkan pentingnya kesabaran membangun kepercayaan mitra usaha sejak awal.
Jika memulai dari awal, penyelesaian kendala transportasi dan konektivitas idealnya menjadi prioritas lebih awal, mengingat keterbatasan ini terus memengaruhi lama tinggal wisatawan hingga saat ini. Desa pesisir lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan keunikan budaya dan sejarah lokal yang otentik, membangun standar keselamatan transportasi wisata sejak tahap awal, dan memanfaatkan jaringan komunitas pemuda untuk promosi digital sebelum bergantung pada agen perjalanan luar daerah.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah daerah menetapkan aturan perlindungan konservasi terumbu karang di sekitar zona penangkapan ikan tradisional warga Ugar, agar aktivitas wisata tidak merusak sumber daya laut yang sama-sama menjadi mata pencaharian warga [6]. Kaderisasi pemandu wisata bersertifikat yang mampu berbahasa asing juga terus didorong untuk menjangkau segmen wisatawan mancanegara [6].
Kemitraan dengan Kemenparekraf dan pelaku usaha swasta diarahkan untuk membantu pembenahan tata kelola keuangan kelompok wisata serta desain kemasan produk kerajinan dan kuliner agar lebih kompetitif di pasar yang lebih luas [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Ekowisata Kampung Ugar berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Layanan pemandu wisata dan penjualan kuliner memberi sumber pendapatan alternatif bagi nelayan saat cuaca tidak memungkinkan melaut. | Warga menjual kuliner khas seperti sirup pala dan ikan kakap kuah kuning kepada wisatawan. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pembukaan rute ekowisata menciptakan pekerjaan bagi pemuda pesisir sebagai pemandu wisata dan penyedia jasa perahu serta kuliner. | Kampung Ugar meraih Juara Harapan Satu kategori Desa Wisata Maju ADWI 2022. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pelestarian situs prasejarah tebing karst dan Masjid Tua Patimburak memperkuat identitas budaya kawasan permukiman pesisir. | Masjid Tua Patimburak yang dibangun 1870 tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah dan simbol toleransi. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | Promosi tradisi memancing tanpa umpan dan aturan perlindungan terumbu karang membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut dari praktik penangkapan ikan yang merusak. | Zona konservasi terumbu karang ditetapkan di sekitar area penangkapan ikan tradisional warga. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara Pemerintah Kampung Ugar, Papua Muda Inspiratif, Kemenparekraf, dan pelaku usaha swasta menciptakan model kemitraan multipihak dalam pengembangan wisata desa. | Menteri Sandiaga Uno dan Deputi IV BIN Gde Made Kartikajaya turut mengunjungi dan mendukung Kampung Ugar pada 2022. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pengemasan wisata berbasis tradisi memancing tanpa umpan dan sejarah lokal ini dapat direplikasi oleh komunitas nelayan pesisir lain yang memiliki kombinasi keunikan alam dan budaya serupa [1]. Pendekatan promosi berbasis komunitas pemuda melalui media sosial, sebagaimana dilakukan Papua Muda Inspiratif, juga terbukti dapat menjangkau perhatian nasional dengan biaya promosi yang relatif terjangkau [5].
Pemerintah daerah berpotensi menyusun panduan tata kelola ekowisata kepulauan dengan merujuk pengalaman Kampung Ugar, sekaligus mengintegrasikan jaringan pulau wisata di Fakfak agar biaya kunjungan antarpulau menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan.
Daftar Pustaka
[1] Sinar Harapan, “Kampung Ugar, Desa Wisata Bahari dan Sejarah,” sinarharapan.net, 12 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.sinarharapan.net/kampung-ugar-desa-wisata-bahari-dan-sejarah/.
[2] Antara News, “Sandi Bilang Desa Wisata Ugar di Fakfak Miliki Ekowisata Berkelanjutan,” antaranews.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/3178801/sandi-bilang-desa-wisata-ugar-di-fafak-miliki-ekowisata-berkelanjutan.
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Andalkan Wisata Bahari dan Sejarah, Desa Wisata Kampung Ugar Masuk 50 Besar ADWI 2022,” kemenparekraf.go.id. [Daring]. Tersedia: https://www.kemenparekraf.go.id/berita/siaran-pers-andalkan-wisata-bahari-dan-sejarah-desa-wisata-kampung-ugar-masuk-50-besar-adwi-2022.
[4] Kompas Travel, “Cantiknya Kepulauan Ugar di Fakfak, Panorama Alamnya Mirip Raja Ampat,” travel.kompas.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://travel.kompas.com/read/2022/10/14/085423427/cantiknya-kepulauan-ugar-di-fakfak-panorama-alamnya-mirip-raja-ampat?page=all.
[5] Kumparan News, “Papua Muda Inspiratif Promosikan Desa Wisata di Fakfak, Pantainya Begitu Indah,” kumparan.com, 25 Sep. 2022. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/kumparannews/papua-muda-inspiratif-promosikan-desa-wisata-di-fakfak-pantainya-begitu-indah-1yw23VwzA57.
[6] Antara News Papua Barat, “Sandiaga Uno Kunjungi Kampung Wisata Ugar Fakfak,” papuabarat.antaranews.com, 14 Okt. 2022. [Daring]. Tersedia: https://papuabarat.antaranews.com/berita/20681/sandiaga-uno-kunjungi-kampung-wisata-ugar-fakfak.
[7] Liputan6, “Kisah Masjid Tertua di Kampung Ugar Papua Barat,” liputan6.com. [Daring]. Tersedia: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5098143/kisah-masjid-tertua-di-kampung-ugar-papua-barat.